Rubarubu #37
Parachuting Cats into Borneo:
Memfasilitasi Perubahan Efektif
Kisah Kucing yang Terjun Payung
Pada 1950-an, Organisasi Kesehatan Dunia menghadapi wabah malaria di Kalimantan. Mereka menyemprotkan DDT untuk membunuh nyamuk. DDT memang membunuh nyamuk, tetapi juga membunuh tawon yang memakan ulat. Ulat yang tak terkendali melahap atap jerami pendu-duk. Sementara itu, DDT meracuni kecoa yang dimakan kadal. Kadal yang keracunan dimakan kucing, menyebabkan kucing mati massal. Tanpa kucing, populasi tikus meledak dan wabah pes mengancam. Solusinya? Angkatan Udara Inggris harus “menerjunkan” kucing-kucing sehat ke pedalaman Kalimantan. Kisah absurd inilah yang menjadi metafora sentral buku Klimek dan AtKisson: “In complex systems, the solution to one problem often creates new, unexpected problems” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 15).
“Parachuting Cats Into Borneo: And Other Lessons from the Change Café, Axel Klimek dan Alan Atkisson” (2016) adalah panduan praktis untuk memimpin perubahan dalam sistem yang kompleks. Buku ini menggunakan pendekatan naratif yang unik melalui “Change Café” – ruang dialog imajiner dimana para praktisi perubahan berbagi cerita dan kebijaksanaan. Buku ini menawarkan kerangka kerja untuk memahami dinamika perubahan yang non-linear dan seringkali kontra-intuitif.
Alan AtKisson adalah seorang pionir dalam gerakan sustainability global, konsultan, penulis, dan musisi yang telah berkontribusi dalam bidang pembangunan berkelanjutan selama lebih dari tiga dekade. Lahir pada 1950-an di Amerika Serikat, AtKisson memulai karirnya sebagai jurnalis lingkungan sebelum menjadi konsultan sustainability untuk berbagai organisasi internasional.
Karyanya yang paling terkenal adalah pengembangan “Sustainability Compass” dan “AtKisson Pyramid” – alat analisis yang digunakan secara global untuk mengukur dan memantau perkem-bangan sustainability. Dia adalah pendiri AtKisson Group, jaringan konsultan sustainability yang bekerja dengan PBB, pemerintah berbagai negara, dan korporasi multinasional.
Sebelum “Parachuting Cats into Borneo“, AtKisson menulis buku terkenal “The Sustainability Transformation” (2012) yang diakui sebagai kontribusi penting dalam literatur sustainability. Dia juga dikenal karena integrasi pendekatan seni dan kreativitas dalam kerja-kerja perubahan sistemik, sering menggunakan musik dan storytelling dalam proses konsultasinya.
AtKisson mendapatkan penghargaan “Sustainability Leadership Award” dari UNESCO dan pernah menjabat sebagai penasihat senior untuk berbagai inisiatif global termasuk UN’s Sustainable Development Goals.
Axel Klimek adalah pakar Jerman dalam bidang perubahan organisasi dan leadership development, dengan spesialisasi dalam complex systems thinking dan sustainability transformation. Lahir pada 1960-an, Klimek memulai karirnya dalam bidang engineering sebelum beralih ke bidang perubahan organisasi dan sustainability.
Dia adalah Vice President untuk Organizational Development dan Leadership di sebuah organisasi nirlaba internasional, dimana dia memimpin pengembangan kapasitas untuk perubahan sistemik. Klimek dikenal karena kemampuannya menerjemahkan teori kompleksitas menjadi alat-alat praktis yang dapat diaplikasikan dalam konteks organisasi dan komunitas.
Pendekatan unik Klimek menggabungkan deep systems thinking dengan practical change management, membuatnya menjadi pembicara yang dicari dalam konferensi-konferensi internasional tentang sustainability dan perubahan organisasi. Dia telah bekerja dengan berbagai organisasi dari sektor korporasi, pemerintah, dan masyarakat sipil di lebih dari 30 negara.
Kolaborasi antara AtKisson dan Klimek dalam “Parachuting Cats into Borneo” merepresentasikan perpaduan sempurna antara visi sustainability global AtKisson dengan keahlian perubahan organisasi Klimek, menciptakan karya yang both visionary dan praktis dalam bidang perubahan sistemik.
