Rubarubu #161
Demokrasi Spesies:
Belajar Mendengar Bahasa Alam Bersama Robin Wall Kimmerer
Di Antara Dua Dunia
Bayangkan Anda tumbuh besar dengan dua bahasa. Satu bahasa mengajarkan Anda bahwa dunia ini terdiri dari benda-benda mati yang dapat Anda ukur, potong, dan jual. Bahasa ini menyebut pohon sebagai “itu,” sungai sebagai “itu,” dan seekor rusa sebagai “itu” juga. Bahasa ini rapi, efisien, dan sangat berguna untuk mengisi formulir pajak.
Bahasa yang lain, yang diwariskan oleh nenek moyang Anda, mengajarkan bahwa setiap makhluk—dari batu kerikil di sungai hingga bintang di langit malam—memiliki roh, memiliki suara, dan layak dipanggil dengan sebutan yang sama seperti Anda memanggil anggota keluarga Anda sendiri.
Robin Wall Kimmerer hidup di persimpangan dua dunia ini. Seorang ilmuwan botani yang terlatih dalam metode ilmiah Barat dan juga seorang warga terdaftar dari Nation Potawatomi, ia menulis The Democracy of Species (diterbitkan oleh Penguin Books pada 2021) sebagai sebuah jembatan antara dua cara mengetahui yang selama ini dipisahkan oleh tembok kolonialisme. Buku tipis ini—hanya 87 halaman—adalah salah satu seri “Green Ideas” dari Penguin Classics, yang menghadirkan suara-suara terpenting dari gerakan lingkungan dalam bentuk yang ringkas namun padat.
Kimmerer tidak menulis sebagai akademisi yang dingin. Ia menulis sebagai seorang ibu, sebagai seorang guru, dan sebagai seorang perempuan yang setiap hari menyaksikan bagaimana bahasa Inggris—bahasa yang ia gunakan untuk menulis buku ini—secara sistematis telah membungkam alam. The Democracy of Species adalah undangan untuk mendengarkan kembali. Bukan sekadar mendengar, tetapi mendengarkan dengan sungguh-sungguh—dengan telinga, dengan hati, dan dengan bahasa yang baru.
Tiga bab dalam buku ini—”Learning the Grammar of Animacy“, “The Honorable Harvest“, dan “People of Corn, People of Light“—adalah tiga gerbang menuju cara hidup yang berbeda. Bab pertama membahas tentang bahasa: bagaimana kata-kata yang kita gunakan membentuk realitas yang kita huni. Bab kedua berbicara tentang etika: bagaimana mengambil dari alam dengan hormat, bukan dengan keserakahan. Bab ketiga adalah sebuah cerita penciptaan: sebuah mitos asal-usul yang mengajarkan tentang kerendahan hati dan rasa syukur.
Learning the Grammar of Animacy: Bahasa yang Membunuh atau Menghidupkan
Kimmerer memulai perjalanannya dengan sebuah pengamatan yang sederhana namun mengguncang fondasi cara berpikir Barat tentang alam. Dalam bahasa Inggris, hanya sekitar 30 persen kata yang merupakan kata kerja. Sebagian besar adalah kata benda—entitas-entitas statis yang dapat diberi label, dikategorikan, dan pada akhirnya, dikomodifikasi.
Namun dalam bahasa Potawatomi, bahasa leluhur Kimmerer, 70 persen kata adalah kata kerja. Dan yang lebih penting: dalam Potawatomi, kata benda dan kata kerja memiliki gender hidup dan mati. Tidak seperti bahasa Inggris yang menyebut semua yang bukan manusia sebagai “it” (itu), Potawatomi membedakan antara makhluk hidup dan benda mati dengan cara yang mendasar.
Apa implikasinya? Sebuah meja, karena ia dibuat oleh manusia, dipanggil dengan kata yang menanyakan “Apa itu?” Tetapi sebuah apel—karena ia tumbuh dari pohon, karena ia mengandung biji, karena ia adalah bagian dari jaring kehidupan—dipanggil dengan kata yang menanyakan “Siapa itu?” Kata yang sama yang digunakan untuk menyapa seorang anggota keluarga, seorang teman, seorang tetua.
