Rubarubu #64
Handwritten Notes:
Warisan Buku Catatan Kecil
Di dalam laci meja ayahnya yang telah meninggal, Carrie Pierce menemukan sebuah buku catatan kecil berisi nama-nama. Bukan daftar kontak biasa, melainkan “buku catatan pelayat” yang dengan teliti mencatat setiap orang yang menghadiri pemakaman ibunya bertahun-tahun sebelumnya. Di sebelah setiap nama, dengan tinta yang sudah memudar, tertulis tanggal kapan ayahnya telah mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada orang tersebut. “Itu adalah tindakan diam-diam dari perhatian dan rasa syukur yang mendalam. Dia tidak hanya menerima belasungkawa; dia mengakui setiap individu, dengan nama, dengan tulisan tangannya sendiri.” (Pierce, 2022, p. 12). Penemuan yang mengharukan dan penuh makna ini menjadi titik tolak buku Handwritten Notes: Learn How a Small, Powerful Act Can Enrich Your Life (Hiccup Press, 2022). Buku ini bukan sekadar nostalgia untuk zaman surat menyurat, melainkan sebuah manifesto dan panduan praktis yang berargumen bahwa di era digital yang serba cepat dan efisien, tindakan menulis dengan tangan di selembar kertas justru merupakan sebuah “aksi kecil yang kuat”—sebuah revolusi kemanusiaan yang dapat menyembuhkan hubungan, memperkaya ingatan, dan mengembalikan keutuhan pada diri kita.
Inilah kekuatan revolusioner dalam gestur yang sederhana. Carrie Pierce, seorang penulis, pendidik, dan advokat mindfulness kreatif yang mengkhususkan diri pada kekuatan trans-formatif dari praktik sederhana dan analog dalam era digital, membangun bukunya bukan hanya di atas pengalaman pribadi, tetapi juga dengan menggabungkan wawasan dari neuro-sains, psikologi positif, dan praktik mindfulness. Dia berargumen bahwa menulis catatan tangan bukanlah sekadar mengganti email atau pesan teks; itu adalah pengalaman multimodal yang secara unik melibatkan otak, tubuh, dan jiwa.
Bab-bab awal buku mengurai “Mengapa Tangan, dan Mengapa Sekarang?” Pierce men-deskripsikan proses fisik menulis sebagai sebuah “ritual kognitif”. Gerakan tangan yang lambat dan disengaja, pilihan kertas dan pena, dan kehadiran yang dibutuhkan untuk menuangkan pikiran ke dalam bentuk fisik, semuanya mengaktifkan jalur saraf yang berbeda dari mengetik. Penelitian yang dia kutip menunjukkan bahwa menulis dengan tangan meningkatkan retensi memori dan pemrosesan informasi yang lebih dalam. Lebih dari itu, tindakan ini mencipta-kan “ruang sakral untuk perhatian penuh” di tengah kebisingan digital kita. “Saat Anda menulis catatan, Anda tidak dapat terburu-buru. Anda hadir sepenuhnya, baik untuk penerima maupun untuk pikiran dan perasaan Anda sendiri.” (Pierce, 2022, p. 47).
Buku ini kemudian membahas secara detail beragam jenis catatan tangan dan kekuatan transformatifnya: Catatan Ucapan Terima Kasih: Bukan sekadar formalitas, melainkan alat untuk memperkuat neuropathways rasa syukur, yang secara ilmiah terkait dengan peningkatan kebahagiaan dan ketahanan. Catatan Penghiburan: Memberikan kehadiran dan pengakuan atas penderitaan orang lain dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh sebuah emoji atau pesan singkat. Ia menyentuh hati dengan kecepatan manusiawi. Catatan Apresiasi: Mengubah budaya kerja atau persahabatan dengan memberikan pengakuan yang spesifik dan nyata, jauh melampaui “kerja bagus” yang generik di Slack. Catatan untuk Diri Sendiri (Jurnal, Surat untuk Masa Depan): Sebagai alat untuk refleksi, penyembuhan, dan penjernihan pikiran.