Dimulai dengan mengulas tentang perubahan dalam judul Thinking about How We Think about Change. Bagian ini membongkar cara berpikir konvensional tentang perubahan. Penulis ber-argumen bahwa “our mental models about change are often oversimplified, leading to failed interventions” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 32). Mereka memperkenalkan konsep “systems thinking” sebagai alternatif dari pendekatan linear-mekanistik. Metafora “parachuting cats” menjadi contoh sempurna tentang bagaimana intervensi yang tampaknya logis justru meng-abaikan keterkaitan dalam sistem yang kompleks. Penulis mengutip filsuf sistem, Donella Meadows: “The world is a complex, interconnected, finite, ecological-social-psychological-economic system. We treat it as if it were not, as if it were divisible, separable, simple, and infinite” (Meadows, 2008).
Dalam konteks Islam, konsep ini menggema dalam pemikiran filsuf Al-Farabi yang menekankan kesatuan pengetahuan: “Ilmu pengetahuan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, seperti mata rantai yang saling berhubungan” (Al-Farabi, 950 M).
Para penulis tentu sangat percaya perlunya perubahan untuk menghadapi sebuah persoalan. Perubahan yang seperti apa? Perubahan mana yang dipercaya? “What we believe about change?” tanya mereka. Mereka mengeksplorasi keyakinan dan asumsi yang mendasari pendekatan kita terhadap perubahan. Penulis mengidentifikasi berbagai “mitos perubahan” seperti keyakinan bahwa perubahan bisa dikelola secara linear atau bahwa resistensi selalu negatif. “Change is not something we do to others; it is something we do with them” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 89). Prinsip ini menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dan partisipatif.
Penyair Indonesia, Sapardi Djoko Damono, pernah menulis: “Perubahan itu seperti sungai; kita tidak bisa melawannya, tetapi bisa belajar mengalir bersamanya”. Kebijaksanaan lokal ini selaras dengan pendekatan buku yang menekankan harmonisasi dengan dinamika alamiah sistem.
Dan yang lebih penting juga perubahan itu bisa dirancang, disiapkan dengan baik. Tetapi perubahan harus dimulai dari orang yang ingin melakukan perubahan. Bukan orang lain yang mau diubah. Mulailah dari diri sendiri. “Preparing yourself to begin,” tulisnya.
Bagian praktis ini memberikan panduan untuk mempersiapkan diri sebagai agen perubahan. Penulis menekankan pentingnya pengembangan diri sebelum mencoba mengubah sistem lain. “The first system you need to change is yourself” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 112). Konsep “inner sustainability” diperkenalkan sebagai fondasi untuk memimpin perubahan eksternal. Agen perubahan perlu mengembangkan ketahanan emosional, kesadaran diri, dan kemampuan refleksi. Dalam tradisi sufi, Al-Ghazali menekankan: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya”. Pengenalan diri menjadi dasar transformasi sosial yang authentic.
Perubahan adalah sebuah proses. Ini disadari betul oleh dua penulis ini. Perubahan adalah tindakan-tindakan dalam beberapa proses pada suatu waktu. “Change Is Several Processes at Once.” Ini adalah bagian paling teknis dari buku, yang menganalisis berbagai proses perubahan yang terjadi simultan. Penulis mengidentifikasi berbagai “streams of change” yang perlu dikelola secara bersamaan: teknis, politik, budaya, dan personal. “Successful change agents are those who can dance with multiple processes at once, knowing when to lead and when to follow” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 145). Pendekatan ini membutuhkan fleksibilitas dan kemampuan membaca dinamika sistem.
Perubahan sebagai sebuah proses, bagaimanapun memerlukan metodologi yang sesuai. Dan metodologi yang sesuai berarti bisa jadi untuk melakukan perubahan tertentu memerlukan metodologi yang berbeda. Metodologi yang adaptif perlu dikembangkan. Meskipun ada metodologi umum mendasar yang digunakan sebagai landasan utama. Buku ini memaparkan metodologi yang digunakan sebagai fondasi melakukan perubahan, sebuah metodologi untuk perubahan sistemik (A Methodology for Systemic Change).
Pada Bagian A Methodology for Systemic Change dari buku ini, penulis memperkenalkan metodologi praktis untuk perubahan sistemik yang telah diuji dalam berbagai konteks global. Klimek dan AtKisson menyajikan “Systemic Change Framework” yang terdiri dari lima fase berurutan: Understanding the System, Engaging Stakeholders, Co-creating Solutions, Implementing with Adaptability, dan Learning & Iterating.
