Rubarubu #109
Essentials of Sustainability for Business:
Panduan Bagi Bisnis Berkelanjutan
Bayangkan sebuah perusahaan manufaktur global yang, setelah puluhan tahun beroperasi, tiba-tiba dihadapkan pada tagihan pajak karbon yang jauh lebih besar dari perkiraan, rantai pasokan yang rentan terhadap cuaca ekstrem, dan tekanan dari investor generasi muda yang mengingin-kan portofolio hijau. Perusahaan ini tidak anti-perubahan; mereka hanya tidak tahu harus memulai dari mana, terjebak antara jargon “net-zero” dan tuntutan laba kuartalan. Situasi inilah yang menjadi titik tolak Peter McManners dalam Essentials of Sustainability for Business: A Practical Approach (2024). Buku ini berangkat dari premis bahwa keberlanjutan bukan lagi isu filantropis atau sekadar “pencucian hijau,” melainkan inti dari ketahanan, inovasi, dan keunggulan kompetitif bisnis di abad ke-21. McManners, dengan latar belakang-nya dalam ekonomi lingkungan, menawarkan sebuah panduan yang pragmatis dan dapat ditindaklanjuti untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam DNA operasi dan strategi bisnis apa pun, mengubah risiko menjadi peluang.
McManners membingkai ulang keberlanjutan melalui lensa yang jarang dipakai: sebagai disiplin manajemen strategis. Buku ini dengan tegas menyatakan bahwa model bisnis linear “ambil, buat, buang” (take-make-waste) telah mencapai batasnya dalam ekonomi dunia yang terbatas. Ia mengutip laporan Ellen MacArthur Foundation yang terkenal, yang menyatakan bahwa transisi ke ekonomi sirkular dapat membuka peluang ekonomi senilai $4,5 triliun secara global pada tahun 2030 (Ellen MacArthur Foundation, 2013). Oleh karena itu, pendekatan McManners berfokus pada penciptaan triple bottom line—yang mempertimbangkan orang, planet, dan keuntungan secara bersamaan—bukan sebagai beban biaya, melainkan sebagai sumber nilai.
Seperti yang dia katakan, “Sustainability is not about limiting business; it is about redefining it. The most sustainable business will also be the most profitable in the long run because it aligns with the fundamental realities of our planet” (McManners, 2024, p. 24).
Sustainability in Context: Sejarah, SDGs, dan Tanggung Jawab Korporat
Bagian pembuka buku Peter McManners ini, “Sustainability in Context”, berfungsi sebagai fondasi intelektual dan moral yang menjelaskan mengapa keberlanjutan bukanlah sekadar tren bisnis, melainkan suatu imperatif sejarah dan global. Bagian ini membawa pembaca dalam perjalanan dari akar pemikiran ekologis, melalui kesepakatan dunia yang membentuk agenda saat ini, hingga pada tanggung jawab konkret yang harus diemban oleh korporasi modern.
McManners memulai dengan menelusuri benang merah kesadaran keberlanjutan yang se-benarnya telah ada sejak lama dalam berbagai peradaban. Dia menunjukkan bahwa praktik-praktik seperti pertanian rotasi dan pengelolaan sumber daya komunal adalah bentuk awal dari keberlanjutan. Namun, revolusi industri menandai titik balik dengan menerapkan pola ekstraksi-linear-buang (take-make-dispose) secara masif. Respons terhadap dampaknya pun muncul secara bertahap.
Buku ini merujuk pada publikasi seminal seperti “Silent Spring” karya Rachel Carson (1962) yang membangkitkan kesadaran lingkungan modern, dan laporan “The Limits to Growth” oleh Club of Rome (1972) yang pertama kali memodelkan konsekuensi dari pertumbuhan eksponensial di planet yang terbatas.
Puncak formalisasi konsep terjadi dengan Laporan Brundtland (1987) yang mendefinisikan “pembangunan berkelanjutan” sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri” (World Commission on Environment and Development, 1987). Definisi ini menjadi landasan etis bagi seluruh diskusi selanjutnya. McManners menempatkan perjalanan ini dalam konteks yang lebih luas, mengutip filsuf Skotlandia Thomas Carlyle yang menyebut ekonomi sebagai “ilmu yang suram” (the dismal science) ketika terlepas dari konteks moral dan ekologisnya. Sejalan dengan itu, cendekiawan Muslim kontemporer Seyyed Hossein Nasr sejak 1960-an telah menulis tentang krisis ekologi spiritual modern, dengan berargumen bahwa pandangan dunia yang memisahkan manusia dari alam telah menyebabkan eksploitasi tanpa batas. Sejarah yang ditelusuri McManners menunjukkan upaya manusia untuk merajut kembali pemisahan itu.
