Rubarubu #101
The Science of Storytelling:
Dunia dalam Cerita
Cerita sebagai “mesin makna” otak
Di sebuah aula kecil di kota besar, seorang mantan pelaut berdiri di depan 80 orang. Ia ber-bicara bukan sebagai ahli, bukan sebagai politisi, melainkan sebagai seseorang yang hidup-nya dipatahkan dan disusun ulang oleh peristiwa sehari-hari: badai yang hampir menenggelamkan-nya, telegram yang mengubah rencana hidup, percakapan singkat yang menggugah rasa malu lama. Ketika ia berhenti berbicara, tidak ada dengung teoretis; ada keheningan, lalu satu per satu orang berbisik — karena cerita itu telah menyentuh sesuatu yang primitif dan nyata di dalam mereka. Itu bukan hanya seni bicara; itu adalah apa yang Will Storr sebut: kegunaan biologis cerita—cara otak kita memberi makna pada kekacauan, membentuk identitas, dan memicu tindakan.
Will Storr memulai The Science of Storytelling dari premis sederhana namun kuat: cerita bukan hanya teknik retoris atau hiburan; cerita adalah cara otak manusia mengorganisir pengalaman. Kita hidup “dalam” narasi — otak membangun dunia dengan tokoh, tujuan, hambatan, dan perubahan. Karena itu, penceritaan yang efektif bukan sekadar soal gaya; ia adalah tentang mencocokkan cara kerja biologis dan psikologis manusia dengan struktur narasi yang meng-gerakkan perhatian, empati, dan pengertian. Storr menjembatani penelitian psikologi, neurosains, teori sastra, dan praktik penulisan untuk menjawab: mengapa cerita memikat, bagaimana membuat karakter yang meyakinkan, dan apa yang membuat konflik terasa nyata. ABRAMS+1
Setiap cerita selalu mengandung kerangka inti ini: konflik, flaw (kecacatan, kekurangan), dan momen perubahan. Di pusat metodologinya Storr menempatkan beberapa elemen berulang: Pertama, tokoh yang ingin sesuatu. Tokoh bukan sekadar boneka; mereka harus memiliki tujuan yang dapat dipercaya—bukan tujuan moral semata, tetapi kebutuhan psikologis yang masuk akal.
Kedua, sacred flaw (kecacatan sakral). Storr mengusulkan bahwa karakter yang paling menarik adalah mereka yang dibentuk oleh “flaw” — celah psikologis atau naratif yang bukan hanya kelemahan, tetapi sumber motivasi dan konflik. Flaw ini memberi cerita daya tarik moral dan emosional, karena pembaca/pendengar melihat bagaimana tokoh mencoba menutup atau menghadapi luka batinnya. Metode “sacred flaw” menjadi alat praktis di buku ini untuk merancang tokoh yang terasa hidup. Winsome Marketing Ketiga, momen perubahan — kejadian kecil yang menggeser harapan atau kedudukan tokoh. Storr menekankan bahwa cerita yang bagus sering lahir dari unexpected change—momen di mana status quo terguncang sehingga tokoh harus memilih, bertindak, atau runtuh. Otak manusia sensitif terhadap perubahan; narasi yang menyorot titik perubahan itu memicu perhatian dan resonansi emosional. ABRAMS
Storr membahas bagaimana pembaca/pendengar membentuk model mental: ketika sebuah cerita membuka “dunia”, otak kita mulai mengisi detail—siapa yang dipercaya, apa aturan sosialnya, siapa yang berisiko. Dunia (worldbuilding) dan “kepercayaan” otak pembaca menjadi sumbu penting dalam kontruksi cerita. Penulis efektif membiarkan audiens membangun model mental itu secara bertahap, menyampaikan detail sensorik yang relevan, dan menjaga coherence dunia cerita agar pembaca tidak “terlempar keluar” karena inkonsistensi. Teknik ini penting agar imersi tetap hidup dan pembaca mau terus mengikuti konflik tokoh. ABRAMS