Coba renungkan perbedaan ini. Seorang anak yang belajar bahasa Inggris akan tumbuh dengan keyakinan bawah sadar bahwa pohon di halaman belakangnya adalah “benda” yang sama dengan kursi di ruang tamunya. Seorang anak yang belajar bahasa Potawatomi akan tumbuh dengan keyakinan bahwa pohon itu adalah “seseorang”—makhluk yang memiliki hak, memiliki tujuan, dan layak dihormati seperti ia menghormati kakek-neneknya.
Kimmerer tidak sedang bermain-main dengan romantisme puitis. Ia sedang mengungkap sebuah kebenaran mendalam tentang hubungan antara bahasa dan perilaku. Jika bahasa kita mengurangi seluruh alam menjadi “it“—kata ganti yang sama yang kita gunakan untuk batu kerikil dan sampah plastik—maka secara moral kita telah memberi izin pada diri kita sendiri untuk memperlakukan alam sebagai objek.
Sebaliknya, jika kita belajar untuk berkata “who” kepada seekor rusa, sebuah sungai, atau sebatang pohon maple, maka kita tidak akan bisa dengan mudah membiarkan mereka mati. Kita tidak akan bisa dengan mudah meracuni mereka. Kita tidak akan bisa dengan mudah menghilangkan mereka.
The language sees the animacy of the world
Kutipan ini, dari analisis bab ini dalam sebuah wiki akademis, merangkum esensi dari apa yang Kimmerer tawarkan. Bahasa Potawatomi “melihat” animasi—kualitas hidup—dalam segala sesuatu. Bagi Kimmerer, ini bukan sekadar fitur linguistik yang eksotis. Ini adalah sebuah tata bahasa yang dapat menyelamatkan dunia. Ia menulis bahwa “a grammar of animacy could lead us to whole new ways of living in the world…a world with a democracy of species, not a tyranny of one.”
“Tirani satu spesies” adalah frasa yang menghantam keras. Selama beberapa abad terakhir, umat manusia—khususnya peradaban industrial Barat—telah bertindak seolah-olah kita adalah satu-satunya spesies yang penting. Kita telah menaklukkan, membajak, menebang, menggali, membunuh, dan mengkonsumsi tanpa pernah bertanya apakah makhluk lain setuju. Kimmerer mengusulkan sebuah alternatif: demokrasi spesies, di mana setiap makhluk memiliki suara, memiliki hak untuk hidup, dan memiliki tempat di meja perundingan.
Bayangkan dunia yang diatur oleh tata bahasa seperti itu. Sebuah dunia di mana seorang direktur perusahaan tambang harus menyapa gunung dengan “Siapa engkau?” sebelum merencanakan ledakan. Sebuah dunia di mana seorang pejabat pemerintah harus meminta izin kepada sungai sebelum membangun bendungan. Sebuah dunia di mana seorang petani harus berterima kasih kepada tanah sebelum membajaknya. Ini adalah dunia yang sulit dibayangkan dengan bahasa Inggris di mulut kita. Tetapi Kimmerer mengingatkan bahwa selama ribuan tahun, jutaan manusia telah hidup di dunia seperti itu. Dan mereka tidak hanya bertahan; mereka berkembang.
The Honorable Harvest: Etika Mengambil dalam Dunia yang Hidup
Dari tata bahasa, Kimmerer beralih ke etika. Jika kita menerima bahwa alam terdiri dari makhluk-makhluk hidup yang layak dihormati, lalu bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap mereka? Bagaimana cara kita mengambil apa yang kita butuhkan untuk bertahan hidup—makanan, kayu, air, tanaman obat—tanpa melanggar hak-hak mereka?
Jawabannya terletak pada apa yang disebut Kimmerer sebagai The Honorable Harvest—Panen yang Terhormat. Bukan sebuah daftar aturan yang ditulis di atas batu, tetapi sebuah protokol lisan yang telah diwariskan oleh masyarakat adat selama ribuan tahun.
Wendy Johnson, dalam sebuah artikel di majalah Tricycle: The Buddhist Review, mengutip secara lengkap protokol-protokol ini :
- Know the ways of the ones who take care of you, so that you may take care of them. (Kenali jalan hidup mereka yang merawatmu, agar engkau dapat merawat mereka.)
- Introduce yourself. Be accountable as the one who comes asking for life. (Perkenalkan dirimu. Bertanggung jawablah sebagai orang yang datang meminta kehidupan.)
