Rubarubu #241
Being a Human:
Sebuah Pertanyaan Purba di Tubuh Seorang Pengacara Oxford
Musim dingin di sebuah hutan di Derbyshire, Inggris bagian tengah. Seorang lelaki setengah baya dan anaknya yang masih remaja berjongkok di depan api yang menyala dari ranting-ranting hawthorn. Mereka menguliti seekor rubah dengan pisau batu api buatan sendiri. Mereka tidak membawa kantong tidur bermerek, kompor gas, atau ponsel yang menyala. Rencana mereka sederhana dan sedikit gila: membuat tempat berteduh, membunuh sesuatu untuk dimakan, dan menatap api sampai Natal tiba.
Lelaki itu bernama Charles Foster. Ia bukan pertapa atau pengikut gerakan kembali ke alam. Ia pengacara, filsuf, dokter hewan, dan akademisi di Universitas Oxford, penulis lebih dari selusin buku tentang hukum medis, etika, teologi, dan sejarah alam. Anak lelakinya bernama Tom. Dan yang sedang mereka coba lakukan di hutan itu adalah sesuatu yang belum pernah benar-benar berhasil dilakukan siapa pun: merasakan dari dalam bagaimana menjadi manusia empat puluh ribu tahun yang lalu.
Pertanyaan di balik percobaan itu sama tuanya dengan filsafat. Makhluk macam apa manusia ini? Jika kita tidak tahu apa diri kita, bagaimana kita tahu harus hidup seperti apa? Penerbitnya merumuskan buku ini dengan dua pertanyaan itu. Foster menjawabnya bukan dengan membaca lebih banyak buku, meski catatan kakinya tebal dan kutipannya bertebaran, melainkan dengan meminjamkan tubuhnya sendiri kepada masa lalu.
Dari Luwak ke Manusia
Being a Human: Adventures in Forty Thousand Years of Consciousnes (New York: Metropolitan Books, 2021, ±400 halaman) adalah anak kedua dari sebuah proyek yang dimulai lima tahun sebelumnya. Dalam Being a Beast (2016), Foster mencoba hidup sebagai lima jenis binatang: luak, berang-berang, rubah, rusa merah, dan burung walet. Ia tidur di liang tanah yang digalinya di sebuah lereng di Wales bersama Tom, berbaring berjam-jam di sungai Devon mencoba menangkap ikan dengan mulut, mengais tempat sampah di London timur seperti rubah kota. Ia jengkel dengan tulisan alam yang menurutnya kebanyakan berisi manusia yang berjalan-jalan dengan langkah kolonial dan menggambarkan apa yang mereka lihat dari ketinggian enam kaki di atas tanah. Maka ia memilih turun ke tanah.
Buku itu menjadi buku laris New York Times, masuk daftar panjang Baillie Gifford Prize dan Wainwright Prize, dan, sebagai bukti bahwa dunia tidak tahu harus memujinya atau menertawakannya, memenangkan Ig Nobel Prize bidang biologi pada 2016, penghargaan parodi bagi penelitian yang pertama-tama membuat orang tertawa lalu membuat mereka berpikir. Foster berbagi hadiah itu dengan Thomas Thwaites, desainer yang mencoba hidup sebagai kambing di pegunungan Alpen.
Perjalanan intelektual Foster sendiri tidak kalah berliku. Ia adalah anggota (fellow) Exeter College di Oxford, berpraktik sebagai pengacara, terlatih sebagai dokter hewan, dan menulis buku-buku akademik tentang martabat manusia dalam bioetika dan hukum. Ia juga menulis tentang biologi dan agama, termasuk The Selfless Gene (2009), yang mempertemukan teori evolusi dengan iman Kristen.
Di situs pribadinya ia merumuskan benang merah semua karyanya dalam dua pertanyaan: siapa atau apa kita ini, dan apa sebenarnya yang sedang kita lakukan di muka bumi. Ketertarikan akademisnya, katanya, berkisar pada apakah manusia itu istimewa dan apakah kita bisa mengetahui dunia dengan cukup baik untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Being a Human adalah upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu bukan di ruang seminar, melainkan di lumpur.
Setelah mencoba menjadi binatang lain, Foster sampai pada kesimpulan yang aneh: binatang yang paling asing baginya ternyata adalah manusia, termasuk dirinya sendiri. Maka dalam Being a Human ia membalikkan lensa ke spesiesnya sendiri. Ia memilih tiga titik balik dalam sejarah kesadaran manusia yang menurutnya paling banyak menjelaskan siapa kita hari ini: Paleolitikum Atas sekitar empat puluh ribu tahun lalu, ketika manusia menjadi “modern secara perilaku”; Neolitikum sekitar dua belas ribu tahun lalu, ketika manusia mulai bertani dan menetap; dan Pencerahan, sekitar tiga ratus tahun lalu, ketika manusia memutuskan bahwa alam semesta adalah mesin. Ketiga zaman itu, katanya, masih memerintah kita.

Gambar 1. Tiga babak dalam Being a Human, dengan beberapa penanda arkeologis sebagai pembanding. Jumlah halaman per bagian mengikuti catatan para peresensi.
Proporsi buku ini sendiri sudah merupakan pengakuan. Bagian tentang Paleolitikum menghabiskan hampir dua ratus halaman, Neolitikum sekitar seratus, dan Pencerahan hanya sekitar tiga puluh. Foster beralasan bahwa manusia hidup jauh lebih lama sebagai pemburu-peramu ketimbang sebagai petani atau penghuni kota. Tetapi ia juga mengaku terus terang: ia lebih menyukai orang-orang Paleolitikum. Ada satu kalimatnya yang setengah bercanda dan setengah teologis: Tuhan itu baik, dan Ia berpihak pada Paleolitikum Atas.
