Rubarubu #113
Two Wheels Good:
Sepeda, Kegembiraan, dan Sebuah Misteri Modern
Pada suatu titik dalam bukunya, Jody Rosen menulis—dengan nada heran sekaligus penuh cinta—bahwa sepeda adalah “mesin paling efisien yang pernah diciptakan manusia, namun juga salah satu yang paling diremehkan.” Pernyataan ini menjadi semacam benang merah Two Wheels Good, sebuah buku yang tidak sekadar menuturkan sejarah sepeda, tetapi menyelami misterinya: mengapa sebuah teknologi sederhana, nyaris tak berubah selama lebih dari satu abad, mampu bertahan, berulang kali “mati”, dan selalu hidup kembali.
Rosen membuka kisahnya bukan dari laboratorium atau pabrik, melainkan dari pengalaman manusia: sensasi pertama mengayuh, keseimbangan yang tiba-tiba “klik”, dan kebebasan yang muncul saat dua roda bergerak selaras dengan tubuh. Sepeda, sejak awal, bukan hanya alat transportasi, melainkan pengalaman eksistensial—perjumpaan antara tubuh, ruang, dan gerak.
Jody Rosen adalah seorang penulis, kritikus budaya, dan jurnalis esai Amerika yang dikenal karena prosa yang tajam, penelitian yang mendalam, dan kemampuannya mengungkap cerita-cerita besar dalam objek-objek sehari-hari. Meski membangun karier terkemuka sebagai kritikus musik dan penulis lepas untuk publikasi bergengsi seperti The New York Times Magazine, Slate, dan The New Yorker, namanya meledak ke wacana yang lebih luas dengan diterbitkannya buku “Two Wheels Good: The History and Mystery of the Bicycle” (Crown, 2022), sebuah karya yang meneguhkannya sebagai salah satu suara non-fiksi naratif yang paling cemerlang dan inventif di generasinya.
Alih-alih menyajikan sejarah sepeda sebagai garis kemajuan teknologis yang rapi, Rosen menuturkannya sebagai sejarah zig-zag, penuh kegagalan, kegilaan, dan obsesi. Sejarah yang tidak pernah lurus. Dari draisine abad ke-19—yang lebih mirip mainan aristokrat Eropa—hingga sepeda tinggi berbahaya (penny-farthing), sejarah awal sepeda dipenuhi eksperimen yang sering kali absurd dan mematikan. Buku ini ditulis dengan gaya jurnalisme sastra yang memikat. Dia memadukan reportase lapangan (mengunjungi pabrik sepeda, bergabung dengan kelompok bersepeda, berbicara dengan penggemar dan ahli), riset arsip yang teliti, dan refleksi filosofis personal.
Namun justru di situlah, menurut Rosen, letak keindahan sepeda. Ia tidak lahir sebagai produk rasional industrialisme, tetapi sebagai hasil coba-coba manusia dengan keseimbangan dan gerak. Ketika akhirnya “safety bicycle” muncul pada akhir abad ke-19, sepeda mendadak menjadi teknologi rakyat: murah, relatif aman, dan dapat digunakan oleh perempuan, buruh, dan anak muda.
Rosen dengan cermat menunjukkan bagaimana sepeda kemudian menjadi alat emansipasi, terutama bagi perempuan. Ia mengutip Susan B. Anthony yang terkenal menyatakan bahwa sepeda telah “melakukan lebih banyak untuk emansipasi perempuan daripada apa pun di dunia.” Kutipan ini bukan nostalgia, melainkan penegasan bahwa sepeda selalu berada di persimpangan politik tubuh dan kebebasan sosial.
Sepeda, Modernitas, dan Kota
Bagian tengah buku ini bergerak ke abad ke-20, ketika sepeda tampak “kalah” oleh mobil. Rosen tidak menulis narasi kejatuhan ini sebagai kisah kemunduran yang tragis, melainkan sebagai pergeseran ideologi. Kota-kota modern, terutama di Amerika Serikat, memilih kecepatan, jarak jauh, dan konsumsi energi tinggi—nilai-nilai yang tidak ramah pada sepeda.
Namun sepeda tidak pernah benar-benar hilang. Ia bertahan di pinggiran: di kalangan pekerja, anak-anak, komunitas imigran, dan subkultur. Rosen dengan gaya jurnalistik yang hidup meng-gambarkan messenger sepeda, balap bawah tanah, sepeda kustom, hingga kebangkitan sepeda lipat dan sepeda kargo. Sepeda, bagi Rosen, adalah teknologi yang menolak mati karena ia tidak sepenuhnya tunduk pada logika pasar dan kemajuan linear.
Dalam konteks ini, sepeda menjadi apa yang Ivan Illich sebut sebagai convivial tool—alat yang memperbesar kapasitas manusia tanpa menciptakan ketergantungan sistemik. Rosen tidak mengutip Illich secara panjang lebar, tetapi semangatnya terasa kuat: sepeda adalah teknologi yang tetap manusiawi.
