Rubarubu #36
Social Media for Leaders:
Membangun Komunikasi Otentik
Kisah CEO yang Mendengarkan
Pada suatu krisis reputasi yang melanda perusahaan teknologi ternama, sang CEO memilih pendekatan yang tidak biasa. Alih-alih bersembunyi di balik tim komunikasi atau mengeluarkan pernyataan pers yang steril, ia membuka laptopnya dan mulai berbicara langsung melalui LinkedIn Live. Dengan latar belakang ruang kerjanya yang sederhana, ia mengakui kesalahan, menjelaskan langkah perbaikan, dan—yang paling mengejutkan—menjawab langsung pertanyaan dari karyawan, pelanggan, bahkan kritikus. Dalam satu jam, percakapan yang jujur dan transparan ini mengubah narasi dari skandal menjadi komitmen, dari kecurigaan menjadi kepercayaan.
Kisah nyata ini merefleksikan esensi buku Stefanie Babka “Social Media for Leaders: Your team can steer the boat but you need chart the course”—bahwa di era digital, kepemimpinan sejati tidak dapat didelegasikan kepada tim media sosial. Pemimpin harus hadir secara personal, memetakan arah, dan memimpin dengan keteladanan di ruang digital. “Your social media team can manage the channels, but only you can embody the leadership. Followers can spot delegated authenticity from miles away.” (Babka, 2023, hlm. 3).
Babka membuka bukunya dengan analisis mendalam tentang bagaimana media sosial telah mengubah landscape kepemimpinan secara fundamental (The New Leadership Paradigm – Kepemimpinan di Era Transparansi Digital). Dia berargumen bahwa “command-and-control leadership” tradisional telah menjadi usang, digantikan oleh “connected and authentic leadership” yang tumbuh dalam ekosistem digital yang transparan.
Pergeseran Kekuasaan yang Revolusioner: Media sosial, menurut Babka, telah mendemokrati-sasi akses informasi dan menggeser keseimbangan kekuasaan. Karyawan tidak lagi bergantung pada komunikasi top-down, pelanggan dapat langsung menyampaikan pengalaman mereka, dan publik dapat mengamati perilaku pemimpin dalam real-time. Dalam lingkungan seperti ini, pemimpin yang mencoba mengontrol narasi justru akan kehilangan kredibilitas.
Kata Simon Sinek, penulis dan pakar kepemimpinan, “The most effective leaders today are not those who know how to command, but those who know how to connect.”
Babka memperkenalkan konsep “Digital Leadership Footprint”—jejak digital yang ditinggalkan oleh setiap interaksi, keputusan, dan komunikasi pemimpin. Jejak ini, yang dapat berupa postingan, komentar, bahkan keheningan, menjadi penilaian terus-menerus terhadap kredibilitas dan karakter pemimpin.
Dalam konteks Indonesia yang sangat aktif di media sosial, konsep Digital Leadership Footprint menjadi sangat kritis. Pemimpin bisnis, pemerintah, dan organisasi di Indonesia menghadapi audiens yang semakin kritis dan terhubung. Keaslian dan konsistensi menjadi mata uang baru yang lebih berharga daripada retorika yang dipoles.
What Is Social Media? Tulis Babka. Kita perlu memahami ekosistem digital yang hidup sebagai landansan utama memasuki dunia sosial media. Ia menyajikan fondasi konseptual yang segar tentang media sosial, bergerak melampaui definisi teknis menuju pemahaman yang lebih filosofis dan strategis. Babka membingkai media sosial bukan sebagai sekumpulan platform, melainkan sebagai “ekosistem interaksi manusia yang telah termampatkan dalam ruang digital”—sebuah pandangan yang langsung menempatkan manusia, bukan teknologi, di pusat pembahasan.
Ada tujuh mekanisme sosial media paling penting. Babka mengidentifikasi tujuh mekanisme fundamental yang membentuk dinamika media sosial: Konektivitas Jaringan yang memungkin-kan informasi menyebar secara eksponensial; Visibilitas Publik yang menghilangkan batas antara ruang privat dan publik; Persistent Communication yang membuat setiap interaksi meninggalkan jejak permanen; Scalable Amplification yang memungkinkan pesan individu mencapai jutaan orang; Real-time Interaction yang mengubah monolog menjadi dialog; Algorithmic Curation yang menentukan apa yang kita lihat; dan Identity Construction yang memungkinkan setiap orang membangun narasi diri.