Di sinilah Pierce, yang sebelum menjadi penulis aktif di dunia pendidikan dan komunikasi ini menyelipkan kebijaksanaan lintas budaya. Dia mungkin mengutip penyair dan esais Amerika, Henry David Thoreau, yang di pondoknya di Walden menulis tentang pentingnya “kesederhanaan, kesederhanaan, kesederhanaan!” sebagai jalan menuju kehidupan yang disengaja. Menulis catatan tangan adalah praktik kesederhanaan yang disengaja tersebut. Dari tradisi Islam, praktik ini beresonansi dengan penekanan pada “adab” (tata krama yang indah) dan “ihsan” (melakukan yang terbaik). Seorang ulama mungkin merujuk pada tradisi para sarjana Muslim yang saling mengirimkan “risalah” (surat atau tulisan) yang ditulis dengan indah, yang tidak hanya menyampaikan ilmu tetapi juga rasa hormat dan perhatian yang mendalam terhadap sang penerima. Catatan tangan adalah adab modern; sebuah ekspresi ihsan dalam komunikasi.
Salah satu bab paling kuat membahas “Catatan sebagai Perlawanan”—perlawanan terhadap budaya disposable, terhadap kesibukan yang tak berarti, dan terhadap depersonalisasi hubungan. Mengirim catatan tulisan tangan adalah pernyataan bahwa orang ini, dan momen ini, penting. “Writing by hand is an act of embodiment. Your breath, your heartbeat, the pressure of your pen—all converge to create a unique artifact of a specific moment in time.”(Pierce, 2022, p. 34). Buku ini juga secara praktis membahas penghalang umum (“Saya tidak punya waktu,” “Tulisan saya jelek,” “Saya tidak tahu harus menulis apa”) dan memberikan solusi yang mudah: Mulailah dengan satu kalimat. Gunakan kartu pos. Jadikan sebagai ritual mingguan.
Pada akhirnya, Handwritten Notes adalah lebih dari sekadar buku tentang surat-menyurat. Ini adalah buku tentang koneksi manusiawi yang autentik. Pierce menyimpulkan bahwa setiap catatan adalah seperti “kapsul waktu emosional”—sebuah benda fisik yang membawa energi niat si penulis dan dapat disentuh, disimpan, dan dikembalikan oleh si penerima, seringkali di saat mereka paling membutuhkannya. “Ini bukan tentang kesempurnaan. Ini tentang kehadiran. Satu kalimat yang ditulis dengan tulus lebih kuat daripada seribu kata yang diketik dengan tergesa-gesa.” (Pierce, 2022, p. 188).
Dengan kata lain, buku ini mengajak kita untuk merebut kembali salah satu keajaiban kemanusiaan paling sederhana: kekuatan untuk menyentuh hati seseorang dari kejauhan, dengan ujung jari dan tinta, dan untuk melakukannya dengan cara yang meninggalkan jejak yang abadi.
Buku ini memang dimulai bukan dengan teori, tetapi dengan sebuah benda: buku catatan pelayat milik ayah penulis. Carrie Pierce membawa kita langsung ke pusat emosional dari bukunya dengan penemuan yang mengharukan ini. Buku catatan kecil yang usang itu, penuh dengan nama dan tanggal, menjadi sebuah monumen diam-diam untuk perhatian manusia yang mendalam. Itu adalah bukti fisik bahwa seseorang telah melakukan upaya ekstra—tidak hanya hadir, tetapi mengakui; tidak hanya menerima, tetapi berterima kasih. Pengantar ini menetapkan nada bahwa buku ini bukanlah nostalgia romantis, melainkan sebuah pencarian untuk menemukan kembali bentuk perhatian yang nyata dan berani itu di dunia kita yang serba cepat. Ini adalah undangan untuk mempertanyakan apa yang telah hilang dalam efisiensi komunikasi digital kita, dan untuk memulai perjalanan guna mengambilnya kembali, satu catatan tulisan tangan pada satu waktu.
