Rubarubu #188
The Art and Adventure of Leadership:
Sebuah Perjalanan Batin
Pada suatu malam setelah Perang Dunia II, seorang perwira muda Angkatan Laut Amerika duduk termenung memikirkan mengapa banyak pemimpin hebat justru runtuh ketika meng-hadapi tekanan besar. Perwira muda itu adalah Warren Bennis. Pengalaman militernya memperlihatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar teknik mengatur organisasi, tetapi perjalanan batin manusia menghadapi kegagalan, ketidakpastian, ego, dan rasa takut. Bertahun-tahun kemudian, Bennis menjadi salah satu pemikir kepemimpinan paling berpengaruh di dunia modern.
Dalam The Art and Adventure of Leadership, yang ditulis bersama Steven B. Sample dan Rob Asghar, ia tidak lagi berbicara tentang kepemimpinan sebagai seperangkat formula mekanis. Buku ini terasa lebih seperti refleksi filosofis dan manusiawi tentang bagaimana seseorang bertahan, gagal, bangkit, dan menemukan makna di tengah perjalanan memimpin. (Wiley)
Buku ini lahir pada masa ketika dunia mulai menyadari bahwa krisis organisasi modern sering bukan terutama disebabkan kurangnya kecerdasan teknis, tetapi karena kegagalan moral, psikologis, dan spiritual para pemimpinnya. Setelah krisis finansial global, skandal korporasi, dan meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap elite politik maupun bisnis, pertanyaan tentang “apa arti menjadi pemimpin” menjadi jauh lebih mendalam dibanding sekadar bagaimana meningkatkan laba atau memenangkan kompetisi.
Kepemimpinan sebagai Keaslian Diri
Pada bagian Foreword, Bill George menulis dengan nada reflektif tentang mengapa Warren Bennis dianggap sebagai “dekan kepemimpinan modern.” (Bill George Official). George menekankan bahwa kontribusi terbesar Bennis bukan sekadar teori kepemimpinan, tetapi keberaniannya memanusiakan pemimpin. Dalam banyak tradisi manajemen lama, pemimpin digambarkan seperti figur heroik tanpa kelemahan. Namun Bennis justru memperlihatkan bahwa pemimpin sejati dibentuk melalui kegagalan, krisis, dan kemampuan mengenali diri sendiri.
George menghubungkan gagasan Bennis dengan konsep authentic leadership — kepemimpinan autentik yang lahir dari integritas batin, bukan sekadar pencitraan publik. Di era media sosial dan budaya performatif saat ini, pesan ini terasa semakin relevan. Dunia modern dipenuhi figur yang tampak kuat di luar tetapi rapuh secara moral dan psikologis.
Bennis, menurut George, mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan tentang memainkan peran sempurna, melainkan tentang keberanian menjadi manusia yang terus belajar.
Dalam Preface, Steven B. Sample menggambarkan kepemimpinan sebagai sebuah “petualangan” — sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi atau dikendalikan. (USC News). Ini penting karena banyak buku kepemimpinan modern cenderung menjual ilusi kepastian: jika mengikuti langkah A, maka hasil B akan tercapai. Namun Sample dan Bennis menolak pandangan mekanistik semacam itu. Mereka melihat kepemimpinan sebagai perjalanan penuh ketidakpastian, di mana keberhasilan sering lahir dari kemampuan:
- menghadapi kekacauan,
- belajar dari kegagalan,
- dan mempertahankan ketahanan psikologis.
Kepemimpinan, menurut mereka, lebih mirip seni daripada sains eksak. Di sini buku ini terasa sangat berbeda dari banyak literatur manajemen korporasi yang terlalu teknokratis.
Mengapa Banyak Pemimpin Gagal?
Pada bagian Introduction, Bennis dan Sample langsung menyentuh salah satu tema paling penting dalam seluruh buku: kegagalan.
Mereka melihat bahwa banyak pemimpin modern gagal bukan karena kurang cerdas, tetapi karena:
- kehilangan arah moral,
- tidak mengenal diri sendiri,
- takut menghadapi kenyataan,
- atau terjebak ego kekuasaan.
