Rubarubu #203
Forest Bathing Retreat:
Ketenangan di Bawah Naungan Pepohonan
Pernahkah Anda berjalan di bawah deretan pepohonan, merasakan napas melambat, dan tiba-tiba merasakan damai yang dalam, seolah seluruh tubuh ikut bernapas bersama hutan? Banyak orang, setelah hari-hari penuh tekanan di kota, mencari perasaan itu—bukan di pusat kebugaran, bukan di kafe modern, tetapi di bawah kanopi dedaunan yang sunyi. Hannah Fries, penulis Forest Bathing Retreat: Find Wholeness in the Company of Trees (Storey Publishing, 2018), memperkenalkan praktik ini sebagai forest bathing atau “mandi hutan”—bukan mandi air, tetapi mandi kehadiran, indera, dan ketenangan di tengah hutan yang hidup. Buku ini lahir dari hasrat untuk menemukan kembali kesehatan dan keutuhan diri melalui hubungan langsung dengan pohon dan alam.
Forest Bathing Retreat tidak sekadar pedoman teknis tentang cara berjalan di hutan. Buku ini adalah perjalanan batin dan luar sekaligus—gabungan tulisan reflektif penulis, latihan mindfulness, kutipan puitis, dan potongan narasi dari para pemikir, penyair, dan naturalis dari berbagai zaman dan budaya. Melalui kombinasi retret pribadi dan inspirasi lintas sejarah, pembaca diajak memahami pepohonan sebagai guru, pengobat, dan sahabat.
Fries sendiri sering memadukan narasi pengalaman pribadi dengan petunjuk batin, serta refleksi dari pemikir seperti Robin Wall Kimmerer, yang dalam kata pengantar menggambarkan buku ini sebagai undangan untuk hubungan yang lebih dalam dengan dunia alam—bukan sekadar estetika, melainkan koneksi yang memengaruhi kesejahteraan manusia secara menyeluruh.
Mendengarkan Hutan yang Telah Lama Berbicara
Bagian Foreword membuka buku ini bukan dengan instruksi, melainkan dengan nada undangan. Ia mengajak pembaca untuk memperlambat langkah bahkan sebelum halaman-halaman berikutnya dibaca. Hutan diperkenalkan bukan sebagai latar atau objek kajian, tetapi sebagai subjek yang hidup, yang sejak lama telah berbicara—hanya saja manusia modern jarang berhenti untuk mendengarkan.
Nada pengantar ini menekankan bahwa relasi manusia dengan pepohonan bukanlah gagasan baru atau romantisasi modern. Sejak peradaban awal, manusia memahami hutan sebagai tempat perlindungan, sumber pengetahuan, dan ruang pemulihan batin. Namun dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh kecepatan, teknologi, dan keterpisahan dari alam, relasi itu menjadi rapuh. Foreword menempatkan forest bathing sebagai bentuk pemulihan relasi, bukan sekadar praktik kesehatan. Ia menegaskan bahwa keutuhan (wholeness) yang dicari manusia tidak ditemukan dengan menambahkan sesuatu yang baru, tetapi dengan kembali mengingat hubungan yang pernah intim: berdiri di antara pohon, merasakan waktu yang lebih lambat, dan menyadari bahwa kehidupan manusia berdenyut dalam jaringan kehidupan yang jauh lebih luas. Sejak awal, buku ini menegaskan satu sikap etis: hutan bukan tempat untuk ditaklukkan, melainkan ruang untuk ditemani.
In the Company of Trees: Bersama Pohon, Kembali Menjadi Utuh
Bab In the Company of Trees adalah jantung emosional buku ini. Di sinilah Hannah Fries mengajak pembaca benar-benar hadir—bukan sekadar membaca tentang hutan, tetapi membayangkan diri berdiri di dalamnya. Bab ini bergerak pelan, seperti langkah kaki di tanah lembap, dan mengajarkan bahwa kebersamaan dengan pohon bukan soal tujuan, melainkan soal keberadaan.