- Ask permission before taking. Abide by the answer. (Minta izin sebelum mengambil. Patuhi jawabannya.)
- Never take the first. Never take the last. (Jangan pernah mengambil yang pertama. Jangan pernah mengambil yang terakhir.)
- Take only what you need. (Ambil hanya apa yang kau butuhkan.)
- Take only that which is given. (Ambil hanya apa yang diberikan.)
- Never take more than half. Leave some for others. (Jangan pernah mengambil lebih dari setengah. Sisakan untuk yang lain.)
- Harvest in a way that minimizes harm. (Panenlah dengan cara yang meminimalkan kerusakan.)
- Use the harvest respectfully. Never waste what you have taken. (Gunakan hasil panen dengan hormat. Jangan pernah menyia-nyiakan apa yang telah kau ambil.)
- Share. (Berbagilah.)
- Give thanks for what you have been given. (Ucapkan terima kasih atas apa yang telah diberikan kepadamu.)
- Give a gift, in reciprocity for what you have taken. (Berikan hadiah, sebagai timbal balik atas apa yang telah kau ambil.)
- Sustain the ones who sustain you, and the earth will last forever. (Rawatlah mereka yang merawatmu, dan bumi akan bertahan selamanya.)
Bacalah daftar ini perlahan-lahan. Rasakan bagaimana ia berbeda dari etika konsumen modern. Dalam kapitalisme, aturannya adalah: ambil sebanyak yang kau mau, ambil yang pertama kau lihat, ambil yang terakhir, jangan pedulikan yang lain, jangan pernah berbagi kecuali kau men-dapat untung, dan jangan pernah berterima kasih karena kau sudah membayar.
The Honorable Harvest membalikkan logika ini sepenuhnya. Ia dimulai dengan pengenalan dan permintaan izin—sebuah pengakuan bahwa kau bukanlah penguasa, tetapi tamu. Kimmerer yang merupakan seorang botanis (ahli tumbuhan), penulis, dan anggota terdaftar (enrolled member) dari Citizen Potawatomi Nation—salah satu bangsa asli Amerika yang berasal dari wilayah Great Lakes menekankan kerendahan hati (jangan ambil yang pertama, jangan ambil yang terakhir).
Ia menekankan kecukupan (ambil hanya apa yang kau butuhkan). Ia menekan-kan kelimpahan untuk semua(sisakan untuk yang lain). Dan ia diakhiri dengan rasa syukur dan timbal balik—sebuah pengakuan bahwa hubungan antara manusia dan alam bukanlah hubungan satu arah, melainkan sebuah siklus memberi dan menerima.
Wendy Johnson, yang menulis artikel tentang The Honorable Harvest dari perspektif seorang Buddhis, mengakui bahwa ia gagal dalam menerapkan protokol ini dalam hidupnya sendiri. Ia mengonsumsi air berlebihan di kebunnya selama musim kemarau, dan ketika ia menyadari kesalahannya, ia merasa malu—sebuah rasa malu yang oleh Buddha disebut sebagai “penjaga dunia yang terang” karena ia memicu tindakan perbaikan. Johnson kemudian mengambil langkah-langkah konkret: mengumpulkan air hujan, menggunakan air bekas mandi dan cuci piring untuk menyiram tanaman, dan meminta maaf kepada sungai setempat.
Kisah Johnson adalah pengingat bahwa The Honorable Harvest bukanlah standar yang mustahil. Ia adalah sebuah disiplin—sesuatu yang harus dilatih, sesuatu yang kadang gagal, tetapi selalu dapat diperbaiki. Setiap dari kita, dalam skala kecil, dapat mempraktikkan etika ini: dengan tidak membeli makanan yang berlebihan, dengan tidak membuang-buang air, dengan ber-terima kasih sebelum makan, dengan berbagi kelebihan dengan tetangga yang membutuhkan.
Eddie Raymond, dalam artikelnya untuk ESTA, menghubungkan The Honorable Harvest dengan kritik terhadap konsumerisme modern. Ia menulis: “We spend a great deal of time thinking about how to get what we want, but little time asking if we need it.” Kita menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan cara mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi sedikit waktu untuk bertanya apakah kita benar-benar membutuhkannya. Akumulasi tanpa akhir, yang didorong oleh iklan dan budaya konsumen, membuat kita “always hungry and never sated”—selalu lapar dan tidak pernah kenyang.
