Rubarubu #86
Home Beyond the House:
Memaknai Rumah di Desa China di Tengah Perubahan Sosial
Bersepeda Melalui Lapisan Waktu
Pada suatu hari yang sangat dingin, David Goodrich berhenti di tepi Sungai Ohio, tepat di seberang dari Maysville, Kentucky. Di atas sadel sepedanya, dia membayangkan malam gelap gulita 160 tahun sebelumnya, ketika seorang pria bernama John Parker, mantan budak yang menjadi penyelamat pemberani, akan mendayung diam-diam ke sisi Kentucky yang berbahaya itu untuk menyelamatkan orang-orang yang diperbudak dan membawa mereka menyeberangi arus yang ganas menuju kebebasan di Ohio. “Di tempat inilah,” tulis Goodrich, “sejarah tidak dibaca, tetapi dirasakan. Angin yang menusuk dari sungai terasa sama; ketegangan antara dua tepian yang memisahkan perbudakan dan kebebasan masih terasa menggeliat di udara.”
Perjalanan bersepeda Goodrich bukan sekadar petualangan fisik; ia adalah sebuah ziarah, eksplorasi, dan pertanggungjawaban. Buku On Freedom Road: Bicycle Explorations and Reckonings on the Underground Railroad (2023) ini adalah catatan tentang bagaimana dia mengayuh lebih dari 2,000 mil melintasi rute Underground Railroad, dari Mobile, Alabama hingga ke Ontario, Kanada, menggunakan dua roda sebagai alat untuk menghidupkan kembali narasi yang terlupakan dan menghadapi warisan rasial Amerika yang terus menghantui lanskapnya. Goodrich dengan mengayuh sepeda menjalin hubungan yang intim dengan Lanskap: “Bersepeda,” tulisnya, “memaksa Anda untuk merasakan sebuah tempat—angin, tanjakan, jarak. Ketika Anda mengayuh di jalan yang sama yang dilalui oleh seorang budak buronan, dengan setiap otot yang terbakar, Anda mulai memahami, meski hanya sedikit, harga fisik dari kebebasan itu.” – Goodrich merangkum metodologi “sejarah yang dihayati” melalui tubuh.
David Goodrich, seorang ilmuwan iklim yang pensiun, membawa ketelitian seorang peneliti dan kepekaan seorang penjelajah dalam proyeknya yang mendalam ini. On Freedom Road adalah karya sejarah hidup, memoar perjalanan, dan refleksi moral. Ia dengan cerdas menjalin tiga benang: (1) narasi historis tentang “kondektur” dan “penumpang” Underground Railroad yang heroik; (2) kisah kontemporer tentang komunitas kulit hitam yang masih hidup di sepanjang rute tersebut; dan (3) pengalaman personal penulis sebagai seorang pria kulit putih yang bersepeda melalui lanskap warisan ini.
Ia merasa perjalanan yang dilakukan ini adalah tentang pertanggungjawaban kulit putih: Goodrich dengan reflektif menulis: “Sebagai seorang pria kulit putih yang bersepeda melalui sejarah ini, saya bukanlah pahlawan dalam perjalanan ini. Saya adalah seorang pengamat, seorang pelajar, dan terkadang, seorang yang melakukan konfrontasi dengan warisan keistimewaan dan kekerasan yang memungkinkan saya untuk melakukan perjalanan semacam ini dengan aman, suatu kemewahan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang saya pelajari.”
Sebagai mantan kepala program Observasi dan Pemantauan Iklim Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), dan pernah menjabat sebagai direktur Sistem Pengamatan Iklim Global PBB di Jenewa, Swiss, Goodrich tidak mengikuti rute tunggal, karena Underground Railroad adalah jaringan rahasia yang terdesentralisasi. Tetapi jejak itu tak akan terhapuskan. Perjalanan ini adalah perjalanan yang membongkar jejak rasial dan perbudakan yang dilupakan. Dia merencanakan perjalanan-nya dengan menghubungkan titik-titik penting: gereja-gereja yang menjadi stasiun, rumah-rumah persembunyian, sungai-sungai yang menjadi penghalang, dan kota-kota yang menjadi tujuan. Dengan bersepeda, dia mengalami geografi dengan cara yang intim—bukit yang melelahkan, jalan tanah yang terpencil, cuaca yang keras—yang mencerminkan penderitaan dan keteguhan para pencari kebebasan.
Penjelajahan: Di setiap perhentian, Goodrich menghidupkan sejarah. Di Dresden, Ontario, dia mengunjungi Situs Sejarah Nasional Buxton, sebuah permukiman kulit hitam yang makmur dan mandiri yang didirikan oleh para mantan budak. Di sana, dia mendengar dari keturunan lang-sung tentang pencapaian komunitas itu. Di Cumberland, Maryland, dia mendaki melalui Narrows, sebuah celah gunung yang berbahaya yang dilalui oleh banyak orang yang melarikan diri, dan merasakan betapa rentannya mereka. Di Philadelphia, dia mengunjungi Mother Bethel AME Church, gereja kulit hitam tertua di Amerika, dan merenungkan perannya sebagai pusat aktivisme abolisionis.
