Logo-Remark-Asia-WhiteLogo – Re-Mark AsiaLogo-Remark-Asia-WhiteLogo-Remark-Asia-White
  • Home
  • Who we are
    • Brief history
    • Career with us
    • Clients
    • Legalities
    • Networking and partnership
    • Purpose and vision
    • Management
    • Our experience
    • Our Team
  • What we offer
    • Consultancy Services
      • Carbon Stock Assessment
      • Free Prior and Informed Consent
      • High Carbon Stock
      • High Conservation Value
      • Land Use Change Analysis
      • Participatory Mapping
      • Social Impact Assessment
    • Sustainability Audit
    • HCVN ALS Report
  • AiKnow
    • About AiKnow
    • Our Trainers
    • Courses
      • Top Courses
        • HCV ALS Lead Assessor Training
        • High Carbon Stock Training
        • Social Impact Assessment Training (SIAT)
      • HCV Concept Learning
      • HCV + HCS Integrated Lead Assessor Training Course
      • FPIC Concept Learning
      • Facilitator Training
      • In-house Training
    • Training & Activity
      • Training Calendar
      • Training Activity
      • Fieldtrip Activity
      • In-House Training
    • Quarterly Discussion
    • Program Mitra-AiKnow
      • Tokopedia
        • Prakerja
          • Sertifikat
    • Register
    • Contact Us
  • Knowledge
    • Juru Buku
    • Rubarubu
    • Bincang Buku
    • Halaman DRM
    • Membumi Lestari
    • Sustainability 17A
  • Media & news
    • News
    • Galeri
    • Downloads
✕

Rubarubu #12 -Menuju Pembebasan Digital

  • Home
  • Media & news
  • News
  • Rubarubu
  • Rubarubu #12 -Menuju Pembebasan Digital
Published by remarker at Wednesday November 19th, 2025
Categories
  • Rubarubu
  • Ruang Baca
  • Ruang Buku
Tags
  • remark asia
  • remarkasia
  • Ruang Baca
  • Ruang Buku
  • Rubarubu

#12 Rubarubu i

Menuju Pembebasan Digital

Bayangkan sebuah kota digital yang awalnya dibangun sebagai taman bermain terbuka untuk semua orang. Di masa-masa awalnya—yang kita sebut Era Membaca—internet bagaikan perpustakaan raksasa yang sunyi. Kita semua adalah pengunjung yang sopan, berjalan di antara rak-rak buku digital, mengambil informasi yang kita butuhkan tanpa meninggalkan jejak. Situs web statis bagaikan monumen yang berdiri kokoh, memberikan pengetahuan tapi tidak mengajak kita berdialog.

Namun kemudian, datanglah Era Menulis. Tiba-tiba taman yang sunyi itu berubah menjadi pasar yang riuh rendah. Setiap orang bisa bersuara, membuat toko, dan berkumpul di kedai-kedai digital. Facebook, Twitter, YouTube—mereka bagaikan plaza-plaza modern tempat kita semua berkumpul. Awalnya terasa membebaskan, seperti kita semua akhirnya mendapat panggung. Tapi perlahan-lahan, kita mulai sadar: plaza-plaza indah ini sebenarnya adalah mal pribadi. Pemiliknya bisa mengusir kita kapan saja, mengubah aturan semaunya, dan yang paling menyakitkan—mereka mengumpulkan semua emas digital yang kita hasilkan dengan keringat kita.

Chris Dixon, dalam bukunya yang terbit di awal 2024 ini, Read write own: Building the next era of the Internet, membawa kita keluar dari mal-mal megah itu menuju sebuah visi yang lebih segar. Dia memperkenalkan kita pada Era Kepemilikan —sebuah dunia dimana kita tidak lagi sekadar tamu atau pelanggan, tetapi menjadi pemilik sejati dari ruang digital kita sendiri.

Dixon menggambarkan dunia baru ini dengan gamblang, seperti seorang pemandu yang sabar menunjukkan jalan keluar dari labirin. Blockchain bukan lagi sekadar tentang cryptocurrency yang naik-turun harganya, melainkan tentang mesin pembangun kepercayaan. Melalui kode matematika yang transparan, kita bisa menciptakan sistem yang tidak perlu lagi dipercayai karena kebenarannya bisa diverifikasi oleh siapa saja.