People of Corn, People of Light: Sebuah Cerita Penciptaan untuk Zaman yang Lupa Bersyukur
Bab terakhir dalam buku ini mungkin adalah yang paling mengharukan. Kimmerer menceritakan kembali sebuah cerita penciptaan dari bangsa Maya, tentang bagaimana manusia pertama kali muncul di bumi.
Ceritanya begini: Pada awalnya, para dewa menciptakan bumi yang indah. Mereka mengisinya dengan pohon-pohon yang bisa bersenandung, dengan hewan-hewan yang bisa menggali terowongan yang menakjubkan. Namun para dewa merasa ada yang kurang. Mereka ingin makhluk yang bisa memuji keindahan ciptaan, yang bisa menceritakan kisah asal-usul mereka, yang bisa menyanyikan syukur. Jadi mereka mencoba membuat manusia.
Percobaan pertama menghasilkan manusia dari tanah liat. Mereka bisa berbicara, tetapi mereka cepat hancur. Mereka tidak memiliki ketahanan.
Percobaan kedua menghasilkan manusia dari kayu. Mereka kuat dan bertahan lama. Namun mereka tidak memiliki hati. Mereka memperlakukan makhluk lain dengan kejam—menebang pohon tanpa rasa hormat, membunuh hewan tanpa rasa syukur. Akhirnya, alam memberontak. Pohon-pohon bangkit dalam kemarahan, rusa-rusa menusuk dengan tanduk mereka, dan periuk-periuk tanah liat melemparkan diri ke api yang membakar mereka. Manusia kayu dihancurkan .
Percobaan ketiga menghasilkan manusia dari cahaya. Mereka adalah makhluk yang cemerlang, tujuh kali lipat warna matahari. Mereka cantik, pintar, dan sangat, sangat kuat. Mereka tahu begitu banyak sehingga mereka percaya bahwa mereka tahu segalanya. Alih-alih bersyukur kepada para dewa atas karunia mereka, mereka menganggap diri mereka setara dengan para dewa. Kesombongan mereka begitu besar sehingga para dewa, sekali lagi, terpaksa meng-hancurkan ciptaan mereka .
Akhirnya, para dewa mencoba lagi. Dari dua keranjang jagung—kuning dan putih—mereka menggiling tepung yang halus. Mereka mencampurnya dengan air, dan mereka mem-bentuk manusia dari jagung. Manusia jagung ini tidak secantik manusia cahaya, tidak sekuat manusia kayu. Namun mereka memiliki sesuatu yang hilang dari ciptaan sebelumnya: kerendahan hati dan rasa syukur. Mereka bisa menari dan bernyanyi. Mereka memiliki kata-kata untuk menceritakan kisah dan memanjatkan doa. Hati mereka dipenuhi dengan belas kasih untuk seluruh ciptaan. Mereka cukup bijaksana untuk bersyukur.
Kimmerer yang menghabiskan masa kecilnya di alam terbuka, sebuah pengalaman yang menumbuhkan kecintaannya yang mendalam terhadap lingkungan, meraih gelar Sarjana (BS) dalam bidang Botani dari SUNY College of Environmental Science and Forestry (ESF) pada tahun 1975, kemudian melanjutkan studi ke University of Wisconsin–Madison untuk meraih gelar Master (MS) pada tahun 1979 dan Doktor (PhD) dalam bidang Ekologi Tumbuhan pada tahun 1983, menulis bahwa para dewa, setelah belajar dari kesalahan mereka, meletakkan tabir di depan mata manusia jagung. Tabir ini mengaburkan penglihatan mereka, seperti napas yang mengembunkan cermin. Mengapa? Untuk melindungi mereka dari kesombongan yang telah menghancurkan manusia cahaya. Dengan penglihatan yang terbatas, manusia jagung tidak akan pernah melupakan bahwa mereka tidak tahu segalanya. Mereka akan selalu sadar bahwa ada misteri yang melampaui pemahaman mereka. Dan justru karena kerendahan hati inilah mereka layak untuk bertahan hidup di bumi.
