Rubarubu #226
The Next Decade:
Cermin bagi Pemimpin Dunia
Ini sebuah percakapan sunyi dari sebuah Kafe Wina. Ada sebuah kisah yang mungkin tidak akan pernah tercatat dalam sejarah resmi, namun sempurna untuk memulai perjalanan membaca buku George Friedman, The Next Decade: Where We’ve Been… and Where We’re Going. Di sebuah kafe tua di Wina, Austria, sekitar tahun 1948, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun duduk di samping orang tuanya. Mereka adalah pengungsi Yahudi dari Hongaria yang baru saja melarikan diri dari rezim komunis yang mengambil alih tanah air mereka. Keluarga itu menghabiskan tahun-tahun pertama kehidupan anak itu di kamp pengungsian, tanpa rumah, tanpa kewarganegaraan, tanpa kepastian. Anak itu menghabiskan berjam-jam menatap peta-peta tua yang tergantung di dinding kafe, mencoba memahami mengapa dunia bisa begitu kejam pada keluarganya, dan mengapa beberapa negara memiliki kekuatan untuk menentukan nasib negara lain.
Anak itu bernama George Friedman. Enam dekade kemudian, ia akan menjadi pendiri Stratfor, salah satu firma intelijen swasta paling berpengaruh di dunia, dan menulis buku-buku yang dibaca oleh para pemimpin negara, jenderal, dan investor global. Pengalaman masa kecilnya sebagai pengungsi, menyaksikan secara langsung bagaimana kekuatan geopolitik yang besar dapat menghancurkan kehidupan individu, membentuk cara pandangnya terhadap dunia: bahwa negara-bangsa bertindak berdasarkan kepentingan mereka sendiri, bahwa moralitas sering menjadi topeng bagi kekuasaan, dan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang memahami realitas ini tanpa tersesat dalam ilusi.
Sebuah Ironi Sejarah
Ada ironi besar yang mengawali buku George Friedman, The Next Decade. Negara yang lahir dari revolusi melawan kekaisaran—Amerika Serikat, yang para pendirinya menulis Deklarasi Kemerdekaan sebagai protes terhadap tirani George III—telah menjadi kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia. Namun tidak seperti Roma, Ottoman, atau Britania yang membangun kekaisaran mereka dengan kesadaran dan niat imperial, Amerika menjadi kekaisaran hampir secara tidak sengaja. Ia tidak pernah merencanakannya, tidak pernah menginginkannya, dan hingga hari ini enggan mengakuinya. Kontradiksi inilah yang menjadi fondasi tiga bab pertama buku Friedman, dan kontradiksi ini pula yang akan membentuk—dan menghantui—setiap keputusan kebijakan luar negeri Amerika dalam dekade mendatang.
Dalam The Next Decade, yang terbit pada 2011, Friedman kembali ke akar pemikirannya. Buku ini adalah upaya untuk memahami dekade yang akan datang—2011 hingga 2020—dengan lensa seorang realis politik yang terlatih dalam tradisi Thucydides, Machiavelli, dan para ahli strategi besar sepanjang sejarah. Namun lebih dari sekadar ramalan, buku ini adalah nasihat kepada pemimpin Amerika, “sang pangeram” modern, tentang bagaimana menjalankan kekaisaran yang tidak pernah direncanakan tetapi terpaksa diemban.
Rebalancing America — Ketika Seabad Berubah Menjadi Sedekade
Friedman membuka bukunya dengan sebuah pernyataan yang menjadi fondasi seluruh argumentasinya: “A century is about events. A decade is about people”. Seabad adalah tentang peristiwa-peristiwa besar yang digerakkan oleh kekuatan impersonal—demografi, teknologi, perubahan iklim, pergeseran kekuatan ekonomi. Namun sedekade adalah tentang manusia, tentang keputusan-keputusan spesifik yang dibuat oleh individu-individu spesifik, terutama mereka yang memegang kekuasaan politik.
Pernyataan ini mungkin tampak sederhana, tetapi di dalamnya terkandung sebuah filosofi tentang sejarah dan kepemimpinan. Dalam jangka panjang, kata Friedman, begitu banyak keputusan individu yang dibuat sehingga tidak ada satu pun yang benar-benar kritis. Masing-masing keputusan tenggelam dalam arus penilaian yang membentuk satu abad. Tetapi dalam kerangka waktu yang lebih pendek—satu dekade—keputusan individu dapat sangat menentukan arah sejarah.
Friedman menjelaskan bahwa ia menulis The Next 100 Years (2011) untuk mengeksplorasi kekuatan impersonal yang membentuk sejarah dalam jangka panjang. Namun manusia tidak hidup dalam jangka panjang. Kita hidup dalam rentang yang jauh lebih pendek, di mana hidup kita dibentuk tidak hanya oleh tren sejarah yang luas tetapi oleh keputusan spesifik dari individu-individu spesifik. Buku ini adalah tentang jangka pendek dari sepuluh tahun ke depan: realitas spesifik yang akan dihadapi, keputusan spesifik yang harus dibuat, dan kemungkinan konsekuensi dari keputusan-keputusan itu.
Yang menarik dari pendekatan Friedman adalah keyakinannya bahwa semakin panjang kerangka waktu, semakin mudah memprediksi masa depan—pandangan yang bertolak belakang dengan intuisi kebanyakan orang. “Tindakan individu adalah hal yang paling sulit diprediksi,” tulisnya. “Dalam perjalanan satu abad, begitu banyak keputusan individu yang dibuat sehingga tidak ada satu pun yang pernah menjadi kritis.” Tetapi dalam satu dekade, keputusan individu—terutama mereka yang memiliki kekuasaan politik—dapat sangat berarti.
Pada momen “pengantar” ini, Friedman melukiskan potret Amerika pada awal dekade 2010-an. Satu dekade setelah 9/11, Amerika telah kehilangan arah strategisnya.
Di bawah kedua presiden—Bush dan Obama—Amerika telah “kehilangan pandangan terhadap strategi jangka panjang yang melayaninya dengan baik selama sebagian besar abad terakhir.” Sebaliknya, presiden-presiden baru-baru ini “melakukan petualangan ad hoc” dengan “tujuan yang tidak dapat dicapai karena mereka membingkai masalah secara tidak benar, seolah-olah mereka percaya pada retorika mereka sendiri.”
Akibatnya, Amerika telah “melampaui batas kemampuannya untuk memproyeksikan kekuatan di seluruh dunia, yang memungkinkan bahkan pemain kecil menjadi ekor yang menggerakkan anjing.” Keharusan utama bagi kebijakan Amerika dalam dekade mendatang, kata Friedman, adalah “kembali ke strategi global yang seimbang” yang dipelajari Amerika dari contoh Roma kuno dan Inggris seratus tahun lalu.
Apa strategi itu? Friedman menyebutnya “balance of power”—keseimbangan kekuatan. Para imperialis kuno tidak memerintah dengan kekuatan utama. Sebaliknya, mereka mempertahan-kan dominasi mereka dengan “mengadu domba pemain regional satu sama lain” dan menjaga pemain-pemain ini dalam oposisi terhadap orang lain yang mungkin juga memicu perlawanan. Mereka mempertahankan keseimbangan kekuatan, menggunakan kekuatan yang berlawanan ini untuk saling meniadakan sambil mengamankan kepentingan yang lebih luas dari kekaisaran.
