Rubarubu #186
The Man and His Bike:
Ketika Ban Berbisik, Manusia Merenung
Bayangkan sejenak Anda berdiri telanjang di atas batu bulat kuno di pedesaan Belgia, pagi buta, kabut tebal menyelimuti, dan di tangan Anda tergenggam sebuah ban sepeda. Pemandangan ini absurd. Namun inilah salah satu adegan paling ikonik yang dilukiskan oleh Wilfried de Jong dalam bukunya yang memikat, The Man and His Bike. Adegan itu bukanlah sekadar kejutan untuk mengejutkan. Ia adalah metafora tentang kerentanan, tentang melepaskan segala kepura-puraan, dan tentang kembali ke esensi paling dasar dari bersepeda: tubuh telanjang, mesin sederhana, dan jalanan yang tidak pernah benar-benar ramah.
Wilfried de Jong, seorang jurnalis dan pembawa acara televisi kenamaan Belanda yang memenangkan penghargaan Nico Scheepmaker Award untuk buku olahraga terbaik tahun 2012 , tidak menulis buku panduan perbaikan sepeda atau analisis kebijakan transportasi. Ia menulis kumpulan kisah—otobiografis, reflektif, kadang lucu, kadang melankolis—yang secara kolektif membentuk sebuah meditasi tentang kehidupan, kematian, cinta, dan segala yang terjadi di antaranya, semuanya dilihat dari ketinggian sadel sepeda.
Buku yang kita perbincangkan ini, yang diterjemahkan dengan apik oleh David Doherty ke dalam bahasa Inggris pada tahun 2017, adalah sebuah karya yang sulit diklasifikasikan: ia adalah memoir, ia adalah jurnalisme olahraga, ia adalah filsafat populer, tetapi di atas segalanya, ia adalah surat cinta pada aktivitas yang penuh dengan rasa sakit, hukuman, dan kemungkinan besar kegagalan itu .
Menyusuri Keheningan dan Keramaian
Buku ini bergerak seperti seorang pengendara sepeda yang mahir: ia melaju cepat di tikungan-tikungan tajam balapan profesional, lalu melambat hingga hampir berhenti di jalan setapak terpencil di mana hanya suara burung dan deru angin yang menemani. De Jong adalah seorang pengamat yang tajam. Ia menggambarkan peleton Tour de France tidak hanya sebagai kumpulan atlet, tetapi sebagai “seekor bunglon raksasa yang terus berubah bentuk dan warna” sementara “empat ratus ban bernyanyi untuk kita. Musik untuk Minggu sore.” Ia mampu menangkap drama yang terhampar di kafe yang terlupakan saat rombongan balapan lewat, atau absurditas menyakitkan ketika seekor burung secara tragis mengakhiri perjalanan bersepedanya.
De Jong tidak hanya berbicara tentang balapan. Ia berbicara tentang kesendirian. Ketika ia merenung, “mengejar esensi eksistensi kita dengan berlatar belakang ajang balap utama atau saat menjelajah sendirian di alam” , ia melakukan apa yang dilakukan oleh para filsuf dan penyair terbaik: ia menggunakan aktivitas fisik yang berulang—memutar pedal—sebagai mantra meditasi. Gerakannya yang melingkar membawa pikirannya berputar ke dalam, menelisik pertanyaan-pertanyaan besar: mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan? Mengapa kita mencintai apa yang menyakiti kita? Mengapa kita terus berjalan ketika kita tahu bahwa kita akan gagal?
Banyak kritikus memuji kejeniusan de Jong dalam menangkap kontradiksi ini. Charly Wegelius menyebutnya “pada saat-saat tertentu lucu, pada momen lain membuat berpikir.” Martin Love dari The Guardian mencatat gaya khasnya yang “rendah hati, lucu, dan melankolis” serta menyatakan bahwa buku ini “akan menginspirasi Anda untuk kembali ke sepeda.” De Jong berhasil mengupas jiwa bersepeda—mengapa kita melakukannya, mengapa kita menontonnya, mengapa kita membencinya, mengapa kita mencintainya—hingga telanjang.
Jika kita membaca buku ini dengan seksama, ada tiga lapis pemaknaan yang ditawarkan de Jong. Tiga Wajah Bersepeda: Tubuh, Sendiri, dan Dunia.
Pertama, bersepeda sebagai pengalaman tubuh yang mentah. De Jong tidak pernah melukiskan pesepeda sebagai pahlawan super. Ia justru menonjolkan kerapuhan: seorang pesepeda yang tertinggal duduk miring di atas sepedanya setelah jatuh, “kulit sikunya tergores mentah, tanah Tour melekat di luka itu. Tapi ia harus terus berjalan. Tour tidak menunggu siapa pun” . Di sini, bersepeda adalah tentang mengatasi rasa sakit, tentang menerima kegagalan sebagai bagian tak terpisahkan dari usaha, dan tentang terus bergerak meskipun tubuh menjerit minta berhenti.
