Rubarubu #162
All Art is Ecological:
Hidup di Zaman Kepunahan Massal
“Semua seni adalah ekologis,” tulis Timothy Morton, sebuah kesadaran yang aneh. Ini bisa kita rasakan saat terbangun di suatu pagi dengan perasaan yang aneh. Sesuatu tidak beres, tetapi Anda tidak dapat menunjuk dengan tepat apa yang salah. Kopi Anda masih terasa sama. Langit di luar jendela masih berwarna biru. Namun ada getaran di udara, sebuah denyut yang tidak terlihat yang membuat Anda menyadari bahwa dunia tidak lagi terasa seperti biasanya. Selamat datang di zaman kepunahan massal. Inilah zaman itu. Zaman yang ganjil.
Timothy Morton, seorang filsuf dari Rice University yang karyanya telah mengubah cara kita memahami hubungan antara manusia dan alam, membuka buku All Art is Ecological dengan sebuah judul yang sengaja dibuat ambigu: “And You May Find Yourself Living in an Age of Mass Extinction.” Perhatikan kata “may” (mungkin). Mengapa tidak “you are“? Mengapa tidak “you are definitely living“?
Karena, menurut Morton, kata “mungkin” itu penting. Ia membawa kita ke dalam “feeling of not-quite-reality“—perasaan bahwa realitas tidak sepenuhnya nyata, sebuah perasaan aneh yang oleh Morton disebut sebagai the uncanny.
Kata “mungkin” menempatkan kita pada suasana subjungtif—dunia dari “bagaimana jika” dan “seandainya”. Dan ketidakmampuan untuk menggunakan suasana subjungtif, bagi Morton, adalah masalah besar bagi pemikiran ekologis. Karena tanpa “mungkin”, tanpa “mungkin saja”, kita kehilangan nuansa, kehilangan kompleksitas, kehilangan kemampuan untuk merasakan apa artinya berada di tengah-tengah bencana yang bergerak lambat seperti perubahan iklim.
Buku setebal 104 halaman ini adalah bagian dari seri Green Ideas dari Penguin yang diterbitkan pada tahun 2021, yang menghadirkan suara-suara terpenting dari gerakan lingkungan dalam format yang ringkas namun padat. Buku ini sebenarnya merupakan dua bab pertama dari karya Morton yang lebih besar, Being Ecological (2018), yang diedit ulang menjadi edisi independen.
Namun jangan biarkan ketipisannya menipu Anda. Di dalam halaman-halaman kecil ini, Morton melontarkan ide-ide yang dapat mengubah cara kita memandang seni, ekologi, dan tempat kita di planet yang terancam ini.
Dalam ringkasan ini, kita akan mengikuti tiga bagian pertama dari buku ini: “And You May Find Yourself Living in an Age of Mass Extinction”, “Tuning”, dan “This is not here“ .
Bab Satu: Hidup di Zaman Kepunahan Massal
Morton memulai perjalanannya dengan sebuah premis yang mengejutkan: bahwa upaya-upaya konvensional untuk menjadi “ekologis” seringkali gagal karena pendekatan mereka yang salah.
Ia mengkritik dua arus utama dalam etika lingkungan: pendekatan lingkungan yang peduli pada “keseluruhan” dengan mengorbankan individu (seperti melindungi ekosistem tetapi mengabai-kan kesejahteraan hewan individu), dan pendekatan hak-hak hewan yang peduli pada individu dengan mengorbankan keseluruhan.
Keduanya, menurut Morton, terjebak dalam cara berpikir biner yang tidak dapat menangkap kompleksitas dunia yang hidup.
Lalu, apa yang Morton tawarkan? Ia mengajak kita untuk memulai dari perasaan aneh (the uncanny). Sebuah perasaan bahwa “ini bukan rumah indahku”—bahwa dunia yang kita tinggali tidak lagi terasa seperti rumah. Morton mengutip lirik lagu Talking Heads, “This is not my beautiful house,” untuk menggambarkan sensasi disorientasi ini.
