Rubarubu #242
Degrowth:
Bahasa Baru untuk Dunia yang Terlalu Lama Dipaksa Tumbuh
Buku ini dibuka dengan sebuah kalimat yang terdengar seperti pengakuan seorang penyair yang kehabisan kata. Ketika bahasa sehari-hari tidak lagi sanggup mengucapkan apa yang mendesak untuk diucapkan, tulis para editornya, tibalah saatnya kita membutuhkan kosakata baru.
Lalu mereka menderetkan daftar yang membuat kalimat itu terasa getir. Badai Katrina. Gempa Haiti. Topan di Filipina. Fukushima. Tumpahan minyak di Teluk Meksiko. Limbah beracun yang dikubur diam-diam di Campania, Italia. Perubahan iklim. Dan bencana yang berlangsung tanpa henti dan nyaris tanpa berita: kematian yang sebenarnya bisa dicegah karena orang tidak punya akses pada tanah, air, dan pangan. Semua itu terjadi di zaman stagnasi, pemiskinan yang cepat atas sebagian besar penduduk, dan ketimpangan yang terus melebar.
Yang lebih menggelisahkan bagi para editor bukanlah daftar bencana itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa bahkan para pemikir radikal pun gagal merumuskan jawaban yang tidak berputar di sekitar dua keharusan yang sama: pertumbuhan dan pembangunan. Logikanya sederhana dan tajam. Jika hasrat akan pertumbuhan adalah penyebab krisis ekonomi, sosial, dan lingkungan, maka pertumbuhan tidak mungkin menjadi obatnya.
Dari kegelisahan itulah lahir Degrowth: A Vocabulary for a New Era, buku berbahasa Inggris pertama yang memetakan secara menyeluruh literatur tentang degrowth. Ia disunting oleh tiga peneliti dari Universitat Autònoma de Barcelona, yakni Giacomo D’Alisa, Federico Demaria, dan Giorgos Kallis, semuanya anggota kolektif Research & Degrowth. Lima puluh satu entri ditulis oleh para ekonom ekologi, antropolog, sosiolog, ahli ekologi politik, aktivis, dan pegiat koperasi dari berbagai negara. Penerbitnya merumuskan inti proyek itu dalam dua kalimat: degrowth adalah penolakan terhadap ilusi pertumbuhan dan seruan untuk mempolitisasi kembali perdebatan publik yang telah dijajah oleh idiom ekonomisme; ia adalah proyek yang memperjuangkan penyusutan produksi dan konsumsi secara demokratis, demi keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis.
Kamus yang Menolak Menjadi Kamus
Pilihan bentuk buku ini sudah merupakan pernyataan sikap. Para editor tidak menulis traktat dengan argumen yang bergerak lurus dari bab ke bab. Mereka menyusun sebuah kosakata. Alasannya mereka jelaskan dengan jujur: degrowth menolak satu definisi tunggal. Seperti kebebasan atau keadilan, ia mengungkapkan sebuah aspirasi yang tidak bisa dipaku dalam satu kalimat. Ia adalah bingkai tempat berbagai garis pemikiran, imajinasi, dan jalan tindakan bertemu. Para penyumbang tulisan memandangnya dengan sudut yang sedikit berbeda, dan tidak semuanya sepakat dengan apa yang ditulis di entri lain. Tetapi degrowth-lah yang mempertemukan dan menghubungkan mereka. Para editor melihat keluwesan itu sebagai kekuatan.
Prakata buku bahkan mengakui bahwa orang tiba di degrowth dari pintu yang berbeda-beda. Ada yang datang karena melihat bahwa pertumbuhan punya batas. Ada yang yakin bahwa kita sedang memasuki masa stagnasi ekonomi dan perlu mencari cara mempertahankan kemakmuran tanpa pertumbuhan. Ada yang percaya bahwa masyarakat yang sungguh setara hanya mungkin bila ia membebaskan diri dari kapitalisme dan dari pengejaran ekspansi yang tak pernah kenyang, masyarakat yang belajar membatasi dirinya secara kolektif. Dan ada pula yang datang hanya karena kata itu terdengar sangat mirip dengan cara hidup yang sudah mereka pilih. Para editor tidak memaksa mereka masuk lewat satu pintu.
Maka buku ini juga meminta cara membaca yang berbeda. Membacanya secara linear, entri demi entri, menurut para editornya sendiri barangkali cara yang paling membosankan. Mereka menyarankan pembaca memulai dari entri yang paling memikat, lalu mengembara mengikuti rujukan silang yang dicetak tebal, dari satu kata ke kata lain, sampai menemukan sendiri apa arti degrowth bagi dirinya. Kosakata ini, tulis mereka, adalah jaringan gagasan dan percakapan yang berakar kuat pada tradisi kritis dan radikal, tetapi tetap terbuka bagi sambungan-sambungan baru.
Ada kehangatan yang jarang ditemukan dalam buku akademik di bagian prakata. Sebagian besar gagasan dalam buku ini, tulis para editor, dirumuskan dalam kelompok baca setiap hari Senin di Barcelona. Mereka menyebut nama kawan-kawan mereka satu per satu, dan menyebut buku ini sebagai hasil commoning, hasil kerja bersama yang tertanam dalam kerja reproduksi sosial dan keluarga. Sebuah buku tentang dunia yang berbagi lahir dari cara kerja yang berbagi.