Musim Dingin di Derbyshire
Bagian pertama disusun mengikuti empat musim, dimulai dari musim dingin, karena orang Paleolitikum hidup menurut putaran musim, bukan menurut kalender kerja. Foster dan Tom tinggal di tempat berteduh darurat di hutan-hutan Peak District, menyalakan api, menguliti kelinci dan rubah dengan alat batu, memakan apa yang bisa diramu dan bangkai hewan yang tertabrak di jalan. Karena tidak ada lagi kawanan rusa kutub di Derbyshire, mereka mengikuti lintasan burung murai dan robin. Pancaindra yang menurut Foster telah “mengering” oleh kehidupan modern dipaksa bangun kembali oleh lapar, dingin, dan kewaspadaan.
Yang ingin ia tangkap bukan sekadar cara hidup, melainkan saat lahirnya sesuatu. Ia ingin hadir pada permulaan apa yang oleh para arkeolog disebut modernitas perilaku, ketika manusia mulai melukis di dinding gua, menguburkan orang mati dengan tata cara, membuat perhiasan, dan bercerita. Ia ingin merasakan desiran pertama sang Aku ketika subjektivitas disuntikkan, menyaksikan kerlip pertama kesadaran dan ledakan pertama cerita. Ia sendiri mengakui bahwa itu permintaan yang terlalu besar.
Ada sesuatu yang menyentuh pada kehadiran Tom dalam seluruh petualangan ini. Ia sudah ikut menjadi luak bersama ayahnya dalam buku sebelumnya, dan kini ikut menjadi manusia Paleolitikum. Buku ini, dengan cara yang tidak terlalu ditonjolkan, juga merupakan kisah seorang ayah yang mencoba mewariskan sesuatu kepada anaknya: bukan harta, bukan nasihat, melainkan pengalaman tentang dunia yang belum diperantarai layar. Bagi orang Paleolitikum, pengetahuan tentang jejak, musim, tumbuhan, dan api diturunkan dengan cara yang sama, dari tubuh ke tubuh, di sekitar perapian. Dalam keputusan Foster untuk membawa Tom ke hutan tersirat sebuah pertanyaan yang relevan bagi setiap orang tua hari ini: apa yang sungguh-sungguh kita ajarkan kepada anak-anak kita tentang bumi?
Sepanjang perjalanan itu mereka dibayangi dua sosok misterius yang ia sebut X dan anaknya, sepasang manusia dari zaman itu yang sesekali muncul di tepi pandangan. Foster tidak pernah menegaskan apakah keduanya nyata, bayangan, atau proyeksi dari dirinya dan Tom. Ia membiarkan pembaca memutuskan sendiri. Di bagian ini pula ia bercerita, dengan keterusterangan yang membuat sebagian pembaca gelisah, tentang pengalaman keluar dari tubuh, tentang perjalanan syamanik yang ia lakukan untuk menyelami hubungan antara mimpi dalam keadaan terjaga dan akar pengalaman religius, dan tentang puasa panjang yang ia jalani seorang diri.
Di akhir empat musim, ia merasa telah sampai di suatu tempat. Ia merasa menjadi bagian dari dunia alami, melambat mengikuti tempo pepohonan, mempercepat diri mengikuti debar jantung burung wren, memperhatikan bau udara dingin, dan merasakan dinding antara ruang orang hidup dan orang mati menipis. Dan ia menemukan sesuatu yang sederhana: menatap api, ternyata, adalah semua yang diperlukan untuk menyalakan kesadaran.
Klaim itu terdengar romantis, tetapi ada riset yang menopangnya dari arah lain. Antropolog Polly Wiessner mencatat percakapan masyarakat Ju/’hoansi di Kalahari selama bertahun-tahun dan menemukan perbedaan yang mencolok. Pada siang hari, percakapan mereka didominasi urusan ekonomi, keluhan, dan gosip. Pada malam hari di sekitar api, sebagian besar percakapan berubah menjadi cerita: tentang orang-orang yang jauh, tentang leluhur, tentang dunia roh. Api, simpulnya, memperpanjang hari dan membuka ruang bagi imajinasi, ikatan sosial, dan transmisi budaya. Foster sampai ke kesimpulan yang sama dengan tubuhnya sendiri.
Perburuan dan pembunuhan juga menjadi bagian yang tidak nyaman tetapi jujur dari bagian ini. Foster, yang terlatih sebagai dokter hewan, tidak berpura-pura bahwa hidup sebagai pemburu-peramu bisa dijalani tanpa darah. Yang menarik baginya adalah sikap batin di balik pembunuhan itu. Banyak masyarakat pemburu yang dikaji para antropolog memandang buruan bukan sebagai benda, melainkan sebagai pribadi yang memberikan dirinya, dan karena itu harus dihormati: dengan ritual, dengan larangan membuang-buang, dengan permintaan maaf.
Pembunuhan dalam kerangka itu adalah hubungan, bukan transaksi. Bandingkan dengan rumah jagal industri modern, tempat hewan menjadi satuan produksi yang tidak pernah dilihat oleh orang yang memakannya. Foster tidak mengajak kita kembali berburu. Ia mengajak kita bertanya mengapa kita begitu jauh dari kematian yang menopang hidup kita.
