halaman drm # 54
Pena Tinta: Ketika Noda Berceceran di Jubah
Dwi R. Muhtaman
Setiap ada kesempatan, biasanya subuh sehabis menunaikan shalat, siang sebelum rehat atau petang, Ia selalu duduk di ruang kerja yang sekaligus kamar tidurnya. Jemarinya sibuk menggoreskan pena tinta di buku-buku catatannya. Mencatat segala kegiatan, utamanya, transaksi-transaksi pembelian sesuatu yang dilakukan pada hari itu. Atau hal-hal yang menarik perhatiannya untuk ditulis.
Ketika masih aktif sebagai Kepala Dinas di kantor pertanian daerah, tentu lebih banyak hal lagi yang dicatat. Buku-buku catatannya penuh dengan agenda-agenda dan notulen kedinasannya. Tulisannya indah. Tebal tipis, panjang pendek huruf yang membentuk kalimat-kalimat begitu cantik. Ia menuliskan dengan pena tinta, jenis pena dengan ujung runcing yang mengalirkan tinta setiap kali goresan menyentuh kertas, tanpa belepotan kemana-mana. Ia adalah Soedaery Soewitaatmadja, Kepala Dinas Kantor Pertanian di Indramayu, Kuningan dan Cirebon pada periode 1970-an. Ia adalah Bapak Mertua saya.
Kini sangat jarang orang menulis dengan pena tinta. Sahabat saya, Sutjie Shinto masih rajin menulis dengan pena tinta. Kumpulan buku puisinya ditulis dengan pena itu. Saya dberi satu pena koleksinya: Hero 331, desain hooded nib yang diproduksi antara tahun 1980-1990, diproduksi oleh Shanghai Hero Pen Company, Tiongkok, plus tinta Jinhao 5001 Dark Blue.
Ketika kita pernah menggunakan pena itu, pernahkah terpikir siapa penemunya?
Bayangkan sebuah istana di kota Mansuriya, dekat Kairouan, Tunisia Utara, pada pertengahan abad ke-10. Di dalam ruangan yang dingin karena lantai marmer dan langit-langit yang tinggi, duduk seorang pria dengan jubah sutra yang tampak gelisah.
Di hadapannya, di atas meja kayu cendana, berserakan beberapa lembar perkamen. Di sudut meja, sebuah wadah tinta kecil—dawat—terbuat dari kaca, dengan sisa-sisa tinta hitam mengering di pinggirannya.
Pria itu adalah Al-Mu’izz li-Din Allah, khalifah keempat Dinasti Fatimiyah, yang wilayah kekuasaannya membentang dari Samudra Atlantik hingga Laut Merah. Ia baru saja selesai menulis sepucuk surat penting kepada panglima perangnya di Sisilia.
Namun ketika ia mengangkat tangannya, ia mendapati sesuatu yang membuatnya menghela napas panjang.
Jari-jarinya hitam. Noda tinta.
Lagi. Dan lagi.
Seumur hidupnya, Al-Mu’izz telah menulis ribuan surat, fatwa, dan dokumen kenegaraan. Dan seumur hidupnya pula, ia harus berurusan dengan musuh abadi para penulis di abad pertengahan: tinta yang menodai. Setiap kali ia mencelupkan pena bulu (qalam) ke dalam wadah tinta, ia harus berdoa agar tidak ada tetes yang jatuh.
Setiap kali ia mengangkat pena dari kertas, ia harus berhati-hati agar tinta tidak berceceran. Setiap kali ia harus berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain sambil membawa dokumen, ia mempertaruhkan jubah sutranya yang mahal.
Pada suatu sore, mungkin setelah menodai jubah kesayangannya untuk yang kesekian kalinya, Al-Mu’izz memanggil seorang juru tulis istana. Bukan untuk menulis—ia lebih suka menulis sendiri—tetapi untuk menyampaikan sebuah permintaan yang akan mengubah sejarah alat tulis dunia selamanya.
“Kami ingin membuat sebuah pena yang dapat digunakan untuk menulis tanpa harus berulang kali mencelupkannya ke dalam wadah tinta,” kata Al-Mu’izz. Matanya berbinar. “Sebuah pena yang tintanya tersimpan di dalam tubuhnya sendiri. Seseorang dapat mengisinya dengan tinta dan menulis apa pun yang ia kehendaki. Penulis dapat menyimpannya di lengan bajunya atau di mana pun ia mau, dan ia tidak akan ternoda, tidak setetes tinta pun akan bocor keluar darinya. Tinta akan mengalir hanya ketika ada niat untuk menulis.”
Juru tulis itu terdiam.
Matanya membelalak. Ia telah bekerja di istana selama puluhan tahun, melayani para khalifah, menyalin dokumen-dokumen penting dengan pena bulu biasa. Ia telah melihat banyak hal ajaib—mesin air, jam air, otomaton-otomon mekanis—tetapi permintaan ini… ini gila.
“Apakah ini mungkin?” bisiknya, nyaris tak percaya.
Al-Mu’izz tersenyum. Senyum seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Itu mungkin jika Allah menghendaki.”
Ia mengangguk pada juru tulis itu. “Sampaikan permintaan ini kepada para insinyur istana. Katakan kepada mereka: hadirkan padaku sebuah pena yang tidak akan pernah menodai tanganku lagi.”
Juru tulis itu berjalan keluar dari ruangan dengan langkah gontai, kepalanya penuh dengan keraguan. Ia tidak tahu bahwa dalam hitungan hari, para insinyur istana—yang namanya tidak pernah tercatat dalam sejarah—akan menciptakan sesuatu yang belum pernah ada di dunia sebelumnya.
Maka dimulailah babak pertama dalam sejarah panjang fountain pen, 900 tahun sebelum Waterman, Sheaffer, atau Parker.
Selamat datang di kisah yang terlupakan.
Kisah tentang bagaimana seorang khalifah yang lelah dengan noda tinta, para insinyur tanpa nama yang mewujudkan mimpinya, dan seorang qadi bernama al-Nu’man yang mencatat semuanya dalam sebuah kitab, menciptakan momen yang akan bergema selama ribuan tahun.
