Rubarubu #50
The Value of a Whale:
Kritik Solusi Pasar atas Krisis Ekologi
Sekelompok peneliti di Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini mengajukan pertanyaan sederhana: berapa nilai seekor paus? Para peneliti menyepakati angka tepat $2 juta per ekor (hanya untuk paus besar), sehingga totalnya mencapai $1 triliun untuk ‘populasi’ global yang ada. Perhitungan mereka didasarkan pada kontribusi paus terhadap pendapatan ekowisata (yang ironisnya merugikan populasi paus itu sendiri) dan kapasitas tangguh mereka untuk penyerapan karbon: sepanjang hidupnya, rata-rata paus besar menyerap setara dengan 33 ton karbon dioksida—lebih banyak per pon dibandingkan pohon. Dengan menyadari potensi populasi ini, jika diizinkan kembali ke jumlah sebelum perburuan paus, untuk menyerap 1,7 miliar ton CO₂ per tahun, para peneliti IMF dengan serius menyarankan investasi dalam konservasi paus daripada metode penangkapan karbon lainnya. Mereka memperkirakan biaya konservasi tersebut hanya sekitar $13 per orang di Bumi. $13—itulah nilai seekor paus, ternyata, bagi Anda atau saya.
Adrienne Buller dalam The Value of a Whale: On the Illusions of Green Capitalism (Manchester University Press, 2022) membuka dengan anekdot angka itu— What’s the value of a whale? Berapa nilai ekonomi ikan paus menurut kalkulasi tertentu. Ini bukan sekadar gertak angka: ia menjadi metafora untuk satu fenomena luas—komodifikasi alam—yang mengubah relasi moral menjadi transaksi. Pengantar menetapkan dua nada utama buku: (1) fokus empiris—studi kasus, dokumen kebijakan, pelaku industri; dan (2) kritik normatif—bagaimana praktek ini menggeser tanggung jawab kolektif menjadi peluang profit. manchesterhive.com+1
Pada tahun yang sama ketika delegasi negara-negara berkumpul dalam konferensi iklim, se-buah laporan ekonomi membubuhkan angka pada sesuatu yang tampak tak ternilai: seekor paus besar diberi “nilai”—sekitar US$2 juta per ekor—berdasarkan perhitungan jasa ekosistem (carbon sequestration, nutrient cycling, dsb.). Angka itu tampil di slide, menjadi ilustrasi bagai-mana ekonomi modern mencoba mengubah relasi hidup menjadi token yang bisa diperdagang-kan. Di luar ruang konferensi, nelayan komunitas, aktivis hak asasi, dan guru lingkungan yang bekerja dengan anak-anak di pesisir memandang angka itu dengan kebingung-an dan kemarah-an: apakah menyematkan harga pada kehidupan itu wajar? Apakah “menentukan nilai” sama dengan “melindungi”?
Buku ini tidak sekadar mengkritik praktik teknis—carbon markets, biodiversity offsets, green finance—tetapi memeriksa narasi ideologis yang menjadikan pasar sebagai solusi utama atas krisis ekologis. Buller mengajak pembaca melihat bagaimana logika ekonomi modern mengalih-kan masalah politik dan etika menjadi soal harga, aset, dan instrumen keuangan—dan mengapa itu sering menghasilkan “bukan solusi” melainkan dispossession (perampasan) dan ilusi ke-amanan iklim. Manchester University Press+1
Dalam buku dan tulisannya, Buller yang kini menjabat sebagai Director of Research di Common Wealth, sebuah think tank yang berfokus pada kepemilikan ekonomi demokratis dan transisi ekologi yang berkeadilan, berargumen bahwa solusi seperti perdagangan karbon, keuangan berkelanjutan (sustainable finance), dan penilaian ekonomi terhadap alam justru mengabadi-kan ketidaksetaraan dan gagal mengatasi akar penyebab kerusakan ekologis. Dia menganjurkan pendekatan transformatif yang mengedepankan keadilan, demokratisasi ekonomi, dan peng-akuan atas batas-batas planet.