Kini bayangkan gelombang notifikasi yang tak henti-hentinya: email, pesan singkat, pemberi-tahuan media sosial. Setiap ping adalah sebuah interupsi, sebuah klaim kecil atas perhatian kita. Dalam bab Teknologi, Pierce tidak menyalahkan teknologi itu sendiri, tetapi efek samping-nya terhadap kedalaman dan keaslian koneksi kita. Dia mendiagnosis “masalahnya” sebagai budaya komunikasi yang “disposable” dan terfragmentasi.
Kita telah terbiasa dengan percakapan yang terpotong-potong, dengan reaksi yang diwakili oleh emoji, dan dengan tekanan untuk merespons dengan cepat, bukan dengan bijaksana. Efisiensi telah mengikis kehadiran. “Kita telah menukar ketepatan dengan kecepatan, dan substansi dengan kemudahan,” tulis Pierce. Hasilnya adalah perasaan kelelahan komunikatif dan hubung-an yang sering kali terasa dangkal—seperti kita selalu berbicara, tetapi jarang benar-benar berbicara. Bab ini berfungsi sebagai intervensi, mengajak kita untuk mengakui kekosong-an yang ditinggalkan oleh interaksi digital yang konstan dan memberi nama apa yang kita rindukan: perhatian yang tidak terbagi dan pengakuan yang bermakna. “In a world that values speed and volume, the handwritten note is a quiet protest of quality, attention, and soul.” (Pierce, 2022, p. 155). Pengalamannya bertahun-tahun sebagai seorang guru dan fasilita-tor memberi dia wawasan mendalam tentang kebutuhan manusia akan koneksi, ekspresi diri, dan pembelajaran yang mendalam. Dia mengamati bahwa di tengah banjir notifikasi digital dan komunikasi yang serba cepat, ada kerinduan universal akan keaslian dan kehadiran penuh (mindfulness). Observasi inilah yang mendorongnya untuk mengeksplorasi dan akhirnya mendalami seni menulis catatan tulisan tangan sebagai sebuah bentuk solusi.
“Mengapa catatan kuno tidak begitu kuno?” tanya Piece. Setelah menguraikan masalah, bab ini membalik narasinya. Di sini, Pierce membongkar anggapan bahwa menulis catatan adalah praktik usang. Sebaliknya, dia berpendapat bahwa justru karena ke”kuno”annya, catatan tulisan tangan menjadi lebih relevan dan revolusioner daripada sebelumnya.
Dia mengajukan “keunggulan analog”:
- Keberanian Fisik: Sebuah kartu atau surat adalah sebuah objek yang bisa disentuh, disimpan, dan ditemukan kembali. Ia menempati ruang di dunia nyata, berbeda dengan pesan digital yang mudah menghilang dalam arus informasi.
- Kecepatan Manusiawi: Menulis memaksa kita untuk memperlambat diri. Ritme yang lambat ini memungkinkan ruang bagi pemikiran yang lebih dalam, empati yang lebih besar, dan formulasi kata-kata yang lebih disengaja.
- Bukti Usaha: Di dunia di mana segala sesuatu instan, upaya untuk mencari kartu, menemukan pena, menulis, mencari prangko, dan mengirimkannya adalah sebuah pesan dalam dirinya sendiri. Itu berbicara tentang nilai yang ditempatkan pada si penerima.
Bab ini berpendapat bahwa catatan “kuno” ini adalah alat modern untuk memulihkan kemanusiaan dalam komunikasi kita. Mereka tidak ketinggalan zaman; mereka adalah penangkal yang sangat dibutuhkan bagi zaman kita.
