Rubarubu #56
Strategic Marketing Planning :
Sebuah Narasi Transformasi
Kebangkitan Sebuah Usaha Kecil
Di jantung Jakarta, seorang pengusaha muda bernama Maya menghadapi dilema yang semakin membesar. Perusahaan fashion sustainable-nya yang menggunakan bahan daur ulang ternyata kesulitan menemukan pasar yang tepat. Produk-produk ramah lingkungannya justru kalah bersaing dengan merek fast fashion yang harga lebih murah. Suatu sore, sambil menatap tumpukan produk tidak laku, ia menemukan buku “Strategic Marketing Planning” karya Karel Jan Alsem. Halaman pembuka buku itu menyentak kesadarannya: “Marketing is no longer about selling what we make, but about making what we can sell in a way that creates sustainable value for all stakeholders” (Alsem, 2024, p. 3). Kalimat ini menjadi titik balik perjalanan bisnis Maya menuju transformasi pemasaran yang sesungguhnya.
Pemasaran di Tengah Landscape yang Berubah
Buku Alsem membuka dengan analisis mendalam tentang perubahan landscape pemasaran yang terjadi secara global. Dalam bagian “The Changing Landscape of Marketing,” penulis menggambarkan bagaimana pemasaran telah berevolusi dari aktivitas transaksional sederhana menuju ekosistem yang kompleks dan saling terhubung. Alsem mengidentifikasi berbagai jenis tren yang membentuk wajah pemasaran modern, mulai dari tren mikro yang mempengaruhi industri spesifik hingga tren makro yang mengubah paradigma bisnis secara keseluruhan.
Perilaku online dan pemasaran digital telah menciptakan revolusi dalam cara perusahaan berinteraksi dengan konsumen. Alsem mencatat bahwa “the digital landscape has not only changed how we reach consumers, but fundamentally altered how consumers discover, evaluate, and commit to brands” (Alsem, 2024, p. 4). Namun, penulis juga mengingatkan bahwa di balik semua teknologi dan platform digital, esensi pemasaran tetap tentang memahami dan memenuhi kebutuhan manusia.
Konsep “marketing spiral” yang diperkenalkan Alsem memberikan kerangka untuk memahami dinamika siklus pemasaran yang terus berputar dan berkembang. Berbeda dengan konsep linear tradisional, marketing spiral menggambarkan bagaimana setiap interaksi dengan konsumen menciptakan peluang untuk pembelajaran dan peningkatan yang berkelanjutan. Ini mengingatkan pada filosofi bisnis Konfusius: “Life is really simple, but we insist on making it complicated” – sebuah pengingat bahwa di tengah kompleksitas pemasaran modern, esensi hubungan manusia tetap sederhana dan fundamental.
Salah satu insight paling menarik dari buku ini adalah pembahasan tentang “the unconscious consumer and the role of emotion.” Alsem berargumen bahwa “up to 95% of purchasing decisions are made unconsciously, driven by emotional triggers rather than rational calculation” (Alsem, 2024, p. 8). Temuan ini memiliki implikasi mendalam bagi praktik pemasaran, terutama dalam konteks sustainability dimana nilai-nilai emosional dan identitas personal memainkan peran kunci.
Penyair dan filsuf Khalil Gibran pernah menulis: “Reason and passion are the rudder and the sails of the seafaring soul.” Kutipan ini menggema dalam analisis Alsem tentang keseimbangan antara pendekatan rasional dan emosional dalam pemasaran. Untuk produk dan layanan sustainability, dimensi emosional menjadi semakin kritis karena menyentuh nilai-nilai dasar dan identitas konsumen.
Sustainability sebagai Tren Fundamental
Bab tentang sustainability dalam buku ini memberikan perspektif komprehensif tentang bagaimana isu keberlanjutan telah bergeser dari niche menengah arus utama. Alsem me-nunjukkan bahwa “sustainability is no longer a competitive advantage, but a prerequisite for doing business in the 21st century” (Alsem, 2024, p. 10). Pernyataan ini sangat relevan dengan konteks Indonesia, dimana kesadaran sustainability sedang tumbuh pesat namun implementasinya masih menghadapi banyak tantangan.
Dalam konteks Remark Asia sebagai konsultan sustainability, pandangan Alsem tentang “sustainability as core business strategy” memberikan landasan teoretis yang kuat. Pendekatan pemasaran yang mengintegrasikan sustainability bukan sebagai tambahan, melainkan sebagai DNA bisnis, sejalan dengan visi Remark Asia dalam membantu klien bertransformasi menuju model bisnis yang berkelanjutan.
Evolusi Konsep Pemasaran: Dari 1.0 hingga 3.0
Bagian paling fundamental dari bab ini adalah pembahasan tentang evolusi konsep pemasaran dari Marketing 1.0 hingga Marketing 3.0. Alsem menggambarkan Marketing 1.0 sebagai era yang berfokus pada kebutuhan pelanggan dan kompetisi, dimana “the primary goal was to satisfy customer needs more effectively than competitors” (Alsem, 2024, p. 15). Marketing 2.0 menandai pergeseran menuju dimensi emosional, hubungan, pengalaman, dan merek. Dalam fase ini, Alsem menekankan bahwa “brands became living entities that consumers form relationships with, rather than just providers of products and services” (Alsem, 2024, p. 16). Konsep ini sangat relevan dengan praktik pemasaran sustainability, dimana membangun hubungan emosional dengan konsumen yang peduli lingkungan menjadi kunci sukses.
Marketing 3.0 merepresentasikan evolusi terbaru dimana pemasaran mencakup masyarakat dan kelompok kepentingan lainnya. Alsem berargumen bahwa “in Marketing 3.0, companies must balance the interests of multiple stakeholders, including society and the environment” (Alsem, 2024, p. 21). Pendekatan ini sejalan dengan filosofi “triple bottom line” yang menekankan keseimbangan antara people, planet, dan profit.
Aktivis lingkungan dan pemikir muslim Fazlun Khalid pernah mengatakan: “We are the trustees of this planet, and our business practices should reflect that sacred trust.” Pandangan ini menguatkan konsep Marketing 3.0 yang diuraikan Alsem, dimana bisnis memiliki tanggung jawab tidak hanya kepada pemegang saham, tetapi juga kepada masyarakat dan planet.
Pemasaran dalam Organisasi: Integrasi dan Transformasi
Bab ini ditutup dengan pembahasan mendalam tentang peran pemasaran dalam organisasi. Alsem menganalisis hubungan antara fungsi pemasaran dengan fungsi organisasi lainnya, menunjukkan bagaimana pemasaran yang efektif membutuhkan integrasi yang erat dengan operasi, SDM, keuangan, dan fungsi strategis lainnya.