Ini bukan sekadar nostalgia pada masa lalu. Bagi Friedman, ini adalah cetak biru untuk bertahan hidup di dunia yang berbahaya. Amerika telah menjadi “kekaisaran yang tidak disengaja” (the unintended empire)—sebuah kekaisaran yang tidak pernah direncanakan tetapi terpaksa diemban karena tidak ada negara lain yang mampu mengambil alih tanggung jawab global setelah Perang Dunia II. Seperti yang dikatakan seorang pengulas, “America is an accidental empire – like it or hate it, the world must deal with it – and it is thus in the United States’ best interest to maintain the ”balance of power” at all costs”.
The Unintended Empire — Lahirnya Kekaisaran yang Tidak Direncanakan
Friedman membuka bab pertama dengan sebuah pengamatan yang sederhana namun mendalam: setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat mendapati dirinya dalam posisi yang tidak pernah diantisipasi oleh para pendirinya. Eropa hancur, Jepang lumpuh, dan kekaisaran kolonial Eropa mulai runtuh. Satu-satunya negara yang memiliki kekuatan untuk mengisi kekosongan itu adalah Amerika Serikat. Bukan karena ambisi imperial, tetapi karena realitas geopolitik: jika Amerika tidak mengambil alih tanggung jawab, akan ada kekosongan kekuasaan yang dapat diisi oleh Uni Soviet.
Dalam narasi Friedman, Amerika tidak pernah menginginkan kekaisaran. Ia menginginkan perdamaian, perdagangan, dan keamanan. Namun untuk mendapatkan semua itu, ia harus memproyeksikan kekuatan ke seluruh dunia. Ia harus membangun pangkalan militer di negara-negara asing, menjalin aliansi, campur tangan dalam konflik regional. Dengan kata lain, ia harus bertindak seperti kekaisaran, meskipun ia menolak menyebut dirinya demikian. Kontradiksi inilah yang menjadi sumber utama masalah Amerika di abad ke-21. Amerika ingin dianggap sebagai republik yang baik, yang menghormati kedaulatan negara lain dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Namun ia juga harus bertindak sebagai kekaisaran, yang kadang-kadang harus mengabaikan kedaulatan dan nilai-nilai demi kepentingan strategis.
Ketidakmampuan untuk mengakui kontradiksi ini, kata Friedman, telah menyebabkan kebijakan luar negeri Amerika menjadi “tidak fokus, tidak konsisten, dan sering kontraproduktif.” Seorang pengulas buku ini mencatat bahwa Friedman “secara terang-terangan menggambarkan presiden Amerika sebagai ‘kaisar global’ dari sebuah ‘kekaisaran yang tidak disengaja’”. Ini bukan hiperbola. Friedman benar-benar menggunakan istilah itu, dan ia menggunakannya dengan sengaja untuk memprovokasi pembaca Amerika yang mungkin merasa tidak nyaman dengan label tersebut. Baginya, keengganan Amerika untuk mengakui status kekaisarannya justru memperburuk masalah. Ketika Anda tidak bisa menyebut sesuatu dengan nama yang benar, Anda tidak bisa memikirkannya dengan jernih. Dan ketika Anda tidak bisa memikirkan sesuatu dengan jernih, Anda tidak bisa mengelolanya dengan baik.
Friedman menelusuri asal-usul kekaisaran Amerika ini ke keputusan-keputusan yang dibuat setelah Perang Dunia II. Marshall Plan, pembentukan NATO, pangkalan militer di Jepang dan Korea Selatan, intervensi di Yunani dan Turki—semua ini adalah langkah-langkah yang diambil untuk menahan Soviet, tetapi efek kumulatifnya adalah menciptakan jaringan keamanan global yang belum pernah ada sebelumnya. Amerika tidak merebut wilayah seperti kekaisaran tradisional, tetapi ia mengontrol akses ke wilayah-wilayah kritis, menjamin keamanan sekutu-sekutunya, dan memproyeksikan kekuatan militer ke setiap sudut dunia. Ini adalah kekaisaran dalam segala hal kecuali nama.
Namun berbeda dengan kekaisaran masa lalu, kekaisaran Amerika memiliki kelemahan struktural yang unik. Karena ia tidak pernah direncanakan, ia tidak memiliki administrasi kolonial, birokrasi imperial, atau bahkan kosakata untuk membahas dirinya sendiri. Akibatnya, kebijakan luar negeri Amerika sering berubah-ubah, tergantung pada kepribadian presiden dan isu-isu sesaat, bukan pada strategi jangka panjang yang koheren. Amerika bereaksi terhadap krisis daripada mengantisipasinya, dan dalam prosesnya, ia sering menciptakan masalah baru yang lebih besar dari yang dipecahkannya.
Republic, Empire, and the Machiavellian President — Sang Pangeran Modern
Jika bab pertama mendiagnosis masalah, bab kedua menawarkan solusi—atau setidaknya, cara untuk mengelola masalah. Friedman memperkenalkan karakter sentral dalam narasinya: Presiden Amerika Serikat sebagai “pangeran” modern, pewaris tradisi Machiavelli. Di sinilah Friedman, dalam kata-kata seorang pengulas, menawarkan “Machiavelli 101 atau kursus kilat dalam realpolitik”.
Tugas presiden, menurut Friedman, adalah “mengantisipasi apa yang akan terjadi, meminimal-kan ketidakpastian, kemudian merespons yang tidak terduga dengan wawasan yang tajam dan cepat”. Ini adalah tugas yang sangat sulit, terutama karena presiden harus memainkan peran ganda yang saling bertentangan.
Di satu sisi, presiden adalah pemimpin republik, yang bertanggung jawab kepada rakyat dan harus mempertahankan ilusi bahwa Amerika adalah kekuatan yang baik, yang bertindak berdasarkan prinsip, bukan kepentingan. Rakyat Amerika, kata Friedman, ingin percaya bahwa negara mereka istimewa, bahwa mereka berbeda dari kekaisaran-kekaisaran sebelumnya, bahwa mereka membawa kebebasan dan demokrasi, bukan dominasi dan eksploitasi. Presiden harus memelihara ilusi ini, karena tanpa dukungan rakyat, ia tidak dapat memerintah.
Di sisi lain, presiden adalah kepala kekaisaran, yang harus membuat keputusan sulit dan kadang tidak populer demi menjaga keseimbangan kekuatan global. Ia harus mendukung diktator jika itu melayani kepentingan Amerika, ia harus mengabaikan pelanggaran hak asasi manusia di negara sekutu, ia harus berbohong kepada publik tentang alasan sebenarnya di balik intervensi militer. Semua ini adalah realitas kekuasaan yang tidak dapat dihindari, tetapi tidak dapat juga diakui secara terbuka.
Peran ganda ini melibatkan apa yang disebut seorang pengulas sebagai “double-dealing with the populace”. Presiden harus tampak memenuhi tuntutan yang tidak masuk akal—seperti fokus berlebihan pada perang melawan teror—sementara sebenarnya fokus pada hal-hal yang lebih kritis, yaitu isu-isu di balik layar yang terlalu rumit untuk dijelaskan kepada publik.
Friedman tidak menawarkan jalan keluar dari dilema ini. Ia hanya menegaskan bahwa ini adalah realitas yang harus dihadapi setiap presiden. Mereka yang mencoba jujur secara naif tentang kompleksitas kekuasaan akan gagal, karena publik tidak siap menerima kebenaran yang pahit. Mereka yang terlalu sinis akan kehilangan legitimasi moral yang diperlukan untuk memimpin. Tugas presiden adalah menavigasi di antara kedua ekstrem ini, menjadi Machiavelli yang tersenyum, yang melakukan apa yang diperlukan tetapi tetap tampak sebagai pemimpin yang baik.