Para penulis diminta menulis sesederhana mungkin, tetapi tidak lebih sederhana dari itu. Entri-entri ditujukan bagi pembaca umum, bukan spesialis, tetapi disusun dengan ketelitian sebuah bab akademik dan dilengkapi daftar pustaka bagi yang ingin menggali lebih dalam. Buku ini terbagi dalam empat wilayah: akar-akar pemikiran, konsep-konsep inti, praktik dan usulan tindakan, serta sekutu-sekutu dari tradisi lain. Di ujungnya, para editor menulis epilog yang mereka sebut sebagai tafsir pribadi mereka yang berpihak dan selektif atas seluruh isi buku.

Gambar 1. Peta kosakata degrowth: empat wilayah, 51 entri, dan sebuah epilog (diolah dari D’Alisa, Demaria, & Kallis, 2015).
Riwayat Sebuah Kata Pengganggu
Kata ini punya riwayat yang lebih panjang dari yang dikira banyak orang. Pendahuluan buku menelusurinya sampai ke tahun 1972, ketika pemikir Prancis André Gorz memakai istilah décroissance untuk pertama kali. Pertanyaan yang ia ajukan saat itu masih menjadi jantung perdebatan hari ini: apakah keseimbangan bumi, yang mensyaratkan tidak adanya pertumbuhan atau bahkan penyusutan produksi material, bisa sejalan dengan kelangsungan sistem kapitalis? Beberapa tahun kemudian Gorz menulis bahwa yang tidak realistis bukanlah membayangkan kesejahteraan yang lebih baik melalui penyusutan, melainkan membayangkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih bisa membawa kesejahteraan, bahkan bahwa ia masih mungkin secara fisik.
Gorz berutang pada Nicholas Georgescu-Roegen, ekonom kelahiran Rumania yang pada 1971 menerbitkan The Entropy Law and the Economic Process. Pada 1979 dua profesor di Jenewa, Jacques Grinevald dan Ivo Rens, menghimpun tulisan-tulisannya dalam bahasa Prancis dengan judul Demain la décroissance. Lalu datang neoliberalisme, dan gagasan tentang batas pertumbuhan tenggelam. Ia muncul kembali di Lyon pada awal 2000-an, ketika para aktivis lingkungan dan antikekerasan meluncurkan istilah “degrowth berkelanjutan” dan sebuah majalah kecil bernama Silence menerbitkan edisi khusus untuk menghormati Georgescu-Roegen. Edisi itu dicetak ulang dua kali. Dari sana, menurut para editor, gerakan degrowth hari ini bermula.
Riwayat itu penuh warna. Ada makan bersama di jalanan dan kampanye melawan iklan. Ada koran La Décroissance yang menyebut dirinya koran kegembiraan hidup. Ada peneliti-aktivis François Schneider yang selama setahun berjalan kaki keliling Prancis bersama seekor keledai untuk menyebarkan gagasan ini. Pada 2008, Schneider dan filsuf Fabrice Flipo menyelenggarakan konferensi internasional pertama tentang degrowth di Paris; di sanalah istilah bahasa Inggris degrowth resmi dipakai untuk pertama kali. Konferensi berikutnya menyusul di Barcelona, Montreal, Venesia, dan Leipzig.
Dalam kata pengantarnya, Flipo dan Schneider mengingatkan dua bahaya yang mengintai. Yang pertama, degrowth bisa kehilangan maknanya dan menjadi sekadar versi baru dari cara berproduksi dan berkonsumsi secara berbeda, sambil melupakan gagasan yang tidak nyaman bahwa ia juga berarti berproduksi dan berkonsumsi lebih sedikit, jauh lebih sedikit, setidaknya di wilayah-wilayah kaya. Yang kedua, isinya yang radikal bisa diencerkan dalam istilah-istilah yang lebih kabur seperti “pascapertumbuhan”, yang, seperti “pembangunan berkelanjutan” sebelumnya, membiarkan pintu terbuka bagi janji semua pihak menang. Kalimat penutup mereka lugas: degrowth bukan gagasan yang dibuat untuk memikat; ia adalah gagasan revolusioner.
Flipo dan Schneider juga menjelaskan mengapa pertanyaan tentang pertumbuhan, yang sudah diajukan Klub Roma pada 1970-an, justru makin mendesak. Mereka menyebut enam pendorong: kerusakan lingkungan yang terus berlanjut, menipisnya sumber daya, habisnya potensi pertumbuhan akibat kontradiksi kapitalisme sendiri, minat baru pada jalan peradaban yang tidak bertumpu pada pertukaran utilitarian, lembaga-lembaga yang makin menjadi penghalang bagi penggunanya ketimbang alat, dan krisis makna yang membuat banyak orang mencoba melepaskan diri dari konsumsi massal. Pengamatan mereka yang paling tajam menyangkut harga dari pertumbuhan yang dipaksakan. Jika tingkat konsumsi yang tidak berkelanjutan di wilayah-wilayah istimewa dunia terus dipertahankan, bahkan dibayangkan terus naik, maka “pertumbuhan” itu hanya bisa dicapai lewat penutupan: menyingkirkan mereka yang untuknya “tidak cukup”. Maka bermunculanlah permukiman berpagar, perbatasan yang tertutup bagi orang miskin dunia tetapi terbuka bagi yang kaya, dan wacana-wacana rasis yang mengeras.
Mengapa memakai kata yang terdengar negatif untuk sebuah proyek yang positif? Para editor menjawab bahwa justru di situlah intinya. Dalam benak kebanyakan orang, pertumbuhan masih otomatis berarti perbaikan. Kata degrowth sengaja dipilih untuk membongkar asosiasi otomatis itu. Paul Ariès menyebutnya “kata rudal”, dilemparkan untuk mengakhiri konsensus yang membius tentang pembangunan berkelanjutan. Ia adalah slogan yang dengan sengaja bersifat subversif.