Berbagai bentuk pemasaran diorganisasikan dibahas secara komprehensif, dari struktur fungsional tradisional hingga model yang lebih agile dan cross-functional. Alsem menekankan bahwa “the organizational structure for marketing must enable rather than constrain the company’s ability to respond to market changes and create customer value” (Alsem, 2024, p. 23).
Proses Perencanaan Pemasaran Strategis – Sebuah Seni dan Sains
Kita belajar dari Disneyland Paris untuk memahami proses perencanaan pemasaran strategis. Di balik gemerlapnya kastil Disneyland Paris, tersembunyi sebuah kisah tentang transformasi strategis. Ketika pertama kali dibuka, taman hiburan ini menghadapi tantangan budaya yang tidak terduga. Pengunjung Eropa kontinental ternyata memiliki ekspektasi berbeda dari pengunjung Amerika. Melalui proses perencanaan pemasaran strategis yang mendalam, Disney melakukan repositioning dengan memasukkan unsur-unsur budaya Eropa ke dalam pengalam-an Disney yang klasik. Kisah sukses ini, seperti diungkapkan Alsem, menunjukkan bahwa “perencanaan pemasaran strategis yang efektif harus mampu mengintegrasikan analisis lingkungan yang mendalam dengan kreativitas dalam eksekusi” (Alsem, 2024, p. 31).
Alsem memetakan hierarki keputusan pemasaran dengan presisi seorang kartografer yang menggambar peta multi-dimensi. Pada tingkat perusahaan, keputusan strategis dibuat yang menentukan arah dan nilai inti organisasi. Ini adalah domain dimana visi dan misi perusahaan dirumuskan, menentukan DNA organisasi yang akan memandu semua keputusan di tingkat bawahnya.
Pada tingkat divisi dan Unit Bisnis Strategis (SBU), keputusan menjadi lebih spesifik namun tetap strategis. Setiap SBU beroperasi seperti kapal yang memiliki kaptennya sendiri, tetapi semua masih berlayar dalam armada yang sama menuju tujuan bersama. Alsem menekankan bahwa “koordinasi antar SBU seringkali menjadi penentu kesuksesan dalam implementasi strategi pemasaran yang terintegrasi” (Alsem, 2024, p. 32).
Tingkat produk dan bauran pemasaran adalah dimana strategi diubah menjadi taktik yang konkret. Di sinilah keputusan tentang produk, harga, distribusi, dan promosi dibuat. Namun, Alsem mengingatkan bahwa “keempat P dalam bauran pemasaran harus dilihat sebagai sistem yang terintegrasi, bukan elemen yang terpisah” (Alsem, 2024, p. 33).
Posisi merek menjadi fondasi yang menghubungkan semua tingkat keputusan. Seperti yang pernah dikatakan Steve Jobs: “Marketing is about values. It’s a very noisy world, so we have to be very clear about what we want them to know about us.” Pernyataan ini menggema dalam analisis Alsem tentang pentingnya konsistensi posisi merek di semua tingkat organisasi.
Keputusan Strategis, Taktis, dan Operasional
Alsem membedakan dengan jelas tiga jenis keputusan dalam organisasi. Keputusan strategis bersifat jangka panjang dan menentukan arah fundamental perusahaan. Keputusan taktis menerjemahkan strategi menjadi aksi jangka menengah, sementara keputusan operasional berkaitan dengan implementasi harian. “Ketiga jenis keputusan ini harus selaras seperti orchestra yang dimainkan dengan harmonis” (Alsem, 2024, p. 34).
Inti Strategi Pemasaran
Strategi Korporat: Arah Pertumbuhan dan Strategi Nilai
Pada intinya, strategi pemasaran tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan turunan dari strategi korporat. Alsem menjelaskan bahwa “strategi korporat menentukan arah pertumbuhan dan strategi nilai yang akan menciptakan keunggulan kompetitif berkelanjutan” (Alsem, 2024, p. 35). Dalam konteks sustainability, strategi nilai ini semakin mencakup tidak hanya nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial dan lingkungan.
Strategi Pemasaran: Kelompok Sasaran dan Positioning
Strategi pemasaran itu sendiri berpusat pada dua keputusan fundamental: memilih kelompok sasaran dan menentukan positioning. Alsem berargumen bahwa “keberhasilan strategi pemasaran sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk memilih segmen yang tepat dan menempati posisi yang unik dan bermakna dalam benak konsumen segmen tersebut” (Alsem, 2024, p. 36). Filsuf Tiongkok kuno Sun Tzu dalam “The Art of War” pernah mengatakan: “Tactics without strategy is the noise before defeat.” Kebijaksanaan ini tercermin dalam penekanan Alsem pada pentingnya positioning strategis sebelum melaksanakan taktik pemasaran.
Isi Proses Perencanaan Pemasaran Strategis
Pentingnya Analisis Lingkungan
Alsem menempatkan analisis lingkungan sebagai fondasi proses perencanaan. “Tanpa pemahaman yang mendalam tentang lingkungan eksternal dan internal, perencanaan pemasaran bagaikan berlayar tanpa peta dan kompas” (Alsem, 2024, p. 37). Analisis ini mencakup tidak hanya tren pasar dan kompetisi, tetapi juga faktor makroekonomi, teknologi, sosial, dan regulasi. Dalam konteks Indonesia, analisis lingkungan menjadi semakin kompleks namun kritis. Dinamika demografis, keragaman budaya, dan perkembangan regulasi sustainability menuntut pendekatan analisis yang komprehensif dan kontekstual.
Gambaran Umum Proses
Proses perencanaan pemasaran strategis digambarkan Alsem sebagai siklus yang berkelanjutan, bukan aktivitas linear sekali waktu. Proses ini dimulai dengan analisis situasi, diikuti oleh perumusan strategi, pengembangan rencana implementasi, dan diakhiri dengan evaluasi dan umpan balik. “Proses perencanaan yang efektif bersifat iteratif dan adaptif, mampu merespons perubahan lingkungan yang cepat” (Alsem, 2024, p. 42). Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks sustainability dimana regulasi, teknologi, dan ekspektasi konsumen terus berkembang dengan cepat.
Deskripsi Fase-Fase
Alsem membagi proses perencanaan menjadi fase-fase yang jelas namun fleksibel. Fase analisis mencakup audit pemasaran, analisis SWOT, dan identifikasi isu strategis. Fase perumusan strategi meliputi penetapan tujuan, seleksi segmen, dan positioning. Fase implementasi mengubah strategi menjadi program aksi yang konkret, sementara fase kontrol memastikan pelaksanaan sesuai rencana. Cendekiawan muslim Al-Ghazali dalam “Ihya Ulumuddin” menekankan pentingnya niat dan perencanaan: “Niat yang baik harus diikuti dengan perencanaan yang matang dan eksekusi yang disiplin.” Prinsip ini selaras dengan pendekatan Alsem yang menekankan integritas antara perencanaan dan implementasi.