Kedua, bersepeda sebagai perjalanan kesendirian untuk menemukan diri. Ketika de Jong berkendara sendirian di alam, ia tidak sedang melarikan diri dari dunia. Ia sedang masuk lebih dalam ke dalam dirinya. Ia merenungkan cinta dan kematian , dua kutub yang menarik dan menakutkan setiap manusia. Di atas sepeda, tanpa gangguan ponsel atau percakapan, pikirannya bebas melayang. Ini adalah bentuk kontemplasi modern, sebuah “doa dalam gerakan” bagi mereka yang mungkin tidak lagi pergi ke gereja. Aktivitas fisik menjadi pintu masuk menuju kesadaran spiritual.
Ketiga, bersepeda sebagai cara melihat—dan merasakan—dunia. Ini mungkin pesan paling relevan dari de Jong untuk situasi kita saat ini. “The world as seen from a bike” (Dunia seperti yang dilihat dari atas sepeda), demikian judul deskripsi bukunya . Dan sungguh, dunia yang dilihat dari atas sepeda sangat berbeda. Kecepatannya manusiawi. Suaranya tidak teredam kaca mobil. Baunya tidak tersaring AC. Seorang pesepeda tidak melewati dunia; ia berada di dalam dunia. Ia merasakan tanjakan, merasakan hembusan angin, merasakan tetesan hujan pertama sebelum orang lain menyadarinya. Ia melihat detail-detail kecil yang terlewat oleh mereka yang melaju terlalu cepat.
Di sinilah letak relevansi buku ini dengan krisis lingkungan dan gerakan serba cepat yang mendefinisikan zaman kita. Dunia saat ini bergerak terlalu cepat, terlalu boros, dan terlalu tidak peka. Kita melesat di jalan tol dengan kecepatan 100 kilometer per jam, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat pemandangan di luar jendela. Kita mengonsumsi barang-barang sekali pakai, memperbarui ponsel setiap tahun, mengganti sepeda ketika muncul model baru, tanpa pernah benar-benar menjalin hubungan dengan benda-benda yang menopang hidup kita.
De Jong, tanpa menggurui, mengajak kita melambat. Sepeda, dengan kecepatannya yang berkisar antara 15 hingga 30 kilometer per jam, adalah kecepatan yang sempurna. Cukup cepat untuk merasakan kebebasan dan menjangkau tempat-tempat yang jauh, tetapi cukup lambat untuk benar-benar melihat dan merasakan. Sebuah artikel di Suara Muhammadiyah tentang gerakan bersepeda di tengah krisis energi—yang mirip dengan semangat de Jong—mengutip pendekatan pergeseran paradigma Thomas Kuhn. Ia mencatat bahwa krisis energi seringkali menjadi “anomali” yang mengguncang “normal science” mobilitas berbasis bahan bakar fosil. Namun, anomali tidak otomatis melahirkan revolusi.
“Dibutuhkan komunitas masyarakat yang cukup tangguh untuk mendorong pergeseran itu menjadi nyata.”
De Jong menawarkan dorongan itu dari ranah budaya dan perasaan. Ia tidak memberi kita statistik emisi atau argumen efisien energi. Ia memberi kita cerita tentang seorang pria telanjang dengan ban di tangan, tentang seorang pebalap yang berlumpur di jalan Prancis, tentang keindahan melankolis dari sebuah kafe yang sepi. Ia menyadarkan kita mengapa kita mendambakan dunia yang lebih lambat, tidak hanya karena itu lebih berkelanjutan, tetapi karena itu lebih manusiawi.
Menyulam Hikmah: Menemukan Kembali “Jiwa” dalam Gerakan
Apa yang bisa kita petik dari buku de Jong untuk masa depan yang lebih baik?
Pertama, bahwa perubahan perilaku tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga narasi.Orang tidak akan beralih ke sepeda hanya karena harga BBM naik. Mereka akan beralih jika mereka menemukan cerita yang membuat mereka jatuh cinta pada aktivitas itu. De Jong menyediakan cerita-cerita itu. Ia menunjukkan bahwa bersepeda bukanlah pengorbanan—ia adalah petualangan, meditasi, dan bentuk seni sekaligus.