Will Storr memasukkan temuan neurosains dan psikologi sosial: narasi bekerja karena ia me-nyentuh dua kebutuhan manusia yang kuat—menuntut perhatian (apa yang membuat kita menonton/ membaca) dan memainkan permainan statussosial (bagaimana tokoh naik-turun dalam hierarki). Ketika sebuah cerita menampilkan perubahan status atau ancaman terhadap identitas, otak mengaktifkan emosi yang membuat cerita menjadi tak terlupakan. Pemahaman ini menjadikan penceritaan alat persuasif yang kuat—bukan manipulasi dangkal, tetapi peman-faatan struktur biologis untuk menggerakkan perhatian dan sikap. Unsur Attention, Status, dan Biologi Narasi menguatkan sebuh cerita. Storr mengolah ketiga hal itu sebagai bagian penting konstruksi cerita. Words Like Silver
Storr tidak berhenti di teori. Ia mengalir dari teori ke teknik: bukunya kaya teknik operasional—bagaimana menemukan flaw yang bermakna, bagaimana membangun arc yang memaksa pembaca peduli, bagaimana menjaga suspense tanpa melanggar kejujuran karakter. Di appendix dan contoh-contoh, pembaca menemukan langkah-langkah praktis untuk “menguji” karakter mereka: apakah flaw itu relevan? apakah goal tokoh jelas? apakah perubahan terlihat signifikan? Teknik-teknik ini cocok untuk penulis fiksi, jurnalis naratif, pemimpin komunikasi, dan pembuat konten. ABRAMS+1
Dunia dalam Cerita
Bab pertama, Creating A World, adalah fondasi seluruh argumen Will Storr: bahwa manusia tidak hidup di dunia objektif, tetapi di dalam dunia rekonstruksi mental yang dibangun oleh otak melalui persepsi, bias, dan narasi internal. “Dunia” yang kita rasa nyata sebenarnya adalah model—dan pencerita (storyteller) bekerja dengan memahami bagaimana model itu terbentuk.
Storr membuka bab ini dengan pendekatan ilmu saraf: otak terus-menerus menafsirkan input yang ambigu dan membuat keputusan ditopang oleh keyakinan terdalam, pengalaman masa lalu, serta skema mental. Otak adalah story generator yang primordial—ia tidak menunggu fakta lengkap, melainkan menciptakan hipotesis yang tampak paling masuk akal dan terus memperbaruinya. Inilah alasan mengapa cerita bekerja: cerita menumpang pada cara otak membangun realitas.
Dalam kerangka ini, pencerita bukan sekadar mengarang kisah, tetapi menciptakan dunia yang memiliki struktur seperti dunia mental manusia: dunia yang punya aturan, pola sebab-akibat, dan pusat kesadaran. Dunia cerita menjadi arena tempat pembaca/penonton memproyeksi-kan model diri mereka.
Dalam bab kedua, Will Storr membawa kita masuk lebih dalam ke inti penceritaan: karakter. Ia memulai dari premis yang sederhana tapi radikal: manusia bukan dipahami melalui apa yang mereka lakukan, tetapi melalui keyakinan internal yang menuntun tindakan itu. Di mata Storr, karakter bukan sekadar seseorang yang ditempatkan di dunia cerita; karakter adalah dunia itu sendiri, karena setiap manusia hidup dalam model realitas yang bersumber dari persepsi uniknya.
Kita semua adalah “makhluk yang merasa benar”—meski sering salah. Otak kita, kata Storr, bekerja sebagai mesin prediksi yang penuh bias. Ia memilih data yang memperkuat kepercaya-an diri, mengabaikan yang tidak cocok, memoles pengalaman menjadi kisah-kisah yang me-lindungi ego. Maka, setiap karakter dalam cerita adalah seseorang dengan ilusi, seseorang yang percaya ia memahami dunia, padahal ia memandangnya dari lubang kecil dan rapuh.
Inilah yang membuat karakter menarik: konflik bukan sekadar antara manusia dan manusia, melainkan antara keyakinan internal seseorang dengan kenyataan. Seorang tokoh yang hebat bukan tokoh yang kuat, melainkan tokoh yang konsisten secara psikologis. Bahkan kesalahan dan kebodohannya harus terasa “masuk akal dari dalam dirinya”.