Adrienne Buller, peneliti, dan analis keuangan yang fokus pada ekonomi politik, krisis iklim, dan sistem keuangan global ini, menulis dengan gaya investigatif sekaligus polemis: ia membuka argumen dari contoh-contoh konkret (nilai moneter bagi organisme hidup, instrumen keuangan “hijau”), lalu menelusuri jaringan institusi, pemikiran ekonomis, dan budaya profesional yang mendukung praktik-praktik ini. Struktur bukunya jelas: pengantar “What’s the value of a whale?” lalu enam bab yang masing-masing membongkar peran aktor-aktor berbeda—gatekeepers ekonomi, sirens carbon markets, titans/kapital besar, alchemists yang ‘mengubah hijau jadi emas’, time travellers yang mempromosikan solusi temporal seperti offset yang menunda tindakan, dan ghosts yang menggambarkan kehilangan alam yang tak terganti. Di penutup Buller menantang pembaca: apakah kita akan menerima solusi “green capitalism”, ataukah memilih jalan lain yang adil dan demokratis? Manchester University Press+1
Buller yang menulis secara reguler untuk publikasi seperti The Guardian, Jacobin, dan Tribune Magazine, serta sering menjadi pembicara dalam diskusi mengenai ekonomi politik lingkungan dan alternatif terhadap kapitalisme hijau, tidak menolak perhitungan ekonomi secara mutlak—melainkan ia mengkritik cara perhitungan itu digunakan: sebagai alat memindahkan tanggung jawab, menormalisasi pengambilalihan tanah dan hak komunitas, dan memperkuat kekuasaan finansial. Ia membedah bagaimana pasar dibuat untuk menyerap risiko politik, bagaimana aktor keuangan menstrukturkan produk yang tampak ramah iklim tetapi sering gagal mengantarkan pengurangan emisi nyata, dan bagaimana narasi teknokratik menyingkirkan tuntutan keadilan iklim. Taylor & Francis Online+1
Pendek cerita: seseorang di sebuah desa pesisir bangun pagi untuk memeriksa jerat ikan yang biasa menafkahi keluarganya. Di sebuah konferensi jauh di ibukota, layar menampilkan angka-angka—nilai moneter untuk jasa ekosistem, harga untuk karbon, label hijau untuk kuota investasi—seolah kehidupan laut dan kerja nelayan bisa diwakili oleh angka. Kedua adegan ini berjumpa dalam buku Adrienne Buller: pertanyaan inti yang menancap sejak pembuka bukan sekadar teknis—“berapa nilai seekor paus?”—melainkan etis dan politik: apa yang terjadi pada cara kita memandang dan melindungi kehidupan ketika nilai ditentukan oleh pasar?
Pembukaan buku ini mengundang pembaca berjalan dari contoh konkret menuju kritik mendalam terhadap wacana “green capitalism”, menuntun kita untuk merasakan bahwa mengubah relasi menjadi komoditas sering kali mengikis kemungkinan lain yang lebih adil dan demokratis.
Bab pertama — Gatekeepers: Economics and the collapse of possibility menaruh spotlight pada para penjaga gerbang wacana ekonomi—akademisi, lembaga pemikir, konsultan, dan otoritas yang menata bahasa kebijakan. Dalam narasinya Buller menelusuri bagaimana kerangka-kerangka ekonomi dominan tidak sekadar menyajikan alat analitik tetapi juga mengecilkan kemungkinan politik. Ketika seluruh debat dialihkan ke dalam satu metrik—moneter—pilihan-pilihan yang menuntut penurunan konsumsi, pembatasan produksi, atau redistribusi sumber daya mudah tercap “tidak realistis”. Dari sinilah runtuhnya imaginasi kolektif: solusi-solusi yang berani tak lagi terbayangkan karena mereka tak sesuai dengan rasio pasar. Buller menulis dengan nada yang tenang namun tajam, menunjukkan bagaimana wacana yang tampak netral justru menyaring keluar cara-cara berbeda untuk mengorganisasi kehidupan bersama.