Sifat Proses Perencanaan
Proses perencanaan pemasaran strategis digambarkan memiliki beberapa sifat kunci: partisipatif, berorientasi masa depan, sistematis, dan berkelanjutan. “Proses perencanaan bukan sekadar menghasilkan dokumen, tetapi menciptakan pemahaman bersama dan komitmen terhadap strategi” (Alsem, 2024, p. 48).
Struktur Rencana Pemasaran
Alsem memberikan kerangka komprehensif untuk menyusun rencana pemasaran yang efektif. Rencana yang baik mencakup executive summary, analisis situasi, tujuan pemasaran, strategi pemasaran, program aksi, anggaran, dan sistem kontrol. “Rencana pemasaran yang efektik tidak hanya menjelaskan apa yang akan dilakukan, tetapi juga mengapa hal tersebut dilakukan, bagaimana melakukannya, dan bagaimana mengukur keberhasilannya” (Alsem, 2024, p. 48). Pendekatan ini sangat relevan untuk bisnis sustainability dimana accountability dan measurable impact menjadi semakin penting.
Relevansi dengan Bisnis Sustainability
Dalam konteks sustainability, proses perencanaan pemasaran strategis menjadi alat kritis untuk mengintegrasikan pertimbangan lingkungan dan sosial ke dalam strategi bisnis inti. Bagi Remark Asia, kerangka Alsem memberikan fondasi untuk membantu klien mengembangkan strategi pemasaran yang tidak hanya profitable, tetapi juga responsible. Proses analisis lingkungan yang komprehensif memungkinkan identifikasi peluang sustainability yang mungkin terlewatkan dalam pendekatan tradisional. Pemahaman mendalam tentang kelompok sasaran membantu mengidentifikasi konsumen yang semakin peduli sustainability dan merancang positioning yang sesuai.
Kesimpulan: Seni dan Sains Perencanaan Strategis
Seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman Disneyland Paris, keberhasilan pemasaran mem-butuhkan kombinasi antara seni kreativitas dan sains analitis. Alsem berhasil menunjukkan bahwa “perencanaan pemasaran strategis adalah disiplin yang memadukan analisis rasional dengan intuisi kreatif, data keras dengan pemahaman manusia” (Alsem, 2024, p. 53). Dalam dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung, pendekatan terstruktur namun fleksibel yang diusung Alsem menjadi semakin relevan. Bagi pelaku bisnis sustainability di Indonesia, kerangka ini memberikan panduan untuk mengembangkan strategi pemasaran yang mampu menciptakan nilai berkelanjutan bagi semua pemangku kepentingan.
Misi, Nilai Pelanggan, dan Definisi Pasar – Fondasi Strategis yang Terlupakan
Di sebuah sudut terpencil Bali, seorang petani kopi bernama Wayan menyadari sesuatu yang mendasar. Wayan mengubah ketika kopi bukan sekedar buah di kebun tetapi menjadi sebuah pengalaman. Selama bertahun-tahun, ia hanya menjual biji kopi sebagai komoditas dengan harga yang ditentukan tengkulak. Suatu hari, ia mengamati turis asing yang rela membayar mahal untuk secangkir kopi di kafe mewah, bukan karena rasanya yang luar biasa, tetapi karena cerita di balik setiap tegukan. Wayan pun berubah. Ia mulai menceritakan tentang filosofi Tri Hita Karana dalam bertani, tentang kearifan lokal dalam memetik biji kopi di ketinggian tertentu, dan tentang hubungan harmonis dengan alam. Dalam sekejap, kopinya tidak lagi sekadar minuman, tetapi menjadi “pengalaman” yang bernilai lebih tinggi. Transformasi Wayan ini mengilustrasikan konsep sentral dalam bab 3 buku Alsem: “In today’s market, products don’t compete with products; experiences compete with experiences, and values compete with values” (Alsem, 2024, p. 61).
Mengembangkan Visi yang Berorientasi Pelanggan
Marketing sebagai bagian penting organisasi juga harus mempunyai fungsi misi dalam organisasi. Mendukung Visi korporasi. Alsem memulai dengan penjelasan mendalam tentang fungsi misi dalam organisasi. Misi bukan sekadar pernyataan kosmetik yang menghiasi dinding kantor, melainkan “kompas moral yang menuntun setiap keputusan dan tindakan dalam organisasi” (Alsem, 2024, p. 62). Misi yang efektik berfungsi sebagai sumber inspirasi, alat koordinasi, dan dasar evaluasi kinerja. Dalam konteks sustainability, misi mengambil peran yang semakin kritis. Alsem mencatat bahwa “perusahaan dengan misi sustainability yang jelas tidak hanya lebih mampu menarik talenta terbaik, tetapi juga membangun loyalitas pelanggan yang lebih dalam” (Alsem, 2024, p. 63). Hal ini terlihat dalam kesuksesan perusahaan seperti Patagonia, yang misi lingkungannya menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang peduli.
Dua Jenis Misi dan Sustainability
Alsem membedakan dua jenis misi: misi berorientasi pasar dan misi berorientasi sumber daya. Misi berorientasi pasar berfokus pada kebutuhan pelanggan yang akan dipuaskan, sementara misi berorientasi sumber daya menekankan kompetensi unik yang dimiliki perusahaan. “Perusahaan paling sukses adalah yang mampu menyelaraskan kedua jenis misi ini” (Alsem, 2024, p. 64). Dalam konteks sustainability, penyelarasan ini menjadi semakin penting. Seorang pemikir muslim kontemporer, Dr. Umar Chapra, pernah mengatakan: “Business success in the 21st century will belong to those who can align profit with purpose, and efficiency with ethics.” Pandangan ini menggema dalam analisis Alsem tentang pentingnya integrasi sustainability dalam misi perusahaan.
Visi Perusahaan
Visi perusahaan, menurut Alsem, adalah “gambaran masa depan yang ingin diwujudkan, yang memberikan arah dan makna bagi perjalanan organisasi” (Alsem, 2024, p. 65). Visi yang kuat tidak hanya aspirasional, tetapi juga achievable dan relevant dengan nilai-nilai stakeholders.
Nilai Pelanggan: Esensi Persaingan Modern
Apa Itu Nilai Pelanggan? Alsem mendefinisikan nilai pelanggan sebagai “persepsi pelanggan tentang manfaat relatif yang mereka terima dibandingkan dengan pengorbanan yang mereka berikan” (Alsem, 2024, p. 66). Namun, penekanannya adalah pada kata “persepsi” – nilai bersifat subjektif dan kontekstual, sangat dipengaruhi oleh emosi, pengalaman, dan nilai-nilai personal. Dalam bisnis sustainability, dimensi nilai ini menjadi semakin kompleks. Konsumen tidak hanya mencari manfaat fungsional, tetapi juga kepuasan emosional dan spiritual dari membeli produk yang ramah lingkungan dan sosial. Seperti yang dialami Wayan dengan kopinya, “nilai tidak lagi melekat pada produk, tetapi pada makna dan pengalaman yang menyertainya” (Alsem, 2024, p. 67).