Storr juga membahas bagaimana tokoh yang baik memiliki core belief—keyakinan utama yang lahir dari pengalaman awal, trauma kecil, pujian yang memvalidasi, atau peristiwa yang mem-bentuk diri. Keyakinan ini kemudian menjadi kompas moral, sumber ketegaran, tapi juga sumber kebutaan. Drama muncul ketika dunia menantang core belief tersebut. Pada titik ini, Storr menekankan bahwa penulis yang memahami psikologi tidak menciptakan karakter dengan daftar sifat (“berani”, “jenaka”, “pemurung”), tetapi melalui kerangka batin: apa yang ia inginkan, apa yang ia takutkan, apa cerita yang ia ceritakan pada dirinya sendiri tentang siapa ia sebenarnya.
Karakter besar dalam novel, film, atau cerita rakyat selalu memiliki pola yang sama: mereka berpikir mereka tahu, lalu dunia memperlihatkan bahwa mereka tidak tahu. Perjalanan dari “salah paham” menuju “pemahaman” itulah yang menjadikan cerita hidup dan manusiawi.
Storr kemudian menekankan peran penting karakter sebagai pintu masuk utama ke dalam dunia tersebut. Karakter tidak berdiri di ruang hampa; ia adalah seseorang dengan skema, keyakinan inti, serta peta dunia internal. Ketika karakter berinteraksi dengan lingkungannya, yang dipertaruhkan bukan hanya tindakan, tetapi benturan antara model mental karakter dan realitas yang ia temui. Drama muncul ketika dunia menolak keyakinan karakter.
Konsep inilah yang membuat cerita terasa hidup: kita tidak mengikuti kejadian, tetapi kita menyaksikan perubahan model mental dalam diri seseorang. Perubahan adalah salah satu unsur penting yang selalu ada dalam sebuah cerita. Storr menulis: “Banyak cerita dimulai dengan momen perubahan yang tak terduga. Dan begitulah cara cerita terus berlangsung. Entah itu berita tabloid sepanjang enam puluh kata tentang tiara seorang bintang TV yang jatuh, atau epos setebal 350.000 kata seperti Anna Karenina, setiap cerita yang pernah kita dengar pada dasarnya berujung pada satu hal: ‘ada sesuatu yang berubah’. Perubahan adalah sesuatu yang tiada habisnya memikat otak manusia. ‘Hampir semua persepsi didasarkan pada deteksi perubahan,’ kata ahli saraf Profesor Sophie Scott. ‘Sistem persepsi kita pada dasarnya tidak berfungsi kecuali ada perubahan yang bisa dideteksi.’ Dalam lingkungan yang stabil, otak relatif tenang. Namun ketika ia mendeteksi perubahan, peristiwa itu langsung terekam sebagai lonjakan aktivitas saraf.”
“Dan bahkan ketika sebuah cerita tampak dimulai tanpa perubahan apa pun yang berarti…
Semua keluarga bahagia itu serupa; setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya masing-masing (Leo Tolstoy, Anna Karenina — kalimat pertama).
… jika cerita itu ingin merebut perhatian banyak otak, dapat dipastikan bahwa perubahan sedang menuju ke sana:
Segalanya kacau di rumah keluarga Oblonsky. Sang istri baru saja mengetahui bahwa suaminya menjalin hubungan dengan mantan pengasuh Prancis mereka, dan ia pun menyatakan kepada suaminya bahwa ia tidak bisa lagi tinggal satu rumah dengannya (Leo Tolstoy, Anna Karenina — kalimat kedua dan ketiga), dikutip oleh Storr.
Dalam kehidupan nyata, sebagian besar perubahan tak terduga yang kita reaksi ternyata tidak penting: dentuman itu hanyalah pintu truk yang dibanting; panggilan itu bukan nama Anda, melainkan seorang ibu memanggil anaknya. Jadi kita kembali larut dalam lamunan, dan dunia kembali menjadi kabur oleh gerak dan suara. Tetapi sesekali, perubahan itu berarti. Perubahan itu memaksa kita bertindak. Di sanalah cerita dimulai.