Pertanggungjawaban: Namun, buku ini tidak terjebak dalam nostalgia. Inti yang paling kuat muncul ketika Goodrich “menggali tanah” sejarah yang lebih gelap dan menghadapi masa kini. Di Cambridge, Maryland, dia membahas pemberontakan yang dipimpin oleh Harriet Tubman dan menghadapi realitas bahwa kota itu masih sangat terpisah secara rasial. Di Mississippi, dia mengunjungi Medgar Evers Home Museum dan bersepeda menuju tempat Emmett Till diculik, menghubungkan teror era Jim Crow dengan perjuangan kebebasan abad ke-19. Dia dengan jujur merekam percakapannya dengan penduduk lokal, baik kulit hitam maupun kulit putih, tentang memori, warisan, dan rekonsiliasi yang belum tuntas. Salah satu kutipan yang paling menusuk dari seorang sejarawan lokal adalah: “Anda bersepeda di atas kuburan massal. Setiap mil jalan ini di selatan menahan cerita penderitaan yang tak terhitung, tetapi juga cerita keberanian yang tak terhitung.”
Perjalanan mengayuh Goodrich ini adalah tentang memori yang hidup: Di Maryville, Tennessee, Goodrich bertemu dengan keturunan dari “Clement Railroad Hotel Museum”, yang dulunya adalah stasiun Underground Railroad. Mereka tidak hanya menceritakan kisah nenek moyang mereka tetapi juga bagaimana museum itu menjadi pusat pendidikan tentang keadilan rasial hingga hari ini, menunjukkan bahwa Underground Railroad bukanlah artefak, melainkan warisan yang aktif.
Goodrich juga menyoroti peran sepeda itu sendiri sebagai alat kebebasan yang ironis. Dia mencatat bahwa meskipun sepeda menjadi populer setelah Perang Saudara, mobilitas independenyang diberikannya adalah sesuatu yang secara sistematis ditolak dari orang kulit hitam yang diperbudak. Dalam perjalanannya, sepedanya menjadi pembuka percakapan, simbol kerentanan (sebagai pengendara di jalan pedesaan), dan metafora untuk perjalanan—sama seperti para pencari kebebasan, dia bergantung pada ketahanan tubuhnya sendiri dan kebaikan orang asing.
Perjalanan Goodrich beresonansi dengan konsep “psychogeography” — bagaimana lingkungan memengaruhi emosi dan perilaku. Dia memetakan geografi trauma dan harapan. Dari perspek-tif Islam, perjuangan mencari kebebasan melawan penindasan sangat selaras dengan konsep فِطْرَة (fitrah) – kodrat manusia untuk merindukan kebebasan dan keadilan, dan kisah Nabi Musa (AS) yang memimpin Bani Israel keluar dari perbudakan Firaun adalah narasi pembebasan yang sentral. Penyair dan aktivis Maya Angelou pernah menulis, “Sejarah, meskipun tersiksa, tidak dapat dihidupi, dan jika dihadapi dengan keberanian, tidak perlu dihidupi lagi.” Buku Goodrich adalah upaya untuk “menghadapi” sejarah geografis itu dengan keberanian, menggunakan sepeda sebagai kendaraan untuk konfrontasi dan, semoga, pemahaman.
Kisah Bangku di Pinggir Jalan
Perjalanan dengan mengayuh sepeda menelusuri jalur Underground Railroad seperti berziarah dan pencarian tempat-tempat sakral. Perjalanan David Goodrich tidak dimulai dengan rencana yang sempurna atau kecepatan tinggi. Ia dimulai dengan sebuah bangku. Sebuah bangku perunggu yang sederhana, dipasang di tanah beku Pulau St. Helena, Carolina Selatan, meng-hadap ke perairan yang tenang. Ini adalah salah satu dari banyak “Bangku di Pinggir Jalan” yang didirikan oleh penulis pemenang Hadiah Pulitzer, Toni Morrison, sebagai monumen bagi orang-orang Afrika yang dibawa ke pantai ini sebagai budak—untuk mereka yang tidak memiliki batu nisan, yang tidak memiliki tempat sakral untuk dikenang. “Saya duduk di bangku itu untuk waktu yang lama,” tulis Goodrich, “mencoba merasakan getaran dari penderitaan yang tak terkatakan dan kehilangan yang tak terhingga yang telah meresap ke dalam tanah ini.”
Di sinilah, di bangku yang sunyi inilah, benih perjalanan epiknya berkecambah. Dia menyadari bahwa untuk memahami Amerika, untuk benar-benar merasakan sejarahnya yang terdalam dan paling menyakitkan, dia harus bergerak. Tidak dengan mobil di jalan raya yang cepat, tetapi dengan kecepatan manusia, dengan ritme tubuh, dengan sepeda. Dia harus mengikuti jejak-jejak keberanian yang hampir tak terlihat itu: Underground Railroad.
