Rubarubu #107
Survival of the Richest:
Perlawanan Menuju Pro-Social Future
Dari Bunker ke Karma
Bayangkan Anda diundang ke pertemuan eksklusif di sebuah resor mewah. Lima orang miliarder teknologi—pemilik dana lindung nilai dan pendiri platform digital terbesar—tidak meminta nasihat Anda tentang investasi berikutnya. Sebaliknya, mereka bertanya dengan sungguh-sungguh: “Dengan begitu banyak uang, bagaimana saya bisa membeli bunker yang tepat untuk bertahan hidup dari ‘The Event’—keruntuhan masyarakat yang mereka yakini akan datang?” Mereka bukan membicarakan zombie, tetapi pergolakan iklim, pandemi berikutnya, atau pemberontakan massal terhadap ketimpangan yang mereka sendiri turut perbesar. Inilah kisah nyata yang dialami Douglas Rushkoff, dan menjadi titik tolak bukunya, “Survival of the Richest: Escape Fantasies of the Tech Billionaires”. Pengalaman ini mengungkap sebuah sindrom mental yang Rushkoff sebut “The Mindset”: sebuah kepercayaan bahwa solusi untuk segala krisis yang diciptakan oleh kapitalisme ekstraktif dan teknologi yang tak terkendali adalah lebih banyak teknologi dan lebih banyak pemisahan diri dari umat manusia yang lain. Buku ini adalah eksplorasi mendalam tentang epidemi pelarian ini, yang akarnya bukan di masa depan distopia, tetapi dalam logika ekonomi dan teknologi yang kita jalani hari ini.
Buku ini mengurai “the mindset” dan pelarian tanpa akhir. Dimulai dengan momen yang mengejutkan dalam “Introduction: Meet The Mindset”. Di sana, Rushkoff mendefinisikan The Mindset bukan sekadar sebagai kekayaan yang ekstrem, tetapi sebagai “seperangkat keyakinan yang dibagikan oleh banyak orang di dunia teknologi dan keuangan saat ini” (Rushkoff, 2022, p. 7). Ini adalah logika operasi yang melihat dunia sebagai serangkaian masalah teknis yang perlu di-optimize, manusia sebagai kode yang dapat diprogram ulang, dan Bumi sebagai platform usang yang perlu ditinggalkan. Para pemegang Mindset ini, seperti yang Rushkoff saksikan, beroperasi dengan prinsip The Single Derivative: mereka tidak peduli dengan dampak langsung dari tindakan mereka, tetapi hanya dengan dampak dari dampak tersebut terhadap posisi dan kekayaan mereka sendiri. Mereka adalah arsitek utama dunia yang mendorong krisis eksistensial, sekaligus yang paling siap untuk melarikan diri darinya, meninggalkan sisanya untuk menghadapi kehancuran.
Rushkoff kemudian membedah bagaimana teknologi yang mereka bangun—“Persuasive Tech”—dirancang untuk mengeksploitasi kelemahan psikologis manusia, mengubah jaringan yang menjanjikan koneksi menjadi mesin ekstraksi data dan perhatian. Namun, ironisnya, banyak dari arsitek ini terinspirasi oleh etos komunitas seperti Burning Man (“We Are as Gods”), yang kemudian mereka reduksi menjadi mandat untuk bertindak sebagai dewa-dewa yang terisolasi, membangun surga pribadi mereka sendiri. Mimpi pelarian ini memuncak dalam proposal “The Great Reset”—versi mereka sendiri, yang bukan tentang keadilan iklim global, tetapi tentang “menyelamatkan kapitalisme” dengan memperluas logika pasar ke setiap aspek kehidupan, bahkan kelangsungan hidup itu sendiri. Ini adalah impian untuk mengkonsolidasikan kekuasaan di bawah selimut kepanikan.
Namun, Rushkoff memperingatkan bahwa “Resistance is Futile” jika kita melawan mereka dengan menggunakan alat dan logika yang sama. Membangun platform alternatif atau mata uang kripto baru sering kali hanya menguatkan The Mindset itu sendiri. Sebaliknya, ia mengajak kita untuk menyadari “Cybernetic Karma”—hukum sebab-akibat di mana sistem yang dibangun untuk mengontrol umat manusia akhirnya membelit para penciptanya sendiri. Mereka ter-perangkap dalam lingkaran ketakutan yang diciptakan oleh algoritma mereka sendiri, “hoisted by their own petard.”
Buku ditutup dengan bab yang penuh pencerahan, “Pattern Recognition”, di mana Rushkoff berpendapat bahwa “Everything Comes Back” pada kebenaran mendasar: kita adalah makhluk biologis, terikat pada planet yang hidup, dan membutuhkan komunitas yang saling mendukung. Solusinya bukanlah pelarian ke metaverse atau Mars, tetapi kembali ke realitas material, mem-bangun ketahanan lokal, dan memulihkan hubungan sosial yang otentik. Sebagaimana dikata-kan oleh filsuf Muslim klasik, Ibn Khaldun, dalam magnum opus-nya Al-Muqaddimah, kekuatan sejati suatu peradaban terletak pada ‘asabiyyah—ikatan solidaritas sosial dan rasa saling me-miliki. Obsesi The Mindset untuk memutus ikatan itu, menurut Rushkoff, justru merupakan resep pasti bagi kehancuran.