Perubahan yang tak terduga bukan satu-satunya cara membangkitkan rasa ingin tahu. Sebagai bagian dari misi otak untuk mengendalikan dunia, ia harus memahaminya dengan benar. Hal ini membuat manusia menjadi makhluk yang tak pernah kenyang terhadap rasa ingin tahu: bayi berusia sembilan minggu tertarik pada gambar-gambar yang asing dibandingkan yang sudah pernah mereka lihat; antara usia dua dan lima tahun, diperkirakan anak-anak mengajukan sekitar 40.000 pertanyaan ‘penjelasan’ kepada pengasuh mereka. Manusia memiliki dahaga pengetahuan yang luar biasa. Para pendongeng membangkitkan naluri ini dengan menciptakan dunia—namun berhenti sebelum memberi tahu pembaca segala hal tentang dunia itu.”
— The Science of Storytelling, Will Storr (2020)
Storr juga menggambarkan bagaimana setting bukan sekadar latar, tetapi bagian dari sistem makna: dunia yang baik adalah dunia yang “memaksa” karakter berhadapan dengan biasnya, mempercepat konflik, atau memunculkan ketegangan antar nilai. Dunia cerita adalah mesin yang menantang keyakinan karakter.
Secara keseluruhan, Bab 1 menegaskan bahwa cerita yang kuat memulai dari penciptaan dunia dan sistem makna, serta memfokuskan diri pada bagaimana karakter menavigasi dunia itu melalui keyakinan pribadi mereka. Dengan memahami cara otak menciptakan makna, pencerita dapat menciptakan cerita yang lebih resonan dan manusiawi.
Theory of Control
Di bab The Flawed Self Will Storr mengajak pembaca masuk ke dalam mekanika batin manusia —bagaimana “diri” terbentuk sebagai sebuah cerita yang rapuh dan sering menyesat-kan. Storr berargumen bahwa karakter yang paling hidup dalam fiksi (dan paling menarik bagi pembaca) bukanlah sosok sempurna, melainkan manusia yang cacat secara psikologis: mereka membawa keyakinan, kebiasaan, dan model dunia yang membentuk tindakan mereka — dan pada saat yang sama membatasi mereka.
Storr menempatkan konsep “theory of control” di pusat penjelasan: setiap manusia berkem-bang dengan seperangkat keyakinan atau “teori” yang—secara fungsional—membantunya menavigasi dunia. Teori ini muncul dari pengalaman awal, pujian, rasa malu, atau trauma kecil yang kemudian menjadi lensa permanen untuk membaca situasi. Dalam narasi fiksi, si tokoh berpegang pada teori ini; plot mulai ketika dunia menantang atau merusak teori tersebut. Dari sini timbul konflik yang dramatis: bukan sekadar perlawanan eksternal, tetapi pergulatan antara model batin tokoh dan realitas yang memaksa revisi model itu. (Sumber: TOC dan ringkasan bab). Scholarly Library+1
Storr menjabarkan bagaimana “sacred flaw” —cacat yang berubah menjadi pusat orientasi— memberi energi pada cerita. Cacat ini bukan hanya kelemahan dangkal; ia adalah struktur psikologis yang menetapkan tujuan, batas, dan reaksi tokoh. Contoh klasik yang dia gunakan (analisis karakter fiksi) menunjukkan bagaimana flaw membentuk pilihan-pilihan penting: tokoh akan membuat keputusan yang, dari luar terlihat keliru, tetapi dari dalam logis berdasarkan “cerita” yang ia yakini tentang diri dan dunia. Hal inilah yang membuat tindakan terasa nyata—karena tindakan itu konsisten dengan narasi batinnya. Scribd+1
Bab ini juga mengeksplor hubungan antara personality dan setting: jenis kepribadian tertentu “cocok” dengan setting tertentu—misalnya sosok yang terkontrol mungkin paling terancam di lingkungan yang kacau. Storr menunjukkan bahwa penulis cerdas memadankan karakter dan setting sehingga konflik menjadi tak terhindarkan; setting berperan sebagai mesin yang meng-ganggu model batin sang tokoh, memaksa perubahan atau kehancuran. Selain itu, point-of-view (bagaimana cerita diceritakan, dari sudut siapa) harus konsisten dengan model batin itu agar otak pembaca dapat membangun model mental yang kuat. Scholarly Library+1