(Google Books – The Art and Adventure of Leadership)
Bennis menolak mitos bahwa pemimpin besar adalah manusia tanpa kelemahan.
Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa hampir semua pemimpin besar mengalami:
krisis,
keraguan,
kesalahan,
dan kegagalan.
Yang membedakan mereka adalah kemampuan bangkit dan belajar. Di sinilah konsep resilience menjadi sangat penting. Bennis memahami bahwa abad ke-21 adalah era ketidak-pastian permanen: krisis ekonomi, perubahan teknologi, AI, polarisasi sosial, dan gangguan geopolitik.
Karena itu kepemimpinan masa depan bukan hanya soal kecerdasan strategis, tetapi kemampuan psikologis dan moral bertahan di tengah dunia yang terus berubah.
Kepemimpinan sebagai Seni Mengenali Diri
Salah satu tema paling kuat dalam buku ini adalah pentingnya self-awareness.
Bennis percaya pemimpin yang tidak mengenal dirinya sendiri akan mudah:
- mabuk kekuasaan,
- defensif terhadap kritik,
- dan kehilangan arah moral.
Ia sering mengulang gagasan bahwa perjalanan kepemimpinan sejati dimulai dari pertanyaan:
“Siapa saya sebenarnya?”
Di sini pengaruh filsafat Yunani klasik terasa sangat kuat, terutama semboyan Delphi:
“Know thyself.”
Namun gagasan ini juga sangat dekat dengan tradisi spiritual Islam. Dalam banyak pemikiran sufi, mengenali diri dipandang sebagai jalan menuju kebijaksanaan moral. Al-Ghazali menulis bahwa manusia yang tidak memahami dirinya akan mudah diperbudak hawa nafsu dan ambisi duniawi.
Dalam konteks kepemimpinan modern, refleksi ini terasa sangat relevan. Banyak krisis politik dan korporasi hari ini sebenarnya bukan kegagalan teknis, tetapi kegagalan pengendalian ego.
Kegagalan sebagai Guru Kepemimpinan
Bennis dan Sample berulang kali menekankan bahwa kegagalan bukan akhir kepemimpinan, tetapi bagian dari proses pembentukannya. Mereka mengkritik budaya modern yang terlalu mengagungkan kesuksesan instan dan menyembunyikan kegagalan.
Padahal banyak pemimpin besar justru dibentuk oleh masa-masa sulit. Di sini buku ini terasa sangat manusiawi. Pemimpin bukan mesin sempurna, tetapi manusia yang belajar melalui luka, kehilangan, dan kesalahan. Pandangan ini memiliki resonansi mendalam dengan pengalaman para nabi dalam tradisi Islam.
Kisah Nabi Musa, Yusuf, dan Muhammad ﷺ penuh ujian, penolakan, dan kesulitan sebelum mencapai keberhasilan sosial besar. Islam tidak menggambarkan kepemimpinan sebagai jalan kemuliaan tanpa penderitaan, tetapi perjalanan sabar, refleksi, dan keteguhan moral.
Resilience: Ketahanan dalam Dunia yang Rapuh
Salah satu kontribusi penting buku ini adalah pembahasan tentang resilience.
Bennis memahami bahwa dunia modern semakin tidak stabil. Pemimpin akan menghadapi:
- perubahan cepat,
- tekanan publik,
- kegagalan organisasi,
- dan ketidakpastian permanen.
Karena itu kualitas terpenting bukan sekadar kecerdasan IQ, tetapi kemampuan menjaga keseimbangan mental dan emosional. Di sini buku ini terasa sangat relevan dengan kondisi pascapandemi dan era AI saat ini. Organisasi masa depan membutuhkan pemimpin yang:
- mampu belajar cepat,
- tidak hancur oleh tekanan,
- dan tetap menjaga kemanusiaannya di tengah percepatan teknologi.