Semangat ini sudah lama dirumuskan Machiavelli sendiri dalam Il Principe: “Seorang pangeran tidak harus memiliki semua kebajikan, tetapi ia harus tampak memilikinya. Bahkan, memiliki kebajikan dan selalu mengikutinya berbahaya, sementara tampak memilikinya berguna.” Inilah yang oleh Friedman diterjemahkan ke dalam bahasa politik luar negeri Amerika abad ke-21: presiden harus mampu bertindak tegas dan kadang kejam ketika diperlukan, sambil tetap mempertahankan legitimasi moral di mata rakyat.
Untuk melindungi kepentingan Amerika, Friedman mendukung apa yang dapat disebut sebagai “amoralitas yang tercerahkan”—melakukan apa yang diperlukan demi kebaikan yang lebih besar. Ia berargumen untuk jalan tengah antara kaum idealis dan realis, menunjukkan kelemahan yang tidak dapat diatasi di kedua ekstrem. Kaum idealis tidak memiliki perlengkapan untuk berfungsi di dunia nyata, sementara kaum realis tersesat tanpa kompas moral. “Pelaksanaan tanpa ampun dalam komitmen terhadap prinsip moral” adalah solusi yang didukung Friedman. Ini adalah keseimbangan yang sulit, tetapi tidak mustahil.
Konsep “pangeran” Machiavelli ini juga relevan untuk memahami bagaimana pemimpin di negara manapun—termasuk Indonesia—harus menavigasi antara tuntutan domestik dan realitas geopolitik. Seperti dikatakan seorang pengamat politik Indonesia, “Seorang pemimpin harus bisa membaca peta kekuatan, baik di dalam maupun luar negeri, dan mengambil keputusan yang tepat meskipun tidak populer.”
The Financial Crisis and the Resurgent State — Krisis yang Membangkitkan Negara
Bab ketiga mungkin paling menuai kritik dari para pengulas, tetapi juga paling penting untuk memahami visi Friedman tentang masa depan. Dalam bab tentang krisis keuangan, Friedman memulai dengan pernyataan kontroversial: “tidak ada yang luar biasa sama sekali tentang apa yang terjadi pada 2008”. Baginya, krisis keuangan bukanlah peristiwa yang mengubah segalanya, melainkan hanya satu episode dalam siklus alami kapitalisme.
Seorang pengulas mencatat bahwa Friedman “tampaknya tidak menyadari fakta bahwa Federal Reserve, sistem perbankan yang dilayaninya, dan Wall Street secara keseluruhan memiliki geopolitik internal mereka sendiri—campuran pengaruh, warisan, dan korupsi yang sangat mempengaruhi ekonomi global”. Yang lain mengeluh bahwa “pembobotan berbagai variabel krisis keuangan tampaknya tidak dapat diterima ringannya, mengingat bagaimana uang dan keuangan dapat secara agresif membentuk beberapa hasil yang berpotensi dramatis dalam beberapa tahun ke depan”.
Namun di balik kritik ini, ada argumen yang lebih dalam yang coba dibangun Friedman. Ia melihat krisis keuangan bukan sebagai peristiwa unik, tetapi sebagai manifestasi dari siklus panjang boom dan bust yang melekat dalam kapitalisme. Yang menarik baginya bukanlah penyebab krisis, tetapi konsekuensinya: kebangkitan negara.
Selama beberapa dekade, ideologi pasar bebas mendominasi wacana ekonomi global. Ada keyakinan yang hampir religius bahwa pasar dapat mengatur diri sendiri, bahwa intervensi pemerintah selalu kontraproduktif, bahwa sektor swasta selalu lebih efisien daripada sektor publik. Krisis 2008 menghancurkan ilusi ini. Ketika sistem keuangan global berada di ambang kehancuran, satu-satunya institusi yang mampu menyelamatkannya adalah pemerintah. Bank sentral menyuntikkan likuiditas triliunan dolar, pemerintah mengambil alih perusahaan-perusahaan yang gagal, dan negara-negara meminjamkan uang dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mencegah depresi.
Dalam prosesnya, negara mendapatkan kembali peran sentralnya dalam perekonomian. Ini bukan hanya fenomena Amerika. Di seluruh dunia, krisis keuangan memperkuat tangan negara terhadap pasar. China semakin percaya diri dengan model pembangunannya, di mana negara memimpin pembangunan ekonomi. Rusia menggunakan kekayaan energinya untuk memperluas pengaruh, dengan negara sebagai aktor utama. Negara-negara Eropa, yang selama bertahun-tahun dipuji sebagai model keseimbangan antara pasar dan kesejahteraan, terpaksa meningkatkan intervensi ekonomi hingga level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bagi Friedman, pergeseran ini memiliki implikasi geopolitik yang mendalam. Selama era dominasi pasar, kekuatan ekonomi relatif terdesentralisasi. Perusahaan multinasional, investor global, dan institusi keuangan memainkan peran penting dalam membentuk hasil ekonomi.
Tetapi dengan bangkitnya kembali negara, kekuatan kembali terkonsentrasi di tangan pemerintah. Dan ketika negara-negara menjadi lebih kuat secara ekonomi, mereka juga menjadi lebih mampu memproyeksikan kekuatan militer dan politik.
Ini berarti bahwa persaingan internasional akan kembali menjadi persaingan antar negara, bukan antar perusahaan. China tidak hanya bersaing dengan Amerika dalam hal perdagangan; ia bersaing dalam hal kekuasaan negara. Rusia tidak hanya menjual gas ke Eropa; ia menggunakan gas sebagai senjata geopolitik. Amerika tidak hanya melindungi kepentingan perusahaannya di luar negeri; ia melindungi kepentingan negaranya.
Krisis keuangan, dengan kata lain, mempercepat pergeseran kekuatan dari pasar ke negara—sebuah pergeseran yang akan membentuk geopolitik dekade berikutnya. Dan dalam dunia di mana negara kembali menjadi aktor utama, keterampilan para pemimpin negara—keterampilan Machiavellian yang dibahas di bab sebelumnya—menjadi semakin penting.
Tiga Bab, Satu Narasi
Jika kita merenungkan tiga bab pertama ini sebagai satu kesatuan, sebuah pola mulai muncul. Bab 1 mendiagnosis masalah: Amerika adalah kekaisaran yang tidak disengaja, yang tidak pernah merencanakan statusnya dan karena itu tidak memiliki strategi yang koheren untuk mengelolanya. Bab 2 menawarkan solusi—atau setidaknya, cara mengelola masalah: presiden harus menjadi pangeram Machiavellian, yang memahami realitas kekuasaan dan mampu menavigasi ketegangan antara tuntutan republik dan kebutuhan kekaisaran. Bab 3 memberikan konteks tambahan: krisis keuangan telah memperkuat negara di seluruh dunia, membuat permainan geopolitik semakin relevan dan semakin berbahaya.
Ketiga bab ini bersama-sama membentuk fondasi untuk seluruh argumen Friedman dalam buku ini. Mereka memperkenalkan tema-tema utama yang akan ia eksplorasi lebih lanjut: keseimbangan kekuatan sebagai strategi inti Amerika, bahaya terobsesi dengan terorisme, kebangkitan China dan Rusia, dan perlunya Amerika untuk kembali ke dasar-dasar realisme geopolitik.
