Logo-Remark-Asia-WhiteLogo – Re-Mark AsiaLogo-Remark-Asia-WhiteLogo-Remark-Asia-White
  • Home
  • Who we are
    • Brief history
    • Career with us
    • Clients
    • Legalities
    • Networking and partnership
    • Purpose and vision
    • Management
    • Our experience
    • Our Team
  • What we offer
    • Consultancy Services
      • Carbon Stock Assessment
      • Free Prior and Informed Consent
      • High Carbon Stock
      • High Conservation Value
      • Land Use Change Analysis
      • Participatory Mapping
      • Social Impact Assessment
    • Sustainability Audit
    • HCVN ALS Report
  • AiKnow
    • About AiKnow
    • Our Trainers
    • Courses
      • Top Courses
        • HCV ALS Lead Assessor Training
        • High Carbon Stock Training
        • Social Impact Assessment Training (SIAT)
      • HCV Concept Learning
      • HCV + HCS Integrated Lead Assessor Training Course
      • FPIC Concept Learning
      • Facilitator Training
      • In-house Training
    • Training & Activity
      • Training Calendar
      • Training Activity
      • Fieldtrip Activity
      • In-House Training
    • Quarterly Discussion
    • Program Mitra-AiKnow
      • Tokopedia
        • Prakerja
          • Sertifikat
    • Register
    • Contact Us
  • Knowledge
    • Bincang Buku
    • Catatan dari atas Sadel
    • Halaman DRM
    • Juru Buku
    • Membumi Lestari
    • Rubarubu
    • Sustainability 17A
  • Media & news
    • News
    • Galeri
    • Downloads
✕

CADAS # 02- Mamdani dan Sepeda: “It’s pronounced cyclist!”

  • Home
  • Media & news
  • News
  • Catatan dari atas Sadel
  • CADAS # 02- Mamdani dan Sepeda: “It’s pronounced cyclist!”
Published by remarker at Monday January 19th, 2026
Categories
  • Catatan dari atas Sadel
  • CadaS
  • Uncategorized
Tags
  • bincangbuku
  • CadaS
  • drm
  • dwimuhtaman
  • dwirmuhtaman
  • halamandrm
  • JuruBuku
  • keberlanjutan
  • kelestarian
  • latin
  • lestarilahindonesia
  • remarkasia
  • Rubarubu
  • sustainability
  • sustainability17a

CadaS #Edisi 02

Mamdani dan Sepeda: “It’s pronounced cyclist!”

Dwi Rahmad Muhtaman

“Warga New York sekalian, hari ini era baru dimulai. Saya berdiri di hadapan kalian tersentuh oleh hak istimewa untuk mengucapkan sumpah suci ini, tunduk oleh kepercayaan yang telah kalian letakkan pada saya, dan terhormat untuk melayani sebagai walikota kalian di New York City yang ke-111 atau ke-112.

Namun, saya tidak berdiri sendirian. Saya berdiri di samping kalian, puluhan ribu yang berkumpul di sini di Lower Manhattan, dihangatkan dari dinginnya Januari oleh api harapan yang bangkit kembali.”

Mamdani kemudian menegaskan bahwa kota ini milik semua orang, bukan hanya mereka yang mampu membeli kebebasan:

“Terlalu lama di kota kita, kebebasan hanya dimiliki oleh mereka yang mampu membelinya. Balai Kota kita akan mengubah hal itu. Kita tidak hanya akan memungkinkan setiap warga New York untuk kembali menjalani hidup yang mereka cintai, kita juga akan mengatasi keterasingan yang dirasakan terlalu banyak orang, dan menyatukan penduduk kota satu sama lain.”

Ia juga menyatakan identitas politiknya secara gamblang dan menjanjikan pemerintahan yang berani:

“Saya terpilih sebagai seorang sosialis demokrat dan saya akan memerintah sebagai seorang sosialis demokrat. Saya tidak akan meninggalkan prinsip-prinsip saya karena takut dianggap radikal.”