Dalam tradisi Islam, konsep ini dekat dengan sabr dan tawakkul. Kesabaran bukan pasivitas, tetapi daya tahan moral dan spiritual menghadapi ketidakpastian hidup.
Kepemimpinan dan Moralitas
Bennis sangat menekankan bahwa kepemimpinan tanpa moralitas akan berubah menjadi manipulasi. Ia melihat banyak organisasi modern kehilangan legitimasi karena pemimpinnya terlalu fokus pada:
kekuasaan,
keuntungan,
atau citra publik,
tetapi melupakan tanggung jawab sosial.
Pandangan ini sangat relevan di era kapitalisme digital sekarang. Perusahaan besar kini meng-hadapi pertanyaan etis besar: dampak AI terhadap pekerjaan, eksploitasi data pribadi, krisis iklim, dan ketimpangan ekonomi global.
Karena itu kepemimpinan masa depan membutuhkan dimensi etika yang lebih dalam. Dalam Islam, konsep kepemimpinan selalu dikaitkan dengan amanah — tanggung jawab moral kepada manusia dan Tuhan. Kepemimpinan bukan hak istimewa, tetapi beban etis.
Relevansi untuk Sustainable Leadership
Meskipun ditulis pada 2015, buku ini terasa semakin relevan hari ini. Bennis dan Sample mema-hami bahwa masa depan organisasi tidak cukup dibangun hanya dengan efisiensi dan kompetisi.
Mereka melihat pentingnya:
- pembelajaran terus-menerus,
- ketahanan psikologis,
- integritas,
- kreativitas,
- dan kemampuan membangun makna bersama.
Dalam konteks bisnis berkelanjutan (sustainable leadership), buku ini memberi kontribusi penting karena menekankan bahwa organisasi sehat bergantung pada kualitas manusia dan budaya moralnya.
Teknologi dapat mempercepat sistem, tetapi tidak dapat menggantikan: kebijaksanaan,
empati, dan keberanian moral. Di era AI dan otomatisasi, pesan ini menjadi semakin penting.
Pada bagian awal The Art and Adventure of Leadership, Warren Bennis bersama Steven B. Sample dan Rob Asghar mengajak pembaca memasuki wilayah kepemimpinan yang jauh lebih dalam dibanding sekadar teknik manajemen. Buku ini tidak dimulai dengan strategi bisnis atau formula organisasi, tetapi dengan pertanyaan yang lebih eksistensial: apa sebenarnya arti keberhasilan dan kegagalan bagi seorang pemimpin? (Wiley).
Dalam bab pertama, Redefining Success and Failure, Bennis seperti ingin membongkar ilusi besar dunia modern yang terlalu menyamakan kesuksesan dengan kekuasaan, kekayaan, popularitas, atau kemenangan publik. Ia melihat banyak pemimpin tampak berhasil di luar tetapi sebenarnya gagal secara moral dan manusiawi.
Sebaliknya, ada pemimpin yang secara formal mengalami kekalahan, tetapi justru meninggal-kan warisan integritas dan kebijaksanaan yang jauh lebih besar. Di sini Bennis memperlihatkan bahwa keberhasilan sejati tidak bisa diukur hanya dengan angka atau citra publik. Keberhasilan, menurutnya, adalah kemampuan mempertahankan arah moral dan kemanusiaan di tengah tekanan kekuasaan.
Karena itu kegagalan pun tidak selalu berarti kehancuran. Kadang kegagalan justru menjadi ruang pembelajaran terdalam bagi seorang pemimpin. Bennis tampaknya sangat dipengaruhi oleh pengalaman sejarah besar abad ke-20: perang, krisis politik, dan keruntuhan tokoh-tokoh yang tampak kuat tetapi rapuh secara moral.
Ia memahami bahwa kekuasaan sering menciptakan ilusi keberhasilan sementara. Di sinilah buku ini terasa sangat relevan untuk abad ke-21. Dunia media sosial hari ini sering mengukur keberhasilan dari: popularitas, viralitas, dan pencitraan instan.
