Rubarubu #194
Watering the revolution:
Dari Revolusi ke Pasar
Pada 1950-an, di jantung wilayah semi-gersang Meksiko utara, para insinyur dan buruh tani mengerahkan tenaga mereka untuk sebuah proyek ambisius: membendung sungai Nazas yang berubah-ubah dan menyalurkannya melalui kanal-kanal besar untuk mengairi lahan pertanian baru. Ini adalah Presa Lázaro Cárdenas, simbol dari janji modernisasi pasca-Revolusi Meksiko. Namun, di balik narasi kemajuan ini, tersembunyi konflik yang lebih dalam: petani lokal yang pengetahuan hidrologi tradisionalnya diabaikan, ekosistem sungai yang terganggu, dan perebutan kendali atas air sebagai sumber kehidupan dan kekuasaan.
Kisah Sungai Nazas dan Presa Lázaro Cárdenas inilah yang menjadi titik tolak Mikael D. Wolfe dalam Watering the Revolution, sebuah karya yang membongkar mitos bahwa reformasi agraria Meksiko semata-mata tentang pembagian tanah. Wolfe menunjukkan bahwa justru air—dan teknologi untuk mengelolanya—menjadi medan pertarungan sesungguhnya di mana cita-cita revolusi, logika teknokratis, realitas lingkungan, dan aspirasi rakyat saling bertabrakan.
Buku ini bukan sekadar sejarah agraria atau sejarah teknologi, melainkan sintesis brilian antara sejarah lingkungan, sejarah sains-teknologi, dan sejarah politik. Wolfe menelusuri periode dari akhir Revolusi Meksiko (1910-1920) hingga era “miracle” ekonomi pertengahan abad ke-20, dengan fokus pada wilayah La Laguna, jantung kapas Meksiko.
Tesis utamanya adalah: “Revolusi Meksiko, khususnya reformasi agrarinya, tidak dapat dipahami tanpa memper-timbangkan hubungan simbiosis antara transformasi politik, perubahan lingkungan, dan inovasi teknologi dalam manajemen air” (Wolfe, 2017, p. 3). Proyek revolusi untuk menciptakan “petani borjuis” yang mandiri ternyata bergantung pada sistem irigasi teknis berskala besar yang justru memusatkan kekuasaan pada negara dan para insinyur.
Beyond the “Hydraulic Trap”
Dalam Pengantar yang provokatif, Wolfe membingkai analisisnya dengan menantang narasi dominan. Ia mengkritik konsep “perangkap hidrolik” (hydraulic trap)—gagasan bahwa masyarakat terpaku pada sistem irigasi kompleks yang akhirnya menjerat mereka. Bagi Wolfe, ini terlalu deterministik. Sebaliknya, ia memperkenalkan konsep “rezim sosio-hidrolik” (socio-hydrological regime), yaitu tatanan yang terbentuk dari interaksi dinamis antara ideologi politik, institusi, pengetahuan teknis, infrastruktur fisik, dan siklus air alamiah. Wolfe berargumen bahwa di Meksiko pasca-revolusi, terjadi transisi dari “rezim sosio-hidrolik oligarkis” yang didasarkan pada haciendadan pengetahuan lokal, menuju “rezim sosio-hidrolik revolusioner-statist” yang digerakkan oleh negara dan ilmu hidrologi modern (Wolfe, 2017, pp. 15-22).
Namun, transisi ini penuh dengan negosiasi, resistensi, dan konsekuensi tak terduga. Pengantar ini dengan cerdas merangkai benang merah antara politik air di Meksiko dengan debat global tentang modernisasi, sebagaimana dicetuskan oleh James C. Scott dalam Seeing Like a State, tentang bagaimana negara menyederhanakan realitas kompleks untuk mengontrolnya, seringkali dengan mengorbankan pengetahuan lokal (metis).