Di bagian yang paling menggugah, Dixon menceritakan kisah-kisah nyata bagaimana petani di negara berkembang bisa mengakses pinjaman tanpa melalui bank yang berbiaya tinggi. Seniman digital yang akhirnya mendapat royalti yang pantas untuk setiap karyanya yang diperjualbelikan. Komunitas-komunitas yang mengelola dana mereka sendiri tanpa takut dicurangi oleh pengurusnya. Semua ini bukan lagi mimpi—prototipenya sudah berjalan di berbagai sudut internet yang baru ini.

Namun Dixon bukanlah pengkhayal yang buta. Dengan jujur dia mengakui jalan yang masih harus ditempuh masih berbatu-batu. Teknologi yang masih rumit untuk orang awam, regulator yang masih bingung, dan spekulan yang hanya mencari keuntungan cepat—semua tantangan ini diakuinya dengan rendah hati. Tapi keyakinannya tidak goyah: seperti internet di awal 1990-an yang sulit digunakan tapi akhirnya mengubah dunia, internet baru ini akan melalui proses pematangan yang sama.

Yang membuat buku ini begitu memikat adalah kemampuannya menjembatani mimpi dan realitas. Dixon tidak hanya berkoar-koar tentang ide besar, tapi menunjukkan langkah-langkah konkret bagaimana kita—sebagai pengguna biasa, developer, atau pembuat kebijakan—bisa ikut membangun dunia digital yang lebih adil ini.

Di akhir bukunya, Dixon seperti seorang nabi digital yang mengingatkan kita: “Pertaruhan yang sebenarnya bukan tentang teknologi mana yang akan menang, tapi tentang masyarakat seperti apa yang ingin kita bangun. Apakah kita ingin hidup di dunia dimana segelintir perusahaan mengendalikan semua aliran informasi dan nilai? Atau kita memilih dunia dimana setiap orang bisa menjadi tuan di rumah digitalnya sendiri?”

Buku ini pada akhirnya adalah sebuah undangan untuk berpartisipasi dalam salah satu petualangan terbesar abad ini. Bukan dengan menjadi penonton yang pasif, tapi dengan menjadi arsitek dari masa depan digital kita sendiri. Seperti kata pepatah Arab: “Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah”—dan Dixon telah memberikan kita peta untuk bertindak.

Dalam gema kata-katanya, kita bisa mendengar gema dari masa lalu internet—semangat pembebasan yang pernah kita rasakan di awal-awal dunia digital. Kini, dengan panduan Dixon, kita diajak untuk menulis bab berikutnya bukan dengan tinta yang mudah dihapus oleh platform, tapi dengan kode yang akan abadi dalam blockchain—sebuah warisan digital yang benar-benar milik kita bersama.

Dalam “Read Write Own“, Chris Dixon memetakan evolusi internet melalui tiga fase historis yang menentukan: Era Membaca (web statis), Era Menulis (web sosial terpusat), dan yang terpenting—Era Kepemilikan yang sedang lahir. Dixon berargumen bahwa internet kontemporer telah beralih dari taman bermain demokratis menjadi mal pribadi yang dikendalikan segelintir raksasa teknologi. “Blockchain bukan sekadar teknologi mata uang, melainkan fondasi untuk jaringan baru yang dimiliki dan dikendalikan pengguna,” tegasnya.

Filosof Marshall McLuhan pernah menyatakan, “Kita membentuk alat kita, dan kemudian alat kita membentuk kita,” peringatan yang bergema dalam analisis Dixon tentang bagaimana arsitektur digital yang terpusat telah membentuk hubungan sosial dan ekonomi kita secara fundamental.  Kita memerlukan sebuah visi untuk pembebasan digital.

Buku ini membongkar mekanisme eksploitasi dalam platform web2, di mana pengguna menciptakan nilai tetapi tidak memiliki aset atau suara dalam tata kelola. Dixon menunjukkan bagaimana model bisnis yang bergantung pada ekstraksi data dan perhatian telah menciptakan ketimpangan struktural dalam ekonomi digital. “Jaringan terpusat seperti klub eksklusif yang aturannya bisa berubah demi keuntungan pemilik,” tulisnya. Aktivis digital Aaron Swartz pernah memperingatkan, “Informasi adalah kekuatan, tetapi ada yang ingin mempertahankannya untuk diri sendiri,” sebuah realitas yang dijelaskan Dixon melalui analisis ekonomi politik platform digital kontemporer.   Dixon mengurai anatomi keterjajahan digital yang dihadapi warga dunia saat ini.

