Rubarubu #42
Reimagining Capitalism:
Bisakah Perusahaan Bagian dari Solusi?
Api yang Membuka Mata
Di sebuah kota manufaktur yang pernah bergantung pada pabrik tekstil, pekerja pulang lewat gang yang sama selama tiga generasi. Di ujung satu jalan, cerobong asap yang selalu mengepul kini cenderung hening; di ujung lain, perumahan baru bermunculan karena perusahaan teknologi mendirikan kantor. Seorang manajer pabrik, bernama Maya, menghadapi dilema moral: bagaimana mempertahankan profitabilitas perusahaan sambil menjaga pekerjaan puluhan keluarga, mengurangi emisi, dan tetap memenuhi target pengembalian modal investor?
Pada pagi musim panas tahun 2018, yang seharusnya sunyi dan biasa saja, langit di kota Paradise, California, berubah menjadi jelaga oranye pekat. Angin yang kering membawa bara api, melahap rumah-rumah dalam hitungan menit. Suara sirene memecah udara, sementara angin kering membawa serpihan bara yang menari liar di antara pepohonan pinus yang mulai tumbang. Bagi warga Paradise, semuanya terjadi begitu cepat—seperti ada tangan tak terlihat yang menyambar rumah, jalan, dan hidup mereka.
John, seorang ayah dua anak, sempat merebut kunci mobil sebelum dikejar lidah api yang menjilat-jilat dari kejauhan. Ia menyalakan mesin, melaju di tengah asap yang begitu tebal hingga lampu depan tak berarti apa-apa. Di belakangnya, kota kecil itu pelan-pelan runtuh. Lebih dari 80 orang meninggal; ribuan keluarga kehilangan apa pun yang mereka punya.
Bagi Rebecca Henderson, situasi yang dihadapi Maya dan tragedi seperti Paradise bukan sekadar kecelakaan alam, melainkan tanda bahwa sistem ekonomi global sedang membakar dunia tempat ia berdiri. Ia menulis bahwa “kita sedang menggerakkan mesin besar yang terus menghancurkan fondasi kehidupannya sendiri.”Kapitalisme—sebuah sistem yang, menurutnya, “sedang membakar rumah tempat ia berdiri sendiri.” Krisis iklim, ketidaksetaraan sosial, polarisasi politik, dan ketidakstabilan ekonomi global bukanlah serangkaian kecelakaan, melainkan akibat sistemik dari cara kita mengorganisasi produksi, keuntungan, dan kekuasaan.
Kisah-kisah itu bagi buku Henderson: sebuah seruan untuk menata ulang kapitalisme sebelum sistem itu menyebabkan keruntuhan ekologis, sosial, dan politik yang tak dapat dibalik lagi.
Di situlah letak inti buku Rebecca Henderson, Reimagining Capitalism in a World on Fire: bukan sekadar mengajarkan “bagaimana perusahaan bisa bertindak baik”, melainkan menawarkan landasan intelektual dan langkah praktis agar perusahaan menjadi bagian dari solusi — bukan pemicu kebakaran: perubahan iklim, ketimpangan, dan rusaknya institusi demokrasi.
What is capitalism? Itulah pertanyaan yang mengawali buku Henderson, sebuah pertanyaan yang makin jarang orang mempertanyakan. Henderson memulai dari pengakuan sederhana namun tajam — kapitalisme adalah penemu kemakmuran massal, tetapi versi yang kita jalankan kini sedang menghancurkan modal sosial dan alam yang menopangnya. Ia tidak menolak kapitalisme; ia menuntut “reimajinasi” sistem itu agar berfungsi untuk manusia dan planet dalam jangka panjang. Buku ini menautkan ekonomi organisasi, ilmu perilaku, teori institusi, dan studi kasus bisnis menjadi peta jalan pragmatis: lima “pieces” atau pilar tindakan yang, jika diimplementasikan secara simultan, dapat meredam api krisis dan membawa kapitalisme ke landasan yang lebih stabil dan berkeadilan. Reimagining Capitalism+1
Henderson, yang merupakan Professor dari the John and Natty McArthur University di Harvard University ini, merumuskan dua kegagalan utama dari cara kita menjalankan kapitalisme dalam beberapa dekade terakhir. Pertama, penekanan ekstrem pada nilai pemegang saham sebagai tujuan tunggal perusahaan (shareholder primacy) mendorong pengambilan keputusan jangka pendek, melemahkan investasi jangka panjang dalam karyawan, komunitas, dan planet. Kedua, pasar yang tampak “gratis” sebenarnya mengabaikan biaya eksternal — polusi, kesehatan publik, institusi kumuh — sehingga banyak kegiatan tampak murah padahal menyapu modal sosial dan ekologis. Dengan kombinasi kegagalan ini, wilayah-wilayah demokrasi, solidaritas sosial, dan kapasitas ekologis menipis lebih cepat daripada daya inovasi perusahaan menutupinya. Henderson menegaskan bahwa tanpa rekayasa ulang aturan permainan — dari insentif perusahaan, pasar modal, hingga instrumen regulasi — banyak inisiatif “baik” perusahaan akan menjadi fragmen estetika, bukan transformasi sistemik. Harvard Business School