Ia juga memberi perhatian besar pada cara orang Paleolitikum memperlakukan orang mati. Penguburan-penguburan dari zaman itu, dengan bekal kubur, pewarna oker, dan perhiasan, menunjukkan bahwa manusia telah mulai membayangkan dunia di balik kematian. Di situs Sungir di Rusia, sekitar tiga puluh empat ribu tahun lalu, dua anak dikuburkan dengan ribuan manik-manik dari gading mamut, kerja yang menghabiskan waktu ribuan jam. Bagi Foster, dinding yang menipis antara yang hidup dan yang mati bukan sekadar pengalaman pribadi di hutan. Ia adalah salah satu ciri kesadaran Paleolitikum, dan sesuatu yang nyaris hilang dari masyarakat modern yang menyembunyikan kematian di balik dinding rumah sakit.
Dunia yang Berjiwa
Inti bagian pertama adalah sebuah tesis tentang cara orang Paleolitikum memandang dunia. Bagi mereka, menurut Foster, pohon, batu, sungai, burung, dan langit bukan latar belakang yang mati, melainkan sesama makhluk yang berjiwa dan layak diajak berelasi. Pemburu-peramu, tulisnya, adalah pengembara yang terhubung secara intim, penuh hormat, dan sering kali penuh ekstase dengan bentang tanah yang luas dan banyak spesies. Mereka hidup cukup panjang dan relatif bebas penyakit, punya lebih banyak waktu luang, dan hanya sedikit bukti tentang kekerasan antarmanusia. Waktu luang itu menjadikan zaman mereka zaman renungan dan cerita. Seni manusia yang paling awal di dinding-dinding gua, tulisnya, termasuk seni terbaik yang pernah ada.
Bagi Foster, dunia yang berjiwa itu bukan mitologi primitif yang pantas ditertawakan. Ia adalah cara memandang kenyataan yang secara fenomenologis lebih jujur, karena berangkat dari pengalaman tubuh yang sungguh-sungguh hadir di tengah dunia, bukan dari model yang dibangun di kepala. Di sini ia berjalan seiring dengan sejumlah pemikir yang sejak beberapa dekade terakhir memeriksa ulang animisme.
Filsuf ekologi David Abram, dalam The Spell of the Sensuous (1996), berargumen bahwa persepsi manusia pada dasarnya bersifat partisipatif, dan bahwa kita hidup di tengah apa yang ia sebut dunia yang “lebih dari manusia”. Antropolog Philippe Descola menunjukkan bahwa pemisahan tegas antara alam dan budaya, yang kita anggap kodrati, hanyalah salah satu dari beberapa cara manusia mengatur dunia, dan bukan yang paling umum. Robin Wall Kimmerer, ahli botani dari bangsa Potawatomi, menulis tentang “tata bahasa keberhidupan” dalam bahasa leluhurnya, di mana sebuah pohon tidak disebut “itu”, melainkan disapa sebagai sesama.
Pembaca Indonesia tidak perlu pergi jauh untuk memahami gagasan ini. Di banyak komunitas adat di Nusantara, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Ada hutan larangan yang tidak boleh ditebang, ada pohon yang dihormati sebagai tempat bersemayam leluhur, ada sungai yang punya penjaga, ada musim tanam yang ditandai oleh bintang dan bunyi burung. Para pegiat konservasi sering menyebutnya kearifan lokal. Foster akan menyebutnya sisa-sisa dari cara memandang dunia yang pernah menjadi milik seluruh umat manusia.
Seni Tertua Itu Ternyata Bukan di Eropa
Di sini perlu ada catatan yang penting, terutama bagi pembaca di negeri ini. Foster, seperti banyak penulis Eropa, berangkat dari gambaran klasik tentang “revolusi Paleolitikum Atas”: sebuah ledakan mendadak kreativitas simbolik yang terjadi di Eropa barat daya sekitar empat puluh ribu tahun lalu, dengan Lascaux dan Chauvet sebagai monumennya. Ia bahkan pergi melihat seni gua itu, ironisnya, di sebuah perpustakaan abad pertengahan di Oxford, lewat reproduksi.
Gambaran itu kini banyak dipersoalkan. Pada 2000, arkeolog Sally McBrearty dan Alison Brooks menerbitkan makalah berjudul tegas, The Revolution That Wasn’t, yang menunjukkan bahwa unsur-unsur perilaku modern muncul secara bertahap di Afrika, puluhan ribu tahun sebelum Eropa. Oker berukir dari Gua Blombos di Afrika Selatan berumur sekitar tujuh puluh lima ribu tahun.
Dan penemuan-penemuan dari Indonesia telah menggeser peta seni prasejarah dunia. Lukisan babi kutil Sulawesi di gua Leang Tedongnge, Maros, diumumkan pada 2021 dengan umur minimal 45.500 tahun. Pada 2024, sebuah tim peneliti Indonesia dan Australia mengumumkan bahwa lukisan adegan manusia dan babi di Leang Karampuang, juga di Maros, berumur sekurang-kurangnya 51.200 tahun, salah satu karya seni figuratif dan adegan bercerita tertua yang pernah ditemukan di dunia.
Artinya, “kerlip pertama kesadaran” yang dicari Foster di hutan Derbyshire barangkali menyala lebih dulu di gua-gua kapur Sulawesi. Ini tidak meruntuhkan argumen Foster tentang Paleolitikum sebagai zaman ketika manusia menjadi makhluk pencerita. Tetapi ia mengoreksi geografinya. Kesadaran simbolik manusia bukan anugerah yang turun di Eropa lalu menyebar ke seluruh dunia. Ia tumbuh di banyak tempat, termasuk di kepulauan yang kini kita sebut Indonesia.