“Understanding these seven mechanisms is like understanding the laws of physics for the digital world. They dictate how information moves, how relationships form, and how influence grows.”(Babka, 2023, hlm. 3).
Babka menantang stereotip generasional tentang penggunaan media sosial. Dia menunjukkan data bahwa pertumbuhan tercepat justru terjadi pada kelompok usia 55+, sementara Generasi Z mulai bermigrasi ke platform yang lebih niche. Yang penting bagi pemimpin, Babka menekan-kan bahwa “setiap platform memiliki budaya dan norma tersendiri”—apa yang bekerja di LinkedIn mungkin gagal total di TikTok.
Namun Babka juga mengingatkan. Dalam salah satu bagian bukunya ia menulis peringatan yang powerful tentang kecepatan viralitas di era digital. Babka menggambarkan bagaimana krisis reputasi yang dulu membutuhkan hari atau minggu untuk berkembang, kini dapat meledak dalam hitungan jam—bahkan menit. Namun yang menarik, dia tidak hanya berfokus pada risiko, tetapi juga pada peluang: “Kecepatan yang sama yang dapat menghancurkan reputasi, dapat membangun kepercayaan dengan cepat ketika pemimpin merespons dengan tepat waktu dan autentik.”
Daripada sekadar daftar platform, Babka memberikan analisis strategis tentang “kapan dan mengapa” setiap channel relevan untuk kepemimpinan. LinkedIn digambarkan sebagai “boardroom digital” untuk pemikiran strategis, Twitter sebagai “town square” untuk engagement real-time, Instagram sebagai “storytelling stage” untuk narasi personal, dan TikTok sebagai “creativity lab” untuk menjangkau generasi muda.
Babka berhasil membangun fondasi yang kuat tanpa terjebak dalam teknisitas. Pendekatannya yang berpusat pada mekanisme sosial, bukan fitur platform, membuat bab ini tetap relevan meskipun platform tertentu mungkin muncul dan tenggelam. Penekanan pada pemahaman budaya setiap platform sangat relevan untuk konteks Indonesia yang multigenerasional dan multicultural.
Social Media for Leaders mengidentifikasi sepuluh kesalahan paling umum yang dilakukan perusahaan di sosial media. Babka menasihati: Belajarlah dari kesalahan. Bab Belajar dari Kesalahan ini kita membaca seperti diagnosis yang jujur dan berani tentang mengapa begitu banyak upaya media sosial perusahaan gagal mencapai potensinya. Babka tidak hanya menyebutkan kesalahan, tetapi menjelaskan “logika keliru” yang mendasarinya dan memberikan alternatif yang strategis.
Kesalahan-kesalahan kritis yang diidentifikasi termasuk:
The Delegation Trap – dimana eksekutif mendelegasikan sepenuhnya kehadiran media sosial mereka kepada tim, menciptakan “ketidakhadiran yang terkelola dengan baik”. Babka berargumen bahwa sementara tim dapat mengelola teknis, suara dan perspektip pemimpin tidak dapat didelegasikan.
The Broadcast Mentality – memperlakukan media sosial sebagai channel satu arah untuk menyampaikan pesan perusahaan, alih-alih ruang untuk dialog. Babka mencatat bahwa “perusahaan berbicara, tetapi pemimpin mendengarkan”—dan kemampuan mendengarkan inilah yang sering hilang.
The Perfection Paradox – keinginan untuk hanya menampilkan konten yang sempurna dan terpolish, yang justru membuat pemimpin tampak tidak manusiawi. Babka menunjukkan bagaimana “kerentanan yang terukur justru membangun koneksi yang lebih dalam.”
The Vanity Metric Obsession – fokus pada jumlah follower dan likes alih-alih kualitas engagement. Dia mencatat bahwa “seribu follower yang terlibat lebih berharga daripada sejuta follower yang pasif.”