Seni Interaksi Personal
Ini adalah bab tentang niat dan perhatian. Pierce bergeser dari apa dan mengapa ke bagai-mana—bukan teknis menulis, tetapi kondisi batin yang mendahuluinya. “A handwritten note doesn’t just convey a message; it delivers a piece of yourself. It says, ‘For you, I carved out time. For you, I focused my thoughts. For you, I made this.” (Pierce, 2022, p. 89). Seni Interaksi Personal adalah kemampuan untuk memfokuskan seluruh diri Anda—pikiran, emosi, niat—kepada satu orang lain, bahkan jika mereka tidak hadir secara fisik.
Ini melibatkan: Mengingat dengan Spesifik: Bukan “Terima kasih atas bantuannya,” tetapi “Terima kasih telah tinggal kemarin untuk membantaku memeriksa data proyek X. Perhatianmu pada detail itulah yang mencegah kita dari kesalahan besar.” Mendengarkan untuk Menulis: Mengamati dan mengingat hal-hal kecil tentang orang-orang dalam hidup kita, bukan untuk suatu tujuan, tetapi untuk suatu hari nanti dapat mengakui mereka dalam sebuah catatan. Kehadiran yang Diwakilkan: Saat Anda menulis, Anda membayangkan si penerima. Anda hadir untuk mereka dalam pikiran Anda. Catatan itu menjadi perpanjangan dari kehadiran penuh perhatian itu.
Pierce menyamakan praktik ini dengan meditasi kasih sayang (metta) atau doa—sebuah tindakan memusatkan energi positif dan pengakuan kepada orang lain. Ini adalah seni mengubah interaksi biasa menjadi sebuah momen pengakuan yang istimewa.
Tentu saja tulisan tangan adalah ritual menulis catatan yang (tidak harus) sempurna. Di sinilah kaki menyentuh tanah. Setelah membahas filosofinya, Pierce memberikan panduan praktis yang melegakan. Ia membebaskan kita dari beban perfeksionisme. “Ritual” di sini bukan tentang kepatuhan yang kaku, tetapi tentang menciptakan ruang dan niat yang disengaja.
Piece membahas tiga hal penting: Pertama, Mengatasi Penghalang: “Tulisan saya jelek.” (Itu membuatnya lebih personal). “Saya tidak punya waktu.” (Mulailah dengan 5 menit). “Saya tidak tahu harus menulis apa.” (Mulailah dengan “Saya memikirkanmu hari ini karena…”). Kedua, Elemen-Elemen Sederhana: Memilih kertas dan pena yang menyenangkan, menemukan sudut yang tenang, bahkan menyalakan lilin atau menyeduh teh—semua ini mengubah tugas menjadi ritual perawatan diri dan perawatan hubungan. Ketiga, Struktur yang Membebaskan: Pierce menawarkan templat sederhana: Salam Hangat -> Kenangan atau Pengamatan Spesifik -> Perasaan atau Harapan -> Penutupan Tulus. Struktur ini bukan sangkar, melainkan perancah yang mendukung ekspresi yang tulus.
Intinya adalah demistifikasi: Menulis catatan yang bermakna bukan tentang bakat sastra, melainkan tentang keberanian untuk menjadi tidak sempurna namun tulus. Ritualnya adalah tentang menghormati momen dan orang tersebut, bukan tentang menghasilkan karya seni. Dengan menyelesaikan bab ini, pembaca merasa siap dan diberdayakan untuk mengambil pena dan memulai, membebaskan diri dari tekanan untuk menciptakan sesuatu yang “pantas dipajang,” dan sebaliknya fokus pada menciptakan sesuatu yang pantas dirasakan.
Buku Carrie Pierce bukan sekadar panduan tentang etiket menulis surat; buku ini adalah manifesto filosofis dan manual praktis yang mengangkat tindakan sederhana menulis catatan menjadi sebuah praktik perawatan diri dan hubungan (self-care & relational practice).