Fries menggambarkan pohon sebagai makhluk yang tidak tergesa-gesa, namun penuh keteguhan. Pohon tidak berpindah tempat, tidak mengejar, tidak menaklukkan. Ia tumbuh ke atas dan ke dalam, berakar dan bercabang dengan kesetiaan pada siklus alam. Dengan berada “dalam kebersamaan” dengan pohon, manusia diajak belajar ulang cara hidup yang tidak terobsesi pada hasil, melainkan pada proses dan keterhubungan. Bab ini menekankan pengalaman sensorik: cahaya yang terpecah di antara daun, tekstur kulit batang di bawah telapak tangan, suara angin yang tidak pernah benar-benar diam.
Semua ini bukan deskripsi estetis semata, melainkan jalan masuk menuju kesadaran bahwa tubuh manusia merespons alam secara naluriah—tubuh mengendur, napas melambat, pikiran yang semula penuh menjadi lapang. Di balik narasi lembut ini, terdapat pesan yang kuat: manusia tidak pernah benar-benar sendirian. Dalam kesunyian hutan, justru ada kehadiran yang penuh—pohon-pohon yang berdiri sebagai saksi waktu, mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu harus bergerak cepat untuk menjadi bermakna.
Breathe: Napas sebagai Jembatan Kehidupan
Bab Breathe membawa pembaca pada tindakan paling mendasar dan paling sering dilupakan: bernapas. Namun napas yang dimaksud di sini bukan sekadar fungsi biologis, melainkan pengalaman relasional. Fries mengajak pembaca menyadari bahwa setiap tarikan napas adalah hasil dari kerja panjang pepohonan—fotosintesis, pertukaran gas, dan keseimbangan ekosistem yang tak terlihat. Napas menjadi metafora sekaligus kenyataan: manusia bernapas berkat pohon; pohon “bernapas” melalui daunnya; dan di antara keduanya terjadi pertukaran yang tak pernah berhenti. Kesadaran ini menggeser cara pandang manusia dari pusat segalanya menjadi bagian dari siklus hidup.
Fries tidak memerintahkan pembaca untuk “bernapas dengan teknik tertentu” seperti dalam latihan pernapasan formal. Ia justru mengajak agar napas kembali menjadi alami, dan membiarkan hutan yang menuntunnya. Praktiknya dimulai bahkan sebelum napas diperhatikan: pertama, dengan berhenti berjalan dan menjadi diam—tidak perlu posisi khusus, tidak harus duduk bersila, cukup berhenti di satu titik di antara pepohonan tempat kita merasa cukup aman untuk diam, sampai tubuh berhenti “mengejar” dan pikiran yang semula ribut perlahan mereda dengan sendirinya. Dari titik diam itu, Fries mengajak untuk membiarkan napas terjadi apa adanya, bukan mengaturnya: memperhatikan udara yang masuk lewat hidung atau mulut, dingin atau hangatnya udara, bagian tubuh mana yang paling terasa bergerak—jika napas pendek, biarkan pendek; jika panjang, biarkan panjang. Tujuannya bukan memperbaiki napas, melainkan mendengarkannya; di sinilah pergeseran halus terjadi, dari “aku bernapas” menjadi “napas sedang terjadi”.
Setelah napas mulai terasa lebih hadir, Fries mengajak pembaca menyadari sesuatu yang sering dilupakan: napas ini tidak berdiri sendiri. Saat menghirup udara, sadari bahwa oksigen itu berasal dari fotosintesis daun, bahwa pohon-pohon di sekitar sedang “bekerja” tanpa henti meski tidak diperhatikan; saat menghembuskan napas, sadari bahwa karbon dioksida kembali ke udara dan akan digunakan kembali oleh tumbuhan. Ini adalah latihan kesalingtergantungan yang sunyi—bukan sekadar dipahami, melainkan dirasakan. Tanpa instruksi eksplisit, napas biasanya akan berubah dengan sendirinya: menjadi lebih lambat, lebih dalam tanpa dipaksa, lebih menyebar ke seluruh tubuh, menyesuaikan diri dengan ayunan dahan, tiupan angin, atau jeda alami di antara suara burung. Ini bukan teknik sinkronisasi, melainkan resonansi alami; tubuh manusia, menurut Fries, tahu bagaimana menyesuaikan diri ketika diberi kesempatan.