Salah satu akar intelektual yang paling menarik dari kata ini datang dari sebuah gerakan kecil para ilmuwan sosial Prancis. Pada 1981, sosiolog Alain Caillé dan antropolog Gérald Berthoud mendirikan MAUSS, Gerakan Antiutilitarian dalam Ilmu-Ilmu Sosial, yang singkatannya sengaja meminjam nama Marcel Mauss, penulis Essai sur le don tentang pemberian. Dalam entri pembuka buku, Onofrio Romano menjelaskan bahwa gerakan ini menolak anggapan bahwa di balik setiap tindakan manusia, termasuk kemurahan hati, selalu tersembunyi kalkulasi kepentingan diri. Mereka menegaskan pentingnya ikatan sosial dan logika pemberian: memberi, menerima, dan membalas. Serge Latouche, yang dijuluki “Anti-Paus” MAUSS karena perbedaannya dengan Caillé, kemudian membawa gagasan ini ke arah degrowth. Baginya, ada korelasi terbalik antara memiliki dengan baik dan hidup dengan baik.
Bukan Gajah yang Lebih Ramping, tetapi Siput
Apa sebenarnya arti degrowth? Para editor menjawab dengan sebuah gambar yang mudah diingat dan menjadi ilustrasi pembuka buku. Para ekonom ekologi biasa mendefinisikannya sebagai penyusutan produksi dan konsumsi secara adil, yang mengurangi aliran energi dan bahan mentah dalam masyarakat. Tetapi para editor menekankan sesuatu yang lain: bukan hanya lebih sedikit, melainkan berbeda. Tujuannya bukan membuat seekor gajah menjadi lebih ramping, melainkan mengubah gajah menjadi siput.
Dalam masyarakat degrowth, segalanya akan berbeda: kegiatan yang berbeda, bentuk dan penggunaan energi yang berbeda, relasi yang berbeda, peran gender yang berbeda, pembagian waktu antara kerja berbayar dan tidak berbayar yang berbeda, dan hubungan yang berbeda dengan dunia yang bukan manusia. Ada sektor yang justru perlu berkembang, seperti pendidikan, layanan kesehatan, dan energi terbarukan, sementara sektor lain, seperti industri kotor dan keuangan, menyusut. Para editor bahkan lebih suka memakai kata “bersemi” untuk kesehatan atau pendidikan ketimbang “tumbuh” atau “berkembang”. Perubahan yang dicari bersifat kualitatif, seperti seni yang bersemi, bukan kuantitatif, seperti naiknya keluaran industri.
Mereka juga menegaskan bahwa degrowth tidak sama dengan pertumbuhan PDB negatif. Penurunan PDB memang kemungkinan besar akan terjadi bila tindakan-tindakan atas nama degrowth dijalankan, karena ekonomi yang hijau, peduli, dan komunal mungkin bisa menjamin kehidupan yang baik, tetapi kecil kemungkinan menaikkan aktivitas ekonomi dua atau tiga persen setiap tahun. Pertanyaan yang diajukan para penganjur degrowth adalah bagaimana penurunan yang tak terhindarkan itu bisa berlangsung secara adil, mengingat di bawah kapitalisme ekonomi cenderung hanya punya dua pilihan: tumbuh atau runtuh.
Kata “pembangunan” pun mereka periksa dengan curiga. Bahkan bila dibersihkan dari beban sejarahnya atau dipercantik dengan kata sifat seperti “seimbang”, “lokal”, atau “berkelanjutan”, kata itu tetap bermasalah. Ia mengandaikan pembentangan menuju tujuan yang sudah ditetapkan, seperti janin yang berkembang menjadi dewasa. Bedanya, masyarakat modern menolak gagasan tentang akhir; pembangunan menjadi pembangunan demi pembangunan, panah kemajuan yang tidak boleh dipertanyakan dan tidak punya ujung.
Mengapa Pertumbuhan Tidak Pernah Cukup
Pendahuluan buku merangkum tesis-tesis dasar degrowth dalam beberapa klaim yang saling menopang. Pertumbuhan tidak ekonomis, karena di negara-negara maju kerugiannya, yang oleh Herman Daly disebut illth, kini meningkat lebih cepat daripada kekayaannya. Jam kerja panjang, kemacetan, polusi, dan kesehatan jiwa yang buruk ikut dihitung sebagai biaya, sementara PDB justru mencatat pembangunan penjara atau pembersihan sungai yang tercemar sebagai keuntungan. Di atas tingkat pendapatan tertentu, yang memperbaiki kesejahteraan sosial adalah kesetaraan, bukan pertumbuhan.
Pertumbuhan juga tidak adil. Ia disubsidi oleh kerja reproduksi yang tidak terlihat di dalam rumah tangga, yang sebagian besar dipikul perempuan. Ia hidup dari pertukaran yang timpang antara pusat dan pinggiran: energi dan bahan mentah diambil dari “perbatasan komoditas” yang sering berada di wilayah masyarakat adat atau daerah tertinggal, sementara limbahnya berakhir di permukiman kelas bawah atau kelompok minoritas. Entri tentang kritik pembangunan oleh Arturo Escobar dan tentang keadilan lingkungan oleh Isabelle Anguelovski menajamkan sisi ini. Escobar membongkar pembangunan sebagai rezim pengetahuan dan kekuasaan yang lahir setelah Perang Dunia Kedua, yang mendefinisikan separuh dunia sebagai serba kekurangan. Anguelovski mengingatkan bahwa beban kerusakan lingkungan tidak pernah dibagi rata, dan bahwa transisi ekologis yang adil harus berangkat dari kebutuhan mereka yang paling terdampak.