Mengapa sepeda terasa “sempurna”? Judul buku ini, Two Wheels Good: The History and Mystery of the Bicycle (Crown, New York, 2022), bukan tanpa alasan. Rosen berulang kali kembali pada pertanyaan: mengapa sepeda terasa begitu “pas”? Mengapa dua roda, rantai, dan rangka sederhana ini nyaris tidak berubah secara fundamental sejak akhir abad ke-19?
Jawaban Rosen bukan teknis semata, melainkan filosofis. Sepeda adalah teknologi yang selaras dengan skala manusia. Ia bekerja dengan kekuatan otot, kecepatan yang dapat dirasakan tubuh, dan ruang yang masih memungkinkan interaksi sosial. Dalam dunia yang dipenuhi teknologi kompleks dan tak transparan, sepeda tetap dapat dipahami sepenuhnya oleh penggunanya.
Di sini, resonansi dengan pemikir seperti Lewis Mumford dan Jacques Ellul terasa jelas: teknologi terbaik bukan yang paling canggih, tetapi yang paling seimbang dengan kehidupan manusia. Bahkan dalam tradisi Islam, prinsip ini dekat dengan gagasan wasatiyyah—jalan tengah, keseimbangan. Al-Qur’an mengingatkan: “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang tengah-tengah” (QS. Al-Baqarah: 143). Sepeda, dalam konteks ini, adalah teknologi wasath: tidak berlebihan, tidak merusak, tidak menindas.
Bagian akhir buku Rosen bergerak ke abad ke-21, ketika sepeda kembali ke pusat perhatian—bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai respon terhadap krisis: krisis iklim, krisis kesehatan, dan krisis kota. Rosen menulis dengan nada hati-hati, nyaris skeptis, terhadap klaim sepeda sebagai “penyelamat dunia”. Namun ia juga mengakui bahwa sepeda menawarkan sesuatu yang langka: solusi yang nyata, murah, dan segera tersedia. Kebangkitan kembali sepeda di era krisis iklim.
Ia tidak memuja sepeda sebagai utopia, melainkan sebagai praktik sehari-hari yang dapat mengubah relasi manusia dengan kota. Dalam hal ini, Rosen sejalan dengan pemikir degrowth seperti Jason Hickel dan Giorgos Kallis, meski ia tidak menulis dalam bahasa teori. Sepeda menjadi simbol bahwa kehidupan yang lebih lambat dan cukup bukanlah kemunduran, melainkan pilihan rasional.
Buku ini bukan sekadar sejarah linear tentang penemuan dan evolusi sepeda. Ini adalah “biografi” ambisius dan mendalam tentang sebuah objek, sebuah perjalanan lintas benua dan abad yang mengungkap bagaimana sepeda telah membentuk—dan dibentuk oleh—politik, cinta, perang, feminisme, sastra, dan imajinasi manusia. Karena itu mendapat pujian luas dari kritikus. The New York Times menyebutnya “luar biasa,” The Guardian memujinya sebagai “kaya, menarik, dan sering lucu.” Keberhasilannya terletak pada kemampuan Rosen untuk mentransformasikan sejarah teknologi menjadi narasi humanis yang universal tentang hasrat, penemuan, dan keinginan manusia untuk kebebasan.
Bicycle Planet
Buku ini dibuka bukan dengan jalan raya, melainkan dengan bulan. Dalam Voyage to the Moon, Rosen membawa kita ke wilayah imajinasi, mimpi, dan absurditas—sebuah pengingat bahwa sepeda sejak awal bukan hanya mesin praktis, tetapi kendaraan fantasi modern. Dalam poster-poster awal abad ke-20, sepeda digambarkan melayang di angkasa, melintasi planet, me-nembus batas gravitasi. Sepeda adalah metafora kebebasan total, bahkan sebelum manusia benar-benar bisa terbang.
Dari sana Rosen menurunkan kita ke bumi—atau lebih tepatnya, ke Bicycle Planet. Dunia yang ia gambarkan bukan dunia yang “ramah sepeda” secara institusional, tetapi dunia yang tak pernah sepenuhnya bisa menghapus sepeda. Di setiap kota, setiap rezim, setiap zaman, sepeda selalu muncul kembali: sebagai alat kerja, mainan, alat perjuangan, atau simbol perlawanan diam-diam terhadap kecepatan dan kekuasaan. Di sinilah tesis implisit Rosen mulai terasa: sepeda adalah teknologi yang menolak tunduk sepenuhnya pada modernitas industri, dan karena itu selalu terasa “asing namun akrab” dalam sejarah.
Bab-bab awal Two Wheels Good ini membawa kita ke masa ketika sepeda masih merupa-kan eksperimen sosial. The Bicycle Window adalah cara Rosen menggambarkan bagaimana sepeda membuka cara pandang baru terhadap dunia—secara harfiah dan metaforis. Me-ngendarai sepeda berarti melihat kota dengan ritme berbeda: tidak secepat kereta, tidak terisolasi seperti mobil. Dunia menjadi dekat, terukur oleh napas dan denyut jantung.
