Rubarubu #72
Giro d’Italia:
Ketika Balapan Sepeda Menjadi Cerminan Bangsa
“Born of tumult in 1909, the Giro d’Italia helped unite a nation. Since then, it has reflected its home country—the Giro’s capricious and unpredictable nature matches the passions and extremes of Italy itself.” (simonandschuster.com)
Kalimat pembuka ini, yang sering dikutip dalam deskripsi buku, tidak hanya memperkenalkan sebuah perlombaan sepeda besar—Giro d’Italia—tetapi juga menyiratkan makna budaya dan sejarahnya: perlombaan ini mencerminkan Italia sendiri. Dari awalnya sebagai sarana untuk menyatukan negara yang masih muda secara politik hingga menjadi acara nasional yang sangat dicintai, Giro berperan ganda sebagai olahraga dan metafora kebangsaan. (simonandschuster.com)
Giro d’Italia: The Story of the World’s Most Beautiful Bike Race oleh Colin O’Brien (Pursuit Books, 2017) ditulis oleh Colin O’Brien, seorang jurnalis olahraga yang tinggal di Roma dan sudah puluhan tahun mengikuti dunia balap sepeda profesional. Giro d’Italia bukan sekadar kronik teknis perlombaan tahunan; ia adalah narasi penuh warna tentang karakter manusia, geografi, politik, dan perubahan sosial yang berputar di sekitar Grand Tour Italia. (simonandschuster.com).
Asal Usul dan Makna Sosial
Sejarah Giro d’Italia dimulai pada 1909, ketika direktur surat kabar La Gazzetta dello Sport mencari cara untuk meningkatkan penjualan—terinspirasi oleh kesuksesan Tour de France. Balapan ini, yang kemudian dikenal sebagai Corsa Rosa (“balapan pink”) karena warna koran pendirinya, bukan hanya kompetisi atletik, tetapi juga simbol identitas Italia yang sedang dibentuk. (The Guardian).
Giro d’Italia lahir bukan dari ketenangan, melainkan dari kegelisahan. Ia muncul dari ambisi sebuah surat kabar, dari hasrat sebuah negeri muda untuk mengenali dirinya sendiri, dan dari dorongan manusia untuk menguji batas tubuh di jalan yang tidak pernah netral. Sejak awal, Giro bukan sekadar perlombaan. Ia adalah perjalanan kolektif: para pebalap bergerak, tetapi yang bergerak bersama mereka adalah imajinasi nasional Italia.
Colin O’Brien membuka kisah Giro dengan nada yang hampir sastra: balapan ini tidak pernah jinak, tidak pernah sepenuhnya rasional. Jika Tour de France sering digambarkan sebagai rasional, geometris, dan terukur, Giro adalah kebalikannya—emosional, teatrikal, kadang kejam, sering tidak masuk akal. Jalurnya berubah-ubah, cuacanya tak terduga, dan keputusan organisasinya kerap tampak seperti hasil intuisi, bukan kalkulasi. Namun justru di situlah keindahannya.
Giro mencerminkan Italia sebagai bangsa yang hidup dalam paradoks: antara utara dan selatan, antara Katolik dan sekuler, antara disiplin dan improvisasi. O’Brien menegaskan bahwa untuk memahami Giro, seseorang tidak cukup memahami olahraga. Ia harus memahami sejarah Italia, politiknya, trauma perangnya, dan kecenderungan rakyatnya untuk mengubah penderitaan menjadi seni.
Italia pada awal abad ke-20 adalah negeri dengan banyak perbedaan regional dan politik yang tajam. Balapan ini melintas dari dataran Po Valley yang panas hingga puncak Pegunungan Alpen dan Apennines yang dingin, mencerminkan lanskap fisik negara yang sama beragamnya dengan lanskap sosialnya. Giro menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar lomba: ia menghubungkan orang di bawah panji persatuan nasional, dari utara ke selatan, dari kota hingga desa jauh. (The Guardian)
Salah satu kekuatan besar buku ini adalah cara O’Brien menggambarkan tokoh-tokoh yang menjadi legenda dalam sejarah Giro. Kisah para tokoh dan rivalitas legendaris. Ia memberi ruang pada pahlawan dan tragedi yang membuat balapan itu hidup: Alfonsina Strada, yang memotong rambutnya dan ikut berlomba dengan para pria pada 1924, menjadi simbol keberanian personal dan tantangan norma gender di era awal olahraga modern. (simonandschuster.com)
Ottavio Bottecchia, yang diperkirakan akan menantang Maglia Rosa pada akhir 1920-an, namun kemudian tewas dalam sebuah kecelakaan tragis yang — beberapa narasi sejarah bahkan menduga — melibatkan tekanan politik era Mussolini, menunjukkan bagaimana era totalitarianisme ikut memengaruhi dunia olahraga. (simonandschuster.com). Fausto Coppi dan Gino Bartali adalah dua rival ikonik yang bukan hanya berkompetisi di lintasan, tetapi juga melambangkan persimpangan budaya Italia: Coppi sebagai metropolitan yang flamboyan dengan kehidupan penuh kontradiksi, Bartali sebagai figur religius, sederhana, dan tetap gagah. Rivalitas mereka di era pasca-Perang Dunia II memperlihatkan betapa Giro bukan hanya olahraga, tetapi arena bagi cerita kemanusiaan. (simonandschuster.com).
