Rubarubu #174
The Road Headed West:
Bekal Keberanian 6.000 Mil Menuju Barat
(Bagian 2 dari 2)
Melintasi Dataran Hingga Menyentuh Awan
Ada sebuah fase dalam perjalanan panjang ketika euforia awal telah pudar, ketika rasa sakit tidak lagi terasa istimewa, dan ketika setiap hari terasa seperti pengulangan dari hari sebelumnya. Inilah the middle—bagian tengah yang oleh Leon McCarron digambarkan bukan sebagai kemunduran, melainkan sebagai medan di mana perjalanan yang sesungguhnya dimulai (McCarron, 2014, Part Two). Jika bagian pertama bukunya penuh dengan kegugupan seorang pemula yang baru belajar mengayuh, maka bagian kedua dan ketiga adalah tentang seorang pengelana yang mulai menerima bahwa jalanan adalah rumahnya, dan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk pemandangan spektakuler, tetapi kadang dalam bentuk rutinitas yang tenang dan kepastian bahwa ia masih bergerak maju.
Bagian ini terbagi secara alami menjadi dua fase besar. Fase pertama adalah penyeberangan melintasi negara-negara bagian Midwestern yang luas dan datar—Wisconsin, Iowa, Nebraska, Dakota—tempat yang oleh McCarron disebut sebagai hamparan tanpa akhir yang menguji batas kesabaran sekaligus ketahanan mental (McCarron, 2014, Chapter 20-33). Fase kedua adalah pendakian ke Pegunungan Rocky dan seterusnya—Wyoming, Montana, Idaho, Washington—di mana bumi mulai terlipat, udara mulai menipis, dan sepeda yang tadinya menjadi beban kini menjadi satu-satunya hal yang menahannya dari jurang (McCarron, 2014, Part Three).
Negeri-Negeri di Tengah: Antara Kebosanan dan Keindahan yang Tak Terduga
McCarron melintasi The Badger State (Wisconsin) dan The Hawkeye State (Iowa) dengan perasaan campur aduk (McCarron, 2014, Chapter 20-21). Ia menggambarkan hamparan jagung dan kedelai yang membentang hingga ke ujung cakrawala, dengan kemiringan yang tidak pernah cukup curam untuk membuatnya bersemangat, tetapi juga tidak pernah cukup datar untuk membuatnya beristirahat. Ada kebosanan yang mendalam di sini, dan McCarron tidak berusaha menyembunyikannya. Namun dalam kebosanan itu, ia menemukan ritme—sebuah keadaan meditatif di mana pikiran mengembara ke masa lalu, ke masa depan, ke pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia hindari.
Ia kemudian memasuki Nebraska, atau tempat yang ia sebut sebagai “Between a Rock and a Hard Place” —sebuah area transisi yang tidak jelas batasnya, di mana Midwest bertemu dengan Great Plains, dan di mana ia merasa terjebak di antara dua dunia (McCarron, 2014, Chapter 22). Namun setelah malam yang gelap, selalu ada pagi. The Morning After the Night Before adalah bab tentang bagaimana ia bangun setelah hari terburuknya, membersihkan lumpur dari sepeda, dan memutuskan untuk terus melaju meskipun hatinya berat (McCarron, 2014, Chapter 23).
Salah satu bab yang paling unik dalam bagian ini adalah “Boxcar Hobo” (McCarron, 2014, Chapter 24). Suatu malam, karena tidak ada tempat berkemah yang aman, ia tidur di dalam gerbong kereta barang yang teronggok di rel mati. Ia membayangkan dirinya sebagai pengembara zaman Depresi, seorang hobo yang melompat kereta untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ini adalah momen koneksi sejarah yang aneh—sebuah pengingat bahwa ia bukanlah orang pertama yang melintasi benua ini dengan cara yang sederhana, dan bahwa semangat petualangan telah ada jauh sebelum ia lahir.
Kemudian tibalah saatnya ia memasuki The Mount Rushmore State (South Dakota), dan di sinilah lanskap mulai berubah secara dramatis (McCarron, 2014, Chapter 25). Badlands yang seperti bulan, Black Hills yang berkelok-kelok, dan akhirnya, wajah-wajah raksasa para presiden yang terukir di gunung. McCarron tidak terlalu terkesan dengan monumen buatan manusia itu dibandingkan dengan keindahan alam di sekitarnya. Ia merenungkan tentang ambisi dan kesombongan, tentang bagaimana manusia mencoba mengabadikan dirinya di atas batu sementara alam terus bergerak tanpa peduli.
“Where Nobody Knows My Name” adalah bab yang paling personal dalam fase ini (McCarron, 2014, Chapter 26). Setelah ribuan mil, ia menyadari bahwa ia benar-benar sendirian. Tidak ada yang tahu namanya di kota-kota kecil yang ia lewati; ia hanyalah “that guy on the bike” yang lewat, yang muncul tanpa diundang dan pergi tanpa pamit. Kesendirian ini, yang pada awalnya terasa menakutkan, kini mulai terasa membebaskan. Ia tidak perlu menjadi siapa-siapa; ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri.