Lalu ada batas sosial. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, pendapatan tambahan makin banyak dibelanjakan untuk barang-barang posisional, misalnya rumah yang lebih besar dari rumah tetangga. Semua orang menginginkan pertumbuhan agar posisinya naik, tetapi ketika semua naik bersama, tidak ada yang menjadi lebih baik. Pertumbuhan tidak pernah bisa memuaskan perlombaan posisi; ia hanya memperparahnya. Inilah yang dibahas Giorgos Kallis dalam entri tentang batas sosial pertumbuhan, dan yang dipertajam Filka Sekulova dalam entri tentang kebahagiaan: di atas ambang tertentu, bertambahnya harta tidak lagi menambah kebahagiaan.
Dan tentu saja, pertumbuhan tidak berkelanjutan secara ekologis. Para penulis mengutip hitungan Tim Jackson: dengan pertumbuhan global dua sampai tiga persen per tahun, intensitas karbon dunia pada 2050 harus 20 sampai 130 kali lebih rendah daripada sekarang, padahal penurunannya dari 1980 sampai 2007 hanya 23 persen. Hampir tidak ada negara yang bisa mengklaim penurunan mutlak penggunaan bahan atau emisi sambil tetap tumbuh; kalaupun ada, biasanya karena industri kotornya dipindahkan ke negara berkembang. Paradoks Jevons, yang dibahas dalam entri tersendiri, menjelaskan mengapa efisiensi tidak menolong: semakin efisien sebuah ekonomi, semakin murah sumber daya, dan semakin banyak pula yang dikonsumsi.
Di bawah semua ini terbentang lapisan yang paling dalam, yang dibahas Mauro Bonaiuti dalam entri tentang bioekonomi. Ekonomi tunduk pada hukum fisika. Setiap proses ekonomi mengubah energi dan materi bermutu tinggi menjadi panas dan limbah yang tidak bisa dipulihkan sepenuhnya. Georgescu-Roegen menunjukkannya dengan hukum entropi; Alevgül Şorman memperlihatkannya lewat konsep metabolisme sosial, yang memandang masyarakat seperti organisme yang terus menyerap energi dan bahan lalu membuang sisanya. Dari sudut ini, masalahnya bukan sekadar teknologi yang kurang bersih, melainkan skala metabolisme itu sendiri. Bahkan transisi ke energi terbarukan, menurut para editor, pada akhirnya akan menjadi transisi degrowth, karena surplus energi yang dihasilkannya lebih kecil dibandingkan bahan bakar fosil.
Otonomi, Politik, dan Persoalan Kapitalisme
Bagi sebagian penganjurnya, degrowth bukan sekadar penyesuaian terhadap batas yang tak terhindarkan. Ia adalah proyek yang layak dikejar demi dirinya sendiri, dalam pencarian akan otonomi. Pendahuluan buku menunjukkan bagaimana tiga pemikir memaknai kata ini secara berbeda. Bagi Ivan Illich, otonomi berarti kebebasan dari infrastruktur teknologi raksasa dan birokrasi terpusat yang mengelolanya. Bagi Gorz, otonomi adalah kebebasan dari kerja upahan. Bagi Cornelius Castoriadis, otonomi adalah kemampuan sebuah kolektif menentukan masa depannya bersama, bebas dari keharusan-keharusan yang datang dari luar, termasuk “hukum-hukum ekonomi”.
Dari Illich, gerakan ini mewarisi gagasan tentang alat-alat yang konvivial: alat yang bisa dipahami, dikelola, dan dikendalikan oleh penggunanya sendiri. Kebun kota, sepeda, atau rumah tanah liat yang dibangun sendiri bersifat konvivial. Ladang tanaman rekayasa genetika, kereta cepat, atau gedung “pintar” hemat energi tidak. Kritik degrowth terhadap proyek-proyek modernisasi ekologis berteknologi tinggi bukan hanya karena keberlanjutannya diragukan, tetapi karena proyek semacam itu mengurangi otonomi manusia. Di sini batas tidak dipahami sebagai paksaan dari luar demi menyelamatkan alam, melainkan sebagai pembatasan diri secara kolektif, sebuah pilihan sosial tentang bagaimana hidup yang baik dibayangkan.
Pendahuluan buku memberi contoh sejarah yang jarang dikenal untuk menjelaskan perbedaan halus ini. Para penganjur degrowth, tulis mereka, terilhami bukan oleh Malthus, melainkan oleh kaum neo-Malthusian anarko-feminis di sekitar Emma Goldman pada awal abad kedua puluh. Goldman dan kawan-kawannya memperjuangkan prokreasi yang disadari bukan karena takut pada ledakan penduduk, melainkan sebagai perlawanan terhadap eksploitasi tubuh perempuan oleh kapitalisme untuk menghasilkan tentara dan buruh murah. Pembatasan yang mereka pilih bukan kewajiban moral dan bukan upaya menghindari bencana. Ia adalah tindakan politik yang mendahului dunia yang ingin mereka huni.
Dimensi kedua adalah repolitisasi. Pembangunan berkelanjutan, kata para editor, telah mendepolitisasi perdebatan tentang masa depan: ia mengubah persoalan lingkungan menjadi persoalan teknis, menjanjikan solusi yang menguntungkan semua pihak, dan menghindari pertanyaan yang oleh Bruno Latour dirumuskan sebagai pilihan antara memodernisasi atau mengekologisasi. Degrowth memilih sisi. Ia juga menuntut agar ilmu pengetahuan tidak dipisahkan dari politik secara naif, dan mendukung apa yang disebut post-normal science: perluasan komunitas penilai mutu ilmu pengetahuan sehingga mencakup semua pihak yang berkepentingan, termasuk warga awam.
