Rubarubu #103
Pedal It!:
Mengayuh, Mengubah Dunia
“From the very first boneshakers to the sleek racing bikes of today… bicycles have continued to capture our collective fascination.” Begitulah buku Pedal It! membuka cerminnya — dari sejarah yang sederhana hingga pengaruh sosial yang mendalam — tentang bagaimana sepeda telah berevolusi menjadi lebih dari sekadar alat transportasi. “Dari boneshaker paling awal hingga sepeda balap modern yang ramping hari ini… sepeda tak henti-hentinya menawan daya tarik kolektif umat manusia.”
Sepeda, menurut Michelle Mulder, dalam buku Pedal It!: How Bicycles Are Changing the World (Orca Book Publishers, 2013), bukan hanya dua roda dan rangka; ia adalah kekuatan yang menggerakkan dunia secara fisik, sosial, ekonomi, bahkan ekologis. Barnes & Noble Buku ini bukan novel petualangan, tetapi sebuah narasi fakta-naratif visual yang mengajak pembaca—terutama anak usia sekolah menengah dan atas—untuk melihat sepeda dari sudut pandang sejarah, teknologi, budaya, dan dampaknya pada kehidupan manusia di seluruh dunia. Michelle Mulder. Michelle Mulder adalah seorang penulis buku anak-anak dan remaja (middle-grade/ young adult) Kanada yang dikenal karena karyanya yang memadukan petualangan, isu-isu sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Sebagai seorang penulis yang berbasis di Victoria, British Columbia, ia telah menerbitkan berbagai buku fiksi dan non-fiksi yang bertujuan untuk menginspirasi kaum muda agar lebih peduli terhadap dunia di sekitar mereka.
Sejarah & Evolusi Sepeda
Mulder memulai narasinya dengan menginformasikan pembaca tentang akar sepeda: bagaimana idenya lahir sebagai “walking machine” (mesin berjalan), kemudian berubah menjadi boneshaker, high-wheeler, dan akhirnya menjadi sepeda “safety” yang kita kenal sekarang. Perjalanan evolusi ini tidak hanya teknis, tetapi juga budaya. Sepeda berbicara pada zaman, kebutuhan, dan kreativitas manusia. Barnes & Noble
Sepeda awal bukan hanya alat untuk bersenang-senang. Ketika bicycle pertama kali diproduksi secara massal, ia menjembatani jurang mobilitas antara kelas sosial, memberi individu kebebasan bergerak; terutama bagi perempuan di era ketika akses mobilitas jauh lebih terbatas. Dalam ulasan di BC BookWorld, dicatat bahwa tokoh-tokoh sejarah seperti Susan B. Anthony melihat sepeda sebagai alat yang memberi “a feeling of freedom and self-reliance” bagi perempuan—sebuah gagasan revolusioner yang membuka cara pandang baru tentang pemberdayaan. ABC BookWorld
Buku ini bukan hanya kisah sejarah; ia juga memperkenalkan komponen sepeda dan prinsip kerjanya: rantai, roda bebas (freewheel), dan sistem pedal. Bab-bab seperti Chainwheels, Freewheels, Wheeee! dan Zooming Ahead mengaitkan teknologi dengan pengalaman nyata bersepeda: bagaimana sebuah perubahan kecil pada desain bisa membawa dampak besar terhadap cara kita bergerak. eBay Pembaca diajak melihat sepeda sebagai teknologi yang elegan, yang menggabungkan prinsip fisika, desain, dan estetika — bukan semata-mata mesin. Di sinilah kita melihat bahwa sepeda adalah teknologi manusiawi: sederhana, tangguh, dan adaptif. Mekanika, Rantai, dan Roda adalah The Joy of Pedaling.
Bab On the Move menggeser fokus dari sejarah dan mekanika ke peran sepeda dalam kehidupan modern. Sepeda bukan lagi sekadar alat untuk bermain; ia juga digunakan dalam pekerjaan sehari-hari. “Beyond Fun” membahas bagaimana sepeda dipakai bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga sebagai alat transportasi penting di kota dan pedesaan. eBay
Di berbagai tempat di dunia, sepeda menjadi taksi, ambulans, alat kurir, bahkan mesin pembangkit listrik sederhana. Fotografi penuh warna dan potongan naratif tentang peng-gunaan kreatif sepeda (mis. membawa barang, mengantar makanan, atau pergi ke sekolah) menunjukkan bagaimana sepeda menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. dq5pwpg1q8ru0.cloudfront.net Dengan kata lain, sepeda dalam kehidupan sehari-hari: fun, but functional.
Bagian terakhir buku, Pedaling for Change, adalah yang paling menggugah secara moral dan global. Mulder menggambarkan sepeda sebagai alat yang mengubah kehidupan nyata orang-orang di dunia berkembang — dari pertolongan medis hingga usaha produktif. Judul-judul seperti Emergency!, Life-Saving Pedal Power, dan Pedaling Together menunjukkan bahwa di beberapa komunitas sepeda bukan hanya alat transportasi, tetapi alat pemberdayaan, keselamatan, dan kemandirian ekonomi. eBay
Istilah seperti bicimaquinas—sepeda yang dirancang untuk melakukan tugas-tugas sehari-hari (mis. menghasilkan listrik, menggerakkan mesin sederhana)—menunjukkan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sepeda untuk kebutuhan kritis mereka. Barnes & Noble
Peran sepeda dalam membantu aktivitas ekonomis seperti mengantar barang, membawa hasil panen, atau menghubungkan desa terpencil dengan pusat layanan kesehatan adalah gambaran kuat bahwa sepeda menginspirasi perubahan yang nyata dan berkelanjutan. Pedaling for Change: Sepeda sebagai Agen Perubahan Sosial.