Dalam “A Million Miles of Cycling” , ia merenung tentang jarak yang telah ia tempuh (McCarron, 2014, Chapter 27). Tidak benar-benar sejuta mil, tentu saja, tetapi terasa seperti itu. Tubuhnya telah berubah—kaki lebih berotot, kulit lebih gelap, paru-paru lebih kuat. Namun perubahan yang lebih dalam terjadi di dalam kepalanya. “I had become a different person,” tulisnya, “but I couldn’t quite put my finger on when it happened” .
“Kindred Spirits” akhirnya hadir di saat yang paling ia butuhkan (McCarron, 2014, Chapter 28). Ia bertemu dengan para pesepeda lain yang juga sedang dalam perjalanan panjang. Mereka berbicara dengan bahasa yang sama, tentang kepala angin, tentang ban kempes, tentang kebebasan yang tidak bisa dijelaskan kepada mereka yang belum pernah merasakannya. Persahabatan-persahabatan singkat ini adalah oase di gurun kesendirian.
“To Share the Road” adalah refleksinya tentang berbagi jalan raya dengan truk-trek besar yang melaju kencang (McCarron, 2014, Chapter 29). Beberapa pengemudi bersikap baik, memberi ruang; yang lain—terlalu banyak—sepertinya sengaja mendekat untuk menakut-nakuti. McCarron tidak membenci mereka, tetapi ia merenungkan mengapa ada orang yang begitu marah pada kehadiran seorang pesepeda di pinggir jalan.
“A Change in Scenery” akhirnya tiba ketika ia meninggalkan Great Plains dan mulai mendaki ke arah barat (McCarron, 2014, Chapter 30). Udara berubah. Bukit-bukit mulai muncul, kemudian gunung-gunung. Ia merasa segar kembali, meskipun ia tahu bahwa tanjakan yang akan datang akan jauh lebih berat daripada segala yang telah ia lalui.
Dalam bab yang lucu dan merendahkan hati, “Three Million?” (McCarron, 2014, Chapter 31), ia mengunjungi sebuah museum yang mengklaim memiliki fosil berusia tiga juta tahun. Ia bergurau dengan pemandu tentang bagaimana ia merasa seperti fosil juga setelah 3.000 mil di atas sepeda. Humor ini adalah mekanisme bertahan hidup: jika Anda tidak bisa tertawa pada diri sendiri, Anda akan menangis.
“Transitions” adalah bab tentang perubahan (McCarron, 2014, Chapter 32). Ia menyadari bahwa ia tidak lagi sama. Orang yang meninggalkan Belfast setengah tahun lalu adalah seorang pemuda yang cemas; orang yang sekarang mengayuh di kaki Pegunungan Rocky adalah seseorang yang sedikit lebih tenang, sedikit lebih percaya diri, dan sedikit lebih siap untuk apa pun yang akan datang.
“A Work That’s Open to the Sky” menutup bagian tengah (McCarron, 2014, Chapter 33). Ia merenung tentang pekerjaannya sebagai pesepeda—karena ia menganggap perjalanan ini sebagai pekerjaan, bukan sekadar liburan. Pekerjaan yang tidak memiliki atasan, tidak memiliki gaji tetap, tetapi memiliki jam kerja yang panjang dan upah yang dibayarkan dalam bentuk matahari terbenam, pemandangan yang indah, dan perasaan lega saat mencapai puncak.
Babak Gunung: Mengudara di Antara Awan dan Tanah
Bagian ketiga, “Into the Mountains,” adalah klimaks fisik dari perjalanan McCarron. Ia memasuki Wyoming, The Cowboy State, di mana danau-danau glasial memantulkan langit biru yang jernih dan jalanan berkelok di antara puncak-puncak yang diselimuti salju (McCarron, 2014, Chapter 34). Ia mendaki ke ketinggian yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya—Higher Than the Clouds , demikian judul bab yang menggambarkan pengalamannya saat ia melewati garis pohon dan memasuki zona di mana hanya rumput-rumput pendek dan bebatuan yang tersisa (McCarron, 2014, Chapter 35).
Di Buffalo Bill Country , ia melintasi wilayah yang dinamai menurut nama koboi legendaris, dan ia merenung tentang mitos Wild West yang telah ia konsumsi melalui film-film sejak kecil (McCarron, 2014, Chapter 36). Kenyataan, tentu saja, berbeda. Tidak ada koboi dengan cepat; yang ada hanyalah ia sendiri, seorang Irlandia di atas sepeda, berjuang melawan tanjakan yang tak berkesudahan.
“Riding Across a Supervolcano” adalah bab yang membuat bulu kuduknya berdiri (McCarron, 2014, Chapter 37). Ia melintasi Yellowstone, yang ternyata adalah kaldera raksasa dari gunung berapi super yang suatu saat akan meletus dan mengubah dunia. Ia berada di atas waktu yang tertidur, di atas kekuatan yang dapat menghancurkan peradaban. Ia merenung tentang kerapuhan dan keagungan alam, tentang betapa kecilnya manusia di hadapan bumi yang terus bergerak.