Karena pada tahun 953 M, di sebuah istana di Tunisia utara, muncullah nenek moyang dari setiap pulpen yang pernah Anda gunakan. Dan kisahnya, meskipun jarang diceritakan, adalah salah satu yang paling penting dalam sejarah peradaban manusia.
Siapa Itu Al-Mu’izz?
Sang Khalifah — Al-Mu’izz li-Din Allah, pria di balik permintaan abadi ini? Abu Tamim Ma’ad al-Mu’izz li-Din Allah (931-975 M) adalah khalifah keempat Dinasti Fatimiyah, yang memerintah dari tahun 953 hingga 975 M.1 Ia naik takhta pada usia 21 tahun, mewarisi sebuah kekaisaran yang membentang dari Maroko hingga Mesir, dan akan menjadi khalifah yang berhasil memindahkan ibu kota Fatimiyah dari Mansuriya (di Tunisia saat ini) ke Kairo, Mesir, pada tahun 972 M.2
Nama panjangnya mengandung makna yang dalam: Al-Mu’izz li-Din Allah berarti “Yang Memperkuat Agama Allah.” Ia adalah pemimpin Dinasti Fatimiyah, yang menganut aliran Syiah Ismailiyah, dan ia dikenal sebagai salah satu penguasa paling cakap dan toleran pada zamannya.3
Di bawah pemerintahannya, kekaisaran Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya. Ia membangun istana-istana megah, masjid-masjid monumental (termasuk Masjid Al-Azhar di Kairo, yang hingga kini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tertua di dunia), dan infrastruktur yang mengesankan. Ia juga dikenal sebagai pelindung ilmu pengetahuan, seni, dan sastra.4
Yang membuat Al-Mu’izz istimewa—dan yang menjadi kunci dari kisah kita—adalah kebiasaannya menulis dengan tangannya sendiri. Ia adalah Khalifah yang suka menulis. Di era ketika sebagian besar penguasa lebih suka mendiktekan surat-surat mereka kepada juru tulis, Al-Mu’izz adalah penulis yang rajin.5 Ia menulis surat-surat pribadi, dokumen kenegaraan, bahkan catatan-catatan pinggir pada dokumen resmi dengan tangannya sendiri.
Alasan di balik kebiasaan ini adalah kerahasiaan. Sebagai seorang khalifah yang harus menangani urusan intelijen dan diplomasi yang sensitif, ia tidak ingin rahasia-rahasia negaranya diketahui oleh juru tulis atau pihak ketiga lainnya. Ia lebih suka menulis sendiri, sehingga hanya ia yang mengetahui isi penuh dari korespondensinya.6
Namun kebiasaan ini memiliki satu konsekuensi yang mengganggu: noda tinta.
Pena pada masa itu—yang disebut qalam—terbuat dari bulu burung (biasanya bulu angsa atau burung unta) yang dipotong ujungnya membentuk runcing.7 Untuk menulis, seorang penulis harus mencelupkan ujung pena ke dalam wadah tinta (dawat) setiap beberapa kata. Proses ini tidak hanya mengganggu alur berpikir, tetapi juga—yang lebih penting—sangat berantakan.
Tinta menetes, menodai jari, tangan, lengan baju, dan kadang-kadang dokumen itu sendiri.
Bagi seorang khalifah yang harus tampil rapi di hadapan para pembesar istana dan duta asing, noda tinta di jubah sutra bukanlah pemandangan yang mengesankan.
Permintaan yang Mengubah Dunia
Suatu hari, di tahun 953 M, Al-Mu’izz memanggil seorang juru tulis istana—yang kemungkinan bernama Qadi al-Nu’man al-Tamimi—dan menyampaikan sebuah permintaan yang tidak biasa.
Permintaan itu kemudian dicatat oleh al-Nu’man sendiri dalam kitabnya Kitab al-Majalis wa al-Musayarat (“Kitab tentang Majelis dan Perjalanan”).
Dalam catatannya, Al-Mu’izz berkata, tambahan seperti kutipan sebelumnya:
“— Kami tidak tahu siapa pun yang sebelumnya pernah membuat pena seperti ini, dan ini adalah indikasi ‘kebijaksanaan yang menembus’ bagi siapa pun yang merenungkannya dan menyadari makna serta tujuannya yang tepat.”
Juru tulis itu, yang terbiasa dengan pena bulu biasa, tercengang. “Apakah ini mungkin?” tanyanya, nyaris tidak percaya.
Al-Mu’izz menjawab dengan tenang: “Itu mungkin jika Allah menghendaki.” 8
Pertukaran singkat ini—terdiri dari tidak lebih dari tiga kalimat—menjadi titik awal dari salah satu inovasi teknologi paling signifikan dalam sejarah peradaban manusia.
Beberapa sumber menyebutkan tahun 973 M sebagai tahun peristiwa ini, sementara yang lain menyebut 953 M. 9 10 11 Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh kebingungan antara tahun naik takhta Al-Mu’izz (953 M) dan tahun ia memindahkan ibu kota ke Kairo (973 M).
Sejarawan C.E. Bosworth, yang meneliti manuskrip al-Nu’man dalam Journal of Semitic Studies(1981), mengkonfirmasi bahwa peristiwa ini terjadi pada tahun 953 M, ketika Al-Mu’izz masih berkuasa di Mansuriya, Tunisia. 12 13
Terlepas dari perbedaan tahun, yang jelas adalah: pada pertengahan abad ke-10, ide tentang pena dengan tinta di dalamnya telah lahir di istana Fatimiyah, Afrika Utara. Ini terjadi lebih dari 600 tahun sebelum penemuan-penemuan serupa di Eropa, dan 900 tahun sebelum fountain pen modern dipatenkan.
Selain dikenal sebagai pencetus ide fountain pen, Al-Mu’izz juga memiliki kaitan menarik dengan sejarah lain. Beberapa sumber menyebutkan bahwa putranya, Nizar, kemudian dikenal sebagai Imam al-Aziz billah, melanjutkan kepemimpinan Fatimiyah. Namun yang lebih menarik: melalui garis keturunan ini, beberapa kalangan percaya bahwa Pangeran Aga Khan IV, pemimpin spiritual komunitas Ismailiyah Nizari saat ini, adalah keturunan langsung dari Khalifah Al-Mu’izz .