Namun Bennis mengingatkan bahwa sejarah sering memberi penilaian berbeda dibanding sorak-sorai sesaat masyarakat. Pandangan ini sangat dekat dengan pemikiran Viktor Frankl yang menulis: “Success, like happiness, cannot be pursued; it must ensue.”
Kesuksesan sejati bukan sesuatu yang dikejar secara obsesif, tetapi sesuatu yang muncul sebagai hasil dari hidup yang bermakna. Dalam tradisi Islam, gagasan ini juga sangat kuat. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa kemenangan duniawi tidak selalu identik dengan keberhasilan hakiki.
Banyak tokoh besar justru diuji melalui kesulitan, penolakan, dan penderitaan sebelum mem-peroleh makna yang lebih dalam. Dari redefinisi keberhasilan itulah buku ini bergerak menuju tema berikutnya: mengapa kepemimpinan membutuhkan keberanian menghadapi konflik dan perjuangan. Pada bagian Why Success Requires the Right Kind of Appetite for the Fight, Bennis dan Sample menjelaskan bahwa kepemimpinan sejati hampir tidak pernah lahir dari zona nyaman.
Pemimpin yang ingin membawa perubahan akan selalu berhadapan dengan: resistensi, kritik,
ketidakpastian, dan konflik kepentingan.
Karena itu pemimpin membutuhkan apa yang mereka sebut sebagai “appetite for the fight” — bukan cinta terhadap konflik destruktif, tetapi kesiapan psikologis untuk menghadapi per-tarungan moral dan intelektual.
Di sini Bennis membedakan antara pemimpin yang hanya ingin disukai dengan pemimpin yang bersedia mengambil risiko demi kebenaran atau perubahan yang diperlukan. Ia memahami bahwa banyak organisasi gagal karena pemimpinnya terlalu takut menciptakan ketidak-nyamanan.
Mereka memilih kompromi dangkal demi stabilitas semu. Padahal transformasi besar hampir selalu membutuhkan keberanian menghadapi ketegangan. Namun Bennis juga memperingat-kan bahwa “nafsu bertarung” yang sehat berbeda dengan ego agresif atau narsisme kekuasaan.
Pemimpin sejati tidak mencari konflik demi dominasi pribadi, tetapi karena memahami bahwa perubahan sering membutuhkan keberanian moral.
Dalam konteks modern, bagian ini terasa sangat relevan ketika banyak pemimpin publik justru menghindari keputusan sulit demi popularitas jangka pendek. Di sinilah kepemimpinan berubah menjadi sekadar manajemen citra. Dalam perspektif Islam, keberanian moral seperti ini dekat dengan konsep jihad al-nafs — perjuangan melawan kelemahan diri sendiri demi memper-tahankan prinsip yang benar.
Kepemimpinan bukan sekadar memenangkan pertarungan eksternal, tetapi juga mengendali-kan ego internal. Kemudian buku ini bergerak ke salah satu bagian paling penting: Accepting and Exercising Moral Responsibility. Di sini Bennis menegaskan bahwa inti terdalam kepemim-pinan adalah tanggung jawab moral. Pemimpin tidak hanya membuat keputusan teknis, tetapi keputusan yang mempengaruhi kehidupan manusia.
Karena itu mereka harus bersedia menerima beban etis dari pilihan-pilihan sulit. Bennis melihat banyak krisis modern terjadi karena para pemimpin mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab moralnya. Mereka bersembunyi di balik: prosedur, sistem, atau tekanan pasar.
Padahal keputusan tetap dibuat oleh manusia. Di sini buku ini terasa sangat kuat secara filosofis. Kepemimpinan dipandang bukan sekadar fungsi organisasi, tetapi tindakan moral.
Pemimpin harus mampu menghadapi dilema:
- memilih antara keuntungan dan keadilan,
- efisiensi dan kemanusiaan,
- loyalitas kelompok dan kebenaran.