Dalam Dandy Chargers, Rosen menyoroti para pengendara awal—kaum pria kelas atas, dandies, flâneurs—yang menjadikan sepeda sebagai aksesoris gaya dan status, bukan alat emansipasi. Sepeda awal bukan milik rakyat; ia mahal, berbahaya, dan eksklusif. Namun justru dari absurditas ini lahir percobaan demi percobaan yang kelak membuka jalan bagi demokra-tisasi mobilitas.
Sepeda, dalam fase ini, masih mencari identitas: apakah ia mainan, mode, atau alat trans-portasi?
Voyage to the Moon
Jody Rosen membuka Two Wheels Good dengan sebuah lompatan yang tak terduga: bukan ke jalan raya, bukan ke bengkel, bukan pula ke kota, melainkan ke bulan. Voyage to the Moon bukan sekadar pengantar, tetapi sebuah pernyataan tentang cara buku ini harus dibaca. Rosen mengajak pembaca memahami sepeda bukan hanya sebagai objek historis, melainkan sebagai artefak imajinasi manusia—mesin yang sejak awal melampaui fungsi praktisnya.
Ia merujuk pada poster, ilustrasi, dan fantasi populer akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, di mana sepeda digambarkan terbang ke angkasa, mengitari planet, atau membawa manusia menembus batas kosmik. Dalam dunia sebelum roket dan pesawat jet, sepeda menjadi kendaraan mimpi modern. Ia menjanjikan pelarian dari keterikatan bumi—bukan melalui mesin raksasa, tetapi melalui tenaga manusia sendiri.
Dengan Two Wheels Good, Rosen telah melampaui perannya sebagai kritikus musik untuk menjadi sejarawan budaya dan penulis tema lebar yang diakui. Buku ini menempatkannya dalam tradisi penulis Amerika seperti Rebecca Solnit dan Bill Bryson—ahli dalam merajut esai yang dalam dan menghibur dari benang-benang sejarah yang tak terduga. Dia tetap menjadi kontributor tetap untuk The New York Times Magazine, di mana tulisannya sering mengeksplorasi persimpangan antara budaya material, memori, dan identitas.
Ada ironi halus di sini. Sepeda adalah teknologi paling membumi: dua roda, rangka sederhana, digerakkan oleh otot. Namun justru karena kesederhanaannya, ia menjadi wadah proyeksi kebebasan paling radikal. Rosen membaca fenomena ini sebagai tanda bahwa modernitas tidak hanya dibentuk oleh mesin-mesin besar dan industrialisasi brutal, tetapi juga oleh hasrat untuk bergerak secara mandiri, tanpa rel, tanpa jadwal, tanpa bahan bakar fosil.
Voyage to the Moon berfungsi sebagai alegori: sepeda adalah teknologi yang selalu berada di antara kenyataan dan mimpi. Ia nyata, bisa disentuh, bisa rusak. Tetapi ia juga simbol—tentang kebebasan, kecepatan yang manusiawi, dan kemungkinan hidup lain di luar logika dominasi teknologis. Dengan membuka buku dari langit, Rosen secara implisit mengatakan bahwa untuk memahami sepeda, kita harus melihatnya melampaui aspal, sebagai bagian dari sejarah keinginan manusia untuk bergerak tanpa dikendalikan.
Jika prolog membawa kita ke luar angkasa, maka Bicycle Planet menurunkan kita kembali ke bumi—namun ke bumi yang asing dan penuh kontradiksi. Rosen memperkenalkan gagasan bahwa kita hidup di sebuah planet di mana sepeda selalu hadir, tetapi jarang benar-benar diakui. Ia ada di mana-mana dan di saat yang sama selalu dianggap sementara, marginal, atau sekadar alternatif.
Rosen menyebut dunia ini sebagai Bicycle Planet bukan karena sepeda mendominasi, tetapi justru karena ia tak pernah bisa dihapus sepenuhnya. Di kota-kota yang dirancang untuk mobil, sepeda tetap muncul. Di rezim politik yang berbeda-beda—kapitalis, sosialis, otoriter, liberal—sepeda selalu menemukan celah. Ketika ekonomi runtuh, sepeda bertahan. Ketika teknologi menjadi terlalu mahal, sepeda kembali. Ketika krisis iklim memburuk, sepeda dipanggil ulang sebagai solusi.
Namun Rosen menolak narasi heroik yang sederhana. Sepeda, baginya, bukan penyelamat dunia. Ia adalah penyintas sejarah. Ia bertahan karena fleksibilitasnya, karena ketidakpatuh-annya pada satu ideologi tunggal. Sepeda bisa menjadi alat emansipasi perempuan, tetapi juga alat kerja keras yang eksploitatif. Ia bisa menjadi simbol kelas menengah urban progresif, sekaligus kendaraan orang miskin yang tak punya pilihan lain. Dalam Bicycle Planet, Rosen memperkenalkan tema utama buku ini: ambiguitas. Sepeda selalu berada di persimpangan—antara mainan dan alat kerja, antara teknologi dan tubuh, antara nostalgia dan masa depan. Ia tidak pernah sepenuhnya modern, tetapi juga tidak pernah kuno. Ia tidak cocok dengan logika kecepatan kapitalisme, tetapi juga tidak sepenuhnya menolak kemajuan.