Kedua, bahwa “hidup dengan lebih sedikit” bisa berarti “hidup dengan lebih kaya.” Di dunia yang didorong oleh akumulasi, de Jong merayakan kesederhanaan. Sepeda adalah teknologi sederhana yang elegan. Ia tidak membutuhkan bahan bakar, ia tidak membuat polusi suara yang mengganggu, dan ia dapat dirawat sendiri. Sepeda mengajarkan bahwa kebahagiaan yang sejati tidak terletak pada memiliki barang mewah, tetapi pada pengalaman yang kaya dan hubungan yang dalam dengan lingkungan sekitar.
Ketiga, bahwa kesendirian bukanlah musuh. Di era hiruk-pikuk media sosial dan notifikasi tanpa henti, bersepeda menawarkan ruang untuk hening. De Jong merenung di atas sepeda. Ia memikirkan kematian. Ia memikirkan cinta. Ia bertanya-tanya tentang makna. Momen-momen kontemplatif ini bukanlah “waktu yang terbuang.” Mereka adalah saat-saat paling produktif bagi jiwa manusia. Krisis lingkungan pada akhirnya adalah krisis spiritual—krisis hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Bersepeda sendirian di alam mungkin adalah salah satu cara paling sederhana untuk memulai perbaikan hubungan itu.
Dalam tradisi intelektual Islam, perenungan (tafakkur) dan perjalanan (rihlah) sering disebut sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dan memahami tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta. Hakam Mabruri, seorang santri NU yang bersama istrinya bersepeda dari Malang ke Mesir untuk misi perdamaian, memahami betul hal ini. Seperti de Jong, ia menggunakan sepeda sebagai kendaraan untuk makna yang lebih besar—bukan hanya berpindah tempat, tetapi juga berpindah kesadaran.
Penyair Romawi kuno, Juvenal, menciptakan frasa “mens sana in corpore sano” (jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat). De Jong dan Hakam menunjukkan bahwa sepeda adalah jembatan sempurna antara tubuh yang bugar dan jiwa yang merenung. Bersepeda menguatkan otot, tetapi juga membuka batin. Ketika kita mengayuh, kita tidak hanya membakar kalori; kita juga membakar kebisingan batin, kekhawatiran, dan kepura-puraan.
Sepeda, Tubuh, dan Dunia: Sebuah Simfoni dari Pinggir Jalan
Wilfried de Jong tidak memulai bukunya The Man and His Bike dengan pengantar yang manis atau dedikasi yang mengharukan. Ia memulai dengan suara: click-clack. Suara sederhana sepatu pesepeda yang terkunci ke pedal. Bunyi itu, tulis de Jong, adalah “salah satu suara terbaik di dunia,” sebuah suara yang “mengumumkan bahwa perjalanan akan segera dimulai, bahwa dunia akan bergerak di bawah roda, bahwa aku akan melaju” (de Jong, 2017, Introduction). Dari klik pertama itu, de Jong mengajak pembaca masuk ke dalam dunianya—dunia di mana detail-detail kecil memiliki bobot filosofis yang besar, di mana suara sepatu bisa menjadi kidung pembuka sebuah perjalanan epik.
Kumpulan cerita pendek yang membuka buku ini—dari “Click-Clack” hingga “Front Wheel Spinning”—adalah sebuah kaleidoskop pengalaman yang tampaknya terpisah tetapi sesungguhnya terikat oleh satu benang merah: hubungan yang mendalam, kadang rumit, antara seorang pria dan sepedanya. De Jong bergerak lincah dari adegan balapan profesional yang mencekik hingga momen kontemplasi sunyi di pedesaan Belgia. Ia bercerita tentang kegagalan, tentang rasa sakit, tentang kebodohan yang hampir tragis, dan tentang keindahan yang tak terduga. Semua disajikan dengan gaya khasnya: rendah hati, jenuh dengan ironi diri, dan pada saat yang sama, sangat mengharukan.
Antara Kemewahan dan Keterbatasan
Apa yang membuat kita terus bersepeda meskipun banyak halangan? Pada cerita “Mist on Mont Ventoux” dan “Merckx to the Millimetre“, de Jong mengupas obsesi yang hampir religius terhadap sepeda dan para idola balap. Ia menggambarkan pendakian legendaris Mont Ventoux dengan detail yang membuat pembaca ikut merasakan sesak napas dan dinginnya kabut yang menyelimuti puncak. Ia juga bercerita tentang usahanya yang lucu sekaligus memilukan untuk meniru posisi berkendara Eddy Merckx hingga ke ukuran milimeter. Di sini, de Jong mengolok-olok dirinya sendiri—seseorang yang menghabiskan waktu dan uang untuk mengejar detail fisik sementara realitas tubuhnya sendiri mungkin tidak akan pernah setangguh tubuh sang juara. Namun di balik olok-olok itu, ada pengakuan yang jujur: mencintai sepeda berarti rela terlihat konyol demi hal yang dicintai.