Meskipun koneksi ini bersifat genealogis dan bukan bagian dari kisah teknis fountain pen, ia menambah lapisan historis yang menarik pada sosok Al-Mu’izz—seorang pemimpin yang tidak hanya berkuasa tetapi juga visioner dalam hal teknologi dan kenyamanan.
“Setelah Beberapa Hari…”
Setelah Al-Mu’izz menyampaikan permintaannya, sang juru tulis—yang terkejut namun patuh—menyampaikan perintah khalifah kepada para insinyur istana. Tidak ada catatan tentang siapa mereka, dari mana asalnya, atau berapa banyak orang yang terlibat dalam proyek ini.
Namun satu hal yang pasti: mereka bekerja cepat. Para insinyur tanpa nama itu bekerja dengan pikiran, hati dan tangan-tangan ajaib di balik istana.
Dalam catatan al-Nu’man, disebutkan bahwa tidak lebih dari beberapa hari setelah percakapan itu, para insinyur telah menghadirkan sebuah prototipe kepada khalifah. Waktu yang sangat singkat untuk sebuah penemuan yang sama sekali baru.
“Setelah percakapan ini, tidak lebih dari beberapa hari berlalu sebelum pengrajin (craftsman), kepada siapa konstruksi alat ini telah dijelaskan, membawa pena itu, yang dibuat dari emas murni,” tulis al-Nu’man .
Pilihan bahan—emas murni—bukan sekadar untuk kemewahan (meskipun tentu saja seorang khalifah pantas mendapatkan yang terbaik). Ada alasan teknis yang cerdas di baliknya:
- Tahan karat: Emas tidak bereaksi dengan tinta, yang pada masa itu sering bersifat asam dan korosif. Pena dari besi atau tembaga akan cepat rusak.
- Mudah dibentuk: Emas lunak dan mudah dipahat menjadi bentuk yang rumit—sangat penting untuk membuat saluran tinta yang halus.
- Bobot yang pas: Emas cukup berat untuk terasa mantap di tangan, tetapi tidak terlalu berat sehingga melelahkan.
Selain itu, emas juga memiliki sifat “non-stick” alami terhadap tinta—tinta cenderung menggumpal dan tidak menyebar di permukaan emas, sehingga saluran tinta tetap bersih. Maka lahirlah pena emas. Ia lebih dari sekadar kemewahan.
Mekanisme yang Revolusioner
Bagaimana cara kerja pena ini? Meskipun tidak ada gambar teknis yang selamat, deskripsi al-Nu’man cukup rinci untuk memberi kita gambaran:
“Pena itu dilepaskan sedikit lebih banyak tinta daripada yang diperlukan. Karena itu, Al-Mu’izz memerintahkan agar disesuaikan sedikit, dan ia melakukan ini.”
Setelah penyesuaian, hasil akhirnya adalah sebuah pena yang:
“…ternyata menjadi pena yang dapat dibalik di tangan dan dimiringkan ke segala sisi, dan tidak ada jejak tinta yang keluar darinya. Ketika seorang sekretaris mengambil pena itu dan menulis dengannya, ia mampu menulis dalam skrip paling elegan yang mungkin diinginkan; kemudian, ketika ia mengangkat pena dari lembaran bahan tulis, ia menahan tinta di dalamnya.”
Ini adalah deskripsi tentang sebuah pena dengan tinta di dalamnya yang tidak bocor, tidak menodai, dan hanya mengeluarkan tinta ketika disentuhkan ke kertas. Ini adalah konsep yang persis sama dengan fountain pen modern.
Beberapa elemen teknis yang dapat kita rekonstruksi dari deskripsi ini:
- Reservoir tinta internal: Pena ini pasti memiliki rongga di dalam tubuhnya untuk menampung tinta. Ini adalah terobosan utama—karena sebelumnya, “reservoir” adalah wadah eksternal (dawat) yang harus dicelupkan berulang kali.
- Sistem aliran yang diatur: Pena ini tidak mengeluarkan terlalu banyak tinta atau terlalu sedikit. Ini menunjukkan adanya semacam feed (saluran pengatur aliran) yang mengontrol seberapa banyak tinta yang sampai ke ujung pena.
- Mekanisme penahan tinta saat tidak digunakan: Yang paling mengagumkan—pena ini tidak bocor bahkan ketika dibalik atau dimiringkan. Ini menunjukkan adanya sistem katup atau tekanan udara yang mencegah tinta keluar kecuali ketika ujung pena menyentuh kertas (yang memicu aliran melalui kapilaritas).
- Ujung yang runcing: Pena ini mampu menulis “dalam skrip paling elegan”—artinya ujungnya cukup halus untuk menghasilkan tulisan yang indah.
Salah satu misteri terbesar dari kisah ini adalah mengapa nama insinyur yang membuat pena ini tidak pernah disebutkan. Mengapa nama mereka tidak tercatat?
Al-Nu’man, yang mencatat peristiwa ini dengan sangat rinci, hanya menyebut “pengrajin” (al-sani’) atau “orang yang kepadanya konstruksi alat ini dijelaskan.” 14
Beberapa kemungkinan:
- Budaya anonimitas dalam teknologi istana: Di istana-istana abad pertengahan, para insinyur dan pengrajin sering dianggap sebagai “pelayan” yang tidak perlu disebutkan namanya. Yang penting adalah khalifah sebagai pemrakarsa dan pelindung.
- Kerahasiaan militer: Mungkin pena ini dianggap sebagai “teknologi rahasia” yang tidak boleh diketahui oleh kompetitor atau musuh. Nama pembuatnya sengaja dirahasiakan.
- Nasib tragis: Beberapa spekulasi menyebutkan bahwa insinyur ini mungkin dieksekusi setelah membuat pena—sebuah praktis yang tidak jarang di istana-istana kuno untuk mencegah teknologi rahasia bocor ke tangan musuh. Namun tidak ada bukti yang mendukung teori ini.
Apapun alasannya, ketiadaan nama ini adalah ironi yang pahit: orang yang menciptakan salah satu penemuan paling berpengaruh dalam sejarah alat tulis tetap tidak dikenal hingga hari ini.