Ada sesuatu yang tidak beres, tetapi kita tidak bisa mengatakannya dengan tepat. Dan perasaan aneh ini, bagi Morton, adalah pintu masuk menuju kesadaran ekologis yang sejati.
Morton menjelaskan bahwa kita telah hidup dalam keadaan “normalisasi” selama sekitar dua belas ribu tahun—sejak awal pertanian, yang pada akhirnya membutuhkan proses industri untuk mempertahankan dirinya, yang mengarah pada bahan bakar fosil, pemanasan global, dan kepunahan massal. Normalisasi inilah yang justru merupakan distorsi. Seperti yang ia tulis: “It’s the normalization of things that is the distortion.” Sebaliknya, perasaan aneh itu justru lebih dekat pada kebenaran tentang kondisi kita saat ini daripada rasa normal yang kita usahakan.
Salah satu konsep kunci yang diperkenalkan Morton di sini adalah “hyperobjects”—entitas-entitas yang begitu besar, tersebar secara masif melintasi ruang dan waktu, sehingga kita tidak dapat sepenuhnya memahaminya. Perubahan iklim adalah hyperobject. Kepunahan massal adalah hyperobject. Mereka tidak dapat dilihat sekaligus; mereka tidak dapat disentuh atau dirasakan secara langsung. Namun mereka ada, dan mereka mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita.
Morton juga memperkenalkan apa yang ia sebut sebagai “dark ecology” —sebuah istilah yang ia pinjam dari konsep “dark” ala Norwegia yang gelap, bukan gelap dalam arti jahat, tetapi gelap dalam arti “tidak sepenuhnya terang.” Dark ecology adalah pengakuan bahwa tidak ada kepastian, tidak ada jalan keluar yang bersih, tidak ada solusi yang sempurna. Ia adalah ekologi tanpa klaim tentang kepolosan, tanpa jaminan bahwa kita akan selamat. Ia adalah ekologi yang jujur tentang kegelapan yang kita hadapi.
“Catastrophes involve you, so you can do something about them” —bencana melibatkan Anda, jadi Anda dapat melakukan sesuatu tentang mereka. Ini adalah perbedaan penting antara bencana (disaster) dan malapetaka (catastrophe). Bencana adalah sesuatu yang terjadi pada Anda dari luar. Malapetaka adalah sesuatu yang melibatkan Anda, yang Anda adalah bagian darinya. Dan karena Anda adalah bagian darinya, Anda dapat melakukan sesuatu—Anda harus melakukan sesuatu.
Bab Dua: Tuning—Menyetel Diri pada Frekuensi yang Tak Terlihat
Jika bab pertama adalah tentang diagnosis—tentang mengapa cara kita berpikir tentang ekologi seringkali salah—maka bab kedua, “Tuning“, adalah tentang terapi. Atau lebih tepatnya, tentang penyetelan. Morton menggunakan metafora musik untuk menjelaskan bagaimana seharusnya kita berhubungan dengan dunia.
Attunement, atau penyetelan, adalah “the feeling of an object’s power over me – I am being dragged by its tractor beam into its orbit.” Ini adalah perasaan ketika Anda berdiri di depan sebuah karya seni yang begitu kuat sehingga Anda tidak bisa lagi membedakan antara diri Anda dan karya itu. Apakah Anda yang menciptakan makna, atau karya seni yang menciptakan makna dalam diri Anda? Apakah Anda yang melihat objek, atau objek yang “melihat” Anda kembali?
Morton menggambarkan pengalaman estetis ini dengan cara yang sangat pribadi:
“I am experiencing unknown effects on me coming from something that I am caught up with in such a way that I can’t tell who ‘started it’ – am I just imposing my concepts of beauty on to any old thing, or is this thing totally overpowering me?”