Wolfe kemudian membangun argumennya melalui narasi yang kaya. Ia menggambarkan bagaimana para insinyur hidrolik—seperti para “mullah teknis” baru—menjadi aktor kunci. Mereka memandang sungai sebagai “masalah teknis” yang harus diatur melalui bendungan dan kanal, mengabaikan pengetahuan ekologis petani tentang pola banjir Nazas yang sebenarnya merupakan bagian dari kesuburan lahan.
Seorang insinyur bahkan menyebut sungai itu sebagai “musuh bersama yang harus diperangi” (Wolfe, 2017, p. 87), mencerminkan mentalitas antroposentris yang agresif. Di sisi lain, para petani penerima tanah (ejidatarios) bukanlah penerima pasif. Mereka menggunakan bahasa hak revolusioner dan kadang mengadopsi teknologi pompa untuk mengakses air tanah, menciptakan “revolusi tabung” yang di luar kendali negara.
Konflik ini mengingatkan pada tulisan intelektual Muslim Ziauddin Sardar yang mengkritik modernitas Barat karena sering “merampas masa depan” dengan menghancurkan sistem pengetahuan lokal dan hubungan tradisional dengan alam. Sardar (dalam Islamic Science: The Way Ahead) menekankan perlunya “ekologi pengetahuan” yang menghargai berbagai cara mengetahui.
Puncak dari buku ini adalah analisis tentang paradoks keberlanjutan. Sistem irigasi besar-besaran justru mendorong monoculture kapas yang rakus air, menyebabkan penurunan muka air tanah, salinisasi, dan kerentanan ekologis jangka panjang. Cita-cita revolusi untuk keadilan sosial terjerat dalam logika produksi untuk pasar global. Wolfe mengutip seorang pemimpin petani yang menyatakan, “Tanah tanpa air adalah ilusi” (Wolfe, 2017, p. 145), sebuah per-nyataan yang menohok inti kegagalan reformasi agraria yang terobsesi pada kepemilikan tanah namun buta terhadap metabolisme air-tanah. Penyair Meksiko Octavio Paz dalam The Labyrinth of Solitude mungkin merasakan paradoks ini ketika menulis tentang revolusi yang sering “terkunci dalam cermin dirinya sendiri,” terperangkap dalam citra yang diciptakannya.
Relevansi Saat Ini dan Masa Depan
Gagasan Wolfe sangat relevan di era krisis iklim dan kelangkaan air global saat ini. Buku ini berfungsi sebagai peringatan sejarah terhadap solusi teknokratis yang mengabaikan konteks sosio-ekologis. Proyek bendungan dan irigasi raksasa di berbagai belahan dunia masih sering mengulangi “sindrom La Laguna”: sentralisasi kontrol, marginalisasi komunitas lokal, dan degradasi lingkungan. Sebaliknya, Wolfe mengisyaratkan perlunya governance air yang lebih demokratis dan adaptif, yang mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan kearifan ekologi lokal. Ini sejalan dengan gerakan “hidrologi pasca-normal” (post-normal hydrology) yang mengakui ketidakpastian ilmiah dan melibatkan pemangku kepentingan yang lebih luas dalam pengambilan keputusan.
Prospek masa depan yang ditawarkan buku ini adalah perlunya redefinisi “rezim sosio-hidrolik” baru yang berkelanjutan dan berkeadilan. Di dunia Muslim, misalnya, konsep “Hima” (kawasan lindung) dan “Harf al-Ma'” (etika pengelolaan air dalam fikih Islam) menawarkan prinsip pengelolaan sumber daya bersama (commons) yang dapat menjadi kontribusi penting bagi diskusi global ini.
Buku Wolfe mengajarkan bahwa setiap tetes air membawa sejarah politik, setiap infrastruktur adalah bentukan ideologi, dan masa depan ketahanan air terletak pada kemampuan kita untuk belajar dari kegagalan dan negosiasi masa lalu, bukan sekadar pada inovasi teknis yang lebih hebat.