Setelah menguasai ritual menulis untuk orang-orang yang kita kenal, Piece mengajak kita pada eksplorasi yang lebih dalam dan personal: menulis untuk diri sendiri. Pierce berargumen bahwa catatan tulisan tangan bukan hanya alat untuk terhubung dengan orang lain, tetapi juga sebuah kapal untuk menavigasi lautan batin kita sendiri.
Pierce membahas dua praktik utama:
- Jurnalisme yang Disengaja: Berbeda dengan diary harian, ini tentang menulis surat kepada diri sendiri di masa depan—misalnya, untuk dibuka pada ulang tahun berikutnya, atau saat menghadapi keputusan besar. Ini adalah cara untuk “berbicara” dengan kebijaksanaan diri masa depan dan menciptakan peninggalan emosional bagi diri sendiri.
- Catatan Afirmasi dan Pengingat: Menuliskan kutipan, niat, atau nilai-nilai inti pada selembar kartu indah dan menempatkannya di cermin atau meja kerja. Tindakan fisik menulisnya memperkuat pesannya dalam memori otot dan visual, menjadikannya lebih dari sekadar pikiran yang berlalu.
“Mengirim Dirimu ke Dunia” adalah metafora untuk mengkristalkan bagian terbaik dari pikiran dan harapan Anda menjadi bentuk fisik, lalu melepaskannya—baik ke dalam waktu (untuk diri masa depan) atau ke dalam ruang pribadi Anda—sebagai panduan dan pengingat. Ini adalah praktik belas kasih diri dan penjernihan diri yang paling nyata.
Apakah tulisan tangan juga cocok sebagai catatan untuk bisnis? Pierce dalam buku cukup jeli karena paham dunia tulis-menulis juga adalah dunia para pebisnis. Di sinilah Pierce me-ngambil filosofi catatan tangan ke ranah yang sering kali dianggap dingin dan transaksional: dunia bisnis. Dia membuat kasus yang meyakinkan bahwa dalam ekonomi perhatian, catatan tulisan tangan adalah alat diferensiasi dan pembangun hubungan yang sangat kuat.
Bab ini penuh dengan contoh praktis, misalnya: Setelah Wawancara atau Pertemuan: Sebuah ucapan terima kasih yang spesifik (mengingat satu detail pembicaraan) yang meninggalkan kesan abadi dibandingkan dengan email templat; Untuk Rekan Tim atau Karyawan: Mengapresiasi kontribusi spesifik, bukan hanya hasil. “Saya melihat usaha ekstra yang kamu lakukan untuk menjembatani kesenjangan antara tim desain dan engineering” jauh lebih bermakna daripada “kerja bagus”; Untuk Klien atau Mitra: Merayakan ulang tahun kerja sama, atau sekadar mengucapkan terima kasih atas kepercayaan mereka. Ini membangun loyalitas di tingkat manusia.
Pesan intinya adalah: Dalam bisnis, catatan tangan bukan tentang menjual; ini tentang menginvestasikan hubungan. Ini adalah cara untuk menyatakan, “Anda lebih dari sekadar angka dalam spreadsheet saya. Anda adalah mitra/kolega yang saya lihat dan hargai.” Ini mengubah dinamika dari transaksional menjadi relasional. Seperti prinsip dalam etika bisnis Islam, “Hormati janjimu, penuhilah amanahmu, dan berinteraksilah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.”Catatan bisnis adalah wujud modern dari akhlak (khuluq) yang baik dalam interaksi profesional.
Anak-Anak dan Seni Menulis Catatan
Pierce melihat pengenalan anak pada catatan tulisan tangan bukan sebagai tugas, tetapi sebagai pemberian hadiah seumur hidup: hadiah untuk berempati, bersyukur, dan terhubung dengan cara yang terasa ajaib. Bab ini adalah panduan untuk menjadikan praktik ini menyenangkan dan bermakna bagi generasi digital native.
Dia menyarankan:
- Mulai dengan Fun & Play: Stiker, krayon, stempel. Fokusnya pada ekspresi kegembiraan, bukan pada tata bahasa atau kerapian.