Bennis memahami bahwa keputusan etis jarang hitam-putih. Karena itu kepemimpinan membutuhkan kedewasaan moral dan refleksi diri yang mendalam. Pandangan ini sangat relevan di era AI dan kapitalisme digital hari ini. Teknologi memungkinkan organisasi membuat keputusan besar dengan kecepatan luar biasa, tetapi pertanyaan moral tetap tidak bisa diotomatisasi.
Siapa yang bertanggung jawab atas dampak sosial teknologi? Siapa yang memikul konsekuensi ketika algoritma merugikan manusia? Bennis seakan mengingatkan bahwa teknologi tidak pernah membebaskan manusia dari tanggung jawab etisnya.
Dalam Islam, konsep ini sangat dekat dengan amanah. Kepemimpinan bukan privilese, tetapi tanggung jawab yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan manusia.
Dan dari pembahasan tanggung jawab moral itu, buku ini bergerak menuju kritik tajam terhadap salah satu bahaya terbesar organisasi modern: mentalitas kawanan.
Pada bagian Avoiding Groupthink, Mass Media, and the Failures of the Herd, Bennis mem-peringatkan bahwa manusia sering kehilangan independensi berpikir ketika berada dalam kelompok besar. Ia mengutip fenomena groupthink — situasi ketika kelompok terlalu terobsesi pada konsensus hingga kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Akibatnya organisasi atau negara bisa membuat keputusan katastrofik karena semua orang takut berbeda pendapat. Bennis melihat media massa dan budaya populer modern memperparah kecenderungan ini. Informasi bergerak sangat cepat, opini publik menjadi emosional, dan tekanan sosial membuat orang semakin sulit mempertahankan pemikiran independen.
Di era digital sekarang, analisis ini terasa hampir profetik. Media sosial menciptakan:
echo chamber,
tribalisme digital,
dan polarisasi emosional.
Orang lebih mudah mengikuti arus kelompok daripada melakukan refleksi kritis. Karena itu Bennis menekankan pentingnya pemimpin menjaga kemampuan berpikir mandiri dan keberanian mempertanyakan konsensus. Pemimpin sejati, menurutnya, sering harus berdiri melawan arus mayoritas ketika mayoritas kehilangan arah moral atau rasional. Di sini pemikiran Bennis terasa sangat dekat dengan filsafat klasik dan tradisi spiritual besar dunia.
Socrates pernah dihukum mati justru karena mempertanyakan opini publik Athena. Begitu pula banyak nabi dalam tradisi Abrahamik berdiri melawan arus sosial zamannya. Dalam Islam, Al-Qur’an sendiri berulang kali memperingatkan bahwa mayoritas tidak selalu berada di jalan yang benar.
Karena itu kepemimpinan membutuhkan: kejernihan batin, keberanian intelektual, dan ke-mampuan menjaga independensi moral di tengah tekanan massa.
Dan bila keempat bagian awal buku ini dirangkai bersama, tampak jelas bahwa Bennis sebenarnya sedang membangun fondasi kepemimpinan yang sangat manusiawi sekaligus filosofis.
Kepemimpinan bukan tentang tampil sempurna atau memenangkan semua pertarungan.
Ia adalah perjalanan menghadapi: kegagalan, konflik, tanggung jawab moral, dan tekanan sosial, tanpa kehilangan integritas diri.
Di tengah dunia abad ke-21 yang semakin bising, cepat, dan penuh manipulasi citra, pesan buku ini terasa semakin penting: bahwa pemimpin sejati bukan orang yang paling populer atau paling kuat, melainkan mereka yang tetap mampu berpikir jernih, bertindak etis, dan mempertahan-kan kemanusiaannya ketika banyak orang lain kehilangan arah.
Pada bagian tengah The Art and Adventure of Leadership, Warren Bennis dan Steven B. Sample mulai bergerak lebih jauh dari sekadar teori organisasi menuju refleksi yang lebih filosofis tentang bagaimana manusia belajar, gagal, dan membangun kembali dirinya. Buku ini perlahan terasa bukan lagi buku manajemen biasa, melainkan semacam meditasi intelektual tentang daya tahan peradaban modern menghadapi krisis. (Wiley)
Pada bagian A Timeless Reading List That Leads to Timely Success, Bennis dan Sample memperlihatkan keyakinan mendalam mereka bahwa pemimpin besar hampir selalu adalah pembaca besar.