Bagian penting dalam Breathe adalah pergeseran makna napas: napas bukan lagi sekadar fungsi biologis, melainkan pengakuan relasi. Fries mengajak pembaca bertanya dalam diam—apa artinya bernapas di dunia yang hutannya rusak? Apa artinya menerima oksigen tanpa memikirkan sumbernya?—tanpa rasa bersalah, tanpa khotbah, hanya kesadaran lembut bahwa bernapas di hutan adalah privilese ekologis, dan karenanya mengandung tanggung jawab. Instruksi terakhirnya pun tidak mengakhiri latihan secara tegas: bergerak kembali ketika tubuh siap, tanpa menutup sesi secara ritual, membawa kesadaran napas itu keluar dari hutan. Breathe, dengan demikian, bukan latihan yang selesai di tempat, melainkan kualitas kehadiran yang bisa dibawa pulang—sebuah pengakuan sederhana bahwa setiap napas adalah kerja sama sunyi antara manusia dan hutan.
Connect: Memulihkan Rasa Terhubung
Pada bagian Connect, Hannah Fries berbicara tentang sesuatu yang hilang perlahan dalam kehidupan modern: rasa keterhubungan yang utuh—bukan hanya koneksi digital atau sosial, melainkan keterhubungan tubuh, indera, dan keberadaan dengan dunia hidup di sekitarnya. Yang dimaksud connect di sini bukan “berpikir tentang alam”, melainkan mengalami diri sebagai bagian dari alam. Fries melihat keterpisahan sebagai sumber kelelahan batin: manusia merasa terasing—dari tubuhnya sendiri, dari orang lain, dari tanah tempat ia berpijak—dan connect adalah proses mengendurkan batas-batas buatan yang membuat manusia merasa sendirian di dunia. Keterhubungan ini bersifat sensorik (melalui sentuhan, suara, cahaya), emosional (rasa diterima, tidak sendirian), dan eksistensial (kesadaran bahwa hidup kita terjalin dengan kehidupan lain).
Untuk mempraktikkannya, Fries mengajak pembaca memilih satu unsur alam—sebuah pohon, batu, aliran air, atau sepetak tanah—dan memberi perhatian penuh padanya: mendekat secara fisik, diam cukup lama, memperhatikan tanpa menilai. Menyentuh batang pohon, merasakan suhu, tekstur, kekerasannya; mendengarkan suara sekitar tanpa memilih mana yang “indah”; membiarkan indera bekerja tanpa diarahkan. Yang penting, tidak mengambil apa pun—tidak memotret, tidak mengukur, hanya hadir. Pada titik tertentu, tidak selalu cepat, muncul perasaan halus: rasa ditemani, rasa “cukup”, rasa tidak harus menjelaskan diri. Fries menggambarkan ini sebagai momen ketika manusia berhenti merasa sebagai pengunjung, dan mulai merasa sebagai bagian dari lanskap hidup.
Heal: Penyembuhan yang Terjadi dengan Sendirinya
Bagian Heal tidak menjanjikan kesembuhan instan atau ajaib. Fries sangat berhati-hati di sini: ia tidak memposisikan alam sebagai obat yang “menyembuhkan” secara aktif, tetapi sebagai ruang aman tempat tubuh dan batin diizinkan pulih. Penyembuhan dalam buku ini bukan tindakan agresif, melainkan pelepasan—bukan memperbaiki diri, melainkan berhenti menekan diri. Fries melihat banyak luka manusia modern sebagai akibat dari kecepatan, tuntutan, dan keterputusan dari ritme alami; heal berarti memberi ruang bagi tubuh dan emosi untuk melakukan apa yang sebenarnya sudah mereka tahu.
Prosesnya dimulai dengan mengizinkan apa pun yang muncul: duduk atau berdiri cukup lama di satu tempat, membiarkan tubuh menemukan posisi yang nyaman, tidak menolak rasa tidak nyaman yang muncul. Jika lelah, biarkan lelah; jika sedih muncul, biarkan sedih; jika air mata datang, biarkan mengalir—tidak perlu menganalisis, tidak perlu mencari sebab. Hutan, atau ruang hijau apa pun, menjadi saksi tanpa menghakimi. Penyembuhan sering terasa bukan sebagai “menjadi lebih baik”, melainkan sebagai rasa ringan setelah beban dilepaskan, kelelahan yang akhirnya boleh istirahat, kesedihan yang tidak lagi harus disembunyikan. Fries menekankan bahwa penyembuhan sering berlangsung setelah praktik selesai, bukan saat itu juga—tubuh membawa pulang pengalaman aman itu, dan bekerja pelan-pelan.