- Tuntun dengan Pertanyaan: “Apa hal favorit yang kita lakukan bersama nenek pekan lalu? Mari kita katakan terima kasih padanya untuk itu.”
- Buat Ritual Keluarga: Menulis catatan ucapan terima kasih bersama-sama setelah hari ulang tahun atau Natal.
- Menjadi Panutan: Biarkan anak-anak melihat Anda menulis catatan dan mengalami kegembiraan menerimanya.
Tujuannya adalah untuk menanamkan gagasan bahwa pikiran dan perasaan layak untuk diperlambat, diwujudkan, dan diberikan. Ini adalah pendidikan emosional dan sosial yang halus namun mendalam, mengajari anak-anak bahwa perhatian adalah bentuk cinta yang dapat mereka ciptakan dan berikan dengan tangan mereka sendiri.
Bagian yang juga menarik adalah perbincangan tentang Catatan untuk Orang Asing. Ini adalah bab yang paling berani dan mungkin paling transformatif. Pierce memperluas lingkaran belas kasih hingga mencakup orang-orang yang bahkan tidak kita kenal. Catatan untuk orang asing adalah praktik radikal kebaikan dan pengakuan terhadap kemanusiaan bersama.
Contoh-contohnya sederhana namun mendalam:
- Tinggalkan catatan dengan tip yang besar untuk pelayan: “Terima kasih atas senyummu yang menyegarkan di hari yang panjang.”
- Sembunyikan catatan penyemangat di buku perpustakaan atau di rak supermarket.
- Kirimkan catatan kepada petugas pemadam kebakaran lokal atau guru sekolah yang diakui atas pelayanan mereka.
Praktik ini memiliki efek ganda. Bagi si penerima, itu adalah kejutan yang membuktikan bahwa mereka terlihat dan dihargai, seringkali di saat yang paling tidak terduga. Bagi si penulis, ini adalah latihan dalam empati tanpa pamrih—mengirim gelombang kebaikan ke dalam dunia tanpa mengharapkan apapun sebagai balasannya, bahkan sebuah tanggapan. Ini mengingatkan pada konsep “sadaqah jariyah” (amal jariyah) dalam Islam, di mana manfaat suatu perbuatan baik terus mengalir. Sebuah catatan yang ditinggalkan untuk orang asing dapat menghibur, menginspirasi, atau mengubah hari seseorang, menciptakan ripple effect kebaikan yang asalnya mungkin tidak pernah kita ketahui. Bab ini menutup lingkaran buku dengan menunjukkan bahwa kekuatan catatan tangan bukan hanya untuk memperkaya hidup kita dan orang-orang yang kita cintai, tetapi secara aktif dapat mempermanis dunia yang lebih luas, satu catatan tak terduga pada satu waktu.
Catatan Akhir: Kembali Merawat Keintiman Sosial
“Kita begitu teralihkan,” keluh Pierce, —mengklik, menggulir, mengirim pesan, melompat dari satu layar ke layar berikutnya. Ini memisahkan kita dari dunia nyata, membuat kita merasa kesepian dan terputus. Nasihatnya adalah, isilah cangkirmu dan jalani hidup yang lebih penuh sukacita dengan meluangkan waktu untuk memikirkan apa yang membuat orang lain hebat, dan kemudian katakan pada mereka dalam sebuah catatan tulisan tangan.
Saat kamu menjalani harimu, perhatikan orang-orang yang berinteraksi denganmu dan apa yang kamu hargai dari mereka. Tantang dirimu untuk membiarkan ponselmu dan alih-alih memikirkan kasir toko swalayan saat kamu mengantri di sana, wanita yang bertanggung jawab atas penjemputan di penitipan anakmu, atau rekan kerja yang kamu kirimi email bolak-balik di tempat kerja. Tantang dirimu untuk memikirkan saudara kandungmu, sepupumu, keponakan laki-laki dan perempuanmu. Jangan lupa anak-anakmu sendiri dan pasanganmu—juga ibumu dan ayahmu serta sahabat-sahabat terbaikmu. Ada sejuta peluang di sekitarmu untuk benar-benar melihat dan mengakui orang-orang di duniamu. Tapi kamu harus berhenti mengklik dan berhenti mengirim pesan untuk benar-benar memperhatikan.