“The Treasure State” (Montana) membawanya ke hamparan langit biru yang tak berujung, hingga julukannya Big Sky Country terasa sangat pantas (McCarron, 2014, Chapter 38). Di sini, ia mulai drifting—melayang dalam keadaan antara sadar dan mimpi, antara lelah dan euforia (McCarron, 2014, Chapter 39). Ia seperti sungai yang mengalir, mengikuti arus gravitasi dan angin, tanpa perlu banyak berpikir.
“A River Runs Through It” adalah bab tentang air—tentang sungai-sungai yang ia sejajari, tentang hujan yang membasahinya, tentang keringat yang terus-menerus mengalir di punggungnya (McCarron, 2014, Chapter 40). Air adalah kehidupan, tetapi juga ujian. Ia belajar untuk berdamai dengan basah, untuk tidak lagi melawannya.
Ia kemudian melintasi Idaho dan Washington, dua negara bagian terakhir sebelum tujuan akhir (McCarron, 2014, Chapter 41). Gunung-gunung mulai menurun, dan ia bisa mencium bau laut—Samudra Pasifik yang telah menjadi mimpinya selama berbulan-bulan. Namun ada satu gunung terakhir yang tersisa, satu tanjakan yang olehnya disebut sebagai “The Final Hurdle” (McCarron, 2014, Chapter 42). Ia mendakinya dengan perlahan, dengan air mata yang menggenang di matanya, karena ia tahu bahwa di balik puncak itu, perjalanannya akan berakhir.
Pelajaran dari Jalanan yang Berliku
Apa yang membuat bagian tengah dan gunung ini begitu kuat adalah transformasi McCarron yang tidak dipaksakan. Ia tidak tiba-tiba menjadi bijak, tidak tiba-tiba menjadi pahlawan. Sebaliknya, ia berubah secara perlahan, tanpa ia sadari, hingga pada suatu titik ia melihat ke belakang dan menyadari bahwa ia telah melakukan perjalanan yang tidak pernah ia yakini mampu ia lakukan.
Dalam sebuah wawancara kemudian, McCarron berkata bahwa “adventure is about getting lost, and being vulnerable, because that’s when the greatest kindnesses appear” . Dalam bab-bab ini, ia adalah makhluk yang rentan di hadapan gunung, badai, dan kesendirian. Namun justru dalam kerentanannya itu, ia menemukan kebaikan—dari sesama pesepeda, dari orang-orang asing di kota kecil, dari anjing-anjing liar yang mengikutinya sesaat, dan dari suara hatinya sendiri yang tidak pernah berhenti berkata, “Teruslah. Kau hampir sampai.”
Dalam tradisi filsafat, terdapat konsep tentang perjalanan sebagai pendidikan. Al-Ghazali, filsuf Muslim abad ke-12, melakukan perjalanan panjang keliling dunia Islam sebelum ia mencapai pencerahan spiritual. Dalam al-Munqidh min al-Dalal (Sang Penyelamat dari Kesesatan), ia menulis bahwa perjalanan membukakan pintu-pintu kebenaran yang tidak dapat dibuka oleh buku-buku. McCarron, delapan abad kemudian, melakukan perjalanan yang sama—bukan untuk mencari Tuhan dalam pengertian tradisional, tetapi untuk mencari kebenaran tentang dirinya sendiri, tentang kemampuannya, dan tentang apa artinya menjadi manusia di planet yang luas dan indah ini.
Pada akhir bagian ini, ia belum sampai di Samudra Pasifik, tetapi ia sudah cukup dekat untuk merasakan aroma air asin. Ia sudah cukup dekat untuk mengetahui bahwa ia akan berhasil. Dan bagi kita, para pembaca yang menemaninya melalui angin sakal dan hujan deras, kita sudah tahu bahwa ia akan berhasil—bukan karena ia yang terkuat atau tercepat, tetapi karena ia tidak pernah berhenti.
Kedatangan yang Terasa Hampa
Setelah berminggu-minggu mendaki pegunungan, setelah lutut yang berdenyut dan paru-paru yang terbiasa dengan udara tipis, setelah badai dan beruang dan kebosanan yang hampir menghancurkannya, Leon McCarron akhirnya tiba di Seattle. Namun kedatangannya tidak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada confetti, tidak ada kerumunan yang bersorak, tidak ada pelukan hangat dari orang-orang yang ia cintai. Yang ada hanyalah ia, sepedanya, dan kota yang dingin dan basah di tepi Samudra Pasifik. Ia telah mencapai salah satu tujuannya—Samudra Pasifik—tetapi ia tidak merasa lega. Yang ia rasakan justru kehampaan (McCarron, 2014, Chapter 43).
