Rubarubu #204
The Collected Stories:
Menemukan Kembali yang Luar Biasa dalam Kehidupan Biasa
Bayangkan Anda sedang duduk di sebuah kafe pada suatu sore yang tenang. Di meja sebelah, seorang wanita paruh baya sedang menikmati kopinya. Dari luar, ia tampak biasa saja. Tetapi Carol Shields, dengan mata hatinya yang tajam, akan melihat lebih dari itu: riwayat hidup yang penuh liku, mimpi-mimpi yang terkubur, dan kegembiraan sederhana yang tak terucapkan. Itulah kekuatan Carol Shields, dan itulah pula yang membuat Margaret Atwood—salah satu suara sastra terbesar Kanada, yang karyanya sendiri sering menjelajahi sisi gelap dan distopia—bersedia menulis pengantar untuk The Collected Stories. Bagi Atwood, kesediaan itu bukan sekadar formalitas antar sesama penulis, melainkan pengakuan dari seorang maestro kepada maestro lainnya, yang melihat dalam diri Shields bakat untuk menangkap “the extra-ordinariness of ordinary people”.
The Collected Stories (Harper Perennial, 2005) bukan sekadar kumpulan cerita pendek. Buku setebal hampir 600 halaman ini merangkum tiga buku cerita pendek Shields sebelumnya—Various Miracles, The Orange Fish, dan Dressing Up for the Carnival—ditambah sebuah cerita yang sebelumnya belum diterbitkan, “Segue”, yang menjadi karya terakhirnya sebelum ia meninggal pada tahun 2003.
Bayangkan ini seperti sebuah album kompilasi dari seorang musisi legendaris: setiap cerita adalah lagu dengan irama dan nadanya sendiri, namun semuanya terikat oleh suara khas Shields—pengamatan yang tajam, humor yang hangat, dan empati yang tak terbatas. Seperti ditulis salah satu pengulasnya, Shields “berbicara kepada pembacanya seolah-olah kita adalah teman lama, membiarkan kita masuk ke dalam rahasia kehidupan batin para karakternya”.
Kehidupan Biasa yang Luar Biasa
Salah satu tema paling kuat yang mengalir dalam koleksi ini adalah keyakinan Shields bahwa tidak ada yang namanya orang biasa. Dalam sebuah wawancara ia pernah berkata: “Saya tidak pernah tahu apa artinya ‘orang biasa’! Saya tidak yakin saya percaya dengan konsep itu…. Tidak ada seorang pun yang tidak rumit, yang tidak memiliki area kepengecutan atau keberanian, yang tidak mampu melakukan beberapa hal dan tidak mampu melakukan hal-hal besar. Saya pikir setiap orang memiliki kapasitas itu. Entah kita semua biasa-biasa saja, atau tidak ada satu pun dari kita yang biasa.”
Pernyataan ini menjadi roh dari seluruh koleksi. Shields tidak tertarik pada pahlawan super atau tokoh-tokoh besar sejarah. Ia tertarik pada wanita paruh baya yang memotong rumput, pada pasangan suami istri yang sedang dalam perjalanan jauh, pada seorang ayah yang berjuang melawan kebosanan—dan melalui cerita-cerita ini, ia menunjukkan bahwa dalam setiap kehidupan yang tampak sederhana, terdapat kompleksitas, keindahan, dan makna yang mendalam.
Kepekaan ini bertumpu pada kemampuan luar biasa Shields, yang juga dikenal lewat novel-novelnya seperti The Stone Diaries (pemenang Pulitzer) dan Unless, untuk “membaca” kehidupan orang lain. Seperti dijelaskan Hermione Lee dalam ulasannya di The Guardian, Shields sering menulis tentang “melayang keluar dari diri sendiri ke dalam cerita orang lain”. Dalam salah satu ceritanya, seorang karakter bahkan jatuh cinta hanya dengan melihat tulisan “Wendy is back!” di jendela sebuah toko sepatu—cukup untuk membayangkan seluruh kehidupan Wendy dan merasakan hubungan emosional dengannya. Ini bukan sekadar teknik sastra, melainkan filosofi hidup: Shields percaya bahwa untuk benar-benar terhubung dengan dunia, kita harus memperhatikan.
Ia menulis tentang seorang suami yang “lupa bagaimana memperhatikan, tumbuh entah bagaimana lumpuh dan malas”, dan memperingatkan bahwa “pada akhirnya kita akan layu kecuali kita memiliki sedikit perhatian manusia.”