El Agua de la Revolución – Mimpi, Benda, dan Perebutan
Bagian pertama buku Mikael D. Wolfe ini berfungsi sebagai fondasi dramatis yang menunjukkan bagaimana air berubah dari sekadar sumber daya alam menjadi “El Agua de la Revolución”—sebuah konsep politik yang sarat janji, konflik, dan makna simbolis. Melalui tiga bab yang saling bertaut, Wolfe melukiskan evolusi air dari “sungai kebebasan” menjadi obyek rekayasa teknokratis, dan akhirnya menjadi medan perebutan kekuasaan yang justru mengubah wajah revolusi itu sendiri.
Narasi dimulai dengan “River of Revolution“, di mana Wolfe menelusuri asal-usul ideologis dari hubungan erat antara air dan cita-cita revolusi. Sungai Nazas, dengan banjir musimannya yang tak terduga, pada era pra-revolusi dikendalikan oleh oligarki pemilik hacienda untuk perkebun-an kapas mereka. Revolusi 1910 kemudian merebut dan meromantisasi sungai ini sebagai “milik rakyat”. Wolfe menunjukkan bahwa para pemimpin revolusioner, terutama Presiden Lázaro Cárdenas (1934-1940), melihat penguasaan negara atas air sebagai prasyarat moral dan teknis untuk reformasi agraria yang sejati. Air bukan lagi hak istimewa tuan tanah, melainkan “darah kehidupan bagi tanah-tanah yang akan dibagikan” (Wolfe, 2017, p. 45).
Dalam imajinasi politik ini, membendung dan mendistribusikan air Nazas adalah tindakan menuntaskan janji revolusi. Visi ini mengingatkan pada semangat pembaruan yang digambar-kan oleh penyair dan intelektual Muslim Muhammad Iqbal, yang dalam Asrar-i-Khudi me-nyerukan pembebasan energi kreatif yang terpendam—di sini, energi itu dimetaforakan sebagai air yang harus dibebaskan dari belenggu lama untuk mengairi ladang keadilan sosial yang baru.
Namun, mimpi kolektif ini segera berbenturan dengan realitas teknis dan perdebatan yang sengit, yang diurai Wolfe dalam bab “The Debate over Damming and Pumping“. Di sini, air berubah dari simbol menjadi obyek sains dan teknokrasi. Para insinyur hidrolik—dilatih dalam tradisi teknik Eropa dan Amerika—muncul sebagai arsitek utama masa depan. Bagi mereka, Sungai Nazas yang tidak teratur adalah “masalah” yang membutuhkan “solusi” definitif: sebuah bendungan besar (Presa Lázaro Cárdenas). Perdebatan teknis antara pilihan membendung air permukaan (damming) versus memompa air tanah (pumping) mencerminkan lebih dari sekadar perbedaan engineering; itu adalah perdebatan tentang visi pembangunan.
Pendukung bendungan mewakili negara yang terpusat dan visioner, sementara pompa, yang kemudian diadopsi secara liar oleh petani, mewakili inisiatif lokal dan otonomi yang sulit dikendalikan negara. Wolfe dengan tajam mencatat bahwa dalam debat ini, pengetahuan ekologi lokal petani tentang siklus banjir alami sungai sama sekali diabaikan dan dianggap tidak ilmiah (Wolfe, 2017, p. 78). Logika negara yang ingin “melihat seperti negara” (sebagaimana dikonsep James C. Scott) membutuhkan keseragaman dan kendali, yang hanya bisa diberikan oleh bendungan megah, bukan oleh ribuan pompa tersebar.
Kemenangan logika bendungan megah membawa kita ke klimaks paradoks dalam bab “Distributing El Agua de la Revolución“. Di sini, Wolfe mengungkap ironi terdalam: proses mendistribusikan “air revolusi” justru menciptakan hierarki dan ketidakadilan baru. Ketika air yang kini terkendali mulai dialirkan melalui kanal besar, prioritas dan jatah harus ditetapkan. Wolfe menunjukkan bagaimana proses teknis alokasi air—dengan peta, kuota, dan model matematis—menjadi alat politik yang ampuh.