Rosen juga menekankan bahwa sepeda mengajarkan cara berbeda untuk mengalami ruang dan waktu. Mengendarai sepeda berarti merasakan jarak secara fisik, bukan abstrak. Kota tidak dilalui, tetapi dialami. Tubuh tidak dipisahkan dari mesin, tetapi menjadi bagian dari mekanisme itu sendiri. Dalam dunia yang semakin terotomatisasi, sepeda mempertahankan hubungan intim antara manusia, teknologi, dan lingkungan.
Bagian Pendahuluan ini menegaskan bahwa buku yang akan kita baca bukanlah kronik linier tentang penemuan dan inovasi, melainkan sebuah sejarah kultural dan eksistensial. Rosen ingin menunjukkan bahwa sepeda penting bukan karena ia paling efisien, tetapi karena ia memper-tahankan kemungkinan hidup yang lain—hidup yang tidak sepenuhnya diserahkan kepada mesin besar, pasar global, dan ide pertumbuhan tanpa batas.
Dengan Voyage to the Moon dan Bicycle Planet, Rosen menetapkan nada yang khas: reflektif, ironis, penuh empati, dan sadar akan kontradiksi. Ia mengajak pembaca memahami sepeda sebagai teknologi kecil dengan resonansi besar, sebuah mesin yang tampak sederhana tetapi menyimpan sejarah panjang tentang kebebasan, ketimpangan, dan harapan manusia. Sepeda, dalam pembukaan ini, bukan jawaban—melainkan pertanyaan yang terus berulang: Bagaimana kita ingin bergerak di dunia ini, dan dengan kecepatan seperti apa?
Ketika sepeda mulai stabil secara teknis, ia segera merembes ke wilayah seni dan imajinasi. Art Vélo memperlihatkan bagaimana sepeda menjadi subjek lukisan, poster, sastra, dan puisi—dari Toulouse-Lautrec hingga futurisme Italia. Sepeda melambangkan modernitas yang ceria, bukan mengancam; bergerak, tetapi tidak menggilas.
Dalam Art Vélo, Jody Rosen membawa sepeda keluar dari jalan dan bengkel, lalu menempat-kannya ke dalam ruang estetika dan imajinasi artistik. Di sini, sepeda tidak lagi sekadar alat transportasi, tetapi menjadi medium visual, simbol modernitas, bahkan objek kontemplasi filosofis. Rosen menunjukkan bahwa sejak akhir abad ke-19, sepeda telah menginspirasi pelukis, ilustrator, desainer poster, dan seniman avant-garde—dari iklan Art Nouveau hingga eksperimen kubisme dan futurisme.
Sepeda menarik seniman karena bentuknya yang paradoksal: sederhana tetapi elegan, mekanis tetapi organik. Roda yang berputar, rangka yang ramping, dan tubuh manusia yang menyatu dengannya menciptakan citra gerak yang memikat. Rosen mengulas bagaimana sepeda muncul dalam poster Prancis, lukisan Italia, hingga desain grafis yang merayakan kecepatan, kebebasan, dan vitalitas tubuh modern. Dalam seni, sepeda sering kali tampil sebagai simbol modernitas yang jinak—teknologi yang tidak mengintimidasi, tidak mengasingkan, dan tidak mendominasi manusia.
Namun Rosen juga mencatat ketegangan di balik estetika ini. Seni sepeda lahir pada saat yang sama dengan industrialisasi besar-besaran dan munculnya mesin-mesin raksasa. Dalam konteks itu, sepeda menjadi semacam alternatif etis terhadap industrial modernity—sebuah mesin yang indah karena ia tidak sepenuhnya mengambil alih tubuh manusia. Art Vélo memperlihatkan bahwa sejak awal, sepeda telah dipahami bukan hanya sebagai benda fungsional, tetapi sebagai cara hidup, bahkan sebagai kritik diam terhadap modernitas yang terlalu kasar dan brutal.
Dalam Silent Steed, Rosen menekankan kualitas yang sering terlupakan: keheningan sepeda. Berbeda dari mesin uap atau mobil, sepeda bergerak tanpa raungan. Ia tidak mengumumkan kekuasaannya. Di sini sepeda tampil sebagai teknologi yang nyaris etis secara inheren—ia hadir tanpa mendominasi ruang akustik maupun sosial. Keheningan ini kelak menjadi alasan mengapa sepeda sering dianggap “tidak serius” oleh rezim modernitas yang memuja kebisingan dan kecepatan.
Ledakan besar datang di akhir abad ke-19. Bicycle Mania menggambarkan euforia global: sepeda menjadi barang massal, simbol kebebasan perempuan, alat mobilitas buruh, dan mesin pembentuk kota modern. Jalan diaspal bukan untuk mobil—tetapi untuk sepeda. Namun Balancing Act mengingatkan bahwa revolusi ini rapuh. Sepeda menuntut keterampilan, ke-seimbangan, dan keberanian. Ia tidak memanjakan penggunanya. Rosen membaca ini bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai pendidikan tubuh: sepeda mengajarkan bahwa kebebasan selalu membutuhkan latihan dan risiko.