Klaim Alternatif: Abbas ibn Firnas?
Beberapa sumber, terutama dari dunia Arab, menyebutkan bahwa Abbas ibn Firnas (810-887 M)—ilmuwan, penemu, dan penerbang asal Andalusia—mungkin memiliki andil dalam pengembangan fountain pen.15 Ibnu Firnas lebih dikenal karena upayanya untuk terbang dengan sayap sutra dan bulu elang pada tahun 875 M, sebuah eksperimen yang oleh sebagian sejarawan dianggap sebagai upaya penerbangan manusia pertama dalam sejarah.
Klaim bahwa ia menemukan fountain pen, bagaimanapun, tidak memiliki bukti dokumenter yang kuat. Ibnu Firnas wafat pada tahun 887 M—66 tahun sebelum perintah Al-Mu’izz pada tahun 953 M. Tidak ada catatan kontemporer yang menghubungkannya dengan pena reservoir.
Kemungkinan besar, klaim ini muncul karena kebingungan dengan penemuan-penemuan Ibnu Firnas yang lain, atau karena keinginan untuk mengatribusikan penemuan penting ini kepada seorang ilmuwan yang sudah terkenal. Sumber yang paling otoritatif—catatan al-Nu’man dan analisis C.E. Bosworth—tetap menempatkan peristiwa ini di istana Fatimiyah pada tahun 953 M, tanpa menyebut nama Ibnu Firnas.
Siapa Itu Qadi al-Nu’man?
Jika para insinyur itu tanpa nama, maka al-Nu’man—juru tulis yang mencatat semua ini—adalah pahlawan tak terduga dari kisah kita. Tanpa catatannya yang teliti, kita tidak akan pernah tahu tentang peristiwa luar biasa ini.
Al-Nu’man ibn Muhammad al-Tamimi (wafat 974 M) adalah seorang qadi (hakim) agung Dinasti Fatimiyah, sejarawan, dan ahli hukum terkemuka pada masanya. Ia menulis lebih dari 30 kitab, terutama tentang fikih Ismailiyah, sejarah, dan etika istana. Karyanya yang paling terkenal adalah Kitab al-Majalis wa al-Musayarat (“Kitab tentang Majelis dan Perjalanan”), yang merupakan catatan harian tentang perkataan dan perbuatan Khalifah Al-Mu’izz.
Kitab ini unik karena ia ditulis dari sudut pandang seorang insan istana yang hadir secara langsung dalam peristiwa-peristiwa yang ia catat. Ini bukan sejarah “second-hand”; ini adalah saksi mata. Qadi al-Nu’man al-Tamimi dengan manuskrip abadi yang ditulisnya merupakan saksi sejarah.
Setelah menyaksikan demonstrasi pena baru itu, al-Nu’man menulis dengan nada kagum yang masih terasa hingga hari ini:
“Saya menyaksikan bahwa itu adalah karya yang indah, yang tidak pernah saya bayangkan akan saya lihat.”
Dalam catatannya yang lain, ia mengutip secara lengkap perintah Al-Mu’izz kepada para insinyur, dan deskripsi tentang fungsi pena tersebut. Ini adalah dokumentasi teknis tertua tentang sebuah fountain pen dalam sejarah manusia.
Apakah pena ini benar-benar berfungsi? Pertanyaan kritis yang sering diajukan: apakah pena ini benar-benar berfungsi, atau hanya konsep teoretis?
Para skeptis berpendapat bahwa tanpa pemahaman tentang tekanan udara dan kapilaritas—yang baru dipahami di Eropa pada abad ke-17—tidak mungkin pena seperti ini benar-benar bekerja.
Namun bukti dari catatan al-Nu’man sangat meyakinkan:
- Al-Mu’izz sendiri menguji dan menyesuaikan pena itu. Ia memerintahkan penyesuaian setelah prototipe awal mengeluarkan “sedikit lebih banyak tinta daripada yang diperlukan.” Ini menunjukkan bahwa ada proses iterasi desain yang nyata.
- Pena itu digunakan oleh sekretaris untuk menulis. Bukan hanya mainan istana; ia benar-benar diuji dalam penggunaan praktis.
- C.E. Bosworth, sejarawan terkemuka dari Universitas Manchester, setelah meneliti manuskrip asli, menyimpulkan bahwa “jika pena yang dipesan oleh al-Mu’izz benar-benar berfungsi, ia mendahului fountain pen produksi massal pertama di Barat selama beberapa abad.”
Dr. J.P. Theron, dalam analisisnya tentang sejarah fountain pen, menegaskan bahwa “desain yang berkembang muncul pada tahun 953 M ketika khalifah Fatimiyah Mesir, Al-Mu’izz li-Din Allah, diduga memerintahkan pembuatan pena yang tidak akan menodai jubah kerajaannya.”
Kesimpulan para sejarawan: ya, pena ini hampir pasti benar-benar berfungsi. Dan ini berarti bahwa teknologi fountain pen telah ditemukan di Afrika Utara pada abad ke-10—600 tahun sebelum penemuan serupa di Eropa.
Mengapa pena ini tidak mengubah dunia saat itu?Jika teknologi fountain pen sudah ada pada tahun 953 M, mengapa dunia tidak langsung berubah? Mengapa kita masih menggunakan pena bulu selama berabad-abad setelahnya?
Beberapa faktor menjelaskan “kegagalan adopsi” ini:
- Biaya produksi yang sangat tinggi: Pena ini dibuat dari emas murni oleh pengrajin istana. Tidak mungkin diproduksi massal untuk rakyat biasa. Fountain pen baru menjadi populer di Eropa pada abad ke-19 setelah penemuan iridium-tipped nib (ujung pena berlapis iridium), hard rubber, dan tinta yang tidak korosif—teknologi yang tidak tersedia pada abad ke-10.16 17
- Kerahasiaan istana: Kemungkinan teknologi ini dijaga ketat sebagai rahasia istana, tidak boleh diketahui oleh kerajaan atau kekaisaran lain.
- Kurangnya dokumentasi teknis: Tanpa gambar atau deskripsi mekanisme yang rinci, para insinyur setelahnya tidak dapat mereplikasi penemuan ini. Pengetahuan itu mati bersama para pembuatnya.