Marco Pantani, pebalap pendaki tipikal yang menguasai Pegunungan Italia, menjadi figur paling tragis dalam sejarah Giro. O’Brien menggambarkan naik-turunnya karier Pantani dengan dramatis: keberhasilannya di puncak balapan, tantangan doping, serta kehancuran pribadi dan profesionalnya. Perjalanan Pantani, lebih dari sekadar kisah atlet, adalah miniatur dari ambisi, tekanan sosial, dan iblis modern dalam dunia olahraga. (simonandschuster.com).
Sepanjang buku, O’Brien juga menghadirkan kisah rivalitas klasik, seperti Francesco Moser melawan Giuseppe Saronni, di mana persaingan bukan hanya soal ketahanan fisik tetapi juga strategi tim dan bahkan dugaan skenario kontroversial yang melibatkan jalur perlombaan. (The Guardian). O’Brien menganalisis bagaimana berbagai era Giro lahir dari perubahan sosial: dari dominasi pebalap Italia di era awal, hingga pengaruh kuat pebalap asing setelah Perang Dunia II. Balapan ini terus berkembang seiring dengan teknologi sepeda, komposisi tim, serta taktik modern yang menjadikannya bukan hanya sekadar uji fisik, tetapi juga uji strategi. (PublishersWeekly.com).
Giro sebagai Cerminan Italia
Lebih daripada sekadar balapan, Giro d’Italia menurut O’Brien adalah cerminan sikap suatu bangsa. Ia mencerminkan bagaimana Italia memahami dirinya sendiri: penuh gairah, penuh perjuangan, dan kerap kali dramatis. Jalan yang dilalui oleh para pebalap bukan hanya rute yang dirancang secara geografis, tetapi juga jalur sejarah—melintasi waktu ketika Italia mengalami perang, rekonstruksi, kebangkitan budaya, dan perubahan politik. (The Guardian)
Balapan ini telah mengalami penghentian hanya selama dua Perang Dunia, tetapi berulang kali bangkit dari krisis global, seolah mencerminkan tekad bangsa yang lahir dari masa sulit. Tidak mengherankan jika banyak orang Italia menganggap Giro lebih dari sekedar acara olahraga; ia adalah institusi budaya, sumber kebanggaan nasional yang mampu menyatukan generasi berbeda dalam kesamaan kecintaan terhadap perjuangan, ketahanan, dan kemenangan. (simonandschuster.com)
Colin O’Brien menyusun Giro d’Italia: The Story of the World’s Most Beautiful Bike Race sebagai sebuah kronik yang hidup, memadukan fakta sejarah dengan narasi personal, drama dramatis dan refleksi budaya. Ia tidak sekadar menceritakan siapa yang menang pada setiap edisi, tetapi juga menggambarkan hubungan antara sportivitas dan kehidupan manusia. Dari Alfonsina Strada hingga Marco Pantani, dari rivalitas Bartali–Coppi hingga tantangan kontemporer, buku ini memberi pembaca gambaran utuh tentang bagaimana balapan sepeda bisa menjadi salah satu lensa terbaik untuk melihat dinamika sosial, budaya, dan politik Italia selama lebih dari seabad. (simonandschuster.com)
Beberapa etape menarik diuraikan dengan detil dan penulisan yang bergaya penuturan dalam buku ini. Beberapa etape bisa dibaca pada ringkasan ini:
SALITA FAMOSA – Roccaraso, Abruzzo: Gunung sebagai Pengadilan
Roccaraso bukan sekadar tanjakan. Ia adalah ruang pengadilan alam, tempat tubuh manusia diadili tanpa pengacara. Terletak di Abruzzo, wilayah yang lama dianggap “Italia lain”—lebih keras, lebih miskin, dan lebih terabaikan—Roccaraso menjadi simbol bagaimana Giro membawa sorotan ke daerah-daerah pinggiran.