Yang menarik dari pendekatan Friedman adalah bahwa ia tidak menawarkan optimisme palsu. Dunia yang ia gambarkan adalah dunia yang keras, di mana niat baik tidak cukup dan moralitas sering menjadi korban kepentingan. Tetapi ia juga tidak menawarkan sinisme. Ada ruang untuk prinsip, untuk nilai-nilai, untuk komitmen terhadap kebebasan dan demokrasi—asalkan prinsip-prinsip itu tidak menjadi buta terhadap realitas kekuasaan.
Dalam nada ini, Friedman mengingatkan kita pada kata-kata Machiavelli sendiri: “Seorang pangeram harus memiliki pikiran yang siap berbalik ke segala arah ketika keberuntungan dan keadaan menuntutnya.” Presiden Amerika, dalam pandangan Friedman, harus memiliki pikiran seperti itu: fleksibel, pragmatis, dan selalu siap beradaptasi dengan realitas yang berubah, sambil tetap berpegang pada tujuan-tujuan fundamental yang telah lama menjadi kompas Amerika.
Apakah Amerika mampu menghasilkan pemimpin seperti itu? Friedman tidak menjawab pertanyaan ini secara langsung. Tetapi dengan menulis buku ini, ia tampaknya berharap bahwa setidaknya para pembacanya—para pemikir, pembuat kebijakan, dan warga negara yang peduli—akan mulai melihat dunia dengan cara yang lebih jernih. Karena hanya dengan kejelasan itulah kita dapat membuat keputusan yang lebih baik, baik sebagai bangsa maupun sebagai individu.
Dan pada akhirnya, itulah yang ditawarkan tiga bab pertama The Next Decade: bukan ramalan tentang masa depan, tetapi kejelasan tentang masa kini. Sebuah kejelasan yang mungkin tidak nyaman, tetapi jauh lebih berharga daripada ilusi yang menenangkan.
Dari Diagnosis Menuju Resep
Setelah tiga bab pertama yang mendiagnosis masalah Amerika sebagai “kekaisaran yang tidak disengaja” dan memperkenalkan sosok presiden sebagai “pangeram Machiavellian,” George Friedman kini beralih dari diagnosis menuju resep. Empat bab berikutnya—Finding the Balance of Power, The Terror Trap, Redefining Policy: The Case of Israel, dan Strategic Reversal: The United States, Iran—adalah upaya Friedman untuk merumuskan strategi konkret bagi Amerika dalam menghadapi dunia yang berubah. Ini bukan lagi tentang apa yang salah, tetapi tentang apa yang harus dilakukan.
Finding the Balance of Power — Kembali ke Dasar-Dasar Geopolitik
Bab ini adalah jantung dari buku Friedman. Ia berargumen bahwa setelah satu dekade terobsesi dengan terorisme, Amerika harus kembali ke tugas utamanya: menjaga keseimbangan kekuatan global. Terorisme adalah ancaman, tetapi bukan ancaman eksistensial. Ancaman eksistensial datang dari negara-negara besar yang mampu menantang supremasi Amerika—dan ancaman itu akan kembali.
Friedman menelusuri sejarah kebijakan luar negeri Amerika dari Perang Dunia I hingga akhir Perang Dingin. Selama periode itu, Amerika memiliki strategi yang “rasional, koheren, dan efektif licik”. Ia mendukung Inggris melawan Jerman, kemudian mendukung Jerman melawan Uni Soviet. Ia membangun aliansi untuk menahan ekspansi Soviet, sambil secara halus mencegah sekutu-sekutunya menjadi terlalu kuat. Ia menggunakan kekuatan ekonomi, diplomasi, dan kadang-kadang militer untuk menjaga agar tidak ada satu pun kekuatan yang mendominasi Eurasia.
Strategi ini, yang dikenal sebagai “keseimbangan kekuatan,” adalah seni kuno yang dipraktikkan oleh kekaisaran-kekaisaran besar sepanjang sejarah. Roma menggunakannya untuk menjaga perdamaian di wilayah kekuasaannya, dengan mengadu domba suku-suku barbar satu sama lain. Britania menggunakannya untuk mencegah kekuatan Eropa manapun mendominasi benua, dengan berganti-ganti sekutu sesuai kebutuhan. Amerika sendiri menggunakannya selama Perang Dingin, dengan membendung Soviet sambil menjaga sekutu-sekutunya tetap bergantung padanya.
Namun setelah runtuhnya Uni Soviet, strategi ini hilang. Amerika beralih dari “strategi yang berfokus pada upaya menahan kekuatan besar” menjadi “upaya tidak fokus untuk menahan calon hegemon regional ketika perilaku mereka menyinggung sensitivitas Amerika”. Antara 1991 dan 2001, Amerika menginvasi atau campur tangan di lima negara—Kuwait, Somalia, Haiti, Bosnia, dan Yugoslavia—yang merupakan “tempo operasi militer yang luar biasa” untuk masa damai.
Setelah 9/11, disorientasi ini menjadi lebih parah. Amerika menciptakan tujuan strategis baru yang tidak dapat dicapai: “eliminasi ancaman teroris”. Tujuan ini tidak hanya tidak realistis, tetapi juga mengalihkan perhatian Amerika dari tugas utamanya: mengelola kebangkitan kekuatan besar seperti China dan Rusia.
Bagi Friedman, dekade mendatang harus menjadi dekade “kembali ke dasar.” Amerika harus belajar lagi seni keseimbangan kekuatan yang dipraktikkan Roma dan Britania. Ia harus mengadu domba pemain regional satu sama lain, menjaga agar tidak ada yang menjadi terlalu kuat, dan campur tangan hanya sebagai pilihan terakhir. Ini bukan kebijakan yang mulia, tetapi ini adalah kebijakan yang bekerja.
The Terror Trap — Perangkap Teror yang Menjerat Amerika
Salah satu analisis paling tajam Friedman ada di bab ini, di mana ia membongkar mitos tentang strategi Al Qaeda. Ia berargumen bahwa serangan 9/11 bukanlah upaya untuk menghancurkan Amerika atau memaksanya mengubah kebijakannya di Timur Tengah. Tujuan Osama bin Laden, kata Friedman, jauh lebih cerdik: ia ingin “mendorong penggulingan lokal terhadap pemerintahan Timur Tengah” dengan menunjukkan bahwa “struktur kekuasaan yang tampaknya kebal sebenarnya lemah”.
Logika Al Qaeda, dalam analisis Friedman, adalah sebagai berikut: rezim-rezim Arab bertahan karena didukung oleh Amerika. Jika Amerika dapat ditunjukkan sebagai kekuatan yang rentan—yang dapat diserang oleh sekelompok kecil Muslim yang siap mati—maka rasa takut rakyat terhadap rezim mereka akan berkurang. Mereka akan berani memberontak, dan dalam kekacauan yang terjadi, Al Qaeda dapat membangun kembali kekhalifahan.
Strategi ini, kata Friedman, hampir berhasil. Amerika jatuh ke dalam perangkap dengan menginvasi Afghanistan dan Irak, menghabiskan triliunan dolar dan ribuan nyawa dalam perang yang justru memperkuat narasi Al Qaeda. Amerika menjadi “polisi yang marah” yang bereaksi berlebihan terhadap provokasi, membenarkan klaim Al Qaeda bahwa Amerika adalah kekuatan imperial yang harus dilawan.