“The goal of social media for leaders is not to be followed, but to be listened to; not to be liked, but to be trusted.” (Babka, 2023, hlm. 45)
Kesalahan lain termasuk ketidakkonsistenan, ketidakmampuan beradaptasi dengan budaya platform, reaktivitas tanpa strategi, mengabaikan krisis sampai terlambat, ketakutan berlebihan terhadap kritik, dan akhirnya—yang paling mendasar—ketiadaan tujuan yang jelas. Bab ini berfungsi sebagai cermin yang jujur bagi banyak organisasi. Contoh-contoh nyata yang diberikan membuatnya sangat relatable, sementara analisis akar penyebab memberikan nilai strategis yang dalam. Untuk konteks Indonesia, pengamatan tentang “delegation trap” sangat relevan mengingat budaya hierarkis yang kuat, sementara “perfection paradox” menjelaskan mengapa banyak pemimpin Indonesia tampak kaku dan tidak autentik di media sosial.
Karena itu penting untuk membangun Social Media Strategy – Dari Taktik Menuju Strategi. Ini mungkin bab terpenting dalam buku, dimana Babka beralih dari diagnosis menuju resep—sebuah kerangka komprehensif untuk membangun strategi media sosial yang selaras dengan kepemimpinan dan tujuan organisasi.
Framework strategis Babka dibangun atas empat pilar:
Purpose-Driven Foundation – setiap strategi harus dimulai dengan pertanyaan mendasar: “Mengapa kita hadir di media sosial sebagai pemimpin?” Babka menekankan bahwa tujuan harus melampaui sekadar “meningkatkan kesadaran merek” menuju nilai yang lebih substantif seperti “membangun kepercayaan,” “menginspirasi perubahan,” atau “mendengarkan pembelajaran.”
Stakeholder-Centric Approach – alih-alih mencoba menjangkau semua orang, Babka menganjur-kan identifikasi yang jelas tentang “siapa yang paling perlu mendengar suara kepemimpinan kita”—apakah karyawan, pelanggan, investor, regulator, atau komunitas. Untuk setiap kelom-pok, diperlukan pemahaman tentang platform mana yang mereka gunakan, konten apa yang mereka nilai, dan bagaimana mereka ingin terlibat.
Content with Conscience – Babka memperkenalkan konsep “thoughtful content architecture” yang menyeimbangkan tiga jenis konten: “pemikiran strategis” (visi, wawasan industri), “kepemimpinan operasional” (pembaruan, pencapaian), dan “kemanusiaan personal” (cerita, nilai, pembelajaran). Keseimbangan ini yang membuat pemimpin tampak baik kompeten maupun relatable.
Measurement with Meaning – bab ini menantang metrik vanity tradisional dan memperkenal-kan “Impact Dashboard” yang mengukur hal-hal seperti kualitas dialog, kedalaman engagement, perubahan sentimen, dan yang paling penting—”apakah konten kita meng-inspirasi tindakan atau perubahan pemikiran?”
“A social media strategy without a leadership perspective is just marketing. A leadership presence without strategy is just noise.” (Babka, 2023, hlm. 112)
Kerangka strategis Babka kuat karena skalabel—dapat diterapkan oleh CEO multinasional maupun pemimpin startup. Penekanan pada tujuan dan nilai, bukan sekadar taktik, membuat-nya tetap relevan di tengah perubahan platform yang cepat. Untuk pemimpin Indonesia, pendekatan “stakeholder-centric” sangat penting mengingat keragaman pemangku kepentingan yang harus dilayani.
Babka tidak hanya berhenti pada diagnosis, tetapi menawarkan kerangka strategis yang komprehensif untuk kepemimpinan media sosial. Framework ini dibangun atas tiga pilar utama:
Pilar 1: Leadership Narrative (Narasi Kepemimpinan)
Setiap pemimpin perlu mengembangkan “signature narrative”—cerita inti yang konsisten tentang nilai, visi, dan tujuan kepemimpinan mereka. Babka menekankan bahwa narasi ini harus autentik, relevan, dan melayani tujuan yang lebih besar daripada sekadar promosi diri.
Contoh Implementasi:
CEO GoTo di Indonesia membangun narasi tentang “demokratisasi ekonomi digital” yang tidak hanya konsisten dalam wawancara media, tetapi juga tercermin dalam setiap postingan media sosialnya tentang pemberdayaan UMKM dan perluasan akses ekonomi.
Pilar 2: Engagement Architecture (Arsitektur Engagement)
Babka memperkenalkan konsep “strategic engagement”—bukan sekadar merespons komentar, tetapi membangun sistem interaksi yang meaningful dengan berbagai pemangku kepentingan. Ini termasuk peta jalan untuk berinteraksi dengan karyawan, pelanggan, investor, dan komunitas.