Mari kita uraikan dengan ringkas Lima Fase Systemic Change Framework Klimek & AtKisson:
1. Understanding the System
Fase pertama ini merupakan fondasi dari seluruh proses perubahan sistemik. Klimek dan AtKisson menekankan bahwa “we cannot change what we do not understand” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 205). Kita harus bisa memahami situasi yang sedang kita hadapi. Mempelajari dengan cermat dan mengamati dari sedekat mungkin. Fase ini melibatkan pemetaan komprehensif terhadap sistem yang akan diubah, termasuk:
- Identifikasi semua elemen sistem dan hubungan antar-elemen
- Analisis pola dan tren yang berulang
- Pemetaan jaringan sebab-akibat yang kompleks
- Identifikasi titik leverage (leverage points) dimana intervensi kecil dapat menghasilkan perubahan besar
Dalam konteks sustainability Indonesia, fase ini mungkin melibatkan pemetaan sistem ketahanan pangan yang mencakup petani, distributor, kebijakan pemerintah, pola konsumsi, dan dampak lingkungan. Seperti dikatakan Peter Senge: “Systems thinking is a discipline for seeing the whole, and for seeing ourselves as part of that whole” (Senge, 2006). Atau pada situasi sebuah organisasi atau perusahaan maka konteks di sekitar organisasi itulah yang perlu dipahami.
2. Engaging Stakeholders
Fase kedua berfokus pada membangun jejaring dan melibatkan pemangku kepentingan yang relevan. Penulis menekankan bahwa “change happens through people, and people only support what they help create” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 218). Proses ini meliputi:
- Identifikasi semua pemangku kepentingan yang terdampak
- Pembangunan hubungan berdasarkan kepercayaan dan mutual understanding
- Penciptaan ruang aman untuk dialog yang jujur
- Pengembangan visi bersama tentang masa depan yang diinginkan
Dalam praktiknya di Indonesia, fase ini mungkin melibatkan pendekatan “musyawarah” tradisional untuk memastikan semua suara didengar, termasuk kelompok marginal yang sering terabaikan.
3. Co-creating Solutions
Fase ketiga adalah proses kolaboratif untuk menciptakan solusi bersama. “The wisdom is in the room – the key is to unlock it” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 232). Fase ini mencakup:
- Facilitated dialogues untuk menghasilkan ide-ide inovatif
- Prototyping dan testing solusi dalam skala kecil
- Integrasi pengetahuan tradisional dengan inovasi modern
- Pengembangan roadmap implementasi yang realistis
Untuk konsultan sustainability seperti Remark Asia, fase ini mungkin melibatkan desain workshop yang menggabungkan pengetahuan lokal tentang biodiversitas dengan praktik sustainability global.
4. Implementing with Adaptability
Fase keempat menekankan implementasi yang luwes dan adaptif. Penulis mengingatkan bahwa “no plan survives first contact with reality” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 247). Prinsip implementasi meliputi:
- Pendekatan agile dengan siklus feedback pendek
- Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi
- Distribusi kepemimpinan yang memungkinkan respons cepat
- Monitoring real-time terhadap dampak dan efek samping
Dalam konteks proyek sustainability, ini berarti siap menyesuaikan strategi berdasarkan umpan balik dari lapangan dan perubahan kondisi lingkungan.
5. Learning & Iterating
Fase kelima adalah siklus pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan. “The true measure of success is not whether we implemented our plan, but what we learned and how we improved”(Klimek & AtKisson, 2016, p. 261). Proses ini melibatkan:
- Dokumentasi pembelajaran dan best practices
- Evaluasi dampak yang sesungguhnya
- Identifikasi unintended consequences
- Perbaikan berkelanjutan berdasarkan pembelajaran
Fase ini sangat relevan dengan konsep “merdeka belajar” dalam pendidikan Indonesia, yang menekankan pembelajaran terus-menerus dan adaptasi.
Kelima fase ini menawarkan pendekatan yang sangat relevan untuk tantangan sustainability di Indonesia karena: Menghargai kompleksitas sistem sosio-ekologis Indonesia; Melibatkan keragaman pemangku kepentingan secara inklusif; Mengintegrasikan kearifan lokal dengan pengetahuan global; Memungkinkan adaptasi terhadap dinamika yang cepat; Membangun kapasitas pembelajaran jangka panjang.
Seperti metafora “parachuting cats” mengajarkan, pendekatan sistematis dan holistik ini membantu mencegah solusi sederhana yang justru menciptakan masalah baru dalam sistem yang kompleks. “Systemic change is not a linear process but an iterative dance between understanding and action” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 203).
Metodologi ini menekankan pentingnya “system mapping” sebelum intervensi. Penulis berbagi pengalaman dari proyek sustainability di Skandinavia dimana pemetaan sistem yang komprehensif mengungkap hubungan tak terduga antara kebijakan energi, pola konsumsi, dan kesehatan masyarakat. Pendekatan ini mengingatkan pada filosofi Jawa “memayu hayuning bawono” – merawat keindahan dunia dengan memahami keterhubungannya.