Pengalaman keindahan, bagi Morton, bukanlah tentang kita memberi label pada sesuatu (subjek yang aktif, objek yang pasif). Juga bukan tentang kita menjadi lembam dan pasif. Ia adalah sesuatu di antara keduanya: sebuah penemuan bahwa ada sesuatu di dalam diri kita yang bukan kita—sebuah perasaan di ruang batin kita yang tidak kita masak sendiri, dan tampaknya dikirimkan kepada kita oleh objek di sana.
Dan di sinilah seni menjadi penting. Art is important to understanding our relationship to nonhumans, to grasping an object-oriented ontological sense of our existence. Seni adalah laboratorium di mana kita dapat berlatih untuk disetel pada frekuensi yang bukan milik kita. Seni mengajarkan kita untuk mendengarkan, untuk merasakan, untuk membiarkan diri kita dipengaruhi oleh sesuatu yang lain.
Mengapa ini penting untuk ekologi? Karena krisis ekologis, pada intinya, adalah krisis hubungan. Kita telah memperlakukan alam sebagai objek yang mati, sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Namun jika kita dapat mengalami, melalui seni, bahwa benda-benda di sekitar kita memiliki “kehidupan” mereka sendiri—bahwa mereka menarik kita ke dalam orbit mereka, bahwa mereka mempengaruhi kita tanpa kita sadari—maka mungkin kita akan mulai memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda.
Menciptakan rasa teror atau rasa bersalah dengan berteriak kepada orang-orang bahwa kita sedang membuat spesies punah, bagi Morton, tidak baik karena ia menghapus rasa aneh (strangeness) yang penting untuk perubahan sejati.
Sebaliknya, kita perlu membiarkan diri kita merasakan ambiguitas, ketidakpastian, dan misteri dari keberadaan kita di planet yang rapuh ini.
“Perhaps indifference itself is pointing to a way to care for humans and nonhumans in a less violent way – simply allowing them to exist, like pieces of paper in your hand, like a story you might appreciate – or not – for no reason” .
Ini adalah pesan yang paradoks namun membebaskan. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk peduli. Kita tidak perlu merasa bersalah setiap saat. Mungkin, cukup dengan membiarkan hal-hal itu ada, membiarkan mereka menjadi diri mereka sendiri, tanpa perlu alasan—itulah bentuk perawatan yang paling tidak kasar.
Pada bulan November 2015, di tengah Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP21) yang ber-langsung di Paris, seorang seniman Islandia-Denmark bernama Olafur Eliasson menciptakan sebuah instalasi yang menghentak. Ia mengangkut sekitar delapan puluh ton es dari Greenland—bongkahan-bongkahan raksasa yang berusia ribuan tahun—dan meletakkannya dalam lingkaran besar di luar Panthéon, sebuah monumen bersejarah di jantung kota Paris.
Instalasi itu diberi nama Ice Watch. Bongkahan-bongkahan es itu disusun melingkar, dan jika dilihat dari atas, bentuknya menyerupai jarum-jarum pada sebuah jam tangan. Itulah permainan visual yang sengaja dibuat: es mencair, dan waktu semakin menipis. Namun Eliasson, yang bersama Morton kemudian merekam dialog publik tentang karya ini di festival film CPH:DOX di Kopenhagen, tidak berhenti pada lelucon visual semata.
Ada sesuatu yang lebih dalam yang terjadi ketika orang-orang Paris—para delegasi COP21, warga biasa, turis, anak-anak—mulai berinteraksi dengan es-es itu.
Tidak ada pagar yang melindungi instalasi itu. Orang-orang bisa berjalan melewatinya, mengabaikannya, menyentuhnya, memanjatnya, duduk di atasnya, atau bahkan berbaring di dalam cekungan-cekungan yang terbentuk ketika matahari mulai melelehkan es. Dan es itu sendiri, dengan dingin yang terpancar, juga “mengakses” manusia—menyedot panas tubuh mereka, atau mengirimkan gelombang dingin, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.