Ketika para miliarder bertanya: “Bagaimana cara bertahan setelah dunia runtuh?” Douglas Rushkoff menguraikan jawabannya. Ia membuka bukunya, Survival of the Richest: Escape Fantasies of the Tech Billionaires (W. W. Norton, 2022), bukan dengan teori, melainkan dengan sebuah adegan yang nyaris surealis. Ia diundang ke sebuah resor mewah di tengah gurun untuk berbicara dengan lima miliarder teknologi. Mereka bukan datang untuk membahas masa depan digital, melainkan sebuah pertanyaan yang mengerikan: Bagaimana mereka bisa bertahan hidup setelah keruntuhan peradaban? Mereka ingin tahu tentang bunker, tentang bagaimana menjaga para penjaga agar tidak memberontak, tentang apakah emas atau Bitcoin lebih ber-guna setelah kehancuran, dan bagaimana melindungi diri dari “massa” ketika sistem runtuh. Rushkoff menyebut pola pikir ini sebagai “The Mindset”—sebuah cara berpikir yang melihat dunia sebagai sistem yang rusak dan melihat teknologi bukan sebagai alat untuk memperbaiki-nya, melainkan sebagai sarana untuk melarikan diri darinya.
Inilah inti buku ini: para elit teknologi telah berhenti membayangkan masa depan bersama umat manusia, dan mulai membayangkan bagaimana meloloskan diri dari umat manusia. Bayangan yang mengerikan. Seolah mereka bukan manusia, bukan bagian dari manusia pada umumnya. Semacam spesies lain yang menjajah manusia dan planet bumi.
The Mindset: ketika kekayaan berubah menjadi paranoia
Rushkoff menunjukkan bahwa The Mindset bukan sekadar ketakutan pribadi, melainkan produk dari budaya Silicon Valley itu sendiri. Dunia dipandang sebagai mesin. Masalah sosial dianggap sebagai bug. Dan solusi selalu berupa teknologi atau exit plan. Dalam pandangan ini, perubahan iklim bukan krisis kolektif, melainkan alasan untuk membangun koloni Mars. Ketimpangan sosial bukan masalah politik, melainkan alasan untuk membangun pulau privat. Keruntuhan demokrasi bukan alarm, melainkan peluang untuk meluncurkan DAO dan crypto-sovereignty.
Para miliarder ini tidak bertanya bagaimana menyelamatkan masyarakat—mereka bertanya bagaimana menyelamatkan diri mereka sendiri dari masyarakat. Rushkoff menautkan ini dengan warisan ideologis dari Ayn Rand, libertarianisme ekstrem, dan kapitalisme Silicon Valley, yang memuja individu jenius sambil meremehkan keterikatan sosial. Ia mengutip Buckminster Fuller dan Norbert Wiener untuk menunjukkan betapa teknologi awalnya dibayangkan sebagai alat untuk membebaskan manusia, bukan untuk mengasingkannya.
Teknologi tak ubahnya sebagai kendaraan pelarian. Buku ini kemudian bergerak menelusuri fantasi-fantasi pelarian para elite teknologi:
- Bunker di Selandia Baru
- Koloni Mars ala Elon Musk
- Metaverse sebagai pengganti dunia nyata
- Crypto sebagai sistem keuangan pasca-negara
- Transhumanisme dan unggah kesadaran
Semua ini, bagi Rushkoff, adalah variasi dari satu cerita yang sama: keinginan untuk keluar dari dunia yang sudah tidak lagi mereka anggap layak diperbaiki. Ia menyebut ini sebagai kelanjutan dari kolonialisme: dulu Eropa “melarikan diri” ke Dunia Baru; kini para miliarder ingin melarikan diri dari Bumi itu sendiri.
Krisis sejati bukan teknologi—melainkan hubungan manusia. Rushkoff membalikkan narasi dominan. Masalah kita bukan kekurangan inovasi. Masalah kita adalah keruntuhan relasi sosial: kepercayaan, solidaritas, dan tanggung jawab bersama. Ia mengaitkan ini dengan pemikiran Hannah Arendt tentang kehilangan dunia bersama (the loss of the common world), dan dengan Karl Polanyi tentang bagaimana pasar yang tak terkendali merusak tatanan sosial. Ketika segala sesuatu dikomodifikasi, bahkan kehidupan itu sendiri, yang tersisa hanyalah individu yang terisolasi.
Di titik inilah Rushkoff sangat keras: para miliarder yang membangun bunker sebenarnya sedang membangun makam peradaban—bukan karena dunia tak bisa diselamatkan, tetapi karena mereka telah menyerah untuk hidup bersama orang lain.