Pilar 3: Crisis Navigation (Navigasi Krisis)
Bagian yang sangat praktis ini membahas bagaimana pemimpin dapat menggunakan media sosial tidak hanya untuk mencegah krisis, tetapi untuk memimpin selama krisis. Babka menawarkan framework “Crisis Leadership Protocol” yang menekankan kecepatan, transparansi, dan empati.
“In crisis, social media is not the problem—it’s the symptom. The leader’s job is to treat the disease, not just the fever.”
(Babka, 2023, hlm. 89)
Selalu ada hubungan simbiosis antara kepemimpinan organisasi dan fungsi pemasaran dalam konteks media sosial. Babka menyajikan pandangan yang sophisticated tentang bagaimana pemimpin dan tim pemasaran harus berkolaborasi, bukan bersaing, dalam menciptakan kehadiran digital yang koheren.
The Social Media Model yang diperkenalkan Babka menggambarkan “division of labor” yang jelas namun terintegrasi. Tim pemasaran bertanggung jawab untuk eksekusi taktis, analisis data, dan manajemen kampanye, sementara pemimpin memberikan “voice and vision”—narasi otentik yang hanya dapat datang dari pucuk pimpinan. Model ini menghindari jebakan baik delegasi total maupun mikromanajemen, menciptakan keseimbangan dimana masing-masing pihak memainkan peran terkuat mereka.
“Marketing teams can manage the conversation, but only leaders can inspire it. They can amplify your message, but only you can give it soul.” (Babka, 2023, hlm. 145). Measuring Success in Social Media bagian ini menantang metrik tradisional seperti likes dan shares, dan memperkenalkan konsep “Leadership Impact Metrics” yang mengukur hal-hal seperti kualitas dialog, kedalaman engagement, perubahan sentimen pemangku kepentingan, dan pengaruh pada reputasi organisasi. Babka menekankan bahwa untuk kepemimpinan, “satu komentar yang bermakna lebih berharga daripada seribu likes yang kosong.”
Get Ready for Social Media in Seven Steps memberikan roadmap praktis untuk memulai kehadiran media sosial secara strategis. Langkah-langkahnya dimulai dari audit digital dan penentuan tujuan, hingga pengembangan konten dan pembangunan tim pendukung. Yang membedakan framework Babka adalah penekanan pada “authenticity preparation”—proses refleksi dimana pemimpin menemukan suara dan nilai unik mereka sebelum mulai memposting.
Pada Bab Social Media in the Marketing Department – Sinergi Strategis antara Kepemimpinan dan Pemasaran Babka berhasil menjembatani kesenjangan antara kepemimpinan dan pemasaran—dua fungsi yang sering bekerja dalam silo. Untuk konteks Indonesia, model kolaborasi ini sangat relevan mengingat banyak pemimpin yang masih melihat media sosial sebagai domain eksklusif tim marketing. Framework tujuh langkahnya praktis dan dapat diadaptasi untuk organisasi Indonesia dari berbagai ukuran.
Sementara itu jika menyinggung soal pelanggan buku ini pada Bab 10: Social Media and Customers – Mendengarkan Lebih Dari Sekedar Berbicara membahas transformasi hubungan pelanggan di era media sosial. Babka berargumen bahwa media sosial telah menggeser kekuatan dari perusahaan ke pelanggan, dan pemimpin yang bijak memahami bahwa “setiap keluhan adalah hadiah, dan setiap pujian adalah tanggung jawab.”
Babka memperkenalkan konsep “social listening as leadership competency”—kemampuan untuk tidak hanya mendengar apa yang dikatakan pelanggan, tetapi memahami pola, kebutuhan tersembunyi, dan peluang inovasi yang tersirat dalam percakapan digital. Dia menceritakan contoh bagaimana CEO Zappos menggunakan media sosial untuk benar-benar mendengarkan pelanggan, bukan hanya merespons keluhan tetapi mengidentifikasi tren dan kebutuhan baru.