Eliasson ingin melakukan sesuatu yang secara logis berada di luar pengumpulan data, apalagi penyebarannya. Untuk mengumpulkan data, Anda harus reseptif. Anda perlu alat pengumpul data yang tepat.
Anda perlu peduli.
Seorang ilmuwan perubahan iklim perlu cukup peduli untuk merancang eksperimen yang mengungkap fakta-fakta tentang pemanasan global.
Dalam pengalaman keindahan yang diciptakan oleh Ice Watch ini, terjadi semacam penyatuan pikiran (mind-meld) di mana Morton tidak dapat lagi membedakan apakah dirinya atau karya seni itulah yang menyebabkan pengalaman keindahan itu terjadi. Jika ia mencoba mereduksinya ke salah satu kutub—apakah semata-mata karena karya seni, atau semata-mata karena dirinya—ia justru merusak keajaiban itu.
Menurut Morton, selain itu, ‘model tombol-on’ dari sebuah tindakan bergantung pada teori mekanistik tentang kausalitas yang membutuhkan semacam makhluk seperti dewa di awal rantai kausal, untuk memulai bola menggelinding. Setelah itu, bola mengenai bola berikutnya dengan cara yang mekanis. Jadi teori mekanistik sebenarnya hanyalah varian atau peningkatan dari model ‘konduktor’.
Dan ini hanyalah modifikasi dari retweet Neoplatonik kita: jiwa adalah pengemudi, tubuh adalah kereta perang…
Lalu Morton mengusulkan sebuah kata baru: alreadiness (kata dalam bahasa Inggris yang berarti “sudah-adaan” atau “ke-sudah-adaan”). Kata ini akan sangat berguna, karena sekarang kita tidak perlu menggunakan frasa yang sugestif tetapi agak kaku dari salah satu wilayah filosofis favoritnya: dekonstruksi. Ini adalah always-already (selalu-sudah) yang terkenal yang digunakan oleh Heidegger dan kemudian oleh Jacques Derrida, pewaris pendekatan Heidegger yang ia sebut Destruktion (‘de-strukturasi’), dan yang oleh Derrida disebut dekonstruksi.
Alreadiness mengisyaratkan penyetelan kita pada sesuatu yang lain, yang merupakan sebuah tarian di mana sesuatu yang lain itu juga, sudah, menyetel pada kita. Memang, ada beberapa pengalaman di mana tidak dapat dikatakan mana yang lebih utama; mana yang datang pertama, secara logis dan kronologis. Salah satunya adalah pengalaman umum tentang keindahan. Kita dapat belajar banyak darinya: mari kita mulai.
Kita dapat berbicara tentang fase historis kita saat ini dengan berbagai cara: memasuki era ekologis, belajar bagaimana menghadapi pemanasan global, dan seterusnya. Tetapi apa yang dimiliki oleh semua label ini adalah transisi menuju kepedulian terhadap non-manusia dengan cara yang lebih sadar. Pembicaraan ini adalah tentang itu, dan seperti yang terlihat, ia jauh lebih aneh daripada kedengarannya.
Keanehan itu seperti nampak pada instalasi Ice Watch itu yang dirancang untuk dilihat oleh para delegasi yang mewakili negara-negara di bumi dalam negosiasi COP21, yang juga dikenal sebagai KTT pemanasan global, yang berlangsung selama tiga belas hari.
Eliasson dan Morton kemudian merekam sebuah dialog publik tentang instalasi ini di Kopenhagen sekitar satu minggu sebelum Ice Watch dipasang, di festival film CPH:DOX. Seribu orang hadir, sangat ingin mendengar tentang ekologi dan seni.
