Rubarubu #197
Connectography : Peta Baru Peradaban Antara Tembok dan Jembatan
–Bagian 1 dari 2 bagian–
Bayangkan sejenak sebuah peta dunia. Apa yang pertama kali Anda lihat? Garis-garis putus-putus yang membatasi negara, warna-warna berbeda yang menandai kedaulatan, dan nama-nama ibu kota yang tercetak tebal. Sekarang, coba lakukan sesuatu yang radikal: hapus semua garis batas itu. Lalu, gantilah dengan garis-garis baru yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain—jalan tol, jalur kereta api, pipa minyak yang membentang ribuan kilometer, kabel internet yang menyelusuri dasar samudra, dan jalur rantai pasok yang melingkari dunia. Inilah yang dilakukan Parag Khanna dalam bukunya yang visioner, Connectography: Mapping the Future of Global Civilization (2016).
Konektivitas sebagai Takdir
Buku setebal lebih dari 450 halaman ini dibuka dengan sebuah pernyataan yang berani: “Konektivitas, bukan geografi, adalah takdir kita.” Khanna mengajak kita melihat dunia bukan sebagai kumpulan negara-bangsa yang terpisah oleh tembok, tetapi sebagai jaringan infra-struktur, rantai pasok, dan aliran informasi yang saling terkait. Setiap tahun, umat manusia menginvestasikan hingga sepuluh triliun dolar untuk membangun jalan, jembatan, terowongan, jaringan listrik, dan jalur komunikasi yang menghubungkan kota-kota besar yang berkembang pesat di seluruh dunia.
Bagi Khanna, peta politik tradisional yang kita pelajari di sekolah sudah usang. Peta yang benar-benar mencerminkan realitas abad ke-21 adalah peta konektivitas—peta yang menunjukkan di mana pipa gas melintasi perbatasan, di mana kabel serat optik menghubungkan benua, dan di mana rantai pasok global berdenyut setiap detiknya. Dalam dunia yang demikian, sebuah kota di Tiongkok lebih terhubung secara ekonomi dengan kota di Amerika Serikat daripada dengan desa tetangganya yang terhalang pegunungan.
Struktur buku ini terbagi menjadi lima bagian besar. Dimulai dengan “Connectivity As Destiny” yang menjadi fondasi—bahwa konektivitas bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Kemudian “Devolution As Destiny” yang menjelaskan bagaimana negara-negara besar terpecah menjadi unit-unit yang lebih kecil namun kemudian mencari agregasi kembali dalam bentuk yang berbeda. Bagian ketiga, “Competitive Connectivity“, adalah yang paling menarik—di sini Khanna menggambarkan bagaimana konflik abad ke-21 bukan lagi perang untuk merebut wilayah, tetapi perang “tarik-ulur” untuk menguasai pipa, kabel internet, dan akses pasar.
Bagian keempat, “From Nations to Nodes“, menggeser fokus dari negara ke kota sebagai simpul-simpul (nodes) kekuasaan baru. Dan bagian kelima, “Toward a Global Society“, merenungkan masa depan peradaban global yang semakin terintegrasi namun juga rapuh, diakhiri dengan bab tentang bagaimana alam tetap memiliki kuasa untuk mengganggu semua rencana manusia .
Persimpangan Jalan: Di Antara Tembok yang Membatasi dan Jembatan yang Menghubungkan
Dalam salah satu presentasinya yang menggugah, Khanna mengajukan sebuah paradoks yang membingungkan sekaligus membebaskan. Di satu sisi, kita hidup di era tembok. Tembok fisik bermunculan di perbatasan Hungaria-Serbia, di Ceuta dan Melilla, di sepanjang perbatasan AS-Meksiko. Tembok digital dibangun oleh Tiongkok dengan Great Firewall-nya. Tembok regulasi meninggi di mana-mana, dengan proteksionisme yang kembali populer setelah krisis keuangan 2008.
Namun di sisi lain, infrastruktur global terus menyusup, menembus, dan melampaui semua tembok itu. Seperti yang dijelaskan Khanna dalam diskusinya bersama Urban Land Institute, “infrastruktur semakin menjadi otoritas yang lebih kuat daripada pemerintahan politik konvensional” . Jaringan gas lintas benua, jalur transportasi regional, dan kabel internet global terus beroperasi, hampir tidak peduli dengan garis-garis putus-putus yang digambar para politisi di atas peta.