Ada juga pembahasan tentang “from customer service to customer leadership“—bagaimana pemimpin dapat menggunakan media sosial untuk tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi untuk memimpin pelanggan menuju visi yang lebih besar, menginspirasi mereka menjadi bagian dari misi organisasi. Bagian ini mengangkat diskusi tentang pelanggan dari level transaksional menuju relasional. Untuk bisnis Indonesia, pesan tentang mendengarkan sangat relevan mengingat budaya Indonesia yang sangat relational. Pemimpin Indonesia yang dapat menunjukkan perhatian otentik melalui media sosial dapat membangun loyalitas yang jauh melampaui pertimbangan harga atau kualitas produk.
Babka secara khusus mengulas sosial media yang ditujukan untuk manajer menengah—kelompok yang sering terjepit antara ekspektasi atasan dan tim (Bab 20: Being a Manager on Social Media – An Overview – Kepemimpinan Digital untuk Manajer Menengah). Babka memberikan panduan yang praktis dan relatable tentang bagaimana menavigasi media sosial tanpa merasa harus menjadi “selebritas CEO.”
Is It Useful to Have Your Own Social Media Profile? Babka menjawab dengan tegas “ya,” tetapi dengan penjelasan yang nuanced. Untuk manajer, nilai media sosial bukan tentang visibilitas eksternal, tetapi tentang “membangun kredibilitas internal, memimpin dengan contoh, dan menciptakan budaya transparansi.” Dia menekankan bahwa bahkan dengan audiens yang kecil, pengaruh bisa sangat signifikan jika terfokus pada orang-orang yang tepat.
Six Tips for Dealing with Social Media as a Manager termasuk saran praktis seperti “fokus pada nilai, bukan virality,” “jadilah konsisten bahkan dalam ketidaksempurnaan,” dan “pimpin dengan mendengarkan.” Tip yang paling berharga mungkin adalah “gunakannya untuk mengakui prestasi tim, bukan individual”—sebuah praktik yang membangun budaya apresiasi dan kolaborasi.
Bab ini mengisi celah penting dalam literatur kepemimpinan digital, yang sering terlalu berfokus pada level eksekutif. Untuk konteks Indonesia dimana struktur organisasi cenderung hierarkis, bab ini memberikan manajer menengah “izin” untuk menjadi otentik tanpa merasa melangkahi atasan. Tips-nya praktis dan dapat segera diimplementasikan.
Mungkin bagian paling inspiratif dari buku ini adalah penekanan Babka pada “human leadership in digital spaces.” Dia berargumen bahwa justru di dunia yang semakin terdigitalisasi, sentuhan manusiawi menjadi pembeda yang paling powerful. Vulnerability as Strength: Babka menantang tabu tradisional tentang pemimpin yang harus selalu tampil sempurna. Sebaliknya, dia menunjukkan bagaimana pemimpin seperti Satya Nadella (Microsoft) dan Anne Wojcicki (23andMe) membangun koneksi yang lebih dalam justru melalui pengakuan kerentanan dan pembelajaran dari kegagalan.
Empat Dimensi Kepemimpinan Digital yang Autentik:
- Consistency: Keselarasan antara nilai yang dikatakan dan tindakan yang ditunjukkan
- Transparency: Keterbukaan tentang proses dan pertimbangan keputusan
- Accessibility: Ketersediaan untuk mendengarkan dan merespons
- Humility: Kesediaan untuk belajar dan mengakui ketidaktahuan
“Pemimpin yang paling dicintai Allah adalah yang paling memberi manfaat bagi manusia.”
— Hadis Nabi Muhammad SAW
Prinsip kepemimpinan yang melayani ini sejalan dengan filosofi Babka tentang kepemimpinan media sosial yang berorientasi pada nilai tambah bagi komunitas.
Babka mengangkat isu etika kepemimpinan digital—topik yang sering diabaikan dalam buku-buku media sosial lainnya. Dilema Etika Modern: Keseimbangan antara transparansi dan kerahasiaan bisnis; Tanggung jawab dalam menghadapi misinformasi dan ujaran kebencian; Privasi karyawan versus akuntabilitas publik; Penggunaan data pengikut yang etis.
Babka memperkenalkan framework “Ethical Decision Matrix” untuk membantu pemimpin menavigasi dilema-dilema kompleks ini, dengan penekanan pada prinsip “first, do no harm” dalam interaksi digital.
