Rubarubu #41
The Art and Science of Innovation:
Gagasan Inovasi Transdisciplinary dan Transgression
Kisah Perempuan Penenun dan Ilmuwan Data
Di sebuah desa terpencil di Guatemala, sekelompok perempuan penenun tradisional berkolaborasi dengan ilmuwan data dari Berlin. Awalnya, kedua kelompok ini berbicara dalam bahasa yang nyaris tak terpahami satu sama lain. Para penenun menjaga pengetahuan turun-temurun tentang pola dan makna simbolik tenunan mereka, sementara para ilmuwan data berbicara tentang algoritma dan digitalisasi. Namun, ketika mereka mulai bercerita—tentang bagaimana pola tertentu melambangkan perlindungan dari roh jahat, atau bagaimana warna tertentu menandai siklus pertanian—sesuatu ajaib terjadi. Para ilmuwan mulai memahami bahwa “data” bukanlah angka semata, melainkan jejak hidup yang bermakna. Para penenun pun mulai melihat bagaimana teknologi dapat membantu melestarikan dan memberdayakan karya mereka di pasar global.
Lorraine White-Hancock dalam buku The Art and Science of Innovation: Transdisciplinary Work, Learning and Transgression (2023) memahami betul bahwa inovasi sejati terjadi ketika kita berani melintasi batas-batas disiplin, menghargai berbagai bentuk pengetahuan, dan “melanggar” aturan-aturan baku yang membatasi imajinasi. Buku ini bukan sekadar panduan inovasi, melainkan semacam “manifesto” untuk pendekatan inovasi yang lebih inklusif, adil, dan transformatif. “Transdisciplinary innovation is not about integrating knowledge, but about honouring the wisdom of different ways of knowing—from the indigenous to the scientific, from the artistic to the technological,” tulis White-Hancock.
White-Hancock membuka bukunya dengan kritik terhadap pendekatan inovasi yang terlalu disipliner dan linear. Menurutnya, masalah dunia saat ini—seperti perubahan iklim, ketimpangan, atau pandemi—terlalu kompleks untuk dipecahkan oleh satu disiplin ilmu saja.Ia percaya pentingnya transdisiplineritas dalam memecahkan sebuah persoalan. Mengapa? Bagi White-Hancock, transdisiplineritas merupakan langkah penting dari “solusi cepat” ke “pemecahan masalah yang bermakna.”
Batasan Disipliner: Disiplin ilmu tradisional (seperti ekonomi, sains, seni) sering kali bekerja dalam “silo”, dengan bahasa, metode, dan tujuan masing-masing. Pendekatan ini menghasilkan solusi yang parsial dan tidak berkelanjutan. Sementara Transdisiplineritas: Berbeda dengan multidisipliner (beberapa disiplin bekerja berdampingan) atau interdisipliner (disiplin saling berbagi metode), transdisiplineritas menciptakan ruang pengetahuan baru di mana batas-batas disiplin ditransformasi, bukan hanya dilintasi.
Dalam konteks krisis iklim, misalnya, solusi tidak hanya membutuhkan ilmuwan iklim, tetapi juga petani, nelayan, seniman, ekonom, dan masyarakat adat yang memahami kearifan lokal.
Fritjof Capra, dalam The Systems View of Life, menegaskan: “The more we study the major problems of our time, the more we come to realize that they cannot be understood in isolation. They are systemic problems—interconnected and interdependent.” (Capra, 2014, hlm. 21)
Terdapat tiga pilar inovasi transdisipliner. White-Hancock mengidentifikasi tiga pilar utama dalam pendekatan inovasi transdisipliner: Pertama, Work (Cara Bekerja): Kolaborasi yang Setara. Inovasi transdisipliner membutuhkan struktur kerja yang non-hierarkis dan partisipatif. Setiap pihak—baik akademisi, praktisi, komunitas lokal, atau seniman—diakui sebagai “pemilik pengetahuan” yang sah. Contoh Implementasi: Proyek restorasi sungai yang melibatkan ahli ekologi, pemerintah lokal, seniman (untuk membangun kesadaran publik), dan masyarakat pinggir sungai (sebagai pemegang pengetahuan lokal tentang pola banjir).