Bongkahan-bongkahan es itu cukup besar untuk dipanjat dan diduduki, atau bahkan dibaringi, dan karena tidak ada pagar yang melindunginya, itulah tepatnya salah satu hal yang dilakukan orang. Bagian dari proyek ini adalah dokumentasi tentang semua cara berbeda yang dapat Anda lakukan untuk mengakses es. Anda bisa berjalan melewatinya. Anda bisa mengabaikan-nya. Anda bisa menyentuhnya. Anda bisa menjangkau ke arahnya. Anda bisa membicarakan-nya. Anda bisa menyampaikan makalah konferensi tentangnya di sebuah konferensi yang disebut Façonner l’avenir (Membentuk Masa Depan). Anda bisa tidur di dalamnya. Ini sangat mudah terutama setelah matahari melelehkan es cukup untuk membentuk kantong-kantong dan kontur-kontur yang halus.
Sebagian dari maksud Ice Watch adalah sebuah lelucon visual yang jelas: lihat, es mencair dan waktu semakin habis. Tetapi itu hanyalah pengaitnya. Apa yang sebenarnya terjadi jauh lebih menarik, dan dengan cara yang secara serius meregangkan atau melampaui konsep-konsep yang sudah dibuat sebelumnya, dengan cara yang ramah dan sederhana, namun dalam. Jam tangan adalah benda yang dibaca oleh manusia.
Tetapi mereka juga adalah benda yang bisa didatangi lalat, benda yang diabaikan oleh kadal, benda yang disinari matahari. Debu menumpuk di cangkang kaca di bagian depan jam tangan. Seekor tungau debu melintasi jalan layang yang sangat besar dan gua-gua di bagian bawah jam tangan antara jam tangan dan pergelangan tangan saya. Dan mari kita kembali ke sesuatu yang baru saja saya katakan tentang Ice Watch: matahari melelehkannya. Matahari juga mengakses es. Trotoar juga mengakses es. Iklim Paris juga mengakses es.
Dan es itu mengakses kita. Ia tampak mengirimkan gelombang dingin, atau menyedot panas kita, tergantung cara pandang mana yang kita gunakan. Jenis akses inilah yang dipikirkan oleh Eliasson – pertemuan dengan Ice Watch dalam suatu cara adalah dialog dengan balok-balok es, bukan percakapan manusia satu arah di cermin yang kebetulan terbuat dari es. Kita telah melakukan percakapan semacam itu dengan benda-benda non-manusia selama ribuan tahun. Itulah tepatnya alasan kita berada dalam kekacauan yang disebut pemanasan global ini.
Dan fakta-fakta iklim yang kita dengar di berita digaungkan oleh sebagian besar seni yang mencoba mengatasi pemanasan global dan kepunahan. Misalnya, beberapa seniman telah menyusun daftar besar makhluk hidup yang akan punah. Namun risikonya di sini adalah menjadi sama seperti fakta-fakta itu: hanya sebuah tumpukan data yang sangat besar.
Seni itu penting untuk memahami hubungan kita dengan non-manusia, untuk memahami rasa ontologis berorientasi-objek dari keberadaan kita. Seni gagal dalam hal ini ketika ia mencoba meniru transmisi data kuantitas belaka; ia tidak cukup artistik. Ini bukan hanya masalah persuasi yang efektif. Sebagai fakta, itulah masalah dengan data seni ekologis.
Pengalaman estetis sebenarnya bukan tentang data – ia tentang data-ness (ke-data-an), kualitas-kualitas yang kita alami ketika kita memahami sesuatu. (Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, data berarti ‘apa yang diberikan’, dan tidak hanya tentang angka dan diagram lingkaran.)
Pengalaman estetis adalah tentang solidaritas dengan apa yang diberikan. Ia adalah solidaritas, sebuah perasaan alreadiness, tanpa alasan tertentu, tanpa agenda tertentu – seperti evolusi, seperti biosfer. Tidak ada alasan yang baik untuk membedakan antara non-manusia yang ‘alami’ dan yang ‘buatan’, yang berarti dibuat oleh manusia. Menjadi terlalu sulit untuk mempertahankan perbedaan semacam itu.