Dimensi ketiga adalah kapitalisme, yang dibahas Diego Andreucci dan Terrence McDonough dalam entri tersendiri. Pendahuluan buku merumuskan argumennya dengan hati-hati. Secara teori kapitalisme bisa bertahan tanpa pertumbuhan, dan memang sering melewati masa tanpa pertumbuhan secara terpaksa. Tetapi masa itu harus sementara. Tanpa pertumbuhan, laju keuntungan hanya bisa dipertahankan dengan memperberat eksploitasi tenaga kerja, dan itu tidak bisa berlangsung lama tanpa kekerasan dan perlawanan. Pertumbuhan meredam konflik distribusi; dalam pengertian konkret itulah ia menjadi keharusan bagi kapitalisme. Para editor mengutip Robert dan Edward Skidelsky: sebuah sistem ekonomi tempat modal tidak lagi berakumulasi bukan lagi kapitalisme, apa pun namanya. Maka, menurut mereka, degrowth menandai sebuah transisi yang melampaui kapitalisme.
Benih-Benih Dunia Lain
Buku ini tidak berhenti pada penolakan. Bagian terbesar justru berisi kosakata tindakan: usulan kelembagaan dan contoh-contoh hidup tentang seperti apa degrowth di lapangan. Para editor mengamati bahwa ketika lembaga-lembaga konvensional gagal memenuhi kebutuhan dasar orang di masa krisis, praktik-praktik baru bermunculan secara spontan di tempat-tempat seperti Argentina, Yunani, dan Katalonia: eko-komunitas, komunitas daring, orang-orang yang kembali ke desa, koperasi, kebun kota, mata uang komunitas, bank waktu, pasar barter, dan perkumpulan perawatan anak atau kesehatan.
Praktik-praktik itu, menurut para editor, punya lima ciri bersama. Produksi bergeser dari untuk dijual menjadi untuk dipakai. Kerja upahan digantikan kegiatan sukarela. Barang beredar setidaknya sebagian lewat pertukaran timbal balik, bukan pencarian laba. Tidak ada dorongan bawaan untuk berakumulasi dan berekspansi. Dan relasi antarpesertanya punya nilai pada dirinya sendiri. Mereka juga mengakui bahwa praktik-praktik ini mungkin kurang efisien per satuan produk. Tetapi justru karena kurang “produktif”, skalanya terbatas, sehingga secara keseluruhan lebih ramah lingkungan, semacam paradoks Jevons yang terbalik.
Praktik-praktik kebersamaan semacam ini, menurut para editor, juga bisa menjadi sumber pembaruan layanan publik dan penangkal privatisasi. Koperasi kesehatan atau sekolah tidak harus menggantikan layanan negara. Biaya pendidikan yang terus melambung bisa ditekan dengan melibatkan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya; biaya kesehatan bisa ditekan dengan jaringan dokter dan pasien di tingkat lingkungan yang menyelenggarakan pemeriksaan pencegahan dan pertolongan pertama, sementara diagnosis berteknologi tinggi disimpan untuk kasus khusus. Keterlibatan pengguna umumnya lebih murah dan lebih demokratis daripada mengalihkan layanan publik kepada penyedia swasta yang mencari laba. Dengan cara itu, kata mereka, degrowth bisa memperbaiki layanan publik, bukan memperburuknya.
Tabel 1. Arsitektur transisi degrowth menurut pendahuluan buku (diringkas dari Kallis, Demaria, & D’Alisa, 2015).
| Lapisan | Contoh praktik dan usulan | Logika yang dibawa |
| Praktik akar rumput | Koperasi, eko-komunitas, kebun kota, bank waktu, commons digital | Produksi untuk dipakai, kerja sukarela, relasi bernilai pada dirinya sendiri |
| Kesejahteraan tanpa pertumbuhan | Jaminan kerja, pendapatan dasar tanpa syarat dan pendapatan maksimum, berbagi kerja | Memisahkan kesejahteraan dari kerja berbayar dan kerja berbayar dari pertumbuhan |
| Uang dan kredit | Mata uang komunitas, uang publik, audit utang oleh warga | Memutus dorongan pertumbuhan yang tertanam dalam utang berbunga |
| Politik transisi | Gerakan sosial, pembangkangan sipil, partai, serikat pekerja | Banyak strategi dan banyak aktor: gerakan dari gerakan-gerakan |
Di tingkat kelembagaan, buku ini menimbang usulan-usulan yang kini makin sering terdengar. Jaminan kerja menjadikan negara pemberi kerja terakhir. Pendapatan dasar tanpa syarat, yang dibiayai pajak progresif, dapat dipadukan dengan pendapatan maksimum. Berbagi kerja, sebagaimana diuraikan Juliet Schor, mengurangi jam kerja berbayar dan membagi pekerjaan antara yang bekerja dan yang menganggur. Ketiganya membebaskan waktu untuk kegiatan perawatan dan komunal yang selama ini tidak dihitung. Pendidikan, kesehatan, perawatan, dan pemulihan lingkungan, menurut para editor, bisa menjadi tulang punggung ekonomi baru yang makmur tanpa pertumbuhan, dan karena padat karya, ekonomi semacam itu justru tidak akan terlalu dihantui pengangguran.
Soal uang dibahas dengan serius. Uang yang diterbitkan sebagai utang, lewat pinjaman bank swasta, menciptakan dinamika pertumbuhan, karena utang harus dibayar dengan bunga dan bunga menuntut pertumbuhan. Mary Mellor mengusulkan agar negara mengambil kembali kendali atas penciptaan uang dan menerbitkannya bebas utang untuk kebutuhan publik. Audit utang oleh warga diperlukan untuk memilah utang yang sah dari yang tidak. Mata uang komunitas, yang dibahas Kristofer Dittmer, membantu menjaga peredaran uang di tingkat lokal, meski para penulis tidak menutup mata bahwa ia tidak bisa menggantikan uang negara dalam ekonomi yang rumit seperti sekarang.