Bab pembuka ini adalah sebuah prolog yang merenung dan penuh tekad. Goodrich, seorang ilmuwan iklim yang karirnya dihabiskan untuk membaca data dan pola, sekarang beralih ke jenis pembacaan yang berbeda: membaca lanskap sebagai teks, jalan sebagai narasi, dan angin sebagai penutur kisah. Dia menjelaskan bahwa perjalanan bersepeda ini bukanlah rekreasi, melainkan sebuah bentuk “sejarah yang dihayati”. Dia ingin mengalami, meski hanya sedikit, elemen fisik dari pelarian: kelelahan otot setelah bermil-mil, kerentanan di jalan terbuka, ketergantungan pada cuaca dan belas kasihan orang asing. Sepedanya bukanlah mainan; ia adalah mesin waktu yang sederhana, kendaraan untuk empati.
Dia kemudian memperkenalkan konsep sentral yang akan membimbing seluruh bukunya: “Tempat Sakral.” Bagi Goodrich, tempat sakral tidak hanya berupa gereja atau kuil. Sebuah tempat sakral adalah lokasi di mana sejarah berkonsentrasi, di mana keberanian bersinggungan dengan keputusasaan, di mana kebebasan diperjuangkan dengan harga tertinggi. Itu bisa berupa tebing di tepi sungai Ohio tempat seorang budak buronan bersembunyi, ruang bawah tanah sebuah gereja kuil di Philadelphia, atau ladang jagung di Indiana yang menyembunyikan sebuah gerbong. Underground Railroad, dalam pandangannya, adalah jaringan tempat-tempat sakral ini—titik-titik harapan dalam geografi teror.
Namun, pencarian ini penuh dengan kesadaran diri yang menyakitkan. Sebagai seorang pria kulit putih yang bersepeda di jalur yang dibangun oleh penderitaan orang kulit hitam, Goodrich dengan jujur mengakui posisinya yang paradoks. “Saya adalah seorang turis di jalan penderita-an,” katanya. Tapi dia memutuskan bahwa turisme ini bukanlah tujuan akhir; itu adalah sarana untuk mendengarkan, belajar, dan kemudian menceritakan kembali. Perjalanannya adalah upaya untuk menjadi saksi, untuk mengangkat narasi yang telah terpendam, dan untuk meng-hadapi bagaimana lanskap yang dia lewati—dengan keindahan pedesaannya yang mem-pesona—juga merupakan tempat kejahatan besar terhadap kemanusiaan.
Bab ini mencapai klimaksnya bukan dengan sebuah adegan dramatis, tetapi dengan sebuah keputusan yang tenang. Setelah duduk di Bangku Morrison, setelah membaca tentang Harriet Tubman yang memimpin dengan kompas di satu tangan dan pistol di tangan lainnya, setelah mempelajari peta jalan tua dan catatan abolisionis, Goodrich memutuskan rutenya. Dia akan mulai dari Mobile, Alabama, salah satu pelabuhan budak terbesar, dan mengayuh ke utara, menyusuri koridor yang kira-kira mengikuti rute pelarian, menuju Ontario, Kanada, tujuan akhir kebebasan. Tujuannya bukan kecepatan, melainkan kehadiran. Dia akan berhenti di setiap “bangku di pinggir jalan” sejarah yang bisa dia temukan—baik yang berupa monumen resmi, rumah persembunyian yang direstorasi, atau hanya sebuah kesunyian di tepi sungai yang terdengar seperti bisikan dari masa lalu.
Dengan demikian, Bab 1 mengatur panggung bukan untuk petualangan olahraga, tetapi untuk sebuah ziarah sekuler. Ini adalah kisah tentang seorang pria yang menggunakan keletihan fisik sebagai alat untuk mencapai kejelasan moral, yang menggunakan roda sepeda sebagai alat untuk menelusuri luka lama bangsa, berharap bahwa dengan mengikuti jalan kebebasan yang tua ini—dengan semua kesulitan dan refleksinya—dia mungkin dapat memahami sesuatu tentang bagaimana Amerika bisa mulai menyembuhkan. Perjalanannya dimulai dalam keheningan bangku perunggu, dan akan dilanjutkan dengan derit rantai dan desahan napas di jalan-jalan yang pernah dilalui oleh para malaikat dengan sayap yang lelah.
Jalan Kebebasan Timur: Jejak Harriet Tubman
Goodrich mengarahkan setang sepedanya ke tanah basah dan berawa di Eastern Shore Maryland, memasuki jantung geografi yang melahirkan dan membentuk “Moses dari Rakyatnya,” Harriet Tubman. Di sini, lahan pertanian yang datar, sungai-sungai yang luas, dan hutan-hutan lebat bukanlah sekadar pemandangan pedesaan; mereka adalah peta hidup dari permainan kucing-dan-tikus yang mematikan antara para pemburu budak dan seorang wanita yang tak kenal takut. Bab ini adalah eksplorasi mendalam tentang lanskap Tubman, dan Goodrich memilih tiga wilayah yang paling menyayat hati untuk dijelajahi: Ladang Brodess, Sungai Choptank, dan Jembatan Sungai.