Bicycle Mania: 1890s
Bab ini adalah salah satu inti historis buku. Rosen mengajak pembaca masuk ke dekade 1890-an, saat dunia mengalami apa yang ia sebut sebagai demam sepeda—bicycle mania. Pada masa ini, sepeda bukan sekadar tren, melainkan fenomena sosial global. Jalanan dipenuhi pesepeda, pabrik sepeda bermunculan, klub-klub sepeda berkembang, dan media massa membicarakan sepeda dengan intensitas yang hari ini hanya bisa dibandingkan dengan internet atau smar-tphone.
Rosen menggambarkan bagaimana sepeda mengubah ritme kehidupan sehari-hari. Ia mem-perluas jarak yang bisa ditempuh individu, mengaburkan batas antara kota dan desa, serta menggeser relasi waktu dan ruang. Sepeda juga berperan besar dalam emansipasi perempuan. Dengan sepeda, perempuan bisa bergerak tanpa pendamping, tanpa kereta kuda, tanpa kontrol keluarga. Tak heran jika sepeda memicu kepanikan moral: ia dituduh merusak tubuh perempuan, moralitas, bahkan tatanan sosial.
Namun Rosen tidak meromantisasi periode ini sepenuhnya. Ia menunjukkan bahwa bicycle mania juga melahirkan spekulasi ekonomi, ketimpangan, dan komodifikasi. Sepeda menjadi objek investasi, status sosial, dan gaya hidup kelas menengah. Ketika gelembung ekonomi pecah, banyak perusahaan sepeda runtuh. Dari sini Rosen menarik pelajaran penting: bahkan teknologi yang paling egaliter pun dapat terseret ke dalam logika kapitalisme spekulatif.
Bab ini menegaskan satu hal: sepeda selalu hidup dalam ketegangan antara pembebasan dan komodifikasi. Ia bisa menjadi alat revolusioner, tetapi juga mudah dijinakkan oleh pasar.
Nada buku menjadi lebih sensual dan personal. Put Some Fun Between Your Legs membahas humor, erotisme, dan kegembiraan fisik yang melekat pada sepeda—dan juga kecemasan moral yang menyertainya. Sepeda dituduh merusak moral, terutama moral perempuan. Di sini Rosen menunjukkan bagaimana tubuh yang bergerak bebas selalu menakutkan kekuasaan.
Dalam Winter, sepeda menghadapi batas alam dan sosial. Musim dingin menjadi metafora bagi periode-periode ketika sepeda “menghilang” dari ruang publik. Namun seperti musim, ketidakhadiran itu selalu sementara.
Bab-bab 9: Uphill dan 10: Nowhere Fast ini bergerak ke abad ke-20, ketika sepeda harus mendaki bukit sejarah yang curam. Mobil mendominasi kota; sepeda dianggap lamban, miskin, atau kekanak-kanakan. Nowhere Fast adalah kritik halus Rosen terhadap ideologi kecepatan. Sepeda tidak membawa kita “ke mana-mana” menurut logika kapitalisme—dan justru di situlah kekuatannya. Sepeda menawarkan pengalaman ruang, bukan sekadar tujuan.
Rosen memperluas pandangan secara geografis dan sosial. Cross Country menunjukkan bagaimana sepeda menjelajah benua, kelas, dan ideologi. Ia digunakan oleh tentara, pekerja pos, aktivis, dan petualang. Dalam Beast of Burden, sepeda tampil sebagai alat kerja keras: sepeda kargo, sepeda pekerja, sepeda di dunia Global South. Rosen menolak romantisasi; sepeda bisa menjadi alat eksploitasi sekaligus pembebasan. Ambiguitas ini penting: sepeda bukan utopia, tetapi alat yang selalu tergantung pada konteks sosial.
Di sini Rosen menjadi sangat personal. Personal History adalah pengakuan bahwa sepeda selalu hidup dalam ingatan individual. Setiap orang punya sepeda pertama; setiap sepeda membawa cerita kehilangan, jatuh, dan kebangkitan. Graveyards adalah bab paling melankolis: sepeda-sepeda mati, teknologi yang gagal, mimpi yang dikubur. Namun kuburan ini juga arsip—pengingat bahwa sejarah sepeda penuh percobaan yang tak berhasil, dan bahwa kegagalan adalah bagian dari daya tahannya.
Buku ditutup dengan paradoks: sepeda adalah alat individual, tetapi juga mesin gerakan massa. Dari Critical Mass hingga kebijakan iklim kota, sepeda kembali sebagai simbol perlawanan terhadap krisis ekologis dan sosial. Namun Rosen menolak akhir yang heroik. Ia tidak menjadi-kan sepeda sebagai penyelamat dunia. Sebaliknya, ia mengajukan pertanyaan terbuka: mungkinkah teknologi yang begitu sederhana bertahan di dunia yang terobsesi dengan pertumbuhan tanpa batas?