Give Thanks: Syukur sebagai Tindakan Etis
Bagian Give Thanks adalah penutup yang lembut namun mendalam. Di sini Fries memperkenalkan rasa syukur bukan sebagai ritual formal, tetapi sebagai sikap batin yang lahir dari kesadaran keterhubungan—bukan sekadar mengatakan “terima kasih”, melainkan mengakui bahwa kita menerima lebih dari yang kita sadari: udara, keteduhan, ketenangan, ruang untuk pulih, tanpa harus membayar atau meminta. Give Thanks adalah pengakuan bahwa hidup kita disokong oleh kehidupan lain.
Fries tidak mengharuskan doa tertentu atau kata-kata khusus. Ia membuka banyak cara: ucapan terima kasih dalam hati, menyentuh tanah atau pohon dengan kesadaran, menundukkan kepala sejenak, atau sekadar berdiri diam dengan niat syukur. Yang penting bukan bentuknya, melainkan kehadiran rasa hormat—syukur yang tidak berisik, sederhana, personal, dan jujur. Rasa syukur yang muncul biasanya tidak dramatis; ia hadir sebagai kelembutan, rasa cukup, keinginan untuk menjaga, bukan mengambil. Di sinilah praktik forest bathing bertransformasi menjadi etika hidup: dari syukur, muncul dorongan alami untuk tidak merusak, tidak berlebihan, dan lebih peduli.
Ketiga bagian ini—Connect, Heal, dan Give Thanks—membentuk satu alur yang saling menyambung: Connect membuka rasa keterhubungan, Heal memberi ruang bagi pemulihan, dan Give Thanks mengubah pengalaman itu menjadi sikap hidup. Hannah Fries tidak bermaksud menjadikan ini ritual sakral yang terpisah dari kehidupan sehari-hari; sebaliknya, ia ingin pembaca membawa kualitas ini kembali ke dunia—ke rumah, pekerjaan, komunitas. Dalam konteks Indonesia, alur ini sangat dekat dengan praktik kearifan lokal: berhubungan dengan alam, memulihkan diri dalam kebersamaan, dan menutup dengan rasa syukur.
Ilmu di Balik Pengalaman
Walau buku ini eksistensial dan puitis, ia juga memuat fakta ilmiah yang menguatkan pengalaman spiritualnya. Fries mengambil dari konsep Jepang shinrin-yoku—“mandi hutan”—istilah modern yang merujuk pada pengalaman sadar berada di alam, terutama hutan. Bukan sekadar berjalan, tetapi membiarkan indera sepenuhnya hadir: melihat cahaya yang menembus dedaunan, mendengar riuh burung jauh, dan menyentuh kulit batang kayu.
Penelitian menunjukkan bahwa kontak teduh dengan hutan memengaruhi keseimbangan hormonal, menurunkan stres, dan bahkan meningkatkan sistem kekebalan tubuh—aspek yang kini menjadi perhatian dalam kesehatan publik di berbagai negara. Forest bathing, tulis Fries, dimulai bukan dengan tujuan, tetapi dengan kesediaan untuk hadir sepenuhnya dalam momen yang sederhana.
Hal-hal sederhana seperti aroma tanah basah setelah hujan atau suara dedaunan yang bergesekan ternyata bukan sekadar fenomena estetis, tetapi berperan dalam menenangkan sistem saraf manusia, membuka jalan bagi pemulihan batin. Pepohonan “bernapas” melalui stomata—lubang-lubang kecil di daun mereka—yang berkontribusi pada keseimbangan udara, memberikan oksigen yang dibutuhkan semua makhluk hidup, dan secara simbolis mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam bersifat dua arah.
Jelajah Budaya dan Pemikiran
Buku ini tidak hanya bergantung pada narasi pribadi penulis. Fries memadukan karya penulis dari berbagai tradisi: dari haiku Jepang yang sering menangkap keheningan pohon, ke pemikiran Romantik abad ke-19 yang merayakan keagungan hutan, hingga gagasan Transendentalis Amerika tentang alam sebagai cermin jiwa. Kutipan-kutipan ini memberi kedalaman budaya pada pengalaman shinrin-yoku, menunjukkan bahwa manusia dari berabad-abad lalu telah mencari nilai dalam hubungan dengan pohon dan hutan. Kutipan dari Chief Seattle—yang melihat semua makhluk berbagi napas yang sama—menguatkan pendapat bahwa kita tidak sendirian di planet ini, bahwa semua kehidupan saling terhubung melalui udara yang sama dan hubungan ekologis yang tak terpisahkan.