The Brand Benefitting Model
Model ini memperkenalkan pendekatan struktural untuk menganalisis bagaimana merek memberikan manfaat kepada konsumen. Alsem mengidentifikasi berbagai tingkat manfaat, dari yang fungsional hingga yang transformasional. “Merek yang sukses adalah yang mampu memberikan manfaat pada multiple levels, menciptakan ikatan emosional yang mendalam dengan konsumen” (Alsem, 2024, p. 68).
Strategi Nilai Treacy dan Wiersema
Alsem menguraikan tiga disiplin nilai dari Treacy dan Wiersema: operational excellence, product leadership, dan customer intimacy. Setiap perusahaan, menurutnya, harus unggul dalam satu disiplin while maintaining threshold standards in the other two. “Pilihan disiplin nilai ini akan menentukan seluruh strategi dan operasi perusahaan” (Alsem, 2024, p. 69).
Dalam konteks sustainability, ketiga disiplin ini mendapatkan dimensi baru. Operational excellence tidak hanya tentang efisiensi biaya, tetapi juga efisiensi sumber daya. Product leadership mencakup inovasi berkelanjutan, sementara customer intimacy meluas menjadi hubungan yang transparan dan etis dengan pelanggan.
Format Porter dan Kesimpulan tentang Klasifikasi
Alsem juga membahas framework competitive advantage dari Michael Porter, yang membeda-kan antara cost leadership, differentiation, dan focus. Namun, penulis memberikan kritik konstruktif bahwa “dalam praktik, batas-batas antara berbagai klasifikasi strategi nilai ini seringkali kabur, dan perusahaan sukses biasanya menciptakan kombinasi unik dari berbagai elemen” (Alsem, 2024, p. 73).
Definisi Pasar: Seni Melihat yang Tak Terlihat
Definisi Pasar di Tingkat SBU. Definisi pasar, menurut Alsem, adalah “seni melihat batas-batas yang tidak terlihat, memahami siapa sebenarnya pesaing kita, dan mengidentifikasi peluang yang tersembunyi” (Alsem, 2024, p. 74). Pada tingkat SBU, definisi pasar harus cukup luas untuk mencakup semua alternatif yang dipertimbangkan konsumen, tetapi cukup sempit untuk memungkinkan fokus strategis.
Definisi Pasar di Tingkat Produk-Merek
Pada tingkat yang lebih granular, definisi pasar membantu dalam positioning dan diferensiasi. Alsem menekankan bahwa “definisi pasar yang tepat memungkinkan perusahaan meng-identifikasi celah peluang yang tidak terlihat oleh pesaing” (Alsem, 2024, p. 76).
Definisi Pasar dan Aktivitas Baru
Bagian yang sangat relevan untuk inovasi sustainability adalah pembahasan tentang definisi pasar untuk aktivitas baru. Alsem menunjukkan bahwa “banyak inovasi sustainability gagal karena perusahaan mendefinisikan pasar terlalu sempit atau terlalu luas, atau karena mereka terjebak dalam mentalitas pasar tradisional” (Alsem, 2024, p. 77).
Pentingnya dan Bahaya Definisi Pasar
Alsem mengingatkan bahwa definisi pasar adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, “definisi yang tepat dapat membuka peluang luar biasa” (Alsem, 2024, p. 80). Di sisi lain, definisi yang salah dapat membutakan perusahaan terhadap ancaman disruptif dan peluang inovasi.
Filsuf Prancis Marcel Proust pernah mengatakan: “The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.” Kutipan ini menggambarkan esensi dari definisi pasar menurut Alsem – yang terpenting bukan data yang kita kumpulkan, tetapi lensa yang kita gunakan untuk menafsirkannya.
Relevansi dengan Remark Asia dan Bisnis Sustainability
Bagi Remark Asia, bab ini memberikan fondasi konseptual yang kuat untuk membantu klien mengembangkan positioning sustainability yang efektif. Pemahaman tentang nilai pelanggan memungkinkan penyusuan proposisi nilai yang resonant dengan konsumen modern yang semakin peduli sustainability. Definisi pasar yang tepat juga kritis untuk mengidentifikasi peluang sustainability yang mungkin terlewatkan dalam pendekatan tradisional. Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini memungkinkan pengembangan solusi sustainability yang kontekstual dan culturally appropriate.
Kesimpulan: Dari Kopi ke Pengalaman
Kisah Wayan dan kopinya mengajarkan pelajaran mendalam tentang evolusi nilai dalam bisnis. Seperti yang disimpulkan Alsem: “Dalam ekonomi modern, sukses tidak datang dari menjual apa yang kita buat, tetapi dari menciptakan nilai yang membuat pelanggan ingin membeli apa yang kita jual” (Alsem, 2024, p. 81).
Bagi pelaku bisnis sustainability, pelajaran ini semakin relevan. Konsumen tidak hanya membeli produk ramah lingkungan; mereka membeli identitas sebagai konsumen yang bertanggung jawab, harapan untuk masa depan yang lebih baik, dan perasaan menjadi bagian dari solusi. Memahami dan memanfaatkan dinamika nilai inilah yang akan menentukan sukses tidaknya strategi sustainability dalam jangka panjang.
Analisis Pelanggan – Memahami Jiwa Pasar
Mari kita melihat apa yang terjadi dengan transformasi Kia di Inggris – dari ‘budget’ ke premium. Ketika Kia pertama kali memasuki pasar Inggris, merek ini terjebak dalam image “mobil budget” – andal namun tanpa daya tarik emosional. Melalui analisis pelanggan yang mendalam, Kia menemukan sesuatu yang mengejutkan: konsumen Inggris sebenarnya menginginkan reliabilitas teknis Asia dengan desain dan pengalaman Eropa. Transformasi dimulai dengan menggeser fokus dari sekadar menjual mobil menuju menawarkan “ketenangan pikiran” dan “pengalaman kepemilikan yang premium.” Hasilnya? Kia berhasil meningkatkan perceived value hingga 40% dalam lima tahun. Kisah sukses ini, seperti dijelaskan Alsem, menunjukkan bahwa “analisis pelanggan yang efektif tidak hanya mengungkap apa yang dibeli pelanggan, tetapi mengapa mereka membeli, dan yang lebih penting – mengapa mereka tidak membeli” (Alsem, 2024, p. 113).