Kisah “Hôtel Neuf” membawa kita ke ruang-ruang yang lebih intim: hotel-hotel murah di pinggir jalan balapan. De Jong melukiskan kehidupan para penggemar balap yang rela tidur di kamar-kamar sempit, berdesakan, hanya untuk bisa menyaksikan idolanya lewat di siang hari. Di sana, di tengah aroma kopi pagi dan dinginnya seprai, persahabatan terbentuk dan kenangan terukir. Ini bukan tentang kemewahan. Ini tentang pengorbanan kecil yang membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh mencintai sesuatu.
Peziarahan ke Akar Bersepeda
De Jong melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang secara fisik dan emosional terasa seperti “tanah suci” baginya dan ribuan pesepeda lainnya. Ia pergi ke Belgia, ke desa Munkzwalm, dan ke kafe-kafe yang terlupakan di tikungan jalan balap Paris-Roubaix. Di “Munkzwalm” dan “Farmer on the Road“, ia menunjukkan bahwa pesepeda bukanlah makhluk asing yang melesat tanpa jejak. Mereka adalah bagian dari lanskap pedesaan, dari kehidupan petani, dan dari siklus alam yang lambat. Seorang petani yang ditemuinya di pinggir jalan tidak melihatnya sebagai gangguan, tetapi sebagai bagian dari pemandangan yang sudah berlangsung puluhan tahun. Di sinilah de Jong merayakan kesinambungan: dunia balap yang glamor, di satu sisi, dan dunia pedesaan yang sunyi, di sisi lain, ternyata hidup berdampingan.
Dalam “Wool“, de Jong merenungkan pakaian pesepeda yang terbuat dari wol—kuno, basah jika hujan, tetapi memiliki kehangatan dan karakter yang tidak dimiliki oleh bahan sintetis modern. Ini adalah sebuah kiasan: dunia bersepeda mengalami modernisasi yang cepat—sepeda karbon, serat aero, komputer di setang. Namun de Jong, dengan setia, kadang kembali ke yang lama. Bukan karena yang lama lebih baik secara teknis, tetapi karena yang lama membawa cerita, membawa memori. Dalam dunia yang terobsesi dengan “yang lebih baru selalu lebih baik,” de Jong mengajak kita untuk mempertahankan apa yang melambatkan kita, apa yang mengingatkan kita bahwa kecepatan bukanlah segalanya.
Kesendirian, Kegagalan, dan Penerimaan Maut
Salah satu tema terkuat dari bagian awal buku ini adalah kesendirian. Dalam “Solo”, de Jong menggambarkan perjalanan panjang seorang diri di atas sepeda, tanpa orang lain, tanpa target balap, tanpa siapa pun yang melihat. Kesendirian ini bukanlah beban; ia adalah kebebasan. “Di keramaian peleton, seseorang harus terus mengikuti kecepatan orang lain. Sendirian, ia dapat mendengarkan suara napasnya sendiri, ritme lambat yang tidak perlu terburu-buru” (de Jong, 2017, “Solo”). Ini adalah sebuah metafora untuk kehidupan itu sendiri: kita mungkin menghabiskan banyak waktu mengikuti orang lain, tetapi pada akhirnya, kita harus menemukan ritme kita sendiri.
Namun kesendirian juga membawa de Jong berhadapan dengan hal yang paling tidak ingin ditemui siapa pun: kegagalan dan kematian. Dalam “Black Feathers“, ia menceritakan tentang seekor burung yang tiba-tiba terbang ke arahnya saat bersepeda—dan bunyi “pukulan kecil di kepala” yang mengerikan diikuti oleh “bulu-bulu hitam yang beterbangan di udara” . Ini adalah pengingat yang tiba-tiba dan kejam bahwa di atas sepeda, seperti di mana pun, hidup dan mati dipisahkan oleh sepersekian detik dan sehelai bulu. Namun de Jong tidak menjadi muram. Ia justru menggunakan momen ini untuk merenung tentang kerapuhan dan tentang mengapa kita tetap memilih aktivitas yang berisiko. Mungkin karena hanya dengan menyadari kematian, kita bisa benar-benar menghargai hidup.