Dalam kisah yang diceritakan O’Brien, tanjakan ini bukan hanya menguji paru-paru dan paha, tetapi juga karakter. Pebalap yang tiba di Roccaraso sering kali tidak lagi berpikir tentang klasemen; mereka berpikir tentang bertahan. Kabut turun cepat, angin memotong kulit, dan jalan yang tampak biasa di peta berubah menjadi lorong penderitaan yang tak berujung.
Secara historis, tanjakan-tanjakan seperti Roccaraso menandai perubahan Giro dari balapan jalan raya menjadi drama vertikal. Data yang sering dikutip O’Brien menunjukkan bagaimana sejak 1930-an, penambahan etape pegunungan meningkatkan jarak waktu antar pebalap secara signifikan—menciptakan hierarki yang lebih kejam namun lebih “jujur”. Gunung, tidak seperti sprint, tidak bisa dibohongi.
Di Abruzzo, Giro juga menjadi peristiwa sosial. Desa-desa kecil yang jarang muncul di peta nasional tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Jalanan dibersihkan, bendera digantung, dan anak-anak berdiri berjam-jam menunggu iring-iringan pebalap lewat hanya dalam hitungan detik. Giro, di tempat seperti Roccaraso, adalah janji bahwa pinggiran masih diakui.
Alfredo Binda: Il Grande Antipatico
Alfredo Binda adalah paradoks berjalan. Ia terlalu hebat untuk dicintai. Terlalu dominan untuk dirayakan. Dijuluki Il Grande Antipatico, Binda memenangkan Giro lima kali pada 1920-an dengan cara yang hampir menghina pesaingnya—menang dengan selisih besar, menyerang kapan pun ia mau, dan sering kali membuat balapan terasa selesai sebelum benar-benar dimulai.
O’Brien melukiskan Binda sebagai sosok yang tidak mencari simpati. Ia tidak tersenyum untuk kamera, tidak berbagi penderitaan dengan publik. Ia menang karena ia bisa, dan itu saja. Dalam satu kisah terkenal, penyelenggara Giro bahkan membayar Binda agar tidak ikut lomba, karena kehadirannya dianggap membunuh ketegangan dan mengurangi minat penonton. Secara statistik, dominasi Binda luar biasa: ia memenangkan 41 etape Giro—rekor yang bertahan puluhan tahun. Namun justru angka-angka itulah yang membuatnya dijauhi. Publik Italia, yang mencintai drama dan penderitaan, merasa Binda terlalu efisien, terlalu dingin. Ia adalah mesin di negeri yang menyukai air mata.
Dalam narasi O’Brien, Binda menjadi simbol dilema olahraga modern: apakah kehebatan mutlak selalu layak dirayakan? Ataukah olahraga membutuhkan ketidaksempurnaan agar tetap manusiawi?
The Devil Wears Wool Shorts
Judul ini merujuk pada era awal Giro, ketika pebalap mengenakan celana wol tebal, tanpa perlindungan, tanpa dukungan medis modern. “Iblis” dalam kisah ini bukan figur metaforis; ia hadir dalam bentuk hujan es, rem yang rusak, ban yang bocor, dan jalan tanah yang berubah menjadi lumpur.
O’Brien menggambarkan satu kisah di mana pebalap harus memperbaiki sepedanya sendiri di tengah badai, jari-jari membeku, sambil dikejar batas waktu. Tidak ada mobil tim. Tidak ada radio. Tidak ada empati dari alam. Balapan adalah kontrak langsung antara tubuh dan jalan.
Data historis menunjukkan bahwa tingkat pengunduran diri pada Giro era 1910–1930-an jauh lebih tinggi dibanding era modern. Kadang hanya separuh peserta yang mencapai finis. Namun justru dari penderitaan itulah mitologi Giro lahir. Sepeda menjadi alat asketisme, dan pebalap menyerupai pertapa yang mencari makna melalui rasa sakit.