Perempuan, Keluarga, dan Alam
Tema tentang perempuan, pernikahan, dan keluarga mengalir deras dalam koleksi ini. Shields, yang tumbuh sebagai seorang feminis gelombang kedua, sangat peka terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan, bahkan dalam kehidupan sehari-hari yang tampak “normal”. Dalam Unless, novel yang terbit di tahun-tahun terakhir hidupnya, ia menulis tentang Reta Winters, seorang novelis yang marah karena “pengecualian dan ketidakberdayaan perempuan”.
Namun yang membuat Shields istimewa adalah ia tidak pernah menjadi polemis atau menggurui; ia menunjukkan realitas ini melalui cerita-cerita yang halus dan menyentuh—misalnya tentang seorang wanita yang mengambil pekerjaan mendemonstrasikan peralatan dapur dan keluarganya tidak setuju, sebuah kisah tentang martabat dan pilihan, tentang bagaimana masyarakat sering meremehkan pilihan-pilihan perempuan.
Salah satu aspek paling menarik dari karya Shields—dan sangat relevan dengan tantangan dunia saat ini—adalah bagaimana ia menghubungkan kehidupan manusia dengan alam. Dalam Unless, Shields mengeksplorasi hubungan antara penindasan terhadap perempuan dan perusakan alam. Protagonisnya, Reta Winters, menyadari bahwa dalam budaya maskulin, perempuan dan alam non-manusia dibangun sebagai yang lain yang “kotor” dan mengancam, yang kemudian digunakan untuk membenarkan kebijakan dominasi, sanitasi, dan eksploitasi.
Penelitian akademis menunjukkan bahwa Shields kerap menggunakan taman sebagai metafora untuk mengeksplorasi ide-ide ini—taman sebagai dunia literal tempat kepalsuan berjuang melawan pertumbuhan tanpa makna, ruang tempat manusia dan alam bertemu dan tempat kita bisa melihat dengan jelas ketidaksesuaian sekaligus penyatuan antara yang buatan dan yang alami.
Mrs. Turner Cutting the Grass: Sebuah Perspektif yang Dibalik
Untuk memahami betapa dalamnya pemikiran Shields tentang semua ini, salah satu cerita paling terkenal dalam koleksi ini patut disimak lebih jauh: “Mrs. Turner Cutting the Grass”. Ini adalah kisah tentang seorang janda paruh baya yang sedang memotong rumputnya. Dari luar, ia tampak konyol dan memalukan—tetangganya mengkritik cara ia berkebun, gadis-gadis remaja yang lewat ngeri melihat selulit di pahanya yang terbuka, dan seorang profesor dari Massachusetts bahkan menulis puisi yang merendahkannya. Namun Shields memutar perspektif itu.
Pembaca diajak melihat lebih dalam: Mrs. Turner, atau “Girlie Fergus” sebagaimana ia dulu dikenal, adalah seorang wanita yang pernah melarikan diri ke New York, tinggal dengan seorang pria kulit hitam, dan memiliki anak di luar nikah—sebuah kisah hidup yang jauh lebih berani dan kompleks daripada yang dibayangkan oleh tetangga-tetangganya yang suka menghakimi.
Di akhir cerita, kita melihat Mrs. Turner dengan cara yang berbeda: “Di musim panas, saat ia memotong rumput, ke sana ke mari, ke sana ke mari, ia melambai kepada semua orang yang dilihatnya. Ia melambai kepada gadis-gadis SMA, yang dengan malu-malu membalas lambaian-nya. Ia berteriak halo kepada Sally dan Roy Sascher dan bertanya bagaimana kebun mereka berkembang. Ia tidak dapat membayangkan bahwa ada orang yang menginginkannya celaka. Yang ia lakukan hanyalah menjalani hidupnya. Rumput hijau beterbangan di udara, awan yang melayang berputar di sekitar kepalanya. Oh, betapa pemandangan yang indah adalah Mrs. Turner yang memotong rumputnya, dan betapa, seperti sebuah ornamen, ia bersinar.”
Shields menggunakan trope taman ini untuk membalikkan pandangan kita: Mrs. Turner, yang dianggap kuno dan konyol, justru menjadi simbol kebebasan dan keaslian. Hidup, baginya, berarti menikmati pengalaman saat ia terbang.