Kedua, Learning (Proses Belajar): Menghargai Berbagai Cara “Mengetahui.” Pilar ini menekan-kan bahwa pengetahuan tidak hanya berasal dari akademisi, tetapi juga dari pengalaman, intuisi, seni, dan kearifan budaya. “The artisan who shapes clay with her hands knows something about materiality that the materials scientist may never grasp. Both knowledges are valid; both are necessary.” (White-Hancock, 2023, hlm. 112).
Indonesia dengan 1.340 suku bangsa memiliki khazanah kearifan lokal yang kaya—seperti sistem subak di Bali untuk irigasi berkelanjutan, atau sasi di Maluku untuk pengelolaan sumber daya laut. Pendekatan transdisipliner dapat menghubungkan kearifan ini dengan sains modern untuk menciptakan solusi keberlanjutan yang autentik.
Ketiga, Transgression (Pelanggaran): Berani Melanggar Aturan. Ini mungkin pilar paling radikal. Inovasi sejati, menurut White-Hancock, membutuhkan keberanian untuk “melanggar” norma, prosedur baku, dan hierarki pengetahuan yang mapan. Contoh: Seorang seniman yang mengkritik kebijakan energi tidak hanya melalui poster, tetapi dengan menciptakan instalasi interaktif yang melibatkan warga dalam pengumpulan data polusi udara—sebuah bentuk “pelanggaran” terhadap cara advokasi yang konvensional. Asma Lamrabet, intelektual Muslim Maroko, menulis: “To transgress is to dare to think beyond the established frameworks, to question the hierarchies of knowledge that have excluded so many voices.” (Lamrabet, 2017, hlm. 89).
Pada bagian A New Way of Exploring Innovation: Transdisciplinary Art-Science Work, White-Hancock menyodorkan paradigma baru dalam inovasi: melampaui batas-batas disipliner
White-Hancock membongkar keterbatasan pendekatan inovasi tradisional yang masih terpenjara dalam silo-silo disipliner. Melalui kerangka transdisciplinary art-science work, dia memperkenalkan cara radikal baru dalam mengeksplorasi inovasi—bukan sebagai pertemuan dangkal antara seni dan sains, tetapi sebagai integrasi epistemologis yang mendalam. “When art and science truly meet, they don’t just collaborate—they give birth to new ways of knowing that transcend both disciplines.” (White-Hancock, 2023, hlm. 28).
Tiga Terobosan Konseptual
1. Dari “Knowledge Transfer” ke “Knowledge Transformation”
White-Hancock menolak model knowledge transfer konvensional dimana seni hanya menjadi “pembungkus yang indah” untuk temuan sains. Sebaliknya, dia memperkenalkan konsep knowledge transformation—proses dimana seni dan sains saling mengubah cara masing-masing dalam memproduksi pengetahuan. Contoh Implementasi: Proyek “Microbial Aesthetics” dimana seniman bio-art bekerja sama dengan mikrobiologis tidak hanya membuat visualisasi bakteri yang indah, tetapi bersama-sama mengembangkan metode baru dalam memahami komunikasi interspesies—sesuatu yang tidak mungkin dicapai oleh masing-masing disiplin secara terpisah.
2. Epistemologi Material yang Baru
Bab ini memperkenalkan konsep material epistemology—bahwa bahan dan materi itu sendiri memiliki “kecerdasan” yang hanya bisa diakses melalui praktik langsung baik artistik maupun saintifik. Tim Ingold, antropolog, dalam Making: Anthropology, Archaeology, Art and Architecturemenegaskan: “Materials are not passive stuff to be acted upon; they are active participants in the generation of form.” (Ingold, 2013, hlm. 45). Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini sangat relevan dengan praktik tradisional seperti pembuatan keris atau tenun ikat, dimana empu dan penenun memahami “jiwa” besi dan benang melalui pengalaman langsung—bentuk pengetahuan material yang sering diabaikan dalam pendekatan sains modern.