Karena, dengan demikian, sebuah karya seni itu sendiri adalah makhluk non-manusia, solidaritas di ranah artistik ini sudah merupakan solidaritas dengan non-manusia, apakah seni itu secara eksplisit ekologis atau tidak. Seni yang secara ekologis eksplisit hanyalah seni yang membawa solidaritas dengan non-manusia ini ke latar depan.
Eliasson ingin melakukan sesuatu yang secara logis berada di luar pengumpulan data, apalagi menyebarkannya. Untuk mengumpulkan data, Anda harus reseptif. Anda perlu alat pengumpul data yang tepat untuk proyek Anda. Anda perlu peduli. Seorang ilmuwan pemanasan global perlu cukup peduli tentang pemanasan global sehingga ia merancang eksperimen yang menemukan tentangnya di awal.
Dalam pengalaman keindahan, ada semacam hal seperti penyatuan pikiran yang terjadi, di mana saya tidak dapat mengatakan apakah saya atau karya seni yang menyebabkan pengalaman keindahan itu: jika saya mencoba mereduksinya ke karya seni atau ke diri saya, saya hampir pasti merusaknya. Ini berarti, argumen Kant, bahwa pengalaman keindahan itu seperti sistem operasi yang di atasnya semua jenis aplikasi politik keren berada, aplikasi seperti demokrasi. Berdampingan secara non-kekerasan dengan makhluk yang bukan Anda adalah dasar yang cukup baik untuk itu.
Maka pada bagian “This is not here“ di buku Morton ini adalah sebuah pernyataan yang paradoks. Jika sesuatu itu “di sini”, bagaimana ia bisa “tidak di sini”? Morton menggunakan frasa ini untuk menunjuk pada fakta bahwa banyak dari hal-hal yang paling penting dalam hidup kita—termasuk krisis ekologis—adalah hal-hal yang hadir tetapi tidak hadir, terlihat tetapi tidak terlihat, nyata tetapi tidak dapat dipegang.
Perubahan iklim adalah “di sini” dalam arti bahwa ia mempengaruhi kita setiap hari—dalam cuaca yang ekstrem, dalam kenaikan permukaan air laut, dalam kepunahan spesies yang terjadi di depan mata kita. Namun ia juga “tidak di sini” dalam arti bahwa kita tidak dapat melihatnya secara langsung. Kita tidak dapat menunjuk ke “perubahan iklim” seperti kita menunjuk ke sebuah pohon. Ia adalah hyperobject, sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami sepenuhnya.
Seni, bagi Morton, memiliki kekuatan untuk membuat yang tidak hadir menjadi hadir—atau setidaknya, untuk membuat kita merasakan ketidakhadiran itu. Sebuah foto dari gletser yang mencair, sebuah film dokumenter tentang terumbu karang yang memutih, sebuah puisi tentang burung yang tidak lagi bernyanyi—semua ini adalah cara untuk membuat “what is not here” menjadi terasa nyata.
Dan dalam perasaan itu, ada kemungkinan untuk perubahan. Karena kita tidak dapat mengubah apa yang tidak kita rasakan. Kita tidak dapat menyelamatkan apa yang tidak kita cintai. Dan kita tidak dapat mencintai apa yang tidak kita kenal melalui pengalaman langsung—atau melalui seni yang membuat pengalaman itu menjadi mungkin.
Pernyataan Morton bahwa “Truth is just a 1000 dpi kind of truthiness” menjadi relevan di sini. Kebenaran bukanlah sesuatu yang dapat direduksi menjadi resolusi tinggi yang sempurna. Ia selalu kabur, selalu tidak lengkap, selalu membutuhkan interpretasi. Dan “kebenaran” (truthiness)—perasaan bahwa sesuatu itu benar, bahkan jika tidak dapat dibuktikan secara ilmiah—memiliki tempatnya sendiri dalam kesadaran ekologis.