Fenomena menarik lainnya adalah “The Great Devolution“—kecenderungan negara-negara besar untuk terpecah menjadi unit-unit yang lebih kecil. Skotlandia, Catalunya, Veneto—semua bergerak menuju kemerdekaan. Namun di saat yang sama, terjadi “aggregation“—penggabungan kembali dalam skala yang berbeda. Uni Eropa terus berkembang (setidaknya hingga Brexit), negara-negara Asia Tenggara membentuk ASEAN, dan kawasan-kawasan ekonomi terintegrasi meskipun secara politik terfragmentasi.
Khanna menyebut ini sebagai “Tribalism is a path to globalism“: suku-suku politik yang terpecah terlalu kecil untuk bertahan hidup sendiri, sehingga akhirnya mencari agregasi dengan entitas lintas nasional lainnya.
Apakah pada akhirnya tembok-tembok itu akan runtuh? Kecenderungan alamiah semesta—yang Khanna sebut sebagai “Hukum Kedua Termodinamika Geopolitik”—adalah menuju entropi maksimum, menuju keterbukaan dan penyebaran, bukan isolasi dan penguncian. Namun perjalanannya tidak linear. Ada pasang-surut, ada dorongan dan tarikan. Yang pasti, di bawah hiruk-pikuk retorika politik yang tampak seperti kekacauan, Khanna melihat fondasi konektivitas baru yang menarik dunia bersama-sama, perlahan tapi pasti.
Prolog: Dunia yang Tidak Lagi Dikenali
Di halaman-halaman pembuka Connectography—sebuah bab yang disebut “Prologue”—Parag Khanna tidak membuang waktu dengan basa-basi. Ia langsung melemparkan pembaca ke dalam pusaran argumennya yang paling mendasar: bahwa cara kita memahami dunia selama ini mungkin keliru. Kita diajari membaca peta dengan garis-garis tebal yang memisahkan negara, dengan warna-warna berbeda yang menandai kedaulatan, dan dengan ibu kota yang menjadi pusat segalanya. Namun menurut Khanna, peta semacam itu sudah tidak lagi mencerminkan realitas abad ke-21.
Prolog ini bukan sekadar pengantar biasa. Ia adalah sebuah pernyataan tesis yang berani, bahkan provokatif. Khanna menulis dengan keyakinan bahwa geopolitik tradisional—dengan fokusnya pada perbatasan, militer, dan konflik teritorial—sedang usang. Dunia tidak lagi digerakkan oleh siapa yang menguasai wilayah terluas, tetapi oleh siapa yang membangun koneksi terbanyak. Ia menyebut fenomena ini sebagai “konektivitas sebagai takdir” , sebuah frasa yang menjadi mantra sekaligus judul bagian pertama bukunya.
Apa yang membuat prolog ini begitu kuat adalah keberanian Khanna untuk menyatakan bahwa negara-bangsa, sebagai unit analisis utama dalam hubungan internasional, mulai kehilangan maknanya. Bukan karena negara akan lenyap—ia tetap ada sebagai entitas politik dan administratif—tetapi karena arus-arus yang benar-benar membentuk kehidupan manusia sehari-hari: perdagangan, investasi, migrasi, data, dan inovasi, mengalir melintasi perbatasan dengan cara yang seringkali tidak peduli pada garis-garis di peta. Sebuah pabrik di Vietnam terhubung secara ekonomi dengan toko ritel di California melalui rantai pasok yang rumit. Sebuah pusat data di Irlandia melayani pengguna Facebook di Indonesia. Sebuah pipa gas dari Rusia menghangatkan rumah-rumah di Jerman. Semua ini terjadi di dalam dan melampaui tembok-tembok negara.
Di tengah prolog, Khanna menyisipkan sebuah pengamatan yang tajam tentang “paradoks konektivitas” yang akan terus ia kembangkan sepanjang buku. Di satu sisi, dunia belum pernah sekonektif ini. Lebih dari separuh populasi global sekarang terhubung ke internet. Investasi infrastruktur lintas batas mencapai triliunan dolar setiap tahunnya. Diplomasi dan perdagangan internasional, meskipun penuh ketegangan, terus berlangsung. Namun di sisi lain, tembok-tembok fisik dan virtual justru bermunculan di mana-mana. Tembok perbatasan AS-Meksiko diperkuat. Tembok digital Tiongkok semakin tinggi. Brexit mengguncang fondasi integrasi Eropa. Nasionalisme ekonomi bangkit kembali.