Untuk itu ia menawarkan rencana lima bagian yang menjadi tulang punggung buku:
- Create shared value — desain model bisnis yang menumbuhkan permintaan sekaligus menyelesaikan kebutuhan sosial/lingkungan (mengambil warisan ide Porter & Kramer tapi memperluasnya sebagai inti strategi). Harvard Business Review
- Build purpose-driven organizations — mengubah tata kelola dan insentif internal agar tujuan jangka panjang dan kesejahteraan pemangku kepentingan menjadi bagian dari keputusan strategis. Reimagining Capitalism
- Measure what matters (rewire finance) — kembangkan metrik dan pasar modal yang memperhitungkan risiko iklim, nilai sosial, dan biaya eksternal sehingga modal berpindah ke aktivitas berkelanjutan. Reimagining Capitalism
- Pre-competitive, multi-stakeholder cooperation — membangun mekanisme industri untuk mengatasi masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh satu perusahaan sendirian (mis. rantai pasok rampas, perikanan, agribisnis). Triple Pundit
- Protect and strengthen democratic institutions — dukung kebijakan publik, media bebas, dan institusi inklusif yang mencegah kekuasaan terpusat di tangan oligarki dan memungkinkan aturan bermain yang adil. Reimagining Capitalism
Menurut Henderson “pieces” ini saling tergantung: perusahaan yang berubah sendirian akan cepat dikalahkan oleh pesaing oportunis kecuali institusi pengatur, investor, dan aliansi industri juga ikut mengubah aturan main. Mengubah satu aspek tanpa memperbaiki sisanya hanya memindahkan beban atau menciptakan “greenwashing” baru.
Buku ini menjadi makin menarik karena memadukan antara teori dan kasus. Beberapa bagian buku yang menempel di ingatan pembaca karena kekayaan ilustrasi dan ketajaman analitis adalah:
1) Menghidupkan kembali gagasan “shared value” sebagai strategi inti
Buku ini tidak menyajikan shared value sebagai filantropi yang manis, tetapi sebagai peluang bisnis yang besar: produk atau layanan yang memecahkan masalah sosial sering membuka pasar baru, menurunkan risiko rantai pasok, dan membangun loyalitas. Ia menguraikan bagaimana perusahaan dapat merancang produk yang mengurangi emisi, memperbaiki kesehatan konsumen, atau meningkatkan produktivitas petani, dan bagaimana model semacam ini dapat menjadi inti strategi kompetitif jangka panjang. Konsep ini berdiri di pundak artikel klasik Porter & Kramer (HBR 2011) tetapi Henderson menambahnya dengan penekanan pada kolaborasi lintas aktor dan dukungan kebijakan. Harvard Business Review
2) Membangun organisasi ber-purpose
Di bagian ini Henderson menelusuri bagaimana tata kelola korporasi, struktur kompensasi, dan budaya organisasi harus direkayasa ulang agar manajer memiliki insentif untuk memikirkan jangka panjang. Ia mencontohkan praktik-praktik manajemen yang memadukan demokrasi internal, otonomi tim, dan investasi pada kualitas tenaga kerja—yang pada gilirannya meningkatkan inovasi dan ketahanan perusahaan di saat guncangan.
3) Metode “rewire finance” dan metrik yang relevan
Henderson menekankan bahwa pasar modal harus bisa membedakan antara pertumbuhan yang mengikis modal alami dan pertumbuhan yang membangun kapital sosial. Artinya regulator dan investor perlu metrik untuk mengukur eksposur terhadap risiko iklim, ketahanan rantai pasok, dan kontribusi sosial. Ia mendorong transparansi laporan risiko iklim, standardisasi disclosure, dan produk investasi jangka panjang yang bukan hanya mengejar alfa jangka pendek.
4) Self-regulation industri dan kolaborasi pre-kompetitif
Untuk isu seperti deforestasi di rantai suplai, standar individu tidak cukup. Henderson menggambarkan model koalisi di mana perusahaan setuju pada aturan minimum, audit bersama, dan dukungan untuk petani kecil. Inisiatif semacam ini membuat “permainan jangka pendek” menjadi lebih sulit dan menciptakan insentif kolektif untuk menaikkan standar. Contoh-contoh sejenis (palm oil, sustainable fisheries) telah memberi pembelajaran bahwa skala dan legitimasi institusi kolaboratif penting. Triple Pundit
5) Politik, institusi, dan demokrasi
Bagian mungkin paling memengaruhi pembaca non-bisnis: Henderson mengingatkan bahwa tanpa institusi publik yang kuat — hukum yang adil, media yang bebas, pendidikan yang luas — perubahan bisnis akan rentan. Ia menyerukan sektor swasta untuk menjadi pendukung aktif institusi demokrasi karena ancaman pada demokrasi (populisme, oligarki) merusak prospek kepemimpinan jangka panjang dan stabilitas pasar.