McCarron menggambarkan momen ini dengan kejujuran yang menusuk. Ia telah mendorong dirinya sendiri selama ribuan mil dengan satu fokus: mencapai pantai barat. Dan ketika ia akhirnya berdiri di tepi laut, menyaksikan ombak yang tak pernah lelah menghantam karang, ia bertanya pada dirinya sendiri, “Is this it? Apakah ini semua?” (McCarron, 2014, Chapter 43). Ada kekecewaan yang aneh dalam pencapaian, sebuah realisasi bahwa tujuan yang selama ini ia kejar hanyalah sebuah titik di peta, dan bahwa perjalanan yang sesungguhnya—transformasi internal yang ia alami—tidak dapat diukur dengan mil atau dirayakan dengan sorak-sorai.
Di sinilah McCarron menunjukkan kedewasaan yang tidak dimilikinya di awal perjalanan. Ia tidak menutupi kekecewaannya dengan narasi palsu tentang kebahagiaan. Sebaliknya, ia mengakuinya, merenunginya, dan kemudian, perlahan-lahan, mulai memprosesnya. Bab “One Step North, Two Steps South” adalah tentang bagaimana ia bergerak tanpa tujuan yang jelas di Seattle, seperti kapal tanpa kemudi, mencoba memahami apa yang harus ia lakukan selanjutnya (McCarron, 2014, Chapter 44). Ia tidak siap untuk pulang, tetapi ia juga tidak tahu harus ke mana lagi.
Keputusan untuk Terus ke Selatan
Kemudian, sebuah ide muncul. Ia belum cukup. 6.000 mil belum cukup. Ia tidak akan pulang ke Irlandia dengan perasaan bahwa perjalanannya sudah selesai. Ia memutuskan untuk terus bersepeda ke selatan, menyusuri Pantai Barat Amerika, melewati Oregon, California, hingga ke perbatasan Meksiko (McCarron, 2014, Chapter 45). Keputusan ini, yang mungkin terlihat gila bagi orang luar, adalah bukti bahwa ia telah berubah. Pria yang dulu takut untuk memulai sekarang takut untuk berhenti. “The road had become my home,” tulisnya, “and I wasn’t ready to leave home just yet” .
Ia memasuki Oregon, ke Portland yang terkenal dengan semboyannya, “Keep Portland Weird”(McCarron, 2014, Chapter 46). Ia menemukan kota yang ramah kepada para pesepeda, dengan jalur-jalur yang terawat dan budaya yang merayakan kemandirian. Ia singgah sebentar, menikmati kopi yang enak, berbincang dengan orang-orang yang penasaran dengan ceritanya, dan kemudian, karena ia tidak pernah betah terlalu lama di satu tempat, ia melaju lagi.
“To Sleep in the Trees” adalah bab tentang tidur di hutan-hutan Oregon yang lebat (McCarron, 2014, Chapter 47). Ia menggantung tempat tidurnya di antara dahan-dahan pohon raksasa, tidur dengan suara burung hantu dan angin yang berbisik di dedaunan. Ada kedamaian di sini yang tidak ia temukan di kota-kota besar. Alam, baginya, adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu menjadi apa pun selain dirinya sendiri.
“My Witness Is the Empty Sky” adalah salah satu bab yang paling puitis dalam buku ini (McCarron, 2014, Chapter 48). Setelah ribuan mil, ia menyadari bahwa tidak ada yang menyaksikan perjuangannya selain langit yang kosong dan luas. Tidak ada kamera, tidak ada juri, tidak ada penghargaan. Yang ada hanyalah ia dan sepedanya, dan tekad yang tidak dapat dijelaskan kepada siapa pun. Ini adalah pengakuan bahwa perjalanan sejati bersifat sangat pribadi, bahwa tidak ada yang benar-benar memahami apa yang ia alami kecuali ia sendiri.
California dan Aroma Keberhasilan yang Pahit
Ketika ia memasuki California, The Golden State, ia mulai merasakan perubahan lain (McCarron, 2014, Chapter 49). Cuaca menjadi lebih hangat, pemandangan menjadi lebih indah, dan orang-orang—setidaknya tampaknya—lebih santai. Ia melewati pantai-pantai yang terkenal, kota-kota yang glamor, dan ladang-ladang anggur yang membentang luas. Namun ia tidak terbuai. Ia terlalu lama di jalan untuk menjadi turis. Ia tetap fokus pada tujuannya: mencapai perbatasan Meksiko, dan kemudian, memutuskan kapan waktunya berhenti.
“Carried Away” adalah bab tentang momen-momen ketika ia kehilangan kendali (McCarron, 2014, Chapter 50). Kadang karena angin sakal yang terlalu kencang, kadang karena tanjakan yang terlalu curam, kadang karena pikirannya sendiri yang terlalu lelah untuk berpikir jernih. Ia belajar bahwa dalam perjalanan sejauh ini, ia harus menerima bahwa tidak semuanya dapat ia kendalikan. Ada kekuatan yang lebih besar—alam, takdir, atau apa pun namanya—yang kadang membawanya pergi.