Menghadapi kontradiksi ini, Khanna tidak mengambil sikap pesimis. Ia justru melihatnya sebagai momen yang menarik—sebuah “tabrakan” antara dua logika yang berlawanan. Di satu sisi adalah logika geopolitik lama yang berfokus pada kontrol teritorial dan kedaulatan absolut. Di sisi lain adalah logika geonomi dan konektivitas yang melihat dunia sebagai jaringan aliran. Pertanyaan yang diajukan Khanna di prolog ini sederhana namun mengganggu: mana yang akan menang?
Prolog juga berfungsi sebagai peta jalan bagi seluruh buku. Khanna menjelaskan bahwa ia akan membawa pembaca dalam perjalanan melintasi dunia, dari Tiongkok yang membangun Belt and Road Initiative hingga Uni Eropa yang berjuang mempertahankan kohesinya, dari kota-kota global yang menjadi simpul kekuasaan baru hingga kawasan-kawasan perbatasan yang dulu terisolasi kini menjadi pusat konektivitas. Di sepanjang perjalanan ini, ia tidak hanya meng-andalkan data dan grafik, tetapi juga narasi-narasi mikro dari orang-orang yang ia temui—pembangun infrastruktur, pebisnis lintas batas, pengungsi, dan para inovator.
Sebuah kutipan dari pidato Parag Khanna di Urban Land Institute pada tahun 2018 menangkap esensi prolog ini dengan sempurna. Di sana ia mengatakan bahwa “infrastruktur semakin menjadi otoritas yang lebih kuat daripada pemerintahan politik konvensional” . Pernyataan ini mungkin terdengar berlebihan, tetapi Khanna sungguh-sungguh. Dalam kunjungannya ke berbagai negara, ia melihat bagaimana pembangunan jalan tol, kereta cepat, pelabuhan, dan jaringan listrik seringkali lebih menentukan masa depan suatu kawasan dibandingkan keputusan-keputusan para politisi di ibu kota. Infrastruktur menciptakan fakta di lapangan yang kemudian harus diakomodasi oleh kebijakan, bukan sebaliknya.
Di akhir prolog, Khanna mengajak pembaca untuk berani berpikir ulang tentang dunia. Ia menulis dengan gaya yang mengalir namun penuh data, meyakinkan namun tidak menggurui. Prolog ini bukan sekadar pintu masuk—ia adalah sebuah ajakan untuk bertualang. Dunia yang akan kita jelajahi di halaman-halaman berikutnya bukanlah dunia peta statis yang digantung di dinding kelas geografi. Ia adalah dunia yang hidup, bergerak, dan terus-menerus membangun ulang dirinya sendiri melalui koneksi-koneksi baru. Dan bagi Khanna, masa depan peradaban global bergantung pada seberapa baik kita memahami dan mengelola koneksi-koneksi ini, bukan pada seberapa kuat kita membangun tembok untuk menahannya.
Dari Batas ke Jembatan: Membaca Ulang Peta Dunia
Setelah prolog yang menggugah, Parag Khanna mengajak pembaca melangkah lebih jauh ke dalam inti argumennya melalui Part One, “Connectivity as Destiny”. Dua bab pembuka dalam bagian ini—”From Borders to Bridges” dan “New Maps for a New World”—bekerja bersama seperti dua sisi mata uang: bab pertama meruntuhkan cara lama kita melihat dunia, bab kedua membangun cara baru untuk memahaminya.
Bab 1: Dari Batas ke Jembatan — Perjalanan Keliling Dunia
Khanna memulai bab pertama dengan sebuah gerakan yang cerdas: ia tidak langsung membombardir pembaca dengan teori, tetapi mengajak kita dalam sebuah perjalanan. “A Journey Around the World” adalah narasi perjalanan fisik Khanna sendiri melintasi berbagai penjuru dunia—dari Singapura yang mungil namun raksasa ekonominya, hingga Dubai yang muncul dari gurun pasir, dari kanal-kanal di Belanda hingga jalan tol berbayar di Amerika Serikat . Setiap perhentian dalam perjalanan ini adalah bukti hidup bahwa infrastruktur menghubungkan manusia melampaui apa yang mampu dilakukan oleh politik.