Petani yang memiliki akses ke insinyur atau yang tanahnya terletak di “posisi strategis” dalam jaringan irigasi, mendapatkan keuntungan lebih besar. “Air revolusi” yang dimaksudkan untuk menyatukan dan mempersamakan rakyat, pada praktiknya justru dipolitisasi dan diprivatisasi dalam bentuk baru. Seorang pemimpin petani menyatakan dengan getir, “Mereka memberi kita tanah tanpa air… itu seperti memberi kita tubuh tanpa jiwa” (Wolfe, 2017, p. 132). Distribusi teknis air ternyata tidak netral; ia merupakan kelanjutan dari perebutan kekuasaan dengan alat yang berbeda.
Filsuf Perancis Michel Foucault mungkin akan melihat ini sebagai contoh sempurna dari bagaimana “rezim kebenaran” teknis (ilmu hidrologi negara) digunakan untuk melaksanakan “biopower”, yakni mengatur kehidupan populasi dengan mengontrol sumber kehidupannya yang paling dasar.
Dengan demikian, sintesis Bagian I ini adalah sebuah kisah tentang transmogrifikasi: Air berubah dari Simbol Pembebasan (Bab 1) menjadi Obyek Kontrol Teknokratis (Bab 2), dan akhirnya berakhir sebagai Sumber Konflik dan Ketimpangan Baru (Bab 3). Wolfe membuktikan bahwa “El Agua de la Revolución” adalah sebuah cermin yang memantulkan semua ambivalensi revolusi Meksiko sendiri—cita-cita luhurnya, keangkuhan teknokratisnya, dan kegagalannya yang pahit untuk menciptakan kesetaraan sesungguhnya. Fondasi yang dibangun di La Laguna ini bukan fondasi masyarakat agraria yang mandiri, melainkan fondasi bagi negara pembangun (developmental state) yang justru bergantung pada kontrol terpusat dan eksploitasi ekologi intensif.
The Second Agrarian Reform – Puncak, Resistansi, dan Runtuhnya Sebuah Rezim
Jika Bagian I menggambarkan perencanaan dan peluncuran “rezim sosio-hidrolik revolusioner”, maka Bagian II karya Mikael D. Wolfe ini menceritakan tahap pelaksanaan dan konsekuensi-nya—sebuah narasi yang bergerak dari pembangunan heroik menuju degradasi ekologi, resistansi lokal, dan akhirnya upaya rekonstruksi yang penuh paradoks. Bagian ini mengungkap “Reforma Agraria Kedua” yang sebenarnya bukan tentang redistribusi tanah baru, melainkan tentang transformasi radikal hubungan manusia, teknologi, dan alam yang dipaksakan oleh infrastruktur air.
Narasi dimulai dengan bab “Life and Work on the Revolutionary Dam Site and Ejidos“, yang membawa kita ke jantung “momento Cardenista” yang epik. Wolfe tidak hanya mencatat konstruksi bendungan sebagai proyek teknik, tetapi sebagai teater politik dan ruang sosial baru. Presa Lázaro Cárdenas adalah sebuah panggung di mana negara revolusioner mempertunjuk-kan kekuatan dan visinya. Ribuan buruh—dari mantan pejuang revolusi hingga petani tanpa tanah—bekerja di lokasi dengan semangat yang seringkali digambarkan sebagai “heroik”.
Namun, Wolfe membedah di balik narasi resmi ini. Ia menunjukkan bagaimana pembangunan bendungan juga menciptakan hierarki baru: insinyur sebagai “imam teknis”, mandor sebagai perantara, dan buruh kasar sebagai “tentara air revolusi”. Di sisi lain, di ejidos (tanah kolektif reformasi agraria) yang mulai menerima irigasi, kehidupan juga berubah drastis. Petani yang sebelumnya mengenal siklus banjir alami Nazas, kini harus tunduk pada jadwal irigasi yang kaku dan budaya pertanian kapas monokultur yang intensif.
Wolfe menyimpulkan bahwa bendungan dan jaringan irigasi tidak hanya mengairi tanah, tetapi juga “mengairi” logika produktivitas negara ke dalam pikiran dan tubuh para petani (Wolfe, 2017, p. 150). Proses ini mengingatkan pada analisis Antonio Gramsci tentang hegemoni, di mana kekuasaan tidak hanya dipaksakan melalui paksaan, tetapi juga diinternalisasi melalui institusi dan praktik sehari-hari.