“The Land of Milk and Honey” adalah julukan yang sering diberikan pada California, dan McCarron merenungkan ironi dari nama itu (McCarron, 2014, Chapter 51). Tempat yang ia lewati memang subur dan kaya, tetapi ia tidak merasa seperti sedang memasuki tanah perjanjian. Yang ia rasakan justru kerinduan yang aneh pada kesederhanaan Great Plains, pada kebosanan yang dulu ia benci tetapi sekarang ia rindukan.
Akhir yang Sebenarnya Bukan Akhir
Bab terakhir, “The End of the Beginning,” adalah penutup yang sempurna untuk buku ini (McCarron, 2014, Chapter 52). McCarron mencapai perbatasan Meksiko. Ia tidak melewatinya; ia berhenti tepat di garis batas, di tepi laut, dan menatap ke selatan. Ia bisa terus melaju, memasuki Meksiko, memperpanjang perjalanannya tanpa batas. Namun ia memutuskan untuk berhenti. Bukan karena ia lelah, tetapi karena ia tahu bahwa perjalanan ini harus memiliki akhir agar ia bisa memulai perjalanan berikutnya.
Ia merenungkan apa yang telah ia pelajari. Ia belajar bahwa ia lebih kuat dari yang ia duga, tetapi juga lebih rapuh. Ia belajar bahwa orang asing bisa menjadi sahabat terbaik, dan bahwa kesendirian bisa menjadi guru yang paling kejam. Ia belajar bahwa peta tidak pernah sepenuhnya benar, bahwa rencana hampir selalu berubah, dan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan di tujuan, tetapi di jalan.
“The end of the beginning” —bukan akhir dari perjalanan, tetapi akhir dari babak pertama kehidupannya sebagai seorang pengelana. Ia pulang ke Irlandia dengan tubuh yang lebih kurus, kulit yang lebih gelap, dan jiwa yang lebih dalam. Namun ia tahu bahwa ia tidak akan tinggal diam untuk waktu yang lama. Panggilan jalanan akan kembali, dan ia akan menjawabnya, seperti yang telah ia lakukan berkali-kali dalam buku-bukunya berikutnya —melintasi Gurun Gobi, menyusuri Sungai Yukon, atau berjalan kaki melintasi Timur Tengah.
Pelajaran dari Seorang Pria yang Pernah Takut untuk Memulai
Apa yang membuat bagian akhir buku ini begitu kuat adalah kejujuran McCarron tentang ketidakpastian. Ia tidak pulang dengan membawa jawaban untuk semua pertanyaan besar. Ia pulang dengan membawa lebih banyak pertanyaan. Namun ia pulang dengan keyakinan bahwa ia mampu melakukan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan, dan bahwa ketakutan—meskipun tidak pernah benar-benar hilang—dapat dihadapi.
Dalam dunia yang semakin terobsesi dengan kecepatan dan efisiensi, buku McCarron adalah pengingat bahwa perjalanan yang lambat, yang melelahkan, dan yang tidak nyaman, seringkali adalah perjalanan yang paling berharga. Ia mengajarkan bahwa ketakutan bukanlah alasan untuk tidak memulai, dan bahwa ketidaksiapan bukanlah halangan yang tidak dapat diatasi. Ia adalah manusia biasa yang melakukan sesuatu yang luar biasa, bukan karena ia istimewa, tetapi karena ia memutuskan untuk memulai, dan kemudian, dengan keras kepala, menolak untuk berhenti.
Dalam tradisi intelektual Islam, ada konsep tentang rihlah (perjalanan) sebagai sarana untuk mencari ilmu, pengalaman, dan kadang-kadang, diri sendiri. Para ulama masa lalu melakukan perjalanan ribuan mil hanya untuk mendengar satu hadis dari seorang guru, atau untuk melihat pemandangan yang dapat membuka pintu-pintu pemahaman. McCarron, tanpa klaim keagamaan, melakukan hal yang sama. Ia melakukan rihlah modern, lintas benua, dengan sepeda sebagai kendaraannya, dan dengan dirinya sendiri sebagai murid yang paling keras kepala.
Pada akhirnya, The Road Headed West bukanlah buku tentang bersepeda. Ia adalah buku tentang menjadi manusia. Tentang memiliki mimpi yang terlalu besar dan terlalu gila, lalu mewujudkannya, lalu menemukan bahwa perasaan setelah mewujudkannya tidak seperti yang Anda bayangkan, lalu memutuskan untuk bermimpi lagi. Karena, seperti yang ditulis McCarron di halaman terakhirnya, perjalanan yang paling penting bukanlah yang Anda lakukan dengan kaki Anda, tetapi yang Anda lakukan dengan hati Anda. Dan perjalanan itu, untuk semua orang, tidak pernah benar-benar berakhir.
Catatan Akhir: Saat Roda Berhenti Berputar, Pikiran Justru Terus Melaju
Apa yang bisa kita petik dari buku McCarron untuk situasi saat ini dan masa depan?
Pertama, bahwa petualangan tidak memerlukan persiapan yang sempurna. McCarron memulai dengan pengetahuan yang minimal, dan itu tidak menghentikannya. Di dunia yang sering melumpuhkan kita dengan tuntutan akan “kesiapan” yang berlebihan, kisahnya adalah pengingat bahwa langkah pertama adalah yang terpenting, bukan rencana kelima.