Karena itu sepeda juga sering dijadikan simbol kemerdekaan perubahan. Buku ini tidak hanya fakta dan foto; ia menyiratkan ide lebih besar: sepeda adalah simbol kebebasan, kemandirian, dan inovasi. Dalam konteks ini kita dapat menarik kutipan pemikir lain tentang hubungan antara mobilitas dan kemerdekaan manusia.
Seperti kata Henri Bergson, filsuf Prancis yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam memahami kehidupan: “…the essence of the human condition is movement…” (pengalaman adalah apa yang dialami langsung oleh tubuh yang bergerak). Sepeda, menurut Mulder, menempatkan kita kembali dalam pengalaman itu—bukan alat transportasi pasif, tetapi medium interaksi aktif dengan dunia. Lebih lanjut, dalam perspektif budaya Islam, kita bisa mengambil inspirasi dari kata-kata Ibn Khaldun tentang interaksi sosial dan mobilitas: bahwa manusia berkembang melalui perpindahan, interaksi, dan pertukaran pengalaman. Sepeda memfasilitasi ini: itulah mengapa bukan sekadar ‘alat’, tetapi juga perantara sosial dan ekonomi.
Ketika Dua Roda Mulai Mengubah Dunia
Buku Pedal It! dibuka dengan kesadaran sederhana namun kuat: sepeda adalah salah satu penemuan manusia yang paling bersahaja, tetapi paling luas dampaknya. Michelle Mulder tidak langsung mengajak pembaca pada angka atau definisi, melainkan pada rasa heran: bagaimana mungkin alat yang tampak begitu sederhana mampu menjangkau begitu banyak kehidupan, melintasi abad, kelas sosial, dan benua?
Sepeda diperkenalkan sebagai teknologi yang tidak memisahkan manusia dari dunia, melainkan justru menempatkan tubuh manusia kembali ke pusat pengalaman. Tidak seperti mobil atau mesin berat, sepeda menuntut kehadiran penuh: kaki harus mengayuh, tubuh harus seimbang, mata harus membaca jalan. Dengan cara itu, sepeda menjadi teknologi yang mendidik tubuh, bukan menggantikannya. Mulder menyiapkan pembaca—terutama pembaca muda—untuk melihat sepeda bukan sebagai benda mati, tetapi sebagai kisah panjang eksperimen manusia tentang gerak, kebebasan, dan kemungkinan hidup yang lebih adil. Pengantar ini berfungsi seperti membuka pintu: sebelum kita masuk ke detail sejarah, kita diajak bertanya, mengapa sepeda bertahan begitu lama, sementara begitu banyak teknologi lain dilupakan?
Pedal It dimulai dengan rasa ingin tahu yang hampir kekanak-kanakan, tetapi justru itulah kekuatannya. Siapa orang pertama yang berpikir bahwa manusia bisa melaju dengan dua roda sejajar? Pertanyaan ini tidak dijawab dengan satu nama heroik, melainkan dengan rangkaian upaya, kegagalan, dan perbaikan—sebuah proses kolektif yang mencerminkan cara manusia belajar.
Kisah sepeda The Walking Machine dimulai bukan dengan kayuhan, tetapi dengan langkah kaki. The Walking Machine—yang sering dikaitkan dengan Karl von Drais pada awal abad ke-19—adalah alat tanpa pedal, tanpa rantai, tanpa kemewahan. Penggunanya duduk di atas rangka kayu dan mendorong dirinya dengan kaki menyentuh tanah, seperti anak kecil belajar keseimbangan. Mulder menggambarkan mesin ini bukan sebagai solusi sempurna, melain-kan percobaan berani. Dunia saat itu belum siap, jalannya kasar, dan tubuh manusia belum terbiasa. Tetapi di sinilah benih sepeda ditanam: gagasan bahwa manusia bisa meluncur lebih cepat dari berjalan, tanpa kuda, tanpa mesin uap.
Ada sesuatu yang puitis dalam kegagalan awal ini. Ia mengajarkan bahwa inovasi besar sering lahir dari alat yang tampak canggung, bahkan lucu.
Ketika pedal akhirnya ditambahkan, dunia memasuki fase yang disebut fase boneshaker—nama yang dengan jujur menggambarkan pengalamannya. Roda besi, ban keras, jalan berbatu: setiap perjalanan adalah guncangan literal bagi tubuh. Mulder menarasikan fase ini sebagai masa ketika sepeda mulai “bergerak sendiri”, tetapi belum ramah pada penggunanya. Namun justru di sinilah sepeda mulai populer. Orang-orang bersedia menahan rasa tidak nyaman demi kecepatan dan sensasi baru. Secara sosial, ini penting: sepeda tidak lagi hanya eksperimen aristokrat atau ilmuwan, tetapi mulai merembes ke ruang publik.
Data historis yang sering disinggung menunjukkan bahwa pada pertengahan abad ke-19, klub sepeda mulai bermunculan di Eropa dan Amerika Utara. Ini menandai perubahan: sepeda mulai menjadi fenomena budaya, bukan sekadar alat teknis.