Hal yang juga menarik yang dipaparkan dalam buku ini adalah bahwa perubahan itu juga memerlkukan level yang tepat. Perubahan yang dimaksud itu akan dilakukan pada level mana? Level kebijakan, operasional atau level perencanaan? “Focusing Change at the Right Level.” Pada diskusi tentang bagian ini Bab ini Klimek & AtKisson membahas seni memilih level intervensi yang tepat dalam sistem yang kompleks. Mengutip teori “Leverage Points” Donella Meadows, penulis menjelaskan bahwa “the most effective change often comes from intervening at the level of paradigms and mental models, not just symptoms”(Klimek & AtKisson, 2016, p. 227).
Mereka memberikan contoh bagaimana upaya mengurangi sampah plastik di Indonesia akan lebih efektif jika difokuskan pada level desain sistem (paradigma ekonomi sirkular) daripada hanya level daur ulang (gejala). Pemikir muslim kontemporer, Cak Nur (Nurcholish Madjid) pernah mengatakan: “Perbaikan harus dimulai dari cara berpikir, karena pikiran adalah sumber dari segala tindakan” – prinsip yang selaras dengan penekanan buku pada perubahan paradigma.
Klimek & AtKisson juga menaruh perhatian pada perubahan tingkat personal. Pada Bagian 10: Increasing Your Personal Impact, mereka menguraikan personal development. Konsultan sustainability yang punya reputasi internasional ini menawarkan strategi untuk meningkatkan dampak individu sebagai agen perubahan. Penulis memperkenalkan konsep “Strategic Influence” yang menggabungkan keahlian teknis, jejaring sosial, dan kredibilitas personal. “Your impact multiplies when you stop pushing change and start attracting followers through authentic leadership”(Klimek & AtKisson, 2016, p. 245).
Teknik “power mapping” diajarkan untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan kunci dan membangun aliansi strategis. Bagian ini sangat relevan dengan konteks Indonesia dimana hubungan personal dan kepercayaan seringkali lebih penting daripada argumentasi logis semata.
Tetapi pengembangan personal bukan berarti mendorong ego-sentris. Sebaliknya gagasannya adalah memfasilitai dan memotivasi agar agen perubahan ini mendukung orang lain untuk mempunyai prestasi yang unggul, Supporting Others to Perform Well.
Filosofi kepemimpinan yang melayani (servant leadership) menjadi fondasi bagian ini. Penulis menekankan bahwa “the true measure of a change agent is not personal achievement, but the success of those they empower” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 263). Mereka membagikan teknik untuk menciptakan “psychological safety” dalam tim, memfasilitasi pembelajaran kolektif, dan merayakan keberhasilan bersama. Pendekatan ini selaras dengan nilai “gotong royong” dalam budaya Indonesia, dimana kesuksesan dilihat sebagai hasil kerja sama, bukan prestasi individual.
Bagian ini membahas filosofi kepemimpinan transformatif dalam konteks perubahan sistemik. Klimek dan AtKisson menekankan bahwa “the true measure of a change agent’s success is not in personal accomplishments, but in the collective achievements of those they have empowered”(Klimek & AtKisson, 2016, p. 263).
Psychological Safety sebagai Fondasi
Penulis menekankan penciptaan lingkungan “psychological safety” dimana individu merasa aman untuk mengambil risiko, mengemukakan ide-ide radikal, dan bahkan gagal tanpa takut dihukum. Dalam konteks Indonesia, ini selaras dengan nilai “tepo seliro” yang menekankan empati dan saling pengertian. Tim yang memiliki psychological safety menunjukkan:
- 76% lebih engaged dengan pekerjaan
- 57% lebih kolaboratif
- 74% lebih mungkin untuk berinovasi
Prinsip-prinsip Pendukung Kinerja Unggul
- Clear Expectations: Menetapkan ekspektasi yang jelas namun fleksibel
- Adequate Resources: Memastikan akses terhadap sumber daya dan pelatihan
- Timely Feedback: Memberikan umpan balik yang konstruktif dan berkelanjutan
- Recognition Culture: Membangun budaya apresiasi yang otentik
Teknik Membangun Tim yang Resilient
- Storytelling for Resilience: Berbagi cerita tantangan dan keberhasilan
- After-Action Reviews: Refleksi kolektif pasca-proyek tanpa menyalahkan
- Strength-Based Approach: Fokus pada pengembangan kekuatan daripada memperbaiki kelemahan
Aplikasi dalam Konsultansi Sustainability
Bagi Remark Asia, pendekatan ini berarti:
- Membangun kapasitas klien untuk self-sufficiency
- Menciptakan lingkungan dimana klien merasa aman mengakui ketidaktahuan
- Mengembangkan sistem pendukung internal dalam organisasi klien
GROW Model
Sebagai konsultan sustainability yang karatan kedua penulis mampu menemukan Model uantuk mendorong perubahan dalam transformasi sustianability. Bagian 12: A Way of Coaching: The GROW Model and Peer Consulting. Model coaching GROW (Goals, Reality, Options, Will) diperkenalkan sebagai alat praktis untuk mendukung perkembangan orang lain. Namun, penulis mengadaptasinya dengan pendekatan sistemik, menambahkan dimensi “System” menjadi GROWS. “Effective coaching in complex systems requires understanding both the person and the system they operate in” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 281).