Yang membuat perjalanan ini begitu hidup adalah cara Khanna menghubungkan pengalaman pribadinya dengan data makro. Ketika ia berdiri di jembatan yang menghubungkan dua negara, atau di pelabuhan tempat ribuan kontainer bongkar-muat setiap jam, ia melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang: aliran. Dunia, menurut Khanna, bukanlah kumpulan kotak-kotak warna yang diam, tetapi sistem arteri tempat darah—berupa barang, uang, data, dan manusia—terus mengalir.
Sub-bagian “Bridges to Everywhere” adalah tentang optimisme infrastruktur. Khanna mendokumentasikan bagaimana jembatan—secara harfiah dan metaforis—sedang dibangun di seluruh dunia. Jembatan Oresund yang menghubungkan Denmark dan Swedia, jembatan antara Rusia dan Tiongkok di atas Sungai Amur, hingga proyek-proyek ambisius Belt and Road Initiative yang akan menghubungkan Tiongkok dengan Eropa melalui Asia Tengah . Setiap jembatan ini adalah penolakan fisik terhadap logika isolasi. Mereka mengatakan: kita memilih untuk terhubung, bukan terpisah.
Tapi Khanna tidak naif. Dalam “Balancing Flow and Friction”, ia mengakui bahwa aliran tidak pernah sempurna. Ada gesekan—dalam bentuk tarif, regulasi, ketegangan politik, dan kadang-kadang, tembok yang sungguhan . Pertanyaannya bukanlah apakah gesekan itu ada, tetapi di mana titik keseimbangan berada. Dunia yang sepenuhnya tanpa gesekan adalah utopia yang tidak mungkin; dunia dengan gesekan berlebihan adalah kemiskinan dan isolasi. Tantangannya adalah menemukan “zona nyaman” di mana aliran cukup deras untuk menciptakan kemakmuran, tetapi masih terkendali untuk mencegah ketidakstabilan.
“Seeing Is Believing” adalah ajakan Khanna untuk mengubah cara kita melihat. Ia mengkritik kebiasaan kita yang terlalu lama terpaku pada peta politik yang menggambarkan negara dengan warna solid dan batas tegas. Peta seperti itu, menurut Khanna, adalah peninggalan zaman ketika perang memperebutkan wilayah adalah aktivitas utama negara-bangsa . Saat ini, peta yang lebih akurat adalah peta yang menunjukkan kepadatan jaringan listrik, jalur pipa minyak dan gas, rute penerbangan, dan kabel dasar laut. Begitu kita mulai melihat dunia dengan cara ini, semuanya berubah. Tiongkok bukan lagi sekadar area merah besar di Asia Timur, tetapi sebuah simpul sentral dalam jaringan perdagangan global yang menjangkau ke Afrika, Amerika Latin, dan Eropa. Eropa bukan lagi kumpulan negara-negara kecil, tetapi sebuah kluster urban yang hampir bersambung dari Manchester ke Milan.
Dari sini, Khanna melangkah ke “From Political to Functional Geography”. Istilah “fungsional” di sini sangat penting. Geografi politik adalah tentang klaim—siapa memiliki apa. Geografi fungsional adalah tentang penggunaan—siapa terhubung dengan siapa untuk apa . Sebuah pelabuhan mungkin secara hukum berada di wilayah negara A, tetapi secara fungsional ia adalah bagian dari rantai pasok global yang diatur oleh perusahaan logistik yang berbasis di negara B, melayani konsumen di negara C. Dalam dunia seperti ini, loyalitas fungsional seringkali lebih kuat daripada loyalitas politik. Seorang insinyur di pabrik Honda di Ohio merasa lebih terhubung dengan rekannya di Jepang daripada dengan petani di Kansas.
“Supply Chain World” adalah pengembangan dari logika ini. Khanna menjelaskan bagaimana rantai pasok global telah menjadi arsitektur tersembunyi dari peradaban kontemporer . IPhone dirancang di California, diproduksi di Tiongkok menggunakan komponen dari Korea Selatan, Jepang, dan Eropa, dan dijual di seluruh dunia. Setiap langkah dalam rantai ini melibatkan puluhan bahkan ratusan perusahaan yang tersebar di berbagai negara. Tidak ada satu negara pun yang bisa mengklaim memiliki iPhone; yang ada hanyalah aliran nilai yang melintasi batas berkali-kali sebelum mencapai tangan konsumen. Dalam dunia rantai pasok, status sebagai “negara asal” menjadi kabur, bahkan tidak relevan.