Dalam analisis yang mengingatkan pada pepatah Latin “Quis custodiet ipsos custodes?”—siapa yang menjaga para penjaga itu sendiri—Friedman menunjukkan bahwa Amerika, dalam upayanya melawan teror, justru menjadi ancaman terbesar bagi dirinya sendiri. Invasi ke Irak, yang tidak ada hubungannya dengan 9/11, mengalihkan sumber daya dari target yang sebenarnya dan menciptakan generasi baru musuh.
Pelajaran untuk dekade mendatang, kata Friedman, adalah bahwa Amerika harus belajar hidup dengan terorisme, tidak terobsesi memberantasnya. Terorisme adalah kenyataan yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi juga bukan ancaman eksistensial. Amerika harus merespons secara proporsional, menggunakan intelijen dan operasi khusus daripada invasi besar-besaran. Dengan kata lain, Amerika harus keluar dari “perangkap teror” yang telah menjeratnya selama satu dekade.
Redefining Policy: The Case of Israel — Menguji Loyalitas dalam Geopolitik
Salah satu prediksi paling kontroversial Friedman ada di bab ini. Ia berargumen bahwa demi kepentingan Amerika—dari sudut pandang keseimbangan kekuatan—akan lebih baik untuk “menjauh dari Israel”. Bahkan lebih radikal lagi, Amerika mungkin perlu “menjalin kemitraan strategis yang canggung dengan Iran”.
Argumen Friedman murni geopolitik, tanpa pertimbangan moral atau emosional. Dalam kerangka keseimbangan kekuatan, Israel adalah sekutu yang bermasalah. Dukungan tanpa syarat Amerika kepada Israel mengalienasi dunia Arab dan Muslim, mempersulit hubungan dengan negara-negara Teluk yang kaya minyak, dan memberikan amunisi propaganda bagi musuh-musuh Amerika. Untuk “memulihkan keseimbangan antara Israel dan tetangganya,” Amerika perlu menjarakkan diri.
Friedman tidak menyarankan pengabaian total terhadap Israel. Ia mengakui bahwa Israel adalah sekutu penting dan satu-satunya demokrasi sejati di Timur Tengah. Tetapi ia berargumen bahwa hubungan itu harus lebih seimbang, tidak lagi tanpa syarat. Amerika harus bersedia menekan Israel ketika diperlukan, dan bersedia bekerja sama dengan musuh-musuh Israel jika itu melayani kepentingan yang lebih luas.
Ini adalah contoh klasik dari apa yang disebut seorang pengulas sebagai “amoralitas yang tercerahkan—melakukan apa yang diperlukan demi kebaikan yang lebih besar”. Dalam kasus Israel, kebaikan yang lebih besar itu adalah stabilitas kawasan dan keseimbangan kekuatan yang menguntungkan Amerika. Ini bukan keputusan yang populer, dan Friedman tahu itu. Tetapi ia berargumen bahwa presiden yang baik harus berani mengambil keputusan tidak populer demi kepentingan jangka panjang negara.
Bab 7: Strategic Reversal — Iran dan Keseimbangan Baru di Timur Tengah
Lebih jauh lagi, Iran adalah kekuatan alami untuk menyeimbangkan Arab. Jika Amerika dapat mencapai “entente” dengan Teheran—mengakui kepentingan bersama dalam stabilitas kawasan dan melawan Sunni ekstremis—maka Iran dapat menjadi “mitra yang tidak nyaman tetapi berguna”. Ini bukan karena Amerika menyukai rezim Iran, tetapi karena geopolitik tidak peduli dengan perasaan.
Memperdalam argumen sebelumnya, Friedman merinci bagaimana “pembalikan strategis” dengan Iran dapat bekerja. Amerika harus mengakui bahwa Iran, meskipun bermasalah, adalah kekuatan stabil di kawasan yang kacau. Iran memiliki pemerintahan yang berfungsi, militer yang kuat, dan kepentingan bersama dengan Amerika dalam melawan ekstremisme Sunni.
Friedman juga menganalisis strategi Iran yang ia sebut sebagai “strategi Korea Utara”—berpura-pura gila dan tidak stabil untuk mendapatkan keuntungan lebih besar di meja perundingan. Dengan mengembangkan program nuklir dan mengancam Israel, Iran memaksa dunia untuk bernegosiasi. Tetapi di balik retorika keras, Iran adalah aktor rasional yang dapat diajak bekerja sama.
Kunci bagi Amerika adalah membedakan antara retorika dan realitas, dan bersedia membuat kesepakatan yang tidak populer demi kepentingan jangka panjang. Dalam kerangka keseimbangan kekuatan, Iran adalah penyeimbang alami terhadap Arab Saudi dan sekutu-sekutu Teluknya. Dengan menjalin hubungan dengan Teheran, Amerika dapat menciptakan dinamika baru di Timur Tengah yang lebih menguntungkan bagi kepentingan jangka panjangnya.
Friedman mengakui bahwa ini adalah langkah yang berisiko dan tidak populer. Iran memiliki catatan hak asasi manusia yang buruk, mendukung terorisme, dan mengancam keberadaan Israel. Tetapi dalam geopolitik, seperti dalam kehidupan, kadang-kadang Anda harus bekerja sama dengan orang yang tidak Anda sukai untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Ini bukan tentang persahabatan; ini tentang kepentingan.
Bab 8: The Return of Russia — Kebangkitan dari Abyss
Rusia, kata Friedman, akan kembali. Setelah kekacauan tahun 1990-an, Rusia perlahan membangun kembali kekuatannya. Di bawah Putin, ia menggunakan kekayaan energi untuk memperkuat negara dan memproyeksikan pengaruh di “dekat luar negeri”—Ukraina, Georgia, negara-negara Baltik, dan Asia Tengah.
Namun Friedman tidak melihat Rusia sebagai ancaman global seperti Uni Soviet. Rusia terlalu lemah secara demografis, terlalu bergantung pada harga minyak, dan terlalu terbelakang secara teknologi untuk menantang Amerika secara serius. Ancaman Rusia bersifat regional, terutama bagi Eropa Timur.
Di sinilah Polandia masuk. Friedman memprediksi bahwa Polandia akan menjadi “linchpin regional” dalam menyeimbangkan hubungan Jerman-Rusia. Amerika harus “membudidayakan kemitraan strategis baru dengan Polandia” untuk “merongrong hubungan yang berkembang antara Jerman dan Rusia”. Ini adalah contoh klasik keseimbangan kekuatan: Amerika menggunakan Polandia untuk mengimbangi Jerman dan Rusia, sambil menjaga Jerman tetap dalam orbit Atlantik.
Bab 9: Europe’s Return to History — Kembalinya Eropa ke Sejarah
Judul bab ini menggemakan esai terkenal Robert Kagan, “Kembalinya Sejarah dan Akhir Mimpi.” Friedman berargumen bahwa Eropa, setelah setengah abad perdamaian di bawah payung Amerika, akan kembali ke cara lamanya: persaingan kekuasaan, aliansi yang berubah-ubah, dan konflik kepentingan.
Uni Eropa, kata Friedman, dibentuk dari kebutuhan sebagai “penyeimbang terhadap kekuatan gabungan Amerika dan USSR”. Tetapi dengan runtuhnya Soviet dan berkurangnya komitmen Amerika terhadap Eropa, fondasi UE mulai goyah. Friedman memprediksi bahwa UE akan “berantakan” (falling apart) dalam dekade mendatang. Bukan karena gagal, tetapi karena tujuan awalnya—menyatukan Eropa melawan ancaman eksternal—tidak lagi relevan.