Satu tafsir tentang seni gua juga relevan dengan perjalanan syamanik Foster. Arkeolog David Lewis-Williams, dalam The Mind in the Cave (2002), berargumen bahwa banyak lukisan gua lahir dari keadaan kesadaran yang berubah, yakni trans, mimpi, dan penglihatan, yang dialami para syaman dan kemudian “dilukiskan” pada dinding batu yang dianggap sebagai selaput antara dunia ini dan dunia roh. Tafsir ini berpengaruh tetapi juga banyak dikritik karena terlalu menyamaratakan beragam tradisi. Foster tampak bersimpati padanya, dan pengalaman-pengalaman mistiknya di hutan bisa dibaca sebagai upaya menguji tafsir itu dari dalam. Pembaca boleh skeptis, tetapi pertanyaannya tetap menarik: apakah seni, agama, dan kesadaran diri lahir dari akar yang sama?
Pagar, Ladang, Dewa Langit, dan Rumah Jagal
Bagian kedua, juga disusun mengikuti empat musim, membawa Foster ke dunia petani pertama. Ia tinggal di permukiman dan ladang yang mencoba menghidupkan kembali cara bertani dan beternak masa awal, belajar melihat apa yang diberikan tanah dan bagaimana keterikatan pada sebidang lahan membentuk watak. Penerbitnya merangkum dunia Neolitikum dalam empat kata yang terdengar seperti dakwaan: pagar, ladang, dewa langit, dan rumah jagal.
Kalimat Foster yang paling sering dikutip dari bagian ini adalah kalimat yang paling provokatif: di Neolitikum, kita mulai menjadi membosankan dan sengsara. Bagi Foster, peralihan dari berburu-meramu ke bertani bukan sekadar perubahan teknologi pangan, melainkan perubahan struktur kesadaran. Manusia mulai memandang tanah, tumbuhan, dan hewan sebagai milik dan alat produksi. Dari sanalah, dalam alur argumennya, lahir hasrat untuk mengotak-ngotakkan, menguasai, dan mengendalikan, beserta hierarki sosial, penimbunan, dan jarak psikologis antara manusia dan dunia alami yang terus melebar sampai hari ini. Pemerintah, tulisnya dengan nada setengah bercanda, semuanya lahir dari Neolitikum, dan karena itu takut pada orang-orang yang melakukan apa yang ia dan Tom lakukan di hutan.
Tetapi Foster tidak sepenuhnya hitam-putih. Seorang peresensi mencatat bahwa ia juga melihat sisi lain warisan Neolitikum: bersama nafsu menguasai, zaman itu mewariskan keinginan untuk merawat dan memelihara bumi. Petani pertama juga adalah perawat pertama. Ia mencatat hal-hal kecil yang menarik, misalnya bahwa rumah bundar pada dasarnya adalah ruang yang demokratis, karena tidak ada sudut yang lebih tinggi dari sudut lainnya.
Cerita tentang revolusi pertanian sebagai kejatuhan bukan gagasan baru, dan Foster berdiri dalam barisan yang panjang. Pada 1966 antropolog Marshall Sahlins memperkenalkan istilah “masyarakat makmur orisinal” untuk pemburu-peramu yang kebutuhannya sedikit dan waktu luangnya banyak. Pada 1987 Jared Diamond menulis esai dengan judul yang kemudian terkenal, yang menyebut pertanian sebagai kesalahan terbesar dalam sejarah umat manusia. Yuval Noah Harari, dalam Sapiens, menyebutnya penipuan terbesar dalam sejarah. James C. Scott, dalam Against the Grain (2017), menunjukkan bagaimana negara-negara awal tumbuh dari lumbung gandum yang mudah dihitung, dipajaki, dan dirampas.
Menariknya, pada tahun yang sama dengan terbitnya Being a Human, David Graeber dan David Wengrow menerbitkan The Dawn of Everything (2021), yang justru menggugat narasi kejatuhan semacam itu. Mereka menunjukkan bahwa peralihan ke pertanian berlangsung selama ribuan tahun, berulang kali maju dan mundur, dan bahwa banyak masyarakat awal bertani “secara main-main” tanpa terjebak dalam hierarki. Orang-orang Neolitikum, kata mereka, bukan korban pasif sebuah perangkap, melainkan pelaku yang sadar dan sering bereksperimen dengan berbagai bentuk tatanan sosial. Membaca Foster bersama Graeber dan Wengrow adalah cara yang baik untuk mengingat bahwa sejarah jarang sesederhana kisah taman yang hilang.
Bagi pembaca Indonesia, perdebatan ini juga tidak abstrak. Kepulauan ini adalah rumah bagi masyarakat peladang berpindah, peramu sagu, dan pemburu hutan, yang selama berabad-abad hidup berdampingan dengan petani sawah dan kerajaan agraris. Kebijakan pembangunan sering memperlakukan cara hidup yang pertama sebagai keterbelakangan yang harus “dimodernkan” menjadi yang kedua. Foster mengingatkan bahwa yang disebut kemajuan itu mungkin juga sebuah kehilangan.
Sejarah Nusantara sendiri menyimpan cerita Neolitikum yang khas. Sekitar empat ribu tahun lalu, para penutur bahasa Austronesia menyebar dari Taiwan ke selatan, membawa perahu bercadik, padi, babi, anjing, dan tembikar, dan bertemu dengan penduduk yang telah tinggal di kepulauan ini selama puluhan ribu tahun. Yang terjadi bukan penggantian total, melainkan percampuran yang panjang. Di banyak tempat, berladang, meramu sagu, berburu, dan menangkap ikan terus hidup berdampingan. Kepulauan ini, dengan kata lain, tidak pernah sepenuhnya mengalami “revolusi” pertanian dalam pengertian Eropa. Ia mengalami penganyaman, dan barangkali itulah salah satu sumber kelenturan budaya kita.