Kedua, bahwa kerentanan adalah kekuatan. Dengan bersepeda, McCarron menempatkan dirinya dalam posisi yang rentan di jalan raya. Namun justru dalam kerentanannya itu, ia menemukan kebaikan orang asing yang tidak akan pernah ia temui jika ia melaju dengan mobil ber-AC. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi dan penuh ketakutan akan “yang lain,” buku ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, kita semua adalah manusia yang sama.
Ketiga, bahwa melambat adalah bentuk perlawanan. Di tengah budaya yang mendorong kita untuk terus mempercepat, memperbarui, dan mengonsumsi, memilih untuk bersepeda adalah pernyataan politik yang tenang namun kuat. Ia mengatakan bahwa kita tidak setuju dengan logika kecepatan dan efisiensi yang mengorbankan jiwa. Ia mengatakan bahwa kita masih percaya pada keindahan perjalanan yang lambat, yang memungkinkan kita untuk merasakan angin di wajah, mencium aroma tanah setelah hujan, dan mendengar suara burung di pagi hari.
Leon McCarron tidak menulis buku ini untuk menjadi kaya atau terkenal. Dalam pengakuannya sendiri, “I have written this book largely for selfish reasons” . Ia menulis untuk memahami apa yang baru saja ia alami, untuk mengabadikan kenangan, dan mungkin, untuk membujuk dirinya sendiri bahwa semua rasa sakit itu layak.
Ada sebuah perasaan aneh yang mungkin hanya dipahami oleh mereka yang telah menyelesai-kan perjalanan yang sangat panjang. Setelah ribuan mil, setelah berbulan-bulan hidup dengan rutinitas yang sederhana—bangun, berkemas, mengayuh, makan, tidur, ulangi—tiba-tiba semuanya berhenti. Leon McCarron, di epilog bukunya, menggambarkan momen ketika ia tiba di perbatasan Meksiko dan melepas sepatu sepedanya untuk terakhir kalinya.
Ia tidak melompat kegirangan. Ia tidak menangis. Ia hanya berdiri di sana, di tepi laut, dengan perasaan hampa yang aneh, seolah ada sesuatu yang telah mati di dalam dirinya tetapi juga sesuatu yang baru lahir (McCarron, 2014, Epilogue).
Epilog ini bukanlah babak di mana McCarron membagikan kebijaksanaan murahan tentang “mengikuti mimpimu” atau “taklukkan ketakutanmu.” Ia terlalu jujur untuk itu. Sebaliknya, ia menulis tentang kesulitan kembali ke kehidupan normal. Ia menulis tentang bagaimana ia terbangun di tengah malam di kamar tidurnya di Belfast, tangannya secara refleks mencari tenda yang tidak ada, telinganya mendengar suara truk yang lewat di jalan raya dan salah mengiranya sebagai angin di padang rumput Dakota (McCarron, 2014, Epilogue). Ia menderita apa yang oleh para pengelana jarak jauh sebut sebagai post-adventure blues—sebuah depresi ringan yang muncul bukan karena perjalanannya buruk, tetapi karena perjalanannya sudah berakhir.
Ia menggambarkan dengan jujur bagaimana ia merasa canggung dalam percakapan dengan teman-teman yang tidak mengerti apa yang telah ia alami. “Kamu pasti senang bisa pulang,” kata mereka, dengan niat baik. Dan ia mengangguk, tersenyum, padahal di dalam hatinya ia ingin berteriak bahwa ia tidak senang, bahwa ia ingin kembali ke jalanan, bahwa ia merasa lebih hidup ketika ia basah oleh hujan dan kelelahan oleh tanjakan daripada ketika ia duduk di sofa yang nyaman (McCarron, 2014, Epilogue).
Transformasi yang Tidak Bisa Dijelaskan dengan Kata-Kata
Salah satu bagian paling kuat dari epilog ini adalah ketika McCarron mencoba merangkum apa yang telah ia pelajari. Ia tidak memberikan daftar “sepuluh pelajaran hidup dari bersepeda melintasi Amerika.” Sebaliknya, ia mengakui bahwa beberapa transformasi begitu dalam sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. “I am not the same person who left Belfast all those months ago,” tulisnya, “but I cannot fully explain how I have changed, or even whether the change is permanent” (McCarron, 2014, Epilogue).
Ia merenungkan tentang kesendirian yang telah ia alami. Selama berbulan-bulan, ia hanya memiliki pikirannya sendiri sebagai teman bicara. Tidak ada televisi, tidak ada radio, tidak ada podcast, tidak ada media sosial. Hanya ia, jalanan, dan suara napasnya yang teratur. Dalam keheningan itu, ia harus menghadapi semua setan yang selama ini ia hindari—ketakutan akan masa depan, penyesalan akan masa lalu, keraguan tentang kemampuannya sendiri. Ia tidak mengalahkan setan-setan itu, karena setan tidak bisa dikalahkan. Namun ia belajar untuk duduk bersama mereka, mendengarkan mereka, dan pada akhirnya, melanjutkan perjalanan meskipun mereka masih ada di dalam kepalanya.