Bab 2: Peta Baru untuk Dunia Baru
Memasuki bab kedua, Khanna mengubah nada dari observasional menjadi analitis. “From Globalization to Hyper-Globalization” membedakan antara gelombang globalisasi sebelumnya—yang didorong oleh penurunan tarif dan hambatan perdagangan—dengan hiper-globalisasi saat ini yang didorong oleh teknologi digital dan inovasi finansial . Perbedaannya bukan hanya soal derajat, tetapi juga jenis. Globalisasi tradisional adalah tentang pergerakan barang. Hiper-globalisasi adalah tentang pergerakan data, ide, dan modal dalam kecepatan yang hampir instan. Sebuah transfer uang dari New York ke Tokyo terjadi dalam hitungan detik. Sebuah video dari Kairo bisa dilihat di Jakarta semenit setelah diunggah.
Sub-bagian “The Measure of Things” adalah upaya Khanna untuk menghadirkan data—tetapi tidak dengan cara yang kering. Ia menggunakan angka untuk mengejutkan sekaligus meyakinkan. Berapa mil jalur pipa yang melintasi dunia? Berapa panjang kabel serat optik di dasar laut? Berapa nilai perdagangan global setiap harinya? Angka-angka ini, ketika dijumlahkan, melukiskan gambar tentang dunia yang sangat berbeda dari berita utama yang didominasi perang dan konflik . Di bawah radar konflik Ukraina atau ketegangan Laut Tiongkok Selatan, aliran perdagangan dan investasi terus berlangsung, bahkan meningkat.
Bagian paling penting dari bab ini—dan mungkin dari keseluruhan buku—adalah “A New Map Legend”. Khanna tidak hanya mengkritik peta lama; ia menawarkan alternatif. Legenda peta baru yang ia usulkan tidak berisi simbol untuk ibu kota, perbatasan internasional, atau gunung tertinggi. Sebaliknya, ia berisi simbol untuk konektivitas: ketebalan jalur perdagangan, kepadatan jaringan transportasi, kecepatan aliran data, dan tingkat integrasi finansial . Peta dengan legenda seperti ini, menurut Khanna, akan sangat berbeda dari peta yang biasa kita lihat. Beberapa negara yang tampak besar di peta politik akan menyusut menjadi hampir tidak terlihat karena kurangnya konektivitas. Sebaliknya, kota-kota seperti Singapura, Dubai, atau Hong Kong—yang secara teritorial kecil—akan bersinar terang karena posisinya sebagai simpul konektivitas global.
Apa yang dilakukan Khanna dalam dua bab pembuka ini adalah sebuah tindakan intelektual yang berani. Ia tidak hanya mendeskripsikan dunia; ia mengajak kita untuk membayangkan dunia secara berbeda. Dan dalam imajinasi itu, ia menemukan harapan: bahwa konektivitas adalah kekuatan yang pada akhirnya akan melampaui fragmentasi politik. Bukan karena politik tidak penting, tetapi karena logika fungsional konektivitas—efisiensi, kecepatan, keuntungan bersama—terlalu kuat untuk dikesampingkan.
Jembatan, pada akhirnya, lebih tahan lama daripada tembok. Bukan karena jembatan tidak bisa dihancurkan, tetapi karena setiap kali sebuah jembatan dibangun, ia menciptakan ketergantungan bersama yang membuat penghancurannya menjadi tindakan bunuh diri ekonomi. Inilah, bagi Khanna, “konektivitas sebagai takdir”—bukan karena kita menginginkannya, tetapi karena kita tidak bisa hidup tanpanya.
Devolution sebagai Takdir: Ketika Pecah Justru Menyatukan
Setelah membangun fondasi bahwa konektivitas adalah kekuatan utama yang membentuk dunia, Parag Khanna melangkah ke bagian kedua yang mungkin terdengar kontradiktif: “Devolution as Destiny”. Judul ini sengaja provokatif. Bukankah devolusi—pemecahan, pelepasan, fragmentasi—justru bertentangan dengan konektivitas? Khanna menjawab teka-teki ini dengan cemerlang: devolusi dan agregasi, pecah dan gabung, adalah dua sisi dari koin yang sama. Keduanya adalah strategi untuk bertahan hidup dalam dunia yang semakin kompleks.