Zaman Nalar dan Akhir Jiwa
Bagian ketiga adalah yang paling pendek dan paling padat. Kali ini Foster tidak lagi berkemah di mana pun. Ia kembali menjadi dirinya sendiri, akademisi Oxford abad ke-21, dan berjalan menyusuri ruang-ruang kuliah, ruang bedah mayat, kafe, dan galeri seni. Ia menyebut zaman ini zaman nalar dan akhir jiwa, dan ia berargumen bahwa Pencerahan yang dimulai pada abad ketujuh belas belum berakhir. Kita masih tinggal di dalamnya.
Keluhannya terhadap Pencerahan bisa diringkas dalam satu gambaran yang dipakai penerbitnya: zaman ketika kita memutuskan bahwa alam semesta adalah mesin dan kita adalah roda-roda gigi tanpa jiwa di dalamnya. Seorang dokter hewan tentu tahu ke mana arah gambaran itu. René Descartes, dalam Discourse on Method (1637), memperlakukan binatang sebagai automata, mesin yang bergerak tanpa perasaan. Pandangan itu membuka jalan bagi pembedahan hewan hidup tanpa rasa bersalah dan, lebih luas, bagi cara memperlakukan seluruh alam sebagai sumber daya yang bisa dibongkar pasang. Sosiolog Max Weber, pada 1917, menamai proses ini Entzauberung der Welt, penghilangan pesona dunia: keyakinan bahwa pada prinsipnya segala sesuatu bisa dikuasai lewat perhitungan, sehingga tidak ada lagi kekuatan misterius yang perlu dihormati.
Semangat zaman itu terangkum dalam rumusan Francis Bacon di awal abad ketujuh belas bahwa pengetahuan dan kekuasaan manusia pada akhirnya bertemu dalam satu hal yang sama. Ilmu pengetahuan baru dijanjikan sebagai jalan untuk memulihkan kuasa manusia atas alam. Janji itu ditepati dengan luar biasa: obat-obatan, mesin, listrik, dan pangan yang melimpah. Tetapi harga yang dibayar, menurut Foster, adalah keterasingan dari sesuatu yang lebih tua dari semua janji itu. Kita mendapatkan kekuasaan atas dunia dan kehilangan kemampuan untuk merasa berada di dalamnya.
Di ruang bedah dan ruang kuliah, Foster mendapati dunianya dan dirinya sendiri terasa ganjil dan tanpa tubuh. Manusia modern, dalam bahasanya, gelisah secara ontologis dan menggelikan karena begitu tidak cocok dengan kehidupan yang kini dijalaninya. Ia menyesali atrofi pancaindra, yang menurutnya menjadi sumber dari banyak penyakit zaman ini: keterasingan, sulit tidur, kecemasan, depresi. Menganggap manusia modern sebagai ukuran normal, tulisnya, adalah sesuatu yang menggelikan; kita justru mutasi yang baru dan jelas-jelas tidak memadai.
Namun di sinilah Foster menghindari jebakan anti-sains yang mudah. Ia tidak menolak nalar. Ia mengakui bahwa Pencerahan mewariskan skeptisisme dan empirisme, dua kebajikan yang justru sangat kita perlukan hari ini, dan bahwa dengan keduanya kita bisa memandang dunia alami dan dunia manusia tanpa takut dan tanpa prasangka. Paradoksnya halus tetapi penting: alat-alat Pencerahan itulah yang bisa membantu kita memulihkan pesona dunia. Gagasan ini dekat dengan psikiater dan filsuf Iain McGilchrist, yang dalam The Master and His Emissary (2009) berargumen bahwa peradaban Barat telah membiarkan cara berpikir yang analitis dan memilah-milah, yang seharusnya hanya menjadi utusan, mengambil alih kedudukan sang tuan, yaitu cara memandang yang utuh dan terhubung. McGilchrist sendiri menyebut buku Foster sebagai pengaturan ulang yang mengejutkan atas pemahaman kita tentang perjalanan pemikiran manusia.
Epilog buku hanya terdiri dari beberapa paragraf. Di sana Tom bersiul, dengan nada yang sama yang dulu terdengar dalam kegelapan hutan, sebuah motif musikal yang menjahit seluruh buku. Foster tidak menawarkan resep untuk kembali ke gua. Ia tahu itu mustahil, dan ia tidak sepenuhnya menginginkannya. Yang ia tawarkan adalah sebuah kalimat penghiburan yang terdengar seperti doa: tabahlah, kita bisa membalikkan mutasi itu.
Membaca Foster dengan Kritis
Buku seperti ini mengundang pujian yang meluap dan kritik yang tajam, sering kali sekaligus. Merlin Sheldrake menyebutnya liar, berani, keterlaluan, lucu, berguna, dan mendesak. Paul Kingsnorth menyebutnya karya jenius yang acak-acakan. Kirkus Reviews menempatkannya di samping karya-karya terbaik tulisan alam Inggris modern, bersama Nan Shepherd, Robert Macfarlane, dan Roger Deakin. The Spectator memasukkannya ke dalam daftar buku terbaik tahun 2022. Tetapi ada setidaknya empat catatan yang patut diajukan.
Pertama, ketimpangan bentuk. Sejumlah peresensi, termasuk di Forbes, mencatat bahwa bagian Neolitikum dan Pencerahan terasa sepintas dibandingkan petualangan panjang di hutan. Seorang peresensi bahkan menyarankan membaca bagian Pencerahan lebih dulu, karena di tiga puluh halaman itulah argumen pokok buku dirumuskan paling rapat. Struktur yang berat sebelah ini bukan kebetulan; ia mencerminkan keberpihakan pengarangnya.