SALITA FAMOSA – Croce d’Aune, Veneto: Keindahan yang Mengkhianati
Croce d’Aune adalah tanjakan yang tampak ramah. Tidak seterjal Stelvio, tidak seteror Mortirolo. Namun justru di situlah jebakannya. O’Brien menggambarkan Croce d’Aune sebagai gunung yang “tersenyum sebelum menusuk”. Di sinilah banyak kisah heroik dan tragis terjadi, termasuk jatuhnya Fausto Coppi muda yang kemudian bangkit dan menjadi legenda. Croce d’Aune mengajarkan bahwa Giro tidak selalu menghancurkan dengan kekerasan; kadang ia menghancurkan dengan harapan palsu. Secara geografis, Veneto adalah wilayah industri dan borjuis, berbeda dari Abruzzo yang marginal. Giro, dengan membawa tanjakan ini ke panggung nasional, memperlihatkan keragaman wajah Italia—bahwa penderitaan tidak hanya milik yang miskin atau terpencil.
Fascism and the Giro: Balapan sebagai Alat Kekuasaan
Bab ini adalah salah satu yang paling politis. O’Brien menunjukkan bagaimana rezim fasis Mussolini memahami kekuatan simbolik Giro. Balapan ini dijadikan alat propaganda: menampilkan tubuh pria Italia yang kuat, disiplin, dan patuh; menegaskan mitos bangsa yang tangguh dan tak terkalahkan. Rute Giro diarahkan untuk menonjolkan wilayah strategis, kemenangan Italia dirayakan sebagai kemenangan ideologi. Namun Giro tidak pernah sepenuhnya tunduk. Jalan-jalan rusak, cuaca buruk, dan kegagalan pebalap justru sering mempermalukan narasi resmi.
Di sinilah Giro menunjukkan wataknya yang paling menarik: ia bisa dimanfaatkan oleh kekuasaan, tetapi tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan. Sepeda, dengan segala kesederhanaannya, tetap menjadi ruang kebebasan kecil di tengah proyek totalitarian.
Dalam bagian-bagian awal buku ini, O’Brien menegaskan satu hal: Giro d’Italia adalah kisah tentang manusia yang berhadapan dengan batas—batas tubuh, batas politik, batas cinta publik. Gunung-gunungnya adalah altar, para pebalapnya adalah korban sekaligus pahlawan, dan Italia adalah panggung besar tempat semuanya dipentaskan. Giro sebagai kitab kehidupan di jalan raya.
SALITA FAMOSA – Tre Cime di Lavaredo, Veneto: Gunung yang Mengubah Takdir
Tre Cime di Lavaredo bukan sekadar tanjakan; ia adalah ritus peralihan. Tiga pilar batu kapur Dolomiti berdiri seperti saksi purba, memandang para pebalap yang merangkak naik di bawah langit yang bisa berubah dari biru ke abu-abu dalam hitungan menit. Di sinilah Giro kerap menulis bab paling kejamnya—tempat legenda dibaptis oleh dingin, kabut, dan kerapuhan manusia.
O’Brien menghidupkan kembali etape 1967 yang melegenda, ketika badai salju mengamuk dan Felice Gimondi, yang mengenakan maglia rosa, harus menyerah pada penderitaan yang tak terperikan. Fausto Bitossi menang hari itu, tetapi Tre Cime “memilih” pahlawannya sendiri: siapa yang bertahan, bukan siapa yang tercepat. Data ketinggian—lebih dari 2.300 meter—tidak sepenuhnya menjelaskan teror psikologisnya; yang menentukan adalah jalan sempit yang terasa semakin curam ketika oksigen menipis dan penonton berteriak seperti gema dari tebing.
Tre Cime mengajarkan Giro satu pelajaran keras: balapan ini bukan hanya soal kemampuan fisik, melainkan kemauan untuk tinggal lebih lama dalam penderitaan. Di sini, waktu tidak lagi diukur oleh jam, melainkan oleh napas.
SALITA FAMOSA – Colle delle Finestre, Piemonte: Kerikil dan Ketabahan
Colle delle Finestre adalah pengingat bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Dengan bagian puncaknya yang masih berupa jalan kerikil, tanjakan ini terasa seperti surat cinta yang keras kepada Giro lama—zaman ketika teknologi belum menutupi kesalahan, dan setiap roda harus berdamai dengan tanah. O’Brien menulis Finestre sebagai ujian karakter murni. Kerikil memaksa ritme melambat, memaksa pebalap mendengarkan sepeda mereka, merasakan setiap getaran. Tidak ada aerodinamika yang bisa menolong ketika roda tergelincir dan tubuh harus menyesuaikan diri dengan insting paling dasar.