Buller yang sebelumnya bekerja sebagai analis keuangan berkelanjutan di lembaga think tank Inggris, ini menyasar “gatekeepers” — ekonom terkemuka, konsultan, think tanks, dan institusi internasional—yang memformulasikan bahasa kebijakan. Ia menunjukkan bagaimana kerangka ekonomi neoklasik (valuasi, cost-benefit, pricing) membatasi imajinasi politik: bila segala se-suatu harus dinilai dalam satu satuan (uang), maka opsi-opsi radikal (pengurangan konsumsi, redistribusi kekayaan, kontrol industrial) dikisahkan tak realistis. Akibatnya, kemungkinan politik yang lebih luas “runtuh”. manchesterhive.com
Melaju ke bab kedua— Sirens: Distraction and dispossession in carbon markets, Buller me-nengok pasar karbon sebagai sebuah sirene: suara yang memikat pemerintah dan korporasi untuk mempercayai bahwa membeli kompensasi dapat menukar tindakan nyata. Narasi yang dibangun di sini adalah tentang distraksi dan perampasan; proyek-proyek offset sering muncul di wilayah-wilayah marginal dan menempatkan nilai ekonomi pada tanah yang selama ini men-jadi ruang hidup komunitas. Dalam cerita-cerita yang diurai, pembaca melihat bagaimana pe-mindahan “kewajiban” ke dalam instrumen keuangan dapat menutup pintu bagi perbaikan struktural, sambil menciptakan alibi bagi kelanjutan emisi. Buller menekankan bahwa pasar karbon bukan hanya mekanisme teknis, tetapi juga praktik politik yang mengubah siapa yang berkuasa atas tanah, siapa yang berhak berbicara, dan siapa yang kehilangan.
Di sini Buller memeriksa pasar karbon dan offset—bagaimana mereka dijual sebagai solusi “fleksibel” yang memungkinkan negara/korporasi untuk terus beroperasi sambil “netral karbon” lewat membeli kredens. Ia mencontohkan fenomena dispossession: tanah komunal di Global South diubah menjadi proyek offset sehingga masyarakat lokal kehilangan akses sumber hidup. Carbon market, menurut Buller, sering menjadi alibi untuk menunda mitigasi nyata. The Guardian+1
Bab ketiga — Titans: Assets, power and the construction of green capitalism memperbesar bidang pandang kepada “titans”—entitas ekonomi besar yang merancang infrastruktur finansial bagi kapitalisme hijau. Di sini Buller menggambarkan jaringan relasi antara perusahaan multi-nasional, bank investasi, konsultan, dan lembaga internasional yang bersama-sama mem-bangun apa yang ia sebut kapitalisme hijau: struktur di mana alam diubah menjadi aset, dan manfaat lingkungan menjadi peluang investasi. Narasinya mengurai bagaimana kepentingan akumulasi modal memanfaatkan legitimasi hijau untuk memperluas cakupan profit: green bonds, kredit konservasi, dan properti ekosistem menjadi instrumen baru akumulasi. Pembaca diajak melihat dinamika kekuasaan di balik label-label ramah lingkungan, dan menyadari bahwa tata kelola pasar ini seringkali lebih memperkuat daya monopoli daripada meningkatkan keadil-an ekologis.
Buller menggambarkan bagaimana perusahaan besar, lembaga keuangan, dan konsultan hijau membentuk infrastruktur hukum-finansial untuk “green assets” — mis. kredit karbon, kredit konservasi, green bonds, dan produk ESG. Dengan memetakan aliansi antara sektor publik dan swasta, ia menyingkap konsolidasi kekuasaan yang membuat solusi yang dipromosikan lebih melayani akumulasi modal daripada keadilan ekologis. simonmaxwell.net+1
Dalam bab keempat — Alchemists: What’s green is gold Buller berperan sebagai pengamat kimia finansial: para “alchemists” yang mampu mengubah kata “hijau” menjadi emas—mendesain produk keuangan, turunan, dan skema yang menjual kelestarian sebagai aset berorientasi profit. Narasinya menunjukkan kecanggihan teknik finansial yang sering kali memisahkan klaim keberlanjutan dari realitas biologis di lapangan. Dengan gaya yang kritis namun konkret, Buller menanyakan apakah peralihan modal melalui instrumen ini benar-benar memobilisasi transformasi struktural atau hanya mengalihkan modal kepada aktor yang sudah berkuasa, meninggalkan komunitas yang rentan sebagai pihak yang menanggung biaya. Ia menantang pembaca melihat jauh ke dalam prospek ekonomis: bila “yang hijau” menjadi komoditas, apakah tujuan pelestarian tetap dapat dicapai?