Lalu datanglah high-wheeler—sepeda dengan roda depan raksasa dan roda belakang kecil. Mulder menulis bagian ini hampir seperti kisah akrobat. Mengendarai sepeda ini membutuhkan keberanian, keseimbangan, dan sering kali keberuntungan. Jatuh dari ketinggian roda depan bisa berarti cedera serius. Namun ada makna simbolik yang kuat di sini. High-wheeler adalah sepeda kelas menengah ke atas: mahal, berbahaya, dan eksklusif. Tidak semua orang bisa menggunakannya—perempuan, anak-anak, dan orang bertubuh kecil hampir tersingkir secara otomatis.
Sepeda pada fase ini memperlihatkan paradoks: ia menjanjikan kebebasan, tetapi masih menyisakan ketidaksetaraan akses. Ini penting karena kelak justru ketimpangan inilah yang memicu lahirnya desain yang lebih adil.
Segalanya berubah ketika safety bicycle muncul. Dua roda berukuran sama, rantai penggerak, posisi duduk lebih rendah—sepeda akhirnya menjadi aman, stabil, dan dapat diakses. Mulder menggambarkan momen ini sebagai demokratisasi gerak. Inilah titik balik sejarah sepeda. Data yang sering dirujuk menunjukkan lonjakan penggunaan sepeda pada akhir abad ke-19, ter-masuk oleh perempuan. Sepeda memberi mereka mobilitas tanpa pendamping, sesuatu yang sebelumnya hampir mustahil. Tak heran jika tokoh seperti Susan B. Anthony menyebut sepeda sebagai alat pembebasan perempuan.
Sepeda “aman” bukan hanya soal keselamatan fisik, tetapi juga keamanan sosial: siapa yang boleh bergerak, ke mana, dan dengan cara apa.
Penemuan ban berisi udara, Air in Your Tires, mungkin terdengar teknis, tetapi Mulder menulis-kannya sebagai momen kelegaan kolektif. Jalan masih kasar, tetapi perjalanan tidak lagi me-nyiksa. Tubuh pesepeda bisa bernapas, bukan sekadar bertahan. Secara analitis, inovasi ini memperpanjang jarak tempuh dan memperluas fungsi sepeda. Ia bukan lagi mainan kota, tetapi alat perjalanan yang masuk akal. Ini juga membuka jalan bagi penggunaan sepeda di wilayah pedesaan dan jarak menengah—sebuah langkah penting menuju peran sosial sepeda yang lebih luas.
Bagian ini ditulis dengan nada optimistis dan enerjik, On Your Bikes! Sepeda mulai menyebar ke mana-mana: ke kota, ke desa, ke sekolah, ke tempat kerja. Klub, lomba, dan perjalanan jarak jauh menjadi bagian dari kehidupan modern. Mulder menekankan bahwa pada titik ini sepeda tidak lagi membutuhkan pembenaran. Ia telah menemukan tempatnya dalam kehidupan sehari-hari. Ia bukan sekadar alat, tetapi kebiasaan sosial.
Sebagai seorang penulis buku anak-anak dan remaja Bab akhir ditutup dengan fokus pada anak-anak—bukan sebagai pengguna masa depan, tetapi sebagai pengguna hari ini. Sepeda menjadi alat belajar: keseimbangan, keberanian, kemandirian. Mulder mengaitkan ini dengan fakta bahwa di banyak tempat di dunia, sepeda adalah satu-satunya cara anak-anak mencapai sekolah. Di sinilah nada buku berubah menjadi lebih etis. Sejarah sepeda tidak berhenti pada inovasi Barat, tetapi mengalir menuju pertanyaan keadilan global: siapa yang memiliki akses pada alat yang begitu menentukan masa depan?
Pedal It! bukan sekadar sejarah teknologi. Ia adalah kisah tentang bagaimana manusia terus mencoba memperluas jangkauan tubuhnya tanpa kehilangan kemanusiaannya. Dari mesin kayu yang didorong kaki hingga sepeda aman yang bisa digunakan anak-anak, kita melihat pola yang berulang: inovasi terbaik adalah yang membuat hidup lebih mungkin bagi lebih banyak orang.
Dari Sana Lalu ke Sini: Bagaimana Ceritanya?
Jika Bagian Pertama adalah kisah kelahiran sepeda, maka Bagian Kedua adalah kisah kedewasaan—tentang bagaimana sepeda belajar menjadi efisien, dapat diandalkan, dan akhirnya relevan bagi dunia yang terus bergerak lebih cepat. Pertanyaan “bagaimana kita sampai di sini dari sana?” bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang kesabaran manusia mengasah hubungan antara tubuh dan mesin. Bagian ini bergerak seperti kayuhan yang semakin lancar: dari mekanisme kecil yang nyaris tak terlihat, hingga dampak besar yang terasa lintas generasi dan benua.
Mulder, yang sering menulis tentang topik-topik seperti keadilan sosial, hidup berkelanjutan, dan cara-cara sederhana untuk membuat perubahan positif, membuka bab ini dengan kegembiraan mekanis. Rantai, gir, dan freewheel mungkin tampak remeh—sekadar gigi-gigi logam yang saling mengait—tetapi justru di sinilah sepeda menemukan suaranya yang khas: wheeee, bunyi roda bebas berputar ketika kaki berhenti mengayuh.
Rantai memungkinkan tenaga manusia dialihkan dengan efisien. Freewheel memberi kebebasan baru: pesepeda bisa meluncur tanpa harus terus mengayuh. Secara teknis, ini meningkatkan efisiensi energi. Secara pengalaman, ini mengubah rasa berkendara. Sepeda tidak lagi sekadar alat kerja keras; ia menjadi alat bermain, alat meluncur, alat menikmati momentum.