Secara analitis, Finestre memperbesar selisih waktu bukan karena gradien semata, melainkan karena ketidakpastian. Ia menyingkap siapa yang tenang dalam kekacauan. Dalam Giro modern yang semakin cepat dan halus, Finestre adalah interupsi yang disengaja—sebuah pernyataan bahwa balapan ini masih milik jalan, bukan laboratorium.
SALITA FAMOSA – Colle dell’Agnello, Piemonte: Dulu dan Kini
Colle dell’Agnello berdiri sebagai jembatan waktu. Dulu, tanjakan ini dilalui dengan perlengkap-an seadanya, tanpa jaminan keselamatan. Kini, ia dilalui dengan sepeda karbon dan dukungan medis canggih. Namun O’Brien menegaskan bahwa esensinya tidak berubah: gunung tetap berdaulat. Perbandingan “then and now” memperlihatkan kemajuan yang nyata—kecepatan rata-rata meningkat, waktu pemulihan lebih cepat—namun juga kehilangan: keheningan lama digantikan keramaian media, kesendirian pebalap digantikan sorotan konstan. Agnello meng-ingatkan bahwa meski zaman berubah, Giro tetap bergantung pada kesediaan manusia untuk naik—perlahan, menyakitkan, jujur.
Coda: Jalan yang Terus Berputar
Dalam rangkaian bagian ini, Giro tampil sebagai organisme hidup yang menua, terluka, dan beradaptasi. Tanjakan-tanjakan—Tre Cime, Finestre, Agnello—bukan sekadar latar, melain-kan aktor utama yang memaksa manusia berkata jujur tentang batasnya. Kedatangan Amerika, krisis Lombardy, dan dekade sulit memperkaya narasi tanpa mematikannya. Giro bertahan karena ia tidak pernah menyangkal penderitaan. Ia merawatnya sebagai bahasa bersama—antara masa lalu dan masa kini, antara jalan dan jiwa.
Enter the Americans: Pendatang dari Dunia Lain
Ketika orang Amerika memasuki panggung Giro, mereka datang dari kosmologi bersepeda yang berbeda. O’Brien menulisnya sebagai pertemuan dua dunia: Eropa yang memuja sejarah, ritual, dan penderitaan; Amerika yang membawa sains, efisiensi, dan ambisi profesional. Kedatangan mereka bukan sekadar soal paspor, melainkan benturan imajinasi.
Di mata publik Italia, para pebalap Amerika tampak asing—cara mereka makan, berlatih, dan berbicara tentang balapan terasa dingin, teknokratis. Namun Giro, yang selalu lapar akan narasi baru, membuka pintu. Mereka membawa pendekatan data-driven, manajemen tim yang lebih rapi, dan keyakinan bahwa penderitaan bisa dikelola. Sebagian berhasil beradaptasi; sebagian lain patah di tanjakan yang tak peduli pada spreadsheet.
O’Brien menunjukkan bahwa kehadiran Amerika mengubah Giro secara halus: profesionalisme meningkat, tetapi romantisme lama diuji. Apakah balapan ini akan tetap menjadi drama rakyat, atau berubah menjadi eksperimen ilmiah di jalan raya?
1988: Fear and Loathing in Lombardy
Lombardy, dengan jalannya yang berliku dan cuaca yang tak dapat ditebak, menjadi panggung bagi salah satu edisi paling gelap. Tahun 1988 dipenuhi kecurigaan—tentang doping, tentang permainan tim yang licik, tentang batas etika yang kian kabur. O’Brien menggambarkan atmosfernya dengan nada muram: ketegangan terasa di udara, lebih berat dari kabut pagi.
Statistik kecepatan yang melonjak dan pemulihan yang “ajaib” memicu bisik-bisik. Para penonton, yang biasanya memaafkan segalanya demi drama, mulai bertanya. Giro, yang selama puluhan tahun memeluk penderitaan sebagai nilai, kini menghadapi paradoks: bagaimana jika penderitaan itu dipalsukan?
Lombardy 1988 bukan hanya kisah tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang hilangnya kepolosan. Giro memasuki era di mana kecurigaan menjadi bagian dari narasi—dan keindahan harus bernegosiasi dengan kebenaran yang pahit.