Bab ini menjelaskan kreativitas finansial yang “mengubah” isu lingkungan menjadi aset yang dapat diperdagangkan. Buller menamakan para “alchemists” — penasihat keuangan, bank investasi, pembuat produk turunan — yang merancang instrumen agar hijau tampak me-nguntungkan investor. Analisisnya bersifat kritis: ia menilai apakah produk-produk ini benar-benar mengalihkan modal ke aktivitas rendah karbon, atau sekadar memobilisasi modal sambil memperburuk ketidaksetaraan dan menunda tindakan. Liebert Publishing
Bab kelima — Time travellers: Escaping ecological debt buku ini menempuh dimensi temporal: bagaimana janji-janji di masa depan—net-zero pada 2050, komitmen jangka panjang—dipakai untuk melarikan diri dari utang ekologis sekarang. Buller menggambarkan strategi-strategi pengelakan di mana kewajiban dipindahtangankan ke masa depan, sementara ekosistem hari ini merana. Narasi bab ini dirajut oleh contoh-contoh proyek yang menjanjikan manfaat masa depan namun menunda pengurangan emisi saat ini, sehingga rentetan tipping points yang tak dapat dipulihkan kian dekat. Suasana bab ini sering diselimuti urgensi: bukan sekadar soal perdebatan teoritis, tetapi kesempatan yang hilang dan korban yang muncul ketika penundaan dianggap wajar.
Buller yang karyanya berpusat pada mengkritik cara-cara di mana pasar dan institusi keuangan mencoba mengkomodifikasi alam dan merespons krisis iklim—sebuah fenomena yang sering disebut sebagai “green capitalism” atau kapitalisme hijau, ini mengeksplor bagaimana praktik-praktik seperti offseting, net-zero roadmaps, atau projek berjangka panjang berfungsi sebagai “perjalanan waktu”—cara untuk memindahkan kewajiban ke masa depan. Anda boleh mengklaim “net-zero 2050” hari ini, tetapi jika tindakan nyata menunda sampai dekade berikutnya, konsekuensi yang tak terbayangkan sudah terjadi: titik-titik tipping, ekosistem runtuh, dan korban manusia meningkat. Bab ini menegaskan urgensi tindakan segera, bukan janji temporal. Manchester University Press
Bab keenam — Ghosts: Valuing a disappearing world bergerak ke nada yang lebih meditatif dan duka: hantu-hantu dunia yang dinilai dan menghilang. Ketika pohon, spesies, atau lanskap diberi harga, cara kita merasakan dan menghargai mereka berubah; relasi moral yang memberi alasan untuk menjaga sesuatu karena ia berharga dalam dirinya sendiri luntur, tergantikan oleh kalkulasi ekonomi. Buller menulis tentang kehilangan yang tidak bisa direstitusi melalui kom-pensasi finansial—kehilangan budaya, pengetahuan lokal, serta keragaman hidup yang tidak dapat digantikan. Narasinya menyentuh sisi emosional pembaca, mengajukan pertanyaan tentang apa yang kita pertaruhkan ketika kita menukar keakraban dan tanggung jawab bersama dengan kepastian pasar.
Penutup bab ini adalah sebuah meditasi suram tentang apa yang hilang ketika alam dihitung sebagai barang. Ketika kita menaruh harga pada spesies, hutan, atau laut, kita mungkin berhasil “mengamankan” beberapa tindakan perlindungan—tetapi kita juga mengubah bagaimana dunia dilihat: dari sesuatu yang bernilai dalam dirinya sendiri menjadi modal ekonomi. Buller menekankan tragedi epistemik dan etis: kehilangan relasi moral yang mendasari perlindungan alam. Manchester University Press
Penutup buku mengembalikan pembaca ke posisi sulit—antara godaan solusi yang dipasarkan oleh kapitalisme hijau dan tuntutan etis untuk perubahan mendasar. Buller tidak menutup peluang adanya penggunaan mekanisme ekonomi yang benar-benar membantu; namun ia bersikap realistis dan keras pada bentuk saat ini: bahwa banyak solusi berbasis pasar berfungsi untuk menunda transformasi sistemik dan memperburuk ketidakadilan. Dalam akhir yang bersifat reflektif namun provokatif, ia mengundang pembaca untuk mempertimbangkan alternatif: memperkuat kebijakan publik yang luas, menegakkan hak tanah dan komunitas, membatasi akumulasi yang merusak, dan meletakkan kembali moral dan politik di pusat diskursus lingkungan. Ia menegaskan bahwa jika tujuan kita adalah dunia yang layak dihuni oleh semua, jawaban teknokratik harus disandingkan dengan soal demokrasi, redistribusi, dan restrukturisasi kekuasaan.