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) adalah peta jalan untuk transformasi seperti dipaparkan dalam buku ini. Dari fondasi sejarah, bab ini beralih ke kerangka operasional global masa kini: 17 Tujuan SDGs Perserikatan Bangsa-Bangsa. McManners tidak melihat SDGs sekadar sebagai daftar harapan, melainkan sebagai “peta jalan untuk masa depan umat manusia dan cetak biru untuk kesuksesan bisnis” (McManners, 2024). Dia menekankan bahwa SDGs di-rancang secara terintegrasi; misalnya, upaya mengatasi kelaparan (SDG 2) terkait erat dengan praktik pertanian berkelanjutan (SDG 15) dan aksi iklim (SDG 13).
Bagi dunia bisnis, SDGs menawarkan bahasa tujuan bersama dan mengungkap peluang pasar yang luas. McManners mengutip laporan Business & Sustainable Development Commission yang memperkirakan bahwa pencapaian SDGs dapat membuka peluang ekonomi senilai $12 triliun dan menciptakan 380 juta lapangan kerja baru pada tahun 2030 di empat sektor ekonomi saja. Dengan demikian, menerapkan SDGs bukanlah kegiatan amal, melainkan strategi untuk mengidentifikasi pasar baru, mengelola risiko, dan mengamankan social license to operate. Penyair Amerika Maya Angelou pernah berkata, “We are only as blind as we want to be.” SDGs, dalam pembahasan McManners, berfungsi sebagai alat untuk membuka mata bisnis terhadap realitas interdependensi global dan lautan peluang di dalamnya.
Inti dari buku ini adalah kerangka kerja praktis yang disebut “The Sustainability Integration Pathway,” yang terdiri dari empat pilar utama:
Pilar Strategis: Mendesain Ulang Model Bisnis. Di sini, McManners mendorong pembaca untuk melihat keberlanjutan sebagai landasan strategi, bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Ini berarti mengadopsi prinsip-prinsip ekonomi sirkular, di mana produk dirancang untuk dapat diperbaiki, digunakan kembali, atau didaur ulang, sehingga limbah dieliminasi dan nilai sumber daya dipertahankan maksimal. Buku ini menampilkan studi kasus tentang bagaimana perusahaan seperti Interface (pembuat karpet) mengubah model bisnisnya dari menjual produk menjadi menyediakan layanan, sehingga bertanggung jawab penuh atas daur hidup produknya dan mendorong inovasi material. Filosofi ini selaras dengan ajaran dalam Islam tentang konsep khalifah (stewardship) dan larangan terhadap israf (pemborosan). Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Prinsip anti-israf inilah yang menjadi etos inti dari ekonomi sirkular.
Pilar Operasional: Menerapkan Efisiensi Sumber Daya. McManners tidak berhenti pada strategi tinggi; ia turun ke lantai pabrik dan kantor. Pilar ini membahas pengukuran dan pengurangan jejak ekologis melalui efisiensi energi, manajemen air, dan pengurangan limbah. Ia menekankan pentingnya Life Cycle Assessment (LCA) dan sistem manajemen seperti ISO 14001. Dia mengutip penelitian dari Project Drawdown, sebuah koalisi ilmuwan terkemuka, yang menunjukkan bahwa peningkatan efisiensi energi di industri dan bangunan merupakan salah satu solusi paling efektif untuk memitigasi perubahan iklim (Project Drawdown, 2020). Hal ini mengingatkan pada pepatah dari aktivis dan petani Amerika Wendell Berry: “We do not inherit the earth from our ancestors; we borrow it from our children.” Tindakan efisiensi operasional adalah bentuk konkret dari mengembalikan “pinjaman” itu dalam kondisi yang lebih baik.