Judul Bab 7: Put Some Fun Between Your Legs ini sengaja provokatif, dan Rosen memanfaat-kannya untuk membahas dimensi yang sering disembunyikan dalam sejarah teknologi: kenikmatan, kesenangan, dan sensualitas. Di sini sepeda tidak dibicarakan sebagai solusi transportasi atau alat perjuangan, melainkan sebagai sumber kegembiraan tubuh. Rosen menelusuri bagaimana sepeda sejak awal diasosiasikan dengan permainan, kecepatan yang menyenangkan, dan sensasi kebebasan. Ia mengutip iklan, tulisan populer, dan kesaksian pribadi yang menggambarkan sepeda sebagai mesin yang “membuat hidup terasa lebih hidup.” Dalam dunia yang semakin diatur oleh jadwal kerja dan disiplin industri, sepeda menawarkan pengalaman bergerak tanpa tujuan produktif.
Bab ini penting karena Rosen menolak pendekatan moralistik terhadap sepeda. Ia tidak ingin sepeda hanya dipahami sebagai alat yang “baik” karena ramah lingkungan. Sepeda juga penting karena ia menyenangkan, karena ia mengingatkan manusia bahwa teknologi tidak harus selalu serius, efisien, dan produktif. Dalam kesenangan bersepeda, ada potensi subversif: penolakan terhadap logika bahwa setiap gerak harus menghasilkan nilai ekonomi.
Di bab Personal History ini, Rosen mempersempit lensa. Setelah sejarah global, seni, politik, dan budaya, ia masuk ke wilayah pengalaman pribadi. Ia menceritakan hubungannya sendiri dengan sepeda—bukan sebagai ahli, tetapi sebagai manusia biasa yang hidup bersama sepeda dalam berbagai fase hidup. Personal History adalah pengakuan bahwa sepeda selalu bermakna secara individual. Bagi Rosen, sepeda adalah kenangan masa kecil, alat pelarian, medium refleksi, dan teman setia dalam kesendirian. Dengan jujur, ia menunjukkan bahwa sepeda tidak selalu heroik. Ada kecelakaan, ketakutan, kelelahan, dan kehilangan. Namun justru di sanalah kekuatannya: sepeda adalah teknologi yang tumbuh bersama manusia, bukan menggantikan-nya.
Bab ini mengikat keseluruhan buku dengan dimensi eksistensial. Sejarah sepeda bukan hanya sejarah kota dan bangsa, tetapi juga sejarah tubuh-tubuh individu yang mengayuhnya.
Bab terakhir (Bab 15: Mass Movement) membawa kita ke masa kini dan masa depan. Mass Movement berbicara tentang kebangkitan kembali sepeda sebagai gerakan kolektif—bukan sekadar alat pribadi. Rosen membahas aktivisme pesepeda, gerakan kota ramah sepeda, dan perjuangan melawan dominasi mobil di ruang publik.
Ia menunjukkan bahwa sepeda hari ini berada di jantung perdebatan tentang krisis iklim, keadilan sosial, dan demokrasi kota. Jalanan bukan hanya soal transportasi, tetapi soal siapa yang berhak atas ruang, siapa yang diutamakan, dan siapa yang dikorbankan. Dalam konteks ini, sepeda kembali menjadi teknologi yang “tidak cocok” dengan sistem lama—dan justru karena itu relevan.
Namun Rosen tetap berhati-hati. Ia mengingatkan bahwa gerakan sepeda bisa jatuh ke dalam eksklusivitas kelas, gentrifikasi, dan simbolisme kosong jika tidak disertai kesadaran politik yang luas. Mass Movement bukan akhir yang triumfal, melainkan undangan untuk berpikir: apakah sepeda akan menjadi bagian dari transformasi sistemik, atau hanya aksesori hijau dari status quo?
Kelima bagian ini—dari Art Vélo hingga Mass Movement—menunjukkan bahwa sepeda dalam Two Wheels Good bukan sekadar objek sejarah. Ia adalah cermin peradaban. Melalui sepeda, Rosen mengajak kita membaca ulang modernitas: tentang kecepatan, kesenangan, kebebasan, pasar, dan kemungkinan hidup yang lebih manusiawi.
Sepeda dan Mobilitas
Bagaimana kita meletakkan sepeda, mobilitas, dan dunia setelah pertumbuhan? Kita perlu membaca dan membandingkan Two Wheels Good, On Bicycles, The Brompton, dan Just Enough sebagai Narasi Post-Growth Mobility. Hal ini penting ketika mobilitas tidak lagi berarti lebih cepat, lebih jauh, lebih banyak.
Modernitas industri mengajarkan kita satu mantra besar: bergerak lebih cepat, lebih jauh, dan lebih banyak adalah tanda kemajuan. Jalan raya melebar, mesin membesar, kota melaju, dan energi dibakar. Namun di tengah krisis iklim, kemacetan global, ketimpangan ruang kota, dan kelelahan eksistensial, paradigma ini runtuh. Mobilitas—yang dahulu identik dengan pem-bebasan—berubah menjadi sumber alienasi dan kehancuran ekologis.