Karena itu diperlukan upaya kolektif dan arsitektur yang tepat untuk mengembalikan kedaulatan digital.  Melalui penjelasan yang gamblang tentang blockchain, token, dan organisasi otonom terdesentralisasi (DAO), Dixon merancang blueprint untuk internet yang dimiliki komunitas. Buku ini menunjukkan bagaimana kriptografi dan ekonomi token dapat menciptakan insentif yang selaras antara pengembang, pengguna, dan investor. “Tujuan kami adalah membangun kota digital demokratis, bukan mal pribadi,” deklarasinya. Prinsip Al-Mizan (keseimbangan) dalam Islam menemukan ekspresi modernnya dalam visi Dixon tentang ekosistem digital yang adil, di mana nilai yang diciptakan didistribusikan secara proporsional kepada semua kontributor.

Dixon mendokumentasikan bagaimana Era Kepemilikan memberdayakan kreator melalui kepemilikan aset digital dan hubungan langsung dengan audiens. Buku ini mengeksplorasi bagaimana NFT dan token komunitas memungkinkan model ekonomi baru yang memotong perantara dan menciptakan pasar yang lebih efisien dan adil. “Kepemilikan mengubah pengguna dari produk menjadi pemilik,” jelasnya. Seperti dikemukakan Nabi Muhammad SAW, “Allah menginginkan kemudahan bagimu, bukan kesulitan,” barangkali prinsip inilah yang terwujud dalam visi Dixon tentang ekonomi digital yang menghilangkan hambatan dan perantara yang tidak perlu. Para kreator dan komunitas telah bangkit.

Bab penting buku ini membahas bagaimana DAO dan mekanisme tata kelola berbasis token dapat menciptakan model pengambilan keputusan yang lebih inklusif dan transparan. Sebuah tata kelola demokratis di era digital.  Dixon menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip demokrasi dapat diabadikan dalam kode melalui mekanisme voting dan proposal yang terdesentralisasi. “Tata kelola digital seharusnya seperti konstitusi, bukan seperti syarat layanan yang bisa diubah sepihak,” paparnya. Konsep Syura dalam Islam menemukan ekspresi teknologisnya dalam model tata kelola kolektif yang diadvokasikan Dixon, di mana setiap pemegang token memiliki suara dalam menentukan masa depan platform.

Dixon mengakui tantangan dalam membawa web3 ke arus utama dan menawarkan strategi untuk mengatasi hambatan teknis, regulasi, dan edukasi. Jalan menuju adopsi massal masih panjang.  Buku ini memberikan peta jalan yang realistis untuk transisi dari internet yang terpusat ke yang terdesentralisasi, dengan penekanan pada pengalaman pengguna yang mulus dan nilai yang jelas. “Kami membangun untuk miliaran pengguna berikutnya, bukan hanya untuk para ahli kripto,” tekannya. Inovator Buckminster Fuller pernah berkata, “Anda tidak mengubah sesuatu dengan melawan realitas yang ada. Untuk mengubah sesuatu, bangunlah model baru yang membuat model lama menjadi usang,” strategi yang tepat menggambarkan pendekatan Dixon dalam menciptakan alternatif yang unggul.

Catatan Akhir

Buku ini memproyeksikan visi di mana internet yang dimiliki pengguna menjadi mesin pertumbuhan ekonomi inklusif, terutama di negara berkembang. Sebuah masa depan ekonomi digital yang inklusif. Dixon menunjukkan bagaimana akses ke pasar global dan alat keuangan digital dapat memberdayakan wirausaha di seluruh dunia. “Internet berikutnya harus membangun jembatan, bukan tembok,” serunya. Ekonom Amartya Sen dalam teorinya tentang pembangunan sebagai kebebasan berargumen, “Kemajuan sejati terletak pada perluasan kemampuan manusia,” visi yang selaras dengan proyek Dixon untuk menciptakan alat digital yang memberdayakan.


“Read Write Own” adalah manifesto yang menyerukan partisipasi aktif dalam membentuk masa depan internet. Dixon mendorong pembaca—baik pengembang, entrepreneur, maupun pengguna biasa—untuk terlibat dalam membangun ekosistem digital yang lebih adil.  Sebuah panggilan untuk aksi kolektif.