Ladang Brodess: Di Mana Kenangan Ditanam dan Pemberontakan Disemai
Goodrich berhenti di sebuah ladang terbuka di dekat Bucktown, Maryland. Tidak ada penanda besar, hanya angin yang mendesir di atas rumput. Di sinilah, sebagai seorang gadis belia bernama Araminta “Minty” Ross, Tubman diperbudak oleh keluarga Brodess. Goodrich turun dari sepedanya, membiarkan keheningan menyerapnya. Dia membayangkan kehidupan di sini bukan sebagai narasi sejarah yang jauh, tetapi sebagai realitas sehari-hari yang kejam: kerja fisik yang menghancurkan di ladang kapas dan kayu, ancaman penjualan yang memisahkan keluarga, dan udara yang selalu penuh dengan ketakutan.
Kisah yang paling menghantuinya di sini adalah insiden cedera kepala Tubman. Sebagai seorang remaja, dia terluka parah ketika seorang mandor melemparkan pemberat timah ke arah seorang budak lain dan mengenai kepalanya. Goodrich berdiri di lokasi yang diperkirakan, merasakan kekerasan brutal dari tindakan itu. Cedera itu menyebabkan Tubman menderita sakit kepala dan serangan narkolepsi seumur hidup—”visi”-nya yang sering dibicarakan. Namun, Goodrich menafsirkannya bukan sebagai kelemahan, tetapi sebagai kesadaran yang tertusuk. Trauma fisik itu mungkin telah membuka sebuah saluran spiritual dan intuisi yang luar biasa, yang kemudian menjadi alat navigasinya di malam-malam gelap. Di ladang ini, Goodrich melihat bukan awal dari seorang korban, tetapi inkubasi seorang pemberontak. Setiap pukulan cangkul di tanah yang keras adalah alasan untuk melarikan diri; setiap visi yang menyakitkan adalah peta menuju kebebasan. Dia bersepeda keluar dari ladang itu dengan pemahaman bahwa perlawanan lahir bukan dari ideologi abstrak, tetapi dari keintiman dengan penderitaan.
Sungai Choptank: Penghalang yang Berbicara dan Jembatan yang Diam
Dari ladang, Goodrich mengayuh ke tepi Sungai Choptank, sebuah penghalang air yang luas dan berbahaya yang harus dilalui Tubman dalam pelarian pertamanya. Dia berdiri di tepiannya pada malam yang berangin, mencoba menciptakan kembali momen genting itu. Airnya berwarna hitam, beriak, dan tampak seperti jurang. Tubman, yang tidak bisa berenang, pasti telah me-mandangnya dengan hati berdebar. Dia menggunakan sebuah perahu? Berjalan menyusuri tepian yang dangkal? Goodrich mencatat bahwa sungai-sungai adalah karakter utama dalam narasi Underground Railroad—mereka adalah rute rahasia, pemandu, sekaligus penjaga yang berbahaya.
Di sinilah, Goodrich memperkenalkan elemen penting dalam perjalanannya: percakapan dengan sejarawan lokal dan keturunan. Dia bertemu dengan seorang guru sekolah menengah kulit hitam yang kakek buyutnya adalah seorang petani bebas di tepi Choptank yang mungkin telah membantu para buronan. Pria itu membawa Goodrich ke sebuah dermaga kayu yang sudah lapuk. “Ini bukan hanya sungai,” kata pria itu sambil menatap air. “Ini adalah arsip. Setiap gelombang membisikkan sebuah nama. Setiap tikungan menyembunyikan sebuah rahasia. Tubman mendengarkan sungai, dan sungai itu menuntunnya.” Keterlibatan dengan narasi lisan ini mengubah sungai dari penghalang geografis menjadi entitas yang hidup dan bersahabat, sebuah metafora yang kuat tentang bagaimana komunitas kulit hitam—bahkan alam itu sendiri—berpihak pada para pencari kebebasan.
Jembatan Sungai: Melintasi Garis Warna
Perhentian terakhir Goodrich dalam bab ini bukanlah situs bersejarah abad ke-19, melainkan sebuah struktur modern yang penuh simbol: Jembatan Sungai yang membentang di atas Sungai Choptank di Cambridge. Saat dia mengayuh melintasinya, pemandangannya luas, tetapi pikiran-nya tertuju pada sejarah di bawahnya. Cambridge adalah tempat aktivis hak-hak sipil Gloria Richardson memimpin protes pada 1960-an, dan di mana ketegangan rasial masih terasa.
Dari ketinggian jembatan, Goodrich merenungkan konsep “Garis Warna” yang diperkenalkan oleh W.E.B. Du Bois. Dia menyadari bahwa Sungai Choptank, yang pernah menjadi garis antara perbudakan dan kebebasan, masih hari ini berfungsi sebagai garis pemisah sosial dan ekonomi. Sisi Dorchester County (tempat Tubman dilahirkan) masih sangat pedesaan dan miskin, dengan populasi kulit hitam yang signifikan dan warisan keterbelakangan ekonomi. Sisi Cambridge yang lebih urban memiliki kekayaan yang lebih besar, namun segregasi masih nyata. Jembatan yang dia lalui adalah penghubung sekaligus pengingat—penghubung fisik antara dua dunia, dan pengingat betapa sulitnya menyeberangi jurang ketidaksetaraan yang diciptakan oleh sejarah.