Maka alternatifnya adalah kembali ke sini, sekarang, dan bersama. Seperti dalam Life Inc., Rushkoff tidak berakhir dalam keputusasaan. Ia menyerukan kebalikan dari The Mindset:
bukan exit, tetapi commitment; bukan escape, tetapi engagement. Solusinya bukan teknologi yang lebih canggih, tetapi komunitas yang lebih kuat. Bukan AI yang lebih pintar, tetapi manusia
yang lebih terhubung. Ia mengajak kita kembali ke ekonomi lokal, ke kerja bermakna, ke demokrasi yang partisipatif, ke hubungan yang tidak dimediasi platform.
Dalam dunia yang semakin dikuasai oligarki digital, buku ini terasa sangat aktual. Di Indonesia, kita melihat versi lokalnya: elite yang hidup di gated communities, korporasi platform yang menguras nilai dari pekerja, dan mimpi “smart city” yang sering melupakan warga. Rushkoff memberi peringatan: jika teknologi hanya memperkaya segelintir dan mengasingkan mayoritas, maka ia akan mempercepat krisis, bukan mencegahnya.
Pesan terakhir buku ini, Survival of the Richest, bukan tentang orang kaya. Ia tentang kita semua—tentang apakah kita masih percaya bahwa masa depan harus dibangun bersama, atau kita akan membiarkannya diambil oleh mereka yang mampu membeli pelarian. Seperti yang ditulis Rushkoff, dengan nada hampir putus asa sekaligus penuh harap: kita tidak membutuhkan kapal luar angkasa untuk melarikan diri dari dunia ini—kita membutuhkan keberanian untuk tetap tinggal dan memperbaikinya.
Dalam tiga bab awal Survival of the Richest, Douglas Rushkoff seperti menarik kita ke ruang rahasia para miliarder teknologi—bukan ruang rapat berlapis kaca di Silicon Valley, melainkan ruang-ruang bawah tanah, bunker tersembunyi, dan imajinasi tentang dunia setelah runtuh. Ia tidak menulisnya sebagai satire, tetapi sebagai sebuah laporan antropologis tentang suatu kelas yang, ironisnya, semakin kaya justru semakin takut pada masa depan yang mereka sendiri ciptakan.
Bab pertama, yang ia sebut “The Insulation Equation”, memperkenalkan kita pada logika dasar yang menggerakkan kecemasan para elite teknologi. Dalam pertemuan rahasia yang menjadi pintu masuk buku ini, Rushkoff mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terdengar seperti adegan fiksi ilmiah: bagaimana mengontrol pasukan keamanan setelah sistem hukum runtuh? apakah emas lebih berharga daripada mata uang kripto ketika negara gagal? bagaimana mencegah para pekerja membunuh tuan mereka ketika dunia terbakar? Inilah yang oleh Rushkoff disebut sebagai billionaire bunker strategies: bukan rencana untuk mencegah kehancuran, melainkan strategi untuk mengisolasi diri darinya. Logika mereka sederhana dan brutal: jika dunia tidak bisa diselamatkan, maka yang penting adalah memisahkan diri dari dunia itu. Semakin besar kekayaan, semakin tebal lapisan “insulasi” yang ingin mereka bangun antara diri mereka dan umat manusia lainnya. Kekayaan tidak lagi dipahami sebagai sarana untuk hidup lebih baik bersama orang lain, melainkan sebagai teknologi untuk melarikan diri dari mereka.
Dari sini Rushkoff melangkah ke bab kedua, “Mergers and Acquisitions”, yang memaparkan bahwa mentalitas bunker ini bukanlah penyimpangan, melainkan kelanjutan logis dari budaya bisnis Silicon Valley itu sendiri. Dalam dunia startup dan venture capital, satu prinsip berkuasa: always have an exit strategy. Perusahaan tidak dibangun untuk bertahan lama, tetapi untuk dijual. Inovasi bukan untuk melayani masyarakat, tetapi untuk meningkatkan valuasi dan kemudian dilepas. Rushkoff menunjukkan bagaimana logika ini, ketika dibawa ke tingkat peradaban, berubah menjadi ide bahwa Bumi pun adalah sesuatu yang bisa “ditinggalkan” jika sudah tidak menguntungkan. Kolonisasi Mars, dunia virtual, crypto–sovereignty, dan bunker pribadi hanyalah versi kosmik dari akuisisi dan exit. Kita tidak lagi berbicara tentang membangun masa depan bersama, melainkan tentang kapan dan bagaimana kita bisa keluar dari sistem sebelum sistem itu runtuh.