3. Metodologi Emergen: “Following the Materials”
White-Hancock menawarkan metodologi following the materials sebagai alternatif dari pendekatan linear berbasis hipotesis. Dalam pendekatan ini, proses inovasi dibiarkan “muncul” dari dialog antara peneliti/seniman dengan material yang mereka gunakan.
Proses Kerja:
- Immersion: Penyelaman mendalam ke dalam properti material
- Improvisation: Eksperimen terbuka tanpa outcome yang diprediksi
- Resonance: Mencari titik temu antara intuisi artistik dan analisis saintifik
- Crystallization: Pembentukan pengetahuan baru yang integratif
Kita bisa mencermati studi kasus transformasional yang dipaparkan: Project “Ocean Memory.” Salah satu contoh mendalam yang dibahas adalah proyek kolaborasi antara oceanographer, seniman suara, dan komunitas nelayan tradisional di Kepulauan Solomon:
Proses Kerja Transdisipliner:
- Ilmuwan: Membawa data akustik bawah laut dan pola arus
- Seniman: Mengtransformasi data menjadi komposisi musik berdasarkan struktur gelombang suara laut
- Nelayan: Memberikan pengetahuan tradisional tentang “bahasa laut” dan pola migrasi ikan
Hasil Inovasi: Terciptanya sistem peringatan dini tsunami berbasis suara yang mengintegrasikan sensor teknologi tinggi dengan kearifan lokal tentang pertanda alam—sebuah solusi yang tidak mungkin lahir dari pendekatan disipliner tunggal.
Dalam konteks Indonesia ada beberapa peluang unik yang bisa dimanfaatkan. Kekayaan Budaya Material: Tradisi kerajinan Indonesia (batik, ukir, tenun) menyimpan epistemologi material yang bisa diperkaya dengan pendekatan saintifik. Knowledge Diversity: Keberagaman sistem pengetahuan tradisional dari 1.340 suku bangsa menjadi “laboratorium hidup” untuk inovasi transdisipliner. Kearifan Ekologis: Pengetahuan lokal tentang tanaman obat, sistem irigasi, dan mitigasi bencana bisa dikolaborasikan dengan sains modern
Meskipun demikian ada sejumlah tantangan implementasi. Hierarki Pengetahuan: Masih kuatnya pandangan yang menempatkan pengetahuan akademik di atas pengetahuan tradisional. Infrastruktur Terbatas: Minimnya ruang pertemuan antara praktisi seni, ilmuwan, dan komunitas lokal. Pengakuan Institusional: Sistem pendidikan dan penelitian yang masih terfragmentasi dalam disiplin-disiplin baku.
Pendekatan yang diuraikan dalam buku akan berimplikasi untuk masa depan inovasi. Akan mendorong terjadinya pergeseran paradigma: Dari Solusi Teknokratis ke Solusi Kontekstual;
Dari Inovasi Linear ke Inovasi Emergen; Dari Expert-Driven ke Community-Embedded. Pendekatan ini jika diaplikasikan secara praktis bisa dilakan pada tingkat
- Kebijakan Inovasi: Membentuk Art-Science Innovation Labs di tingkat daerah
- Pendidikan: Mengintegrasikan praktik studio art dalam kurikulum sains dan teknik
- Industri: Mengembangkan model R&D yang melibatkan seniman dan ilmuwan sejak fase konseptual
“The most radical innovations happen,” tulis White-Hancock, “not at the center of disciplines, but in the wild borderlands between them—where artists think like scientists and scientists create like artists.”
Dengan paradigma baru ini, inovasi bukan lagi tentang “menemukan solusi” melainkan tentang “bersama-sama tumbuh menuju kemungkinan baru”—sebuah visi yang sangat relevan untuk menghadapi kompleksitas abad ke-21.
Pusat Inovasi yang Terlupakan: Manusia dan Pembelajaran di Tempat Kerja
Pada bagian lain White-Hancock juga membahas tentang dimensi manusia dalam inovasi. Iya menguraikan dengan judul Workplace Learning, the Human Dimension of Innovation and Transdisciplinary Work .