Dengan mengayuh turun dari jembatan dan masuk ke Cambridge, Goodrich, yang juga penulis buku A Hole in the Wind, yang terpilih sebagai bacaan “Satu Kota Satu Buku” untuk San Francisco, dan A Voyage Across an Ancient Ocean, menyelesaikan perjalanannya melalui Jejak Tubman bukan dengan kemenangan, tetapi dengan pertanggungjawaban yang kompleks. Tubman melarikan diri dari tanah ini, tetapi warisan dari sistem yang dia lawan masih mem-bentuknya. Goodrich menemukan bahwa melacak “Jalan Kebebasan” bukanlah perjalanan linier ke masa lalu yang sudah selesai. Ini adalah perjalanan spiral yang terus-menerus membawanya kembali ke pertanyaan yang sama: Bagaimana lanskap fisik suatu tempat membentuk per-juangan kebebasannya, dan bagaimana perjuangan itu, pada gilirannya, membekas selamanya pada lanskap dan orang-orang yang tinggal di sana? Bersepeda di tanah Tubman, baginya, adalah belajar membaca bumi itu sendiri sebagai teks suci tentang penderitaan, visi, dan ketekunan yang tak terpadamkan.
Jalan Kebebasan Barat: Sungai, Blues, dan Daerah Perbatasan
Perjalanan Goodrich bergeser ke Barat, ke delta Louisiana yang lembap dan sesak, tempat sejarah mengalir seperti lumpur di Sungai Mississippi. Ini adalah sejarah tersembunyi Charles Deslondes (Louisiana). Di sini, bukan di perkebunan tembakau yang megah, dia mencari jejak Charles Deslondes. Namanya hampir tidak tercatat dalam buku-buku sejarah utama, tapi dia adalah pemimpin Pemberontakan Budak Jerman Coast 1811, pemberontakan budak terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Goodrich bersepeda melintasi tanah datar yang dulu menjadi arena perang gerilya ini, melewati kanal-kanal irigasi yang mungkin menjadi tempat persembunyian dan jalan pelarian.
Ia membayangkan Deslondes bukan sebagai budak yang tunduk, tetapi sebagai seorang petugas pengawas (driver) yang memiliki mobilitas dan otoritas terbatas—sebuah posisi yang memberinya pengetahuan tentang medan dan kelemahan sistem. Pemberontakan ini, yang melibatkan ratusan orang, bukanlah tindakan putus asa yang sembrono, melainkan sebuah kampanye militer yang terorganisir, dengan pasukan yang berbaris menuju New Orleans dengan seragam dan drum perang. Goodrich berdiri di sebuah persimpangan pedesaan yang sepi, membayangkan detak jantung mereka yang berdegup kencang, gemuruh kaki mereka di jalan tanah. Kekalahan mereka brutal; kepala Deslondes dipenggal dan ditancapkan pada tiang di sepanjang jalan sebagai peringatan mengerikan.
Dengan bersepeda di tanah ini, Goodrich merasakan kesunyian yang dipaksakan, sejarah yang sengaja dikubur. Dia menulis, “Di sini, kebebasan tidak diminta, tetapi diperjuangkan dengan pedang dan api. Kisah Deslondes adalah pengingat bahwa Underground Railroad bukan hanya tentang pelarian diam-diam. Kadang-kadang, itu adalah kereta api bawah tanah yang meledak ke permukaan dalam sebuah ledakan kemarahan yang membara.” Ia menemukan bahwa tanah delta yang subur ini juga menyuburkan benih pemberontakan paling berani, dan bahwa ketakutan putih atas pemberontakan seperti inilah yang mengencangkan rantai perbudakan, namun sekaligus melahirkan mitos dan lagu-lagu perlawanan di kalangan kaum tertindas.
Melintasi negara bagian, Goodrich sampai di Mississippi dan Tennessee, di mana dia menemukan ironi sejarah yang pahit. Di sini, dia menelusuri jejak Ulysses S. Grant, jenderal Union yang kemudian menjadi presiden. Ulysses Grant punya peran penting. Dialah yang memotong pita pembukaan Underground Railroad (Mississippi, Tennessee). Tapi sebelum perang, Grant adalah seorang kapten muda yang ditempatkan di pos terpencil di Mississippi. Dalam surat-suratnya, Grant dengan jijik menulis tentang perdagangan budak yang dia saksikan. Goodrich mengunjungi kampanye Grant di Fort Donelson, Tennessee, kemenangan Union pertama yang signifikan.