Secara kultur, Storr menggarisbawahi pula perbedaan tradisi penceritaan: bagaimana budaya Barat dan Timur berbeda dalam menuntut perubahan karakter. Akan tetapi inti universalnya tetap: cerita yang kuat menampakkan pertentangan antara identitas yang dipertahankan tokoh dan bukti empiris yang menuntut revisi—dan itu lahir dari cacat batin yang terinternali-sasi. Kesimpulannya, bab ini memetakan peta psikologis penciptaan karakter: untuk menulis karakter yang meyakinkan, penulis harus mengerti flaw yang mendorong setiap keputusan, dan bagaimana lingkungan cerita akan menguji flaw itu sehingga muncul drama. Bookey+1
Bab ketiga — The Dramatic Question bergerak dari “siapa” (karakter dan flaw) ke “mengapa” dan “apa yang harus terjadi” — inti plot: the dramatic question. Storr menjelaskan bahwa inti naratif yang memicu keterlibatan pembaca bukanlah rangkaian peristiwa acak, tetapi perta-nyaan dramatik yang mengandung ketidakpastian moral dan psikologis: Bisakah tokoh ini mengatasi cacatnya dan mengubah nasibnya—or will they fail? Energi cerita muncul dari ketegangan antara kepercayaan tokoh dan potensi jawaban atas pertanyaan itu. Bookey+1
Storr menghubungkan fenomena ini dengan respons biologis otak terhadap perubahan tak terduga. Otak bereaksi kuat terhadap pelanggaran prediksi—ketika sesuatu tidak sesuai dengan model mentalnya, perhatian terfokus dan motivasi untuk memahami meningkat. Oleh karena itu, cerita yang memulai dengan perubahan tak terduga (a disruptive kickoff) langsung menim-bulkan orienting response yang membuat pembaca waspada dan ingin tahu. Dramatic question menahan ketegangan: pembaca terus bertanya “apa yang akan terjadi?” dan otak mereka membangun simulasi berbagai kemungkinan. Hal ini membuat plot menjadi pengalaman kognitif intens. cdn.bookey.app+1
Dalam bab ini Storr juga menekankan pentingnya aksi: protagonis harus menjadi agen yang mencoba—memilih, berusaha, gagal, dan bangkit. Jika tokoh pasif hanya bereaksi, dramatic question kehilangan daya karena tidak ada keputusan yang menguji flaw. Storr menegaskan bahwa teks-teks sukses menampilkan kata-kata tindakan (“do / need / want”) berulang—karakter yang aktif memberi peluang naratif untuk menguji dan (mungkin) memperbaiki flaw-nya. Dengan demikian struktur plot tumbuh organik dari kebutuhan psikologis tokoh, bukan dari rangkaian kejadian yang dipaksakan saja. thecreativepenn.com+1
Akhirnya, bab ini menguraikan teknik membangun dan memelihara dramatic question: bagaimana menyusun hambatan yang relevan, menempatkan rising stakes, dan menyajikan informasi pada ritme yang memberi ruang bagi pembaca untuk berspekulasi namun tetap merasa terikat. Storr menunjukkan bahwa jawaban atas dramatic question tidak harus menyenangkan; yang penting adalah bahwa jawaban itu bermakna—ia harus terasa sebagai konsekuensi psikologis yang tepat dari perjalanan tokoh. Dengan demikian plot bukan hanya urutan perbuatan, tetapi proses yang menyelesaikan atau menegaskan konflik batin sang karakter. SoBrief+1
Jika bab kedua menggambarkan bagaimana karakter dibangun oleh keyakinannya, bab ketiga menjelaskan bagaimana keyakinan itu terbentuk: melalui cerita-cerita yang kita ceritakan tentang diri kita sendiri. Storr menyebut ini sebagai the hero’s curse—kutukan sang pahlawan—karena setiap manusia merasa dirinya adalah pusat cerita, protagonis dari drama kosmik yang tidak pernah selesai.