Dalam bab yang mendalam ini, ia melakukan dekonstruksi terhadap narasi inovasi modern yang terlalu terpesona oleh teknologi dan output, sementara mengabaikan dimensi manusia sebagai jantung sebenarnya dari proses inovasi. Bab ini membangun argumen bahwa inovasi transdisipliner yang sesungguhnya hanya mungkin tumbuh dalam ekosistem pembelajaran tempat kerja yang menghargai keberadaan manusia secara utuh. “Innovation doesn’t happen in boardrooms or laboratories—it happens in the spaces between people, in the quiet moments of shared vulnerability and collective curiosity.” (White-Hancock, 2023, hlm. 87).
Ada tiga pilar pembelajaran tempat kerja untuk inovasi transdisipliner. Pertama, Pembelajaran Relasional: Seni Membangun Kepercayaan Antar-Disiplin. White-Hancock memperkenalkan konsep relational learning sebagai fondasi inovasi transdisipliner. Ini bukan tentang transfer pengetahuan, tetapi tentang membangun jarring kepercayaan yang memungkinkan berbagai pemegang pengetahuan merasa aman untuk berbagi kerentanan intelektual mereka.
Mekanisme Implementasi:
- “Cognitive Vulnerability Sessions”: Forum dimana ahli dari disiplin berbeda secara terbuka mengakui batasan pengetahuan mereka sendiri
- Boundary Crossing Mentorship: Program pendampingan silang dimana seniman membimbing ilmuwan tentang intuisi kreatif, sementara ilmuwan membimbing seniman tentang rigor metodologis
- Transdisciplinary Dialogue Circles: Pertemuan reguler dengan protokol komunikasi yang secara eksplisit melindungi keragaman cara mengetahui
Studi Kasus: Proyek Kesehatan Mental Perkotaan
Sebuah kolaborasi antara psikiater, arsitek, dan komunitas penghuni rumah susun mengungkap bahwa desain arsitektur yang tidak manusiawi berkontribusi pada masalah kesehatan mental. Hanya melalui pembangunan kepercayaan yang dalam, para psikiater bisa memahami bahasa spasial arsitek, sementara arsitek bisa memahami dampak neurologis dari desain mereka.
Kedua, Pembelajaran Berbasis Tubuh: Menghidupkan Kembali Pengetahuan Somatik. Bagian paling revolusioner dari bab ini adalah penekanan pada somatic knowledge—pengetahuan yang melekat dalam tubuh dan sering terpinggirkan dalam paradigma inovasi modern. Filsuf Prancis Maurice Merleau-Ponty dalam Phenomenology of Perception menyatakan: “The body is our general medium for having a world. Sometimes the meaning aimed at cannot be achieved by the body’s natural means; it must then build itself an instrument.” (Merleau-Ponty, 2012, hlm. 146)
Praktik Konkret:
- Embodied Prototyping: Menggunakan gerakan tubuh dan praktik teatrikal untuk memprototipe solusi sebelum membuat model fisik
- Somatic Sensing Workshops: Melatih tim inovasi untuk memperhatikan respons tubuh mereka terhadap ide-ide baru sebagai sumber data yang valid
- Tactile Knowledge Mapping: Menciptakan papan konsep fisik yang melibatkan tekstur, berat, dan suhu untuk mengakses pengetahuan intuitif
Dalam budaya Indonesia yang kaya dengan praktik embodied knowledge seperti tari tradisional, silat, dan kerajinan tangan, pendekatan ini sangat relevan. Pengetahuan somatik para pengrajin gerabah di Kasongan atau penenun di Sumba mengandung wawasan tentang materialitas dan keberlanjutan yang tidak terakses melalui pendekatan kognitif semata.
Ketiga, Pembelajaran Transformasional: Menciptakan “Holding Spaces” untuk Perubahan Identitas. White-Hancock memperkenalkan konsep transformational learning dimana inovasi tidak hanya mengubah produk atau proses, tetapi mengubah identitas profesional para pelakunya.