Dalam Eropa pasca-UE, Jerman akan kembali menjadi kekuatan dominan. Tetapi kebangkitan Jerman akan memicu kekhawatiran di negara-negara tetangganya, terutama Polandia. Di sinilah Amerika masuk, menggunakan hubungannya dengan Polandia untuk menyeimbangkan Jerman dan mencegah dominasi Jerman di Eropa.
Ini adalah visi Eropa yang kembali ke “sejarah”—ke dunia sebelum 1945, di mana negara-bangsa bersaing untuk kekuasaan dan keamanan, dan tidak ada ilusi tentang persatuan abadi.
Bab 10: Asia — Menyeimbangkan China dan Jepang
Bagian paling menarik dari analisis Friedman adalah tentang Asia. Di sini, ia membalikkan asumsi konvensional. Kebanyakan analis melihat China sebagai ancaman yang harus diimbangi dengan memperkuat Jepang. Friedman melihat sebaliknya: Amerika perlu “hubungan yang mendukung dengan China” untuk mengendalikan “ketidakseimbangan kekuatan yang berkembang dengan Jepang”.
Logikanya: Jepang adalah kekuatan maritim yang dinamis dengan kemampuan teknologi canggih dan ambisi militer yang terpendam. Jika Amerika terlalu lemah atau terlalu sibuk di tempat lain, Jepang mungkin merasa perlu mempersenjatai diri secara serius—membangun senjata nuklir, memperluas angkatan laut, menjadi kekuatan militer independen. Ini akan mengancam stabilitas regional dan mungkin memicu perlombaan senjata di Asia.
China, sebaliknya, adalah kekuatan kontinental yang terjebak oleh geografinya. Untuk menjadi ancaman global, China harus menguasai lautan—sesuatu yang akan memakan waktu puluhan tahun dan memicu perlawanan dari semua tetangganya. Dalam jangka pendek, China adalah kekuatan yang relatif stabil dan dapat diprediksi, yang lebih suka perdagangan daripada perang.
Karena itu, Amerika harus “memberi China waktu” untuk menghadapi krisis internalnya—fragmentasi politik, ketegangan etnis, ketidakseimbangan ekonomi—sambil menjaga Jepang tetap dalam aliansi keamanan. Dengan kata lain, Amerika menggunakan China untuk menahan Jepang, sambil menggunakan Jepang untuk menahan China. Ini adalah keseimbangan kekuatan dalam bentuknya yang paling murni.
Bab 11: Amerika Latin — Halaman Belakang Amerika
Amerika Latin, bagi Friedman, adalah “halaman belakang” Amerika—wilayah yang harus aman agar Amerika dapat fokus pada tantangan di tempat lain. Tidak seperti Eropa atau Asia, Amerika Latin jarang menjadi sumber ancaman eksistensial. Satu-satunya pengecualian adalah Kuba selama Perang Dingin, ketika Soviet mencoba menempatkan rudal nuklir hanya 90 mil dari Florida.
Dalam dekade mendatang, Friedman melihat Amerika Latin sebagai “arena untuk hubungan komersial” semata. Brasil mungkin muncul sebagai kekuatan regional, tetapi tidak cukup kuat untuk menantang Amerika secara serius. Meksiko memiliki masalah internal yang terlalu besar untuk menjadi pemain global. Venezuela di bawah Chávez adalah gangguan, bukan ancaman.
Yang menarik, Friedman memprediksi bahwa Meksiko pada akhirnya akan “menantang tetangganya di utara karena mencoba merebut kembali wilayah yang hilang pada abad ke-19”. Ini bukan prediksi invasi militer, tetapi tekanan demografis dan budaya: migrasi massal, tuntutan otonomi bagi Meksiko-Amerika, dan mungkin pada akhirnya perubahan perbatasan de facto. Tetapi ini adalah masalah untuk abad ke-21, bukan dekade ini.
Bagian Kedua: Afrika, Teknologi, Demografi, dan Refleksi Akhir
Setelah membahas Timur Tengah dan Asia, Friedman mengalihkan perhatiannya ke wilayah-wilayah yang sering diabaikan dalam diskusi geopolitik, sebelum akhirnya kembali ke tema sentral tentang ketegangan antara kekaisaran dan republik. Tiga bab penutup ini—Africa: A Place to Leave Alone, The Technological and Demographic Imbalance, dan The Empire, the Republic, and the Decade—memberikan perspektif yang lebih luas dan refleksi akhir yang mendalam.
Bab 12: Africa — A Place to Leave Alone
Afrika, kata Friedman dengan terus terang, adalah “tempat untuk dibiarkan sendiri”. Ini mungkin terdengar tidak peka, bahkan sinis, tetapi argumennya murni geopolitik: Amerika tidak memiliki kepentingan strategis yang cukup besar di Afrika untuk membenarkan intervensi serius. Sumber daya Afrika—minyak, mineral, berlian—penting, tetapi tidak penting bagi kelangsungan hidup Amerika. Konflik Afrika menyedihkan, tetapi tidak mengancam stabilitas global.
Friedman tidak bermaksud bahwa Amerika harus mengabaikan penderitaan di Afrika atau menutup mata terhadap kekejaman. Ia hanya berargumen bahwa dalam dunia dengan sumber daya terbatas, prioritas harus ditetapkan. Amerika tidak dapat menjadi polisi dunia di setiap kawasan. Ia harus memilih pertempurannya dengan bijak, dan Afrika, dalam perhitungan Friedman, bukanlah tempat untuk bertempur.
Seperti yang dikatakan sejarawan Barbara Tuchman dalam The March of Folly, kebodohan dalam kebijakan luar negeri sering terjadi ketika negara-negara mengejar tujuan yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka yang sebenarnya. Friedman memperingatkan Amerika agar tidak jatuh ke dalam perangkap yang sama di Afrika: terlibat dalam konflik yang rumit dan mahal demi tujuan yang tidak jelas, hanya karena merasa berkewajiban untuk “melakukan sesuatu.”
Dalam kerangka keseimbangan kekuatan, Afrika adalah pinggiran, bukan pusat. Amerika harus “tetap acuh tak acuh” terhadap Afrika—bukan karena tidak peduli, tetapi karena sumber daya terbatas dan harus difokuskan pada prioritas yang lebih tinggi.
Bab 13: The Technological and Demographic Imbalance — Dua Kekuatan yang Membentuk Masa Depan
Dua kekuatan besar akan membentuk dekade mendatang: teknologi dan demografi. Di sisi teknologi, Amerika memiliki keunggulan luar biasa yang akan bertahan setidaknya satu dekade lagi. Silicon Valley, universitas-universitas riset, ekosistem inovasi—semua ini memberi Amerika keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi.
Namun Friedman memperingatkan agar tidak terlalu percaya diri. Keunggulan teknologi tidak abadi. Jepang pernah dianggap tak terkalahkan dalam manufaktur; Jerman dalam teknik. Keduanya belajar bahwa keunggulan dapat hilang jika tidak dirawat. Amerika harus terus berinvestasi dalam penelitian, pendidikan, dan infrastruktur jika ingin mempertahankan posisinya.