Pilar Sosial: Membangun Ketahanan dan Ekuitas. Keberlanjutan yang sejati, menurut McManners, harus inklusif. Pilar ini membahas praktik ketenagakerjaan yang adil, keterlibatan komunitas, dan hak asasi manusia dalam rantai pasokan. Ia mengutip bencana Rana Plaza di Bangladesh sebagai contoh tragis dari kegagalan menginternalisasi biaya sosial. Buku ini berargumen bahwa rantai pasokan yang transparan dan etis bukan hanya soal reputasi, tetapi juga soal mitigasi risiko dan loyalitas konsumen. Pemikir Muslim kontemporer Dr. Umar Chapra menekankan bahwa tujuan ekonomi Islam (maqasid al-shari’ah) adalah untuk melestarikan kesejahteraan (maslahah), yang mencakup perlindungan kehidupan, akal, keturunan, kekayaan, dan kepercayaan. Sebuah bisnis yang berkelanjutan, dengan demikian, secara langsung berkontribusi pada maslahah ini dengan melindungi pekerja dan komunitasnya (Chapra, 2008).
Pilar Tata Kelola dan Transparansi: Memimpin dengan Akuntabilitas. Pilar terakhir menekan-kan bahwa keberlanjutan harus dipimpin dari atas dan diukur dengan jelas. McManners meng-anjurkan pengadopsian standar pelaporan seperti Global Reporting Initiative (GRI) atau Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD). Ia menegaskan, “What gets measured gets managed, and what gets reported gets improved” (McManners, 2024, p. 157). Trans-paransi ini membangun kepercayaan dengan semua pemangku kepentingan dan memungkin-kan investasi yang lebih cerdas. Penyair dan naturalis Amerika Mary Oliver pernah bertanya, “Tell me, what is it you plan to do with your one wild and precious life?” Buku McManners menantang setiap pemimpin bisnis untuk menjawab pertanyaan serupa: “Apa yang akan Anda lakukan dengan satu perusahaan liar dan berharga ini?”—dan meminta pertanggungjawaban mereka atas jawaban itu.
Buku ini adalah paduan yang kuat antara analisis akademis yang didasarkan pada data dan contoh kasus dunia nyata yang dapat ditiru. McManners menghindari nada dogmatis; alih-alih, ia memposisikan dirinya sebagai pemandu yang meyakinkan, menunjukkan bagaimana investasi dalam keberlanjutan membayar sendiri, sering kali lebih cepat dari yang diperkirakan.
Essentials of Sustainability for Business adalah sebuah panggilan untuk bertindak yang rasional dan mendesak. Buku ini berhasil menerjemahkan tantangan global yang sering kali terasa luar biasa besar menjadi serangkaian keputusan bisnis yang praktis dan menguntungkan. McManners meyakinkan kita bahwa masa depan tidak lagi menjadi pilihan antara menjadi hijau atau menguntungkan. Masa depan itu—bagi bisnis yang ingin bertahan dan berkembang—haruslah hijau dan menguntungkan. Sebagaimana dia simpulkan, “The business leaders of tomorrow will be those who understand that sustainability is not a department; it is the new operating system for capitalism itself” (McManners, 2024, p. 210).
Dengan menyatukan sejarah, SDGs, dan tanggung jawab korporat, bagian “Sustainability in Context” karya McManners memberikan kompas yang jelas. Bagian ini menyampaikan pesan bahwa bisnis tidak beroperasi dalam ruang hampa; mereka adalah bagian dari aliran sejarah, penandatangan implisit kesepakatan global (SDGs), dan entitas yang diberi kepercayaan oleh masyarakat. Memahami konteks ini adalah langkah pertama yang penting untuk transisi dari bisnis seperti biasa (business-as-usual) menuju bisnis yang tangguh, relevan, dan bertanggung jawab di abad ke-21. Seperti dirangkum McManners, “The context of sustainability provides the ‘why.’ The rest of this book is about the ‘how'” (McManners, 2024).
Tanggung Jawab Korporat: Evolusi Menuju Akuntabilitas Holistik
Bagian terakhir dari fondasi ini membahas evolusi konsep Tanggung Jawab Korporat (Corporate Responsibility – CR). McManners melacak pergeseran dari filantropi sederhana dan kepatuhan terhadap regulasi (corporate social responsibility klasik) menuju pendekatan strategis di mana keberlanjutan tertanam dalam model bisnis dan rantai nilai—sering disebut Creating Shared Value (CSV) atau tanggung jawab korporasi integratif.
Dia berargumen bahwa paradigma lama yang mempertentangkan shareholder (pemegang saham) dan stakeholder (pemangku kepentingan) sudah kadaluwarsa. Dalam ekonomi yang transparan dan terhubung, nilai jangka panjang untuk pemegang saham justru diciptakan dengan melayani semua pemangku kepentingan: karyawan, pelanggan, komunitas, dan planet. Buku ini merujuk pada pernyataan bersejarah Business Roundtable (2019), di mana hampir 200 CEO perusahaan Amerika terkemuka mendefinisikan ulang tujuan perusahaan untuk menguntungkan semua pemangku kepentingan.