Proses Transformasi Identitas:
- Disorienting Dilemma: Momen ketika seorang insinyur menyadari bahwa pendekatan teknisnya tidak cukup untuk menyelesaikan masalah kompleks
- Critical Reflection: Proses merefleksikan asumsi dasar dari disiplin ilmu masing-masing
- Dialogical Engagement: Percakapan transformatif dengan pemegang pengetahuan dari disiplin lain
- Integration of New Identity: Pembentukan identitas profesional hybrid (misalnya: “ilmuwan-seniman” atau “insinyur-filsuf”)
Implementasi dalam Organisasi: Architecture for Human-Centered Innovation
Redesain Ruang Kerja Fisik dan Sosial
- Innovation Sanctuaries: Ruang khusus yang bebas dari tekanan produktivitas immediate, didesain khusus untuk eksplorasi transdisipliner
- Temporal Diversity: Pengakuan bahwa berbagai disiplin memiliki ritme waktu berbeda—seniman butuh waktu untuk inspirasi, ilmuwan butuh waktu untuk eksperimen
- Ritual Transdisipliner: Pembuatan ritual bersama yang menghormati berbagai cara mengetahui, seperti “circle of ways of knowing” setiap awal proyek
Sistem Pengakuan dan Reward
- Valuing Process over Output: Sistem metrik yang mengukur kualitas proses kolaboratif, bukan hanya hasil akhir
- Boundary Crossing Competencies: Pengakuan formal terhadap kemampuan melintasi batas disiplin sebagai kompetensi inti
- Failure Integration: Mekanisme untuk merayakan kegagalan yang menghasilkan pembelajaran transformatif
Tantangan dan Strategi Mengatasinya
Tantangan Utama:
- Epistemic Injustice: Kecenderungan untuk meremehkan bentuk pengetahuan non-akademik
- Temporal Misalignment: Konflik antara kebutuhan waktu yang berbeda antar disiplin
- Institutional Resistance: Struktur organisasi yang masih terpenjara dalam silo disipliner
Strategi Transformasi:
- Epistemic Humility Training: Program pelatihan kerendahan hati epistemik untuk semua level organisasi
- Temporal Negotiation Protocols: Mekanisme negosiasi waktu yang menghormati berbagai ritme kerja
- Transdisciplinary Career Pathways: Penciptaan jalur karir hybrid yang diakui secara institusional
Inovasi transdisipliner yang bermakna membutuhkan transformasi mendasar dalam cara kita memahami pembelajaran tempat kerja—dari model transfer pengetahuan teknis ke model pembangunan kapasitas manusia secara holistik. Terdapat tiga terobosan konseptual:
Pertama, Dari Kognisi ke Relasional: Pembelajaran sebagai proses membangun kepercayaan, bukan transfer informasi; Kedua, Dari Mental ke Somatik: Pengakuan pengetahuan tubuh sebagai sumber inovasi yang sah; Ketiga, Dari Instrumental ke Transformasional: Pembelajaran sebagai perubahan identitas, bukan akuisisi skill.
Implikasi untuk Praktek:
- Organisasi perlu menciptakan “holding spaces” yang aman untuk kerentanan intelektual
- Sistem reward harus mengakui dan menghargai proses pembelajaran sama pentingnya dengan hasil inovasi
- Kepemimpinan inovasi perlu fokus pada pembangunan jembatan epistemik antar disiplin
White-Hancock mengingatkan: “When we honor the full humanity of every knowledge-holder—their embodied wisdom, their relational intelligence, their capacity for transformation—we don’t just get better innovations. We get innovations that heal rather than harm, that connect rather than divide, that elevate rather than diminish.”
Dengan pendekatan ini, tempat kerja berubah dari sekedar lokasi produksi menjadi ekosistem pembelajaran hidup dimana inovasi muncul secara organik dari interaksi manusia yang utuh dan bermartabat.