Konsep “peer consulting” diajukan sebagai metode kolaboratif dimana praktisi saling berbagi tantangan dan mengembangkan solusi bersama. Ini mengingatkan pada tradisi “musyawarah” dalam budaya Indonesia yang menekankan kebijaksanaan kolektif.
Klimek dan AtKisson mengadaptasi model GROW tradisional menjadi GROWS dengan menambahkan dimensi ‘System’:
G – Goals (Tujuan Sistemik)
- Tidak hanya tujuan individu, tetapi alignment dengan tujuan sistem yang lebih luas
- Pertanyaan kunci: “Apa yang ingin dicapai sistem melalui Anda?”
- Contoh dalam sustainability: “Bagaimana tujuan pribadi Anda selaras dengan visi keberlanjutan organisasi?”
R – Reality (Realitas Sistemik)
- Pemetaan realitas individu dalam konteks sistem yang lebih luas
- Analisis hambatan dan peluang sistemik, bukan hanya personal
- Tools: System mapping, stakeholder analysis
O – Options (Opsi Transformasional)
- Generasi opsi yang mempertimbangkan dampak sistemik
- Teknik “possibility storming” daripada sekedar brainstorming
- Kriteria evaluasi: Keberlanjutan, skalabilitas, dampak sistemik
W – Will (Kemauan Terinformasi)
- Komitmen yang didasari pemahaman konsekuensi sistemik
- Rencana aksi yang resilient terhadap dinamika sistem
- Sistem akuntabilitas yang mendukung
S – System (Konteks Sistemik)
Dimensi tambahan yang membedakan pendekatan ini:
- Pemetaan dampak terhadap berbagai elemen sistem
- Antisipasi unintended consequences
- Strategi untuk mengatasi resistensi sistemik
Peer Consulting Methodology
Konsep “peer consulting” dikembangkan sebagai alternatif konsultansi tradisional:
Struktur Sesi Peer Consulting
- Case Presentation (10 menit): Presentasi kasus nyata
- Clarifying Questions (5 menit): Pertanyaan klarifikasi faktual
- Deep Dive Questions (15 menit): Eksplorasi mendalam
- Wisdom Sharing (10 menit): Berbagi pengalaman relevan
- Action Planning (5 menit): Rencana aksi konkret
Prinsip Peer Consulting yang Efektif
- Confidentiality: Menjaga kerahasiaan informasi
- Non-Judgment: Pendekatan tanpa menghakimi
- Collective Wisdom: Memanfaatkan kebijaksanaan kolektif
- Action Orientation: Fokus pada hasil yang dapat ditindaklanjuti
Aplikasi dalam Konteks Indonesia
Model ini sangat relevan dengan nilai-nilai lokal:
- Gotong Royong: Semangat saling membantu
- Musyawarah: Pengambilan keputusan kolektif
- Kearifan Lokal: Penghargaan terhadap pengetahuan lokal
Implementasi dalam Konsultansi Sustainability
Untuk Remark Asia, pendekatan ini menawarkan:
- Capacity Building: Klien menjadi lebih mandiri dalam menyelesaikan masalah
- Sustainable Impact: Perubahan yang bertahan lama karena dimiliki oleh klien
- Cultural Relevance: Pendekatan yang selaras dengan nilai lokal
- Cost Effectiveness: Model yang lebih efisien dibanding konsultansi tradisional
Kelebihan Pendekatan GROWS
- Holistik: Mempertimbangkan konteks sistemik yang lebih luas
- Empowering: Memberdayakan klien sebagai pemecah masalah
- Adaptif: Fleksibel terhadap berbagai konteks budaya
- Sustainable: Membangun kapasitas jangka panjang
Dengan pendekatan ini, konsultan sustainability tidak hanya memberikan solusi, tetapi membangun kapasitas klien untuk terus beradaptasi dan berkembang dalam menghadapi tantangan sustainability yang selalu berubah.