“Flat” adalah cerita tentang ban kempes. Tampaknya remeh. Namun de Jong mengubahnya menjadi refleksi tentang ketidaksempurnaan, tentang bagaimana rencana terbaik sekalipun bisa hancur oleh sebuah benda sekecil paku di jalan. Dan yang terakhir, “Front Wheel Spinning“, adalah adegan di mana roda depan berputar di udara, tidak lagi menjejak tanah. De Jong duduk di pinggir jalan, menunggu bantuan, sambil melihat roda itu berputar. Ada kedamaian di situ, semacam penerimaan bahwa hidup kadang adalah tentang berputar di tempat, tentang berhenti, tentang hanya mengamati tanpa harus bergerak maju.
Menemukan Dunia yang Lebih Perlahan
Apa yang membuat kumpulan cerita ini relevan untuk dunia saat ini, yang dilanda krisis iklim dan kecepatan yang tak terkendali? De Jong menawarkan kita sebuah ide yang sangat sederhana namun revolusioner: melambat itu menyenangkan. Ia tidak sedang mengampanyekan pengurangan emisi karbon secara langsung; ia sedang mengampanyekan rasa. Rasa dari angin di wajah, rasa dari dinginnya kabut, rasa dari persahabatan di hotel murah, rasa dari kesendirian yang membawa keheningan batin.
Dalam gerakan serba cepat, kita merasa bahwa melambat adalah kemunduran. De Jong menunjukkan bahwa melambat justru adalah kemajuan—kemajuan menuju kedekatan dengan diri sendiri dan dengan lingkungan. Sepeda, dengan kecepatannya yang manusiawi, memungkinkan kita untuk “membaca” dunia seperti membaca buku: halaman per halaman, tidak terburu-buru. Seorang pesepeda melihat bunga liar di pinggir jalan yang tidak pernah dilihat oleh pengemudi mobil melesat. Seorang pesepeda merasakan perubahan suhu saat matahari terbenam, sementara pengemudi mobil hanya melihat termometer AC-nya.
Dalam tradisi intelektual Islam, perenungan (tafakkur) sering dianjurkan dengan berjalan kaki atau melakukan perjalanan yang tidak tergesa-gesa. Ibnu Taimiyyah, dalam kitabnya Iqtidha’ al-Shirat al-Mustaqim, menyebutkan bahwa Nabi Muhammad sendiri sering berjalan kaki dan menganjurkan umatnya untuk tidak terlalu tergesa-gesa dalam perjalanan. Bahkan saat berkendara, beliau memilih keledai dan unta—bukan untuk alasan teknologi, tetapi untuk alasan kemanusiaan: hewan-hewan itu perlu dirawat, perlu diistirahatkan. Ada keterikatan antara pengendara dan kendaraannya, antara manusia dan alam. De Jong, dengan cerita tentang wol, tentang ban kempes, dan tentang kafe-kafe pinggir jalan, menunjukkan keterikatan yang sama. Sepeda bukanlah benda mati yang Anda kendarai; ia adalah mitra yang dengannya Anda bernegosiasi, yang kadang mengkhianati, kadang setia.
Sepeda sebagai “Guru” Jalanan
Pada akhir rangkaian cerita pendek ini, de Jong telah mengajak kita naik dan turun gunung, jatuh di jalan berbatu, menangis karena kematian burung, dan tertawa karena kekonyolan mencoba meniru posisi Merckx. Ia tidak memberi kita solusi atas krisis iklim. Namun ia memberi kita sesuatu yang mungkin lebih penting: sebuah motivasi untuk mencintai lagi aktivitas yang lambat dan sederhana. Karena hanya dengan cinta itulah kita akan rela meninggalkan kenyamanan mobil, rela menanggung hujan dan tanjakan, rela merawat dan memperbaiki, bukan membuang.
The Man and His Bike bukanlah buku tentang balap. Pada intinya, ia adalah buku tentang persahabatan antara manusia dan mesin, antara napas dan jalanan, antara hati yang gelisah dan roda yang berputar. Ia mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang semakin sibuk, masih ada ruang untuk keheningan. Di tengah dunia yang semakin buang, masih ada ruang untuk merawat. Dan di tengah dunia yang semakin cepat, masih ada kebahagiaan dalam click-clack sepatu terkunci ke pedal, saat perjalanan baru benar-benar dimulai, saat dunia bergerak perlahan di bawah roda, saat kita akhirnya bisa bernapas dengan lega: “Ya, ini tempatnya.”
Ketika Tubuh Berbicara Lebih Keras dari Kata-Kata
Ada sebuah titik dalam perjalanan seorang pesepeda ketika tubuh tidak bisa lagi diajak berkompromi. Otot-otot paha terasa seperti kawat yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja. Napas menjadi pendek dan tersengal, seolah paru-paru sedang meremas dirinya sendiri. Dan kemudian datang cramp—kejang otot yang menyiksa, yang membuat seorang pria dewasa bisa menjerit seperti anak kecil di pinggir jalan.