Di sini para editor mengajukan pertanyaan yang terdengar sederhana tetapi sangat politis. Masyarakat Barat, tulis mereka, mempertahankan gaya hidup makmur dengan menggeser janji pembayaran ke masa depan. Sejarah penuh dengan masyarakat yang menghapus utang lalu memulai lagi dari awal. Penghapusan utang tentu akan menurunkan taraf hidup para penabung dan kreditur kecil. Maka dari sudut pandang degrowth, pertanyaannya bukan bagaimana memacu pertumbuhan kembali agar utang bisa dibayar, melainkan bagaimana membagi secara adil biaya sebuah penyesuaian. Mungkin sah menghapus utang mereka yang taraf hidup dasarnya terancam, tetapi tidak sah membayar kembali mereka yang meminjamkan demi laba yang tinggi.
Para penulis entri tentang koperasi, Nadia Johanisova, Ruben Suriñach Padilla, dan Philippa Parry, menyampaikan peringatan yang patut dicatat. Koperasi memang bentuk demokrasi ekonomi, tempat kepemilikan dan pengambilan keputusan berada di tangan anggota. Tetapi koperasi tidak otomatis sejalan dengan degrowth. Tanpa kesadaran ekologis dan sosial, koperasi pun bisa terjebak dalam logika ekspansi. Bagi pembaca Indonesia, catatan ini terasa dekat. Koperasi pernah dibayangkan sebagai sokoguru perekonomian, tetapi sering menjelma menjadi badan usaha biasa yang hanya berbeda pada badan hukumnya.
Tentang politik transisi, buku ini jujur bahwa tidak ada kesepakatan. Ada yang menaruh harapan pada partai-partai kiri melalui jalur parlemen, ada yang pada gerakan seperti Indignados di alun-alun Spanyol, ada yang pada praktik-praktik akar rumput yang politis meski tidak berlangsung di gedung parlemen. Satu-satunya konsensus adalah bahwa perubahan hanya bisa lahir dari banyak strategi dan banyak aktor sekaligus. Para editor menawarkan sebuah hipotesis sejarah yang menarik: kapitalisme tumbuh dari dalam feodalisme ketika praktik-praktik ekonomi baru bertemu dengan lembaga-lembaga yang lahir dari perjuangan sosial. Praktik-praktik akar rumput hari ini barangkali adalah benih transformasi serupa.
Suara dari Selatan
Kritik yang paling sering dialamatkan pada degrowth adalah bahwa gagasan ini hanya berlaku bagi negara-negara kaya. Negara-negara miskin, kata para pengkritik, masih harus tumbuh untuk memenuhi kebutuhan dasar. Para editor tidak menghindar. Mereka setuju bahwa penyusutan di Utara akan membebaskan ruang ekologis bagi pertumbuhan di Selatan, karena kemiskinan di Selatan sebagian adalah akibat eksploitasi sumber daya alam dan manusianya dengan murah oleh Utara.
Tetapi mereka melangkah lebih jauh. Degrowth di Utara, tulis mereka, terutama perlu dijalankan bukan agar Selatan bisa menempuh jalan yang sama, melainkan agar terbebas ruang konseptual bagi negara-negara di Selatan untuk menemukan lintasannya sendiri menuju apa yang mereka definisikan sebagai hidup yang baik. Di Selatan ada kekayaan pandangan dunia alternatif: Buen Vivir atau Sumak Kawsay di Amerika Latin, Ubuntu di Afrika Selatan, dan “ekonomi keabadian” Gandhian di India. Keempat entri di bagian terakhir buku menghadirkan sekutu-sekutu ini, bersama ekonomi feminis, sebagai wilayah tempat perluasan degrowth yang paling subur bisa ditemukan.
Bagi pembaca di Indonesia, bagian ini terasa paling menyentuh dan sekaligus paling menantang. Proyek-proyek ekstraksi, entah tambang, perkebunan monokultur, hilirisasi nikel, atau pembangkit batu bara, sering dibenarkan atas nama pembangunan nasional, sementara masyarakat adat kehilangan tanah, sungai tercemar, dan manfaat ekonominya mengalir ke segelintir pihak. Entri Escobar dan Anguelovski mengajukan pertanyaan yang tidak bisa dielakkan: pembangunan untuk siapa, lingkungan untuk siapa, masa depan versi siapa? Joan Martinez-Alier menambahkan konsep environmentalism of the poor: banyak perjuangan lingkungan di Selatan tidak lahir dari idealisme hijau, melainkan dari upaya mempertahankan hidup, yaitu tanah, air, hutan, dan kesehatan.
Tetapi Indonesia tidak hanya berada di pihak yang dirugikan. Indonesia juga punya kelas menengah perkotaan yang konsumsinya terus naik, dan cita-cita menjadi negara maju yang diukur dengan angka pertumbuhan. Membaca buku ini dari sini berarti bertanya dua hal sekaligus: bagaimana melindungi ruang hidup komunitas dari ekstraksi, dan bagaimana tidak meniru begitu saja jalan pertumbuhan yang kini dipersoalkan oleh mereka yang telah menempuhnya lebih dulu.