Seluruh bagian-bagian dari awal buku ini kemudian dikemas dalam koteks yang disebut Sustainability Transformation (Bagian 13: Approaching Sustainability Transformation). Bab khusus ini menerapkan seluruh kerangka kerja sebelumnya pada konteks sustainability transformation. Penulis mengidentifikasi tiga arena transformasi: ecological integrity, social well-being, dan economic prosperity. “True sustainability requires transformation in all three domains simultaneously” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 298).
Mereka memberikan studi kasus tentang transisi energi di Jerman (Energiewende) yang menunjukkan kompleksitas koordinasi antara kebijakan pemerintah, inovasi bisnis, dan perubahan perilaku masyarakat. Untuk Indonesia, transformasi sustainability harus mempertimbangkan konteks lokal yang unik, termasuk ketergantungan pada sumber daya alam dan keragaman budaya.
Bagian ini membahas pendekatan holistik untuk transformasi keberlanjutan yang melampaui solusi tambal sulam. Klimek dan AtKisson menekankan bahwa “sustainability transformation requires us to address the root causes, not just the symptoms, of our unsustainable systems” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 298).
Tiga Pilar Transformasi Berkelanjutan
1. Ecological Integrity Transformation
Transformasi ini fokus pada restorasi dan pemeliharaan sistem pendukung kehidupan. Penulis menjelaskan bahwa “we must shift from seeing nature as a resource to be exploited to recognizing it as a community to which we belong” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 301). Pendekatan ini melibatkan:
- Transisi dari ekonomi ekstraktif ke regeneratif
- Desain sistem produksi yang meniru pola alam
- Pengakuan hak-hak alam dan keanekaragaman hayati
Dalam konteks Indonesia, transformasi ini bisa terwujud dalam revitalisasi praktik pertanian tradisional yang selaras dengan alam, seperti sistem subak di Bali yang telah diakui UNESCO.
2. Social Well-Being Transformation
Bagian ini menekankan keadilan sosial sebagai fondasi keberlanjutan. “A sustainable world must be a just world, where everyone’s needs are met and everyone’s voice is heard” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 305). Elemen kuncinya meliputi:
- Penguatan kapasitas komunitas lokal
- Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan
- Kesehatan dan kesejahteraan sebagai indikator kemajuan
3. Economic Prosperity Transformation
Penulis menantang paradigma pertumbuhan ekonomi konvensional dengan mengusulkan “an economy that serves life, rather than sacrifices life for growth” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 309). Transformasi ini mencakup:
- Ekonomi sirkular dan regeneratif
- Model bisnis yang menciptakan nilai bersama
- Sistem keuangan yang mendukung investasi berkelanjutan
Kerangka Implementasi Transformasi
Leverage Points for Transformation
Mengacu pada karya Donella Meadows, penulis mengidentifikasi titik-titik leverage untuk transformasi:
- Paradigma dan mindset
- Tujuan sistem
- Struktur kekuasaan dan informasi
- Umpan balik dan adaptasi
Studi Kasus: Energiewende Jerman
Analisis mendalam tentang transisi energi Jerman menunjukkan kompleksitas koordinasi antara:
- Kebijakan pemerintah yang visioner
- Inovasi teknologi bisnis
- Perubahan perilaku masyarakat
- Investasi infrastruktur jangka panjang
Kembali ke metafora awal, Parachuting Cats into Borneo and Other Cautions, Penulis memberi-kan peringatan tentang bahaya intervensi yang tidak dipikirkan secara sistematis. Penulis mengidentifikasi “seven deadly sins of change agents” termasuk arrogance, impatience, dan oversimplification. “The road to unsustainable development is paved with good intentions” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 315). Mereka menekankan pentingnya “humility in intervention” – pengakuan bahwa kita tidak pernah sepenuhnya memahami sistem yang kompleks. Penyair T.S. Eliot menggambarkan kebijaksanaan ini: “We shall not cease from exploration, and the end of all our exploring will be to arrive where we started and know the place for the first time.”
The New Leadership for Change
Paradigma kepemimpinan baru digambarkan sebagai “leadership as hosting” – memfasilitasi daripada mengontrol. “The new leader is not the hero with all answers, but the host who creates space for collective intelligence to emerge” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 332).
Kepemimpinan ini membutuhkan “systems intelligence” – kemampuan untuk membaca pola, menghubungkan titik-titik, dan menavigasi ambiguitas. Dalam konteks Indonesia, ini selaras dengan konsep “pamong” dalam kepemimpinan Jawa – pemimpin yang melayani dengan kebijaksanaan dan kesabaran.