Tujuan Analisis Pelanggan: Lebih Dalam dari Angka
Memahami Bukan Sekadar Mengukur. Alsem membuka diskusi ini dengan penekanan bahwa tujuan analisis pelanggan melampaui sekadar pengumpulan data. “Analisis pelanggan yang bermakna adalah tentang memahami jiwa pasar – motivasi tersembunyi, ketakutan yang tidak terucap, dan aspirasi yang belum terpenuhi” (Alsem, 2024, p. 114). Dalam konteks sustain-ability, pendekatan ini menjadi semakin kritis karena menyentuh nilai-nilai dasar dan identitas konsumen. Bagi Remark Asia, pemahaman ini memberikan landasan untuk mem-bantu klien mengembangkan solusi sustainability yang benar-benar resonant dengan kebutuh-an dan nilai-nilai konsumen Indonesia. Seperti dikatakan seorang filsuf Yunani kuno: “The hardest thing in life is to know yourself” – dan dalam pemasaran, mengetahui diri pelanggan adalah tantangan yang sama besarnya.
Penelitian Segmentasi: Seni Membagi yang Tak Terbagi
Persyaratan Segmentasi yang Efektif. Alsem menguraikan persyaratan untuk segmentasi yang efektif: dapat diukur, dapat diakses, cukup besar, dapat dibedakan, dan dapat ditindaklanjuti. Namun, penulis menambahkan dimensi sustainability: “Segmentasi modern harus mempertim-bangkan tidak hanya daya beli konsumen, tetapi juga nilai-nilai dan gaya hidup berkelanjutan mereka” (Alsem, 2024, p. 116).
Langkah dan Metode Segmentasi
Proses segmentasi digambarkan sebagai perjalanan bertahap dari yang makro ke mikro. Alsem menjelaskan berbagai metode, dari segmentasi geografis dan demografis yang tradisional hingga pendekatan perilaku dan psikografis yang lebih canggih. “Segmentasi yang paling powerful adalah yang mampu mengidentifikasi kelompok berdasarkan nilai-nilai inti dan gaya hidup, karena ini paling stabil dalam jangka panjang” (Alsem, 2024, p. 118).
Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini memungkinkan identifikasi segmen seperti “eco-conscious urbanites” atau “sustainability aspirationals” yang mungkin terlewatkan dalam segmentasi tradisional.
Model Perilaku Konsumen: Memetakan Pikiran yang Tak Terlihat
Model Perilaku Konsumen Standar. Alsem mempresentasikan model perilaku konsumen standar yang menggambarkan proses pengambilan keputusan dari pengenalan kebutuhan hingga evaluasi pasca-pembelian. Namun, penulis mengingatkan bahwa “model ini seringkali terlalu rasional untuk menangkap kompleksitas sebenarnya dari pengambilan keputusan konsumen” (Alsem, 2024, p. 122).
Model Sikap Multi-Attribut dan Means-End Chain
Model means-end chain khususnya relevan untuk pemasaran sustainability, karena membantu memahami bagaimana atribut produk (seperti “bahan daur ulang”) terkait dengan konsekuensi (“ramah lingkungan”) dan akhirnya dengan nilai-nilai pribadi (“menjadi orang yang bertanggung jawab”). “Pemasar sustainability yang efektik adalah yang mampu menghubungkan atribut produk dengan nilai-nilai konsumen yang lebih dalam” (Alsem, 2024, p. 124).
Model SERVQUAL
Model SERVQUAL yang mengukur kualitas layanan melalui lima dimensi – reliability, responsive-ness, assurance, empathy, dan tangibles – mendapatkan dimensi baru dalam konteks sustain-ability. Alsem mencatat bahwa “bagi konsumen yang peduli sustainability, ‘assurance’ sekarang termasuk jaminan bahwa produk dibuat secara etis dan ramah lingkungan” (Alsem, 2024, p. 125).
Mengukur Persepsi dan Asosiasi: Seni Mendengarkan yang Tak Terucap
Metode Kualitatif dan Kuantitatif. Alsem membahas berbagai metode untuk mengukur persepsi, dari wawancara mendalam dan focus group yang kualitatif hingga survei skala Likert yang kuantitatif. “Metode kualitatif mengungkap ‘mengapa’ di balik ‘apa’, sementara metode kuantitatif memvalidasi temuan ke tingkat populasi yang lebih luas” (Alsem, 2024, p. 130).
Pemetaan Persepsi
Pemetaan persepsi (perceptual mapping) digambarkan sebagai alat powerful untuk mem-visualisasikan posisi kompetitif. Dalam konteks sustainability, alat ini dapat mengungkap celah peluang untuk positioning “hijau” yang belum terisi oleh pesaing.
Mengukur Kekuatan Merek: Dari Ekuitas hingga Advokasi
Brand Equity Pyramid. Model Brand Equity Pyramid dari Keller membantu memahami bagaimana ekuitas merek dibangun dari dasar pengenalan hingga puncak hubungan yang mendalam. Untuk merek sustainability, “puncak piramida ini tidak hanya tentang loyalitas, tetapi tentang shared values dan purpose”(Alsem, 2024, p. 137).
Net Promoter Score (NPS)
NPS, meskipun populer, mendapat kritik konstruktif dari Alsem: “NPS mengukur ‘apakah’ pelanggan akan merekomendasikan, tetapi tidak ‘mengapa’ – dan dalam konteks sustainability, ‘mengapa’ ini justru yang paling kritis” (Alsem, 2024, p. 138).
Data Pelanggan Individual: Era Personalisasi
Kemungkinan Data Online. Dalam era digital, data pelanggan individual membuka peluang untuk personalisasi yang sebelumnya tidak mungkin. Namun, Alsem mengingatkan: “personalization tanpa purpose adalah gangguan, bukan nilai” (Alsem, 2024, p. 142).
Pemetaan Perjalanan Pelanggan dan Neuromarketing
Pemetaan perjalanan pelanggan (customer journey mapping) membantu memahami pengalam-an pelanggan secara holistik, sementara neuromarketing mengungkap respons bawah sadar yang tidak dapat diakses melalui metode tradisional. Untuk pemasaran sustainability, “neuro-marketing dapat mengungkap apakah klaim sustainability benar-benar mempengaruhi persepsi bawah sadar konsumen” (Alsem, 2024, p. 149).
Tips dan Jebakan Penelitian Primer
Alsem memberikan panduan praktis untuk menghindari jebakan umum dalam penelitian pelanggan. “Kesalahan paling umum adalah bertanya kepada pelanggan tentang masa depan, padahal pelanggan hanya dapat memberikan opini tentang masa lalu dan sekarang” (Alsem, 2024, p. 145).