Bab ketiga, “A Womb with a View”, membawa analisis ini ke ranah yang lebih intim dan psikologis. Rushkoff menggambarkan bagaimana teknologi kini menawarkan sebuah janji: kamu bisa aman, terlindungi, dan terpisah dari kekacauan dunia—selama kamu berada di dalam “gelembung” yang tepat. Ponsel pintar, algoritma, rumah pintar, metaverse, hingga komunitas berpagar bukan hanya alat, tetapi rahim digital yang membungkus penggunanya. Kita dipelihara oleh teknologi seperti janin yang tak perlu menyentuh dunia luar. Bagi para miliarder, rahim ini adalah bunker berteknologi tinggi; bagi masyarakat luas, ia menjadi ekosistem platform yang mengisolasi kita dalam gelembung informasi dan konsumsi. Kita merasa aman, tetapi juga terputus—dari tetangga, dari alam, dari realitas sosial.
Dalam tiga bab ini, Rushkoff merajut satu tesis besar: apa yang tampak sebagai kemajuan teknologi sebenarnya adalah bentuk baru dari penarikan diri kolektif. Para elite melarikan diri secara fisik ke bunker dan pulau privat; kita yang lain melarikan diri secara psikologis ke layar dan algoritma. Keduanya lahir dari logika yang sama—ketakutan akan dunia yang tak ter-kendali, dan penolakan untuk tetap terikat pada orang lain di dalamnya. Survival of the Richest di bagian awalnya bukan sekadar kisah tentang orang-orang superkaya, tetapi tentang sebuah peradaban yang mulai lebih percaya pada dinding, filter, dan exit plan daripada pada solidaritas dan masa depan bersama.
Dalam paruh tengah Survival of the Richest, Douglas Rushkoff semakin menjauh dari bunker-bunker fisik dan masuk ke sesuatu yang lebih licin dan lebih berbahaya: bunker mental dan kultural yang dibangun oleh teknologi, sains yang disalahpahami, dan ideologi percepatan. Bab 4 sampai 7 menunjukkan bahwa fantasi “melarikan diri dari dunia” tidak hanya hidup dalam arsitektur perlindungan para miliarder, tetapi juga dalam cara mereka melihat manusia, moralitas, dan masa depan.
Di Bab 4, “The Dumbwaiter Effect: Out of Sight, Out of Mind,” Rushkoff memakai metafora dumbwaiter—lift kecil yang membawa makanan dari dapur ke ruang makan—untuk menjelas-kan bagaimana teknologi modern memutus kita dari realitas produksi dan penderita-an. Di dunia digital, segalanya tampak muncul begitu saja: data, layanan, makanan yang diantar lewat aplikasi, kekayaan finansial yang bergerak dalam hitungan mikrodetik. Yang tersembunyi adalah buruh, tambang litium, gudang logistik, dan tubuh-tubuh manusia yang menopang semua itu. Bagi para elite teknologi, jarak ini adalah kemewahan: mereka bisa menikmati hasil tanpa harus melihat dampaknya. Rushkoff menekankan bahwa ketika konsekuensi sosial dan ekologis disingkirkan dari pandangan, empati pun menguap. Dunia menjadi sekadar antarmuka yang bersih, sementara kekerasan sistemik tersembunyi di balik layar.
Dari sini, Bab 5, “Selfish Genes: Scientism over Morality,” membawa kita ke akar ideologisnya. Rushkoff menunjukkan bagaimana banyak tokoh teknologi mengadopsi versi dangkal dari Darwinisme dan neurosains untuk membenarkan perilaku egoistik dan eksploitatif. Jika manusia hanyalah kumpulan gen yang ingin bertahan hidup, atau algoritma yang mengoptimal-kan kepentingan diri, maka mengapa harus peduli pada yang lemah, pada masa depan planet, atau pada keadilan sosial? Inilah yang ia sebut scientism: bukan sains yang rendah hati, melainkan keyakinan bahwa model ilmiah tertentu bisa menggantikan etika. Moralitas dianggap sebagai gangguan emosional, bukan fondasi kehidupan bersama. Dalam logika ini, para miliarder merasa sah melihat dunia sebagai permainan strategi, bukan komunitas makhluk hidup.
Logika tersebut menemukan ekspresi paling brutalnya dalam Bab 6, “Pedal to the Metal: Dehumanize, Dominate, and Extract.” Rushkoff menggambarkan budaya Silicon Valley yang memuja kecepatan dan skala: tumbuh lebih cepat, menaklukkan lebih banyak pasar, meng-ekstrak lebih banyak data dan nilai sebelum orang lain melakukannya. Segala sesuatu yang melambat—regulasi, hubungan manusia, batas ekologis—dipandang sebagai hambatan. Untuk bisa menekan pedal gas sampai mentok, manusia lain harus direduksi menjadi pengguna, pekerja lepas, atau sekadar titik data. Alam direduksi menjadi “sumber daya.” Dalam budaya ini, kehancuran sosial dan ekologis bukanlah kegagalan sistem, tetapi efek samping yang bisa “diatasi” nanti, mungkin dengan teknologi lain atau, jika gagal, dengan jalan keluar ke dunia lain.