Secara keseluruhan, Buller menulis bukan untuk menjatuhkan semua gagasan pasar, melainkan untuk membongkar ilusi: bahwa nilai yang dihitung pasar adalah nilai yang paling penting, atau bahwa pasar dapat menyelesaikan kontradiksi yang diciptakannya sendiri. Narasinya mengajak kita melihat manusia dan alam bukan sebagai input ekonomi yang bisa dikalkulasi, tetapi sebagai relasi yang mesti dilindungi melalui politik yang berani dan praktik solidaritas. Buku ini menjadi seruan praktis dan etis bagi pembuat kebijakan, aktivis, akademisi, dan praktisi bisnis untuk berhenti menerima kategori-kategori ekonomis sebagai batas imajiner satu-satunya bagi tindakan kolektif.
Paus dan Bisnis Sustainability
Buller memberi peringatan langsung kepada sektor bisnis: jika perusahaan menggunakan green finance dan offset semata untuk “mengelola reputasi” tanpa mengubah model produksi, maka klaim keberlanjutan menjadi reputasional dan rentan dikritik. Untuk investor dan manajer risiko, buku ini menekankan dua hal: (1) risiko material jangka panjang dari mengandalkan offsets/produk hijau yang rapuh; (2) risiko reputasi dan litigasi ketika praktik-praktik ini terbukti merugikan komunitas. Secara strategis, Buller mendorong pergeseran dari “mengemas hijau” menjadi transformasi operasi: de-karbonisasi nyata, perubahan rantai pasok, dan kolaborasi publik yang memprioritaskan keadilan. Taylor & Francis Online+1
WIRED dan Guardian yang mewawancarai atau membahas buku ini pernah menanyakan apakah “green capitalism” adalah jawaban — Buller berpendapat: tidak, setidaknya bukan seperti dipraktikkan saat ini; pasar tak akan sendiri-sendiri memberi solusi yang adil dan efektif. Perusahaan yang serius harus siap dipimpin oleh kebijakan publik—bukan instrumen pasar yang menyamarkan masalah. WIRED+1
Di Indonesia isu-isu yang dikritik Buller sangat nyata: proyek offset berbasis hutan atau konservasi sering bersinggungan dengan hak masyarakat adat, lahan gambut, dan tata guna lahan yang melibatkan pertanian subsisten. Skema carbon credit atau pembiayaan hijau yang tidak sensitif terhadap hak tanah berisiko memperkuat dispossession—hal yang Buller gambar-kan. Untuk bisnis Indonesia: pelajaran paling penting adalah libatkan komunitas lokal, cek kepemilikan tanah, prioritaskan solusi pengurangan emisi di lokasi pabrik/operasi sendiri sebelum membeli offset, dan dukung kebijakan transisi yang adil (just transition) bagi pekerja. Secara kebijakan, Indonesia perlu mengatur pasar hijau untuk menghindari spekulasi serupa yang diidentifikasi Buller. The Guardian+1
Catatan Akhir: Between the devil and the deep blue sea
Buller berdiri di samping tradisi kritis terhadap kapitalisme hijau—sejalan dengan pemikir seperti Naomi Klein (This Changes Everything), Tim Jackson (Prosperity Without Growth), dan Vandana Shiva yang menolak komodifikasi alam. Sebagai penguat moral dan spiritual, tradisi keagamaan (mis. konsep khalifah dalam Islam — manusia sebagai pengelola bumi) mengingat-kan bahwa alam tidak hanya aset ekonomi, tetapi amanah. Penyair mungkin menambahkan: seperti Mahmoud Darwish atau Arundhati Roy yang menulis tentang kehilangan dan ketidak-adilan—Buller memberi argumen ilmiah-politik yang memuat kepekaan moral serupa. Manchester University Press
Dengan sejumlah kekesalan Buller yang sering diungkapkan: “How can we, despite countless government pledges and programmes and a groundswell of civic society, remain quietly on course to sacrifice swathes of this planet’s people and lifeforms to the demands of an affluent and powerful minority?” Goodreads Buku terkenalnya, “The Value of a Whale: On the Illusions of Green Capitalism,” ini secara luas diakui sebagai kritik yang tajam dan penting terhadap pendekatan pasar dan berbasis teknologi dalam menyelesaikan krisis ekologi.