A Decade of Difficulty: Tahun-Tahun Berat Giro
Dekade ini digambarkan O’Brien sebagai masa pencarian jati diri. Skandal doping, tekanan komersial, dan perubahan selera publik membuat Giro berjalan di tali yang rapuh. Ia harus bertahan tanpa mengkhianati dirinya sendiri. Cerita-cerita yang muncul bukan lagi hanya tentang heroisme, tetapi tentang kelelahan institusional. Penonton menuntut keajaiban, sementara organisasi berjuang menjaga integritas. Giro belajar bahwa untuk tetap hidup, ia harus mengakui luka-lukanya—bukan menutupinya.
Di sinilah rute-rute ekstrem kembali dihadirkan, bukan sebagai sensasi kosong, melainkan sebagai upaya mengembalikan makna: penderitaan yang nyata, bukan yang disintesis.
Dulu dan Kini: Jalan yang Sama, Manusia yang Berubah
Di bagian akhir ini, Colin O’Brien menurunkan suaranya. Setelah tanjakan-tanjakan brutal, skandal, heroisme, dan dekade-dekade yang goyah, Giro d’Italia tiba di satu titik hening: sebuah pandangan ke belakang—dan sekaligus ke depan. Then and now bukan sekadar perbandingan kronologis, melainkan meditasi tentang waktu, tentang bagaimana satu balapan dapat mencerminkan perubahan cara manusia memahami tubuh, teknologi, penderitaan, dan makna kemenangan.
Dulu, Giro adalah perjalanan menuju yang tak diketahui. Para pebalap berangkat seperti peziarah—dengan sepeda berat, jalan berdebu, dan informasi minim. Mereka tidak tahu apa yang menunggu di balik tikungan berikutnya: longsor, badai salju, atau kerumunan yang lebih liar daripada gunung itu sendiri. O’Brien menggambarkan masa lalu ini bukan sebagai era yang romantis secara naif, melainkan sebagai zaman ketelanjangan eksistensial. Segalanya terasa telanjang: rasa sakit, kelelahan, dan ketakutan. Jika seorang pebalap menyerah, itu bukan kegagalan moral—itu adalah pengakuan jujur akan batas manusia.
Kini, Giro bergerak di dunia yang berbeda. Jalan-jalan telah diaspal halus, sepeda dirancang dengan presisi aerodinamis, data detak jantung dan watt mengalir ke layar seperti denyut nadi yang dimediasi algoritma. Para pebalap tidak lagi berangkat dalam ketidaktahuan, melainkan dalam kepastian yang dihitung. Mereka tahu kapan harus menyerang, kapan harus menahan diri, dan berapa menit penderitaan yang “aman” untuk ditanggung. Namun O’Brien tidak menulis bagian ini sebagai elegi terhadap masa lalu. Ia justru mengajak pembaca melihat sesuatu yang lebih subtil: meskipun segalanya berubah, esensi Giro tetap bertahan. Gunung masih dingin. Jalan masih menanjak. Tubuh manusia masih rapuh. Tidak ada karbon, tidak ada nutrisi canggih, tidak ada strategi tim yang bisa sepenuhnya meniadakan rasa sakit ketika gradien naik dan oksigen menipis.
“Then and now” menjadi ruang refleksi tentang apa yang hilang dan apa yang ditemukan. Yang hilang mungkin adalah kebingungan murni, kejutan mentah, dan kesendirian total pebalap di tengah alam yang tak ramah. Yang ditemukan adalah profesionalisme, keselamatan yang lebih baik, dan peluang yang lebih adil bagi banyak orang—termasuk mereka yang dulu tidak punya akses ke dunia balap elite.
Tetapi O’Brien juga jujur mengakui ambivalensi zaman kini. Giro modern hidup di bawah sorotan konstan: kamera drone, media sosial, sponsor global. Penderitaan yang dulu dialami dalam kesunyian kini disiarkan secara real time. Ini mengubah hubungan antara pebalap dan publik. Dulu, pahlawan Giro lahir dari cerita yang dibisikkan dari desa ke desa. Kini, mereka lahir dari grafik performa dan cuplikan viral.
Di sinilah Then and Now menjadi pertanyaan terbuka: apakah kita masih tahu bagaimana menghargai penderitaan yang tidak efisien? Giro selalu menjadi balapan yang mencintai ketidaksempurnaan—cuaca buruk, jalan rusak, drama yang tak terduga. Dalam dunia yang semakin mengagungkan kontrol dan optimasi, Giro bertahan justru karena ia menolak sepenuhnya tunduk pada logika itu.