Ketika dunia nyata mulai menunjukkan batas-batasnya, Bab 7, “Exponential: When You Can Go No Further, Go Meta,” menjelaskan langkah berikutnya: melompat ke tingkat abstraksi yang lebih tinggi. Jika pertumbuhan di dunia fisik melambat, pindahlah ke dunia virtual. Jika ekonomi riil stagnan, ciptakan metaverse, NFT, dan spekulasi digital tanpa ujung. Rushkoff melihat ini sebagai pelarian terakhir: ketika tidak ada lagi ruang untuk diekstraksi, para elite teknologi mengusulkan realitas baru yang sepenuhnya dapat dimiliki, dikodekan, dan dimonetisasi. Di sini, fantasi bunker bertemu dengan fantasi simulasi—keselamatan bukan lagi soal melindungi tubuh, tetapi memindahkan diri ke dunia yang sepenuhnya bisa dikendalikan.
Jika bab 1–3 memperlihatkan bagaimana kaum superkaya ingin melarikan diri dari dunia yang runtuh, maka bab 4–7 menunjukkan bagaimana mereka telah lama melarikan diri dari dunia yang nyata. Dengan memisahkan diri dari konsekuensi (dumbwaiter), dari etika (selfish genes), dari kemanusiaan (pedal to the metal), dan akhirnya dari realitas itu sendiri (exponential), mereka membangun sebuah kosmologi di mana tanggung jawab kolektif menjadi usang. Rushkoff menulis bagian ini seperti sebuah peringatan: bahwa krisis terbesar kita bukan hanya ketimpangan atau teknologi yang tak terkendali, melainkan sebuah cara berpikir yang lebih memilih melampaui dunia daripada merawatnya.
Mesin-mesin Penguasaan
Setelah membongkar paradoks mental para miliarder teknologis, Rushkoff dalam Survival of the Richest mengajak kita menyelami mesin-mesin yang mereka ciptakan dan dunia yang mereka bayangkan—sebuah perjalanan dari ilusi kontrol mutlak hingga ke jerat sistemik yang justru menjebak mereka sendiri.
Perjalanan ini dimulai dari “Persuasive Tech” (Bab 8), jantung dari ekonomi perhatian digital. Rushkoff menggambarkan bagaimana obsesi untuk menciptakan teknologi yang bisa “hanya dengan menekan tombol” mengubah perilaku manusia menjadi mimpi buruk behavioralisme digital. Platform-platform dirancang bukan untuk memberdayakan, melainkan untuk mem-bujuk, memengaruhi, dan pada akhirnya mengeksploitasi psikologi pengguna demi engagement dan data. Ini adalah landasan operasi di mana manusia direduksi menjadi kumpulan pola yang dapat diprediksi dan dimanipulasi.
Namun, di balik mesin persuasif yang dingin ini, tersimpan sebuah “Visi dari Burning Man” (Bab 9). Rushkoff mengungkap paradoks menarik: banyak arsitek dunia digital ini terinspirasi oleh etos radikal self-expression dan komunitas yang mereka alami di Burning Man. Mereka mengadopsi mantra “We Are as Gods”, tetapi seringkali mendistorsinya. Alih-alih menciptakan dunia yang lebih terbuka dan terdesentralisasi, visi ketuhanan teknokratis ini berubah menjadi aspirasi untuk menjadi dewa-dewa pelindung dari bunker pribadi mereka—sebuah libertarianisme yang terasingkan, jauh dari komunualisme yang sebenarnya menjadi roh Burning Man.
Visi yang terdistorsi ini kemudian memuncak dalam proposal “The Great Reset” (Bab 10). Rushkoff secara kritis mengamati bagaimana narasi penyelamatan dunia—”To Save the World, Save Capitalism“—sering kali digaungkan oleh elite yang sama. Reset yang mereka tawarkan bukanlah transformasi sistemik yang inklusif, melainkan perpanjangan logika kapitalisme ekstraktif dengan baju baru teknologi hijau dan governance token. Ini adalah fantasi untuk menyelamatkan kekayaan dan dominasi mereka dengan membungkusnya dalam retorika penyelamatan planet, sebuah upaya mengkonsolidasikan kekuasaan di bawah dalih urgensi eksistensial.
Lantas, bagaimana melawan mesin dan narasi yang begitu perkasa ini? Rushkoff dalam “The Mindset in the Mirror” (Bab 11) memberikan peringatan yang mengejutkan: “Resistance is Futile” jika dilakukan dengan logika mereka. Melawan platform dengan membuat platform tandingan, atau melawan kapitalisme pengawasan dengan membuat mata uang kripto sendiri, sering kali hanya memperkuat Mindset yang sama—mentalitas zero-sum, ekstraktif, dan berorientasi pelarian (The Mindset). Perlawanan yang paling efektif justru dengan menolak masuk ke dalam permainan logika biner mereka sama sekali.