Banyak review memuji buku ini karena penelitian yang mendalam, bahasa yang tajam, dan keberanian menantang narasi dominan. Buku ini juga mendapat pengakuan (mis. masuk daftar “best books” oleh WIRED) dan pujian akademik sebagai kontribusi penting bagi kajian ekonomi ekologi. Adrienne Buller+1 Namun beberapa pengulas—misalnya yang menulis di blog yang lebih pragmatis—mengakui argumen Buller kuat, tapi bertanya: apa alternatif konkret yang praktis bisa menggantikan peran pasar? Buller memang mengusulkan arah (investasi publik, redistribusi, demokrasi ekologi), tetapi debat tentang skala, politik dan transisi institusional tetap kompleks. Kritikus juga menyatakan bahwa tidak semua inisiatif pasar adalah gagal; ada kasus-kasus di mana keuangan hijau memobilisasi modal berguna—pertanyaannya adalah desain dan tata kelola. manchesterhive.com+1
Gagasan Buller sangat penting karena berimplikasi bagi praktik-pratik sustainability. Beberapa hal yang bisa dilakukan misalnya bagi:
Perusahaan: hindari mengandalkan offset sebagai jalan pintas; audit dampak sosial dan hak atas tanah; transparansi; dukung kebijakan pengurangan emisi langsung.
Pembuat kebijakan: regulasi ketat pasar karbon, lindungi hak komunitas, dorong investasi publik di infrastruktur hijau.
Investor & perencana keuangan: nilai risiko jangka panjang instrumen hijau; gunakan metrik yang menyertakan keadilan sosial.
Masyarakat sipil: tuntut akuntabilitas, akses data proyek-proyek “hijau”, dan partisipasi langsung dalam desain program. Taylor & Francis Online+1
Buller menyelesaikan bukunya dengan pertanyaan terbuka: bolehkah kita menerima solusi green capitalism kalau ia mempertahankan ketidakadilan struktural? Ia mendorong pembaca ke arah kebijakan publik yang lebih berani: investasi publik besar-besaran, pembatasan konsumsi berlebih, redistribusi, dan penguatan demokrasi lingkungan—bukan menyerahkan masa depan biosfer pada produktivitas pasar. Manchester University Press
Cirebon, 4 Desember 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
- Buller, A. (2022). The Value of a Whale: On the Illusions of Green Capitalism. Manchester University Press. Manchester University Press
- Buller, A. “Introduction: What’s the value of a whale?” Manchester Hive (abstract). manchesterhive.com
- Buller, A. (2022, October 4). Is ‘Green Capitalism’ Total BS? WIRED interview. https://www.wired.com/story/the-value-of-a-whale-adrienne-buller-q-and-a/ WIRED
- Fitzpatrick, N. (2024). Review of Buller, Adrienne. The value of a whale: On the illusions of green capitalism. Journal of Political Ecology, 31(1). https://doi.org/10.2458/jpe.5456. University of Arizona Libraries
- Guardian. (2022, Nov 24). How whales can help dispel the myth of green capitalism.https://www.theguardian.com/environment/2022/nov/24/how-whales-can-help-dispel-the-myth-of-green-capitalism-adrienne-buller. The Guardian
- The Trouble. (2022, Nov 14). Valuing Everything and Nothing: A Review of “The Value of a Whale”. https://www.the-trouble.com/content/2022/11/14/valuing-everything-and-nothing-a-review-of-the-value-of-a-whale. THE TROUBLE.
- The Guardian, How whales can help dispel the myth of green capitalism — artikel ulasan oleh Adrienne Buller. 24 Nov 2022. The Guardian
- WIRED, Is ‘Green Capitalism’ Total BS? — wawancara dengan Adrienne Buller. 4 Oct 2022. WIRED
- The Trouble, Valuing everything and nothing: A review of “The Value of a Whale” (review). THE TROUBLE.
- Fitzpatrick, N. (2024). Review of Buller, The value of a whale. Journal of Political Ecology. University of Arizona Libraries