Corn is the product of relationship not only with the physical world, but with people too… Corn cannot exist without us to sow it and tend its growth; our beings are joined in an obligate symbiosis
Kutipan ini dari disertasi seorang mahasiswa yang mengutip Kimmerer merangkum pesan sentral dari cerita ini. Jagung—dan secara metaforis, seluruh alam—adalah produk dari hubungan. Jagung tidak bisa eksis tanpa manusia yang menanam dan merawatnya; manusia tidak bisa bertahan tanpa jagung yang memberi makan mereka. Ini adalah simbiosis obligat: kita saling membutuhkan untuk bertahan hidup. Dan dari hubungan timbal balik inilah lahir elemen-elemen yang hilang dari upaya penciptaan sebelumnya: rasa syukur dan kemampuan untuk memberi kembali.
Hikmah dari Tradisi Lain: Suara dari Islam dan Buddhisme
Dalam tradisi Islam, terdapat konsep yang sangat selaras dengan pesan Kimmerer. Konsep khalifah sering disalahartikan sebagai “penguasa” yang memiliki hak untuk melakukan apa pun terhadap alam. Namun para ulama kontemporer seperti Seyyed Hossein Nasr telah lama berargumen bahwa khalifah berarti “penjaga” atau “pengelola amanah”—seseorang yang bertanggung jawab untuk merawat apa yang dipercayakan kepadanya, bukan untuk mengeksploitasinya.
Al-Qur’an berulang kali memperingatkan tentang isrāf (berlebih-lebihan) dan tabzīr (pemborosan). Dalam Surah Al-A’raf (7:31), Allah berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” Prinsip ini mencerminkan etika The Honorable Harvest: ambil hanya apa yang kau butuhkan, jangan pernah mengambil lebih dari setengah, jangan menyia-nyiakan.
Dalam tradisi Buddhis, konsep karma dan samsara mengajarkan bahwa semua makhluk hidup terhubung dalam jaring sebab-akibat yang kompleks. Apa yang kita lakukan terhadap alam, pada akhirnya, akan kembali kepada kita. Wendy Johnson, dalam artikelnya yang telah dikutip, merujuk pada apa yang disebut Buddha sebagai moral shame—rasa malu moral yang sehat—sebagai “penjaga dunia yang terang” yang memiliki kapasitas untuk menenangkan kehormatan yang terluka dan melahirkan tindakan yang bermanfaat.
Keselarasan antara pesan Kimmerer dan ajaran-ajaran ini menunjukkan bahwa kearifan ekologis bukanlah milik satu budaya atau agama. Ia adalah warisan bersama umat manusia—sesuatu yang telah kita lupakan dalam perjalanan kita menuju modernitas, tetapi sesuatu yang masih dapat kita pulihkan jika kita memiliki kerendahan hati untuk belajar.
Relevensi untuk Dunia Saat Ini: Demokrasi Spesies sebagai Jalan Keluar
Mengapa buku setipis ini begitu penting untuk dunia saat ini? Karena kita hidup di masa ketika alam tidak lagi bicara kepada kita—atau lebih tepatnya, kita telah berhenti mendengarkannya. Gunung berapi meletus bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai alarm. Banjir bandang, kebakar-an hutan, gelombang panas, dan kepunahan massal adalah cara bumi berteriak. Dan kita, yang telah kehilangan tata bahasa animasi, hanya mendengar statistik dan berita.
Kimmerer menawarkan sebuah diagnosis yang berbeda: krisis ekologis pada dasarnya adalah krisis hubungan. Kita telah melupakan bahwa kita adalah bagian dari keluarga makhluk hidup yang lebih besar. Kita telah menggantikan hubungan timbal balik dengan hubungan eksploitatif.
Dan kita telah menggantikan rasa syukur dengan rasa berhak. Obat untuk krisis ini bukan hanya panel surya dan mobil listrik—meskipun itu penting. Obat yang lebih mendasar adalah pemulih-an hubungan. Kimmerer mengajak kita untuk memulai dari hal-hal kecil: memperkenalkan diri kepada pohon sebelum memetik buahnya, berterima kasih kepada tanah sebelum menanam benih, berbagi hasil panen dengan tetangga, dan mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya.