Setiap bagian buku juga memberi latihan batin, bukan sekadar penjelasan. Frasa seperti “sit still,” “look,” dan “listen” bukan hanya ajakan untuk memperhatikan alam secara fisik, tetapi juga refleksi batin: berhenti dari hiruk pikuk modern, kembali pada keheningan, dan menemukan keseimbangan dalam diri sendiri—mirip dengan teknik mindfulness dalam psikologi modern, yang menunjukkan bahwa kehadiran sadar dapat secara signifikan menurunkan tingkat kecemasan dan stres.
Gagasan utama buku ini—menguatkan hubungan manusia dengan pohon dan lingkungan alami—tidak hanya penting secara pribadi, tetapi memiliki implikasi besar dalam konteks sustainability, baik global maupun lokal di Indonesia.
Di dunia bisnis saat ini, konsep sustainability makin dipahami sebagai integrasi kesejahteraan manusia dengan pelestarian lingkungan. Buku Fries mendukung pendekatan ini dengan cara yang human-centric: manusia bukan entitas terpisah dari alam, melainkan bagian darinya. Perusahaan global yang ingin mempromosikan lingkungan hidup kini memahami bahwa keberlanjutan lingkungan harus disertai dengan well-being pekerja dan komunitas lokal. Praktik seperti forest bathing telah diterapkan oleh beberapa organisasi sebagai bagian dari program corporate wellness untuk mengurangi burnout pekerja dan mendorong kreativitas—yang pada ujungnya juga meningkatkan produktivitas jangka panjang.
Lebih jauh, prinsip hubungan manusia-alam yang mendalam menggugah perusahaan untuk berpikir kembali tentang pola konsumsi dan produksi yang menghancurkan hutan, mengarah pada strategi bisnis yang memprioritaskan konservasi hutan, agroforestri berkelanjutan, dan investasi dalam solusi berbasis alam—pengetahuan yang kini semakin banyak diadopsi perusahaan besar sebagai bagian dari komitmen ESG (Environmental, Social, Governance).
Di Indonesia, hutan tropis bukan sekadar lanskap alam, melainkan rumah, budaya, dan sumber kehidupan masyarakat adat serta ekonomi lokal. Buku ini mengingatkan bahwa hubungan batin dengan pohon bukanlah gagasan baru; banyak masyarakat Indonesia telah lama hidup berdampingan dengan hutan melalui kearifan lokal seperti ritual keseimbangan, manajemen hutan adat, dan budaya gotong royong dalam pemeliharaan hutan. Konsep forest bathing dapat melengkapi upaya pelestarian hutan di Indonesia, terutama dalam konteks eco-tourism yang bertanggung jawab, program pendidikan lingkungan, serta pemulihan kesehatan mental masyarakat urban yang terpapar tekanan modern. Pendekatan pengalaman langsung dengan hutan dapat memperkuat nilai budaya Indonesia tentang hubungan manusia-alam, memberikan motivasi kuat untuk menjaga kawasan hutan tropis yang kaya keanekaragaman hayati.
Respons kritikus dan pembaca terhadap buku ini umumnya positif, menonjolkan kekayaan foto, kutipan, dan nuansa meditasi yang membawa pembaca lebih dekat pada alam. Banyak pembaca menilai buku ini sebagai pengantar yang indah untuk mindfulness berbasis alam, dengan keseimbangan antara visual, sastra, dan fakta naturalis. Namun beberapa kritik mencatat bahwa buku ini mungkin terasa terlalu sederhana atau repetitif bagi pembaca yang sudah akrab dengan praktik mindfulness atau hutan, dan ada yang menilai pendekatan buku ini lebih cocok sebagai panduan pendamping (companionship guide) daripada manual praktis. Namun kritik semacam ini tetap membuka ruang bahwa buku ini berperan sebagai undangan—bukan mandat—untuk menemukan hubungan baru antara manusia dan hutan.