Akhirnya, Rushkoff menyimpulkan dengan konsep “Cybernetic Karma” (Bab 12). Di sini, ia mengungkap keadilan poetik yang ironis: para elite yang membangun sistem untuk mengontrol nasib manusia justru “Hoisted by Their Own Petard”—terlontar oleh bom yang mereka pasang sendiri. Sistem yang mereka ciptakan—algoritma pasar, otomatisasi, logika kapitalis yang kejam—akhirnya berbalik mengancam kestabilan sosial yang menjadi dasar kemakmuran mereka sendiri. Mereka terjebak dalam lingkaran umpan balik yang mereka program, menjadi budak dari ketakutan akan kekacauan yang ditabur oleh sistem mereka. Karma sibernetik ini adalah hukum sebab-akibat dari sebuah dunia yang mengorbankan kompleksitas manusia demi efisiensi mesin.
Dengan demikian, Rushkoff merajut sebuah narasi yang mengalir dari alat, melalui visi, menuju proposal dunia baru, lalu ke jalan keluar yang keliru, dan berakhir pada karma yang tak terhindarkan. Ini adalah siklus tragis di mana mimpi untuk menjadi dewa-dewa pencipta terperangkap dalam logika mesin yang pada akhirnya mengingkari kemanusiaan—baik dari para subjeknya maupun para arsiteknya itu sendiri.
Buku ini mengakui dan memaparkan bahwa segala sesuatu kembali berulang. Ada pengakuan pola (Bab 13). Dalam “Pengakuan Pola” (Pattern Recognition), Rushkoff menutup narasinya dengan sebuah refleksi filosofis yang dalam, sekaligus membawa kita kembali ke titik awal. Bab ini berfungsi sebagai kesimpulan yang membawa benang merah dari seluruh analisisnya ke permukaan: “Everything Comes Back” — segala sesuatu berujung pada pertanyaan mendasar tentang nilai kemanusiaan, keberlanjutan, dan makna.
Rushkoff mengajak pembaca untuk melangkah keluar dari pusaran histeria teknologi dan kepanikan eksistensial para elite. Dia menawarkan pengakuan pola yang lebih bijak: bahwa sejarah manusia bukanlah garis lurus menuju singularitas atau kepunahan, melainkan sebuah siklus, spiral, atau jaringan yang kompleks. Obsesi untuk “keluar” dari tubuh, dari komunitas, dari planet, atau bahkan dari waktu itu sendiri—yang menjadi ciri The Mindset—adalah sebuah pengingkaran terhadap pola-pola alami kehidupan. Semua keinginan untuk melarikan diri itu, pada akhirnya, hanyalah pola lain dari ketakutan manusiawi yang abadi.
Dia mengontraskan mentalitas pelarian ini dengan apa yang seharusnya menjadi fokus kita: mengenali pola-pola yang membangun kehidupan. Ini berarti kembali kepada nilai-nilai yang sebenarnya berkelanjutan: solidaritas komunitas, ketahanan lokal, ekonomi yang melingkar (bukan ekstraktif), dan narasi bersama yang menumbuhkan, bukan yang membagi dan menguasai. Teknologi, dalam pandangan ini, seharusnya tidak menjadi alat untuk menguasai pola, tetapi untuk memperkuat pola-pola kooperatif yang sudah ada—untuk meningkatkan kapasitas kita merawat, berbagi, dan bertahan sebagai makhluk sosial yang terikat pada satu dunia.
Bab ini adalah sebuah seruan untuk berpindah dari mentalitas “survival of the richest” menuju “thriving of all“. Kembali kepada apa yang Rushkoff sebut sebagai “pro-social future“. Dengan kata lain, “segalanya kembali” kepada pilihan paling mendasar: apakah kita akan terus terobsesi pada peta digital dan skenario bunker yang memisahkan kita dari realitas, atau kita akan kembali ke teritori nyata kehidupan bersama—dengan semua kerentanannya, kompleksitasnya, dan keajaibannya yang tidak dapat diprogram.
Dari Pelarian Menuju Keterikatan
Dengan demikian, Bab 13 tidak sekadar penutup, melainkan kunci penafsiran untuk seluruh buku. Rushkoff menunjukkan bahwa semua mesin persuasif, visi ketuhanan teknokratis, proposal “reset” besar, dan perlawanan yang terjebak dalam logika yang sama, pada akhirnya adalah gejala dari satu pola yang salah: pola pelarian.
Solusi sejatinya bukanlah dalam membangun sistem yang lebih canggih untuk melarikan diri, tetapi dalam mengakui dan menerima pola keberadaan kita yang saling terhubung. “Everything Comes Back” adalah peringatan sekaligus penawar: karma sibernetik akan terus berdenyut selama kita melawan sifat dasar kita sebagai makhluk biologis dan sosial. Keselamatan—bukan dalam arti survivalistik—tetapi dalam arti kemakmuran yang sejati, justru terletak pada keputusan untuk berhenti melarikan diri dan mulai membangun kembali, dari dasar, dengan pola-pola yang menghidupkan, bukan yang mengekstraksi dan memisahkan. Masa depan bukanlah sesuatu yang harus kita taklukkan dengan teknologi, melainkan sesuatu yang harus kita temukan kembali dengan kebijaksanaan kuno yang dihidupkan dalam konteks baru.