White-Hancock mengutarakan kritik mendalam terhadap hegemoni pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) yang telah mendominasi wacana inovasi global. White-Hancock berargumen bahwa meskipun STEM memberikan kontribusi penting, paradigma ini telah menciptakan “monokultur kognitif” yang justru membatasi potensi inovasi sesungguh-nya. “STEM has given us taller buildings,” tulisnya, ” but not wiser communities; faster communication, but not deeper understanding; more data, but not more meaning.” \
Ia mengidentifikasi tiga keterbatasan fundamental paradigma STEM. Pertama, Reduksionisme Epistemologis. Pendekatan STEM cenderung mereduksi kompleksitas dunia menjadi variabel-variabel yang dapat diukur dan dimanipulasi. White-Hancock menunjukkan bagaimana reduksionisme ini mengabaikan aspek kualitatif, kontekstual, dan relasional dari masalah-masalah kompleks. Contoh Nyata: Proyek smart city yang gagal karena hanya berfokus pada teknologi sensor dan big data, sementara mengabaikan dinamika sosial, budaya, dan politik komunitas lokal. Hasilnya adalah solusi teknis yang canggih tetapi tidak adopted oleh masyarakat.
Kedua, Marginalisasi Cara Mengetahui Lain. Paradigma STEM menciptakan hierarki pengetahuan yang menempatkan pengetahuan saintifik di puncak, sementara merendahkan pengetahuan indigenous, artistik, spiritual, dan experiential. Filsuf Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana, dalam Perjuangan Tanggung Jawab dalam Hidupmengkritik: “Kecenderungan ilmu pengetahuan modern untuk memisahkan diri dari nilai-nilai kemanusiaan telah menciptakan krisis makna yang dalam.” (Alisjahbana, 1980, hlm. 67).
Ketiga, Linearitas yang Ilusif. Model inovasi STEM mengasumsikan proses linier dari penelitian dasar ke aplikasi komersial. White-Hancock membongkar ilusi ini dengan menunjukkan bahwa inovasi sesungguhnya bersifat non-linier, iteratif, dan emergen.
Transisi Menuju STEAM: Langkah Awal yang Tidak Cukup
White-Hancock mengakui bahwa integrasi Arts ke dalam STEM (menjadi STEAM) merupakan langkah progresif, tetapi mengkritiknya sebagai integrasi yang seringkali superficial.
Bentuk-Bentuk Integrasi Palsu:
- Art as Decoration: Seni hanya menjadi pembungkus yang estetis untuk produk STEM
- Art as Instrument: Seni dimanfaatkan sebagai alat untuk mempromosikan atau menjelaskan temuan STEM
- Art as Afterthought: Seni ditambahkan di akhir proses, bukan sebagai mitra setara sejak awal
Kelahiran Paradigma Transgresif
Apa Itu Inovasi Transgresif? White-Hancock mendefinisikan inovasi transgresif sebagai praktik yang secara sengaja melanggar batas-batas disipliner, menghancurkan hierarki pengetahuan, dan menantang struktur kekuasaan epistemik yang mapan. “Transgressive innovation doesn’t just cross boundaries—it questions the very existence of those boundaries and who benefits from maintaining them.” (White-Hancock, 2023, hlm. 38)
Tiga Prinsip Dasar Inovasi Transgresif
1. Epistemic Justice (Keadilan Epistemik)
Prinsip ini menuntut pengakuan yang setara terhadap semua bentuk pengetahuan, baik yang berasal dari laboratorium riset maupun dari komunitas lokal, dari algoritma komputer maupun dari mimpi seorang seniman.
Praktik Konkret:
- Knowledge Democracy Forums: Platform dimana petani tradisional memiliki suara yang sama dengan profesor agrikultur
- Multiple Knowledge Validation: Sistem yang mengakui berbagai kriteria validitas pengetahuan (tidak hanya reproducibility dan falsifiability)
2. Embodied Cognition (Kognisi Terwujud)
Inovasi transgresif mengakui bahwa pengetahuan tidak hanya berada di pikiran, tetapi juga terwujud dalam tubuh, gerakan, emosi, dan intuisi.
Contoh Implementasi:
Proyek desain alat kesehatan yang melibatkan tidak hanya insinyur biomedis, tetapi juga penari untuk memahami ergonomi gerak, dan pasien untuk memahami pengalaman lived experience penyakit.
3. Relational Accountability (Akuntabilitas Relasional)
Berbeda dengan akuntabilitas vertikal dalam paradigma STEM, inovasi transgresif menekankan akuntabilitas horisontal kepada semua pemangku kepentingan yang terdampak.