Dari Penghematan ke Dépense
Di ujung buku, para editor menulis epilog yang memuat tafsir mereka sendiri, dan di sinilah buku ini mencapai titik paling orisinal. Sejak krisis keuangan 2008, perdebatan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat terjebak dalam dilema yang tampak tak terhindarkan: penghematan atau belanja. Yang satu memangkas layanan publik demi menyehatkan keuangan negara, yang lain menggelontorkan stimulus demi menghidupkan kembali pertumbuhan. Para editor menolak keduanya sebagai dilema semu. Dari sudut pandang degrowth, keduanya sama-sama terperangkap dalam keyakinan bahwa tujuan akhirnya adalah memulihkan pertumbuhan.
Dari sini perlu ditegaskan satu hal yang sering disalahpahami. Degrowth bukan penghematan. Penghematan, sebagaimana dipraktikkan dalam krisis, memindahkan beban dari pemilik modal ke rakyat banyak, memangkas layanan publik, dan mendisiplinkan warga dengan cerita bahwa tidak ada pilihan lain. Degrowth justru lahir sebagai kritik terhadap rezim semacam itu. Ia tidak meminta mereka yang paling lemah mengencangkan ikat pinggang demi menyelamatkan sistem yang menyebabkan krisis.
Sebagai jalan keluar, para editor menghidupkan kembali sebuah konsep yang dipinjam dari pemikir Prancis Georges Bataille: dépense, pengeluaran yang tidak diarahkan untuk akumulasi produktif, melainkan untuk makna sosial dan simbolik. Gagasan ini sudah disiapkan dalam pendahuluan. Setiap masyarakat menghasilkan surplus, dan menentukan ke mana surplus itu dialirkan adalah tindakan kedaulatan politik yang paling hakiki. Peradaban-peradaban lama sering membelanjakan surplus mereka untuk hal-hal yang tampak “boros”: piramida, rumah ibadah, festival, api perayaan, atau potlatch, pesta pemberian hadiah dalam masyarakat adat pesisir barat laut Amerika Utara. Semua itu dilakukan bukan karena menambah produksi, tetapi karena itulah yang mereka maknai sebagai hidup yang baik.
Masyarakat modern, kapitalis maupun sosialis, melembagakan hal sebaliknya: sebagian besar surplus diinvestasikan kembali ke dalam produksi baru. Pengeluaran yang “boros” dikomodifikasi dan diindividualisasi. Makna hidup menjadi urusan masing-masing orang, dan karena setiap orang berhak mengerahkan sumber daya apa saja untuk mengejarnya, masyarakat secara keseluruhan dituntut untuk terus tumbuh. Akibatnya, ruang yang sungguh-sungguh politis, tempat makna bisa dibangun bersama lewat tindakan dépense kolektif, dikosongkan dan ditundukkan pada keharusan pertumbuhan.
Usulan para editor dengan demikian bukan masyarakat yang serba kekurangan, melainkan masyarakat yang mengalihkan surplusnya. Dalam biografi singkat di awal buku, Giacomo D’Alisa merumuskannya dengan indah: pergeseran menuju masyarakat degrowth berarti perubahan perlahan dari individu modern yang membengkak menjadi pribadi yang bersahaja dan berkomitmen pada dépense sosial. Bersahaja dalam konsumsi pribadi, tetapi murah hati dalam perayaan bersama, dalam seni, dalam waktu luang, dalam perawatan, dan dalam solidaritas. Yang dikurangi adalah ekstraksi, emisi, dan penimbunan. Yang diperbanyak adalah waktu, relasi, perhatian, dan makna. Inilah barangkali sumbangan paling berharga dari epilog itu: merebut kembali bahasa kegembiraan dari tangan konsumerisme.
Membaca dengan Kritis
Kekuatan buku ini terletak pada keterbukaannya. Ia memperlihatkan degrowth sebagai simpul dari banyak tradisi kritik yang panjang: bioekonomi Georgescu-Roegen, antiutilitarianisme, kritik pembangunan, ekologi politik, keadilan lingkungan, ekonomi feminis, dan kosmologi dari Selatan. Ia juga tidak menyembunyikan perbedaan di dalam rumahnya sendiri. Entri tentang antiutilitarianisme, misalnya, mencatat bahwa banyak pemikir dalam gerakan MAUSS justru mengkritik pilihan kata degrowth, karena kata itu tetap menambatkan alternatif pada imajinasi ekonomi. Kata pengantar Flipo dan Schneider pun terang-terangan menyatakan skeptis terhadap gagasan ekonomi kondisi-mantap, yang menurut mereka terlalu berfokus pada dimensi biofisik dan menghindari pertanyaan politik yang sulit, padahal gagasan itu punya entri tersendiri dalam buku yang sama.
Tetapi keterbukaan itu juga menjadi kelemahan. Pembaca yang mencari jawaban tentang bagaimana transisi bisa dijalankan dalam skala sebuah negara akan pulang dengan tangan setengah kosong. Para editor mengakui bahwa banyak klaim dasar degrowth, misalnya ketidakmungkinan memisahkan pertumbuhan dari dampak material lewat kemajuan teknologi, atau keyakinan bahwa meninggalkan pertumbuhan akan menghidupkan demokrasi alih-alih membangkitkan nafsu-nafsu yang berbahaya, masih memerlukan riset dan belum diterima luas di kalangan akademik. Sejarah yang mereka kutip sendiri, tentang bangkitnya fasisme setelah Depresi Besar, menunjukkan betapa berbahayanya masyarakat yang berhenti tumbuh tanpa lembaga yang siap menampungnya.
Buku ini juga lahir dari Eropa, dan meski memberi ruang bagi suara Selatan, ruang itu hanya empat entri di bagian terpendek. Usulan-usulan kelembagaannya, seperti pendapatan dasar, berbagi kerja, dan uang publik, mengandaikan negara dengan kapasitas fiskal dan administratif yang kuat, sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara di Selatan. Dan karena terbit pada 2015, buku ini belum sempat bergulat dengan perdebatan yang kemudian memanas tentang pertumbuhan hijau, transisi energi, dan kecerdasan buatan. Tetapi justru di situlah kosakata ini menunjukkan daya tahannya: ia tidak menawarkan cetak biru yang bisa usang, melainkan kata-kata untuk berpikir.