Reimagining Capitalism pada Bab pertama langsung mengguncang: Shareholder Value as Yesterday’s Idea. Ia bergerak dari kritik historis: bahwa doktrin “maximize shareholder value” yang mendominasi sejak 1970-an kini menjadi usang. Henderson menunjukkan bagaimana Milton Friedman—yang menulis bahwa “the business of business is business”—memengaruhi kebijakan perusahaan hingga pertengahan abad ke-21. Padahal kini fakta-fakta telah berubah. Kita tidak lagi hidup di dunia di mana eksternalitas dapat diabaikan.
Bab pertama buku Henderson diawali dengan sebuah kalimat yang ia pinjam dari John Maynard Keynes: “When the facts change, I change my mind. What do you do, sir?” (ketika fakta berubah, saya mengubah pikiran saya). Dengan kutipan itu, Henderson meletakkan dasar naratif: bahwa kapitalisme modern dibangun di atas asumsi-asumsi yang tak lagi sesuai dengan kenyataan.
Salah satu asumsi terpenting itu datang dari Milton Friedman. Pada tahun 1970, Friedman menulis artikel terkenal yang menyatakan bahwa “tanggung jawab utama perusahaan adalah memaksimalkan keuntungan bagi pemegang saham.” Artikel itu kemudian dianut oleh generasi pebisnis, menjadi dogma dalam sekolah bisnis, dan memengaruhi kebijakan publik yang merayakan deregulasi, privatisasi, dan efisiensi ekstrem.
Namun Henderson, yang juga mengajar “Reimagining Capitalism: Business & the Big Problems,” di the Harvard Business School MBA Program ini, memperlihatkan bagaimana dunia telah berubah secara dramatis sejak Friedman menulis esainya. Perubahan iklim kini mengancam seluruh rantai nilai global; krisis sosial mendorong politik identitas; teknologi digital memperluas ketimpangan dan memonopoli data; dan perusahaan raksasa mengumpulkan kekuasaan yang tak pernah dibayangkan Friedman.
Sementara itu, dogma shareholder value telah mendorong perusahaan untuk menekan buruh, mengabaikan lingkungan, dan mengembangkan model bisnis yang tidak memikirkan masa depan. Henderson menulis bahwa pendekatan ini telah menciptakan “perusahaan tanpa masa depan”—entitas yang dapat menghasilkan laba hari ini, tetapi menghancurkan kemampuan planet menyediakan hidup esok hari.
Ia menggunakan contoh Unilever di bawah kepemimpinan Paul Polman, CEO yang menolak memberikan quarterly guidance dan memilih menerapkan Unilever Sustainable Living Plan. Atau Patagonia, yang sejak awal menolak logika kapitalisme ekstraktif. Tokoh-tokoh seperti ini menjadi “penyimpang” dalam sistem yang terjebak pada keuntungan jangka pendek.
Fakta telah berubah. Dan ketika fakta berubah, keyakinan pun seharusnya ikut berubah. Namun kapitalisme arus utama justru masih berjalan dengan kecepatan penuh menuju jurang yang sama. Ia menggambarkan: perusahaan energi yang meraup untung miliaran tetapi mendorong planet menuju krisis, perusahaan teknologi yang mengembangkan model bisnis ekstraktif atas data manusia, kesenjangan sosial yang menekan legitimasi demokrasi. Henderson menyitir Keynes: “When the facts change, I change my mind.”
Pada bab pembuka ini pesannya adalah model lama tak lagi cocok di dunia yang dipenuhi risiko ekologis dan politis. Ia menekankan contoh: Unilever, di bawah Paul Polman, menolak memberi quarterly guidance demi menjalankan strategi jangka panjang. Patagonia, yang sejak awal menolak logika shareholder primacy. Menurut Henderson, perusahaan yang masih memuja nilai saham jangka pendek sedang “mengemudi ke arah jurang dengan kaki menekan pedal gas”.
Karena itu kita perlu membuka diri atas perubahan, situasi yang baru. “Welcome to the World’s Most Important Conversation.” Di bab ini, Henderson memperlihatkan praktik perusahaan yang mencoba menata ulang fondasi kapitalisme. Ia menyebut ini sebagai “percakapan terpenting abad ini”. Bukan hanya tentang CSR, tetapi tentang perubahan model bisnis.