Mamdani menolak ajakan untuk merendah hari itu, dengan rasa percaya diri yang mengalir dalam pidatonya:

“Dalam menulis pidato ini, saya diberi tahu bahwa inilah kesempatan untuk menyesuaikan harapan, bahwa saya harus menggunakan momen ini untuk mendorong warga New York meminta sedikit dan mengharapkan lebih sedikit lagi. Saya tidak akan melakukan hal semacam itu. Mulai hari ini, kita akan memerintah dengan cara yang luas dan berani. Kita mungkin tidak selalu berhasil, tetapi jangan pernah dituduh karena tidak memiliki keberanian untuk mencoba.”

Ia juga menyampaikan pesan isi hati bagi seluruh warga, termasuk mereka yang awalnya ragu atau menyangkal dukungannya:

“Jika Anda adalah warga New York, saya adalah walikota Anda. Terlepas dari apakah kita setuju, saya akan melindungi Anda, bergembira bersama Anda, berduka di samping Anda, dan tidak akan pernah, sedetik pun, bersembunyi dari Anda.”

Pidato ini menutup dengan pengakuan bahwa pekerjaan besar masih menanti:

“Pekerjaan itu, kawan-kawan, baru saja dimulai.”

Itulah pidato inagurasi Zohran Mamdani seorang figur politik progresif yang menarik perhatian dunia ketika New York City memilihnya sebagai Walikota pada 1 Januari 2026 setelah kemenangan mengejut-kan pada pemilihan umum 2025. Lahir pada 18 Oktober 1991 di Kampala, Uganda, dari keluarga intelektual dan kreatif—ibunya adalah filmmaker India-Amerika Mira Nair dan ayahnya Mahmood Mamdani, seorang profesor antropologi—Zohran dibesarkan dalam lingkungan multikultural yang kuat sebelum pindah ke New York pada usia tujuh tahun.  Di New York, Ia tak segan mengayuh sepedanya hampir setiap hari.

Pada awal abad ke-19, jauh sebelum mobil mendominasi jalanan, New York sudah mengenal kegilaan baru: sepeda. Waktu itu orang-orang selalu berkerumun menyaksikan velocipede beroda kayu melintas di jalan berbatu Manhattan. Anak-anak muda kelas menengah mempraktikkan teknologi baru yang menjanjikan kebebasan, kecepatan, dan otonomi personal. Dalam salah satu arsip yang dikutip Friss, seorang pengamat abad ke-19 mencatat bahwa sepeda adalah “alat yang membuat manusia percaya bahwa kota dapat dijinakkan oleh tubuhnya sendiri” (Friss, 2019).

Sejarah sepeda di New York City adalah siklus naik-turun yang selalu terkait dengan perubahan kekuasaan, kelas sosial, gender, ras, dan imajinasi tentang kota modern. Sepeda, dalam narasi Friss, adalah cermin dari bagaimana sebuah kota memahami siapa yang berhak atas ruang jalan.

Pada akhir 1800-an, sepeda berkembang pesat seiring revolusi industri. Sepeda sebagai teknologi emansipasi (abad ke-19).  Friss menunjukkan bahwa sepeda bukan sekadar alat rekreasi, melainkan teknologi sosial.

Di perkotaan seperti New York sepeda bukan hanya sebagai objek teknologi atau moda transportasi alternatif. Ia sepeda adalah arsip bergerak—jejak sejarah yang terukir di jalan, trotoar, kebijakan publik, dan konflik sehari-hari kota. Sepeda adalah kayuhan cerita tentang perebutan ruang, makna, dan kekuasaan.

Ketika sepeda hadir 200 tahun lalu, New York bukan sebagai kota mobil yang “secara alami” kita kenal hari ini, melainkan sebagai ruang yang selalu diperebutkan. Jalan-jalan kota, sejak awal abad ke-19, adalah arena negosiasi antara berbagai tubuh: pejalan kaki, kusir kereta, pedagang kaki lima, anak-anak, dan kelak pesepeda. Tetapi ironisnya sepeda begitu sering dipinggirkan, lalu kembali, lalu dipinggirkan lagi?” Sepeda sebagai sejarah kota, bukan sekadar alat.

Beberapa pekan sejak inagurasinya Mamdani telah mencatatkan perhatiannya pada sepeda, bike lane, dan dukungannya atas ekosistem sepeda di New York City—berdasarkan kebijakan nyata yang telah ia umumkan dan upaya yang telah diterapkannya sebagai Wali Kota New York sejak Januari 2026:

Pertama, Ia berkomitmen kuat terhadap infrastruktur sepeda yang aman melakukan penyelesaian redesign McGuinness Boulevard di Greenpoint, Brooklyn— sebuah ruang yang merupakan jalur penting bagi pengendara sepeda yang sudah lama tertunda, bahkan sempat dibatalkan oleh pemerintahan sebelumnya.