Di sinilah persimpangan itu terjadi: Kemenangan militer Union secara efektif membuka ‘stasiun-stasiun’ baru bagi Underground Railroad. Ketika tentara Union maju, ribuan orang yang diperbudak—yang disebut “budak pelarian”—melarikan diri ke garis Union, mengubah diri mereka dari “harta benda” menjadi agen kebebasan mereka sendiri dan masalah logistik besar bagi Konfederasi. Grant, sang prajurit, mungkin tidak melihat dirinya sebagai “kondektur” di Railroad, tetapi pasukannya, tanpa sengaja, menjadi kereta penumpang terbesar yang pernah ada. Goodrich bersepeda di dekat Sungai Tennessee, membayangkan arus manusia yang tiba-tiba mengalir ke kebebasan, sebuah sungai manusia yang mengikuti sungai air. “Jalan Kebebas-an Barat,” tulisnya, “tidak lagi berupa jejak rahasia di hutan, tetapi menjadi sebuah front perang yang bergerak, di mana kebebasan direbut bukan dengan sembunyi-sembunyi, tetapi dengan pergerakan pasukan yang masif.” Bab ini menunjukkan bagaimana sejarah besar (Perang Saudara) dan sejarah kecil (pilihan individu untuk lari) bertautan secara tak terpisahkan.
Di suatu bagian perjalanan yang panas dan melelahkan di Tennessee, Goodrich menemukan dirinya dikelilingi oleh lautan bunga matahari yang luas, kepala-kepala kuningnya mengikuti matahari. Pemandangan ini indah, namun hatinya terasa berat. Dia mengetahui bahwa perkebunan kapas yang pernah ada di sini, tempat orang-orang diperbudak bekerja hingga kelelahan, telah digantikan oleh tanaman industri ini. Bunga matahari, dengan akarnya yang dalam yang membersihkan tanah, adalah metafora yang kuat. Tapi bagi Goodrich, ladang ini adalah palimpsest—sebuah naskah di mana tulisan lama masih bisa dibaca di bawah yang baru.
Dia membayangkan seorang budak, sebut saja Sam, yang mungkin pernah membajak baris kapas yang sama. Mungkin Sam melarikan diri suatu malam, menggunakan barisan tanaman sebagai penyembunyi. Ladang bunga matahari yang cerah itu tak bisa menyembunyikan bayangan ladang kapas yang ada di bawahnya. Goodrich duduk di pinggir ladang, merasa bahwa keindahan dan produktivitas pertanian Amerika modern sering kali dibangun di atas geografi lupa yang disengaja. Bunga matahari mungkin membersihkan tanah secara fisik, tetapi tidak bisa membersihkan kenangannya. Di sinilah perjalanan bersepeda menjadi meditatif dan melankolis: setiap lanskap yang indah menyimpan lapisan kesedihan yang harus diakui, bukan diabaikan.
Para Pahlawan Ripley (Ohio)
Saat Goodrich akhirnya mendekati Sungai Ohio, dia sampai di Ripley, Ohio, sebuah kota kecil di tepian sungai yang merupakan salah satu “terminal” paling berani di Underground Railroad. Di sini, dia bertemu dengan hantu-hantu para pahlawan kulit putih yang mengambil risiko besar: Pastor John Rankin, yang rumahnya di atas bukit menerangi jalan dengan lentera sebagai sinyal aman, dan John Parker, mantan budak yang menjadi penyelamat pemberani yang berulang kali menyusup ke Kentucky untuk membawa orang keluar.
Goodrich mengunjungi Rumah Rankin, sekarang menjadi museum. Dari tebing, pemandangan Sungai Ohio dan Kentucky di seberangnya sangat mencolok. Dia membayangkan Parker, mendayung melintasi arus yang gelap dan deras, jantungnya berdebar bukan hanya karena ketakutan, tetapi juga karena tekad yang membara. Ripley adalah tempat di mana teori abolisionisme diterjemahkan ke dalam tindakan yang sangat berbahaya. Goodrich mencatat bahwa keberanian mereka bukanlah tanpa pamrih; mereka percaya itu adalah tugas moral. Di sini, di tepi air yang membelah perbudakan dan kebebasan, Goodrich merasakan ketegangan moral yang paling tajam. “Di Ripley,” tulisnya, “saya tidak hanya berdiri di tempat sejarah terjadi. Saya berdiri di tempat di mana orang-orang memutuskan bahwa membantu sesama manusia bukanlah pilihan, tetapi imperatif, bahkan jika itu berarti kehilangan segalanya.”
Di akhir bab ini (Bab XI), Goodrich membagikan sebuah kisah yang paling personal dan mengharukan, yang dia dengar dari seorang sejarawan lokal di komunitas kecil di perbatasan Ohio-West Virginia. Ini adalah kisah tentang seorang wanita yang diperbudak yang melarikan diri di musim dingin yang keras dengan bayi yang masih menyusu. Dalam pelariannya, dia hanya memiliki satu selimut tipis. Saat dia hampir membeku sampai mati, seorang wanita kulit hitam merdeka yang membantunya memberinya sebuah syal wol yang tebal dan hangat. Syal Ajaib (Ohio, West Virginia). Syal itu tidak hanya menyelamatkan nyawanya dan bayinya, tetapi kemudian menjadi pusaka keluarga, diturunkan melalui generasi sebagai simbol perlindungan dan amal.