Contoh yang ia sajikan: Tesla dan mobil listrik yang menggeser lanskap energi, Ørsted, perusahaan minyak Denmark yang berubah menjadi raksasa energi terbarukan, Interface, produsen karpet yang menyatakan target “Mission Zero”. Henderson menggambarkan bahwa perubahan ini bukan tindakan filantropi, melainkan strategi bisnis yang memperhitungkan masa depan.
Ia menegaskan bahwa perusahaan yang beradaptasi dengan dunia “on fire” akan menjadi pemenang jangka panjang. Dalam gaya bercerita, Henderson juga menyinggung percakapan pribadinya dengan CEO perusahaan besar, yang mengaku: “Jika kami beroperasi seperti biasa, kami tidak akan bertahan 20 tahun lagi.”
Bisakah sebuah perusahaan melakukan tiga hal ini sekaligus: Reducing Risk, Increasing Demand, Cutting Costs. Reimagining Capitalism (Bab 3) menjelaskan secara mendalam alasan ekonomis mengapa perusahaan mesti berubah: 1. Mengurangi risiko. Perubahan iklim menciptakan risiko: gangguan rantai pasok, kerugian aset fisik, ketidakstabilan politik. 2. Meningkatkan permintaan. Generasi muda menuntut produk berkelanjutan. Tekanan konsumen semakin naik. 3. Menurunkan biaya. Efisiensi energi, logistik, dan material bukan lagi “isu hijau”, tetapi isu profit.
Henderson memberi contoh: Walmart, yang mengurangi biaya miliaran dolar lewat efisiensi energi, Google, yang berinvestasi besar dalam energi terbarukan bukan karena idealisme, tetapi predictable cost of energy. Dalam bagian ini ia menegaskan: “Doing the right thing is increasingly indistinguishable from doing good business.”
Dalam bab ketiga, Henderson menunjukkan bahwa ada alasan yang sangat praktis—bukan moral saja—untuk mengubah cara perusahaan beroperasi. Perubahan iklim menciptakan risiko bagi rantai pasok, aset fisik, dan reputasi. Konsumen muda semakin sadar lingkungan dan menuntut praktik bisnis yang transparan. Efisiensi energi dan desain ulang produksi dapat menurunkan biaya secara signifikan.
Walmart, raksasa ritel yang selama puluhan tahun terkenal dengan model bisnis berbasis harga rendah, menemukan bahwa efisiensi energi dapat menghemat miliaran dolar. Google berinvestasi besar dalam energi terbarukan karena biaya jangka panjangnya stabil dan dapat diprediksi.
Henderson, seorang research fellow at the National Bureau of Economic Research, menegaskan bahwa melakukan hal yang benar “semakin sulit dibedakan dari bisnis yang baik.” Pasar sedang bergerak; perusahaan yang tidak mengikutinya akan ditinggalkan.
Salah satu strategi lain perusabahan pada cara pengelolaan perusahanm adalah dengan melakukan Revolutionizing the Purpose of the Firm. Henderson beralih pada fondasi moral kapitalisme. Ia menggambarkan bahwa keberhasilan sistem pasar modern membutuhkan: kepercayaan, aturan main yang adil, dan nilai bersama untuk menjaga integritas institusi.Ia menyinggung kasus: skandal Wells Fargo, skandal data Facebook, sebagai bukti degradasi nilai-nilai inti pasar.
Bab ini menekankan bahwa kapitalisme tak bisa berjalan tanpa moralitas publik. Henderson mengutip Adam Smith (dari The Theory of Moral Sentiments): “No society can surely be flourishing… when the greater part is poor.”
Ia mengingatkan bahwa Smith bukan penganut pasar bebas yang liar, melainkan moral philosopher yang percaya bahwa pasar harus dibangun di atas etika publik.
Dalam bab-bab berikutnya, Henderson membawa pembaca memasuki dunia nyata perusahaan yang telah mencoba menerapkan visi kapitalisme baru. Narasinya penuh dengan kisah perubahan, pergulatan, dan transformasi. Ia tidak hanya berbicara secara abstrak, tapi memberikan gambaran konkret tentang apa yang terjadi ketika perusahaan mengambil langkah radikal.
Salah satu kisah favoritnya adalah Ørsted, perusahaan energi Denmark yang dahulu merupakan raksasa bahan bakar fosil. Ørsted melakukan pivot besar-besaran, meninggalkan minyak dan gas, lalu memusatkan bisnis pada energi terbarukan, terutama angin lepas pantai. Tidak ada yang menyangka keputusan itu akan berhasil, tapi kini Ørsted adalah salah satu pemimpin dunia dalam energi hijau.
Kisah lain datang dari Interface, produsen karpet yang mendeklarasikan misi “Mission Zero”—komitmen untuk tidak memiliki jejak karbon sama sekali. Transformasi ini bukanlah CSR; ini adalah perubahan strategi bisnis. Interface berhasil menurunkan biaya, menciptakan material baru, dan bahkan membuka pasar yang sebelumnya tak terbayangkan.