- Ketergantungan pada keahlian tangan: Pena ini dibuat dengan tangan oleh pengrajin yang sangat terampil. Tidak ada mesin yang bisa memproduksinya secara konsisten.
- Masalah tinta: Tinta pada masa itu sering mengandung partikel sedimen yang dapat menyumbat saluran halus di dalam pena . Fountain pen baru menjadi praktis setelah tinta yang lebih murni dan bebas sedimen dikembangkan. 18 19
Terlepas dari keterbatasan ini, fakta bahwa sebuah pena reservoir yang berfungsi telah dibuat pada tahun 953 M adalah pencapaian teknologi yang luar biasa—dan sebuah pengingat bahwa peradaban Islam pada Zaman Keemasannya berada di garis depan inovasi di banyak bidang, termasuk alat tulis.
Karya para insiynur istana Al-Mu’izz kemudian menjadi warisan yang tersebar dari Istana Fatimiyah ke seluruh dunia.
Apa yang terjadi setelah Al-Mu’izz?
Setelah Al-Mu’izz wafat pada tahun 975 M, apa yang terjadi dengan pena ajaib itu? Sayangnya, tidak ada catatan. Pena itu mungkin disimpan sebagai pusaka istana, atau mungkin hancur dalam perang, atau mungkin hilang ditelan waktu.
Namun, meskipun artefak fisiknya hilang, ide tentang pena dengan tinta di dalamnya tidak sepenuhnya mati. Ia terus hidup dalam manuskrip al-Nu’man, yang disalin dan disebarluaskan di dunia Islam.
Bagaimana ide tentang fountain pen sampai ke Eropa? Ada beberapa jalur yang mungkin:
- Melalui Andalusia (Spanyol Islam) : Selama berabad-abad, Cordoba adalah pusat penerjemahan dan transfer pengetahuan dari dunia Islam ke Eropa Kristen. Buku-buku tentang teknologi, kedokteran, astronomi, dan filsafat diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Latin di Toledo dan kota-kota Spanyol lainnya.
- Melalui para pelancong dan pedagang: Pedagang Venesia dan Genoa yang berdagang dengan Afrika Utara dan Timur Tengah mungkin membawa pulang cerita tentang “pena yang tidak perlu dicelup”.
- Melalui Perang Salib: Tentara Salib yang kembali dari Timur Tengah membawa serta tidak hanya rempah-rempah dan sutra, tetapi juga pengetahuan dan ide-ide baru.
Bukti bahwa ide ini telah mencapai Eropa adalah munculnya deskripsi tentang “pena reservoir” dalam tulisan-tulisan Eropa pada abad ke-17.
Daniel Schwenter dan Pena Dua Bulu (1636)
Pada tahun 1636, seorang Jerman bernama Daniel Schwenter menerbitkan sebuah buku berjudul Deliciae Physico-Mathematicae (Kesenangan Fisika-Matematika). Di dalamnya, ia mendeskripsikan sebuah pena yang terbuat dari dua bulu burung: satu bulu yang lebih besar berfungsi sebagai reservoir tinta, dan satu bulu yang lebih kecil berfungsi sebagai ujung pena.
Tinta disegel di dalam reservoir dengan sumbat gabus, dan ditekan keluar melalui lubang kecil ke ujung pena. Ini adalah upaya Eropa pertama yang terdokumentasi untuk membuat fountain pen—683 tahun setelah Al-Mu’izz!
Nicholas Bion dan “Plume Sans Fin” (1709)
Pada tahun 1709, matematikawan dan pembuat instrumen Prancis Nicholas Bion menerbitkan sebuah risalah yang berisi ilustrasi dan deskripsi tentang “plume sans fin” (pena tanpa akhir)—sebuah pena dengan reservoir yang dapat diisi ulang.
Desain Bion adalah yang pertama yang menunjukkan pemahaman tentang prinsip tekanan udara yang diperlukan untuk membuat pena reservoir berfungsi dengan andal. Pena ini memiliki katup yang mencegah tinta bocor ketika tidak digunakan, dan membuka ketika ujung pena menyentuh kertas.
Bion menulis bahwa pena seperti itu “telah dikenal di Prancis selama beberapa waktu”—menunjukkan bahwa ide fountain pen telah beredar di kalangan pengrajin Eropa sejak akhir abad ke-17 .
Revolusi Industri: Dari Kemewahan Menjadi Komoditas Massal
Lompatan besar berikutnya terjadi pada abad ke-19, ketika Revolusi Industri menyediakan teknologi dan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi fountain pen secara massal.
1827: Petrache Poenaru, seorang penemu Romania, menerima paten Prancis untuk fountain pen dengan laras yang terbuat dari bulu angsa besar. Ia juga memperkenalkan konsep kartrid tinta yang dapat diganti—ide yang baru benar-benar populer pada abad ke-20 .
1828-1830: Josiah Mason, William Joseph Gillott, William Mitchell, dan James Stephen Perry di Birmingham, Inggris, mengembangkan mesin untuk memproduksi ujung pena baja secara massal. Ini adalah terobosan besar: untuk pertama kalinya, ujung pena yang halus dan andal dapat diproduksi dengan harga terjangkau. Birmingham menjadi ibu kota pena dunia, memproduksi lebih dari setengah ujung pena baja yang digunakan di planet ini pada tahun 1850-an .
1884: Lewis Waterman, seorang agen asuransi asal New York, mematenkan sistem three-channel feed yang memecahkan masalah utama fountain pen: aliran tinta yang tidak konsisten. Desain Waterman menjadi standar industri dan membuat namanya abadi sebagai “bapak fountain pen modern” .
1907: Slavoljub Penkala dari Kroasia mematenkan fountain pen dengan tinta padat (solid ink), yang kemudian diakuisisi oleh Pelikan .
1912: Walter A. Sheaffer memperkenalkan mekanisme lever-filler yang revolusioner, membuat pengisian tinta menjadi mudah dan bersih .
1929: Pelikan meluncurkan fountain pen piston-filler modern pertama, yang masih menjadi standar hingga hari ini.