Ini mungkin terdengar naif di telinga para pragmatis. Namun seperti yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan akar rumput di seluruh dunia—dari petani Kuba yang mempraktikkan pertanian organik perkotaan hingga masyarakat adat Amazon yang mempertahankan hutan mereka dari pembalakan liar—hubungan yang benar dengan alam menghasilkan konsekuensi nyata. Hutan yang dirawat dengan hormat akan terus memberi. Sungai yang didengarkan dengan saksama akan tetap mengalir. Tanah yang disyukuri setiap panen akan tetap subur selama generasi.
Yang ditawarkan Kimmerer bukanlah nostalgia untuk kembali ke masa lalu primitif. Ia menawar-kan sebuah jalan ke depan—sebuah jalan yang mengintegrasikan pengetahuan ilmiah modern dengan kearifan ekologis kuno. Sebagai seorang ilmuwan botani, ia tahu persis bagaimana fotosintesis bekerja, bagaimana tanah terbentuk, bagaimana siklus air berfungsi. Tetapi ia juga tahu bahwa pengetahuan ilmiah saja tidak cukup untuk memotivasi tindakan. Kita juga butuh hati—dan hati membutuhkan bahasa cinta, bukan bahasa objek.
Catatan Akhir: Belajar Kembali Merendah di Hadapan Kehidupan
Dalam perjalanan akademisnya, ia sempat mengajar di Transylvania University dan Centre College di Kentucky sebelum akhirnya kembali ke almamaternya, SUNY-ESF di Syracuse, New York, di mana ia menjabat sebagai Distinguished Teaching Professor of Environmental Biology . Di institusi yang sama, ia juga mendirikan dan menjadi direktur Center for Native Peoples and the Environment, sebuah pusat yang bertujuan untuk menggabungkan kearifan pengetahuan asli (Indigenous Knowledge) dengan metode ilmiah untuk mencapai tujuan keberlanjutan bersama .
Pendekatan “Dua Mata” (Two-Eyed Seeing) Kimmerer menjadi ciri khasnya: ia menggunakan satu mata untuk melihat kekuatan pengetahuan ilmiah Barat, dan mata lainnya untuk melihat kebijaksanaan pengetahuan ekologis tradisional (Traditional Ecological Knowledge/TEK) dari leluhur Potawatomi-nya . Ia sering menyatakan bahwa tidak perlu memilih di antara keduanya karena keduanya memiliki porsi dan bahasa komunikasi yang unik .
Karya tulisnya yang paling dikenal luas adalah Braiding Sweetgrass: Indigenous Wisdom, Scientific Knowledge, and the Teachings of Plants (2013). Buku yang telah terjual lebih dari dua juta kopi dan diterjemahkan ke dalam 21 bahasa ini menyajikan esai-esai puitis yang meng-gabungkan memori personal, sejarah alam, dan filosofi asli Amerika . Sebelumnya, ia menerbit-kan Gathering Moss: A Natural and Cultural History of Mosses (2003), yang memenangkan John Burroughs Medal untuk kategori penulisan alam terbaik pada tahun 2005 .
Pada tahun 2022, Kimmerer dianugerahi MacArthur Fellowship, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Genius Grant, atas kontribusinya dalam memadukan warisan budaya asli dengan ilmu pengetahuan . Setahun kemudian, pada tahun 2023, ia menerima National Humanities Medal .
Pada tahun 2015, Kimmerer mendapatkan kehormatan untuk berbicara di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN General Assembly) dengan topik “Healing Our Relationship with Nature” (Menyembuhkan Hubungan Kita dengan Alam) .
Di usianya yang ke-72 tahun, Kimmerer terus menulis dan aktif berbicara di berbagai forum. Karyanya yang terbaru antara lain The Serviceberry: Abundance and Reciprocity in the Natural World (2024) dan sebuah buku anak-anak berjudul Bud Finds Her Gift (2025).
Ia juga meluncurkan gerakan “Plant, Baby, Plant” pada tahun 2025 sebagai ajakan bagi individu untuk terlibat dalam mencintai dunia alam di sekitar mereka .
Kembali ke cerita penciptaan Maya. Manusia cahaya memiliki kecerdasan dan kekuatan yang luar biasa. Mereka bisa melakukan apa pun yang mereka bayangkan. Namun tepat karena kesombongan mereka, mereka dihancurkan. Manusia jagung, sebaliknya, memiliki penglihatan yang terbatas. Mereka tidak bisa melihat segalanya. Mereka tidak tahu segalanya. Mereka sadar bahwa ada misteri yang melampaui jangkauan mereka. Dan justru kerendahan hati inilah yang membuat mereka bertahan.