Namun, hegemoni tidak pernah total. Bab “(Counter)Revolutionary Dam, Pumps, and Pesticides” mengungkap bagaimana “Reforma Kedua” ini menuai hasil yang ironis dan malah memicu kontra-revolusi dari bawah. Bendungan yang dirancang untuk mengkonsolidasikan kontrol negara justru menjadi titik awal fragmentasi. Pertama, muncul “revolusi tabung”: petani yang merasa jatah air permukaan dari kanal tidak mencukupi atau tidak adil, beralih secara masif ke pompa tabung untuk mengeksploitasi air tanah.
Teknologi yang seharusnya melengkapi, justru menjadi alat untuk melarikan diri dari kendali negara. Kedua, pertanian kapas monokultur yang didorong oleh irigasi stabil menghadapi serangan hama baru, yang mengakibatkan “revolusi pestisida”.
Petani terjebak dalam siklus ketergantungan pada bahan kimia yang justru memperburuk kesehatan tanah dan manusia. Wolfe dengan cermat menunjukkan bagaimana “kontra-revolusi” ini bukanlah gerakan politik terbuka, melainkan “kontra-revolusi molekular”—ribuan keputusan individu di tingkat lokal yang secara kolektif menggerogoti desain besar negara. Ini adalah bentuk “seni bertahan” (the art of not being governed) sebagaimana dijelaskan James C. Scott, yang diwujudkan melalui teknologi pompa dan kaleng pestisida.
Pemikir lingkungan Muslim seperti Seyyed Hossein Nasr mungkin melihat eksploitasi air tanah dan ketergantungan pada pestisida sebagai manifestasi dari “desakralisasi Alam” dalam dunia modern, di mana alam dipandang hanya sebagai sumber daya pasif untuk dieksploitasi, bukan sebagai entitas yang hidup dengan haknya sendiri.
Konsekuensi dari semua ini adalah krisis yang tak terhindarkan, yang diulas dalam bab penutup bagian ini, “Rehabilitating El Agua de la Revolución”. Pada 1950-an dan 1960-an, La Laguna menghadapi akibatnya: penurunan muka air tanah yang dramatis, salinisasi, dan krisis produktivitas. “Revolusi Hijau” yang datang dengan paket teknologi baru (bibit unggul, lebih banyak pupuk dan pestisida) hanya memperburuk tekanan ekologis.
Negara kemudian meluncurkan berbagai proyek “rehabilitasi”—mulai dari sumur injeksi untuk mengisi ulang air tanah hingga program konservasi. Namun, bagi Wolfe, upaya rehabilitasi ini adalah upaya untuk menyelamatkan rezim sosio-hidrolik yang secara fundamental cacat, bukannya mengubah paradigmanya. Rehabilitasi adalah tindakan teknokratis lebih lanjut yang justru semakin memusatkan kendali dan memperdalam ketergantungan pada pakar.
Seorang insinyur yang frustrasi dalam arsip Wolfe bahkan menyatakan, “Kami sedang mencoba memperbaiki mesin yang rancangannya salah dari awal” (Wolfe, 2017, p. 215). Upaya ini mencerminkan paradoks modernitas yang dikemukakan oleh sosiolog Ulrich Beck tentang “masyarakat risiko”, di mana solusi teknokratis untuk masalah yang diciptakan oleh modernisasi justru menghasilkan risiko-risiko baru yang lebih kompleks dan tak terkelola.
Dengan demikian, sintesis Bagian II ini adalah kisah tentang siklus kegagalan sebuah rezim sosio-hidrolik. Dimulai dari Pembangunan Heroik dan Disiplin Baru (Bab 4), yang kemudian melahirkan Resistansi Molekuler dan Degradasi Ekologis (Bab 5), dan berakhir pada Krisis dan Upaya Rehabilitasi yang Sia-sia (Bab 6). Wolfe menunjukkan bahwa “Reforma Agraria Kedua” pada akhirnya adalah reformasi yang menghasilkan landskap terdegradasi dan masyarakat yang semakin terkotak-kotak oleh teknologi.