Dari Al-Mu’izz ke Montblanc: Sebuah Garis Waktu
| Tahun | Peristiwa | Lokasi |
| 953 M | Al-Mu’izz memerintahkan pembuatan pena reservoir. Insinyur istana membuat pena emas yang berfungsi. | Mansuriya, Tunisia (Fatimiyah) |
| 1636 | Daniel Schwenter mendeskripsikan pena dua bulu di Jerman. | Nuremberg, Jerman |
| 1709 | Nicholas Bion menerbitkan desain “plume sans fin”. | Paris, Prancis |
| 1827 | Petrache Poenaru mematenkan fountain pen dengan kartrid. | Paris, Prancis |
| 1830-an | Produksi massal ujung pena baja dimulai di Birmingham. | Birmingham, Inggris |
| 1884 | Lewis Waterman mematenkan three-channel feed. | New York, AS |
| 1912 | Walter Sheaffer memperkenalkan lever-filler. | Fort Madison, Iowa, AS |
| 1929 | Pelikan meluncurkan piston-filler modern. | Jerman |
| 1950-an | Ballpoint pen mulai menguasai pasar. | Global |
| Sekarang | Fountain pen tetap menjadi alat tulis pilihan bagi para penggemar, kolektor, dan mereka yang menghargai seni menulis. | Global |
Mengapa kisah ini penting — pelajaran untuk dunia modern. Penemuan pena tinta dan sebarannya menunjukkan bahwa pengetahuan tidak mengenal batas geografis.
Kisah fountain pen adalah pengingat bahwa penemuan-penemuan besar tidak selalu berasal dari tempat yang kita duga. Selama berabad-abad, narasi sejarah alat tulis didominasi oleh nama-nama Eropa: Waterman, Parker, Sheaffer, Montblanc. Namun akar dari semua itu—ide tentang pena dengan tinta di dalamnya—lahir di Afrika Utara, di istana seorang khalifah Fatimiyah.
Ini bukan untuk mengurangi pencapaian para penemu Eropa. Mereka memang yang berhasil menyempurnakan dan mempopulerkan fountain pen. Namun mengabaikan kontribusi peradaban Islam dalam fondasi teknologi ini adalah bentuk amnesia sejarah yang tidak adil.
Seperti yang ditulis oleh C.E. Bosworth dalam Journal of Semitic Studies (1981), “catatan ini mendahului fountain pen produksi massal pertama di Barat selama beberapa abad” . Pengakuan ini penting bukan hanya untuk keakuratan sejarah, tetapi juga untuk memperbaiki narasi yang selama ini terpusat di Barat.
Kebutuhan adalah ibu penemuan (dan kebosanan juga). Sering dikatakan bahwa “kebutuhan adalah ibu penemuan.” Dalam kasus fountain pen, kebosanan akan noda tinta dan keinginan akan kenyamanan—bukan kebutuhan mendesak—yang menjadi pendorongnya.
Al-Mu’izz tidak membutuhkan pena baru untuk bertahan hidup. Kerajaannya tidak akan runtuh jika jubahnya tetap ternoda. Namun ia menginginkan sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih nyaman, sesuatu yang lebih elegan.
Ini adalah pelajaran penting: inovasi sering lahir bukan dari krisis, tetapi dari ketidakpuasan terhadap status quo. Dari keinginan untuk membuat hidup sedikit lebih mudah, sedikit lebih indah, sedikit lebih menyenangkan.
Kolaborasi antara pemimpin visioner dan teknisi terampil untuk mewujudkan visi itu sangat diperlukan. Kisah ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara mereka yang memiliki visi dan mereka yang memiliki keahlian teknis. Al-Mu’izz tidak bisa membuat fountain pen sendiri—ia bukan insinyur. Namun ia memiliki visi yang jelas tentang apa yang ia inginkan, dan ia memiliki kekuasaan untuk menggerakkan sumber daya demi mewujudkannya.
Para insinyur istana, di sisi lain, memiliki keahlian teknis untuk menerjemahkan visi itu menjadi kenyataan. Namun tanpa arahan dari Al-Mu’izz, mereka mungkin tidak pernah berpikir untuk menciptakan sesuatu seperti itu.
Ini adalah mitra yang sempurna: visi tanpa eksekusi hanyalah mimpi; eksekusi tanpa visi hanyalah aktivitas tanpa arah.
Catatan sejarah itu penting — dan rapuh. Bayangkan jika al-Nu’man tidak mencatat percakapan itu. Bayangkan jika manuskrip Kitab al-Majalis wa al-Musayarat tidak selamat selama ribuan tahun. Maka kita tidak akan pernah tahu tentang penemuan luar biasa ini. Sejarah akan terus mengajarkan bahwa fountain pen “dimulai” di Eropa pada abad ke-17.
Kisah ini adalah pengingat bahwa catatan sejarah itu rapuh, dan bahwa para pencatat sejarah—para juru tulis, sejarawan, arsiparis—adalah pahlawan yang tidak dikenal. Tanpa mereka, pengetahuan hilang. Tanpa mereka, peradaban mengalami amnesia.
Pena emas Al-Mu’izz mungkin telah melebur atau hilang. Tidak ada satu pun artefak fisik yang tersisa dari penemuan tahun 953 M. Namun ide tentang fountain pen—tentang pena dengan tinta di dalam tubuhnya—tetap hidup. Ia diturunkan melalui manuskrip, melalui cerita lisan, melalui imajinasi para insinyur yang membacanya.
Ini adalah metafora yang indah tentang bagaimana peradaban bekerja: bukan bangunan atau artefak yang paling penting, tetapi gagasan. Bangunan bisa runtuh. Artefak bisa hancur. Tetapi gagasan—sekali ia lahir—tidak bisa dimatikan.
Maka pelajaran apa untuk dunia yang bergejolak kini? Kita hidup di era ketika warisan budaya dihancurkan di berbagai belahan dunia—di Palestina, Lebanon, Suriah, Ukraina, dan tempat-tempat lain. Museum dibuldoser. Perpustakaan dibakar. Artefak ribuan tahun dihancurkan dalam hitungan menit.