Kimmerer mengajak kita untuk memilih menjadi manusia jagung. Bukan manusia kayu yang kejam, bukan manusia cahaya yang sombong, tetapi manusia jagung yang rendah hati, bersyukur, dan mampu memberi kembali.
The Democracy of Species adalah sebuah undangan untuk bergabung dalam “demokrasi” ini—sebuah komunitas politik yang tidak hanya terdiri dari manusia, tetapi dari semua makhluk yang bernapas, semua makhluk yang tumbuh, semua makhluk yang mengalir. Di dalam demokrasi ini, suara pohon sama pentingnya dengan suara presiden. Hak sungai untuk mengalir sama mendasarnya dengan hak manusia untuk minum. Dan kesejahteraan lebah sama berharganya dengan kesejahteraan pemegang saham.
Ini adalah visi yang radikal. Namun di abad ke-21, ketika kita menyaksikan keruntuhan ekosistem di seluruh planet, mungkin radikalisme seperti inilah yang kita butuhkan. Bukan solusi yang lebih hati-hati, bukan perubahan yang lebih lambat, tetapi transformasi total dalam cara kita melihat, berbicara, dan berhubungan dengan bumi yang memberi kita kehidupan.
Kimmerer mengakhiri bukunya—setidaknya dalam versi lengkap Braiding Sweetgrass—dengan sebuah pesan yang sederhana namun mendalam. Ia menulis bahwa tindakan paling revolusi-oner yang dapat kita lakukan saat ini adalah berterima kasih. Berterima kasih kepada tanah yang memberi kita makanan. Berterima kasih kepada pohon yang memberi kita udara.
Berterima kasih kepada air yang menghilangkan dahaga kita. Karena dalam rasa syukur, kita mengakui bahwa kita bukanlah tuan. Kita adalah tamu. Dan tamu yang baik tidak merusak rumah yang menampungnya.
Cirebon, 19 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Kimmerer, R. W. (2021). The democracy of species. Penguin Books.
Sumber kutipan dan analisis:
Bookshare Ireland. (2024). Book: The democracy of species [Synopsis]. https://bookshare.ie/book?book=5816455
Goldsmiths University of London. (n.d.). The democracy of species / Robin Wall Kimmerer [Library catalog]. https://librarysearch2.gold.ac.uk/client/en_GB/goldsmiths/search/detailnonmodal/ent:$002f$002fSD_ILS$002f0$002fSD_ILS:317969/ada
Johnson, W. (2014). Honorable harvest: A Buddhist considers her water consumption during a time of drought. Tricycle: The Buddhist Review. https://tricycle.org/magazine/honorable-harvest/
Milkweed Editions. (2018, November 8). New work by Robin Wall Kimmerer: “Corn tastes better on the honor system.” Milkweed Editions Blog. https://milkweed.org/blog/new-work-by-robin-wall-kimmerer-corn-tastes-better-on-the-honor-system
OhioLINK Electronic Theses and Dissertations Center. (n.d.). [Untitled thesis citing Kimmerer]. https://uat-etd.ohiolink.edu/acuat/odb_etd/ws/send_file/send?accession=osu1619001037691335&disposition=inline
Penguin Random House South Africa. (2021). Democracy of species. https://www.penguinrandomhouse.co.za/product/democracy-of-species-5500542/
Protocol, Entertainment Services and Technology Association (ESTA). (2021, June 30). Gratitude, reciprocity, and intention—the honorable harvest. ESTA Protocol. https://protocol.esta.org/articles/gratitude-reciprocity-and-intention-the-honorable-harvest
Willem de Kooning Academy. (2021). User: Shannon [Wiki page on Braiding Sweetgrass]. https://pzwiki.wdka.nl/mw-mediadesign/index.php?title=User:Shannon&oldid=188538
Bartleby.com. (n.d.). Summary of corn people of light Kimmerer. https://www.bartleby.com/essay/Summary-Of-Corn-People-Of-Light-Kimmerer-967E8466BF3F3B32