Kedua, batas metode. Bisakah seorang pengacara Oxford yang pulang ke rumahnya sesekali, di hutan Inggris abad ke-21 yang sudah dipagari, dijaga, dan dikelilingi jalan raya, sungguh merasakan apa yang dirasakan seorang pemburu Paleolitikum? Tentu tidak, dan Foster mengakuinya. Tetapi pengakuan itu tidak menghapus kecurigaan bahwa yang ia temukan di hutan sebagian adalah apa yang memang ia cari. Sebagian pembaca mengeluh bahwa bagian Paleolitikum terlalu bersandar pada perasaan ketimbang fakta. Seorang peresensi lain menulis bahwa buku ini bukan tentang menjadi manusia, melainkan tentang menjadi Charles Foster.
Ketiga, romantisme masa lalu. Gambaran tentang pemburu-peramu yang sehat, damai, dan penuh waktu luang memang ditopang sebagian bukti, tetapi juga diperdebatkan. Angka kematian bayi di masyarakat pemburu-peramu tinggi, dan bukti kekerasan antarkelompok di beberapa situs prasejarah tidak bisa diabaikan. Narasi “dari taman ke kejatuhan” punya daya tarik moral yang kuat, tetapi sejarah manusia lebih berliku dari itu, sebagaimana diperlihatkan Graeber dan Wengrow.
Keempat, latar keyakinan pengarang. Foster adalah seorang Kristen yang menulis tentang pengalaman pertobatannya dalam buku-buku sebelumnya, termasuk Wired for God? (2010). Pengalaman religius dan mistiknya, dari “mendengarkan pepohonan” sampai perjalanan keluar tubuh, mewarnai cara ia membaca masa lalu. Ini bukan cela; setiap penulis membawa kacamatanya sendiri. Tetapi pembaca perlu menyadari bahwa dunia berjiwa yang ia gambarkan sebagian adalah juga dunia yang ia imani.
Namun semua catatan itu tidak menghapus kekuatan buku ini. Kekuatannya justru terletak pada keberaniannya menggunakan tubuh sebagai alat penyelidikan, di zaman ketika hampir semua pengetahuan kita tentang dunia datang dari layar. Ia tidak membuktikan apa pun dalam pengertian ilmiah. Ia mengajukan pertanyaan yang tidak bisa diajukan dari balik meja.
Indera yang Mengering dan Zaman Pasca-Kebenaran
Foster tidak menulis tentang politik atau disinformasi. Tetapi gagasannya tentang atrofi pancaindra menyentuh akar dari kerentanan zaman kita. Di masa lalu, kebenaran diuji langsung oleh tubuh: apakah buah ini beracun, apakah jejak ini milik pemangsa, apakah langit sore ini membawa badai yang bisa membunuh jika kita tidak berteduh. Kesalahan membaca kenyataan dibayar dengan nyawa. Hari ini, sebagian besar yang kita anggap kenyataan datang kepada kita lewat perantara: layar, angka, berita, unggahan, dan semakin sering, gambar dan suara yang dibuat oleh mesin. Kebenaran sebuah kabar kerap diukur dari seberapa sering ia dibagikan, bukan dari apakah ia cocok dengan dunia yang bisa kita sentuh.
Masyarakat yang jarang menguji kenyataan dengan pengalaman langsung lebih mudah kehilangan pijakan untuk membedakan fakta dari narasi. Dalam pengertian ini, ajakan Foster untuk kembali pada pengalaman inderawi yang jujur, meski lewat cara yang eksentrik seperti tidur di hutan dan memakan bangkai di jalan, adalah juga ajakan epistemologis: kebenaran yang paling tahan uji adalah kebenaran yang diuji oleh pengalaman, bukan yang semata diproduksi oleh wacana.
Kritiknya terhadap Pencerahan sebagai akhir jiwa juga bisa dibaca sebagai kritik terhadap reduksionisme, kebiasaan menyederhanakan kenyataan yang rumit menjadi angka, kategori, dan slogan yang mudah dipolitisasi. Dalam perdebatan publik tentang lingkungan, kesehatan, dan keadilan sosial, kita sering berbicara dengan bahasa yang telah kehilangan hubungan dengan pengalaman di lapangan: indikator, target, dan jargon yang terdengar ilmiah tetapi jarang disentuh tangan. Foster mengingatkan bahwa skeptisisme dan empirisme, jika dijalankan dengan jujur, menuntut kita untuk keluar dari ruangan dan melihat.
Tafakkur dan Alam yang Bertasbih
Ajakan Foster untuk memulihkan kepekaan terhadap dunia menemukan gema yang dalam pada tradisi Islam, meski dengan perbedaan yang perlu dicatat. Al-Qur’an berulang kali menyebut penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang sebagai tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yakni mereka yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta merenungkan penciptaan langit dan bumi (QS Ali ‘Imran [3]: 190–191). Perenungan itu, tafakkur, bukan latihan intelektual yang dingin. Ia melibatkan tubuh dalam segala posisinya.
Lebih jauh lagi, Al-Qur’an menyatakan bahwa langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang tidak bertasbih memuji-Nya, tetapi manusia tidak mengerti tasbih mereka (QS al-Isra’ [17]: 44). Ayat ini tidak mengajarkan animisme. Batu dan pohon tidak disembah, dan tauhid menegaskan bahwa hanya ada satu sumber segala kehidupan. Tetapi ayat itu juga menolak gambaran alam sebagai mesin yang bisu. Dunia, dalam pandangan ini, hidup dalam pujiannya sendiri, dan ketidakmampuan manusia mendengarnya adalah keterbatasan manusia, bukan kebisuan dunia. Di sini ada titik temu yang menarik dengan Foster: yang hilang dari manusia modern bukan kebenaran tentang alam, melainkan kemampuan untuk mendengarnya.