McManners menegaskan bahwa tanggung jawab ini mencakup due diligence pada rantai pasokan yang global dan kompleks. Hal ini mengingatkan pada prinsip amanah (kepercayaan) dan keadilan (‘adl) dalam etika bisnis Islam, di mana pemegang amanah (dalam hal ini korporasi) bertanggung jawab untuk tidak merugikan pihak mana pun dan mendistribusikan manfaat secara adil. Akuntabilitas ini kini diwujudkan melalui standar pelaporan seperti Global Reporting Initiative (GRI) dan Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD), yang memaksa transparansi.
Analisis Keberlanjutan, Sang Praktisi, dan Perspektif
Bagian ini bertindak sebagai toolkit strategis dan kemanusiaan dari perjalanan menuju bisnis berkelanjutan. McManners beralih dari “mengapa” ke “bagaimana”, dengan fokus pada alat diagnostik, aktor kunci, dan lensa pemikiran yang diperlukan untuk menjalankan transisi.
McManners memperkenalkan seperangkat alat analitis penting untuk mendiagnosis kinerja keberlanjutan suatu bisnis secara holistik–bukan sesuatu yang baru, namun penting ditinjau kembali dan diletakkan pada koteks yang tepat. McManners menekankan bahwa Anda tidak dapat mengelola apa yang tidak Anda ukur. Alat-alat kunci yang dibahas termasuk:
- Life Cycle Assessment (LCA): Metode untuk mengevaluasi dampak lingkungan total suatu produk atau jasa dari ekstraksi bahan baku hingga pembuangannya (dari buaian ke liang kubur). Ini membantu mengidentifikasi titik panas (hotspots) dampak lingkungan untuk intervensi yang terfokus.
- Analisis Jejak Ekologis (Ecological Footprint Analysis): Mengukur permintaan manusia terhadap ekosistem bumi dengan membandingkan konsumsi sumber daya dan penyerapan limbah terhadap kapasitas regeneratif planet (Biocapacity).
- Materiality Assessment: Proses untuk mengidentifikasi dan memprioritasis isu-isu ekonomi, lingkungan, dan sosial yang paling signifikan bagi bisnis dan para pemangku kepentingannya. Ini memastikan bahwa upaya keberlanjutan difokuskan pada hal yang benar-benar penting.
McManners mengutip kerja Global Reporting Initiative (GRI) sebagai standar untuk penilaian materialitas ini. Melalui alat-alat ini, bisnis dapat menerjemahkan operasinya ke dalam bahasa ekologi dan sosial, yang merupakan langkah pertama menuju transformasi. Filsuf Jerman Hans Jonas, dalam karyanya The Imperative of Responsibility (1979), menulis tentang perlunya etika baru untuk peradaban teknologi yang dapat memprediksi dan bertanggung jawab atas konsekuensi jangka panjang tindakannya. Analisis keberlanjutan, dalam pandangan McManners, adalah wujud praktis dari “imperatif tanggung jawab” Jonas dalam dunia bisnis.
Sang Praktisi (The Practitioner): Di sini, McManners mengakui bahwa keberlanjutan pada akhirnya adalah tentang orang-orang. Bab ini berfokus pada peran Chief Sustainability Officer (CSO) atau profesional keberlanjutan dalam organisasi. Dia menggambarkan CSO bukan sebagai petugas kepatuhan, melainkan sebagai agen perubahan, penerjemah, dan integrator yang menghubungkan keberlanjutan dengan keuangan, operasi, pemasaran, dan R&D.
Kualitas utama yang dibutuhkan termasuk kemampuan membangun kredibilitas teknis, keterampilan diplomasi untuk menavigasi resistensi internal, dan visi strategis. McManners mengutip wawancara dengan praktisi yang menyatakan, “Success is when sustainability is no longer ‘my’ project, but ‘our’ operating system” (McManners, 2024). Peran ini mengingatkan pada konsep “mufti perusahaan” dalam pemikiran ekonomi Islam kontemporer—seorang ahli yang tidak hanya memastikan kepatuhan pada prinsip-prinsip syariah, tetapi juga membimbing organisasi menuju tujuan yang lebih bermakna dan etis. Sang Praktisi harus menjadi suara hati nurani dan inovasi perusahaan.