Hikmah dari Timur: Sunyata dan Keterbukaan Radikal
Dalam tradisi Buddhisme, terdapat konsep Śūnyatā atau kekosongan—gagasan bahwa segala sesuatu tidak memiliki esensi yang tetap dan mandiri, tetapi muncul karena sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang saling terkait. Morton, yang telah menulis secara ekstensif tentang Buddhisme dalam bukunya Nothing: Three Inquiries in Buddhism , sangat dipengaruhi oleh pemikiran ini.
Bagi Morton, objek—apakah itu batu, pohon, atau karya seni—adalah “terbuka” (open) dalam arti bahwa mereka tidak dapat sepenuhnya direduksi menjadi hubungan-hubungan mereka dengan kita atau dengan objek lain. Mereka memiliki realitas mereka sendiri yang melampaui apa yang dapat kita ketahui tentang mereka. Dan dalam keterbukaan inilah, keajaiban dan keindahan berada.
“Things are mysterious, in a radical and irreducible way. Mysterious comes from the Greek muein, which means to close the lips. Things are unspeakable” .
Konsep ini bergema dengan ajaran Buddha bahwa realitas ultimat tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata—ia harus dialami secara langsung. Seni, dalam pengertian Morton, adalah salah satu cara untuk mendekati yang tak terungkapkan itu.
Dalam tradisi Islam, terdapat konsep tadabbur—merenungkan tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk melihat langit, bumi, dan semua ciptaan, dan untuk merenungkan betapa semuanya adalah āyāt (tanda) yang menunjukkan keberadaan dan kebijaksanaan Sang Pencipta. Morton, meskipun tidak berbicara dalam kerangka teistik, memiliki resonansi dengan gagasan ini: bahwa alam berbicara kepada kita, jika kita mau mendengarkan. Dan seni dapat membantu kita untuk mendengar.
Penyair Sufi Persia, Jalaluddin Rumi, menulis dalam salah satu puisinya yang terkenal:
“The breeze at dawn has secrets to tell you. Don’t go back to sleep.”
Kutipan ini mengingatkan kita bahwa alam terus berbicara, tetapi kita terlalu sering kembali tidur—kembali ke keadaan normalisasi yang membuat kita buta terhadap keanehan dan keajaiban dunia. Morton mengundang kita untuk tetap terjaga, untuk tetap sadar akan rasa aneh yang muncul dari hidup di zaman kepunahan massal.
Mengapa Kita Membutuhkan Seni di Tengah Krisis
Di tahun 2026, ketika dunia masih bergulat dengan dampak perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi yang meracuni lingkungan, pesan Morton terasa semakin mendesak. Namun pesannya bukanlah “kita harus bertindak sekarang juga atau kita akan mati!”—meskipun itu juga benar. Pesannya lebih halus, lebih dalam, dan mungkin lebih penting dalam jangka panjang.
Morton mengingatkan kita bahwa emosi dan pengalaman adalah dasar untuk keterlibatan filosofis yang mendalam dengan ekologi. Kita tidak dapat menyelesaikan krisis ekologis hanya dengan fakta dan angka. Kita membutuhkan cerita, gambar, musik, dan puisi—kita membutuhkan seni—untuk membangunkan hati nurani kita, untuk membuat kita merasakan urgensi krisis, dan untuk membayangkan dunia yang berbeda.
Salah satu kutipan paling kuat dari Morton, yang dirujuk dalam berbagai tinjauan, adalah: “You don’t have to be ecological. Because you are ecological” . Ini adalah pernyataan yang membebaskan.
Menjadi ekologis bukanlah suatu tugas yang harus dipaksakan, bukan suatu beban yang harus ditanggung. Menjadi ekologis adalah pengakuan bahwa kita sudah berada di dalam jaring kehidupan, bahwa kita tidak pernah terpisah dari alam, bahwa napas yang kita hirup adalah napas yang sama dengan pohon-pohon di hutan. Kesadaran ini, bagi Morton, adalah awal dari segalanya.