Seyyed Hossein Nasr, filsuf Muslim kelahiran Iran, sudah merumuskan kegelisahan serupa jauh sebelum Foster. Dalam Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (1968), ia berargumen bahwa krisis lingkungan modern berakar pada desakralisasi alam, ketika alam dilepaskan dari makna spiritualnya dan diperlakukan sebagai objek yang semata-mata untuk dieksploitasi. Bagi Nasr, pemulihan ekologis tidak mungkin tanpa pemulihan cara pandang. Dan Rasulullah, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an, diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS al-Anbiya’ [21]: 107), bukan hanya bagi manusia.
Hikmah bagi Dunia yang Retak
Dibaca dalam konteks dunia hari ini, dengan kerusakan lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, perang yang kembali marak, dan sisa-sisa kolonialisme dalam bentuk-bentuk baru, Being a Human menawarkan setidaknya empat pelajaran.
Pertama, krisis ekologis bukan semata persoalan teknis. Ia berakar pada perubahan cara manusia memandang alam, dari sesama makhluk yang berjiwa menjadi sumber daya dan properti. Selama cara pandang itu tidak diperiksa ulang, kebijakan lingkungan sebaik apa pun berisiko menjadi tambal sulam di atas fondasi hubungan yang sudah retak. Teknologi bisa mengurangi emisi; ia tidak dengan sendirinya mengajarkan hormat.
Kedua, keterasingan adalah juga persoalan politik. Masyarakat yang terputus dari tubuhnya, dari alam, dan dari sesamanya akan lebih mudah memperlakukan makhluk lain, manusia maupun bukan, sebagai objek yang bisa dieksploitasi atau ditaklukkan. Kekerasan struktural, termasuk warisan kolonial, sebagian bisa dibaca sebagai gejala dari keterasingan yang sama.
Ketiga, pengetahuan masyarakat yang masih menjaga hubungan erat dengan alam bukan romantisme masa lalu, melainkan sumber kearifan yang mendesak dibutuhkan. Bagi lembaga yang bekerja di ranah keberlanjutan, hak masyarakat adat, penilaian nilai konservasi tinggi, dan dampak sosial-lingkungan, pesan ini sangat konkret. Ketika kita memetakan hutan, kita sering hanya melihat tutupan lahan, stok karbon, dan habitat satwa. Masyarakat yang tinggal di dalamnya melihat nama-nama tempat, jalur leluhur, sumber pangan, wilayah keramat, dan ingatan. Peta yang baik harus menampung keduanya.
Keempat, dan barangkali yang paling sederhana: kepekaan bisa dilatih. Foster tidak meminta kita semua tinggal di hutan. Tetapi ia menunjukkan bahwa memperhatikan musim, bau udara, bunyi burung, rasa lapar dan kenyang, dan kehadiran makhluk lain di sekitar kita adalah keterampilan yang bisa dipulihkan. Dan keterampilan itu, kecil sekalipun, adalah fondasi etis bagi keputusan-keputusan besar tentang bagaimana kita memperlakukan bumi dan sesama.
Lima Latihan Sederhana
Jika gagasan Foster hendak diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari, tanpa harus tidur di hutan atau memakan bangkai di jalan, setidaknya ada lima latihan sederhana yang bisa dipetik dari bukunya.
Yang pertama adalah latihan memperhatikan. Luangkan waktu untuk mengamati satu tempat yang sama secara berulang, misalnya sebatang pohon di halaman, sebuah sungai, atau sepetak kebun, dan catat bagaimana ia berubah dari minggu ke minggu. Foster menghabiskan satu tahun penuh mengikuti empat musim di hutan; kita bisa memulai dengan satu tempat dan satu buku catatan.
Yang kedua adalah latihan tubuh. Berjalan kaki tanpa tujuan yang tergesa-gesa, merasakan lapar sebelum makan, merasakan dingin dan panas tanpa segera mematikannya dengan mesin. Bagi umat Muslim, puasa adalah latihan semacam ini yang sudah tertanam dalam ibadah: menghadirkan kembali tubuh yang lapar dan haus sebagai jalan menuju kesadaran.
Yang ketiga adalah latihan api dan cerita. Duduk bersama di malam hari, tanpa layar, dan bercerita: tentang leluhur, tentang tempat asal, tentang binatang dan pepohonan yang pernah kita kenal. Riset Wiessner di Kalahari menunjukkan bahwa di sekitar api manusia berbicara tentang hal-hal yang tidak dibicarakan di siang hari.
Yang keempat adalah latihan mendengarkan. Ketika bekerja dengan masyarakat yang hidup dekat dengan alam, mulailah dengan bertanya dan mendengarkan bagaimana mereka menamai, membaca, dan menghormati tempat mereka, sebelum menggelar peta, kuesioner, dan matriks penilaian. Pengetahuan mereka bukan “data sekunder”; ia adalah cara mengetahui yang lain.
Yang kelima adalah latihan skeptisisme yang jujur. Foster sendiri mengingatkan bahwa Pencerahan mewariskan kebiasaan bertanya dan menguji. Gunakan kebiasaan itu bukan untuk merendahkan cara pandang lain, melainkan untuk memeriksa klaim-klaim yang terlalu mudah kita terima, termasuk klaim bahwa cara hidup kita hari ini adalah satu-satunya yang normal dan masuk akal.