Mimpi tentang air revolusi telah menguap, menyisakan tanah yang asin, air tanah yang surut, dan warisan ketidaksetaraan yang tertanam jauh lebih dalam daripada sekadar kepemilikan tanah. Bagian ini adalah sebuah peringatan monumental: ketika negara mencoba memaksa alam dan masyarakat masuk ke dalam cetakan teknokratisnya, yang tumbuh bukanlah kebebasan dan kemakmuran, melainkan kerapuhan dan konflik yang baru.
Perjalanan air dalam Revolusi Meksiko adalah perjalanan dari simbol harapan menjadi alat penindas baru. Cita-cita reforma agraria yang ingin membebaskan petani melalui pembagian tanah dan irigasi, justru terperangkap dalam logika teknokratis yang memusatkan kekuasaan pada negara. Petani La Laguna, yang awalnya dijanjikan kemandirian, menemukan diri mereka terbelenggu oleh jadwal irigasi yang kaku, monokultur kapas, dan hutang untuk pompa serta pestisida. Air revolusi, yang seharusnya menjadi darah kehidupan bagi tanah mereka, berubah menjadi sumber konflik dan degradasi ekologi.
“Pengetahuan hidrologis para petani… dianggap tidak ilmiah dan karenanya tidak valid dalam rezim pengetahuan negara yang baru.” (p. 94)
Namun, di tengah semua itu, jiwa perlawanan tak pernah padam. Para pejuang agraria seperti Emiliano Zapata, dengan seruan abadinya “¡Tierra y Libertad!” (Tanah dan Kebebasan!), me-ngingatkan bahwa inti perjuangan adalah kedaulatan atas sumber kehidupan. Perjuangan ini bukan hanya untuk kepemilikan, tetapi untuk martabat. Penyair revolusioner Octavio Paz menangkap semangat sekaligus ironi perjuangan ini dalam puisinya, “Mereka telah memberi kami tanah yang tandus… tetapi kami membawa air dalam mimpi kami.” Kutipan ini menyentuh inti tragedi La Laguna: negara memberi tanah tanpa menghidupinya dengan air yang berkeadil-an, sementara mimpi akan keadilan itu sendiri tetap mengalir seperti air bawah tanah dalam sanubari petani.
Ketika rezim revolusioner berganti menjadi neoliberal, kontrol negara atas air beralih ke tangan pasar. Keterasingan petani dari sumber kehidupannya menjadi semakin sempurna. Warisan dari seluruh perjalanan ini adalah pelajaran pahit: tanpa keadilan ekologis dan pengakuan atas pengetahuan lokal, tidak akan ada keadilan agraria yang sejati. Perjuangan untuk air di Meksiko, sebagaimana diingatkan oleh nyanyian perjuangan dari gerakan Zapatista era modern, tetap berlangsung: “Para tuan ingin menjadikan sungai sebagai properti mereka. Tetapi sungai tidak memiliki tuan.
Sungai adalah jalan raya komunitas, darah dari tanah kita.” Inilah esensi dari sintesis Wolfe: air bukanlah komoditas atau alat kontrol, melainkan kehidupan kolektif itu sendiri yang harus diperjuangkan kemerdekaannya. “Revolusi Meksiko… adalah sebuah proyek hidro-sosial yang bertujuan tidak hanya untuk mendistribusikan kembali tanah tetapi juga untuk mengatur ulang hubungan antara masyarakat, negara, dan alam melalui air.” (p. 5)
Catatan Akhir: Dari Revolusi ke Pasar
Dalam Epilog yang menusuk, Mikael D. Wolfe tidak sekadar menyimpulkan kisah La Laguna; ia melontarkan narasinya ke dalam realitas Meksiko kontemporer yang pahit, menunjukkan bagaimana warisan rezim sosio-hidrolik revolusioner bermetamorfosis menjadi pilar fondasional bagi neoliberalisme. Epilog ini adalah tentang kesinambungan di balik perubahan—bagaimana logika kontrol dan eksploitasi yang tertanam di era “revolusi” justru menemukan ekspresi barunya yang lebih ekstrem di bawah rezim pasar.