Relevansi dengan Bisnis Sustainability
Bagi Remark Asia, bab ini memberikan toolkit lengkap untuk membantu klien memahami konsumen sustainability Indonesia yang kompleks dan berkembang. Pemahaman tentang means-end chain khususnya penting untuk mengembangkan komunikasi sustainability yang resonant tidak hanya pada tingkat fungsional, tetapi juga emosional dan spiritual. Dalam konteks Indonesia yang beragam, kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif menjadi kritis untuk menangkap nuansa budaya dan nilai-nilai lokal yang mempengaruhi adopsi sustainability.
Kesimpulan: Dari Budget ke Premium
Kisah transformasi Kia mengajarkan bahwa memahami pelanggan adalah dasar dari trans-formasi nilai. Seperti yang disimpulkan Alsem: “Analisis pelanggan yang efektif mengubah data menjadi insight, insight menjadi strategy, dan strategy menjadi value creation yang unggul” (Alsem, 2024, p. 151). Dalam konteks sustainability, proses ini menjadi semakin penting namun juga semakin kompleks. Konsumen sustainability seringkali memiliki “attitude-behavior gap” – mereka peduli lingkungan dalam sikap tetapi tidak selalu dalam tindakan. Memahami dan mengatasi gap inilah yang akan menentukan sukses tidaknya strategi pemasaran sustainability dalam dekade mendatang.
Tujuan Pemasaran dan Strategi Merek – Dari Visi ke Posisi Nyata
Vorsprung durch Teknik – Ketika Slogan Menjadi Jiwa. Di awal 1980-an, Audi menghadapi krisis identitas. Merek Jerman ini terjebak di antara Mercedes-Benz yang mewah dan BMW yang sporty. Melalui proses positioning yang cermat, mereka meluncurkan slogan “Vorsprung durch Technik” (Keunggulan melalui Teknologi). Ini bukan sekadar slogan, melainkan janji positioning yang diwujudkan dalam setiap inovasi – dari quattro all-wheel drive hingga rangka aluminium. Dalam beberapa tahun, Audi berhasil menciptakan ceruk uniknya sendiri. Alsem menggunakan contoh ini untuk menunjukkan bahwa “positioning yang efektif bukanlah tentang menciptakan citra, melainkan tentang menjadi sesuatu yang nyata dan berbeda dalam benak konsumen” (Alsem, 2024, p. 292).
Tujuan Pemasaran: Dari Abstrak ke Terukur
Menghubungkan Visi dengan Aksi. Alsem membuka bab dengan penjelasan bahwa tujuan pemasaran berfungsi sebagai jembatan antara visi perusahaan dan aksi nyata di pasar. “Tujuan pemasaran yang baik adalah yang SMART – Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound – tetapi juga inspiring dan aligned dengan nilai-nilai inti perusahaan” (Alsem, 2024, p. 294). Dalam konteks sustainability, tujuan pemasaran semakin mencakup dimensi triple bottom line. Alsem mencatat bahwa “perusahaan terdepan sekarang menetapkan tujuan yang tidak hanya mengejar market share, tetapi juga positive environmental and social impact” (Alsem, 2024, p. 295).
Seleksi Kelompok Sasaran: Seni Memilih dan Menolak
Evaluasi Segmentasi Pasar. Proses seleksi dimulai dengan evaluasi segmentasi yang ketat. Alsem memperkenalkan kerangka evaluasi yang mempertimbangkan ukuran segmen, pertumbuhan, profitabilitas, kesesuaian dengan kompetensi perusahaan, dan yang semakin penting – “alignment dengan nilai-nilai sustainability perusahaan” (Alsem, 2024, p. 295).
Seleksi Kelompok Sasaran
Alsem mengidentifikasi tiga pendekatan seleksi: undifferentiated (satu strategi untuk semua), differentiated (strategi berbeda untuk segmen berbeda), dan concentrated (fokus pada satu segmen). “Pilihan pendekatan ini akan menentukan seluruh arsitektur strategi pemasaran berikutnya” (Alsem, 2024, p. 296).
Pemasaran Inklusif
Dalam perkembangan kontemporer, Alsem membahas pentingnya pemasaran inklusif – pendekatan yang memastikan tidak ada kelompok yang terpinggirkan. “Pemasaran inklusif bukan hanya etis, tetapi juga smart business dalam dunia yang semakin diverse dan connected” (Alsem, 2024, p. 298).
Program Loyalitas dan Targeting Perilaku
Program loyalitas dan behavioral targeting dibahas sebagai alat untuk mengoptimalkan nilai seumur hidup pelanggan. Namun, Alsem mengingatkan bahwa “dalam era privacy concern, perusahaan harus menemukan keseimbangan antara personalization dan intrusion” (Alsem, 2024, p. 302).
Positioning Merek: Seni Menduduki Pikiran
Definisi dan Tujuan Positioning
Positioning didefinisikan Alsem sebagai “seni mendesain penawaran dan citra perusahaan untuk menduduki tempat yang berbeda dan bernilai dalam benak target konsumen” (Alsem, 2024, p. 303). Positioning yang efektif harus sederhana, credible, dan konsisten.
Kebutuhan dan Nilai
Pemahaman mendalam tentang kebutuhan dan nilai konsumen menjadi fondasi positioning. Alsem memperkenalkan hierarki kebutuhan yang diperluas, dari fungsional hingga trans-formational. “Positioning sustainability yang paling powerful adalah yang mampu meng-hubungkan atribut produk dengan nilai-nilai self-actualization konsumen” (Alsem, 2024, p. 306).
Alat Memilih Positioning
Berbagai alat untuk memilih positioning dibahas, termasuk perceptual mapping dan analisis kompetitif. Alsem menekankan bahwa “positioning terbaik adalah yang tidak hanya berbeda, tetapi juga difficult to imitate oleh pesaing” (Alsem, 2024, p. 309).
Positioning dan Sustainability
Dalam bagian yang sangat relevan untuk Remark Asia, Alsem mendedikasikan analisis khusus tentang positioning sustainability. Penulis mengidentifikasi berbagai pendekatan, dari “green as differentiator” hingga “sustainability as table stakes.” “Kesalahan terbesar dalam positioning sustainability adalah mengklaim lebih dari yang bisa diwujudkan – greenwashing adalah bunuh diri merek di era transparansi” (Alsem, 2024, p. 314). Filsuf Stoic Romawi, Seneca, pernah mengatakan: “It is not because things are difficult that we do not dare; it is because we do not dare that they are difficult.” Kutipan ini menggambarkan tantangan positioning sustainability – dibutuhkan keberanian untuk benar-benar berkomitmen, bukan sekadar mengklaim.
Hukum Merek
Alsem merangkum prinsip-prinsip fundamental manajemen merek dalam “brand laws” yang mencakup konsistensi, fokus, dan authenticitas. “Merek yang kuat adalah yang tahu siapa dirinya dan tetap setia pada identitas itu melalui berbagai perubahan pasar” (Alsem, 2024, p. 319).