Namun yang mereka maksud bukan sekadar membaca buku bisnis terbaru atau laporan industri, melainkan membaca karya-karya lintas zaman: sejarah, filsafat, biografi, sastra,
dan pemikiran klasik manusia.
Mereka percaya bahwa pemimpin yang hanya membaca dunia bisnis akan memiliki pandangan sempit tentang manusia dan kehidupan. Karena itu kepemimpinan membutuhkan “kedalaman batin intelektual.”
Di sini Steven Sample sangat menonjol pengaruhnya. Ia dikenal sebagai akademisi yang percaya bahwa pendidikan sejati bukan tentang spesialisasi sempit, tetapi kemampuan melihat hubung-an besar antarbidang pengetahuan. Bennis dan Sample tampaknya gelisah melihat dunia modern yang semakin teknokratis: manusia menjadi sangat terampil secara teknis tetapi miskin refleksi filosofis.
Mereka percaya pemimpin yang baik perlu memahami:
- tragedi sejarah,
- kompleksitas sifat manusia,
- paradoks moral,
- dan pola-pola besar peradaban.
Karena itu mereka mendorong pembacaan karya klasik bukan demi nostalgia intelektual, tetapi demi membangun kebijaksanaan. Di sini buku ini terasa sangat dekat dengan tradisi humanisme klasik. Pemimpin tidak cukup menjadi operator sistem; ia harus menjadi manusia yang memahami drama kemanusiaan itu sendiri.
Pandangan ini memiliki resonansi kuat dengan tradisi Islam klasik. Peradaban Islam pada masa keemasannya melahirkan pemimpin dan intelektual yang membaca luas: filsafat Yunani,
matematika India, kedokteran Persia, dan ilmu-ilmu agama sekaligus.
Ibn Khaldun sendiri menulis bahwa kemunduran peradaban sering dimulai ketika manusia berhenti berpikir mendalam dan hanya mengejar kemewahan praktis. Dalam konteks abad ke-21, pesan ini terasa semakin relevan.
Dunia digital menciptakan banjir informasi, tetapi tidak selalu melahirkan kebijaksanaan.
Orang membaca cepat, bereaksi cepat, tetapi semakin jarang merenung mendalam.
Bennis dan Sample seakan mengingatkan bahwa pemimpin masa depan memerlukan “ketenangan intelektual” untuk memahami dunia yang semakin kompleks.
Dari pentingnya pembelajaran mendalam itu, buku ini kemudian bergerak ke wilayah yang jauh lebih gelap: mengapa begitu banyak sistem modern justru memproduksi kegagalan secara struktural.
Pada bagian When Failure Is Baked Into the System, Bennis dan Sample mengkritik organisasi modern yang secara tidak sadar menciptakan kondisi yang hampir pasti menghasilkan kegagal-an. Ini salah satu bagian paling tajam dalam buku. Mereka menjelaskan bahwa kegagalan sering bukan terutama akibat kelemahan individu, tetapi akibat sistem yang: menghukum kejujuran, mendorong konformitas, mengabaikan sinyal bahaya, dan mem-prioritaskan citra dibanding realitas.
Di sini Bennis banyak berbicara tentang budaya organisasi yang membuat orang takut mengata-kan kebenaran. Akibatnya masalah kecil berkembang menjadi bencana besar. Ia melihat pola ini berulang dalam: korporasi, institusi politik, militer, bahkan media.
Kegagalan sistemik, menurutnya, lahir ketika organisasi lebih sibuk mempertahankan ilusi stabilitas dibanding menghadapi kenyataan. Analisis ini terasa sangat relevan setelah berbagai krisis modern: krisis finansial global, skandal korporasi, bencana lingkungan, hingga kegagalan birokrasi menghadapi pandemi.