Sebuah Peringatan dan Peta Jalan
Relevansi buku Rushkoff saat ini terasa sangat mendesak. Di tengah ledakan Kecerdasan Buatan, proyeksi kolonisasi Mars oleh swasta, dan pasar “kesiapan bertahan” (prepping) yang meroket, narasi pelarian teknokratis semakin kuat. Buku ini berfungsi sebagai kritik budaya yang pentingdan alat diagnostik sosial. Ini membantu kita memahami bahwa ketidakpuasan dan kecemasan kolektif kita bukanlah kecelakaan, tetapi hasil dari sistem yang sengaja dirancang untuk mengekstraksi nilai dengan mengorbankan kohesi sosial.
Buku ini juga relevan dengan wacana di kalangan intelektual Muslim kontemporer. Pemikir seperti Shaykh Abdal Hakim Murad (Timothy Winter) sering mengkritik “Modernity’s God”—kecenderungan untuk menempatkan teknologi dan kemajuan material sebagai pusat pemujaan baru, menggantikan hubungan transendental. Rushkoff, dari perspektif sekuler, sampai pada kesimpulan yang mirip: teknologi tanpa etika dan spiritualitas yang mendalam hanya akan memperbesar sifat egois manusia. Sebagaimana dikatakan penyair Wendell Berry, “We cannot save the land apart from the people; and we cannot save the people apart from the land.” Rushkoff memperluas ini: kita tidak dapat menyelamatkan manusia dengan melarikan diri dari manusia atau dari bumi itu sendiri.
Prospek yang ditawarkan buku ini adalah pilihan yang jelas: kita dapat terus mengejar “survival of the richest”—fantasi individualis yang akhirnya sunyi dan mandul—atau kita dapat beralih ke “thriving of all”, dengan membangun kembali ekonomi dan teknologi yang melayani kehidupan, bukan mengendalikannya. Masa depan tidak terletak pada lebih banyak disrupsi, tetapi pada lebih banyak pemulihan—pemulihan komunitas, kepercayaan, dan ekosistem. Rushkoff tidak menawarkan utopianisme naif, melainkan realisme yang berakar: keberlanjutan sejati dimulai dari pengakuan bahwa kita semua berada di perahu yang sama.
Survival of the Richest akhirnya bukan sekadar buku tentang miliarder yang aneh; ini adalah cermin yang dipegangkan ke wajah zaman kita. Ia menantang kita semua—apapun tingkat kekayaan kita—untuk memeriksa di mana kita mungkin telah mengadopsi sebagian dari The Mindset, lebih memilih pelarian virtual daripada keterlibatan yang sulit, dan solusi teknis daripada solusi manusiawi yang berbelit. Buku ini adalah seruan yang kuat untuk memilih keterikatan daripada pelarian, sebelum karma sibernetik kita semua jatuh tempo.
Catatan Akhir: Survival of the Richest dalam Cermin Zaman
“Survival of the Richest” Douglas Rushkoff adalah diagnosa brilian tentang epidemi pelarian di kalangan elite teknologi yang justru menjadi penyebab utama krisis yang mereka takuti. Buku ini mengungkap “The Mindset”—sebuah logika operasi yang melihat dunia sebagai platform yang dapat dioptimalkan, manusia sebagai bug yang perlu diperbaiki, dan realitas sebagai sesuatu yang dapat—dan harus—ditinggalkan. Dari mesin persuasif yang mengeksploitasi psikologi massa (Bab 8), visi ketuhanan teknokratis yang menyimpang dari Burning Man (Bab 9), hingga proposal “Great Reset” yang justru melanggengkan kapitalisme ekstraktif (Bab 10), Rushkoff melacak bagaimana fantasi pelarian ini meracuni imajinasi kolektif.
Puncak analisisnya terletak pada dua wawasan kunci: pertama, bahwa perlawanan sering terjebak dalam logika yang sama (“Resistance is Futile”, Bab 11), dan kedua, bahwa arsitek sistem ini akhirnya terjerat dalam “Cybernetic Karma” (Bab 12)—terluka oleh senjata yang mereka ciptakan sendiri. Buku ditutup dengan penegasan bahwa “Everything Comes Back” (Bab 13) pada kebutuhan manusiawi yang paling dasar: komunitas, keberlanjutan ekologis, dan makna yang ditemukan dalam keberadaan bersama, bukan dalam pelarian ke realitas virtual atau koloni luar angkasa.
Dunia 2024 membuktikan ramalan Rushkoff dengan kejelasan yang mengerikan. Ketika para miliarder teknologi bersaing dalam perlombaan antariksa swasta, mengembangkan AI yang semakin dalam menembus privasi dan otonomi manusia, atau membangun bunker bawah tanah mewah di Selandia Baru, mereka secara harfiah sedang mengoperasionalkan “The Mindset”. Sementara itu, krisis iklim, polarisasi politik, dan kecemasan kolektif—yang banyak diperburuk oleh platform yang mereka ciptakan—semakin menjadi.