Wilfried de Jong, dalam kumpulan cerita yang ia beri judul “Cramp” hingga “Cycling Porn,” tidak pernah berpura-pura bahwa bersepeda itu selalu menyenangkan. Sebaliknya, ia justru menyelami bagian paling gelap dari olahraga ini: rasa sakit, kegagalan, kematian para idola, dan obsesi yang kadang membuatnya terlihat gila. Namun di balik semua itu, ia menemukan sesuatu yang anehnya indah—sebuah kecantikan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang rela masuk ke dalam lumpur.
Bagian kedua dari buku The Man and His Bike ini adalah sebuah perjalanan ke dalam kegelapan yang diterangi oleh cahaya redup kenangan dan penghormatan. De Jong tidak lagi bercerita tentang kafe-kafe yang hangat atau persahabatan yang manis. Ia berbicara tentang detak jantung yang turun hingga 48 denyut per menit di pagi hari, tentang Jim Shine yang memperbaiki sepeda dengan cinta yang hampir religius, tentang Fausto Coppi yang meninggal di usia yang terlalu muda, dan tentang Marco Pantani yang meninggalkan dunia dengan cara yang paling tragis. Ini adalah bagian di mana de Jong berhadapan dengan maut, dan dari sana, ia belajar untuk menghargai kehidupan.
Meditasi di Atas Roda: Menemukan Keheningan dalam Detak Jantung
“Cramp” dan “A Pulse of 48” adalah tentang tubuh yang berbicara. De Jong menuliskan tentang sensasi kejang otot dengan detail yang hampir menyakitkan untuk dibaca: “Kram itu datang seperti tamu yang tidak diundang, mengetuk dengan palu di otot betis, dan kemudian duduk di sana, bersantai, sementara engkau hanya bisa mengutuk dan menunggu” (de Jong, 2017, “Cramp“). Namun kejang itu bukan musuh. Ia adalah pengingat bahwa tubuh memiliki batas, dan bahwa melampaui batas—bahkan jika itu menyakitkan—adalah bagian dari mengapa manusia bersepeda. Bukan untuk menghindari rasa sakit, tetapi untuk menaklukkannya, atau setidaknya, untuk belajar hidup berdampingan dengannya.
Dalam “A Pulse of 48“, de Jong merenungkan detak jantung istirahatnya yang sangat rendah—tanda kebugaran luar biasa yang dicapai melalui latihan bertahun-tahun. Namun ia tidak membanggakannya. Ia malah merenungkan ironi: jantung yang berdetak lambat saat diam adalah jantung yang efisien, tetapi jantung yang sama juga akan berpacu liar saat ia mendaki tanjakan terjal. “Ini adalah paradoks para pesepeda,” tulisnya. “Kita berlatih untuk menjadi tenang, tetapi hidup kita diisi oleh momen-momen di mana jantung kita hampir meledak” (de Jong, 2017, “A Pulse of 48“).
“Jim Shine Fine” membawa kita ke dunia bengkel kecil yang dikelola oleh seorang mekanik tua yang memperlakukan sepeda seperti patung. Jim Shine, dalam deskripsi de Jong, bukan hanya tukang reparasi; ia adalah seorang seniman yang bahasanya adalah obeng dan kunci pas. Setiap baut dikencangkan dengan perasaan, setiap rantai dilumasi dengan doa. De Jong menggambarkan proses Jim memperbaiki sepeda seperti sebuah tarian lambat yang penuh konsentrasi. “Sepeda yang keluar dari tangannya bukan lagi mesin. Ia adalah sesuatu yang hidup, yang siap untuk bernapas di jalanan” (de Jong, 2017, “Jim Shine Fine“).
Elegi untuk Para Legenda: Ketika Idola Jatuh
De Jong kemudian beralih ke hal yang paling berat: kematian. “Fausto No More” dan “Addio, Marco” adalah elegi untuk dua legenda balap yang meninggal terlalu cepat. Fausto Coppi, ikon tahun 1940-an dan 1950-an, meninggal pada usia 40 tahun karena malaria yang didapatnya saat berburu di Afrika. Marco Pantani, “Il Pirata,” si perampok dengan bandana dan anting, meninggal pada tahun 2004 karena overdosis kokain di sebuah hotel murah, setelah hidupnya hancur oleh tuduhan doping dan depresi.