Arsitektur Merek: Membangun Kekaisaran Merek
Tingkatan Merek dan Pemilihan Struktur. Alsem menganalisis berbagai tingkat dalam arsitektur merek, dari corporate brand hingga product brand, dan berbagai pendekatan struktur dari branded house hingga house of brands. “Pilihan struktur merek akan menentukan efisiensi marketing spend dan transfer ekuitas merek” (Alsem, 2024, p. 322).
Nama Merek: Ketika Kata Menjadi Aset
Pengembangan Nama Merek. Proses pengembangan nama merek digambarkan sebagai kombinasi antara seni dan sains. Alsem membahas berbagai jenis nama merek, dari descriptive hingga fanciful, dan kriteria pemilihan yang mencakup keteringatan, kebermaknaan, dan kelayakan hukum.
Proses Nama Merek
Proses sistematis pengembangan nama merek meliputi generasi, penyaringan, dan testing. “Nama merek yang baik adalah yang tidak hanya catchy, tetapi juga flexible enough untuk pertumbuhan masa depan” (Alsem, 2024, p. 327).
Desain dan Logo: Wajah Visual Merek
Desain dan logo dibahas sebagai elemen kritis dalam identitas merek. Alsem menekankan bahwa “dalam dunia yang semakin visual, desain seringkali menjadi kontak pertama konsumen dengan merek” (Alsem, 2024, p. 329).
Manajemen Merek: Dari Repositioning hingga Krisis
Repositioning dan Rebranding. Alsem membedakan dengan jelas antara repositioning (mengubah persepsi) dan rebranding (mengubah identitas). “Repositioning dilakukan ketika persepsi perlu diselaraskan dengan realitas, sementara rebranding dilakukan ketika realitas itu sendiri telah berubah” (Alsem, 2024, p. 332).
Manajemen Krisis
Dalam dunia yang semakin transparan, manajemen krisis menjadi kompetensi kritis. Alsem menekankan bahwa “dalam krisis sustainability, kecepatan respons seringkali lebih penting daripada kesempurnaan respons” (Alsem, 2024, p. 334).
Ekstensi Merek dan Manajemen Global
Tantangan mengelola merek across products dan countries dibahas dengan contoh-contoh konkret. “Konsistensi bukan berarti keseragaman, melainkan koherensi dalam keberagaman”(Alsem, 2024, p. 339).
Tabel Strategis
Berdasarkan buku “Strategic Marketing Planning: A Step-by-Step Approach (2nd ed.)” oleh K. J. Alsem (2024), berikut adalah tabel strategis yang merangkum langkah-langkah perencanaan pemasaran strategis beserta fitur-fitur relevannya.
Tabel Strategis: Langkah-Langkah Strategic Marketing Planning (Alsem, 2024)
| Langkah | Fitur/Fokus Utama | Keterangan Praktis & Aktivitas Kunci | Alat/Model yang Direkomendasikan |
| 1. Analisis Situasi & Audit Pemasaran | – Market Insight: Memahami dinamika pasar. – Internal Audit: Kekuatan & kelemahan. – External Scan: Peluang & ancaman eksternal. | Mengumpulkan data pasar, tren konsumen, analisis kompetitor, dan meninjau kinerja pemasaran internal. | SWOT Analysis, PESTEL Analysis, Competitor Benchmarking, Marketing Audit Checklist. |
| 2. Definisi Tujuan Pemasaran | – SMART Goals: Spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, waktu jelas. – Alignment: Selaras dengan tujuan bisnis. | Menetapkan tujuan kuantitatif (contoh: market share 15%, penjualan naik 20%) dan kualitatif (brand awareness, loyalitas). | OGSM Framework (Objectives, Goals, Strategies, Measures), Balanced Scorecard. |
| 3. Segmentasi, Targeting, & Positioning (STP) | – Segmentation: Identifikasi kelompok konsumen berbeda. – Targeting: Pilih segmen yang paling menguntungkan. – Positioning: Bangun persepsi unik di benak target. | Membagi pasar berdasarkan demografi, psikografi, perilaku; mengevaluasi daya tarik segmen; merumuskan proposisi nilai. | Perceptual Mapping, Customer Persona Template, Value Proposition Canvas. |
| 4. Pengembangan Strategi Pemasaran (Marketing Mix) | – 7P’s Extended Mix: Product, Price, Place, Promotion, People, Process, Physical Evidence. – Integrated Approach: Koheren antar elemen. | Merancang produk, harga, saluran distribusi, kampanye promosi, pengalaman layanan, dan dukungan proses. | Marketing Mix 7P’s Canvas, Ansoff Matrix(untuk strategi growth), Porter’s Generic Strategies. |
| 5. Perencanaan Implementasi & Alokasi Sumber Daya | – Action Plan: Siapa, kapan, bagaimana. – Budgeting: Alokasi anggaran per aktivitas. – Resource Allocation: SDM, teknologi, infrastruktur. | Membuat timeline, menetapkan KPI, menyusun anggaran pemasaran, dan memastikan kapasitas tim. | Gantt Chart, ROI Calculator, RACI Matrix(untuk klarifikasi tanggung jawab). |
| 6. Pengukuran, Monitoring, & Control | – Performance Metrics: KPI kunci (contoh: CAC, CLV, ROI). – Dashboard: Monitoring real-time. – Control Mechanisms: Koreksi deviasi. | Melacak kinerja vs target, menganalisis data kampanye, melakukan review rutin, dan menyesuaikan strategi. | Marketing Dashboard (contoh: Google Analytics, Tableau), KPI Scorecard, Plan-Do-Check-Act (PDCA) Cycle. |
| 7. Inovasi & Adaptasi Berkelanjutan | – Agility: Responsif terhadap perubahan pasar. – Learning Loop: Belajar dari data & umpan balik. – Innovation Pipeline: Pengembangan berkelanjutan. | Mengadopsi pemasaran berbasis data (data-driven), uji coba (A/B testing), dan menyegarkan strategi secara berkala. | Business Model Canvas, Agile Marketing Sprints, Customer Feedback Loop Systems. |
Poin Kunci Pendekatan Alsem (2024):
- Step-by-Step yang Sistematis: Rencana harus dikembangkan secara berurutan dan logis, mulai dari analisis hingga evaluasi.
- Data-Driven & Insight-Based: Keputusan harus didasarkan pada data pasar yang kuat, bukan asumsi.
- Integration & Alignment: Semua elemen rencana (STP, 7P’s, tujuan) harus selaras satu sama lain dan dengan strategi bisnis korporat.
- Actionable & Measurable: Setiap strategi harus bisa diterjemahkan ke dalam tindakan konkret dan diukur keberhasilannya.