Dan di sinilah seni memiliki peran yang unik. Seni dapat membuat kita merasakan keterhubung-an ini dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh laporan ilmiah. Sebuah film dokumenter tentang terumbu karang yang memutih dapat membuat kita menangis. Sebuah puisi tentang burung gajahan yang terancam punah dapat membuat hati kita bergetar. Sebuah lukisan tentang pemandangan yang hilang dapat membuat kita merindukan sesuatu yang belum pernah kita lihat.
Catatan Akhir: Anda Tidak Perlu Menjadi Ekologis. Karena Anda Sudah Ekologis.
All Art is Ecological adalah sebuah buku yang singkat—Anda dapat membacanya dalam satu atau dua jam. Namun ia akan tinggal bersama Anda jauh setelah Anda menutup sampulnya. Morton tidak memberikan resep, tidak memberikan daftar periksa, tidak memberikan rencana aksi sepuluh langkah. Ia memberikan sesuatu yang lebih berharga: sebuah perubahan perspektif.
Ia mengajak kita untuk melihat dunia melalui lensa yang berbeda: lensa keanehan, lensa misteri, lensa keterbukaan radikal dari objek-objek di sekitar kita. Dan dalam perubahan perspektif ini, ia berargumen, tindakan ekologis akan mengikuti secara alami—bukan karena kewajiban atau rasa bersalah, tetapi karena kita ingin merawat dunia yang membuat kita merasa terpesona.
Seperti yang ditulis Morton: “Beauty gives you a fantastic, ‘impossible’ access to the inaccessible, to the withdrawn, open qualities of things, their mysterious reality” . Keindahan adalah pintu menuju yang tidak dapat diakses. Dan melalui pintu itulah, kita dapat masuk ke dalam hubungan yang lebih dalam dengan semua makhluk yang berbagi planet ini dengan kita.
Anda mungkin menemukan diri Anda hidup di zaman kepunahan massal. Itu adalah fakta yang menakutkan. Namun fakta itu juga adalah undangan—untuk merasakan keanehan, untuk menyetel diri pada frekuensi yang lebih dalam, dan untuk menemukan, dalam seni dan dalam pengalaman sehari-hari, cara-cara baru untuk menjadi manusia di planet yang rapuh namun indah ini.
Cirebon, 25 Mei 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Morton, T. (2021). All art is ecological. Penguin Publishing. (Original work published 2018)
Sumber kutipan dan analisis:
Bookey App. (2024). Best quotes of All Art is Ecological with page numbers by Timothy Morton. https://www.bookey.app/book/all-art-is-ecological/quote
Defranceski, J. (2023). All Art is Ecological [Review]. Eidos: A Journal for Philosophy of Culture, 7(3). https://eidos.uw.edu.pl/files/pdf/eidos/2023-03/eidos_25_defranceski.pdf
Francis, J. (2023, July 10). Quote: Timothy Morton. https://janefrancis.net/2023/07/10/quote-timothy-morton/
McNally Robinson Booksellers. (2021). All Art Is Ecological by Timothy Morton. https://www.mcnallyrobinson.com/9780141997001/timothy-morton/all-art-is-ecological
Princeton University Library. (2021). All art is ecological / Timothy Morton [Catalog record]. https://catalog.princeton.edu/catalog/99128462154706421
Westminster Library System. (2021). All art is ecological [Catalog record]. https://elibrary.westminster.gov.uk/client/zh_CN/wcc/search/detailnonmodal/ent:$002f$002fSD_ILS$002f0$002fSD_ILS:1346131/one
Western University. (2026, February 18). Art Now! presents Atmospheric Shifts and Turbulent Times. https://www.uwo.ca/events/2026/02/artnow-atmospheric.html