Ketika kamu tetap penasaran dengan orang-orang di sekitarmu, kehidupan semua orang membaik. Perhatikan cara seseorang merawat anak yang sedang mengalami masa sulit atau seorang asing yang membukakan pintu untuk seorang lansia. Kapan pun kamu berpikir, wow, itu baik, kamu telah menemukan bahan potensial untuk sebuah kartu.
Menulis catatan adalah pola pikir rasa syukur. Itu membuatmu tetap positif. Itu membuatmu tetap terhubung. Itu membuatmu tetap kreatif dan membuatmu tetap tajam. Itu adalah cara hidup yang menawarkan kelimpahan dan sukacita yang lebih besar. Mengapa tidak menjalani harimu dengan penuh sukacita, mengetahui bahwa kamu memiliki kekuatan untuk mengangkat orang lain? Tinggalkan sedikit catatan pada tip: Kamu adalah pelayan terbaik. Aku suka sweetermu. Pujian untuk koki. Itu sangat kecil, namun kamu mungkin telah membuat hari seseorang, bahkan seluruh minggu mereka. Orang itu mungkin membawa catatan itu pulang untuk ditempelkan di kulkas mereka selamanya. Itu akan membuatmu merasa hebat. Dan membuat mereka merasa hebat. Inilah pola pikir kelimpahan dan sukacita.
Menulis catatan mengubah seluruh sikapmu. Dale Carnegie mengatakan kepada kita untuk tersenyum ketika kamu “bersama orang lain.” Sekarang, ketika kamu sendirian, luangkan waktu untuk fokus pada orang lain dan tulis catatan. Ketika kamu melakukan ini, kamu memperhati-kan apa yang penting bagi orang lain. Pada apa yang benar-benar penting bagi mereka. Kamu memperlambat duniamu. Ketika kamu mengirim catatan itu, kamu telah mengirimkan senyuman itu ke dunia yang lebih luas.
Dalam arti itu, buku ini bukan tentang menulis catatan. Ini tentang cara berada di dunia. Ini tentang bagaimana jiwamu terhubung dengan jiwa lain. Ini tentang memperdalam koneksi. Ini tentang memperdalam hubungan. Ini tentang mendekatkan hatimu pada hati orang lain. Ini tentang saling mengangkat dan memberikan bantuan dengan cara yang tulus. Ini tentang mengembangkan kebiasaan melalui penulisan catatan untuk terhubung dengan dunia. Melalui menulis catatan, kamu telah belajar bagaimana berada di dunia.
Sekarang, ketika kamu meletakkan pena dan kertasmu dan pergi ke dunia, semangat kelimpah-an, sukacita, dan koneksi itu terbawa ke dalam segala hal yang kamu lakukan. Seperti biasa, Dale Carnegie mengatakannya dengan paling baik ketika dia mengatakan bahwa kekuatan apresiasi adalah salah satu alat kita yang paling berharga, dan bahwa salah satu kebiasaan terpenting dalam hidup adalah ketika kamu mengalami rasa syukur yang sejati, kamu harus mengungkapkannya.