Dalam sejarahnya, inovasi ini memperpanjang jarak tempuh dan mengurangi kelelahan, membuka kemungkinan perjalanan yang lebih jauh bagi lebih banyak orang. Analisis teknis menunjukkan bahwa sistem rantai dan gir menjadikan sepeda salah satu mesin paling efisien yang pernah diciptakan manusia—hampir seluruh energi otot diterjemahkan menjadi gerak maju.
Kelahiran sepeda tidak sertamerta diterima publik. Mulder memaparkan dengan nada reflektif dan sedikit heran. Mengapa teknologi yang begitu masuk akal membutuhkan waktu puluhan tahun untuk disempurnakan? “What Took You So Long?” tulis Mulder memelas.
Mulder menjelaskan bahwa inovasi jarang bergerak lurus. Ia tersendat oleh kebiasaan lama, oleh keterbatasan material, oleh imajinasi yang belum cukup berani. Sepeda, seperti banyak teknologi lain, adalah hasil trial and error kolektif. Setiap kemajuan kecil—gir yang lebih halus, rangka yang lebih ringan—membutuhkan eksperimen, kegagalan, dan keberanian untuk meninggalkan desain lama. Di sini, sepeda mengajarkan satu pelajaran penting: kemajuan tidak selalu soal kecepatan, tetapi tentang ketekunan.
Nada kisa yang dituliskan kemudian melunak, menjadi lebih personal. Mulder membawa pembaca ke momen yang hampir universal: belajar naik sepeda, Learning to Ride. Tubuh goyah, tangan gemetar, lutut mungkin lecet. Ada seseorang yang memegang sadel dari belakang, lalu perlahan melepaskannya.
Momen ini bukan sekadar fase kanak-kanak, melainkan ritus peralihan. Data perkembangan anak menunjukkan bahwa belajar bersepeda meningkatkan koordinasi, kepercayaan diri, dan pemahaman spasial. Tetapi Mulder menekankan sisi emosionalnya: saat ketika kita menyadari bahwa keseimbangan bukan sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang diciptakan lewat gerak.
Belajar bersepeda adalah pelajaran hidup awal: kita hanya bisa seimbang jika berani bergerak maju.
Dari pengalaman individual, bab The Bicycle Revolution ini meloncat ke skala sosial. Mulder menyebutnya sebagai revolusi, dan itu bukan berlebihan. Ketika sepeda menjadi terjangkau dan aman, ia mengubah cara masyarakat bergerak. Pekerja bisa tinggal lebih jauh dari tempat kerja. Anak-anak bisa bersekolah tanpa harus bergantung pada orang dewasa. Perempuan memperoleh mobilitas yang sebelumnya dibatasi norma sosial.
Secara historis, akhir abad ke-19 mencatat lonjakan drastis produksi dan penggunaan sepeda. Ini bukan hanya tren, tetapi pergeseran struktur kehidupan sehari-hari. Kota dan desa ikut menyesuaikan diri. Jalan diperbaiki. Klub dan komunitas bermunculan. Sepeda menjadi simbol zaman baru: zaman di mana gerak tidak lagi monopoli segelintir orang.
Bagi Mulder, bukunya yang terkenal ini, Pedal It!, adalah contoh sempurna dari pendekatan-nya. Buku non-fiksi yang dinamis dan kaya foto ini menjelajahi sejarah, dampak budaya, dan peran revolusioner sepeda dalam mengubah komunitas di seluruh dunia—dari alat transportasi vital hingga mesin pemberdayaan ekonomi.
Tulisan Mulder berikutnya, Zooming Ahead ini terasa seperti percepatan narasi. Mulder mem-bawa pembaca ke abad ke-20 dan seterusnya, ketika sepeda berkembang dalam berbagai bentuk: sepeda balap, sepeda gunung, sepeda lipat. Teknologi material—aluminium, serat karbon—membuat sepeda semakin ringan dan cepat. Namun, Mulder juga mencatat paradoks: ketika dunia memuja kecepatan, sepeda tetap bertahan justru karena ia tidak sepenuhnya tunduk pada obsesi itu. Ia bisa cepat, tetapi juga bisa pelan. Ia fleksibel, tidak absolut.
Analisis lingkungan menunjukkan bahwa di tengah dominasi kendaraan bermotor, sepeda justru menjadi alternatif yang semakin relevan—efisien energi, minim emisi, dan adaptif terhadap ruang sempit.
Ada bagian menarik yang diceritakan Mulder: Bicycles Made from Plants. Di bagian ini, cerita mengambil belokan yang mengejutkan sekaligus penuh harapan. Mulder memperkenalkan sepeda yang dibuat dari bambu dan bahan nabati lainnya. Di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, rangka bambu bukan sekadar solusi murah, tetapi jawaban lokal terhadap kebutuhan global.
Data menunjukkan bahwa bambu memiliki rasio kekuatan terhadap berat yang sangat baik, tumbuh cepat, dan tersedia luas di negara berkembang. Sepeda bambu tidak hanya mengurangi biaya, tetapi juga menciptakan lapangan kerja lokal dan keterampilan baru.
Di sini, sepeda kembali ke akar filosofisnya: teknologi yang bersahabat dengan alam dan manusia. Sayangnya pada bagian ini Mulder melewati Spedagi, sepeda bambu dari pelosok desa di Temanggung, Indonesia.