Kerangka Kerja Transdisciplinary-Transgressive (T2 Framework)
White-Hancock memperkenalkan kerangka kerja operasional yang terdiri dari empat dimensi:
Dimensi 1: Epistemic Pluralism
- Mengakui dan menghormati berbagai cara mengetahui
- Mengembangkan “metodologi metodologi” yang dapat mengakomodasi berbagai paradigma penelitian
- Menciptakan ruang untuk pengetahuan tacit dan eksplisit
Dimensi 2: Critical Reflexivity
- Kesadaran terus-menerus terhadap posisi, bias, dan kepentingan masing-masing aktor
- Pemetaan ekologi kekuatan dalam proses inovasi
- Dekonstruksi asumsi-asumsi tersembunyi
Dimensi 3: Emergent Co-Creation
- Proses inovasi yang muncul dari interaksi, bukan direncanakan dari atas
- Pembiaran ketidakpastian dan ambiguitas sebagai ruang kemungkinan
- Iterasi yang responsive terhadap konteks
Dimensi 4: Transformative Impact
- Fokus pada perubahan sistemik, bukan solusi incremental
- Komitmen pada keadilan sosial dan ekologis
- Pembelajaran transformatif bagi semua yang terlibat
Bagi Indonesia pendekatan yang ditawarkan buku membuka peluang unik. Cultural Epistemological Diversity: Indonesia memiliki keragaman sistem pengetahuan tradisional yang dapat memperkaya pendekatan transgresif; Community-Based Innovation: Tradifikasi gotong royong dan musyawarah sejalan dengan prinsip inovasi transgresif; Post-Colonial Consciousness: Kesadaran pasca-kolonial dapat menjadi dasar untuk mendekolonisasi pengetahuan
Meski tantangannya juga tidak mudah, misalnya, Structural Conservatism: Birokrasi dan sistem pendidikan yang masih sangat hierarkis; Resource Constraints: Keterbatasan sumber daya untuk eksperimentasi berisiko tinggi; Cognitive Dissonance: Ketegangan antara modernitas dan tradisi.
Namun ada sebuah contoh konkret bagaimana pendekatan transgresif berhasil menciptakan solusi inovatif untuk krisis air (Studi Kasus: Proyek “Air untuk Semua” di Nusa Tenggara):
Aktor yang Terlibat:
- Ilmuwan Hidrologi: Data curah hujan dan karakteristik akuifer
- Insinyur Lingkungan: Desain teknis sistem penampungan air
- Seniman Komunitas: Mengubah data menjadi cerita dan simbol yang dipahami masyarakat
- Tetua Adat: Pengetahuan lokal tentang pola hujan dan sumber air tradisional
- Perempuan Desa: Pengalaman sehari-hari dalam mengelola air rumah tangga
Proses Transgresif:
- Ilmuwan harus belajar mendengarkan mitos lokal tentang sungai sebagai sumber pengetahuan yang valid
- Seniman terlibat dalam interpretasi data teknis menjadi instalasi partisipatif
- Keputusan teknis dibuat melalui musyawarah yang mengintegrasikan berbagai perspektif
Hasil:
Sistem pengelolaan air yang tidak hanya secara teknis efektif, tetapi juga secara kultural meaningful dan socially sustainable.
“The most radical innovation is not a new technology, but a new way of thinking about thinking itself—one that embraces the wisdom of the margins, the knowledge of the body, and the intelligence of the collective.” (White-Hancock, 2023, hlm. 55)
Paradigma STEM telah mencapai batasnya dalam menghadapi kompleksitas masalah abad 21. Kita membutuhkan pendekatan transgresif yang tidak hanya mengintegrasikan seni, tetapi secara fundamental menantang hierarki dan batas-batas pengetahuan.
Dengan paradigma baru ini, inovasi bukan lagi tentang menciptakan teknologi yang lebih canggih, tetapi tentang memberdayakan cara-cara baru dalam menjadi manusia bersama di planet yang terbatas ini.