De Jong tidak menulis sebagai wartawan yang melaporkan fakta. Ia menulis sebagai penggemar yang terluka. Ia mengenang bagaimana ia menonton Pantani mendaki gunung dengan gaya yang tidak masuk akal—tubuh bergoyang, gigi di cassette paling berat, napas tersengal, tetapi matanya menyala seperti bara api. “Pantani tidak bersepeda. Ia berdoa dengan kaki. Setiap putaran pedal adalah permohonan untuk tidak jatuh, untuk tidak berhenti” (de Jong, 2017, “Addio, Marco“).
Namun de Jong juga tidak buta terhadap sisi gelap para legenda ini. Ia menyebut doping, tekanan, dan kehancuran mental. Ia tidak memaafkan, tetapi ia memahami. “Mereka adalah manusia yang terlalu manusiawi. Dan karena itu, kita mencintai mereka. Bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka jatuh, dan kita melihat diri kita sendiri dalam kejatuhan itu” (de Jong, 2017, “Addio, Marco”).
“Montalto” dan “Bartali’s Attic” melanjutkan tema ini dengan cara yang lebih personal. De Jong bepergian ke tempat-tempat yang pernah diinjak oleh para legenda. Ia naik ke Montalto, gunung tempat Gino Bartali—pahlawan perlawanan Italia selama Perang Dunia II yang menyelundupkan dokumen-dokumen rahasia untuk menyelamatkan orang Yahudi dengan bersepeda—berlatih. Dan ia membayangkan dirinya masuk ke loteng Bartali, ruang penuh debu di mana sepeda-sepeda tua dan kenangan-kenangan terlupakan berserakan. “Di loteng itu, waktu berhenti. Sepeda-sepeda itu tidak lagi berkarat; mereka hanya sedang tidur, menunggu seseorang untuk mengingat mereka” (de Jong, 2017, “Bartali’s Attic”).
Obsesi dan Kecantikan yang Mengganggu
“Bend” adalah cerita tentang tikungan. Sepintas, ini adalah cerita teknis tentang cara menikung yang benar. Namun de Jong mengubahnya menjadi metafora tentang kepercayaan. “Ketika engkau masuk tikungan dengan kecepatan, engkau harus percaya pada traksi ban, pada geometri sepeda, pada tubuhmu sendiri. Ragu sedikit saja, dan engkau akan jatuh. Percaya, dan engkau akan keluar dari tikungan dengan senyum” (de Jong, 2017, “Bend“). Ini adalah pelajaran yang berlaku untuk hidup: keraguan adalah musuh terbesar. Kita harus berani melaju meskipun tidak tahu apa yang ada di balik tikungan.
“Mona Lisa” dan “Cycling Porn” adalah dua cerita yang paling provokatif—dan paling jenius. Dalam “Mona Lisa“, de Jong membandingkan senyum misterius wanita dalam lukisan da Vinci dengan senyum seorang pesepeda yang baru saja menaklukkan tanjakan. Kedua senyum itu, katanya, mengandung rahasia yang tidak akan pernah diungkapkan. “Ia tahu sesuatu yang tidak engkau ketahui. Dan ia tidak akan memberitahumu. Itu adalah kebahagiaan yang egois, yang tidak perlu dibagikan” (de Jong, 2017, “Mona Lisa“).
“Cycling Porn” adalah kritik terhadap industri media balap yang mengemas sepeda dan pesepeda menjadi objek hasrat yang dikonsumsi secara voyeuristik. De Jong menulis tentang majalah-majalah yang menampilkan close-up komponen karbon dengan latar belakang buram dan pencahayaan dramatis, seolah-olah sepeda adalah tubuh perempuan dalam majalah dewasa. Ia tidak sepenuhnya menolak keindahan—ia juga seorang penggemar yang suka memandangi sepeda barunya. Tetapi ia menyadari bahwa ada bahaya dalam mengubah sesuatu yang hidup (bersepeda) menjadi sekadar objek hasrat. “Ketika engkau lebih sering memandangi sepeda daripada mengendarainya, engkau telah kehilangan sesuatu. Sepeda bukanlah untuk dilihat. Sepeda adalah untuk dikendarai, untuk dibuat basah oleh hujan, untuk dilumuri lumpur” (de Jong, 2017, “Cycling Porn“).
Catatan Akhir: Sepeda sebagai “Guru” Jalanan
The Man and His Bike bukanlah buku yang akan menjadikan Anda montir handal atau ahli taktik balap. Tetapi ia mungkin akan mengubah cara Anda memandang sepeda—dan cara Anda memandang hidup. De Jong menunjukkan bahwa di balik setiap pesepeda, ada seorang filsuf yang sedang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan abadi. Di balik setiap perjalanan panjang, ada sebuah peziarahan menuju makna. Di balik setiap rasa sakit di paha, ada sebuah pelajaran tentang kerendahan hati dan ketekunan.