Ia juga merenungkan tentang orang-orang yang ia temui di jalan. Ada petani yang mengundangnya makan malam, ada mekanik bengkel yang memperbaiki sepedanya tanpa bayaran, ada ibu-ibu yang memaksanya tidur di sofa karena khawatir melihat pemuda kurus kedinginan di pinggir jalan. McCarron menyadari bahwa kebaikan adalah hal yang paling tidak terduga dalam perjalanannya. Ia berangkat dengan rasa takut pada orang asing, dan pulang dengan keyakinan bahwa kebanyakan orang, jika diberi kesempatan, akan memilih untuk menjadi baik.
Panduan untuk Mereka yang Ingin Mengikuti Jejak
Setelah epilog yang reflektif dan personal, McCarron mengejutkan pembacanya dengan sebuah bagian yang sama sekali berbeda: “Cycle Touring: A How-to of Bicycle Travel” (McCarron, 2014, Cycle Touring). Ini bukanlah kelanjutan dari narasi, melainkan sebuah buku kecil di dalam buku—sebuah panduan praktis bagi mereka yang terinspirasi oleh kisahnya dan ingin melakukan perjalanan serupa.
Bagian ini adalah bukti bahwa McCarron tidak menulis untuk memamerkan egonya. Ia benar-benar ingin membantu orang lain. Ia membagikan segala sesuatu yang ia pelajari dengan susah payah: tentang bagaimana memilih sepeda yang tepat (jangan yang terlalu mahal, karena Anda tidak akan berani meninggalkannya di luar tenda), tentang bagaimana mengemas barang (yang berat di bawah, yang ringan di atas), tentang bagaimana merencanakan rute (jangan terlalu kaku, karena rencana akan berubah), dan tentang bagaimana mengelola keuangan (bawa lebih sedikit uang daripada yang Anda kira, karena Anda akan belajar hidup sederhana) (McCarron, 2014, Cycle Touring).
Ia juga membagikan tips-tips yang hanya diketahui oleh mereka yang pernah melakukannya: bagaimana menghindari anjing-anjing yang mengejar di pedesaan, bagaimana mencari tempat berkemah gratis, bagaimana menambal ban ketika sedang hujan deras, dan yang terpenting, bagaimana menjaga kesehatan mental ketika kesepian terasa terlalu berat (McCarron, 2014, Cycle Touring).
Namun yang paling menarik dari bagian ini adalah kerendahan hati McCarron. Ia berulang kali mengingatkan bahwa ia bukanlah ahli, bahwa ada banyak cara untuk melakukan perjalanan, dan bahwa pembaca harus menemukan gaya mereka sendiri. “This is what worked for me,” tulisnya, “but your journey will be different, and that’s exactly as it should be” (McCarron, 2014, Cycle Touring).
Jika buku ini hanya berakhir di perbatasan Meksiko, dengan McCarron menatap laut dan tersenyum, kita akan merasa puas tetapi mungkin juga sedikit terganggu. Kita akan bertanya-tanya: apa yang terjadi setelah ia pulang? Apakah ia benar-benar berubah? Dan apakah kita, para pembaca, bisa melakukan hal yang sama?
Epilog menjawab pertanyaan pertama. Ia menunjukkan bahwa kembali ke “dunia nyata” setelah petualangan besar bukanlah hal yang mudah, dan bahwa transformasi yang terjadi di jalanan tidak selalu bertahan ketika kita kembali ke kenyamanan. Ini adalah pengingat yang penting, terutama bagi mereka yang bermimpi untuk melarikan diri: bahwa lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah, dan bahwa pada akhirnya, kita harus kembali dan menghadapi kehidupan kita yang biasa.
Panduan perjalanan menjawab pertanyaan kedua dan ketiga. Ia menunjukkan bahwa McCarron tidak menganggap dirinya istimewa. Ia percaya bahwa siapa pun, dengan persiapan yang tepat dan tekad yang cukup, dapat melakukan perjalanan serupa. Ia membagikan pengetahuannya dengan murah hati, tanpa merasa bahwa ia sedang “menurunkan rahasia” yang hanya boleh diketahui oleh segelintir orang.
Pelajaran untuk Kita yang Masih di Rumah
Apa yang bisa kita petik dari dua bagian terakhir buku McCarron ini? Mungkin, yang paling penting adalah bahwa petualangan bukanlah tentang melarikan diri dari kehidupan, tetapi tentang menemukan cara untuk hidup lebih dalam. McCarron tidak bersepeda melintasi Amerika karena ia membenci kehidupan normalnya. Ia melakukannya karena ia ingin merasakan kehidupan dengan intensitas yang lebih tinggi, karena ia ingin menguji batas-batasnya, dan karena ia percaya bahwa ada kebijaksanaan yang hanya bisa ditemukan di pinggir jalan, di tenda yang bocor, dan di percakapan dengan orang asing.