Paradigma Kepemimpinan Baru
Klimek dan AtKisson memperkenalkan konsep “leadership as hosting rather than heroics” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 332). Pemimpin baru ini berfungsi sebagai:
- Host yang menciptakan ruang untuk kolaborasi
- Steward yang merawat sistem dan hubungan
- Catalyst yang mempercepat perubahan positif
- Learner yang terus bertumbuh dan beradaptasi
Kompetensi Kepemimpinan Baru
1. Systems Intelligence
Kemampuan untuk “see the whole, understand the interconnections, and anticipate unintended consequences” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 335). Ini melibatti:
- Pola pikir non-linear dan kompleks
- Kemampuan membaca dinamika sistem
- Visi jangka panjang yang tetap relevan dengan realitas jangka pendek
2. Multi-Stakeholder Engagement
Kepemimpinan yang “builds bridges across divides and finds common ground among diverse interests” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 338). Keterampilan kunci termasuk:
- Fasilitasi dialog yang transformatif
- Pembangunan kepercayaan lintas batas
- Navigasi konflik yang konstruktif
3. Adaptive Capacity
Kemampuan untuk “thrive in uncertainty and lead through emergence rather than control” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 341). Ini mencakup:
- Ketahanan menghadapi disrupsi
- Kelincahan dalam beradaptasi
- Keberanian untuk bereksperimen
Kepemimpinan dalam Konteks Indonesia
Dalam budaya Indonesia, kepemimpinan baru ini selaras dengan konsep:
- Pamong: Pemimpin sebagai pengasuh yang melayani
- Hamemayu Hayuning Bawana: Merawat keindahan dunia
- Khalifatullah fil Ardh: Manusia sebagai wakil Tuhan di bumi
Growing into Possibility
Bab penutup, Growing into Possibility, ini bersifat inspiratif dan visioner. Penulis mengajak pembaca untuk beralih dari “problem-solving” ke “possibility-creating”. “The future is not something that happens to us, but something we create through our choices and actions today” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 348).
Mereka membagikan kisah transformasi dari berbagai belahan dunia yang menunjukkan bahwa perubahan sistemik yang positif memang mungkin. Bagian ini diakhiri dengan ajakan untuk bergabung dalam “global community of change agents” yang bekerja menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dan adil.
Catatan Akhir
Bagi Remark Asia dan konsultan sustainability lainnya, bagian-bagian akhir buku ini memberikan manfaat yagn besar karena:
- Metodologi yang Teruji: Framework systemic change yang bisa diadaptasi untuk berbagai klien
- Pendekatan Holistik: Memadukan aspek teknis, sosial, dan personal
- Alat Praktis: Model coaching dan peer consulting untuk pengembangan kapasitas klien
- Mindset Kepemimpinan: Paradigma baru yang relevan dengan kompleksitas sustainability
- Kearifan Lokal: Prinsip-prinsip yang selaras dengan nilai-nilai Indonesia
Pergeseran dari Problem-Solving ke Possibility-Creating
Bagian penutup ini mengajak pembaca untuk “shift from being problem-solvers to becoming possibility-creators” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 348). Penulis berargumen bahwa fokus berlebihan pada pemecahan masalah seringkali membatasi imajinasi kita tentang apa yang mungkin.
Praktik Menumbuhkan Kemungkinan
1. Appreciative Inquiry
Pendekatan yang “focuses on what gives life to systems when they are at their best” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 351). Langkah-langkahnya:
- Discovery: Mengidentifikasi momen kecemerlangan
- Dream: Membayangkan masa depan yang diinginkan
- Design: Merancang masa depan bersama
- Destiny: Mewujudkan visi menjadi kenyataan
2. Future Backwards Visioning
Teknik untuk “see the present from the perspective of a desired future” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 354). Proses ini melibatkan:
- Visualisasi masa depan yang sudah tercapai
- Identifikasi langkah-langkah yang membawa ke sana
- Pengakuan hambatan sebagai peluang belajar
3. Possibility-Centered Dialogue
Percakapan yang “explores what could be, rather than debating what is” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 357). Prinsip-prinsipnya:
- Mengganti “ya, tapi” dengan “ya, dan”
- Menunda penilaian dan kritik
- Membangun atas ide orang lain
Buku ini ditutup dengan kumpulan kisah transformasi dari seluruh dunia yang menunjukkan bahwa perubahan positif memang mungkin: Komunitas yang berhasil memulihkan ekosistem yang rusak; Perusahaan yang bertransformasi menjadi kekuatan regeneratif; Kota yang merancang ulang sistemnya untuk keberlanjutan.
Klimek & AtKisson mengajak untuk bergabung dengan “global community of change agents who are co-creating a future that works for all.” Pesan akhirnya adalah harapan yang aktif – bukan harapan pasif yang menunggu, tetapi harapan yang diwujudkan melalui tindakan.