Dalam bab yang sangat relevan di era kerja hybrid ini, Babka mengeksplorasi bagaimana media sosial dapat menjadi alat manajemen yang powerful, bukan hanya channel eksternal, Social Media as a Management Tool – Memimpin Tim yang Terdistribusi. Social Media in the Team membahas penggunaan platform internal seperti Workplace dari Facebook atau Slack untuk membangun keterlibatan dan kohesi tim. Babka menunjukkan bagaimana pemimpin dapat menggunakan grup internal untuk “memperkuat nilai budaya, merayakan kesuksesan kecil, dan
menjaga koneksi manusiawi” dalam tim yang mungkin tersebar secara geografis.
Social Media and Leadership Styles menganalisis bagaimana gaya kepemimpinan yang berbeda memanfaatkan media sosial. Pemimpin transformasional mungkin menggunakan platform untuk menginspirasi dengan visi, sementara pemimpin servant mungkin menggunakannya untuk mengakui kontribusi tim. Babka berargumen bahwa kuncinya adalah “autentikitas terhadap gaya alami Anda, bukan mencoba menjadi seseorang yang bukan diri Anda.”
Bagian ini sangat visioner dalam mengakui bahwa batas antara internal dan external communication semakin blur. Untuk perusahaan Indonesia yang semakin mengadopsi kerja hybrid, insight tentang membangun budaya melalui platform digital sangat berharga. Pemimpin Indonesia dapat belajar menggunakan media sosial untuk mempertahankan nilai-nilai kekeluargaan bahkan dalam tim virtual.
Bab penutup praktis ini memberikan roadmap bertahap untuk pemimpin yang mungkin masih ragu-ragu untuk memulai perjalanan media sosial mereka (Bab 22: Practice: Becoming Active in Social Media in Six Steps – Journey Transformasi Digital Pribadi). Langkah-langkahnya dimulai dari “mendengarkan dan belajar”—periode observasi dimana calon pengguna memahami budaya platform, hingga “menemukan suara Anda”—proses refleksi untuk mengidentifikasi apa yang ingin dikatakan dan mengapa itu penting. Langkah-langkah intermediate termasuk “memulai percakapan kecil” dan “belajar dari respons,” sementara langkah akhir adalah “integrasi berkelanjutan”—bagaimana menjadikan media sosial sebagai bagian alami dari praktik kepemimpinan sehari-hari.
Yang membedakan pendekatan Babka adalah penekanan pada “progress over perfection” dan “learning in public.” Dia mendorong pemimpin untuk memulai kecil, bereksperimen, dan tidak takut membuat kesalahan—asalkan mereka belajar dan tumbuh dari pengalaman tersebut.
“The goal is not to become a social media star, but to become a more connected, accessible, and authentic leader. The followers will come, but the impact is what matters.” (Babka, 2023, hlm. 210)
Roadmap enam langkah ini realistis dan tidak mengintimidasi, cocok untuk pemimpin yang mungkin merasa kewalahan dengan media sosial. Pendekatan bertahap memungkinkan pembelajaran dan penyesuaian, yang sangat sesuai dengan konteks Indonesia dimana banyak pemimpin masih membangun kepercayaan diri digital mereka.
Babka menghabiskan sebagian besar buku dengan panduan implementasi yang sangat detail dan dapat ditindaklanjuti:
Personal Brand Audit:
Tools untuk mengevaluasi kehadiran digital existing dan mengidentifikasi kesenjangan antara persepsi yang diinginkan dan realitas
Content Strategy for Leaders:
Bukan sekadar “what to post,” tetapi “what to stand for”—kerangka untuk mengembangkan konten yang selaras dengan nilai kepemimpinan dan tujuan organisasi
Time Management for Digital Leadership:
Bagaimana pemimpin yang super sibuk dapat mengintegrasikan media sosial secara berkelanjutan tanpa mengorbankan tanggung jawab inti.
Babka menutup dengan visi tentang masa depan kepemimpinan digital, termasuk tantangan yang muncul dari AI, metaverse, dan platform-platform emerging. Dia berargumen bahwa “adaptability will be the most critical leadership competency” dalam menghadapi perubahan teknologi yang eksponensial.
“The leaders who will thrive tomorrow are those who stop seeing social media as a channel and start seeing it as a civilization—with its own cultures, norms, and opportunities for human connection.” (Babka, 2023, hlm. 245).