“Buku ini, bagiku, adalah catatan terpanjang yang pernah kutulis,” kata Pierce. “Aku, untukmu. Aku bersyukur untukmu. Aku menghargai bahwa kamu membaca buku ini sampai akhir. Aku menghargai rasa ingin tahu dan kelaparanmu akan pertumbuhan diri. Tahukah kamu bahwa rasa ingin tahu, kelaparan dan pemikiran untuk orang lain juga kebetulan merupakan sifat-sifat teratas yang terlihat pada pemimpin hebat? Membaca buku ini menunjukkan potensi yang kamu miliki untuk melakukan hal-hal besar. Menginternalisasi prinsip-prinsip ini akan menjadikanmu manusia dan pemimpin yang hebat. Aku melihat dalam dirimu keinginan untuk terhubung dengan dunia dan aku melihat dalam dirimu sukacita besar yang mungkin ada dalam hidupmu. Aku tahu kamu bisa melakukan ini. Aku tahu kamu bisa melakukannya. Aku tahu bahwa di hadapanmu terbentang kehidupan yang lebih kaya, lebih terhubung.”
“Tidakkah dunia membutuhkan lebih banyak catatan saat ini?” tutup Carrie Pierce mengakhiri buku kerennya.
Pierce berargumen bahwa menulis dengan tangan adalah sebuah “aksi mikro yang kuat” (small, powerful act). Proses ini melibatkan kesadaran sensorik (merasakan kertas, mendengar suara pena), pemikiran yang disengaja, dan kehadiran penuh untuk orang lain. Ini adalah sebuah keintiman sosial. Buku ini menguraikan bagaimana tindakan ini dapat memperkaya kehidupan pribadi. Meningkatkan rasa syukur, mengklarifikasi pikiran, dan menjadi meditasi dalam gerakan. Ia juga memper-dalam hubungan. Membangun dan memperkuat ikatan melalui sentuhan personal yang tidak dapat disamai oleh pesan teks atau email. Tulisan tangan juga mampu melawan budaya digital yang impersonal. Menawarkan perlawanan lembut terhadap budaya komunikasi yang serba instan dan seringkali dangkal.
Buku ini memadukan riset neurosains ringan (tentang manfaat kognitif dan psikologis dari menulis tangan), anekdot personal yang hangat, dan panduan yang sangat praktis—dari memilih alat tulis hingga merangkai kata-kata tulus untuk berbagai kesempatan. Diterbitkan oleh Hiccup Press, sebuah penerbit independen yang dikenal karena buku-buku bertema kreativitas, kehidupan sederhana, dan kesejahteraan, buku ini sangat sesuai dengan audiens yang mencari kedalaman di balik kesederhanaan.
Melalui bukunya, Carrie Pierce telah menjadi suara terkemuka dalam gerakan “slow communication” dan kesadaran analog. Dia aktif memimpin lokakarya dan kelas baik langsung maupun daring, di mana dia mengajarkan orang untuk menemukan kembali kegembiraan dan makna di balik menulis catatan. Dia juga sering menjadi pembicara di acara-acara literasi, festival kesejahteraan (wellness), dan pertemuan komunitas, mendorong orang untuk menjadikan tulisan tangan sebagai ritual sehari-hari. Kehadirannya di media sosial dan platformnya sendiri sering kali menampilkan inspirasi visual (estetika kertas, prangko, tulisan tangan) yang memperkuat pesan bukunya.
Filosofi Carrie Pierce berpusat pada keyakinan bahwa kehidupan yang kaya dibangun dari momen-momen kecil yang disengaja. Dalam dunia yang terobsesi dengan produktivitas dan skala, dia mengadvokasi kekuatan dari tindakan yang lambat, personal, dan tidak terukur. Dia melihat secarik kertas dan tinta bukan sebagai artefak kuno, tetapi sebagai alat revolusioner untuk koneksi manusia, refleksi, dan kebaikan yang disengaja.
Buku ini telah menjadi warisan penting: Menghidupkan kembali dan memberikan kerangka filosofis modern untuk praktik menulis catatan tulisan tangan, mengubahnya dari kebiasaan lama menjadi alat yang relevan dan kuat untuk kesejahteraan mental dan hubungan sosial di abad ke-21.
Bogor, 2 Januari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi:
Pierce, C. (2022). Handwritten notes: Learn how a small, powerful act can enrich your life. Hiccup Press.