Bennis memahami bahwa organisasi modern sering terlalu kompleks dan terlalu hierarkis untuk mampu mendengar realitas dari bawah. Dan ketika kritik internal dibungkam, kegagalan menjadi “dipanggang” ke dalam sistem itu sendiri.
Di sini buku ini memiliki kedekatan kuat dengan pemikiran Hannah Arendt tentang banalitas kejahatan: bahwa kehancuran besar sering lahir bukan dari monster luar biasa, tetapi dari sistem biasa yang membuat manusia berhenti berpikir kritis dan berhenti merasa bertanggung jawab.
Dalam perspektif Islam, kritik semacam ini juga sangat dikenal. Al-Qur’an berulang kali meng-gambarkan kehancuran masyarakat bukan hanya karena individu jahat, tetapi karena sistem sosial yang membiarkan ketidakadilan, kesombongan kolektif, dan pembungkaman kebenaran berkembang tanpa koreksi moral.
Kemudian buku ini bergerak menuju tema yang sangat khas budaya Amerika: kegagalan sebagai kesempatan kedua. Pada bagian Bankruptcy and Failure as the Great American Pastime: A Land of Second Chances, Bennis dan Sample menunjukkan sisi unik peradaban Amerika yang, meski-pun keras secara kompetitif, juga memiliki budaya memberi kesempatan bangkit kembali setelah kegagalan.
Mereka melihat bahwa banyak inovasi besar lahir justru dari orang-orang yang pernah gagal.
Dalam budaya tertentu, kegagalan dianggap noda permanen. Namun dalam tradisi kewira-usahaan Amerika, kegagalan sering dipandang sebagai pengalaman belajar. Karena itu mereka menyebut Amerika sebagai “tanah kesempatan kedua.”
Namun Bennis tidak memuliakan kegagalan secara romantis. Ia memahami bahwa kegagalan tetap menyakitkan: menghancurkan reputasi, karier, bahkan identitas diri. Tetapi ia percaya kemampuan bangkit setelah jatuh adalah inti dari kepemimpinan.
Di sini konsep resilience kembali menjadi pusat pemikiran mereka. Pemimpin besar bukan mereka yang tidak pernah gagal, tetapi mereka yang mampu: belajar, berubah, dan mem-bangun kembali dirinya tanpa tenggelam dalam kepahitan. Pandangan ini terasa sangat relevan di era modern yang penuh disrupsi.
Hari ini organisasi dan individu harus menghadapi: otomatisasi, AI, krisis ekonomi,
dan perubahan industri yang sangat cepat. Kemampuan beradaptasi setelah kegagalan menjadi kualitas vital. Menariknya, bagian ini juga membuka refleksi lebih luas tentang bagaimana masyarakat memperlakukan kegagalan.
Budaya yang terlalu menghukum kesalahan akan melahirkan manusia defensif dan takut bereksperimen. Sebaliknya, budaya yang mampu memandang kegagalan sebagai pembelajaran cenderung lebih inovatif dan resilien.
Dalam tradisi Islam, konsep ini dekat dengan gagasan taubah dan rahmat. Manusia tidak dipandang sebagai makhluk yang ditentukan selamanya oleh kesalahannya. Selalu ada ruang untuk memperbaiki diri dan kembali membangun kehidupan. Dan bila ketiga bagian ini dirangkai bersama, tampak bahwa Bennis dan Sample sebenarnya sedang menyampaikan satu pesan besar: kepemimpinan yang sehat lahir dari kemampuan belajar secara mendalam, menghadapi kegagalan secara jujur, dan membangun sistem yang memungkinkan manusia terus berkembang.
Mereka menolak budaya modern yang: dangkal secara intelektual, takut terhadap kegagalan,
dan terlalu sibuk menjaga citra. Sebaliknya, mereka mengajak pemimpin menjadi manusia yang:
membaca luas, berpikir kritis, berani menghadapi kenyataan, dan cukup rendah hati untuk belajar dari kehancuran maupun kesalahan.