“Masa depan internet bukan takdir, melainkan pilihan. Dan pilihan itu ada di tangan kita,”tutupnya. Seperti kata penyair T.S. Eliot, “Kita tidak boleh berhenti dari eksplorasi, dan akhir dari semua eksplorasi kita adalah sampai di tempat kita mulai dan mengenali tempat itu untuk pertama kalinya,” menggambarkan perjalanan internet menuju desentralisasi sebagai kembali ke cita-cita awalnya yang demokratis, namun dengan kemampuan teknis yang jauh lebih maju.

Istanbul-Bogor,  3 November 2025

Dwi Rahmad Muhtaman


Referensi:

Dixon, C. (2024). Read write own: Building the next era of the Internet. Random House.

i Ruang Baca Ruang Buku (Rubarubu) adalah sebuah prakarsa yang mempunyai misi untuk menyebarkan ilmu dan pengetahuan lewat bacaan dan buku.  Merangsang para pembaca Rubarubu untuk membaca lebih dalam pada buku asal yang diringkas, mendorong percakapan untuk membincangkan buku-buku yang telah diringkas dan juga meningkatkan gairah untuk menulis pengalaman baca dan berbagi dengan khalayak.  Prakarsa Rubarubu adalah bagian dari prakarsa ReADD (Remark Asia Dialogue and Documentation), sebuah program untuk menjembatani praktik dan gagasan — agar pengalaman lapangan dapat berubah menjadi narasi yang inspiratif, dokumentasi yang bermakna, dan percakapan yang menggerakkan.

ReADD mendukung penulisan, penerbitan, dan dialog pengetahuan agar Remark Asia memperluas perannya bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai rumah gagasan tentang masa depan berkelanjutan.

ReADD (Remark Asia Dialogue and Documentation) lahir dari kesadaran bahwa keberlanjutan tidak hanya dibangun melalui proyek dan kebijakan, tetapi juga melalui gagasan, refleksi, dan narasi yang menumbuhkan kesadaran kolektif. Buku, diskusi, dan dokumentasi menjadi medium untuk menyemai dan menyerbuk silang pengetahuan, membangun imajinasi masa depan, serta memperkuat hubungan antara manusia, budaya, dan bumi.

Dengan kemajuan teknologi kita juga bisa memanfaatkan kecanggihannya untuk meringkas buku-buku yang ingin kita baca singkat.  Rubarubu memanfaatkan teknologi intelegensia buatan untuk meringkas dan mengupas buku-buku dan dijadikan bacaan ringkas.  Penyuntingan tetap dilakukan dengan intelegensia asli untuk memastikan akurasinya dan kenyamanan membaca.  Karena itu tetap ada disclaimer bahwa setiap artikel Rubarubu tidak menjamin 100% akurat berasal dari seluruhnya buku yang dikupas.  Penulisan artikel dilakukan dengan sejumlah improvisasi, olahan dari sumber lain dan pandangan/interpretasi pribadi penulis.  Pembaca disarankan tetap membaca sumber aslinya untuk mendapatkan pengalaman dan jaminan akurasi langsung.  

Share
0

Related posts

Thursday December 4th, 2025

Rubarubu #31 – Instagram Rules: Membangun IG dengan Dampak


Read more
Tuesday December 2nd, 2025

Rubarubu #30 – Think Bigger: Rumuskan Masalah dengan Tepat, Solusi Didapat


Read more
Tuesday December 2nd, 2025

Rubarubu #29 -No-Excuses Innovation: Inovasi untuk Si Kecil dan Menengah


Read more
Monday December 1st, 2025

Rubarubu #28 -How Innovation Works:  Bekerja Baik dalam Kebebasan


Read more
© Copyright 2023 - Re-Mark Asia | All Rights Reserved
      Next November 21, 2025
      Rubarubu #13 -Bagaimana Kita Membaca Kini

      #13 Rubarubu i Bagaimana Kita Membaca Kini Di sebuah sudut perpustakaan kampus yang sunyi, seorang profesor tua memperhatikan mahasiswinya yang…

      Previous November 17, 2025
      Rubarubu #11 -Melawan Penjajahan Iklim Menuju Keadilan Iklim

      Rubarubu #11 Melawan Penjajahan Iklim Menuju Keadilan Iklim Pada suatu pagi pasang tinggi melanda desa pesisir — air asin menyusup…

      Random November 29, 2022
      Sustainability 17A #40 - Keberlanjutan dan Sepakbola

      Sustainability 17A #40 Keberlanjutan dan Sepakbola Dwi Rahmad Muhtaman, Ketua Yayasan Lembaga Alam Tropika Indonesia/LATIN, Co-Founder/President Director Remark Asia Keberlanjutan kini…