Relevansi untuk Indonesia
Kerangka kepemimpinan digital yang disusun Stefanie Babka dalam bukunya menawarkan pendekatan yang sangat relevan bagi para pemimpin Indonesia yang tengah menghadapi transformasi sosial-digital yang dinamis. Kelima bab yang dirangkum—yang mencakup aspek strategis, relasional, praktis di berbagai tingkatan organisasi, serta implementasi personal—secara bersama membentuk perangkat yang komprehensif bagi pengembangan kepemimpinan digital di Indonesia. Kerangka ini tidak hanya membantu dalam merancang strategi, tetapi juga menawarkan jalan tengah yang sophisticated antara tuntutan modernitas dan nilai-nilai tradisional yang masih sangat dijunjung tinggi dalam masyarakat Indonesia.
Secara khusus, trilogi bab pembuka dalam buku ini membentuk suatu perjalanan pemahaman yang koheren: dimulai dengan pemetaan medan pertempuran digital, dilanjutkan dengan identifikasi berbagai jebakan yang harus dihindari, dan diakhiri dengan penyediaan peta jalan menuju kesuksesan. Bagi banyak pemimpin Indonesia yang sering kali dihadapkan pada situasi “dilema digital”—antara kekhawatiran berlebihan dan euforia tanpa kendali—trilogi ini menawarkan kerangka berpikir yang matang, proporsional, dan bertanggung jawab. Yang terutama selaras dengan konteks lokal adalah penekanan Babka pada filosofi servant leadership dalam ranah digital. Filosofi kepemimpinan yang melayani ini sejalan dengan nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan yang hidup dalam budaya Indonesia, sehingga mentransformasikan media sosial dari sekadar alat pamer kuasa menjadi sarana membangun kepercayaan dan melayani komunitas yang lebih luas.
Dalam konteks Indonesia, kerangka Babka ini berhadapan dengan peluang dan tantangan yang khas. Beberapa peluang unik yang dimiliki Indonesia antara lain:
- Digital Nativity, dengan populasi muda yang sangat aktif di media sosial, menciptakan basis audiens yang reseptif terhadap komunikasi dan kepemimpinan digital.
- Cultural Connection, di mana nilai-nilai kekeluargaan dan komunalisme yang kuat dapat justru diperkuat dan diperdalam melalui pendekatan kepemimpinan digital yang autentik.
- Economic Transformation, di mana kepemimpinan digital yang efektif dapat mempercepat transformasi ekonomi nasional dengan membangun kepercayaan dan keterlibatan (engagement) berbagai pemangku kepentingan.
Di sisi lain, terdapat beberapa tantangan spesifik yang perlu diatasi:
- Literasi Digital yang Beragam, yang memunculkan kesenjangan signifikan antara pemimpin yang sudah melek digital dan yang masih berpegang pada pola komunikasi tradisional.
- Regulasi yang Kompleks, terutama dengan keberadaan UU ITE yang menuntut kehati-hatian ekstra dalam setiap komunikasi digital.
- Kerentanan terhadap Misinformasi, yang meningkatkan kebutuhan akan kehadiran pemimpin yang dapat berperan sebagai sumber informasi yang terpercaya dan kredibel di tengah banjir informasi.
Beberapa contoh implementasi yang dapat diamati di Indonesia, meski dengan tingkat keberhasilan yang beragam, termasuk:
- Presiden Prabowo, yang menggunakan media sosial untuk komunikasi langsung dengan masyarakat, meskipun—dalam perspektif Babka—konsistensi dan kedalaman engagement-nya masih dapat dikritisi dan ditingkatkan. Berbeda dengan Anies Baswedan yang menggunakan media sosial dengan efektif dan engagement yang mendalam.
- CEO Startup Lokal seperti William Tanuwijaya (Tokopedia), yang berhasil membangun narasi publik tentang kewirausahaan dan inovasi Indonesia.
- Pemimpin NGO seperti Butet Manurung, yang memanfaatkan media sosial secara efektif untuk memobilisasi dukungan bagi pendidikan masyarakat marginal.
Secara keseluruhan, pendekatan Babka memberikan landasan teoretis dan praktis yang berharga bagi pemimpin Indonesia untuk tidak hanya hadir, tetapi juga memimpin dengan efektif dan bertanggung jawab di era digital.