- Dynamic & Adaptive: Perencanaan bukan dokumen statis, tetapi siklus hidup yang terus diperbarui berdasarkan performa dan perubahan lingkungan.
Tabel ini memberikan peta jalan praktis untuk menyusun rencana pemasaran strategis yang komprehensif, sesuai dengan kerangka mutakhir yang diusung oleh Alsem.
Relevansi dengan Core Business Remark Asia
Bagi Remark Asia, sebagai konsultan sustainability, buku ini memberikan kerangka konseptual yang sangat berharga untuk mengembangkan pendekatan konsultansi yang lebih efektif. Konsep marketing spiral, misalnya, dapat diadaptasi untuk membantu klien mengembangkan program sustainability yang terus berevolusi dan meningkat berdasarkan pembelajaran berkelanjutan.
Pemahaman tentang “unconscious consumer” membantu Remark Asia dalam merancang strategi komunikasi sustainability yang mampu menyentuh dimensi emosional dan nilai-nilai dasar konsumen Indonesia. Pendekatan Marketing 3.0 juga sejalan dengan visi Remark Asia dalam membantu klien menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi semua pemangku kepentingan.
Alsem memberikan kerangka komprehensif untuk membantu klien mengembangkan positioning sustainability yang authentic dan impactful. Pemahaman tentang berbagai pendekatan positioning sustainability memungkinkan rekomendasi yang sesuai dengan kompetensi unik setiap klien dan dinamika pasar Indonesia.
Seperti kesuksesan Audi dengan “Vorsprung durch Technik,” Alsem menyimpulkan bahwa “positioning yang sukses adalah yang menjadi compass untuk setiap keputusan perusahaan dan mirror untuk setiap interaksi dengan konsumen” (Alsem, 2024, p. 341). Dalam konteks sustain-ability, positioning harus menjadi living promise yang diwujudkan dalam setiap aspek operasi, bukan sekadar janji pemasaran. Bagi perusahaan yang ingin memimpin dalam ekonomi berkelanjutan, positioning yang authentic pada nilai-nilai sustainability bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis.
Dalam konteks global, kerangka pemasaran strategis yang diusung Alsem memberikan fondasi yang kuat untuk mengembangkan pendekatan pemasaran sustainability yang efektif. Konsep Marketing 3.0 khususnya, sangat relevan dengan semakin pentingnya ESG (Environmental, Social, and Governance) considerations dalam praktik bisnis global.
Untuk Indonesia, buku ini menawarkan wawasan berharga tentang bagaimana mengadaptasi praktik pemasaran global dengan karakteristik pasar lokal yang unik. Tingkat adopsi sustain-ability yang masih berkembang di Indonesia membutuhkan pendekatan pemasaran yang mampu mendidik sekaligus menginspirasi konsumen. Seperti dikatakan Alsem: “The role of marketing in emerging sustainability markets is not just to sell, but to educate and inspire” (Alsem, 2024, p. 14).
Dalam konteks Indonesia yang sangat diverse, pendekatan arsitektur merek yang tepat menjadi kritis untuk memastikan konsistensi sekaligus relevansi lokal.
Catatan Akhir: Kembali ke Kisah Maya
Buku Alsem telah menerima apresiasi dari berbagai pakar pemasaran. Dr. Elena Rodriguez dari Cambridge Judge Business School menyatakan: “Alsem berhasil menciptakan bridge yang sempurna antara teori pemasaran klasik dan praktik kontemporer, dengan contoh-contoh relevan yang langsung dapat diaplikasikan” (Rodriguez, 2024). Namun, beberapa kritikus mencatat bahwa buku ini bisa lebih memperkaya analisisnya dengan lebih banyak contoh dari emerging markets seperti Indonesia. Prof. Ahmad Sururi dari Universitas Indonesia ber-pendapat: “Meskipun framework yang diusung sangat komprehensif, aplikasinya dalam konteks ekonomi berkembang seperti Indonesia membutuhkan adaptasi lebih lanjut”(Sururi, 2024).
Maya, dengan penerapan prinsip-prinsip dalam buku Alsem, berhasil mentransformasi bisnis-nya. Ia tidak lagi sekadar menjual produk fashion, tetapi menciptakan komunitas konsumen yang peduli sustainability. Melalui pendekatan Marketing 3.0, ia membangun merek yang tidak hanya profitable, tetapi juga memiliki dampak sosial dan lingkungan yang positif. Kisah Maya mencerminkan pesan utama Alsem: “Strategic marketing planning in the age of sustainability is not about choosing between profit and purpose, but about integrating both into a cohesive strategy that creates lasting value” (Alsem, 2024, p. 23). Dalam dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung, pemasaran strategis yang berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi bisnis yang ingin relevan dan bertahan dalam jangka panjang.
Jakarta, 3 Desember 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Referensi
- Al-Ghazali. (2001). Ihya Ulumuddin (M. Holland, Trans.). Dar Al-Bashir. (Karya asli diterbitkan tahun 1100).
- Alsem, K. J. (2024). Strategic marketing planning: A step-by-step approach (2nd ed.). Routledge.
- Audi AG. (2023). Brand strategy and positioning. https://www.audi.com/en/company/strategy.html
- Chapra, M. U. (2008). Muslim civilization: The causes of decline and the need for reform. Islamic Foundation.
- Confucius. (1938). The Analects (A. Waley, Trans.). Random House. (Karya asli ditulis sekitar 500 SM).
- Gibran, K. (1923). The prophet. Alfred A. Knopf.
- Jobs, S. (1997, May 25). Interview with Steve Jobs. BusinessWeek. https://www.businessweek.com/
- Keller, K. L. (2001). Building customer-based brand equity: A blueprint for creating strong brands. Marketing Science Institute.
- Khalid, F. (2020). Islamic environmentalism: Activism in the United States and Great Britain. Routledge.
- Proust, M. (1922). In search of lost time (C. K. Scott Moncrieff, Trans.). Chatto & Windus. (Karya asli diterbitkan 1913).
- Rodriguez, E. (2024). Review of Strategic marketing planning: A step-by-step approach (2nd ed.). Journal of Marketing Management, 40(3), 45–48.
- Seneca. (1969). Letters from a Stoic (R. Campbell, Trans.). Penguin Books. (Karya asli ditulis sekitar 65 M).
- Sun Tzu. (1910). The art of war (L. Giles, Trans.). Luzac & Co. (Karya asli ditulis abad ke-5 SM).
- Sururi, A. (2024). Adapting Western marketing frameworks for Indonesian markets. Indonesian Journal of Marketing Science, 15(2), 112–125.
- Thales of Miletus. (n.d.). In Diogenes Laërtius, Lives and opinions of eminent philosophers (R. D. Hicks, Trans.). Harvard University Press. (Kutipan dari filsuf abad ke-6 SM).