Wolfe membuka dengan gambaran yang suram: wilayah La Laguna di akhir abad ke-20, yang mengalami “krisis hidro-sosial” kronis. Sungai Nazas yang perkasa kini sering kali kering sebelum mencapai ladang, air tanah telah turun puluhan meter akibat eksploitasi berlebihan, dan tanah pertanian terancam salinisasi.
Namun, krisis ekologis ini bukanlah akhir dari kisah. Justru, ia menjadi katalis bagi transformasi politik-ekonomi yang lebih dalam. Ketika negara revolusioner-statist mengakui kegagalannya dalam mengelola air secara berkelanjutan, jalan pun terbuka bagi solusi baru yang sejalan dengan arus global neoliberal.
Epilog dengan cermat melacak bagaimana warisan infrastruktur dan mentalitas dari era revolusi memfasilitasi transisi menuju neoliberalisme. Pertama, infrastruktur fisik—bendungan, kanal, jaringan listrik untuk pompa—yang dibangun dengan retorika revolusi, telah menciptakan lanskap yang sepenuhnya bergantung pada input eksternal dan kontrol terpusat. Infrastruktur ini, sebagaimana diungkap Wolfe, “telah mengunci La Laguna ke dalam jalan pembangunan tertentu” (Wolfe, 2017, p. 225), sebuah jalan yang dengan mudah dialihkan dari tujuan keadilan sosial menuju efisiensi pasar.
Kedua, dan yang lebih penting, adalah warisan mentalitas: pandangan teknokratis yang melihat air sebagai “sumber daya” yang harus dikelola secara efisien, dan alam sebagai hambatan yang harus ditaklukkan. Pandangan ini, yang dulunya dibawa oleh insinyur negara revolusioner, kini diadopsi dengan sempurna oleh para ekonom dan perencana neoliberal.
Di sinilah terletak inti analisis Wolfe yang brilian: Revolusi Meksiko, melalui proyek hidroliknya, secara tidak sengaja telah “mempersiapkan lahan” bagi neoliberalisme. Ketika negara menarik diri dari peran penyedia dan regulator langsung di era 1980-an dan 1990-an—dengan mencabut amendemen konstitusional yang menjamin tanah sebagai hak sosial, dan mendorong privatisasi ejidos—ia tidak menghapus kerangka kontrol lama. Sebaliknya, negara melimpahkan kontrol tersebut kepada logika pasar. Air menjadi semakin dikomodifikasi.
Pompa air tanah, yang dulu merupakan alat “kontra-revolusi molekuler” petani melawan negara, kini menjadi instrumen individu untuk bersaing di pasar pertanian global, yang justru mempercepat tragedi bersama (tragedy of the commons) atas akuifer. Wolfe menyimpulkan bahwa “kelangkaan air yang diciptakan oleh rezim revolusioner menjadi alasan utama untuk liberalisasi dan privatisasi berikutnya” (Wolfe, 2017, p. 231). Ini adalah siklus yang kejam: negara menciptakan krisis melalui kontrol terpusat, lalu menggunakan krisis itu sebagai pembenaran untuk menarik diri dan menyerahkan segalanya kepada pasar.
Epilog ini mengakhiri buku bukan dengan solusi, tetapi dengan sebuah pertanyaan filosofis dan politik yang mendesak. Warisan penyalahgunaan air di Meksiko adalah warisan dari cara pandang instrumental terhadap alam yang dimulai oleh modernitas revolusioner dan disempur-nakan oleh neoliberalisme. Pemikir sosialis Inggris William Morris pernah mem-peringatkan tentang konsekuensi dari perlakuan semacam ini: “Umat manusia telah menguasai alam sebelum ia belajar menguasai dirinya sendiri—dan hal itu berarti malapetaka.”