Proyek ini mencakup: Lajur sepeda yang diproteksi oleh area parkir untuk menciptakan batas fisik yang aman antara sepeda dan kendaraan.  Pengurangan jalur kendaraan agar ruang untuk sepeda dan keselamatan pejalan kaki diperluas.  

Mamdani menyatakan bahwa proyek ini akan dilaksanakan segera setelah cuaca memungkinkan—ini menunjukkan prioritas yang tinggi terhadap keselamatan dan kenyamanan pengguna sepeda.  

Kedua, perbaikan fisik jalan untuk keselamatan sepeda dengan menyelesaikan masalah teknis di Tangkai Williamsburg Bridge. Dalam beberapa hari pertama masa pemerintahannya, Mamdani turun tangan secara langsung—termasuk mengambil sekop untuk meletakkan aspal di jalur sepeda Williamsburg Bridge yang telah lama mengancam keselamatan pengendara.

Langkah ini meskipun bersifat simbolis, menunjukkan dua hal: Pendekatan “ground-level”; tidak hanya deklaratif, tetapi mengambil tindakan nyata. Fokus langsung pada perbaikan keselamatan bagi komunitas sepeda.  

Ketiga, memperluas & menghidupkan kembali proyek bike lane yang tertunda di 31st Street di Astoria. Jalur itu sebelumnya dihentikan oleh putusan pengadilan karena masalah prosedural. Ia memutuskan untuk memulai ulang dengan mengikuti aturan yang diperlukan agar jalur sepeda terlindungi dapat kembali diwujudkan. Langkah ini mencerminkan prinsipnya bahwa: Koridor berbahaya harus diprioritas-kan untuk perbaikan demi keselamatan semua pengguna jalan.  Transformasi harus dilakukan secara sah dan terstruktur, bukan dipaksakan tanpa keterlibatan komunitas.  

Keempat, kebijakan dari masa kampanye – visinya untuk sistem sepeda NYC.  Meski sudah menjabat, banyak kebijakan kota yang berasal dari komitmen kampanyenya: Ekspansi Bike Lane dan Infrastruktur.

Selama kampanye dan sejak terpilihnya ia menjanjikan:  Ekspansi jaringan bike lane, termasuk protected bike lanes.  Kemungkinan perubahan konfigurasi jalur—misalnya menjadikan jalur satu arah jadi dua arah di tempat yang cocok.  

Menyambungkan jalur sepeda dengan transit umum. Strategi Mamdani bukan hanya fokus pada sepeda saja — melainkan transportasi berkelanjutan secara luas yang:  Menyertakan bus yang cepat dan gratis untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Mengintegrasikan sepeda dengan jaringan transportasi lain untuk mobilitas yang lebih lancar.  

Lima, dukungan terhadap komunitas dan ekosistem sepeda.  Mamdani yang memasuki politik formal dengan terpilih menjadi anggota New York State Assembly pada 2020, mewakili Astoria dan wilayah Queens ini adalah pemain aktif dalam komunitas sepeda.  Mamdani sering kali digambarkan sebagai seorang yang bersepeda sendiri (termasuk pengguna Citi Bike) dan dikenal sebagai pendukung komunitas sepeda, bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai bagian dari koalisi politik yang mendorong perbaikan keselamatan dan sistem jalan yang lebih ramah sepeda.  

Ia telah berkampanye dan bekerja bersama advokat keselamatan jalan, anggota legislatif lokal, dan organisasi komunitas untuk mendorong: Implementasi standar keselamatan seperti protected lanes.  Perubahan desain jalan yang mengurangi risiko kecelakaan serius.  Advokasi jangka panjang yang mengikat suara warga dengan kebijakan nyata.  

Walaupun banyak dukungan, kebijakan Mamdani juga menghadapi tantangan:  Penolakan atau kekhawatiran dari komunitas lokal atau bisnis tertentu, terutama terkait dampak pada area parkir atau pengiriman barang.  Masalah hukum atau prosedural, seperti yang terlihat di Astoria, yang memaksa langkah restart dengan proses yang lebih ketat.  