Relevansi untuk Dunia Saat Ini
Apa yang bisa kita pelajari dari Carol Shields hari ini, di tengah krisis iklim, polarisasi politik, dan kesibukan digital yang tak berujung? Pertama-tama, kemampuan untuk memperhatikan. Di dunia yang penuh distraksi, kemampuan itu adalah sebuah bentuk perlawanan. Shields meng-ingatkan kita bahwa “pada akhirnya kita akan layu kecuali kita memiliki sedikit perhatian manusia”—sebuah peringatan yang sangat relevan di era media sosial, ketika perhatian kita terus-menerus diambil alih oleh algoritma yang dirancang untuk membuat kita terus menggulir tanpa henti.
Seperti ditulis seorang pengulas, “ketika Anda telah membaca Carol Shields, Anda pergi ke luar, Anda mendengarkan percakapan, Anda memikirkan hidup Anda sendiri atau kehidupan seorang teman, dan Anda memperhatikan lebih banyak. Dan untuk ini ia patut diucapkan terima kasih”. Shields mengajarkan kita seni memperhatikan—keterampilan yang sangat dibutuhkan saat ini.
Karya-karya Shields juga mengajak kita menemukan kembali hubungan dengan alam. Dalam Unless, ia menghadirkan Norah, seorang gadis muda yang duduk di sudut jalan dengan rambut kusut dan tidak dicuci—sebuah protes terhadap masyarakat yang menganggap perempuan dan alam sebagai “kotor” dan perlu “dibersihkan” serta “dikontrol”. Norah adalah simbol generasi baru yang menolak dominasi dan eksploitasi, yang ingin merebut kembali tubuh “alami” mereka dan terhubung kembali dengan alam non-manusia.
Penelitian tentang ekofeminisme dalam karya Shields menunjukkan bahwa ia mengajukan narasi tandingan tentang perlunya perempuan membebaskan tubuh mereka dan menyelamat-kan bumi—sebuah pesan yang terasa sangat mendesak di tengah krisis iklim, dan yang mengingatkan kita bahwa ada hubung-an mendalam antara bagaimana kita memperlakukan perempuan dan bagaimana kita mem-perlakukan alam, bahwa untuk menyelamatkan satu, kita harus menyelamatkan yang lain.
Salah satu tema paling kuat lain dalam karya Shields adalah gagasan bahwa cerita menghubung-kan kita. Ia menulis tentang “hubungan tak terlihat antara adegan, orang, dan cerita”. Di dunia yang semakin terfragmentasi, di mana kita sering merasa sendirian meskipun terhubung secara digital, cerita-cerita Shields mengingatkan kita bahwa kita semua saling terhubung. Seperti dikatakan seorang pengulas tentang koleksi ini, “setiap cerita adalah cokelat yang lezat, tidak pernah terlalu manis, selalu dengan bahan yang tepat: keajaiban, humor, dan misteri, bersama dengan sentuhan fantasi sesekali”. Cerita-cerita ini adalah jembatan yang menghubungkan kita satu sama lain, mengingatkan bahwa meskipun kita berbeda, kita semua berbagi pengalaman manusia yang sama.
Hikmah yang Bisa Kita Petik
Dari Carol Shields dan koleksi cerita pendeknya, ada beberapa hikmah penting yang bisa kita petik untuk menghadapi tantangan zaman sekarang. Kita sering mencari makna dalam hal-hal besar: prestasi gemilang, petualangan epik, momen-momen dramatis—padahal Shields mengingatkan kita bahwa makna juga ada dalam hal-hal kecil: seorang ibu yang memotong rumput, sepasang suami istri yang saling memandang di tengah malam, seorang gadis yang duduk di sudut jalan.
Entah kita semua biasa-biasa saja, atau tidak ada satu pun dari kita yang biasa; setiap kehidupan adalah sebuah mahakarya. Kemampuan untuk memperhatikan dengan seksama, melihat melampaui permukaan, melihat kompleksitas di balik kesederhanaan dan keindahan di balik kekacauan, adalah salah satu keterampilan paling penting yang bisa kita kembangkan—keterampilan yang bisa mengubah cara kita melihat dunia dan orang lain.