Perspektif (Perspectives): Bab ini memperkaya pembahasan dengan memperkenalkan berbagai lensa filosofis dan disipliner untuk memahami keberlanjutan. Ini mencakup perspektif seperti:
- Ekonomi Ekologis (melihat ekonomi sebagai subsistem dari ekologi yang terbatas).
- Ekofeminisme (menghubungkan eksploitasi alam dengan penindasan sosial).
- Pembangunan Berkelanjutan sebagai paradigma global.
McManners berargumen bahwa mengadopsi perspektif yang berbeda ini dapat memecahkan kebuntuan mental dan memicu solusi inovatif. Dia mungkin mengutip pemikir seperti Kate Raworth dan model “Doughnut Economics”-nya, yang menawarkan perspektif visual tentang ruang operasi yang aman dan adil bagi umat manusia. Dengan menyajikan berbagai sudut pandang, bab ini mempersenjatai pembaca dengan kemampuan untuk merangkul kompleksitas dan menghindari solusi yang sempit dan berisiko.
Faktor Sukses Kunci, Model Bisnis Berkelanjutan, dan Masa Depan
Bagian penutup buku ini fokus pada implementasi dan visi jangka panjang. McManners merangkum pelajaran menjadi faktor-faktor penentu sukses, mendorong reinvensi model bisnis itu sendiri, dan membayangkan jalan ke depan.
McManners mengkristalkan pembelajaran dari seluruh buku menjadi daftar prasyarat praktis untuk keberhasilan transformasi keberlanjutan. Faktor Sukses Kunci (Key Success Factors) ini terdiri dari:
- Kepemimpinan dari Tingkat Atas (Top-Level Leadership): Komitmen yang terlihat dan aktif dari CEO dan Dewan Direksi.
- Integrasi Strategis (Strategic Integration): Keberlanjutan yang tertanam dalam strategi inti, anggaran, dan sistem insentif, bukan sebagai add-on.
- Pengukuran dan Transparansi (Measurement & Transparency): Sistem pelaporan yang kuat dan komunikasi yang jujur tentang kemajuan dan tantangan.
- Keterlibatan Stakeholder (Stakeholder Engagement): Dialog yang otentik dengan karyawan, pelanggan, pemasok, dan komunitas.
- Inovasi Berkelanjutan (Sustainable Innovation): Budaya yang terus-menerus mencari cara baru untuk mendesain ulang produk, proses, dan model bisnis.
McManners mengutip penelitian dari MIT Sloan Management Review dan The Boston Consulting Group yang secara konsisten mengidentifikasi kepemimpinan dan integrasi strategis sebagai pembeda utama antara perusahaan yang unggul dalam keberlanjutan dan yang tertinggal. Filsuf Tionghoa kuno Lao Tzu dalam Tao Te Ching menulis, “A journey of a thousand miles begins with a single step.” Bab ini menyatakan bahwa sementara perjalanan itu panjang, langkah pertama harus meliputi faktor-faktor sukses ini agar tidak tersesat.
Model Bisnis Berkelanjutan (Sustainable Business Models): Ini adalah jantung dari rekomendasi McManners untuk perubahan sistemik. Dia berargumen bahwa “menghijaukan” operasi lama tidaklah cukup; bisnis perlu mendesain ulang cara mereka menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai. Bab ini mengeksplorasi model-model inovatif seperti:
- Ekonomi Sirkular (Circular Economy): Menghilangkan limbah dengan mendesain produk untuk disewa, diperbaiki, digunakan kembali, atau didaur ulang (seperti model product-as-a-service).
- Berdasar pada Kinerja (Performance-Based): Menjual hasil (misalnya, pencahayaan, kenyamanan) bukan produk fisik (lampu, AC).
- Nilai Bersama (Shared Value): Mengidentifikasi peluang bisnis yang secara simultan memecahkan masalah sosial/lingkungan.
McManners mendasarkan pembahasannya pada karya pionir seperti Alexander Osterwalder (Business Model Canvas) dan Walter Stahel (ekonomi sirkular). Peralihan dari kepemilikan ke akses, misalnya, bukan hanya strategis tetapi juga filosofis. Cendekiawan Muslim Dr. Tariq Ramadan sering berbicara tentang etika kepengelolaan (stewardship) dan tanggung jawab, menekankan bahwa sumber daya adalah amanah (amanah). Model bisnis sirkular secara inheren mencerminkan nilai ini dengan memelihara dan memperpanjang nilai sumber daya, bukan mengkonsumsinya. “The sustainable business model doesn’t just aim to be ‘less bad,’ it aims to be regenerative by design,” tegas McManners (2024).