Otak manusia, menurut Storr, adalah pencerita otomatis. Ia merangkai pengalaman menjadi narasi yang memberikan “alur”, “penjahat”, “misi”, dan “harapan”. Bahkan ketika hidup ber-belok secara acak, kita menyusun ulang memory sehingga tampak koheren. Kita adalah pahlawan versinya sendiri—sering kali pahlawan yang salah membaca dunia. Bab ini menyaji-kan penjelasan neuropsikologis yang menarik: otak membuat “model diri” (self-model) yang terasa stabil dan benar, sehingga kita bisa berkata “aku” dari waktu ke waktu. Namun “aku” ini hanyalah cerita yang dipahat dari ingatan yang tidak akurat, bias, dan emosional. Kita percaya kita rasional, padahal lebih sering kita bertindak berdasarkan cerita lama yang sudah tidak relevan.
Inilah mengapa banyak tokoh dalam fiksi—dan manusia di dunia nyata—mengulang pola yang sama, jatuh pada kesalahan yang sama, menyakiti diri sendiri dengan cara lama. Mereka bukan bodoh; mereka hanya setia pada cerita internal yang sudah melekat, “kisah hidup” yang tidak pernah mereka pertanyakan.
Di sinilah seni cerita menjadi ilmu: penulis yang memahami hal ini bisa menciptakan karakter yang terasa hidup karena ia memiliki narasi diri yang menggerakkan pilihan. Seorang pahlawan yang terobsesi membuktikan diri mungkin lahir dari masa kecil penuh kritik; seorang tokoh yang manipulatif mungkin tumbuh dari dunia yang mengajarkan bahwa cinta selalu bersyarat. Cerita-cerita batin inilah yang menentukan bagaimana tokoh membaca dunia.
Storr mengarah pada satu kesimpulan yang elegan: cerita terbaik adalah cerita tentang manusia yang mencoba memperbaiki atau mempertahankan kisah yang ia percayai tentang dirinya sendiri. Ketika hidup menguji cerita itu—di situlah drama. Pada tingkat yang lebih filosofis, bab ini mengajak pembaca memahami bahwa manusia dan cerita tidak dapat dipisahkan: kita bukan hanya pencipta cerita, tetapi makhluk yang “diciptakan” oleh cerita-cerita yang kita warisi. Kutukan pahlawan adalah kutukan menjadi manusia.
Sebuah Gerak
Jika bab pertama menjelaskan “dunia”, maka Bab 4 – Plots, Endings And Meaning menjelas-kan gerak di dalam dunia itu—yaitu plot, klimaks, dan bagaimana akhir cerita memberi makna.
Will Storr berangkat dari satu gagasan penting: plot adalah konflik antara model mental karakter dengan kenyataan. Semua cerita bergerak karena tokohnya memiliki keyakinan yang akan diuji, diguncang, atau dipatahkan. Plot tidak digerakkan oleh kejadian eksternal semata; kejadian menjadi plot hanya jika menyentuh inti keyakinan karakter.
Di sinilah Storr menempatkan struktur sebagai sesuatu yang bukan formula, melainkan mani-festasi alami dari proses perubahan psikologis. Cerita berangkat dari status quo keyakinan karakter → muncul masalah yang mengguncang keyakinan itu → karakter mengambil tindakan yang memperdalam konflik → hingga mencapai titik di mana keyakinannya tak lagi dapat dipertahankan. Di titik ini, cerita menyentuh inti kemanusiaan: konflik antara “siapa aku sekarang” dan “siapa aku jika keyakinanku berubah”.
Akhir cerita (ending) menjadi momen paling penting karena ia adalah titik ketika pembaca memahami makna. Makna bukanlah pesan moral yang ditempelkan belakangan, tetapi hasil logis dari perubahan karakter. Ending yang baik bukan sekadar menutup cerita, tetapi memberi kesan bahwa semua yang terjadi memiliki hubungan sebab-akibat yang bermakna. Dalam pandangan Storr, “makna” lahir dari perubahan model diri karakter dan bagaimana ia menyesuaikan diri dengan realitas baru.