Goodrich, yang mendengar cerita ini sambil menyesap kopi di dapur seorang keturunan, merasa bahwa “Syal Ajaib” ini adalah inti dari perjalanannya. Underground Railroad bukan hanya tentang rute dan peta, tetapi tentang jaringan kasih sayang yang tak terlihat, tentang barang-barang duniawi—sebuah syal, sepiring makanan, tempat persembunyian di lumbung—yang menjadi alat penyelamat. Ini adalah sejarah yang diwariskan bukan melalui monumen, tetapi melalui benda-benda dan cerita-cerita di sekitar meja dapur. Saat dia kembali bersepeda, angin musim dingin menusuk jaketnya, dan dia merasakan, lebih dari sebelumnya, beratnya dingin yang harus dihadapi oleh para pencari kebebasan itu, dan kehangatan luar biasa dari sebuah kebaikan yang diberikan oleh orang asing. Syal itu, dalam imajinasinya, menjadi benang merah yang menghubungkan semua kisah keberanian dan belas kasihan di Jalan Kebebasan Barat.
Kota Kebebasan
Setelah berminggu-minggu mengayuh melintasi pedesaan, jalan tanah, dan tepi sungai, David Goodrich akhirnya memasuki sorotan lampu jalan dan deru lalu lintas kota. Bab ini adalah tentang Philadelphia, Pennsylvania—bukan sekadar titik di peta, tetapi sebuah tujuan, sebuah mitos, sebuah “Kota Kebebasan” bagi ribuan orang yang melarikan diri. Namun, seperti yang segera ditemukan Goodrich, kebebasan di kota ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari sebuah perjuangan baru yang kompleks.
Goodrich mengarahkan sepedanya ke lingkungan Cedar Street, jantung komunitas kulit hitam bebas di Philadelphia abad ke-19. Udara di sini terasa berbeda; bukan lagi aroma ketakutan yang menyengat dari pedesaan Selatan, tetapi bau batu bata tua, debu arsip, dan semangat yang gigih. Dia berhenti di depan Mother Bethel African Methodist Episcopal (AME) Church, bangunan gereja kulit hitam tertua yang terus berdiri di Amerika. Batu fondasinya diletakkan oleh Richard Allen, seorang mantan budak yang menjadi pendiri gereja dan pemimpin abolisionis. Goodrich membayangkan gereja ini bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai benteng, stasiun kereta api, dan markas perang. Di ruang bawah tanahnya, orang-orang yang melarikan diri disembunyikan. Dari mimbarnya, pidato-pidato yang membakar tentang kebebasan berkumandang.
Dia mengikuti tur dengan seorang penjaga gereja yang juga adalah seorang sejarawan amatir yang penuh gairah. “Lihat lantai papan ini,” kata pria itu sambil mengetuk-ngetuk dengan sepatunya. “Ini pernah merasakan getaran kaki yang gemetar lelah. Di sini, mereka tidak hanya bersembunyi; mereka dibaptis ulang. Mereka diberikan nama baru, dokumen baru, sebuah identitas baru sebagai manusia merdeka.” Goodrich menyentuh dinding batu yang dingin, membayangkan desahan lega dan doa-doa yang disampaikan dalam bisikan. Philadelphia adalah mesin pencetak kebebasan, dan gereja-gereja seperti Mother Bethel adalah cetakannya.
Namun, Kota Kebebasan juga adalah kota dengan kontradiksi yang dalam. Goodrich me-ngunjungi Liberty Bell dan Independence Hall, simbol-simbol kebebasan Amerika yang agung.
Dia berdiri di sana, seorang pria kulit putih dengan sepeda, dikelilingi turis, dan merasakan sebuah ironi yang menusuk. “Di balik tembok-tembok ini,” pikirnya, “kata-kata ‘semua manusia diciptakan setara’ dirancang, sementara di jalan-jalan di luar, orang-orang yang dianggap sebagai properti berjuang untuk diakui kemanusiaannya.” Dia bersepeda ke Washington Square, yang dulu dikenal sebagai “Cemetery of the Strangers” dan tempat dimana orang kulit hitam yang miskin, termasuk banyak yang baru bebas, dikuburkan dalam kuburan tak bertanda. Kota yang memproklamirkan diri sebagai tempat pembebasan juga merupakan tempat di mana kebebasan itu rapuh, selalu terancam oleh undang-undang buronan, prasangka, dan kemiskinan.