Ketika kita berbicara tentang solusi atas krisis energi dan lingkungan, kita sering berbicara tentang teknologi, investasi, dan kebijakan. Semua itu penting. Tetapi de Jong mengingatkan kita bahwa solusi jangka panjang juga membutuhkan perubahan di tingkat jiwa. Kita perlu jatuh cinta lagi dengan dunia, dan sepeda adalah salah satu cara termudah untuk memulai percintaan itu.
Jadi, lain kali ketika hujan turun, atau ketika tanjakan terasa terlalu curam, ingatlah Wilfried de Jong yang berdiri telanjang di atas batu bulat Belgia. Ada kebebasan dalam melepaskan kenyamanan palsu. Ada kejernihan dalam menyambut dingin dan basah. Ada kehidupan yang lebih baik di atas dua roda—lambat, sederhana, dan penuh cerita. Dengarkan bisikannya. Seribu ban menyanyikan lagu untukmu. Itulah musik perubahan yang sesungguhnya.
Apa yang membuat bagian kedua buku ini begitu kuat adalah keberanian de Jong untuk tidak memberikan hiburan yang murah. Ia tidak berkata, “Bersepeda itu menyenangkan, ayo lakukan!” Ia berkata, “Bersepeda itu bisa menyakitkan, bisa membuatmu menangisi kematian idolamu, bisa membuatmu terobsesi secara tidak sehat—tetapi tetap saja, tidak ada tempat lain yang aku inginkan selain di atas sepeda.”
Ini adalah pesan yang sangat relevan untuk dunia yang cenderung menghindari rasa sakit dan kematian. Kita hidup di zaman di mana segala sesuatu ingin instan, mudah, dan tanpa konsekuensi. Namun de Jong mengingatkan bahwa hal-hal yang paling berharga dalam hidup seringkali datang dengan harga yang mahal. Rasa sakit di paha setelah tanjakan panjang adalah harga yang harus dibayar untuk pemandangan di puncak. Kesedihan atas kematian Pantani adalah harga yang harus dibayar karena kita pernah menyaksikan keajaiban.
Dalam tradisi sufistik, rasa sakit sering dipandang bukan sebagai kutukan tetapi sebagai rahmat tersembunyi. Jalaluddin Rumi, penyair besar Persia, pernah menulis, “Luka adalah tempat di mana cahaya masuk ke dalam dirimu” (The wound is the place where the light enters you). De Jong, tanpa menyebut Rumi, menunjukkan hal yang sama: kejang otot (cramp), kematian idola, obsesi yang hampir gila—semua itu adalah luka. Dan dari luka-luka itulah cahaya pemahaman masuk: bahwa bersepeda bukan sekadar olahraga, tetapi sebuah cara untuk menjadi sungguh-sungguh manusia, dengan segala kelebihan dan kekurangan.
Pada akhir bagian ini, de Jong tidak menawarkan resolusi. Ia hanya mengajak pembaca untuk duduk bersamanya di pinggir jalan—setelah kejang otot mereda, setelah kabar kematian Pantani diterima, setelah obsesi terhadap sepeda baru sedikit mereda—dan hanya mengamati roda depan yang masih berputar. Tidak ada jawaban besar. Hanya ada gerakan. Hanya ada kesetiaan pada sesuatu yang telah kita pilih untuk dicintai, meskipun—atau justru karena—ia kadang menyakiti kita.
Bogor, 12 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
de Jong, W. (2017). The man and his bike (D. Doherty, Trans.). Ebury Press, an imprint of Ebury Publishing.
Hashri, M. A. (2026, April 2). Gerakan bersepeda di tengah krisis energi: Antara anomali dan revolusi paradigma. Suara Muhammadiyah. https://suaramuhammadiyah.id/read/gerakan-bersepeda-di-tengah-krisis-energi
Hartik, A. (2016, December 17). Bawa misi perdamaian dunia, Hakam dan istrinya kayuh sepeda dari Malang ke Mesir. Kompas.com. https://regional.kompas.com/read/2016/12/17/19470521/bawa.misi.perdamaian.dunia.hakam.dan.istrinya.kayuh.sepeda.dari.malang.ke.mesir
NU Online. (2019, October 17). Santri NU bersepeda keliling dunia (Bagian I): Hakam Mabruri dan Barzanji. NU Online. https://svr.nu.or.id/internasional/santri-nu-bersepeda-keliling-dunia-hakam-mabruri-dan-barzanji-bagian-i-WMjH0
Penerbit. (2017). The man and his bike [Deskripsi buku]. AbeBooks. https://www.abebooks.com/9781785032820/Man-Bike-Musings-life-art-1785032828/plp