Pada bagian The Power of Pedaling buku ini memaparkan gagasan yang hampir simbolik namun sangat nyata: tenaga kayuh sebagai sumber daya. Mulder menceritakan bagaimana sepeda digunakan untuk memompa air, menggiling biji-bijian, bahkan menghasilkan listrik sederhana. Analisis energi menunjukkan bahwa manusia yang mengayuh dapat menghasilkan listrik yang cukup untuk menyalakan lampu atau mengisi baterai kecil. Di daerah tanpa akses listrik stabil, ini bukan sekadar inovasi—ini adalah perubahan hidup.
Pedal tidak lagi hanya menggerakkan sepeda. Ia menggerakkan harapan.
Bagian kedua ini adalah kisah tentang bagaimana kesempurnaan kecil menciptakan perubahan besar. Dari rantai hingga bambu, dari belajar keseimbangan hingga revolusi sosial, sepeda tumbuh bersama manusia—menyesuaikan diri, memperbaiki diri, dan tetap rendah hati.
Jika Bab Pertama mengajarkan bahwa sepeda lahir dari imajinasi, maka Bab Kedua menunjukkan bahwa sepeda bertahan karena ia mau belajar bersama penggunanya.
On the Move
Jika dua bab sebelumnya menelusuri bagaimana sepeda ditemukan dan disempurnakan, maka Bagian Ketiga membawa kita keluar dari bengkel dan ruang sejarah, langsung ke jalan—ke dunia nyata tempat sepeda bekerja, membantu, dan menghidupi. Nada bab ini berubah: lebih membumi, lebih dekat pada keringat dan rutinitas. Di sinilah sepeda tidak lagi dipandang sebagai benda yang mengagumkan, melainkan sebagai rekan hidup yang setia.
Bagian ini berbicara tentang gerak yang tak selalu romantis, tetapi bermakna. Tentang kayuhan yang dilakukan bukan karena ingin, melainkan karena perlu. Dan justru di sanalah, Mulder menunjukkan, terletak kekuatan sepeda yang sesungguhnya.
Mulder memulai dengan membongkar asumsi umum: bahwa sepeda hanyalah alat bermain atau olahraga. Ia mengajak pembaca melihat ke luar taman kota dan jalur rekreasi, menuju tempat-tempat di mana sepeda adalah bagian dari ritme hidup sehari-hari. Sepeda adalah Beyond Fun.
Dalam kisah-kisah yang dihadirkan, sepeda muncul di pasar-pasar pagi, di jalan tanah menuju desa, di lorong sempit kota padat. Di banyak negara, terutama di wilayah berkembang, sepeda bukan simbol gaya hidup, melainkan alat vital untuk bergerak. Ia membawa air, hasil panen, barang dagangan, bahkan orang sakit.
Data global yang sering disinggung dalam konteks ini menunjukkan bahwa sepeda adalah alat transportasi paling terjangkau di dunia. Biaya kepemilikan dan perawatannya jauh lebih rendah dibanding kendaraan bermotor. Karena itu, sepeda menjadi jembatan antara keterbatasan dan kemungkinan—antara rumah dan sekolah, antara ladang dan pasar.
Mulder menulis bagian ini dengan empati yang kuat: kesenangan bersepeda tidak dihapus, tetapi ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Bahwa bagi jutaan orang, “fun” adalah kemewahan; yang ada adalah fungsi, keberlanjutan, dan ketergantungan nyata pada dua roda.
Buku ini juga membawa pembaca lebih dekat pada wajah-wajah pekerja yang hidupnya berpaut pada sepeda. Kurir, petani, tukang pos, penjual makanan, pengantar obat—mereka semua mengayuh bukan untuk olahraga, tetapi untuk memenuhi hari. Mulder menghadirkan kisah-kisah tentang sepeda sebagai alat kerja yang senyap namun efisien. Di kota-kota besar, sepeda memungkinkan kurir bergerak cepat di tengah kemacetan. Di desa-desa, sepeda menjadi kendaraan utama yang sanggup menempuh jarak jauh dengan biaya minimal.
Analisis yang menyertai kisah-kisah ini menunjukkan bahwa sepeda meningkatkan produktivitas secara signifikan. Studi pembangunan yang sering dirujuk dalam konteks serupa mencatat bahwa akses terhadap sepeda dapat memperluas jangkauan kerja, menghemat waktu tempuh, dan meningkatkan pendapatan rumah tangga. Sepeda tidak menciptakan pekerjaan, tetapi membuat pekerjaan mungkin dilakukan dengan lebih manusiawi.
Yang menarik, Mulder tidak menggambarkan pekerjaan ini secara heroik berlebihan. Ia menuliskannya dengan kesederhanaan, seolah ingin mengatakan: inilah kenyataan. Sepeda tidak selalu membawa kebebasan romantis, tetapi ia membawa ketekunan—dan dari situlah martabat tumbuh.
Bagian terakhir bab ini beralih ke ruang publik dan politik gerak. Ketika semakin banyak orang bergantung pada sepeda, muncul pertanyaan penting: di mana mereka boleh berada? Siapa yang berhak atas jalan? Mulder mengisahkan ketegangan lama antara sepeda dan kendaraan bermotor. Di banyak tempat, pesepeda dipaksa berbagi ruang yang tidak dirancang untuk mereka. Namun di tempat lain, perubahan mulai terjadi. Jalur sepeda dibangun. Kebijakan kota bergeser. Muncul kesadaran bahwa sepeda bukan pengganggu lalu lintas, melainkan bagian sah dari sistem transportasi. Make Way for Bicycles.