Catatan Akhir: Berhenti dengan Sadar
Dalam banyak tradisi, gagasan tentang kecukupan bukan hal baru. Al-Qur’an mengingatkan manusia untuk makan dan minum tanpa berlebih-lebihan (wa lā tusrifū), karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS al-A’raf [7]: 31). Ia menegakkan langit dan meletakkan mīzān, neraca keseimbangan, agar manusia tidak melampaui batas dalam menimbang (QS ar-Rahman [55]: 7–9). Tradisi tasawuf mengenal zuhd dan qana’ah: bukan menolak dunia, melainkan tidak membiarkan dunia menguasai hati, dan merasa cukup dengan apa yang ada. Zakat dipahami sebagai penyucian harta, sebuah pengakuan bahwa surplus selalu menyimpan hak orang lain. Enam abad lalu Ibnu Khaldun mencatat dalam Muqaddimah bahwa kemewahan yang berlebihan adalah tanda awal melemahnya sebuah peradaban. Bataille dan Ibnu Khaldun tidak pernah bertemu, tetapi keduanya bertanya hal yang sama: ke mana surplus sebuah masyarakat dialirkan, dan apa akibatnya bagi ikatan di antara warganya?
Hannah Arendt, dalam The Human Condition, memperingatkan tentang masyarakat animal laborans, makhluk yang hidup hanya untuk bekerja dan mengonsumsi, yang kehilangan ruang untuk bertindak dan berbicara bersama sebagai warga. Ivan Illich menunjukkan bahwa melewati ambang tertentu, alat-alat yang dirancang untuk melayani manusia justru berbalik merugikannya: mobil yang memperlambat perjalanan, sekolah yang mematikan rasa ingin tahu. Degrowth mewarisi kegelisahan keduanya dan memberinya nama yang sengaja mengganggu.
Pada akhirnya, Degrowth: A Vocabulary for a New Era bukan buku yang menawarkan jawaban tunggal. Ia adalah undangan untuk berbicara dengan bahasa lain. Selama kita masih menyebut perusakan sebagai investasi dan eksploitasi sebagai pembangunan, transisi apa pun akan terseret kembali ke logika lama. Para editornya sendiri menulis bahwa masa depan degrowth terbuka, dan bahwa kosakata ini hanyalah bahan mentah untuk terus menciptakan imajinasi dan argumen baru.
Dunia kita semakin sering dipaksa berhenti, oleh pandemi, oleh banjir dan kebakaran hutan, oleh krisis keuangan yang datang silih berganti. Serge Latouche menyebutnya pedagogi bencana: krisis sebagai guru yang keras bagi peradaban yang menolak belajar. Buku ini menawarkan sesuatu yang lebih jarang dan lebih berharga daripada dipaksa berhenti. Ia mengajak kita belajar berhenti dengan sadar, bermakna, dan adil. Bukan bertanya seberapa besar lagi kita bisa tumbuh, melainkan bagaimana kita bisa hidup dengan layak, adil, dan penuh makna di sebuah planet yang terbatas.
Bogor, 16 Oktober 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim. QS al-A’raf (7): 31; QS ar-Rahman (55): 7–9.
Arendt, H. (1958). The human condition. University of Chicago Press.
Bataille, G. (1988). The accursed share: An essay on general economy, Vol. 1: Consumption (R. Hurley, Penerj.). Zone Books. (Karya asli diterbitkan 1949)
D’Alisa, G., Demaria, F., & Kallis, G. (Ed.). (2015). Degrowth: A vocabulary for a new era. Routledge. https://vocabulary.degrowth.org
D’Alisa, G., Kallis, G., & Demaria, F. (2015). Epilogue: From austerity to dépense. Dalam G. D’Alisa, F. Demaria, & G. Kallis (Ed.), Degrowth: A vocabulary for a new era. Routledge.
Escobar, A. (1995). Encountering development: The making and unmaking of the Third World. Princeton University Press.
Flipo, F., & Schneider, F. (2015). Foreword. Dalam G. D’Alisa, F. Demaria, & G. Kallis (Ed.), Degrowth: A vocabulary for a new era. Routledge.
Georgescu-Roegen, N. (1971). The entropy law and the economic process. Harvard University Press.
Gorz, A. (1980). Ecology as politics. Black Rose Books. (Karya asli diterbitkan 1977)
Ibn Khaldun. (2015). The Muqaddimah: An introduction to history (F. Rosenthal, Penerj.; N. J. Dawood, Ed.). Princeton University Press. (Karya asli ditulis 1377)
Illich, I. (1973). Tools for conviviality. Harper & Row.
Jackson, T. (2009). Prosperity without growth: Economics for a finite planet. Earthscan.
Kallis, G., Demaria, F., & D’Alisa, G. (2015). Introduction: Degrowth. Dalam G. D’Alisa, F. Demaria, & G. Kallis (Ed.), Degrowth: A vocabulary for a new era. Routledge.
Martinez-Alier, J. (2002). The environmentalism of the poor: A study of ecological conflicts and valuation. Edward Elgar.
Romano, O. (2015). Anti-utilitarianism. Dalam G. D’Alisa, F. Demaria, & G. Kallis (Ed.), Degrowth: A vocabulary for a new era (hlm. 21–24). Routledge.
Skidelsky, R., & Skidelsky, E. (2012). How much is enough? Money and the good life. Other Press.