Namun, pendekatannya tetap berfokus pada menemukan keseimbangan antara keselamatan, mobilitas, dan kebutuhan komunitas tanpa mundur dari prinsip keselamatan jalan yang kuat.

Saat ini jaringan jalur sepeda mencapai sekitar 1.550 lane miles setara dengan sekitar 2.494,48 lane kilometers (kilometer jalur) di NYC — menjadikannya jaringan sepeda terbesar di Amerika Utara.

Terdapat lebih dari total 555 protected bike lanes (sekitar 893 kilometer).  Ini adalah ruas jalan yang dilengkapi dengan jalur sepeda terlindungi.  “Lane miles” atau “lane kilometers” adalah satuan standar untuk mengukur infrastruktur linier seperti jalan dan jalur sepeda.

“Protected Bike Lane” (Jalur Sepeda Terlindungi) adalah fasilitas khusus untuk pesepeda yang secara fisik dipisahkan dari lalu lintas kendaraan bermotor dan dari trotoar pejalan kaki. Pembatasnya bisa berupa: Pembatas fleksibel (pengarah lalu lintas plastik); Pagar pembatas; Pulau beton atau trotoar; Deretan mobil parkir (yang berfungsi sebagai pembatas).  Berbeda dengan “painted bike lane” (jalur sepeda yang hanya diberi marka cat) yang tidak memberikan perlindungan fisik.

Lebih kurang 99% penduduk tinggal ≤ 1 mil (1,6 km) dari jaringan sepeda. Pada tahun 2024, DOT (Department of Transportation) membangun jalur sepeda terlindungi baru sepanjang ~46.7 km.  NYC juga mencatat ~620.000 perjalanan bersepeda per hari dan tren penggunaan sepeda terus meningkat.  

Salah satu aspek unik tentang Mamdani adalah bagaimana dia memanfaatkan sepeda sebagai simbol keterhubungan dengan warga New York, dan itu terbukti dalam sejumlah momen nyata:

Sebelum terpilih, banyak media menyebutnya sebagai “first Citi Bike mayor” — yakni orang pertama yang menjadi Walikota NYC yang secara terbuka dikenal sebagai pesepeda reguler yang menggunakan sistem Citi Bike kota.  

Di salah satu video kampanye yang viral, ketika seseorang mengejeknya sambil bersepeda, seseorang meneriakkan “Communist!” — sebuah ejekan politis.  Mamdani menanggapi dengan santai sambil mengunci sepeda Citi Bike: “It’s pronounced cyclist!” — kalimat yang kemudian menjadi momen ikonik kampanyenya.  

Peristiwa ini mencerminkan persona yang tidak hanya bersepeda, tetapi juga menggunakan pengalaman itu untuk terhubung dengan publik dan menegaskan identitasnya.

Mamdani membuktikan: pesepeda bisa menjadi pemimpin yang paham bahwa berbagi ruang di jalan merupakan cara terbaik memahami berbagi ruang kehidupan.

Adakah pemimpin kota di Indonesia yang mau mengikuti jejak Mamdani?

Bogor, 15 Januari 2026

Share
0

Related posts

Thursday January 15th, 2026

Rubarubu #75 – The Racket: Retakan dalam Imperium


Read more
Wednesday December 24th, 2025

Rubarubu #48 – Business Design Thinking and Doing: Merancang Bisnis Berkelanjutan


Read more
Wednesday December 24th, 2025

Rubarubu #47 – Mengukur Keberlanjutan, Mengukur Dampak


Read more
© Copyright 2023 - Re-Mark Asia | All Rights Reserved
      Previous January 15, 2026
      Rubarubu #75 - The Racket: Retakan dalam Imperium

      Rubarubu #75 The Racket:  Retakan dalam Imperium Dari Ruang Ber-AC ke Tambang Terbuka Matt Kennard membuka The Racket dengan pengalaman yang terasa…

      Random April 7, 2021
      Sustainability 17A #32 - Deklarasi CEO dan Sustainable Development: Serigala Berbulu Angsa.

      Sustainability 17A #32   Deklarasi CEO dan Sustainable Development: Serigala Berbulu Angsa.   Dwi R. Muhtaman,  sustainability learner   Pada…