Data keselamatan yang sering dikutip dalam wacana ini menunjukkan bahwa infrastruktur ramah sepeda menurunkan angka kecelakaan, meningkatkan kualitas udara, dan membuat kota lebih layak huni bagi semua—bukan hanya pesepeda. Anak-anak, lansia, dan pejalan kaki ikut merasakan dampaknya. Mulder menutup bagian ini dengan nada harapan yang realistis. Perubahan tidak datang sekaligus. Ia datang melalui desakan pelan, melalui keberadaan yang konsisten: sepeda yang terus melintas, menuntut ruangnya bukan dengan suara keras, tetapi dengan keberlanjutan.
On the Move adalah bab tentang sepeda sebagai kerja, sebagai kebutuhan, dan sebagai hak. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sepeda tidak terletak pada kecepatannya, tetapi pada kemam-puannya hadir setiap hari, di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Bab ini meng-ajarkan bahwa gerak bukan selalu tentang pilihan bebas. Kadang ia tentang tanggung jawab, tentang mencari nafkah, tentang memastikan hidup terus berjalan. Dan dalam dunia seperti itu, sepeda bukan sekadar alat—ia adalah mitra diam yang memungkinkan kehidupan tetap bergerak maju.
Pedaling for Change
Jika bab-bab sebelumnya berbicara tentang bagaimana sepeda diciptakan, disempurnakan, dan digunakan, maka Bab Keempat bertanya lebih jauh: apa yang terjadi ketika sepeda hadir di tempat-tempat yang paling membutuhkan perubahan? Di sinilah sepeda tidak lagi netral. Ia menjadi tindakan moral.
Bab ini bergerak melintasi situasi darurat, kemiskinan struktural, keterbatasan infrastruktur, dan kreativitas manusia. Setiap kisahnya menunjukkan satu hal yang sama: ketika sumber daya langka, sepeda sering kali menjadi perbedaan antara terlambat dan tepat waktu, antara sakit dan sembuh, antara terputus dan terhubung.
Mulder membuka bagian ini dengan situasi genting. Bayangkan seorang petugas kesehatan di pedesaan yang harus menempuh jarak puluhan kilometer di jalan tanah untuk menjangkau pasien. Tidak ada ambulans. Tidak ada bahan bakar. Yang ada hanyalah sepeda. Kisah-kisah yang dihadirkan menunjukkan bahwa dalam kondisi darurat, sepeda sering menjadi kendaraan tercepat dan paling dapat diandalkan. Ia tidak menunggu bensin. Ia tidak membutuhkan jalan mulus. Ia hanya membutuhkan tubuh yang mau bergerak.
Data pembangunan kesehatan yang kerap dikaitkan dengan konteks ini menunjukkan bahwa keterlambatan akses medis adalah salah satu penyebab utama tingginya angka kematian ibu dan bayi di wilayah pedesaan. Sepeda—terutama sepeda yang dimodifikasi untuk membawa pasien atau peralatan medis—telah terbukti memangkas waktu tempuh secara signifikan. Dalam banyak kasus, penghematan waktu inilah yang menyelamatkan nyawa. Sepeda, dalam konteks ini, adalah jawaban darurat yang lahir dari kesederhanaan. Emergency!
Bagian ini memperlihatkan sepeda yang hampir tak lagi tampak seperti sepeda. Rangka-rangkanya dipenuhi karung, kotak, galon, bahkan perabot rumah. Mulder menulis tentang sepeda yang membawa beban berlipat dari berat pengendaranya sendiri.
Di pasar-pasar Afrika, Asia, dan Amerika Latin, sepeda menjadi kendaraan logistik skala mikro. Ia mengangkut hasil panen, air bersih, bahan bangunan. Data yang sering muncul dalam kajian transportasi pembangunan menunjukkan bahwa kemampuan membawa muatan besar dengan sepeda secara langsung meningkatkan pendapatan dan ketahanan ekonomi keluarga. Sepeda di sini tidak elegan. Ia berderit, berat, kadang nyaris roboh. Namun justru dalam keterbatasan itulah ia menunjukkan ketangguhannya. Ia memungkinkan perdagangan kecil tetap hidup, meski infrastruktur besar absen. Pile It On, sepeda tempat semua barang ditumpuk pada punggungnya yang ringkih tapi kokoh.
Buku ini juga menceritakan bagian yang lebih cerah, tetapi tidak ringan. Mulder menghadirkan kisah anak-anak yang mengayuh bukan untuk bermain, tetapi untuk belajar dan membantu keluarga. Di banyak tempat, jarak ke sekolah adalah penghalang utama pendidikan. Sepeda mengubah itu. Kid Power!
Data pendidikan global menunjukkan bahwa akses terhadap sepeda secara signifikan me-ningkatkan tingkat kehadiran sekolah, terutama bagi anak perempuan. Dengan sepeda, perjalanan yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam berjalan kaki bisa dipangkas menjadi hitungan menit.
Mulder menulis tentang anak-anak yang bangun lebih pagi, mengayuh bersama, dan tiba di sekolah dengan energi yang tersisa untuk belajar. Sepeda di sini bukan sekadar alat transportasi, tetapi investasi masa depan.