Jika bagian pertama buku ini adalah tentang bagaimana infrastruktur dan rantai pasok menghubungkan dunia, bagian kedua adalah tentang bagaimana politik—dengan segala kekacauannya—merespon konektivitas tersebut. Jawaban Khanna mungkin mengejutkan: dengan memecah diri menjadi unit-unit yang lebih kecil, tetapi kemudian mencari koneksi baru dalam skala yang berbeda. Ini adalah “dialektika geopolitik” yang menjadi inti dari bab-bab dalam part ini.
Bab 3: Devolution Besar—Membiarkan Suku Menang
Khanna membuka Bab 3, “The Great Devolution”, dengan sebuah pengakuan yang jujur: kita hidup di era ketika negara-bangsa, sebagai unit politik dominan selama 400 tahun terakhir, mulai kehilangan cengkeramannya. Bukan karena negara akan lenyap—ia terlalu berguna untuk itu—tetapi karena di bawah dan di atas negara, entitas-entitas lain muncul dengan klaim loyalitas yang lebih kuat.
“Let the Tribes Win” adalah sub-bagian yang paling provokatif secara politis. Khanna mengguna-kan kata “suku” (tribes) bukan dalam arti primitif, tetapi sebagai metafora untuk semua bentuk identitas komunal yang lebih kecil dari negara-bangsa: etnis, bahasa, agama, budaya, dan bahkan identitas urban. Dari Skotlandia yang menginginkan kemerdekaan dari Inggris, Catalunya yang menuntut pemisahan dari Spanyol, hingga Veneto yang ingin lepas dari Italia—semua ini adalah suara-suara yang menolak logika bahwa satu negara, satu bangsa, satu bahasa adalah takdir yang tak terelakkan.
Apa yang membuat analisis Khanna segar adalah penolakannya terhadap nostalgia. Banyak komentator meratapi “fragmentasi” ini sebagai kemunduran dari proyek modernitas yang universal. Khanna tidak setuju. Ia melihat devolusi sebagai proses yang alami, bahkan sehat. Negara-bangsa abad ke-19 dan ke-20 diciptakan melalui pemaksaan—bahasa yang seragam, sejarah nasional yang tunggal, identitas yang dipaksakan dari atas. Dalam dunia yang semakin terhubung dan berpendidikan, tekanan untuk “menyesuaikan diri” dengan identitas nasional yang kaku semakin sulit dipertahankan. Orang-orang menuntut otonomi yang lebih besar atas kehidupan mereka, termasuk identitas budaya yang lebih autentik.
“Growing Apart to Stay Together” adalah inti dari argumen Khanna di bab ini. Frase ini ter-dengar paradoks, tetapi begitulah logika devolusi: dengan memberikan lebih banyak otonomi kepada unit-unit yang lebih kecil—provinsi, negara bagian, wilayah otonom—negara-bangsa yang lebih besar sebenarnya dapat mempertahankan kohesinya . Spanyol mungkin akan pecah jika terus menolak kemerdekaan Catalunya, tetapi jika memberikan otonomi fiskal dan budaya yang substansial, Catalunya mungkin memilih untuk tetap berada di dalam Spanyol. Inggris mungkin akan kehilangan Skotlandia jika terus memaksakan aturan dari Westminster, tetapi dengan devolusi kekuasaan yang nyata, persatuan bisa dipertahankan. Ini adalah strategi “memberi untuk mempertahankan”—sebuah taktik yang membutuhkan kerendahan hati dari pemerintah pusat, tetapi semakin umum digunakan.