Krisis iklim adalah salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi, dan Shields, melalui karya-karyanya, mengingatkan kita bahwa ada hubungan mendalam antara bagaimana kita mem-perlakukan alam dan bagaimana kita memperlakukan satu sama lain: hanya ada satu cara untuk menyelamatkan bumi dan kemanusiaan, yakni membebaskan alam dan perempuan dari dominasi patriarki—sebuah visi yang holistik dan menginspirasi. Di dunia yang penuh dengan data dan informasi, kita sering lupa bahwa ceritalah yang benar-benar menghubungkan kita. Shields adalah seorang pendongeng ulung yang mengingatkan bahwa dalam novel, kita bisa mendengar bagaimana orang berpikir; cerita memungkinkan kita masuk ke dalam pikiran orang lain, merasakan apa yang mereka rasakan, memahami apa yang mereka pikirkan. Dalam dunia yang terpolarisasi, cerita bisa menjadi jembatan.
Dan meskipun Shields sering menulis tentang kepahitan dan kekecewaan, ada rasa optimisme yang mendasari karyanya. Seperti dikatakan seorang pengulas, “Shields menyampaikan kebaikan manusia dalam diri setiap orang, bahkan saat ia menggambarkan kekurangan mereka”. Dalam “Mrs. Turner Cutting the Grass”, Mrs. Turner “tidak dapat membayangkan bahwa ada orang yang menginginkannya celaka”—sebuah keyakinan yang naif namun indah, bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Inilah yang membuat kita tak pernah berhenti mencari kebaikan, sekalipun dunia sering menunjukkan sisi sebaliknya.
Catatan Akhir: Merayakan Kita yang Luar Biasa
Saat kita menutup buku ini, kita disadarkan bahwa Carol Shields telah memberi kita lebih dari sekadar kumpulan cerita pendek. Ia telah memberi kita sebuah cara untuk melihat dunia: dengan penuh perhatian, dengan empati, dan dengan harapan. Margaret Atwood, dalam pengantarnya, merangkum dengan sempurna apa yang membuat Shields begitu istimewa—“extraordinariness of ordinary people”. Shields menemukan keajaiban dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam melakukannya, ia mengingatkan kita bahwa kita semua, dalam cara kita masing-masing, adalah luar biasa.
Di akhir hayatnya, Shields menulis “Segue”—sebuah cerita yang mengisyaratkan perjalanannya sendiri menuju akhir. Seperti ditulis seorang pengulas, koleksi terakhir ini adalah hadiah perpisahan, dan harus dibaca sebagaimana mestinya: setiap halaman dibalik perlahan, setiap paragraf dibuka dan dinikmati, setiap kata dibaca seolah-olah itu adalah yang terakhir—bagian dari kebahagiaan yang suatu hari nanti akan mereka serahkan dengan senang hati. Inilah warisan Carol Shields: sebuah undangan untuk memperhatikan, untuk terhubung, dan untuk menemukan keajaiban dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia yang penuh dengan kebisingan dan distraksi, undangan ini terasa lebih relevan dari sebelumnya.
Bogor, 26 Juli 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Karya Carol Shields
Shields, C. (2005). The Collected Stories. Harper Perennial.
Shields, C. (2002). Unless. Fourth Estate.
Shields, C. (1993). The Stone Diaries. Random House.
Jamieson, P. (2005, May 20). Carol Shields: Collected stories. NZ Herald.
Lee, H. (2004, July 3). Review: Collected Stories by Carol Shields. The Guardian.
Melikoğlu, E. (2025). Reta’s project of re-embedding Norah in her ‘natural’ body and in nonhuman nature in Carol Shields’s Unless. IDEAS: Journal of English Literary Studies, 5(1), 12-24.
Penguin Random House Canada. (n.d.). Reading guide for The Republic of Love.
ThriftBooks. (n.d.). The Collected Stories of Carol Shields.
Vauthier, S. (2005). The garden trope in “Mrs. Turner Cutting the Grass”. In The Collected Stories of Carol Shields (pp. 37-39).
Kutipan dari Pemikir Lain
Kutipan tentang perhatian dan kehidupan modern yang relevan dengan tema-tema Shields:
Baron, N. S. (2015). Words Onscreen: The Fate of Reading in a Digital World. Oxford University Press.
Carr, N. (2011). The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. W. W. Norton.
Casey, E. (2002). Gardens and the liminal. In Representing Place: Landscape Painting and Maps. University of Minnesota Press.
Oldenburg, R. (1999). The Great Good Place: Cafes, Coffee Shops, Bookstores, Bars, Hair Salons, and Other Hangouts at the Heart of a Community. Marlowe.
“Bacaan adalah tindakan perlawanan dalam lanskap distraksi.” — Naomi S. Baron, Words Onscreen