Dengan makin maraknya mobilitas serbalistrik, Mulder mengajak pembaca untuk melihat sepeda dengan cara yang tidak biasa. Di beberapa tempat, pedal dihilangkan atau diganti. Sepeda menjadi alat dorong, alat bantu jalan, atau alat rehabilitasi. Mulder mengisahkan bagaimana sepeda dimodifikasi untuk pengguna dengan kebutuhan khusus—orang dengan disabilitas, lansia, atau mereka yang tidak bisa menggunakan sepeda standar. Ini bukan soal teknologi tinggi, melainkan kepekaan desain.
Analisis sosial yang menyertai kisah ini menunjukkan bahwa inklusivitas sering lahir bukan dari kemewahan, tetapi dari penyesuaian sederhana yang memahami kebutuhan nyata manusia.
Maka sepeda bertemu listrik. Mulder menceritakan bagaimana tenaga kayuh manusia diguna-kan untuk menghasilkan energi—cukup untuk menyalakan lampu, radio, atau mengisi baterai. Secara teknis, manusia yang mengayuh dapat menghasilkan sekitar 100–300 watt energi, tergantung durasi dan intensitas. Di wilayah tanpa jaringan listrik stabil, ini adalah kekuatan yang sangat berarti. Cahaya di malam hari memperpanjang waktu belajar, meningkatkan keselamatan, dan membuka peluang ekonomi baru.
Sepeda berubah menjadi pembangkit harapan kecil.
Tulisan Bicimaquinas adalah salah satu bagian paling imajinatif sekaligus praktis. Bicimaquinas —mesin yang digerakkan oleh sepeda—digunakan untuk menggiling biji-bijian, memompa air, menggergaji kayu. Mulder menggambarkan bagaimana komunitas memanfaatkan prinsip sederhana: tenaga manusia dikalikan kecerdikan lokal. Data pembangunan komunitas me-nunjukkan bahwa teknologi semacam ini meningkatkan efisiensi kerja tanpa menciptakan ketergantungan pada bahan bakar fosil atau suku cadang mahal. Yang dibutuhkan hanyalah sepeda, keterampilan dasar, dan kerja sama.
Di sini, sepeda tidak lagi individual. Ia menjadi mesin kolektif.
Mulder menyatukan berbagai kisah sebelumnya ke dalam satu kesimpulan yang kuat: pedal dapat menyelamatkan nyawa. Baik sebagai ambulans sederhana, alat transportasi tenaga kesehatan, maupun sumber energi darurat, sepeda terbukti berperan dalam situasi hidup dan mati. Analisis pembangunan kesehatan memperkuat narasi ini: teknologi sederhana yang dapat diandalkan sering lebih efektif daripada solusi mahal yang sulit dirawat.
Sepeda tidak menjanjikan keajaiban. Ia menawarkan keandalan.
Sepeda adalah sebuah kebersamaan. Mulder menekankan bahwa perubahan tidak datang dari satu sepeda, satu orang, atau satu ide. Ia datang dari komunitas yang bergerak bersama.
Program distribusi sepeda, bengkel komunitas, pelatihan lokal—semua menunjukkan bahwa sepeda paling kuat ketika ia menjadi bagian dari jaringan manusia. Pedaling together bukan slogan, melainkan praktik sosial.
Catatan Akhir: Sepeda sebagai Teknologi Rakyat
Michelle Mulder memiliki hasrat untuk cerita dan perjalanan. Pengalaman hidup dan per-jalanannya sering menjadi inspirasi bagi tulisannya. Sebagai penulis yang produktif, ia telah menerima nominasi dan penghargaan untuk karyanya, termasuk penghargaan untuk literatur anak yang mengangkat isu lingkungan dan sosial.
Dengan gaya yang mudah diakses dan informatif, Michelle Mulder berhasil menyampaikan pesan-pesan penting tentang kreativitas, ketahanan, dan solusi praktis untuk masalah global kepada pembaca muda. Ia terus menjadi suara yang berpengaruh dalam sastra anak Kanada yang berfokus pada pendidikan dan kesadaran global.
Pedaling for Change adalah bab yang paling jelas menunjukkan bahwa sepeda bukan hanya tentang mobilitas, tetapi tentang keadilan, martabat, dan kelangsungan hidup. Ia mengingatkan kita bahwa perubahan besar sering lahir dari alat yang sederhana, ketika alat itu ditempatkan di tangan yang tepat.
Pada akhirnya, Pedal It! tidak sedang berbicara tentang sepeda semata. Ia sedang berbicara tentang cara manusia memilih bergerak di dunia—dan, lebih jauh lagi, tentang cara manusia memilih hidup bersama.
Dari mesin kayu yang didorong kaki hingga bicimaquinas yang memompa air dan menyalakan lampu, perjalanan sepeda dalam buku ini memperlihatkan satu pola yang berulang: teknologi yang bertahan bukanlah yang paling cepat, paling mahal, atau paling canggih, melainkan yang paling setia pada tubuh manusia dan kebutuhan sehari-hari. Sepeda bertahan karena ia tidak memisahkan manusia dari tenaga, ruang, dan sesamanya. Ia tidak menghapus kerja; ia me-nempatkannya dalam batas yang manusiawi.
Di sinilah etika sepeda global mulai terbentuk—bukan sebagai aturan tertulis, tetapi sebagai cara berada. Sepeda mengajarkan bahwa gerak adalah hak dasar, bukan kemewahan. Ia mengajarkan bahwa teknologi seharusnya memperluas kemungkinan hidup bagi banyak orang, bukan hanya segelintir. Ia juga mengajarkan bahwa solusi yang paling bermakna sering kali lahir dari apa yang ada di sekitar kita: bambu, tenaga otot, kerja bersama.