Ending yang memuaskan biasanya memperlihatkan salah satu dari dua hal:
1. Transformasi — karakter menyadari kekeliruannya dan memperbaiki model mentalnya.
2. Tragedi — karakter gagal berubah, dan dunia menegaskan konsekuensinya.
Apa pun bentuknya, ending yang kuat adalah ending yang memvalidasi hukum internal dunia cerita serta konflik psikologis karakter.
Di bagian akhir bab ini, Storr menekankan bahwa manusia mencari makna karena otak kita diprogram untuk membuat narasi demi bertahan hidup. Kita ingin tahu “mengapa ini terjadi”, “apa artinya bagi kita”, “bagaimana seseorang berubah”. Dengan demikian, cerita yang paling indah adalah cerita yang memberi kita sekelumit jawaban tentang bagaimana menjalani hidup.
The Science of Story untuk Bisnis Sustainability — Mengapa penting?
Kenapa buku ini penting untuk praktisi komunikasi (termasuk sustainability)? Secara praktis, pemahaman tentang flawed self dan dramatic question membantu kita membentuk narasi organisasi atau proyek yang tidak hanya informatif tetapi juga menggerakkan. Daripada menyajikan klaim sempurna tentang target emisi atau program sosial, pendekatan yang lebih efektif adalah menempatkan aktor nyata (komunitas, pekerja, pelanggan) yang menghadapi konflik autentik—cakupan yang memaksa audiens menanyakan: Will they succeed? Pertanyaan ini menciptakan empati dan keterlibatan; audiens lebih mungkin terlibat atau berinvestasi (waktu, dukungan, modal) ketika mereka ikut menunggu jawaban dramatik itu. Blinkist+1
Dalam dunia sustainability, tantangan terbesar bukan hanya data, metrik, atau roadmap teknis; tantangan nyata adalah menggerakkan manusia—konsumen, pekerja, investor, pembuat kebijakan—untuk peduli dan bertindak. Di sinilah ilmu penceritaan Storr relevan sekali.
Pertama, komunikasi keberlanjutan sering bertabrakan dengan skeptisisme—publik curiga terhadap greenwashing. Storytelling menurut Storr menuntut kejujuran psikologis: tokoh (organisasi atau individu) yang memiliki kekurangan, konflik batin, dan proses perubahan—ketimbang klaim sempurna—menjadi lebih dipercaya. Narasi yang menunjukkan struggle—kesalahan, pembelajaran, kompromi—membangun kredibilitas. Ini penting untuk membangun kepercayaan investor dan publik.
Kedua, perubahan perilaku—misalnya transisi energi, adopsi circular economy, atau praktik berkelanjutan—memerlukan narasi yang menempatkan pendengar di posisi tokoh dengan stakes jelas: apa yang hilang jika tidak bertindak, apa yang didapat bila beralih. Storr membantu menyusun arc yang mengubah ambivalensi menjadi aksi.
Ketiga, untuk organisasi di Indonesia: banyak proyek keberlanjutan melibatkan komunitas lokal, adat, dan konteks budaya yang kaya. Penceritaan yang baik menempatkan suara komunitas sebagai karakter pusat—menunjukkan konflik nyata (ekonomi vs. lingkungan, tradisi vs. modernitas), keputusan sulit, dan perubahan yang nyata—sehingga audiens domestik dan internasional dapat merasakan urgensi dan legitimasi intervensi. Narasi yang membumi—menggunakan detail sensorik lokal—menjadi jembatan empati bagi audiens urban, regulator, maupun donor internasional.
Bayangkan proyek reforestasi di desa pesisir Indonesia. Alih-alih melaporkan “x hektar ditanam”, gunakan arc: perkenalkan tokoh—seorang nelayan yang kehilangan tangkapan, sebuah keputusan (bergabung ke program tanam mangrove), konflik (ketidakpercayaan tetangga), momen perubahan (musim hujan ketika bibit tumbuh dan ikan kembali), dan hasil yang terasa (anak sekolah membantu, penghasilan melonjak). Dengan struktur Storr: tokoh + sacred flaw (mis. takut kehilangan identitas nelayan tradisional) + keputusan + bukti perubahan → cerita yang menjual dampak dan mengundang dukungan. Teknik ini mengubah angka menjadi tindakan dukungan dan investasi.