Goodrich kemudian mencari narasi yang lebih personal. Dia mengunjungi arsip sejarah masyarakat kulit hitam, di mana dia menemukan surat-surat dari orang-orang yang baru dibebaskan. Satu surat, dari seorang wanita bernama Charlotte, menceritakan kegembiraannya yang luar biasa atas kebebasannya, tetapi juga ketakutannya yang membara akan penangkapan dan kerinduannya yang mendalam pada keluarga yang ditinggalkannya. “Kebebasan itu pahit-manis,” tulis Charlotte. “Seperti obat yang keras yang harus ditelan untuk menjadi sehat.” Surat ini mengingatkan Goodrich bahwa kedatangan di Philadelphia bukanlah “happy ending”, melainkan transisi yang mendebarkan ke dalam sebuah kehidupan yang penuh dengan tantangan baru: mencari pekerjaan, membangun komunitas, dan hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang konstan.
Pada malam terakhirnya di Philadelphia, Goodrich mendaki ke Bukit Belanda (Duth Hill). Dari sana, dia melihat bentangan kota yang luas, lampu-lampunya berkelap-kelip seperti bintang buatan. Dia membayangkan bagaimana pemandangan ini terlihat di mata seorang budak buronan yang baru tiba. Itu pasti tampak seperti lautan kemungkinan dan bahaya yang tak terbatas. Kota itu menjanjikan anonimitas, tetapi juga kesepian. Ia menjanjikan pekerjaan, tetapi juga eksploitasi.
Bab ini ditutup dengan Goodrich mengunjungi sebuah toko sepatu tua di lingkungan yang sekarang menjadi kawasan komersial yang modis. Toko ini, menurut catatan, pernah dimiliki oleh seorang abolisionis kulit hitam yang sukses yang mempekerjakan orang-orang yang baru dibebaskan. Goodrich meletakkan tangannya di batu bata yang sudah usang. Di sini, kebebasan tidak hanya dinyatakan, tetapi dijalani, diupah, dan diperjuangkan setiap hari. Philadelphia, dia menyadari, bukanlah garis finish. Ia adalah sebuah bengkel di mana kebebasan yang masih mentah, yang direbut dengan susah payah dari Selatan, ditempa menjadi kehidupan yang nyata, dengan semua kompleksitas, kemenangan kecil, dan kekecewaannya.
Saat dia meninggalkan kota dan kembali ke jalan terbuka, dia membawa serta pemahaman baru: bahwa kebebasan bukanlah sebuah tempat yang statis, tetapi sebuah proses yang terus berlanjut—sebuah perjalanan yang tidak berhenti di perbatasan kota, tetapi terus berlanjut di dalam hati dan institusi manusia. Kota Kebebasan, pada akhirnya, adalah sebuah cita-cita yang harus terus-menerus dibangun ulang, dipertahankan, dan diperluas—satu batu bata, satu kehidupan, satu perjalanan sepeda pada satu waktu.
Catatan Akhir: Jalan yang Belum Selesai
On Freedom Road bukanlah buku yang memberikan jawaban yang mudah. Ia adalah sebuah undangan untuk melihat lanskap Amerika dengan mata yang baru, untuk mendengar gema dari langkah kaki yang bergegas di malam hari di balik bunyi rantai sepeda. David Goodrich yang kini tinggal di Rockville, Maryland, menyimpulkan bahwa perjalanan kebebasan yang dimulai di Underground Railroad belum berakhir. Ia berlanjut dalam perjuangan untuk kesetaraan ras, keadilan, dan pengakuan penuh atas sejarah bangsa. Dengan mengayuh di jalan yang sama, menghirup udara yang sama, dan berdialog dengan keturunan dari kedua belah pihak dari sejarah itu, Goodrich menunjukkan bahwa rekonsiliasi sejati dimulai dengan pengakuan yang mendalam, dengan kesediaan untuk merasa tidak nyaman, dan dengan komitmen untuk mengikuti jalan kebenaran, betapapun berat dan berlikunya jalan itu.Sepedanya, dalam perjalanan yang luar biasa ini, menjadi lebih dari sekadar alat transportasi; ia menjadi kendaraan untuk pencerahan dan alat untuk penggalian—menggali sejarah, menggali hati nurani, dan menggali kemungkinan untuk Amerika yang lebih adil.
Bogor, 28 Desember 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi Utama
Goodrich, D. (2023). On Freedom Road: Bicycle explorations and reckonings on the Underground Railroad. Pegasus Books.
Referensi dan Sumber Kontekstual:
- Peta dan Situs Underground Railroad: National Park Service’s Network to Freedom adalah sumber utama untuk lokasi yang diverifikasi.
- Arsip Sejarah Lisan: Proyek seperti “Behind the Big House” di Mississippi bekerja untuk menginterpretasi sejarah perbudaan.
- Studi tentang Migrasi Besar: Karya Isabel Wilkerson, The Warmth of Other Suns, memberikan konteks untuk pergerakan orang kulit hitam Amerika pasca-Perang Saudara, yang menjadi kelanjutan dari pencarian kebebasan.
- Situs yang Dikunjungi Goodrich:
- Buxton National Historic Site: https://buxtonmuseum.com/
- Mother Bethel AME Church: https://www.motherbethel.org/
- Medgar Evers Home Museum: https://www.visitjackson.com/listing/medgar-evers-home-museum/508/