Dalam konteks inilah empat buku yang tampaknya berbeda ini bertemu: Two Wheels Good (Rosen), On Bicycles (Friss), The Brompton (Butler-Adams), dan Just Enough (Brown). Keempatnya, secara eksplisit maupun implisit, membangun satu narasi bersama: sepeda sebagai model mobilitas pasca-pertumbuhan (post-growth mobility)—mobilitas yang tidak diukur oleh kecepatan dan skala, melainkan oleh kecukupan, relasi, dan keberlanjutan.
Two Wheels Good: sepeda sebagai kritik budaya atas modernitas pertumbuhan. Dalam Two Wheels Good, Jody Rosen menulis sejarah sepeda bukan sebagai kronologi teknologi, tetapi sebagai biografi kultural peradaban modern. Sepeda muncul sebagai mesin yang aneh: ia modern, tetapi tidak industrial secara total; ia teknologi, tetapi tidak mengasingkan tubuh; ia cepat, tetapi tidak rakus energi. Rosen menunjukkan bahwa sepeda selalu hadir sebagai alternatif laten terhadap logika pertumbuhan. Ketika mobil dan kereta api menuntut infra-struktur besar, bahan bakar fosil, dan kontrol terpusat, sepeda menawarkan kebebasan yang berskala manusia. Ia tidak menuntut ekspansi tak terbatas. Sepeda bekerja optimal justru ketika kota diperlambat, ruang dipersempit, dan jarak diperkecil.
Jody Rosen beroperasi dengan keyakinan bahwa objek sehari-hari adalah portal menuju sejarah manusia yang paling luas. Dengan memilih sepeda—benda yang ditemukan di hampir setiap sudut dunia—dia menunjukkan bagaimana teknologi sederhana dapat menjadi cermin yang memantulkan perubahan sosial, pergolakan politik, dan impian pribadi. Warisannya adalah pengingat akan kekuatan jurnalisme naratif untuk mengungkap keajaiban dan kompleksitas di dunia sekitar kita, dan untuk menceritakan kisah global melalui lensa dua roda yang sederhana.
Dalam kerangka post-growth, Two Wheels Good adalah teks yang menyingkap imajinasi modernitas lain—modernitas yang tidak identik dengan eskalasi, tetapi dengan keseimbangan. Sepeda menjadi simbol bahwa kemajuan tidak harus berarti “lebih,” melainkan bisa berarti “cukup dan tepat.”
Sementara On Bicycles membincangkan politik kota dan perlawanan terhadap rezim mobil. Jika Rosen bergerak di wilayah budaya dan imajinasi, Evan Friss dalam On Bicycles membawa kita ke arena politik konkret kota modern, khususnya New York. Di sini, sepeda tidak lagi netral; ia menjadi aktor dalam konflik kekuasaan.
Friss menunjukkan bahwa dominasi mobil bukanlah keniscayaan, melainkan hasil keputusan politik, ekonomi, dan ideologis. Robert Moses dan rezim pembangunan mobil menjadikan kota sebagai mesin lalu lintas, bukan ruang hidup. Dalam konteks ini, sepeda menjadi teknologi yang tidak cocok (misfit technology)—terlalu lambat, terlalu kecil, terlalu manusiawi untuk sistem yang mengejar throughput maksimum.
Dari perspektif post-growth, On Bicycles menegaskan bahwa transisi mobilitas bukan soal preferensi individu, tetapi soal restrukturisasi kekuasaan ruang. Sepeda menantang asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh peningkatan konsumsi energi dan kendaraan bermotor. Ia mengusulkan kota sebagai ekosistem sosial, bukan pabrik pergerakan.
Tidak kalah menarik adalah The Brompton sebuah gagasan perusahaan post-growth dan etika skala kecil. Jika dua buku sebelumnya berbicara tentang sepeda sebagai artefak budaya dan politik, The Brompton menunjukkan bagaimana etos post-growth dapat diwujudkan dalam praktik industri dan bisnis. Brompton bukan sekadar sepeda lipat; ia adalah manifestasi filosofi produksi yang menolak ekspansi tak terkendali. Will Butler-Adams menekankan kualitas, ketahanan, perbaikan, dan hubungan jangka panjang dengan pengguna. Brompton tidak mengejar volume maksimum, tetapi nilai maksimum per unit—nilai sosial, ekologis, dan emosional. Ini selaras dengan gagasan Company of One dan degrowth economics: perusahaan tidak harus tumbuh besar untuk bermakna.
Dalam narasi post-growth mobility, Brompton memperlihatkan bahwa mobilitas berkelanjutan membutuhkan struktur ekonomi yang berbeda, bukan sekadar teknologi hijau. Sepeda yang baik lahir dari sistem produksi yang menghormati batas, bukan dari logika ekstraksi dan obsolescence.