Will Storr menulis bahwa “story emerges from human minds as naturally as breath emerges from between human lips” — sebuah pengingat bahwa bercerita bukan sekadar seni buatan; ia adalah fungsi kognitif. Goodreads Pemikiran ini bersambung dengan Jonathan Haidt yang menegaskan bahwa “the human mind is a story processor, not a logic processor” — sebuah frase yang sering dikutip Storr dan membantu menjelaskan mengapa argumentasi rasional sering kalah berbanding narasi emosional. Goodreads
Dalam konteks etika dan transformasi, kutipan Rumi membantu memberi nuansa: “the wound is the place where the light enters you” — menunjuk pada gagasan Storr bahwa tokoh yang bermakna sering lahir dari luka dan kerentanan, bukan kesempurnaan. Goodreads
Untuk kebijakan pemasaran dan “purpose” organisasi, pemikiran Simon Sinek—“people don’t buy what you do; they buy why you do it”—melengkapi Storr: cerita yang menempatkan mengapa (why) di pusat adalah kunci merangkul audiens modern. Goodreads
Cacatan Akhir
Buku Storr sangat berguna, tetapi dua catatan praktis penting: pertama, tekniknya harus dipadukan dengan etika: narasi tidak boleh mengaburkan fakta atau eksploitasi subjek; kejujuran dan persetujuan harus dijaga—terutama saat cerita melibatkan komunitas rentan. Kedua, storytelling harus terukur: organisasi perlu menghubungkan narasi dengan indikator dampak agar cerita tidak sekadar retoris tetapi mendukung akuntabilitas.
Di kalangan kritikus, banyak yang memuji Storr karena menyatukan riset psikologi dengan praktik penulisan dan memberi panduan yang berguna bagi penulis. The Guardian menilai buku ini “compelling” karena menjelaskan bagaimana otak terhubung dengan narasi. Namun beberapa pengulas juga menilai bahwa Storr terkadang menyederhanakan atau mengulang contoh klasik, dan pembaca yang mencari teori sastra mendalam mungkin menginginkan kajian akademis yang lebih ketat. Secara praktis, kekuatan buku ini tetap pada aplikasinya—buku paling bermanfaat bila dipraktekkan, bukan hanya dibaca. The Guardian+1
Will Storr memberikan peta komprehensif untuk memahami mengapa cerita bekerja dan bagaimana merancang cerita yang tak hanya memikat tetapi juga menimbulkan perubahan nyata. Bagi praktisi sustainability, buku ini bukan sekadar teknik penulisan: ia furnitur strategis komunikasi—membantu mengubah data menjadi empati, laporan menjadi gerakan, dan kampanye menjadi perubahan perilaku.
Pesan dari The Science of Storytelling: bahwa cerita bekerja karena selaras dengan cara otak manusia memproses dunia. Cerita memetakan konstruksi dunia naratif, dan menguraikan dinamika perubahan batin karakter yang menjadi sumber makna.
Bogor, 6 Desember 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
- The Science of Storytelling: Why Stories Make Us Human, and How to Tell Them Better, Will Storr, Abrams; https://www.abramsbooks.com/product/science-of-storytelling_9781419743030/. ABRAMS
- Review The Guardian: Alex Preston, “The Science of Storytelling by Will Storr review.” The Guardian
- Kutipan & ringkasan: Goodreads — The Science of Storytelling quotations and summary. Goodreads
- Interview / conversation with Will Storr (insight tentang branding & story): The Beautiful Truth interview. The Beautiful Truth
- Practical notes on “sacred flaw” and techniques: Winsome Marketing review. Winsome Marketing
- Jonathan Haidt — The human mind is a story processor, not a logic processor. Goodreads
- Simon Sinek — People don’t buy what you do; they buy why you do it. Goodreads
- Rumi — “The wound is the place where the light enters you.” Goodreads
- Excerpts and chapter analysis (excerpt archive / Scribd). Scribd
- Bookey / chapter summary and structural outline. Bookey
- Blinkist / short summary of key ideas (dramatic question, flawed characters). Blinkist
- Thematic blog summaries and interviews with Will Storr (supporting interpretations of sacred flaw, action emphasis). thecreativepenn.com+1