Untuk memperkaya pandangan, kita bisa menarik kutipan dari pemikir lain yang sejalan dengan gagasan buku ini. John Muir, naturalis Amerika, pernah menyatakan bahwa dalam setiap perjalanan bersama alam, seseorang menerima jauh lebih banyak daripada yang ia cari—sebuah gagasan yang sejalan dengan tema buku tentang menerima kesembuhan yang tak terduga dari hutan. Dari tradisi Islam, sufi seperti Rumi mengajarkan untuk menjadikan pohon sebagai guru—sebuah pengingat bahwa hutan bukan sekadar objek estetis, tetapi guru dalam kehidupan batin yang menghubungkan kita dengan harmoni semesta.
Kerangka Etika Ekologis dan Spiritual
Krisis keberlanjutan hari ini sering dibahas dalam bahasa data, target emisi, dan kebijakan. Namun Forest Bathing Retreat mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih mendasar: krisis ekologis juga adalah krisis relasi. Kerusakan hutan bukan semata akibat teknologi yang salah, tetapi akibat cara manusia hadir di dunia—tergesa, terpisah, dan lupa bahwa hidupnya bergantung pada kehidupan lain. Dari praktik sederhana forest bathing, Hannah Fries secara implisit merumuskan sebuah etika ekologis yang lembut namun radikal: kita tidak menyelamatkan hutan dengan menguasainya, tetapi dengan kembali belajar menjadi bagian darinya. Enam prinsip berikut menyarikan etika itu, sekaligus menempatkannya dalam konteks krisis hutan Indonesia saat ini.
Etika kehadiran adalah yang pertama—bergerak dari terburu-buru menuju hadir sepenuhnya. Fries mengajarkan bahwa sebelum manusia bisa merawat alam, ia harus berhenti cukup lama untuk benar-benar melihat dan merasakannya; kehadiran ini bukan sikap pasif, melainkan tindakan etis. Dalam konteks Indonesia—di mana hutan sering direduksi menjadi “lahan”, “konsesi”, atau “komoditas”—etika kehadiran berarti menolak abstraksi semacam itu. Hutan bukan angka di laporan ESG; ia adalah tempat bernapas, tempat hidup, dan tempat pulih. Etika ini menantang model pembangunan yang terlalu cepat, yang tidak memberi waktu bagi manusia untuk memahami dampak tindakannya, dan menyerukan perlambatan sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Etika keterhubungan tersingkap lewat praktik Breathe: napas manusia dan pohon saling bertaut, tidak ada kemandirian mutlak, dan setiap tarikan napas adalah hasil kerja ekosistem. Dalam hutan Indonesia—dari Kalimantan hingga Papua—keterhubungan ini sangat nyata. Ketika hutan ditebang, yang hilang bukan hanya kayu, tetapi juga sistem air, iklim lokal, kesehatan masyarakat, dan kebudayaan yang hidup bersamanya. Etika keterhubungan menolak logika ekstraktif; ia mengajarkan bahwa mengambil tanpa kesadaran relasional adalah bentuk kekerasan ekologis.
Etika penyembuhan menawarkan sesuatu yang lebih halus daripada memperlakukan alam sebagai “alat penyembuh” yang bisa dieksploitasi: membiarkan penyembuhan terjadi. Dalam konteks Indonesia, ini berarti melihat hutan bukan hanya sebagai sumber ekonomi atau pariwisata, tetapi sebagai ruang pemulihan kolektif—bagi masyarakat adat, bagi desa yang terpinggirkan, dan bahkan bagi masyarakat kota yang mengalami kelelahan struktural. Etika ini menentang pendekatan teknokratis yang ingin “memperbaiki” alam dengan cara yang sama yang telah melukainya; penyembuhan ekologis memerlukan waktu, kesabaran, dan pengurangan tekanan.
Etika kerendahan hati, yang tertanam dalam Connect dan Give Thanks, menegaskan bahwa hutan tidak membutuhkan manusia untuk bertahan—manusialah yang membutuhkan hutan. Etika ini sangat relevan di Indonesia, di mana konflik lahan sering berakar pada klaim kepemilikan absolut. Forest Bathing Retreat mengusulkan paradigma lain: manusia sebagai tamu yang bertanggung jawab. Kerendahan hati ini sejalan dengan banyak kosmologi adat Nusantara, yang melihat hutan sebagai ruang sakral, bukan objek mati—sehingga buku ini dapat dibaca sebagai jembatan antara spiritualitas kontemporer dan kearifan lokal.