Henderson menggambarkan perusahaan-perusahaan ini sebagai pelopor percakapan paling penting abad ini: percakapan tentang bagaimana bisnis bisa bertahan di dunia yang sedang terbakar. Mereka bukan idealis naïf. Mereka adalah perusahaan yang memahami bahwa masa depan adalah aset yang berharga. Ali Syariati: “Responsibility is the essence of human freedom.”
Learning to Love the Long Term. Di sinilah Henderson menguliti jantung masalah:
keuangan global didesain untuk jangka pendek. Ia menggambarkan: investor yang mengejar kuartal demi kuartal, manajer yang takut membuat keputusan jangka panjang karena ancaman turunnya harga saham, sistem insentif yang keliru. Contoh: BlackRock dan Larry Fink yang mulai menuntut perusahaan menyatakan purpose jelas, kebangkitan ESG metrics, munculnya impact investing.
Henderson berargumen bahwa mengubah kapitalisme mustahil tanpa mengubah pipa keuangan yang mengalirkan modal.
Learning to Cooperate. Bab ini menceritakan betapa sulitnya perusahaan bekerja sama untuk kepentingan publik karena: risiko free rider, aturan kompetisi antimonopoli, ketakutan dianggap berkolusi. Namun Henderson memberikan kasus sukses: gandum berkelanjutan di sektor agrikultur Eropa, inisiatif emisi net-zero yang menjadi standar industri.
Bab ini berbicara tentang desain kolaborasi yang baik agar perusahaan tidak hanya berpikir untuk dirinya sendiri. Henderson menyitir pepatah Afrika: “If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.”
Bagian buku yang paling kuat adalah ketika Henderson membongkar bagaimana sistem keuangan global memaksa perusahaan melakukan apa pun demi laba jangka pendek. Investor menuntut return cepat; manajer takut mengambil risiko jangka panjang; dan struktur insentif membuat orientasi jangka panjang tampak mustahil.
Tetapi mulai muncul tanda-tanda perubahan: Larry Fink dari BlackRock menuntut perusahaan memiliki purpose jelas; indikator ESG mulai dipakai investor; dan gerakan impact investing mulai mendapatkan momentum. Meskipun begitu, Henderson tidak menutup mata bahwa jalan ini panjang. Membayangkan ulang kapitalisme membutuhkan pembayangan ulang cara modal dialirkan dan dinilai.
Kapitalisme hanya bisa berjalan sehat jika ada demokrasi yang kuat dan institusi publik yang tepercaya. Namun kini dunia menghadapi polarisasi ekstrem, populisme, dan oligarki. Uang perusahaan mengalir ke politik, melahirkan regulasi yang menguntungkan segelintir orang.
Henderson berpendapat bahwa kita tidak bisa menyelamatkan kapitalisme jika kita tidak menyelamatkan demokrasi. Ini menciptakan jembatan penting antara ekonomi, moralitas, dan politik. Seperti ditegaskan oleh ekonom Amartya Sen, “Development is freedom.” Pasar yang bebas tidak akan bertahan tanpa masyarakat yang bebas dan institusi yang adil.
Markets, Politics, and the Future of the Capitalist System. Bab ini adalah bab paling politis. Henderson memaparkan bahwa kapitalisme modern hanya bisa bertahan jika: ada demokrasi yang sehat, ada lembaga negara yang kuat, ada kepercayaan publik.
Namun kini: polarisasi politik meningkat, oligarki dalam pendanaan politik menguat, korporasi sering melobi untuk keuntungan sempit. Ia menjelaskan bahwa pasar butuh negara yang kuat, bukan negara yang dipreteli korporasi.
Contoh: keruntuhan regulasi keuangan sebelum 2008, lemahnya respon iklim karena lobi energi fosil. Henderson menulis bahwa masa depan kapitalisme bergantung pada bangkitnya kembali “institusi penjaga” demokrasi.
Kapitalisme bukan hanya mesin ekonomi; ia adalah institusi sosial yang membutuhkan nilai-nilai bersama. Adam Smith, yang sering dikutip untuk membenarkan pasar bebas, sebenarnya menulis The Theory of Moral Sentiments—sebuah buku tentang empati, kepercayaan, dan etika.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, pasar modern kehilangan jiwa moralnya. Skandal Wells Fargo dan eksploitasi data oleh Facebook menjadi contoh bagaimana perusahaan dapat merusak tatanan sosial ketika mereka lupa bahwa kepercayaan adalah mata uang paling berharga. Karena itu ia menekankan perlunya mengembalikan nilai-nilai bersama itu. Keberhasilan jangka panjang tidak ditentukan oleh inovasi saja, tetapi oleh keberlanjutan institusi sosial yang mendukung inovasi itu.