O’Brien menutup dengan nada yang hampir filosofis. Ia menegaskan bahwa Giro bukan museum nostalgia, tetapi juga bukan laboratorium masa depan. Ia adalah ritual tahunan di mana Italia—dan dunia—mengingat kembali bahwa kemajuan tidak berarti menghapus masa lalu, dan bahwa teknologi tidak pernah sepenuhnya menggantikan keberanian. Gunung- gunung yang sama masih berdiri. Tre Cime, Finestre, Agnello—semuanya tetap di sana, tidak peduli berapa generasi sepeda yang telah berlalu. Yang berubah adalah cara manusia mendekati mereka. Tetapi setiap Mei, ketika peloton berangkat dan maglia rosa kembali menjadi simbol harapan, Giro mengulang satu kebenaran sederhana: waktu boleh bergerak maju, tetapi jalan selalu menuntut kejujuran.
Pada akhirnya, Then and Now bukan penutup yang mengunci cerita, melainkan jendela yang terbuka. Giro d’Italia terus berjalan—sebagai balapan, sebagai mitologi, sebagai pengingat bahwa dalam dunia yang semakin cepat, masih ada nilai dalam bergerak perlahan ke atas, satu kayuhan demi satu kayuhan, tanpa jaminan selain kemungkinan untuk memahami diri sendiri sedikit lebih baik.
Dan mungkin itulah warisan terdalam Giro: bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana manusia terus belajar hidup dengan batasnya, dahulu dan sekarang.
Giro d’Italia: Penderitaan yang Mengikat Bangsa
Setiap bangsa memiliki cara sendiri untuk berbicara tentang dirinya. Ada yang melakukannya lewat konstitusi, ada yang lewat perang, ada yang lewat lagu dan sastra. Italia—sebuah negeri yang lahir dari keterpecahan geografis, bahasa, dan sejarah—memilih cara yang lebih sunyi dan berulang: Giro d’Italia. Sebuah balapan sepeda yang setiap tahun memanggil tubuh manusia untuk mendaki gunung, menembus hujan, dan menanggung penderitaan yang tak pernah sepenuhnya rasional. Dalam penderitaan itulah, sebuah kebangsaan terus dinegosiasikan.
Giro bukan sekadar olahraga. Ia adalah ritual nasional—sebuah drama bergerak yang mempertemukan tubuh individu dengan lanskap kolektif. Jalanan yang dilalui peloton bukan lintasan netral; ia adalah urat nadi sejarah Italia: desa terpencil, kota industri, dataran miskin, dan pegunungan yang selama berabad-abad menjadi batas dan perlindungan. Dengan mengayuh melintasi semua itu, Giro mengubah geografi menjadi narasi, dan narasi menjadi pengalaman bersama.
Penderitaan sebagai Bahasa Bersama
Penderitaan dalam Giro bukan kecelakaan; ia adalah inti. Tanjakan seperti Stelvio, Gavia, atau Colle delle Finestre bukan rintangan teknis semata, melainkan ujian eksistensial. Tubuh dipaksa melampaui kenyamanan, rasionalitas, bahkan insting bertahan hidup. Dalam konteks ini, penderitaan menjadi bahasa yang bisa dipahami oleh siapa pun, melampaui dialek dan kelas sosial.
Italia adalah bangsa yang lama hidup dalam ketegangan antara kemegahan dan kekurangan. Sejarahnya penuh dengan kemiskinan struktural, migrasi massal, dan kerja fisik yang keras—terutama di selatan dan wilayah pegunungan. Giro merepresentasikan kenyataan ini dalam bentuk simbolik: tidak ada kemenangan tanpa rasa sakit; tidak ada kemajuan tanpa beban.
Di sinilah Giro berfungsi sebagai pedagogi penderitaan. Ia mengajarkan bahwa rasa sakit bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan atau disingkirkan, melainkan sesuatu yang dihadapi bersama. Penonton yang berdiri di pinggir jalan, sering kali di desa-desa kecil, melihat refleksi diri mereka sendiri dalam pebalap yang terengah-engah: manusia biasa yang mencoba bertahan satu hari lagi.
Tubuh Individu, Imajinasi Nasional
Setiap pebalap Giro adalah individu, tetapi tubuhnya dipinjam oleh imajinasi kolektif. Ketika Fausto Coppi mendaki gunung sendirian, atau Gino Bartali bertahan dalam kondisi mustahil, mereka tidak lagi sekadar atlet. Mereka menjadi proyeksi harapan nasional, simbol dari apa yang ingin dipercayai Italia tentang dirinya: ketangguhan, ketekunan, dan martabat dalam kesunyian.