Catatan Akhir: Masa Depan Keberlanjutan
Bab penutup ini mengambil pandangan jangka panjang. McManners membahas kekuatan yang akan membentuk lanskap masa depan, termasuk:
Teknologi Pemutus (Disruptive Tech): Peran kecerdasan buatan (AI) untuk optimisasi, energi terbarukan yang terdesentralisasi, dan material baru.
Kebijakan dan Regulasi: Perkembangan menuju pajak karbon, aturan due diligence keberlanjutan, dan penghapusan subsidi bahan bakar fosil.
Perubahan Sosial dan Nilai Konsumen: Permintaan yang terus meningkat untuk transparansi dan etika.
Dia membayangkan masa depan di mana keberlanjutan tidak lagi menjadi subjek khusus, tetapi telah menjadi norma yang mendasar—“business-as-usual yang baru”. Visi ini sejalan dengan seruan aktivis iklim Greta Thunberg untuk memperlakukan krisis iklim sebagai krisis yang eksistensial dan mendesak, sehingga mengubah logika sistemik. McManners menyimpulkan dengan pesan yang berani: “The businesses that will thrive in the coming decades are those that see the future not as a threat to be mitigated, but as a new terrain of opportunity to be shaped with creativity, courage, and a deep sense of responsibility” (McManners, 2024). Masa depan keberlanjutan adalah masa depan bisnis itu sendiri.
Bogor-Cirebon, 23 Februari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Business & Sustainable Development Commission. (2017). Better business, better world. http://report.businesscommission.org/
Carson, R. (1962). Silent spring. Houghton Mifflin.
Chapra, M. U. (2008). The Islamic vision of development in the light of the maqasid al-Shari’ah. Islamic Research and Training Institute, Islamic Development Bank.
Ellen MacArthur Foundation. (2013). Towards the circular economy: Economic and business rationale for an accelerated transition (Vol. 1). https://www.ellenmacarthurfoundation.org/assets/downloads/publications/Ellen-MacArthur-Foundation-Towards-the-Circular-Economy-vol.1.pdf
Global Reporting Initiative. (2021). GRI Standards. https://www.globalreporting.org/standards/
Haanaes, K., Reeves, M., von Strengvelken, I., Audretsch, M., Kiron, D., & Kruschwitz, N. (2012). Sustainability nears a tipping point. MIT Sloan Management Review, *53*(2), 69-74. https://sloanreview.mit.edu/projects/sustainability-nears-a-tipping-point/
The Holy Qur’an. (Chapter 7, Verse 31). (Karya klasik cukup dirujuk dalam teks, tidak perlu dalam daftar pustaka, atau jika ingin dicantumkan, formatnya bisa seperti ini)
Jonas, H. (1979). The imperative of responsibility: In search of an ethics for the technological age. University of Chicago Press.
Lao Tzu. (c. 6th century BCE). Tao te ching. (Karya klasik cukup dirujuk dalam teks dengan menyebutkan tahun terjemahan yang digunakan, jika ada).
McManners, P. (2024). Essentials of sustainability for business: A practical approach. Routledge.
Meadows, D. H., Meadows, D. L., Randers, J., & Behrens III, W. W. (1972). The limits to growth. Universe Books.
Nasr, S. H. (1968). The encounter of man and nature: The spiritual crisis of modern man. Allen & Unwin.
Osterwalder, A., & Pigneur, Y. (2010). Business model generation. John Wiley & Sons.
Project Drawdown. (2020). The Drawdown review: Climate solutions for a new decade. https://drawdown.org/drawdown-review
Ramadan, T. (2017). Islam and the Arab awakening. Oxford University Press.
Raworth, K. (2017). *Doughnut economics: Seven ways to think like a 21st-century economist*. Random House Business Books.
Stahel, W. R. (2010). The performance economy (2nd ed.). Palgrave Macmillan.
Thunberg, G. (2019). No one is too small to make a difference. Penguin Books.
United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 agenda for sustainable development. https://sdgs.un.org/2030agenda
Wackernagel, M., & Rees, W. E. (1996). Our ecological footprint: Reducing human impact on the earth. New Society Publishers.
World Commission on Environment and Development. (1987). Our common future. Oxford University Press.