Etika syukur dan timbal balik bergerak dari terima kasih menuju perawatan. Syukur dalam buku ini bukan emosi pasif, melainkan awal dari tanggung jawab: ketika manusia menyadari bahwa ia menerima banyak hal secara cuma-cuma—udara, keteduhan, keheningan—muncul dorongan untuk memberi kembali. Dalam konteks krisis keberlanjutan Indonesia, etika ini menuntut lebih dari sekadar kompensasi finansial atau CSR simbolik; ia menuntut perlindungan hutan adat, pemulihan ekosistem, dan model bisnis yang tidak mengorbankan generasi mendatang.
Dan terakhir, etika praktik sehari-hari menegaskan bahwa spiritualitas dalam buku ini harus membumi—tidak berhenti di hutan, tetapi dibawa kembali ke kantor, pasar, kebijakan, dan bisnis. Dalam krisis keberlanjutan, etika ekologis tidak cukup sebagai wacana moral; ia harus menjadi cara merancang proyek, cara mengevaluasi dampak, dan cara mendengarkan komunitas terdampak. Perubahan besar, ajar Fries, berawal dari perubahan cara hadir dalam hal-hal kecil.
Jika dirangkum, keenam etika ini mengajak manusia untuk hadir, terhubung, memberi ruang bagi penyembuhan, rendah hati, bersyukur, dan bertindak dengan kesadaran timbal balik. Dalam konteks Indonesia—negeri dengan hutan tropis yang menjadi penyangga kehidupan dunia—kerangka etika ini bukan kemewahan spiritual, melainkan kebutuhan mendesak. Krisis keberlanjutan barangkali tidak hanya menuntut teknologi baru, tetapi juga cara bernapas yang berbeda: bernapas bersama hutan, bukan di atas reruntuhannya.
Praktik Komunitas: Panduan 20 Menit Bernapas Bersama Alam
Untuk membawa gagasan buku ini keluar dari halaman dan ke dalam kehidupan bersama, berikut sebuah panduan praktik singkat yang disarikan dari Breathe, Connect, Heal, dan Give Thanks, lalu diadaptasi untuk konteks Indonesia—dapat dilakukan di hutan desa, hutan rakyat, kebun, sawah, taman kota, atau ruang hijau komunitas mana pun. Panduan ini bersifat inklusif, non-religius, namun tetap spiritual, ideal dipraktikkan oleh lima hingga tiga puluh orang.
Dua menit pertama digunakan untuk berkumpul dan menyetel niat. Peserta membentuk lingkaran longgar—tidak perlu duduk bersila, cukup berdiri atau duduk secara alami—sementara fasilitator mengucapkan dengan suara tenang bahwa mereka berkumpul bukan untuk menguasai alam, melainkan untuk hadir bersamanya, dan bahwa selama dua puluh menit ke depan tidak ada yang perlu diperbaiki, hanya didengarkan. Peserta diajak mematikan atau menjauhkan ponsel, melepas alas kaki jika memungkinkan, dan mengendurkan bahu serta rahang—sebuah peralihan dari mode produktif ke mode relasional.
Empat menit berikutnya adalah praktik Breathe, bernapas bersama tempat. Dengan mata tertutup atau pandangan diturunkan, peserta menarik napas melalui hidung selama empat hitungan, menahan satu hitungan, lalu menghembuskan perlahan lewat mulut selama enam hitungan, diulang empat hingga lima kali. Fasilitator kemudian mengajak membayangkan bahwa napas yang ditarik pernah melewati daun, tanah, air, dan akar, dan napas yang dihembuskan akan menjadi bagian dari kehidupan lain—bukan dengan membayangkan berlebihan, melainkan cukup merasakan suhu, kelembapan, dan aroma udara itu sendiri.
Empat menit setelahnya adalah praktik Connect, menghubungkan diri dengan sekitar. Peserta membuka mata perlahan, memilih satu unsur alam terdekat—pohon, rumput, tanah, batu, air, cahaya—dan mendekat tanpa menyentuh jika ragu, sambil bertanya dalam hati: apa yang paling hidup dari objek ini? Apa yang ia lakukan setiap hari tanpa saya sadari? Apa yang saya terima darinya? Tidak ada jawaban benar, dan tidak perlu dibagikan—ini adalah latihan melihat tanpa mengambil, inti dari etika ekologis.