Namun, karma sibernetik sedang bekerja. Elon Musk, sang visioner Mars, menyaksikan bagaimana platform X (Twitter) yang dia akuisisi justru menjadi amplifier ketidakstabilan sosial dan merusak nilai perusahaannya sendiri. Mark Zuckerberg, yang pernah bermimpi meng-hubungkan dunia, terpaksa berinvestasi miliaran dalam “metaverse” yang sepi karena masyarakat justru lelah dengan virtualitas dan lapar akan hubungan nyata. Para miliarder crypto menemukan bahwa decentralisasi yang mereka janjikan justru menciptakan pusat kekuatan baru yang rentan terhadap penipuan dan regulasi.
Di tengah ini, resistensi yang efektif justru muncul bukan dari teknologi tandingan, tetapi dari gerakan yang sepenuhnya menolak logika “The Mindset”: gerakan pekerja yang menuntut hak atas waktu dan upah yang adil di tengah automasi, komunitas lokal yang membangun ke-tahanan pangan dan energi terdesentralisasi, serta kesadaran kolektif yang menuntut regulasi etis atas teknologi eksploitatif.
Seperti dikatakan filsuf Byung-Chul Han, kita hidup di masyarakat “keletihan” yang dihasilkan oleh kapitalisme prestasi yang berlebihan—yang Rushkoff telusuri hingga ke mentalitas pelarian para penciptanya. Sementara itu, dalam tradisi Islam, konsep “amanah” (kepercayaan) dan “khalifah”(pemelihara) menekankan tanggung jawab manusia terhadap alam dan sesama, bukan dominasi atau pelarian darinya. Pemikir Muslim kontemporer seperti Dr. Umar Faruq Abd-Allah mengingatkan bahwa teknologi tanpa hikmah (kebijaksanaan) hanya akan menjadi alat kehancuran.
Buku ini bukan nubuat malapetaka, tetapi peta jalan keluar. Masa depan yang layak diperjuangkan bukanlah tentang melarikan diri dari Bumi, tetapi tentang berinvestasi kembali di dalamnya. Ini berarti menolak fantasi solusi teknokratis untuk masalah manusiawi dan ekologis, dan sebaliknya membangun ekonomi yang regeneratif, teknologi yang memperkuat—bukan menggantikan—ikatan manusia, dan politik yang berpusat pada keadilan, bukan pelarian.
Kita berada di persimpangan: melanjutkan siklus “survival of the richest” yang akhirnya akan menghancurkan semua, atau beralih ke “thriving of all” dengan menerima keterbatasan dan keajaiban keberadaan bersama kita di planet yang rapuh ini. Pilihannya, seperti diingatkan Rushkoff, bukan antara teknologi atau primitivisme, tetapi antara teknologi yang melayani kehidupan atau teknologi yang menjadi alat pelarian terakhir dari kehidupan itu sendiri.
“Masalahnya bukan bahwa mereka membayangkan akhir dunia. Masalahnya adalah bahwa mereka tidak dapat membayangkan akhir kapitalisme.” — Douglas Rushkoff, dalam wawancara terkait buku ini.
Inilah inti refleksi kita hari ini: krisis terbesar bukanlah krisis teknologi atau ekologi, melainkan krisis imajinasi. Tugas terpenting zaman kita adalah merebut kembali imajinasi tentang masa depan dari para pelarian, dan mengisinya kembali dengan visi tentang pemulihan, perawatan, dan kehidupan bersama yang berkelanjutan.
Bogor, 1 Februari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Rushkoff, D. (2022). Survival of the richest: Escape fantasies of the tech billionaires. W. W. Norton & Company.
Ibn Khaldun (1377). Al-Muqaddimah (F. Rosenthal, Trans.). Diskusi tentang ‘asabiyyah (solidaritas kelompok) sebagai fondasi peradaban.
Berry, W. (1991). Out of your car, off your horse. Dalam What Are People For? North Point Press. (Kutipan tentang tanah dan manusia).
Murad, A. H. (Timothy Winter) (2019). Islamic Psychology: The Basics. Diskusi tentang tantangan modernitas terhadap jiwa manusia dalam konteks Islam.
Catatan: Kutipan langsung dari buku Rushkoff (halaman 7) diambil dari edisi cetak buku tersebut. Untuk referensi akademis lebih lanjut tentang topik terkait, lihat karya:
- Zuboff, S. (2019). The age of surveillance capitalism. PublicAffairs. (Tentang Persuasive Tech dan ekonomi perhatian).
- Klein, N. (2021). This changes everything: Capitalism vs. the climate. Simon & Schuster. (Tentang narasi “Great Reset” dan kapitalisme bencana).