Jika kita membawa etika ini ke Indonesia, sepeda segera menemukan rumahnya. Indonesia adalah negeri bambu. Bambu tumbuh cepat, lentur, dan kuat—seperti sepeda. Dalam kisah Pedal It!, sepeda bambu bukan sekadar inovasi ramah lingkungan; ia adalah pernyataan bahwa material lokal memiliki martabat global. Di desa-desa Indonesia, bambu sudah lama menjadi rumah, jembatan, alat tani. Menjadikannya rangka sepeda bukanlah hal asing, melainkan kelanjutan dari kearifan lama yang diberi bentuk baru.
Inilah semangat dan gagasan utama yang justru melahirkan Spedagi, sebuah gagasan yang merangkum banyak hal: merancang teknologi berbasis alam dan tanaman, menggulirkan kepercayaan desa sebagai sebuah kehidupan dan menggerakkan gagasan-gagasan untuk revitalisasi desa. Spedagi adalah gagasan yang bekerja yang dibayangkan Mulder. Singgih Susilo Kartono, pencetus Spedagi dan Spedagi Movement yang merealisasikan.
Di desa, sepeda bukan simbol gaya hidup hijau; ia adalah infrastruktur kehidupan. Ia membawa anak ke sekolah, petani ke ladang, hasil panen ke pasar, dan kabar dari satu kampung ke kampung lain. Sepeda adalah teknologi yang tidak menunggu listrik, sinyal, atau bahan bakar. Ia bekerja dengan apa yang selalu ada: tubuh manusia dan jalan setapak. Dalam konteks ini, sepeda adalah bentuk keadilan spasial—ia mengurangi jarak tanpa menuntut syarat yang tidak mungkin dipenuhi.
Energi juga menemukan maknanya kembali lewat sepeda. Dalam dunia yang semakin bergantung pada sumber daya besar dan terpusat, sepeda mengingatkan bahwa energi bisa berskala manusia. Kayuhan yang menyalakan lampu, memompa air, atau menggiling padi bukan sekadar solusi teknis; ia adalah pernyataan etis bahwa manusia tidak harus sepenuhnya terpisah dari sumber dayanya. Energi, seperti gerak, bisa dikelola bersama, secara lokal, dan bermartabat.
Dan di sinilah sepeda menjadi teknologi rakyat.
Teknologi rakyat bukan berarti teknologi yang tertinggal. Ia adalah teknologi yang dapat dipahami, diperbaiki, dan dimiliki oleh mereka yang menggunakannya. Sepeda tidak memerlukan lisensi rumit, suku cadang eksklusif, atau sistem tertutup. Ia mengundang partisipasi: siapa pun bisa belajar memperbaiki, memodifikasi, dan membaginya. Inilah etika keterbukaan yang jarang kita temukan dalam teknologi modern.
Bagi Indonesia hari ini—di tengah krisis iklim, ketimpangan akses, dan urbanisasi yang sering melupakan desa—sepeda menawarkan bukan nostalgia, tetapi arah. Ia mengajukan pertanyaan yang sunyi namun mendesak: bagaimana jika pembangunan tidak selalu berarti mempercepat, tetapi memperluas siapa yang bisa ikut bergerak?
Pedal It! pada akhirnya mengajak kita melihat sepeda bukan sebagai solusi tunggal, tetapi sebagai cermin nilai. Dari dua roda yang sederhana, kita belajar bahwa masa depan yang adil dan berkelanjutan mungkin tidak dibangun dari mesin yang semakin jauh dari manusia, melainkan dari teknologi yang kembali menempatkan manusia—tubuhnya, lingkungannya, dan komunitasnya—di pusat.
Dan mungkin, di negeri dengan bambu yang tumbuh di tepi jalan dan anak-anak yang masih mengayuh ke sekolah, etika sepeda global itu tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia sudah lama hadir, berderit pelan di jalan desa, menunggu untuk kembali didengar.
Pedal It!: How Bicycles Are Changing the World adalah sebuah perjalanan yang menyatukan sejarah, teknologi, budaya, dan empati global. Ia menempatkan sepeda tidak hanya pada posisi sejarah atau teknis, tetapi sebagai medium yang menghubungkan manusia—dengan tubuh mereka sendiri, dengan sesamanya, dan dengan dunia. Ia merayakan sepeda dari berbagai sudut pandang: evolusi mekanisnya, kegembiraannya, serta dampaknya dalam kehidupan nyata orang-orang di seluruh dunia. Barnes & Noble
Sepeda bukan sekadar alat transportasi — ia adalah wujud mobilitas yang mengakar dalam kehidupan sosial, ekonomi, bahkan moral. Dan buku ini mengajak pembaca, terutama generasi muda, untuk tidak hanya melihat sepeda sebagai objek, tetapi sebagai saksi perubahan.
Belitung-Bogor, 27 Desember 2025-3 Januari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Mulder, M. (2013). Pedal It!: How Bicycles Are Changing the World. Orca Book Publishers. Barnes & Noble
Sumber tambahan yang dirujuk:
- Pedal It! book overview & table of contents. Barnes & Noble
- Reviews & content highlights (merciful summaries). Michelle Mulder
- BC BookWorld overview with historical notes and feminist quotes. ABC BookWorld