Empat menit berikutnya adalah Heal, memberi ruang untuk pulih. Fasilitator mengingatkan bahwa alam tidak perlu disembuhkan—kitalah yang sedang belajar pulih. Peserta duduk atau berdiri dengan nyaman, meletakkan satu tangan di dada atau perut, menghembuskan napas lebih panjang daripada tarikannya, dan membiarkan kelelahan, kecemasan, atau pikiran tentang pekerjaan turun beberapa tingkat tanpa dipaksa hilang. Ini bukan penyembuhan instan, melainkan izin untuk melambat.
Tiga menit selanjutnya adalah Give Thanks, syukur yang membumi. Peserta memilih satu hal sederhana untuk disyukuri dari tempat itu—udara, keteduhan, tanah kering, suara burung, atau sekadar ruang untuk diam—dan mengucapkan terima kasih dalam hati atau dengan suara sangat pelan, sementara fasilitator menegaskan bahwa syukur bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab.
Tiga menit terakhir digunakan untuk menutup dan membawa pulang. Lingkaran kembali dibentuk, dan fasilitator menutup dengan menegaskan bahwa apa yang dirasakan bukan milik tempat itu saja—ia bisa dibawa ke rumah, ke pekerjaan, ke cara mengambil keputusan. Jika komunitas berkenan, satu atau dua orang boleh berbagi satu kalimat refleksi tanpa diskusi atau perdebatan, dan latihan selesai dalam keheningan singkat.
Beberapa catatan penting untuk komunitas Indonesia: praktik ini tidak membutuhkan hutan lebat—kebun warga, sawah, mangrove, bahkan taman kota sudah cukup; hormati ruang adat dan publik, jangan mengambil apa pun tanpa izin; praktik ini dapat dilakukan sebelum rapat komunitas, musyawarah desa, atau diskusi lingkungan; dan cocok bagi komunitas sepeda, petani, aktivis, guru, maupun pekerja kota. Panduan dua puluh menit ini adalah sebentuk mikro-etika. Jika dipraktikkan rutin, ia membentuk cara melihat alam, cara memperlambat keputusan, dan cara hidup yang lebih bertanggung jawab. Di tengah krisis keberlanjutan, barangkali perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari dua puluh menit kehadiran yang jujur.
Catatan Akhir: Cara Lambat Menikmati Hidup
Forest Bathing Retreat adalah undangan lembut namun kuat untuk melambat, hadir, dan kembali pada kehidupan yang penuh rasa syukur. Hannah Fries tidak hanya menjelaskan apa itu forest bathing; ia membawa pembaca masuk ke dalam pengalaman itu—melihat cahaya, mendengar angin, merasakan napas yang sama dengan pohon di sekitar. Buku ini relevan tidak hanya bagi mereka yang mencari ketenangan batin, tetapi juga bagi dunia bisnis sustainability yang mulai mengakui bahwa kesejahteraan manusia harus berjalan beriringan dengan pemeliharaan alam.
Dalam konteks Indonesia, buku ini menjadi pengingat bahwa hubungan dengan hutan tropis memiliki kedalaman budaya dan ekologis yang tak ternilai—bahwa menjaga hutan bukan hanya soal pelestarian sumber daya, tetapi juga tentang menjaga hubungan batin manusia dengan kehidupan yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Bogor, 12 Juni 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi (APA)
Fries, H. (2018). Forest bathing retreat: Find wholeness in the company of trees. Storey Publishing.
Kimmerer, R. W. (2018). Foreword. In H. Fries, Forest bathing retreat: Find wholeness in the company of trees. Storey Publishing.
Natural Awakenings Atlanta. (2019, June 30). Forest bathing: Overview and health effects. https://www.naatlanta.com/2019/06/30/206819/forest-bathing
Shinrin yoku: The art and science of forest bathing. Proyecto ISI, Universidad Tecnológica Nacional. https://proyectoisi.frc.utn.edu.ar/About/detail/index.jsp/Shinrin_Yoku_The_Japanese_Art_Of_Forest_Bathing.pdf