Kisah fountain pen mengingatkan kita bahwa meskipun artefak fisik hancur, gagasan tidak dapat dihancurkan. Pengetahuan yang terkandung dalam buku-buku yang terbakar mungkin hilang, tetapi pengetahuan yang telah menyebar—yang telah menjadi bagian dari kesadaran kolektif umat manusia—akan bertahan.
Inilah mengapa mendokumentasikan, mengajarkan, dan menyebarkan pengetahuan adalah tindakan perlawanan terhadap kebiadaban. Setiap kali seorang guru mengajar, setiap kali seorang penulis menulis, setiap kali seorang ilmuwan mempublikasikan penemuan mereka, mereka sedang “menabur benih” yang tidak bisa dibasmi oleh api atau bom apa pun.
Sebab kita semua adalah mata rantai dalam rantai pengetahuan. Setiap kali Anda menggunakan pulpen, setiap kali Anda menulis dengan alat yang tidak perlu dicelupkan ke dalam wadah tinta, Anda terhubung dengan Al-Mu’izz, dengan para insinyur tanpa nama di istana Fatimiyah, dengan al-Nu’man yang mencatat semuanya.
Anda adalah mata rantai terbaru dalam rantai pengetahuan yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun. Dan tanggung jawab Anda adalah melanjutkan rantai itu—dengan belajar, dengan mengajar, dengan mencatat, dengan berbagi.
Karena suatu hari nanti, mungkin ada yang akan membaca catatan Anda. Dan mereka akan tahu bahwa Anda adalah bagian dari cerita ini.
Pada tahun 2026, saat Anda membaca kisah ini, mungkin Anda sedang memegang sebuah pulpen. Mungkin mereknya Parker, atau Waterman, atau Montblanc, atau Pilot. Mungkin itu pulpen murah dari toko alat tulis, atau mungkin itu warisan keluarga yang berharga.
Apapun mereknya, apapun harganya, ketahuilah: nenek moyangnya lahir di sebuah istana di Tunisia utara, pada tahun 953 M, dari sebuah ide yang dianggap mustahil oleh seorang juru tulis. Dan sebuah pena tinta yang tak pernah berhenti bercerita.
Pena itu tidak lagi ada. Tidak ada yang tahu di mana ia berakhir. Mungkin ia meleleh dalam api perang. Mungkin ia terkubur di bawah reruntuhan istana yang hancur. Mungkin ia disimpan di suatu tempat, menunggu untuk ditemukan kembali.
Namun meskipun pena fisik itu hilang, gagasannya tidak pernah mati. Ia bermigrasi ke Eropa. Ia disempurnakan selama berabad-abad. Ia diproduksi secara massal di pabrik-pabrik Birmingham. Ia menjadi simbol status dan kemewahan. Ia menjadi alat tulis bagi para penulis, penyair, ilmuwan, dan pemimpi di seluruh dunia.
Dan ia terus hidup—dalam setiap goresan tinta di atas kertas, dalam setiap ide yang lahir dari ujung pena, dalam setiap koneksi antara pikiran manusia dan media yang mengabadikannya.
Khalifah Al-Mu’izz tidak pernah membayangkan bahwa permintaannya yang sederhana—”Saya ingin pena yang tidak menodai jubah saya”—akan bergema selama seribu tahun. Ia hanya ingin tangannya tetap bersih.
Tapi bukankah itu yang selalu terjadi dengan penemuan-penemuan besar? Ia dimulai dari sesuatu yang kecil. Sesuatu yang personal. Sesuatu yang, pada saat itu, tampak tidak penting.
Kemudian, tanpa disadari, ia mengubah dunia.
Maka ketika Anda menulis dengan pulpen Anda berikutnya, berhentilah sejenak.
Lihatlah alat di tangan Anda. Pikirkan tentang perjalanan yang telah ditempuhnya—melintasi benua, melintasi abad, melintasi perang dan perdamaian, melintasi kebangkitan dan kejatuhan peradaban.
Dan ingatlah: Anda sedang menulis dengan sepotong sejarah. Sejarah yang dimulai dengan seorang khalifah yang jengkel dengan noda tinta di jubahnya, seorang insinyur tanpa nama yang mewujudkan mimpinya, dan seorang juru tulis yang cukup bijak untuk mencatat semuanya.
Kisah mereka adalah kisah kita semua. Kisah tentang bagaimana sebuah ide—tidak peduli sekecil apa pun—dapat bertahan melampaui penghancur fisik, melampaui kebiadaban, melampaui waktu itu sendiri.
Karena gagasan, seperti tinta dari pena Al-Mu’izz, tidak pernah benar-benar kering. Ia hanya menunggu untuk mengalir lagi—di tangan generasi berikutnya, di atas kertas baru, dalam cerita yang belum ditulis.
Daftar Pustaka
Sumber Primer (Dokumen Sejarah)
1.Al-Nu’man al-Tamimi, Qadi (w. 974 M). Kitab al-Majalis wa al-Musayarat. (Manuskrip asli). — Catatan saksi mata tentang perintah Khalifah Al-Mu’izz li-Din Allah kepada para insinyur istana untuk membuat pena dengan reservoir tinta internal. Ini adalah sumber utama dan paling otoritatif untuk peristiwa tahun 953 M. Dikutip dan dianalisis oleh C.E. Bosworth dalam Journal of Semitic Studies (1981) .
Buku dan Artikel Jurnal Akademik
2.Bosworth, C. E. (1981). “A Mediaeval Islamic Prototype of the Fountain Pen?” Journal of Semitic Studies, Volume XXVI, Issue i, Autumn 1981. — Artikel akademik yang menganalisis manuskrip al-Nu’man dan menyimpulkan bahwa pena yang dipesan oleh Al-Mu’izz, jika benar-benar berfungsi, mendahului fountain pen produksi massal pertama di Barat selama beberapa abad. Ini adalah rujukan akademik paling otoritatif tentang topik ini .
Sumber Tersier (Ensiklopedia dan Artikel Populer)
3. Wikipedia contributors. (2024). “Fountain pen.” Wikipedia, The Free Encyclopedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Fountain_pen — Artikel ensiklopedia komprehensif yang mencakup sejarah fountain pen dari prototipe awal abad ke-10 hingga pengembangan modern, termasuk referensi ke perintah Al-Mu’izz dan catatan al-Nu’man .