Di sisi demografi, Amerika juga unggul. Sementara Eropa, Jepang, dan China menua dengan cepat, Amerika memiliki tingkat kelahiran yang relatif tinggi (untuk negara maju) dan imigrasi yang terus-menerus. Ini berarti angkatan kerja yang lebih muda, ekonomi yang lebih dinamis, dan kemampuan untuk mempertahankan kekuatan militer.
Friedman memprediksi bahwa dalam dekade mendatang, dunia akan bergerak “dari saat ketika krisis keuangan mendominasi dunia ke saat ketika kekurangan tenaga kerja akan mulai mendominasi”. Negara-negara dengan populasi muda—India, Indonesia, Meksiko—akan diuntungkan. Negara-negara dengan populasi tua—Jepang, Jerman, Rusia—akan terhambat. Amerika, dengan demografinya yang seimbang, akan berada di posisi yang baik.
Ini adalah pengingat bahwa kekuatan tidak hanya datang dari senjata atau uang, tetapi juga dari manusia. Negara yang gagal mempertahankan populasinya, atau gagal mendidik mereka dengan baik, akan tertinggal dalam persaingan global.
Bab 14: The Empire, The Republic, and the Decade — Refleksi Terakhir
Dalam bab penutup, Friedman kembali ke tema awalnya: ketegangan antara kekaisaran dan republik. Amerika adalah keduanya, dan harus hidup dengan kontradiksi ini. Sebagai republik, ia harus mempertahankan nilai-nilai demokrasi, kebebasan, dan pemerintahan berdasarkan hukum. Sebagai kekaisaran, ia harus membuat keputusan sulit, campur tangan dalam urusan negara lain, dan kadang mengabaikan nilai-nilai demi kepentingan strategis.
Tidak ada resolusi mudah untuk kontradiksi ini. Yang bisa dilakukan pemimpin adalah mengelolanya dengan bijaksana. Mereka harus jujur tentang realitas kekuasaan, tetapi tidak sinis. Mereka harus mempertahankan prinsip, tetapi tidak naif. Mereka harus bertindak tegas, tetapi tidak arogan.
Friedman mengakui bahwa banyak orang akan tersinggung oleh bukunya. “Some will resent the broad brush strokes Friedman uses. Others will resent the hard-nosed subordination of idealistic principles, or strongly disagree with certain controversial forecasts”. Tetapi ia berargumen bahwa bukunya lebih berharga sebagai “latihan berpikir tingkat tinggi daripada cetak biru untuk peristiwa dunia”. Ia berguna untuk memahami “berbagai pendorong yang membentuk hubungan internasional—banyak di antaranya sengaja tidak diungkapkan”.
Pada akhirnya, Friedman menawarkan bukan kepastian, tetapi kejelasan. Ia tidak mengklaim tahu persis apa yang akan terjadi dalam dekade mendatang. Yang ia tawarkan adalah kerangka berpikir: cara melihat dunia melalui lensa kepentingan, kekuasaan, dan keseimbangan, tanpa ilusi tetapi juga tanpa sinisme.
Dari Keseimbangan Kekuatan hingga Refleksi Akhir
Jika kita merenungkan bab-bab ini sebagai satu kesatuan, sebuah pola yang koheren muncul. Bab 4 menawarkan solusi untuk masalah yang didiagnosis di bab-bab awal: Amerika harus kembali ke strategi keseimbangan kekuatan yang telah terbukti berhasil sepanjang sejarah. Bab 5 memperingatkan tentang bahaya terobsesi dengan terorisme, yang mengalihkan perhatian dari tugas utama. Bab 6 dan 7 memberikan contoh konkret bagaimana strategi keseimbangan kekuatan dapat diterapkan—dengan menjarakkan diri dari Israel dan mendekati Iran, dua langkah kontroversial yang mencerminkan realpolitik murni. Bab 8, 9, 10, dan 11 memperluas kerangka ini ke Rusia, Eropa, Asia, dan Amerika Latin, menunjukkan bagaimana logika keseimbangan kekuatan yang sama berlaku di setiap kawasan, meski dengan bobot kepentingan yang berbeda-beda.
Setelah menjelajahi seluruh kawasan itu, Bab 12 membawa kita ke Afrika, yang bagi Friedman adalah “tempat untuk dibiarkan sendiri”—sebuah pengingat bahwa tidak semua kawasan sama pentingnya bagi kepentingan Amerika. Bab 13 memperluas perspektif dengan membahas dua kekuatan besar yang akan membentuk masa depan: teknologi dan demografi. Dan Bab 14 menutup dengan refleksi tentang ketegangan abadi antara kekaisaran dan republik, antara kekuasaan dan prinsip, yang harus dikelola setiap presiden Amerika.
Sepanjang bab-bab ini, Friedman konsisten dengan visinya: dunia adalah tempat yang berbahaya, negara-negara bertindak berdasarkan kepentingan mereka sendiri, dan pemimpin yang baik adalah mereka yang memahami realitas ini tanpa tersesat dalam ilusi. Ini bukan pandangan yang populer di Amerika, yang lebih suka melihat dirinya sebagai kekuatan untuk kebaikan di dunia. Tetapi Friedman berargumen bahwa justru keengganan untuk melihat realitas inilah yang membuat Amerika rentan terhadap kesalahan.
Dalam nada ini, ia mengingatkan kita pada kata-kata Reinhold Niebuhr, teolog Amerika yang karyanya The Irony of American History sangat mempengaruhi generasi realis politik: “Kemampuan manusia untuk keadilan membuat demokrasi menjadi mungkin; tetapi kecenderungan manusia untuk ketidakadilan membuat demokrasi menjadi perlu.” Friedman mungkin akan menambahkan: kemampuan Amerika untuk kebaikan membuat kekaisarannya mungkin dapat diterima; tetapi kecenderungannya untuk kesombongan membuat pengelolaan kekaisaran itu menjadi sangat sulit.
Apakah Amerika mampu mengelola kontradiksi ini? Friedman tidak menjawab secara langsung. Tetapi dengan menulis buku ini, ia tampaknya berharap bahwa setidaknya para pemimpin Amerika akan mulai melihat dunia dengan lebih jernih. Karena hanya dengan kejelasan itulah mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik—bagi Amerika, dan bagi dunia yang sangat bergantung padanya.
Kutipan dari Pemikir Lain
Untuk memperkaya pemahaman kita tentang tema-tema dalam buku Friedman, berikut adalah beberapa kutipan dari pemikir lain yang relevan:
Thucydides, sejarawan Yunani kuno yang karyanya History of the Peloponnesian War menjadi fondasi realisme politik: “The strong do what they can and the weak suffer what they must.” Kalimat ini merangkum inti dari pandangan Friedman tentang hubungan internasional: bahwa pada akhirnya, kekuasaan menentukan hasil, dan negara-negara bertindak berdasarkan kepentingan mereka sendiri.
Niccolò Machiavelli, filsuf politik Italia yang karyanya The Prince menjadi inspirasi langsung bagi Friedman: “It is much safer to be feared than loved.” Friedman tidak menganjurkan tirani, tetapi ia mengakui bahwa dalam hubungan internasional, rasa takut sering lebih efektif daripada cinta. Negara-negara menghormati kekuatan, bukan kebaikan.
Hans J. Morgenthau, pendiri sekolah realisme dalam hubungan internasional modern: “International politics, like all politics, is a struggle for power.” Friedman adalah pewaris tradisi ini, melihat dunia sebagai arena di mana negara-negara bersaing untuk kekuasaan, dan moralitas adalah pertimbangan sekunder.