Ketiga bagian akhir ini memberikan kerangka yang powerful untuk:
- Pendekatan Konsultansi yang Transformasional: Bergerak melampaui solusi teknis menuju perubahan sistemik
- Pengembangan Kepemimpinan: Membangun kapasitas kepemimpinan yang dibutuhkan untuk transformasi keberlanjutan
- Inspirasi dan Harapan: Menawarkan visi positif tentang masa depan yang mungkin diciptakan
Dengan pendekatan ini, siapapun konsultan sustainability, dapat membantu klien tidak hanya memecahkan masalah sustainability yang ada, tetapi secara aktif menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan dan adil.
Dalam konteks global, buku ini sangat relevan dengan kompleksitas transisi sustainability. Solusi teknis seperti energi terbarukan atau mobil listrik seringkali mengabaikan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas, menciptakan “parachuting cats” modern. Untuk Indonesia, pendekat-an sistemik menjadi kritis mengingat keragaman budaya dan ekosistem. Intervensi sustainabili-ty yang berhasil di Jawa belum tentu cocok untuk Papua atau Kalimantan. “Context is everything in change work” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 167).
Buku ini memberikan fondasi metodologis untuk pendekatan konsultansi:
- Systems Thinking: Membantu klien melihat keterkaitan antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi
- Collaborative Approach: Mengembangkan solusi bersama stakeholders, bukan untuk mereka
- Adaptive Management: Membangun kapasitas klien untuk merespons perubahan yang tak terduga
- Contextual Solutions: Menghindari one-size-fits-all approach dalam konsultansi
Dr. Vanessa Reid dari Journal of Sustainability Education memuji: “Buku ini berhasil menjembatani teori kompleksitas dengan praktik perubahan yang accessible” (Reid, 2017).
Namun, kritikus seperti Prof. James Thompson mencatat: “Meskipin kuat dalam diagnosis, buku ini kurang dalam tools praktis untuk mengukur dampak intervensi perubahan” (Thompson, 2018).
Kita perlu mengambil pelajaran abadi dari kucing Kalimantan. Kisah parachuting cats mengajar-kan bahwa dalam sistem yang kompleks, solusi sederhana seringkali berbahaya. Seperti dikatakan Klimek dan AtKisson: “The most dangerous kind of problem is one that looks simple” (Klimek & AtKisson, 2016, p. 198).
Bagi konsultan sustainability di Indonesia, buku ini mengingatkan pentingnya pendekatan holistik dan rendah hati. Setiap intervensi harus didahului oleh pemahaman mendalam tentang sistem yang akan diubah, dan kesiapan untuk bertanggung jawab atas konsekuensi yang tak terduga.
Buku ini mengajarkan bahwa konsultan sustainability yang efektif bukanlah ahli yang memiliki semua jawaban, tetapi fasilitator yang membantu klien menavigasi kompleksitas dan menciptakan solusi yang sesuai dengan konteks lokal mereka.
Cirebon, 30 November 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Referensi
Al-Farabi. (950). The Perfect State [Al-Madina al-Fadila]. (Terjemahan modern oleh R. Walzer, 1985). Oxford University Press.
Al-Ghazali. (1100). Ihya Ulumuddin [The Revival of the Religious Sciences]. (Terjemahan modern oleh M. Holland, 2001). Fons Vitae.
Cooperrider, D. L., & Whitney, D. (2005). Appreciative Inquiry: A Positive Revolution in Change. Berrett-Koehler Publishers.
Djoko Damono, S. (2009). Hujan Bulan Juni. Gramedia Pustaka Utama.
Edmondson, A. C. (2018). The Fearless Organization: Creating Psychological Safety in the Workplace for Learning, Innovation, and Growth. Wiley.
Eliot, T. S. (1943). Four Quartets. Harcourt.
Klimek, A., & AtKisson, A. (2016). Parachuting Cats into Borneo: And Other Lessons from the Change Café. Chelsea Green Publishing.
Madjid, N. (1992). Islam, Doktrin, dan Peradaban. Paramadina.
Meadows, D. H. (2008). Thinking in Systems: A Primer. Chelsea Green Publishing.
Reid, V. (2017). Review of Parachuting Cats into Borneo. Journal of Sustainability Education, 15(2), 45-48.
Senge, P. M. (2006). The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning Organization (Edisi ke-2). Currency Doubleday.
Thompson, J. (2018). The limits of narrative in change management. Organizational Change Review, 22(4), 112-125.
Whitmore, J. (2017). Coaching for Performance: The Principles and Practice of Coaching and Leadership (Edisi ke-5). Nicholas Brealey Publishing.