Maka pembahasan tentang sepeda mau tidak mau menjadi amat relevan jika kita membuka kembali lembar-lembar Just Enough yang membawa kita pada etika kecukupan dan mobilitas pra-industri yang relevan kembali. Azby Brown dalam Just Enough membawa perspektif yang lebih dalam secara historis dan filosofis. Dengan menelusuri Jepang era Edo, Brown menunjuk-kan bahwa masyarakat pra-industri mampu menciptakan sistem mobilitas rendah energi yang stabil selama berabad-abad.
Berjalan kaki, kereta tangan, dan sepeda awal beroperasi dalam etika mottainai—tidak berlebihan, tidak boros, dan selaras dengan alam. Mobilitas tidak dipahami sebagai hak untuk bergerak tanpa batas, tetapi sebagai tanggung jawab untuk tidak merusak keseimbangan sosial-ekologis.
Dalam konteks post-growth, Just Enough memberi dasar normatif yang kuat: sepeda bukan solusi teknis baru, tetapi kembalinya kebijaksanaan lama dalam bentuk modern. Mobilitas yang baik adalah mobilitas yang tahu kapan berhenti.
Sintesis: Post-Growth Mobility sebagai Etika, Politik, dan Cara Hidup
Jika keempat buku ini dibaca sebagai satu kesatuan, kita melihat sebuah narasi besar:
- Rosen memberi kita makna kultural sepeda sebagai alternatif modernitas.
- Friss menunjukkan pertarungan politik ruang kota.
- Butler-Adams memperlihatkan bagaimana etika tersebut bisa diinstitusionalisasi dalam produksi.
- Brown memberi fondasi moral dan historis tentang hidup dalam batas.
Bersama-sama, mereka merumuskan post-growth mobility sebagai mobilitas yang:
- tidak bergantung pada pertumbuhan energi dan infrastruktur,
- menghormati skala manusia,
- memperkuat relasi sosial,
- dan memulihkan hubungan dengan alam.
Sepeda, dalam narasi ini, bukan nostalgia atau hobi urban. Ia adalah teknologi moral—alat untuk membayangkan ulang kota, ekonomi, dan kehidupan setelah pertumbuhan.
Catatan Akhir: Dari Sepeda ke Masa Depan
Two Wheels Good bukan sekadar sejarah sepeda. Ia adalah meditasi tentang hubungan manusia dengan teknologi, tentang skala, tubuh, dan batas. Sepeda bertahan bukan karena ia paling kuat atau paling cepat, tetapi karena ia cukup—cukup cepat, cukup murah, cukup manusiawi. Dalam dunia yang terus memproduksi krisis, sepeda tetap menjadi pengingat sunyi bahwa kemajuan tidak selalu berarti lebih jauh, lebih cepat, atau lebih besar—kadang cukup berarti lebih seimbang.
Di tengah krisis iklim dan kebuntuan pertumbuhan, sepeda mengajarkan satu pelajaran sederhana namun radikal: bergerak lebih pelan bisa membawa kita lebih jauh secara peradaban. Dalam dunia pasca-pertumbuhan, mobilitas bukan lagi tentang kecepatan maksimum, tetapi tentang kehidupan yang dapat dipertahankan.
Sebagai penutup, Two Wheels Good adalah buku sejarah, esai budaya, dan surat cinta pada sepeda sekaligus. Sepeda sebagai puisi teknologi. Rosen menulis dengan kesadaran bahwa sepeda bukan hanya artefak masa lalu atau solusi masa depan, melainkan cermin peradaban. Cara sebuah masyarakat memperlakukan sepeda—di jalan, dalam kebijakan, dalam imajinasi—mengungkap bagaimana masyarakat itu memahami tubuh, kebebasan, dan kemajuan.
Seperti ditulis penyair Amerika William Carlos Williams, “No ideas but in things.” Sepeda, dalam buku Rosen, adalah “thing” yang sarat ide: tentang keseimbangan, kesederhanaan, dan kemungkinan hidup yang lebih waras di dunia yang terlalu cepat.
Belitung-Bogor, 25 Desember 2025- 3 Januari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Rosen, J. (2022). Two Wheels Good: The History and Mystery of the Bicycle. New York: Crown.
https://www.penguinrandomhouse.com/books/672642/two-wheels-good-by-jody-rosen/
Anthony, S. B. (1896). Bicycling and the woman question. (kutipan dikutip luas dalam sejarah sepeda).
https://www.britannica.com/topic/bicycle/The-safety-bicycle
Illich, I. (1973). Tools for Conviviality. New York: Harper & Row.
https://monoskop.org/images/9/9b/Illich_Ivan_Tools_for_Conviviality.pdf
Mumford, L. (1967). The Myth of the Machine. New York: Harcourt Brace Jovanovich.
https://archive.org/details/mythofmachinevol01murf
Hickel, J. (2020). Less Is More: How Degrowth Will Save the World. London: Heinemann.
https://www.penguin.co.uk/books/313/313192/less-is-more/9781786091215.html
Kallis, G. (2018). Degrowth. Newcastle: Agenda Publishing.
https://agenda-publishing.com/books/degrowth/