Finding Your Own Path Toward Changing the World. Bab penutup ini bersifat reflektif dan personal. Henderson mendorong pembaca untuk menemukan peran kecil dalam pusaran perubahan besar. Ia menggambarkan pengalaman mahasiswanya yang: memulai perusahaan energi bersih, bekerja di sektor publik, membangun startup sirkular, menjadi pemimpin transformasi di perusahaan besar. Bab ini memberikan nada optimisme: “Pebbles can trigger avalanches—small acts can reshape systems.”
Relevansi isi dan gagasan bagi kondisi dunia saat ini
Krisis iklim telah menjadi ancaman eksistensial, bukan prediksi semata. Kita melihat kebakaran di Amazon, banjir ekstrem di Pakistan, gelombang panas mematikan di Eropa, dan kelaparan yang diperburuk oleh perubahan cuaca. Ketimpangan sosial melebar; kepercayaan pada politik menurun; dan perusahaan raksasa teknologi menguasai data dan opini publik.
Gagasan Henderson penting karena ia tidak menawarkan kehancuran kapitalisme, melainkan evolusi moral dan strukturalnya. Ia memperlihatkan bahwa sistem pasar dapat menjadi kekuatan kebaikan jika diarahkan dengan nilai yang benar dan didukung oleh institusi yang kuat.
Buku Henderson diterbitkan pada awal 2020, tepat ketika pandemi mengonfirmasi — lebih keras daripada apa pun — keterkaitan ekonomi, kesehatan publik, dan ketahanan institusi. Argumen-nya tentang perlunya memikirkan kembali insentif bisnis agar memperhitungkan risiko eksternal menjadi sangat relevan ketika rantai pasok global terganggu dan kerentanan distribusi vaksin menjadi masalah geopolitik.
Buku Henderson menjadi semakin relevan karena menekankan bahwa kita tidak hanya butuh reformasi kecil, tetapi rekayasa ulang sistem ekonomi. Krisis global membuktikan tesis Henderson: kapitalisme tanpa etika akan membakar fondasi yang menopangnya.
Secara praktis, gagasan Henderson telah mempengaruhi diskursus ESG, investor institusional, dan CEO yang mencari arah baru. Peralihan sebagian investor ke komitmen ESG, dan perkembangan regulasi disclosure iklim (yang ia dorong), adalah contoh awal bagaimana gagasan ini mulai merembes ke praktik pasar. Namun Henderson juga menekankan: ini adalah proses panjang—membangun akuntabilitas, metrik, dan struktur finansial baru membutuhkan terobosan politik dan konsensus internasional. Secara ringkas: Henderson memberikan jalan keluar yang layak, tetapi bukan resep instan. Stanford Social Innovation Review+1
Relevansi khusus untuk Indonesia
Membaca Henderson dari perspektif Indonesia membuka sejumlah wawasan praktis dan urgen:
Pertama, perekonomian berbasis ekstraktif (sawit, batu bara, tambang) menghadapi dilema yang persis seperti yang Henderson gambarkan: keuntungan jangka pendek vs. kerusakan jangka panjang. Menciptakan shared value di sektor-sektor ini berarti merancang rantai pasok yang memberdayakan petani kecil, melindungi hutan, dan menginternalisasi biaya lingkungan melalui kebijakan fiskal dan insentif.
Kedua, melemahnya institusi lokal dan tantangan tata kelola membuat inisiatif bisnis berorientasi purpose rentan jika tidak disertai penguatan hukum, transparansi, dan hak masyarakat adat. Henderson menekankan bahwa sektor swasta harus menjadi pendukung demokrasi lokal — misalnya, perusahaan multinasional dapat mendukung tata kelola hutan berbasis komunitas untuk mencegah konflik dan meningkatkan legitimasi.
Ketiga, rewiring finance bagi Indonesia berarti menarik modal jangka panjang untuk infrastruktur hijau, energi terbarukan, dan transisi adopsi teknologi. Regulasi pengungkapan risiko iklim dan insentif pasar modal hijau (green bonds, sustainability-linked loans) perlu diperkuat agar modal benar-benar berpindah ke proyek yang membangun modal sosial dan alam.
Keempat, budaya korporasi—apakah keluarga konglomerat memilih horizon keputusan 3–5 tahun atau 30 tahun—menentukan apakah perusahaan Indonesia ikut arus reimajinasi atau menjadi korban disrupsi. Di sini pendidikan manajerial (seperti kursus Henderson di HBS) dan pelatihan kepemimpinan ber-purpose bisa relevan untuk pemimpin Indonesia.
Indonesia adalah laboratorium nyata persoalan yang Henderson kritik: deforestasi dan krisis lahan gambut, oligarki bisnis-politik, ketimpangan ekonomi yang tajam, pembangunan jangka pendek tanpa visi ekologis.
Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang besar: energi terbarukan (surya, panas bumi), ekonomi hijau berbasis hutan, keberagaman gerakan masyarakat sipil.
Buku ini relevan untuk: merumuskan kembali model pembangunan pasca-nikel, memperbaiki tata kelola korporasi BUMN dan swasta, mendorong investasi jangka panjang yang berkelanjutan. Pembangunan sering kali didorong oleh logika jangka pendek yang menyerupai dogma shareholder value versi negara: mengejar pertumbuhan cepat tanpa memikirkan keberlanjutan.
Pelajaran Henderson untuk Indonesia: Pembangunan jangka pendek tidak akan menyelamatkan Indonesia dalam era perubahan iklim. Kita membutuhkan negara yang kuat, tetapi juga bersih, untuk menuntut perusahaan bertindak bertanggung jawab. Indonesia harus mengarahkan investasi ke masa depan, bukan ke industri yang sudah usang. Partisipasi warga dan masyarakat sipil adalah kunci menyelamatkan demokrasi dan ekonomi.
Kritik, Batasan, dan Pujian
Buku ini menerima banyak pujian: praktis, berbasis bukti, dan dapat dibaca oleh pemimpin non-akademik. Review di Stanford Social Innovation Review dan SSIR menyebutnya “petunjuk struktural penting” untuk perubahan. Hasilnya, Henderson dianggap membawa diskusi dari aspirasi moral ke instrumentasi praktis. Stanford Social Innovation Review
Namun beberapa kritik juga muncul. Ada pembaca yang menilai judulnya berlebihan (tidak sepenuhnya “reimajining” cara kerja ekonomi), atau menganggap beberapa rekomendasi Henderson terlalu optimis terhadap kemampuan sektor swasta menyetujui perubahan yang menuntut pengorbanan profit jangka pendek. Ada pula kritik bahwa ia tidak cukup menantang struktur oligarki yang terlalu kuat di banyak negara — yakni: jika oligarki menguasai politik, bagaimana ruang bagi investor jangka panjang untuk memaksa perubahan? Beberapa pengulas mengatakan buku ini lebih cocok sebagai roadmap bagi pemimpin korporasi yang sudah “termotivasi” daripada alat untuk memaksa reformasi sistemik di negara-negara dengan kelembagaan lemah. The StoryGraph+1
Henderson sendiri menyadari limitasi ini; ia menulis bahwa perubahan adalah koalisi: bisnis, investor, pemerintah, dan masyarakat sipil harus bergerak bersama. Kritik terkuat muncul dari kalangan yang menuntut transformasi lebih radikal — nasionalisasi sektor strategis, redistribusi kekayaan tegas, atau pengurangan skala konsumsi di utara global — yang menurut mereka tidak cukup disentuh oleh Henderson yang tetap bekerja dalam kerangka reformasi kapitalis.
Catatan Akhir
Rebecca Henderson mengajukan tesis yang berani tapi pragmatis: kapitalisme tidak perlu ditendang keluar sejarah—ia perlu direka ulang agar melayani tujuan jangka panjang: planet yang layak huni, masyarakat yang inklusif, dan institusi yang bisa menangani tantangan kolektif. Kunci buku ini bukan optimisme tanpa kerja, tetapi peta jalan operasional: desain produk dan model bisnis yang menciptakan nilai bersama, tata kelola perusahaan yang fokus tujuan (purpose), metrik dan pasar yang mengalihkan modal, kolaborasi industri skala besar, serta dukungan aktif bagi institusi demokratis. Tanpa salah satu dari elemen ini, inisiatif terfragmentasi akan gagal skala.
Untuk Indonesia, Henderson memberi preskripsi relevan: ubah insentif (regulasi dan fiskal), perkuat disclosure risiko iklim, redirect modal ke proyek hijau, dan dorong kolaborasi rantai pasok yang meningkatkan kesejahteraan petani kecil sambil melindungi hutan.
Akhirnya, buku ini lebih merupakan « toolkit » daripada manifesto revolusioner. Bagi mereka yang percaya perubahan sistemik perlu dimulai dari praktik yang dapat direplikasi dan diukur, Henderson memberi fondasi yang berguna. Bagi mereka yang menuntut transformasi radikal dan redistribusi cepat kekuasaan ekonomi, buku ini mungkin terasa kurang memuaskan. Di tengah debat itu, Henderson memberikan sumbangan penting: alasan moral dan teknis bagi para pemimpin bisnis untuk ikut menurunkan panas dunia yang sedang terbakar.
Bab terakhir buku ini penuh optimisme. Henderson bercerita tentang mahasiswa dan profesional yang menemukan cara masing-masing untuk berkontribusi: mendirikan perusahaan energi bersih, bekerja di sektor publik, mempengaruhi perubahan di perusahaan raksasa, atau menciptakan inovasi sosial.