Catatan Akhir: Menatap Api
Ulasan ini diselesaikan di Muara Enim, Sumatra Selatan, di sebuah wilayah tempat ladang, kebun, hutan yang tersisa, dan lubang-lubang tambang batu bara saling bersinggungan. Di tempat seperti ini, pertanyaan Foster tidak terdengar seperti renungan filsafat dari Oxford. Ia terdengar seperti pertanyaan sehari-hari. Siapa yang masih bisa membaca tanda-tanda musim ketika sungai berubah warna? Apa yang hilang ketika hutan menjadi konsesi dan sawah menjadi angka produksi? Dan siapa yang berhak menyebut perubahan itu sebagai kemajuan?
Being a Human bukan buku sejarah dalam pengertian biasa, dan bukan pula buku ilmiah. Ia adalah eksperimen fenomenologis yang berani dan kerap menjengkelkan: upaya merasakan, bukan sekadar membaca, tiga bentuk kesadaran manusia yang sangat berbeda. Foster tidak menjanjikan jawaban mudah. Ia hanya menegaskan bahwa jalan keluar dari krisis-krisis besar zaman ini mungkin bukan semata soal kebijakan dan teknologi baru, melainkan juga soal memulihkan cara merasakan dan memaknai dunia yang telah lama kita tinggalkan.
Di hutan Derbyshire, Foster menemukan bahwa menatap api sudah cukup untuk menyalakan kesadaran. Empat puluh ribu tahun yang lalu, atau lebih dari lima puluh ribu tahun di gua-gua Maros, nenek moyang kita mungkin duduk di depan api yang sama, bercerita tentang binatang, leluhur, dan dunia yang tak terlihat. Barangkali itulah undangan terakhir buku ini: sesekali matikan layar, keluar ke udara terbuka, duduk di depan api, dan dengarkan. Bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk mengingat makhluk macam apa kita sebenarnya, sebelum kita lupa sama sekali.
Desa Banuayu, Empat Petulai Dangku, Muara Enim,
24 September 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Abram, D. (1996). The spell of the sensuous: Perception and language in a more-than-human world. Pantheon Books.
Al-Qur’an al-Karim. QS Ali ‘Imran (3): 190–191; QS al-Isra’ (17): 44; QS al-Anbiya’ (21): 107.
Andrews, R. (2021, 18 September). Being a Human: Adventures in 40,000 years of consciousness [Ulasan buku]. The Irish Times. https://www.irishtimes.com/culture/books/being-a-human-adventures-in-40-000-years-of-consciousness-1.4672657
Bacon, F. (2000). The new organon (L. Jardine & M. Silverthorne, Ed.). Cambridge University Press. (Karya asli diterbitkan 1620)
Brumm, A., Oktaviana, A. A., Burhan, B., dkk. (2021). Oldest cave art found in Sulawesi. Science Advances, 7(3), eabd4648. https://doi.org/10.1126/sciadv.abd4648
Coffey, R. (2021, 29 Oktober). Book review: The dawn of humankind, and Charles Foster’s new book, ‘Being a Human’. Forbes. https://www.forbes.com/sites/rebeccacoffey/2021/10/29/the-dawn-of-humankind-and-charles-fosters-new-book-being-a-human-adventures-in-forty-thousand-years-of-consciousness/
Descola, P. (2013). Beyond nature and culture (J. Lloyd, Penerj.). University of Chicago Press. (Karya asli diterbitkan 2005)
Diamond, J. (1987, Mei). The worst mistake in the history of the human race. Discover, 64–66.
Foster, C. (2009). The selfless gene: Living with God and Darwin. Hodder & Stoughton.
Foster, C. (2010). Wired for God? The biology of spiritual experience. Hodder & Stoughton.
Foster, C. (2016). Being a beast: Adventures across the species divide. Profile Books.
Foster, C. (2021). Being a human: Adventures in forty thousand years of consciousness. Metropolitan Books.
Graeber, D., & Wengrow, D. (2021). The dawn of everything: A new history of humanity. Farrar, Straus and Giroux.
Harari, Y. N. (2014). Sapiens: A brief history of humankind. Harvill Secker.
Kimmerer, R. W. (2013). Braiding sweetgrass: Indigenous wisdom, scientific knowledge, and the teachings of plants. Milkweed Editions.
Kirkus Reviews. (2021). Being a Human by Charles Foster [Ulasan buku]. https://kirkusreviews.com/book-reviews/charles-foster/being-a-human
Lewis-Williams, D. (2002). The mind in the cave: Consciousness and the origins of art. Thames & Hudson.
McBrearty, S., & Brooks, A. S. (2000). The revolution that wasn’t: A new interpretation of the origin of modern human behavior. Journal of Human Evolution, 39(5), 453–563.
McGilchrist, I. (2009). The master and his emissary: The divided brain and the making of the Western world. Yale University Press.
Nasr, S. H. (1968). Man and nature: The spiritual crisis of modern man. George Allen & Unwin.
Oktaviana, A. A., Joannes-Boyau, R., Hakim, B., dkk. (2024). Narrative cave art in Indonesia by 51,200 years ago. Nature, 631, 814–818. https://doi.org/10.1038/s41586-024-07541-7
Sahlins, M. (1972). Stone age economics. Aldine-Atherton.
Scott, J. C. (2017). Against the grain: A deep history of the earliest states. Yale University Press.
Weber, M. (1946). Science as a vocation. Dalam H. H. Gerth & C. W. Mills (Ed. & Penerj.), From Max Weber: Essays in sociology (hlm. 129–156). Oxford University Press. (Karya asli disampaikan 1917)
Wiessner, P. W. (2014). Embers of society: Firelight talk among the Ju/’hoansi Bushmen. Proceedings of the National Academy of Sciences, 111(39), 14027–14035. https://doi.org/10.1073/pnas.1404212111