Sub-bagian “From Nations to Federations” membawa logika ini selangkah lebih maju. Khanna berargumen bahwa model federasi—di mana kekuasaan didistribusikan secara formal antara pusat dan daerah—adalah model politik paling stabil untuk dunia yang terhubung saat ini. Amerika Serikat, Jerman, Kanada, Australia, India, dan Brasil semuanya adalah federasi. Bahkan Uni Eropa, meskipun bukan negara, beroperasi dengan logika federal dalam banyak hal. Dalam federasi, unit-unit yang lebih kecil mempertahankan identitas dan otonomi yang signifikan, tetapi tetap terhubung dalam kerangka yang lebih besar untuk urusan-urusan yang benar-benar membutuhkan skala besar: pertahanan, mata uang, kebijakan perdagangan. Ini adalah “agregasi dalam devolusi”—kita melepaskan kontrol atas hal-hal kecil untuk mendapatkan pengaruh yang lebih besar dalam hal-hal yang benar-benar penting.
Bab 4: Dari Devolusi ke Agregasi—Dialektika Geopolitik
Jika Bab 3 adalah tentang tekanan untuk memecah, Bab 4, “From Devolution to Aggregation”, adalah tentang dorongan untuk bergabung. Khanna menyebut ini sebagai “Geopolitical Dialectics”—sebuah tarian antara dua kecenderungan yang tampaknya berlawanan tetapi sebenarnya saling membutuhkan . Tidak ada devolusi murni tanpa agregasi, dan tidak ada agregasi tanpa devolusi. Dunia bukanlah pilihan antara negara-bangsa yang kuat atau dunia tanpa negara; tetapi sebuah kontinum di mana berbagai tingkat kedaulatan dan otonomi bernegosiasi satu sama lain.
Khanna kemudian membawa pembaca dalam perjalanan melintasi empat kawasan besar dunia untuk menunjukkan dialektika ini dalam aksi.
Dari Jalan Raya Agung ke Pax Indica membawa kita ke anak benua India. Di sini, Khanna mengamati bagaimana India—sendiri adalah produk dari “devolution” dari kekaisaran Inggris—kini menjadi pusat agregasi bagi kawasan sekitarnya. “Jalan Raya Agung” yang dimaksud adalah Grand Trunk Road kuno yang membentang dari Bangladesh hingga Afghanistan, yang selama ribuan tahun telah menjadi jalur perdagangan dan migrasi . Kini, proyek-proyek infrastruktur baru—koridor transportasi, jaringan listrik lintas batas, pipa gas—menghidupkan kembali logika konektivitas kuno ini. India, dengan ekonominya yang tumbuh pesat, menjadi magnet bagi Nepal, Bhutan, Bangladesh, Sri Lanka, bahkan Myanmar. Ini bukan “imperialisme” gaya lama; ini adalah agregasi sukarela yang didorong oleh kepentingan ekonomi bersama.
Dari Lingkup Pengaruh ke Pax Aseana membawa kita ke Asia Tenggara. Kawasan yang dulu dikenal sebagai “teater perang proksi” selama Perang Dingin—di mana Amerika dan Uni Soviet bersaing melalui proxy—kini telah berubah menjadi salah satu kawasan paling terintegrasi di dunia . ASEAN mungkin sering diejek sebagai “kata kerja tanpa kata benda”—organisasi yang lebih banyak berbicara daripada bertindak—tetapi Khanna membela ASEAN. Integrasi di Asia Tenggara tidak terjadi melalui traktat besar dan lembaga supranasional yang kuat seperti di Eropa, tetapi melalui ribuan proyek kecil yang saling terkait: koneksi listrik antara Laos dan Thailand, jalur kereta api antara Vietnam dan Tiongkok, zona perdagangan bebas yang semakin dalam. Agregasi di sini adalah “bottom-up”, bukan “top-down”—dan mungkin karena itu, ia lebih tahan lama.
Dari “Perebutan Afrika” ke Pax Africana adalah bagian yang paling penuh harapan sekaligus paling realistis. “Perebutan Afrika” abad ke-19—ketika kekuatan Eropa membagi-bagi Afrika seperti kue—adalah contoh klasik dari agregasi yang dipaksakan dari luar, yang mengabaikan realitas lokal. Akibatnya, negara-bangsa Afrika yang lahir dari dekolonisasi adalah entitas yang rapuh, seringkali dengan perbatasan yang tidak masuk akal secara etnis atau ekonomi . Namun Khanna melihat tanda-tanda perubahan. Uni Afrika, meskipun masih lemah, mulai meng-embangkan agenda konektivitasnya sendiri. Koridor trasns-Afrika—jaringan jalan raya yang nantinya akan membentang dari Kairo ke Cape Town, dari Dakar ke Djibouti—mulai terbangun. Lebih penting lagi, kota-kota Afrika seperti Lagos, Nairobi, Johannesburg, dan Addis Ababa menjadi simpul-simpul agregasi regional yang semakin penting. Pax Africana, jika benar-benar terjadi, tidak akan berbentuk negara adidaya Afrika, tetapi jaringan kota dan kawasan ekonomi yang terhubung.