Kedua, ia mengajarkan bahwa kembali bukanlah kegagalan. Banyak orang terjebak dalam siklus petualangan yang tak berujung karena mereka takut untuk pulang dan menghadapi kenyataan. McCarron menunjukkan bahwa pulang bisa menjadi bagian dari petualangan. Ia tidak menyesali keputusannya untuk berhenti di perbatasan Meksiko. Ia merayakannya sebagai akhir yang tepat, karena ia tahu bahwa ada hal-hal lain yang harus ia lakukan, orang-orang lain yang harus ia cintai, dan versi dirinya yang lain yang harus ia hidupi di rumah.
Ketiga, ia mengajarkan bahwa berbagi adalah bagian dari perjalanan. McCarron tidak menyimpan pengetahuannya untuk dirinya sendiri. Ia menulis panduan, ia menjawab pertanyaan, ia menginspirasi orang lain untuk memulai. Dalam hal ini, ia adalah seorang guru yang baik—bukan guru yang menggurui, tetapi guru yang mengatakan, “Ini yang aku lakukan. Aku tidak tahu apakah itu akan berhasil untukmu, tetapi jika kamu ingin mencoba, aku akan membantumu.”
Dalam tradisi intelektual Islam, ada konsep tentang ilmu yang bermanfaat—pengetahuan yang tidak hanya disimpan di dalam kepala, tetapi dibagikan kepada orang lain sehingga mereka juga bisa mendapatkan manfaatnya. McCarron, tanpa klaim keagamaan, mempraktikkan konsep ini dengan sempurna. Ia tidak hanya mengalami petualangan; ia juga menuangkannya ke dalam buku, sehingga kita, yang mungkin tidak akan pernah bersepeda melintasi Amerika, bisa ikut merasakan dinginnya angin di Pegunungan Rocky, hangatnya senyum orang asing, dan getaran kebahagiaan saat mencapai puncak.
Bagi kita, para pembaca, hasil dari “selfish reasons” itu adalah sebuah hadiah yang tak ternilai. The Road Headed West adalah undangan untuk bermimpi, untuk mempertimbangkan kembali apa artinya hidup dengan sungguh-sungguh, dan untuk menyadari bahwa dunia masih luas, bahwa kebaikan masih berlimpah, dan bahwa kita semua, pada kapasitas masing-masing, bisa menjadi petualang.
Dalam kata-kata McCarron sendiri di akhir tulisannya untuk blog Alastair Humphreys: “Adventure is everywhere, and one of the best ways I know to find it is by stepping out your front door and pedalling away, heading always a little further beyond the limits of your known world” .
Mungkin, di situlah letak kebijaksanaan sejati dari buku ini. Tidak harus 6.000 mil. Tidak harus melintasi benua. Cukup keluar dari pintu rumah, naik sepeda, dan berkeliling di lingkungan yang belum pernah Anda jelajahi. Karena petualangan, seperti yang diajarkan McCarron, dimulai bukan ketika Anda tiba di tempat yang jauh, tetapi ketika Anda memutuskan untuk memulai.
Pada akhir epilog, McCarron menulis sebuah kalimat yang mungkin menjadi pesan terpenting dari seluruh bukunya: “The hardest part of any journey is not the mountains or the headwinds or the loneliness. The hardest part is deciding to go” (McCarron, 2014, Epilogue).
Ia tidak sedang menyuruh kita untuk menjual semua yang kita miliki dan bersepeda melintasi benua. Ia sedang menyuruh kita untuk menemukan “gunung” kita masing-masing—sesuatu yang menakutkan, sesuatu yang tidak kita yakini mampu kita lakukan, dan kemudian, mengambil langkah pertama. Langkah pertama bisa sekecil apa pun: membuka peta, membaca buku, berbicara dengan seseorang yang pernah melakukannya. Yang penting adalah memulai.
Karena, seperti yang telah ia buktikan, perjalanan 6.000 mil dimulai dengan satu kayuhan. Dan satu kayuhan itu, pada akhirnya, adalah yang paling sulit—dan yang paling berharga.
Bogor, 22 April 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Humphreys, A. (2014, July 6). The Road Headed West. Alastair Humphreys Blog. https://alastairhumphreys.com/blog/road-headed-west/
Irish Times. (2014, August 6). Leon McCarron’s excellent adventures. The Irish Times. https://staging.irishtimes.com/culture/books/leon-mccarron-s-excellent-adventures-1.1889264
McCarron, L. (2014). Epilogue; Cycle touring: A how-to of bicycle travel. Dalam *The road headed west: A 6,000-mile cycling odyssey through North America* (hlm. 330-346). Skyhorse Publishing.
McCarron, L. (2014). Author’s note; Prologue. Dalam *The road headed west: A 6,000-mile cycling odyssey through North America* (hlm. 9-13). Skyhorse Publishing.
Toronto Public Library. (2015). *The road headed west: a 6,000-mile cycling odyssey through North America*. https://www.torontopubliclibrary.ca/detail.jsp?Entt=RDM3686865&R=3686865