Ia menulis, “Pebbles can trigger avalanches”—batu kecil dapat memicu longsoran besar. Perubahan sistemik lahir dari tindakan banyak individu yang bekerja dalam berbagai ruang, dari perusahaan hingga komunitas lokal. Bagian ini adalah ajakan yang sangat personal: bahwa dunia hanya berubah jika kita berubah terlebih dahulu.
Di akhir perjalanan panjang ini, gagasan Henderson menyatu dalam satu pesan: kapitalisme yang kita kenal bukanlah satu-satunya bentuk kapitalisme. Sistem pasar dapat berevolusi, dan kita adalah bagian dari evolusi itu.
Ketika Paradise terbakar, dunia melihat bukan hanya tragedi lokal, tetapi bayangan masa depan. Henderson menulis bahwa kita bisa membayangkan ulang cara kita bekerja, berproduksi, dan hidup, atau kita bisa menunggu sampai “api” mengubah segalanya dengan kekerasan.
Kapitalisme tidak akan bertahan tanpa bumi yang sehat, masyarakat yang adil, dan institusi yang kuat. Pertanyaannya bukan lagi apakah perlu berubah, tetapi seberapa cepat kita mau melakukannya.
Sebuah pepatah yang dikutip Henderson barangkali menjadi penutup paling tepat: “If you want to go far, go together.”
Dan kini, masa depan mengharuskan kita semua berjalan bersama.
Cirebon-Lumajang, 21 November 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
- Henderson, R. (2020). Reimagining Capitalism in a World on Fire: How Business Can Save the World. PublicAffairs.
- Porter, M. E., & Kramer, M. R. (2011). Creating shared value. Harvard Business Review. https://hbr.org/2011/01/the-big-idea-creating-shared-value
- Harvard Business School. Reimagining Capitalism course / faculty page. https://www.hbs.edu/faculty/Pages/item.aspx?num=57582. Harvard Business School
- Stanford Social Innovation Review (Mark Kramer review). “Big Structural Change.” https://ssir.org/books/reviews/entry/big_structural_change. Stanford Social Innovation Review
- EconTalk interview with Rebecca Henderson. https://www.econtalk.org/rebecca-henderson-on-reimagining-capitalism/EconTalk
- TriplePundit summary of five steps (concise overview). https://triplepundit.com/2020/reimagine-capitalism-covid-19/Triple Pundit
- Maathai, W. (2004). Nobel Prize facts. Retrieved from https://www.nobelprize.org/prizes/peace/2004/maathai/facts/
- Iqbal, M. (n.d.). Selected works. Retrieved from https://www.iqbal.com
- Library of Social Science. (2018). Ali Shariati quotes. Retrieved from
https://www.libraryofsocialscience.com/newsletters/2018/2018-11-27-SHashim - Homef. (n.d.). Nnimmo Bassey. Retrieved from https://www.homef.org
- Financial Times. (2020). Review of Reimagining Capitalism.
Harvard Business Review. (2020). Book review.
Pengayaan: Kutipan Pemikir & Tokoh
· Muhammad Iqbal “Nations are born in the hearts of poets; they prosper and die in the hands of politicians.” https://www.iqbal.com
· Ali Syariati “Responsibility is the essence of human freedom.”
https://www.libraryofsocialscience.com/newsletters/2018/2018-11-27-SHashim
· Wangari Maatha, “The generation that destroys the environment is not the generation that pays the price.” https://www.nobelprize.org/prizes/peace/2004/maathai/facts/
· Poet Nnimmo Bassey “The environment is life; without it we are nothing.” https://www.homef.org
Kutipan dan cermin pemikiran lain
Henderson menyusun argumennya di persimpangan pemikiran manajemen, ekonomi, dan etika. Kutipan-kutipan pendukung dan relevan yang saya tambahkan di sini membantu menempatkan buku dalam tradisi pemikiran yang lebih luas:
- Michael E. Porter & Mark R. Kramer: “Creating Shared Value” — ide sentral tentang bagaimana bisnis dapat membuka peluang melalui pemecahan masalah sosial (HBR, 2011). Harvard Business Review
- Amartya Sen: gagasan bahwa pembangunan harus memperbesar kebebasan dan kapabilitas manusia — sejalan dengan penekanan Henderson pada inklusivitas dan institusi yang memperluas kesempatan. (Sen, Development as Freedom). Development Education Review
- Dari tradisi pemikiran Islam-modernis, Fazlur Rahman menekankan etika sebagai inti tindakan — relevan karena Henderson mendudukkan etika sebagai bagian operasional, bukan semata narasi moral. (lihat ringkasan pemikiran Fazlur Rahman tentang etika Qur’ani). Geocities+1