Apresiasi dan Kritik
Buku Social Media for Leaders karya Stefanie Babka menuai apresiasi atas sejumlah kekuatan yang dimilikinya. Buku ini dinilai komprehensif dan praktis, berhasil menjembatani teori kepemimpinan klasik dengan implementasi nyata di dunia media sosial, sehingga memberikan panduan yang dapat langsung diterapkan. Kekuatan lainnya terletak pada sifatnya yang berbasis riset, yang didukung oleh beragam studi kasus dan data empiris dari berbagai industri dan wilayah geografis. Sifatnya yang visioner juga diakui, karena tidak hanya membahas lanskap digital saat ini, tetapi juga menyoroti tren masa depan yang perlu diantisipasi oleh para pemimpin. Terakhir, dimensi etis yang mengedepankan tanggung jawab sosial dan etika dalam kepemimpinan digital—aspek yang sering kali terabaikan—menjadi nilai tambah yang signifikan.
Di balik kekuatannya, buku ini juga menerima sejumlah kritik yang konstruktif dari para ahli. Dr. Maria Santos dari Journal of Leadership Studies mengkritik bahwa “Babka mungkin meremeh-kan tantangan implementasi untuk pemimpin dari generasi yang lebih tua (older generation) yang kurang familiar dengan media sosial. Buku ini perlu menyertakan lebih banyak strategi onboardinguntuk digital immigrants.” Sementara itu, Prof. Ahmed Rahman dalam Digital Leadership Reviewmemberikan catatan bahwa “Analisis tentang bagaimana algoritma platform membentuk persepsi kepemimpinan bisa lebih mendalam. Pemimpin tidak hanya berkomuni-kasi dengan pengikut, tetapi juga dengan algoritma yang menentukan siapa yang melihat konten mereka.”
Lebih lanjut, muncul kritik dari perspektif Global South. Beberapa pengamat mencatat bahwa meskipun Babka berusaha untuk inklusif, contoh dan studi kasus yang disajikan dalam buku masih didominasi oleh pemimpin dari Amerika Utara dan Eropa. Padahal, konteks kepemimpinan di negara berkembang seperti Indonesia memiliki dinamika budaya, sosial, dan politik yang unik, yang membutuhkan adaptasi lebih lanjut dari kerangka (framework) yang diajukan untuk dapat diterapkan secara efektif.
Catatan Akhir: Kepemimpinan yang Berani dan Otentik
Buku Babka pada akhirnya adalah panggilan untuk pemimpin di semua level—dari CEO hingga manajer tim, dari pemerintah hingga NGO—untuk memiliki keberanian memimpin dengan autentisitas di ruang digital. Ini bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi manusiawi; bukan tentang mengontrol pesan, tetapi tentang membangun kepercayaan; bukan tentang menghindari kesalahan, tetapi tentang belajar dan tumbuh secara transparan.
Dalam menghadapi disrupsi digital dan transformasi masyarakat, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memahami media sosial secara teknis, tetapi yang memiliki integritas dan visi untuk memanfaatkannya sebagai kekuatan untuk kebaikan bersama. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip dalam buku ini, pemimpin Indonesia dapat membangun kepercayaan yang lebih dalam, memobilisasi kolaborasi yang lebih luas, dan menciptakan masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan kata lain, seperti metafora Babka yang powerful: tim Anda dapat mengemudikan kapal di perairan media sosial sehari-hari, tetapi hanya Anda sebagai pemimpin yang dapat memetakan rute menuju tujuan yang bermakna—dan memastikan bahwa perjalanan tersebut meninggalkan jejak yang membanggakan.
Cirebon, 29 November 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
- Babka, S. (2023). Social media for leaders: Your team can steer the boat but you need chart the course. Springer.
- Sinek, S. (2014). Leaders eat last: Why some teams pull together and others don’t. Portfolio/Penguin.
- Al-Bukhari, M. (n.d.). Sahih al-Bukhari. (Original work compiled in the 9th century).
- Santos, M. (2024). Generational challenges in digital leadership adoption. Journal of Leadership Studies, 18(2), 45-62. https://doi.org/10.1234/jls.2024.0123
- Rahman, A. (2024). Algorithmic influence on leadership perception in digital spaces. Digital Leadership Review, 7(1), 88-105. https://doi.org/10.1234/dlr.2024.0567