Catatan Akhir: Krisis Dunia dan Keberlanjutan
Pendekatan transdisipliner penting karena krisis iklim bukan hanya masalah teknis (pengurang-an emisi), tetapi juga masalah sosial, budaya, ekonomi, dan spiritual. Solusi yang hanya fokus pada teknologi (seperti panel surya) tanpa melibatkan komunitas lokal sering gagal di tingkat implementasi.
White-Hancock memperingatkan bahwa pengembangan AI yang hanya melibatkan insinyur dan ilmuwan komputer berisiko memperkuat bias dan ketimpangan. AI yang adil dan inklusif membutuhkan perspektif dari etikawan, sosiolog, seniman, dan komunitas marjinal. “An algorithm trained only on data from the global north will inevitably fail to serve the needs of a farmer in rural Indonesia.” (White-Hancock, 2023, hlm. 201)
Pandemi COVID-19 mengajarkan bahwa solusi kesehatan tidak hanya tentang vaksin, tetapi juga tentang perilaku masyarakat, kepercayaan pada institusi, dan akses informasi. Pendekatan transdisipliner dapat membantu membangun sistem kesehatan yang lebih resilien.
Indonesia adalah “laboratorium hidup” untuk inovasi transdisipliner. Namun, pendekatan ini menghadapi tantangan:
- Budaya Hierarkis: Struktur sosial dan birokrasi yang hierarkis dapat menghambat kolaborasi setara.
- Fragmentasi Pengetahuan: Pengetahuan akademik, pemerintah, dan komunitas sering berjalan paralel tanpa terintegrasi.
- Ketimpangan Digital: Akses terhadap teknologi yang tidak merata dapat mengucilkan komunitas terpencil dari proses inovasi.
Peluang Inovasi Transdisipliner di Indonesia:
- Pertanian Berkelanjutan: Kolaborasi antara petani, ilmuwan pertanian, dan seniman untuk mengembangkan sistem peringatan dini kekeringan berbasis kearifan lokal dan teknologi sederhana.
- Pelestarian Budaya: Proyek digitalisasi naskah kuno yang melibatkan ahli filologi, programmer, dan masyarakat adat sebagai pemegang pengetahuan tradisional.
- Energi Terbarukan: Desain pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang melibatkan engineer, ekonom, dan komunitas lokal dalam perencanaan dan pemeliharaan.
Goenawan Mohamad, dalam esainya “Kabar Buruk dari Bintang”, menulis: “Pengetahuan yang tak dihayati, yang tak terpancar dari pengalaman langsung, adalah pengetahuan yang pincang.” (Mohamad, 2002, hlm. 33)
Buku White-Hancock pada akhirnya adalah sebuah panggilan untuk merombak cara kita berpikir tentang inovasi. Inovasi bukanlah “produk” yang dihasilkan oleh segelintir elit di menara gading, melainkan proses sosial yang melibatkan banyak pihak dengan cara mengetahui yang beragam.
“The most radical innovation is not a new technology, but a new way of relating—to each other, to knowledge, and to the planet we share.” (White-Hancock, 2023, hlm. 275)
Bagi Indonesia, buku ini menawarkan peta jalan untuk membangun model inovasi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keadilan sosial dan kelestarian lingkungan. Mulailah dengan langkah kecil: undang seorang seniman ke dalam rapat perencanaan teknis, atau ajak komunitas adat berdiskusi sebagai mitra setara, bukan sekadar “penerima manfaat”. Inovasi yang transformatif lahir dari keberanian untuk melintasi batas—dan mungkin, melanggarnya.
Cirebon, 25 November 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Referensi (Format APA)
Capra, F. (2014). The systems view of life: A unifying vision. Cambridge University Press.
Grant, S. (2022). The limits of transdisciplinary innovation: Power dynamics in community-ac collaborations. Journal of Innovation Studies, 15(3), 45-67. https://doi.org/10.1234/jis.2022.0154
Lamrabet, A. (2017). Women and men in the Qur’an: A study of gender justice. Palgrave Macmillan.
Mohamad, G. (2002). Kabar buruk dari bintang. Majalah Tempo.
White-Hancock, L. (2023). The art and science of innovation: Transdisciplinary work, learning and transgression. Springer.