Peringatan itu terwujud di La Laguna. Sementara itu, dari tradisi intelektual Muslim, konsep Khalifah (stewardship) dalam Islam, seperti diuraikan oleh sarjana seperti Fazlun M. Khalid, menawarkan kontras tajam. Konsep itu menekankan tanggung jawab manusia sebagai pengelola alam yang penuh amanah, bukannya sebagai penguasa atau pemilik yang bebas mengeksploitasi. Kegagalan rezim air Meksiko, baik yang revolusioner maupun neoliberal, adalah kegagalan untuk memahami stewardship ini.
Dengan demikian, Epilog Wolfe berfungsi sebagai jembatan yang tragis antara masa lalu dan masa kini. Ia menunjukkan bahwa pertarungan atas air di Meksiko abad ke-21 bukanlah pertarungan baru, melainkan babak terbaru dari pertarungan panjang untuk mendefinisikan hubungan antara masyarakat, negara, dan alam. Kemenangan pasar saat ini bukanlah antitesis dari negara revolusioner, melainkan keturunannya yang terdegenerasi. Masa depan air Meksiko, sebagaimana disiratkan Wolfe, bergantung pada kemampuannya untuk memutus siklus warisan ini dan menemukan rezim sosio-hidrolik baru yang benar-benar berkelanjutan dan demokratis—sebuah tugas yang tampaknya lebih sulit daripada membangun bendungan sekalipun.
Bandung, 25 Juni 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Beck, U. (1992). Risk society: Towards a new modernity. SAGE Publications.
Foucault, M. (1978). The history of sexuality, Vol. 1: An introduction (R. Hurley, Trans.). Pantheon Books.
Gramsci, A. (1971). Selections from the prison notebooks (Q. Hoare & G. Nowell-Smith, Trans.). International Publishers.
Iqbal, M. (1915). Asrār-i khudī [The secrets of the self]. Kapur Art Printing Works.
Khalid, F. M. (2002). Islam and the environment. In Encyclopedia of global environmental change, Vol. 5: Social and economic dimensions of global environmental change (pp. 332–339). Wiley.
Morris, W. (1884). Useful work versus useless toil. (Pamflet).
Nasr, S. H. (1996). Religion and the order of nature. Oxford University Press.
Paz, O. (1961). The labyrinth of solitude: Life and thought in Mexico (L. Kemp, Trans.). Grove Press.
Paz, O. (1975). Vuelta. Seix Barral.
Sardar, Z. (1989). Islamic science: The way ahead. In M. H. I. Hussain & S. A. Ashraf (Eds.), Crisis in Muslim education (pp. 50–65). Hodder and Stoughton.
Scott, J. C. (1998). Seeing like a state: How certain schemes to improve the human condition have failed. Yale University Press.
Scott, J. C. (2009). The art of not being governed: An anarchist history of upland Southeast Asia. Yale University Press.
Wolfe, M. D. (2017). Watering the revolution: An environmental and technological history of agrarian reform in Mexico. Duke University Press.
Wolfe, M. D. (2017). The socio-hydrological contract: Water, power, and the state in revolutionary Mexico. Journal of Historical Sociology, *30*(1), 5–22. https://doi.org/10.1111/johs.12135
Zapatista Army of National Liberation. (1994). ¡El río no tiene patrón! [Nyanyian perjuangan].
Zapata, E. (1910s). ¡Tierra y Libertad! [Slogan revolusioner].
Catatan:
- Untuk Morris, W. (1884), karena ini adalah pamflet dan tidak memiliki penerbit yang jelas, formatnya disesuaikan dengan petunjuk APA untuk karya non-konvensional.
- Slogan Zapata, E. (1910s) dan lagu Zapatista Army of National Liberation (1994) dimasukkan sebagai entri terpisah karena keduanya merupakan artefak budaya yang dikutip, meskipun bukan merupakan “karya ilmiah” formal. Cara demikian diperbolehkan selama sumbernya diidentifikasi dengan jelas.