Berbeda dengan nasionalisme yang agresif dan militeristik, Giro menawarkan bentuk kebangsaan yang lebih ambigu dan manusiawi. Tidak ada musuh eksternal yang harus dikalahkan—yang ada hanyalah jalan, cuaca, dan tubuh sendiri. Dalam pengertian ini, Giro adalah nasionalisme tanpa kekerasan, kebangsaan yang dibangun melalui kesabaran, bukan dominasi.
Maglia rosa—kaus merah muda—adalah simbol yang nyaris ironis. Ia lembut dalam warna, tetapi berat dalam makna. Ia menandai keunggulan sementara, bukan kekuasaan mutlak. Setiap hari bisa direbut, setiap hari bisa hilang. Seperti Italia itu sendiri, kepemimpinan dalam Giro selalu bersifat rapuh dan terbuka untuk dipertanyakan.
Giro dan Sejarah yang Tak Pernah Selesai
Dalam abad ke-20, Giro sering kali diseret ke dalam politik: fasisme, propaganda nasional, dan pencitraan negara. Namun justru dalam keterlibatan itu, terlihat ketegangan mendalam antara kekuasaan dan penderitaan. Negara bisa mengklaim kemenangan, tetapi tidak pernah bisa sepenuhnya menguasai rasa sakit yang dialami pebalap.
Inilah kekuatan alegoris Giro: ia selalu melampaui niat politik yang ingin memanfaatkannya. Penderitaan nyata—keringat, darah, dan kelelahan—tidak bisa sepenuhnya direduksi menjadi simbol kekuasaan. Ia tetap liar, personal, dan sulit dikendalikan. Dalam dunia yang semakin dikelola oleh citra dan narasi instan, Giro mempertahankan ruang di mana yang nyata tetap terasa nyata.
Melawan Logika Kecepatan Modern
Di era kapitalisme global yang memuja kecepatan, efisiensi, dan kemenangan instan, Giro justru menampilkan kebajikan sebaliknya. Balapan ini panjang, berliku, dan sering kali tidak spektakuler dalam pengertian televisual modern. Banyak penderitaan terjadi tanpa sorak-sorai, tanpa kamera utama.
Dengan demikian, Giro menjadi kritik implisit terhadap modernitas yang ingin menyingkirkan segala bentuk ketidaknyamanan. Ia mengingatkan bahwa ada nilai dalam proses yang lambat, dalam perjuangan yang tidak selalu menghasilkan hasil instan. Kebangsaan yang dibangun Giro bukanlah kebangsaan pemenang mutlak, melainkan kebangsaan yang terus bertahan meski sering terluka.
Catatan Akhir: Bangsa yang Terus Mengayuh
Sebagai alegori, Giro d’Italia mengajukan satu tesis sederhana namun radikal: sebuah bangsa tidak dibentuk hanya oleh kemenangan, tetapi oleh kesediaan kolektif untuk menanggung penderitaan tanpa kehilangan martabat. Dalam setiap edisi Giro, Italia menceritakan ulang kisah tentang dirinya—bukan sebagai negara yang sempurna, tetapi sebagai komunitas manusia yang terus mencoba.
Ketika peloton bergerak dari utara ke selatan, dari gunung ke kota, Giro menyatukan perbedaan dalam satu irama kayuhan. Ia tidak menyelesaikan kontradiksi Italia, tetapi membuatnya bisa dijalani. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, mungkin itulah peran terdalam Giro: menjaga agar penderitaan tidak menjadi isolasi, melainkan pengalaman bersama yang memungkinkan kebersamaan tetap hidup.
Dan selama jalan masih menanjak, dan manusia masih mau mengayuh, kisah kebangsaan itu akan terus ditulis—pelan, berat, dan jujur.
Belitung-Bogor, 29 Desember 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
O’Brien, C. (2017). Giro d’Italia: The Story of the World’s Most Beautiful Bike Race. Pursuit Books. (simonandschuster.com)
Karena deskripsi buku sebagian besar tersedia sebagai ringkasan karya oleh penerbit dan ulasan kritis, kutipan fakta sejarah dan interpretasi dibuat berdasarkan sumber yang tersedia tentang isi buku.