Dari Sykes-Picot ke Pax Arabia adalah tentang Timur Tengah, mungkin kawasan yang paling sulit. Perjanjian Sykes-Picot 1916—di mana Inggris dan Prancis diam-diam membagi wilayah Kekaisaran Ottoman yang runtuh—adalah sumber dari banyak penyakit geopolitik modern di kawasan ini: perbatasan yang diciptakan secara artifisial, negara-bangsa yang tidak memiliki kohesi internal, dan konflik identitas yang tak berkesudahan.
Khanna, dengan keberanian intelektual yang tinggi, menanyakan pertanyaan yang jarang diajukan: mungkinkah pembongkaran batas-batas Sykes-Picot—melalui perang saudara di Suriah, konflik di Irak, perjuangan Kurdi untuk kemerdekaan—sebenarnya adalah devolusi yang diperlukan? Mungkin, seperti jatuhnya Tembok Berlin memungkinkan reunifikasi Jerman, runtuhnya negara-negara buatan di Timur Tengah pada akhirnya akan memungkinkan agregasi baru yang lebih stabil—mungkin berdasarkan garis-garis etnis dan sektarian, mungkin berdasarkan kota-kota, mungkin berdasarkan koneksi ekonomi yang melintasi batas-batas lama.
Khanna tidak memberikan jawaban mudah, dan itulah kekuatan dari bab ini. Ia tidak meramalkan utopia; ia meramalkan ketegangan yang terus berlangsung antara devolusi dan agregasi. Namun ia menawarkan sebuah lensa yang berguna: jangan hanya melihat fragmentasi sebagai kehancuran; lihatlah juga bagaimana unit-unit yang lebih kecil, setelah memperoleh otonomi yang cukup, mulai mencari koneksi satu sama lain. Skotlandia yang merdeka mungkin bergabung dengan Uni Eropa.
Catalunya yang merdeka mungkin menjalin aliansi ekonomi yang lebih erat dengan Perancis Selatan. Kurdistan yang merdeka mungkin menjadi mitra dagang penting bagi Turki dan Irak. Dalam setiap devolusi, benih-benih agregasi baru sudah bersemi.
Inilah dialektika geopolitik yang menjadi pesan utama part ini: dunia tidak bergerak menuju homogenisasi atau fragmentasi, menuju satu pemerintahan global atau seribu negara mikro. Ia bergerak menuju sistem yang lebih kompleks, lebih berlapis, lebih cair—di mana loyalitas dan kedaulatan dibagi antara berbagai tingkat. Kita mungkin memiliki kewarganegaraan nasional, tetapi kita juga menjadi warga provinsi, anggota persatuan regional, dan peserta dalam rantai pasok global. Semua lapisan ini adalah nyata. Semua penting. Dan kebijaksanaan politik abad ke-21, menurut Khanna, adalah kemampuan untuk menavigasi kompleksitas ini tanpa jatuh ke dalam nostalgia akan kesederhanaan—baik kesederhanaan negara-bangsa yang homogen maupun kesederhanaan pemerintahan dunia yang utopis.
……
Bersambung pada Bagian 2 dari 2 bagian
Cirebon, 30 Juni 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Choa, C. (2018, February 21). Collision: Disintegration or connection—Parag Khanna at ULI UK. Urban Land Institute United Kingdom. https://uk.uli.org/collision-disintegration-connection-parag-khanna-uli-uk-christopher-choa-uli-uk-chair/
Espos.id. (2025, August 18). Cerita Arbelly, alumnus UNAIR yang lintasi benua Eropa dengan sepeda. Espos.id Jatim. https://regional.espos.id/cerita-arbelly-alumnus-unair-yang-lintasi-benua-eropa-dengan-sepeda-2131883/amp
Khanna, P. (2016). Connectography: Mapping the future of global civilization (1st ed.). Random House.
Purdum, S. (2009). Pedaling to lunch: Bike rides and bites in Northeast Ohio. University of Akron Press.