Di tengah abad ke-21 yang penuh percepatan informasi dan tekanan performa, pesan ini terasa semakin penting: bahwa masa depan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang paling pintar atau paling kuat, tetapi oleh mereka yang paling mampu belajar, bertahan, dan membangun makna baru setelah kegagalan.
Pada bagian penutup The Art and Adventure of Leadership, suasana buku berubah menjadi semakin reflektif dan hampir kontemplatif. Setelah sepanjang perjalanan membahas kegagalan, keberanian moral, tekanan sosial, pembelajaran, dan daya tahan manusia, Warren Bennis bersama Steven B. Sample akhirnya membawa pembaca pada satu gagasan besar: bahwa kegagalan bukan sesuatu yang sekadar harus dihindari, tetapi sesuatu yang dapat “ditebus” dan diberi makna. (Wiley).
Pada bagian Conclusion: Redeeming Failure, Bennis tampak ingin melawan salah satu ketakutan terbesar dunia modern: ketakutan dianggap gagal. Ia memahami bahwa masyarakat kontem-porer sangat terobsesi pada keberhasilan publik: jabatan, kekayaan, pengaruh, popularitas, dan citra.
Catatan Akhir: Perjalanan Batin
The Art and Adventure of Leadership pada akhirnya bukan sekadar buku tentang bagaimana memimpin organisasi. Ia adalah refleksi tentang bagaimana manusia menghadapi kekuasaan, kegagalan, dan ketidakpastian tanpa kehilangan integritas dirinya.
Bennis dan Sample memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang tampil sempurna, tetapi tentang:
- keberanian belajar,
- kemampuan bangkit,
- kesediaan mendengar,
- dan menjaga arah moral di tengah dunia yang terus berubah.
Dan mungkin di situlah inti terdalam buku ini: bahwa kepemimpinan bukan posisi, melainkan perjalanan batin manusia untuk tetap menjadi manusia di tengah godaan kekuasaan dan tekanan zaman.
Bogor, 29 Juni 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Al-Ghazālī. (2015). The revival of the religious sciences (Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn) (Various editions and translations). Islamic Texts Society.
Bennis, W., Sample, S. B., & Asghar, R. (2015). The art and adventure of leadership: Understanding failure, resilience, and success. John Wiley & Sons.
Bill George. Official Website. Retrieved from https://www.billgeorge.org
Brown, B. (2018). Dare to lead: Brave work. Tough conversations. Whole hearts. Random House.
Collins, J. (2001). Good to great. HarperBusiness.
Covey, S. R. (1989). The seven habits of highly effective people. Free Press.
Frankl, V. E. (2006). Man’s search for meaning. Beacon Press. (Original work published 1946)
George, B. (2007). True north: Discover your authentic leadership. Jossey-Bass.
George, B., & Sims, P. (2007). True north: Discover your authentic leadership. Jossey-Bass.
George, B. (2015). Discover your true north. Jossey-Bass.
Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam Books.
Greenleaf, R. K. (1977). Servant leadership: A journey into the nature of legitimate power and greatness. Paulist Press.
Heifetz, R. A., Grashow, A., & Linsky, M. (2009). The practice of adaptive leadership. Harvard Business Press.
Kouzes, J. M., & Posner, B. Z. (2023). The leadership challenge (7th ed.). Wiley.
Lencioni, P. (2002). The five dysfunctions of a team. Jossey-Bass.
Ṣaḥīḥ Muslim.
Sinek, S. (2009). Start with why: How great leaders inspire everyone to take action. Portfolio. The Holy Qur’an, Surah Āli ‘Imrān (3):159.
The Holy Qur’an, Surah Ash-Sharḥ (94):5–6.
University of Southern California (USC). Steven B. Sample: Leadership Legacy. Retrieved from https://news.usc.edu
Wiley. The Art and Adventure of Leadership. Retrieved from https://www.wiley.com