4. Wikipedia (Revision History). (2017). “Fountain pen: Difference between revisions.” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Fountain_pen&diff=769975041&oldid=769805670— Riwayat revisi artikel Wikipedia yang menunjukkan upaya kolaboratif untuk memastikan akurasi sejarah, termasuk diskusi tentang prototipe awal reservoir pen .
5. The Economist. (2015, September 17). “The nib of the matter.” 1843 Magazine. https://www.economist.com/1843/2015/09/18/the-nib-of-the-matter — Artikel populer yang menceritakan kisah Al-Mu’izz dan perintahnya untuk fountain pen, termasuk kutipan langsung dari catatan al-Nu’man. Sumber ini ditulis oleh Kassia St Clair, sejarawan mode dan penulis .
6. Theron, J. P. (2023, November 3). “We celebrate the innovation of The fountain pen today…” LinkedIn. https://www.linkedin.com/posts/jaco-theron_we-celebrate-the-innovation-of-the-fountain-activity-7126447915216121856-0zp4 — Posting media sosial yang merangkum sejarah fountain pen dari prototipe awal Al-Mu’izz hingga pengembangan modern oleh Waterman, Sheaffer, dan Parker. Meskipun bukan sumber akademik, posting ini memberikan ringkasan kronologis yang berguna .
7. Fountain Pen Network Forum. (2022). “The invention of the fountain pen.” https://www.fountainpennetwork.com/forum/topic/366772-the-invention-of-the-fountain-pen — Diskusi forum yang mengutip artikel Bosworth (1981) dan menerjemahkan bagian-bagian penting dari manuskrip al-Nu’man, termasuk kutipan lengkap tentang perintah Al-Mu’izz dan reaksi juru tulis .
8. Spartex. (2024). “How did the Reservoir Pen Transform Writing?” https://spartexpen.com/trivia/how-did-the-reservoir-pen-transform-writing/ — Artikel tentang sejarah reservoir pen yang menyebutkan perintah Al-Mu’izz pada tahun 973 M (versi tahun yang berbeda) sebagai tonggak penting dalam sejarah alat tulis .
9. Arab Views. (2016). “While Europe burned witches, Muslims were….? – Mechanical Engineering.” https://arabviews.wordpress.com/2016/11/29/were-muslims-backwards-during-the-dark-ages-too-mechanical-engineering/ — Blog yang membahas kontribusi teknologis peradaban Islam, termasuk fountain pen tahun 953 M, mekanisme crankshaft oleh al-Jazari, dan upaya penerbangan Abbas ibn Firnas .
10. ArabiaWeather. (2021). “Discoveries that changed the world | ink pen.” https://www.arabiaweather.com/en/content/discoveries-that-changed-the-world-ink-pen — Artikel yang mengklaim Abbas ibn Firnas sebagai penemu fountain pen, meskipun klaim ini tidak didukung oleh sumber primer yang otoritatif dan bertentangan dengan kronologi (Ibnu Firnas wafat 887 M, sementara perintah Al-Mu’izz terjadi pada 953 M). Dicantumkan untuk kelengkapan dan untuk menunjukkan adanya klaim alternatif .
11. IPFS. “Fountain pen.” https://ipfs.io/ipfs/QmehSxmTPRCr85Xjgzut6uWQihoTfqg9VVihJ892bmZCp/Fountain_Pen.html — Mirror dari artikel Wikipedia yang mencakup sejarah fountain pen dari prototipe abad ke-10 hingga pengembangan modern .
12. Arquivo.pt (Portuguese Web Archive). (2009). “Fountain pen.” https://preprod.arquivo.pt/noFrame/patching/patching/record/20090925213012mp_/http://en.wikipedia.org/wiki/Fountain_pen — Arsip halaman Wikipedia lama yang mencakup kutipan lengkap dari perintah Al-Mu’izz kepada para insinyurnya, termasuk kalimat “Apakah ini mungkin?” – “Itu mungkin jika Allah menghendaki” .
*Kisah ini ditulis pada bulan April 2026, lebih dari 1.073 tahun setelah seorang khalifah di Tunisia utara mengubah cara dunia menulis. Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk terus bertanya, terus mencatat, dan terus berbagi pengetahuan—karena pada akhirnya, itulah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa peradaban tidak pernah benar-benar mati.*
1. https://www.economist.com/1843/2015/09/18/the-nib-of-the-matter
2.https://www.economist.com/1843/2015/09/18/the-nib-of-the-matter
3.https://www.economist.com/1843/2015/09/18/the-nib-of-the-matter
4.https://www.economist.com/1843/2015/09/18/the-nib-of-the-matter
5.https://en.wikipedia.org/wiki/Fountain_pen
6.https://en.wikipedia.org/wiki/Fountain_pen
7.https://arabviews.wordpress.com/2016/11/29/were-muslims-backwards-during-the-dark-ages-too-mechanical-engineering/#respond
8.https://preprod.arquivo.pt/noFrame/patching/patching/record/20090925213012/
9.http://en.wikipedia.org/wiki/Fountain_pen
10.https://www.linkedin.com/posts/jaco-theron_we-celebrate-the-innovation-ofthe-fountain-activity-7126447915216121856-0zp4
11.https://en.wikipedia.org/wiki/Fountain_pen
12.https://ipfs.io/ipfs/QmehSxmTPRCr85Xjgzjut6uWQihoTfqg9VVihJ892bmZCp/Fountain_Pen.html
13.https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Fountain_pen&diff=769975041&oldid=769805670
14.https://www.fountainpennetwork.com/forum/topic/366772-the-invention-of-the-fountain-pen
15.https://www.fountainpennetwork.com/forum/topic/366772-the-invention-of-the-fountain-pen
16.https://www.arabiaweather.com/en/content/discoveries-that-changed-the-world-ink-pen
17.https://en.wikipedia.org/wiki/Fountain_pen
18.https://en.wikipedia.org/wiki/Fountain_pen
19.https://ipfs.io/ipfs/QmehSxmTPRCr85Xjgzjut6uWQihoTfqg9VVihJ892bmZCp/Fountain_Pen.html