Ibn Khaldun, sejarawan dan sosiolog Muslim abad ke-14 yang karyanya Muqaddimah membahas siklus kebangkitan dan keruntuhan peradaban: “Dynasties have a natural life span like individuals.” Friedman mungkin setuju: Amerika, seperti semua kekaisaran sebelumnya, pada akhirnya akan runtuh. Tetapi tidak dalam dekade ini, dan mungkin tidak dalam abad ini.
George F. Kennan, diplomat dan sejarawan Amerika yang merancang strategi containment selama Perang Dingin: “The United States should be guided not by sentiment but by interest.” Ini adalah inti dari nasihat Friedman kepada presiden Amerika: jangan biarkan emosi atau moralitas mengaburkan penilaian tentang apa yang sebenarnya penting bagi keamanan dan kemakmuran negara.
Soedjatmoko, intelektual dan diplomat Indonesia: “Indonesia’s foreign policy is independent and active.” Ini adalah pengingat bahwa negara-negara kecil dan menengah juga memiliki agensi dalam sistem internasional. Mereka tidak hanya objek dari permainan kekuatan besar, tetapi juga subjek yang dapat mempengaruhi hasil. Dalam dunia Friedman, Indonesia harus cerdas memainkan perannya.
Epilog: Melihat ke Belakang dari 2026
Sekarang, lima belas tahun setelah buku ini terbit dan enam tahun setelah dekade yang diprediksinya berakhir, kita dapat melihat ke belakang dan menilai akurasi ramalan Friedman. Beberapa prediksinya terbukti akurat, beberapa meleset, dan beberapa masih terlalu dini untuk dinilai.
Yang paling akurat mungkin adalah analisisnya tentang kebangkitan China dan perlunya Amerika mengelola hubungan dengan Beijing. Dalam komentarnya baru-baru ini, Friedman memprediksi bahwa 2026 akan menjadi tahun ketika AS dan China “mengesampingkan persaingan ekonomi dan militer mereka” karena “mereka terlalu membutuhkan satu sama lain”. Amerika membutuhkan produk murah China untuk mengendalikan inflasi; China membutuhkan pasar Amerika untuk pertumbuhan ekonominya. Solusinya, kata Friedman, adalah “kesepakatan untuk meredakan ketegangan militer” dan “menghapus atau setidaknya mengurangi tarif”.
Yang juga akurat adalah analisisnya tentang Rusia. Friedman memprediksi bahwa Rusia akan kembali sebagai kekuatan regional yang mengganggu, dan itulah yang terjadi dengan invasi Ukraina 2014 dan 2022. Namun ia mungkin meremehkan kemampuan Rusia untuk bertahan dari sanksi dan mengadaptasi ekonominya untuk perang.
Yang kurang akurat adalah prediksinya tentang Eropa. UE tidak runtuh seperti yang diprediksi Friedman. Sebaliknya, ia bertahan dari krisis zona euro, krisis pengungsi, Brexit, dan pandemi. Namun ketegangan internal—antara Jerman dan negara-negara selatan, antara “lama” dan “baru” Eropa—memang meningkat seperti yang diprediksi.
Yang paling kontroversial—dan sejauh ini tidak terwujud—adalah prediksinya tentang “pembalikan strategis” dengan Iran. Amerika tidak menjauh dari Israel atau menjalin kemitraan dengan Teheran. Sebaliknya, di bawah Trump, Amerika menarik diri dari kesepakatan nuklir dan meningkatkan sanksi. Di bawah Biden, upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan itu gagal.
Tetapi seperti dicatat seorang pengulas, “the most helpful thing about ‘The Next Decade’ is not necessarily the accuracy of the fault lines portrayed, but the illumination of critical thinking as applied by geopolitical strategists in today’s world”. Nilai buku ini bukan pada ramalan spesifiknya, tetapi pada cara berpikir yang diajarkannya: melihat dunia melalui lensa kepentingan, kekuasaan, dan keseimbangan, tanpa ilusi tetapi juga tanpa sinisme.
Catatan Akhir: Sang Pangeran dan Kita
Jika The Next Decade mengajarkan kita satu hal, itu adalah bahwa dunia terus berputar, kekuasaan terus bergeser, dan tidak ada yang abadi. Amerika mungkin dominan hari ini, tetapi bukan berarti akan dominan selamanya. China mungkin naik hari ini, tetapi bukan berarti akan naik selamanya. Satu-satunya konstanta adalah perubahan.
Dalam konteks Indonesia, buku ini relevan dalam beberapa hal. Pertama, ia mengingatkan kita bahwa negara-negara besar akan selalu berusaha mempengaruhi kawasan kita, dan kita harus cerdas dalam menavigasi persaingan mereka. Kedua, ia menunjukkan pentingnya memahami kepentingan negara lain—bukan sekadar retorika mereka—dalam merumuskan kebijakan luar negeri. Ketiga, ia menekankan bahwa dalam geopolitik, seperti dalam kehidupan, tidak ada yang hitam-putih. Sekutu hari ini bisa menjadi musuh besok, dan sebaliknya.
Bagi para pemimpin Indonesia, pelajaran dari Friedman adalah bahwa kebijakan luar negeri yang baik adalah kebijakan yang didasarkan pada realitas, bukan ilusi. Ini berarti memahami kekuatan dan kelemahan sendiri, memahami kepentingan dan keterbatasan orang lain, dan selalu siap untuk beradaptasi dengan perubahan. Ini bukan pandangan yang mulia, tetapi ini adalah pandangan yang realistis.
Pada akhirnya, The Next Decade adalah buku tentang kepemimpinan dalam dunia yang berbahaya. Ia ditulis untuk para pemimpin—terutama presiden Amerika—yang harus membuat keputusan sulit dengan informasi tidak lengkap dan konsekuensi yang tidak pasti. Tetapi ia juga ditulis untuk kita semua, warga negara yang hidup di bawah keputusan itu, yang harus memahami realitas dunia agar tidak menjadi korban ilusi.
Friedman tidak menawarkan kenyamanan. Dunia yang ia gambarkan adalah dunia yang keras, di mana niat baik tidak cukup dan moralitas sering menjadi korban kepentingan. Tetapi ia menawarkan kejelasan. Dengan memahami cara kerja kekuasaan, kita dapat membuat keputusan yang lebih baik, baik sebagai pemimpin maupun sebagai warga negara.
Anak laki-laki yang duduk di kafe Wina itu, yang menatap peta dan bertanya-tanya mengapa dunia begitu kejam, akhirnya menemukan jawabannya: dunia kejam karena begitulah cara kerjanya. Tetapi dengan memahami kekejaman itu, kita dapat melindungi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Dan kadang-kadang, jika kita cukup cerdas dan cukup beruntung, kita bahkan dapat membuatnya sedikit lebih baik.
Itulah yang ditawarkan The Next Decade: bukan harapan palsu, tetapi pemahaman jernih tentang realitas. Dan di dunia yang penuh ketidakpastian, kejelasan adalah anugerah yang langka dan berharga.
Bogor, 2 Maret 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Friedman, G. (2011). The next decade: Where we’ve been… and where we’re going (1st ed.). Doubleday.
Ulasan dan Analisis
Blair, J. (2011, February 24). Machiavelli for the 21st Century: “The Next Decade” Review. Business Insider. https://www.businessinsider.com/machiavelli-for-the-21st-century-the-next-decade-review-2011-2
Foundation for Defense of Democracies. (2011, February 6). ‘The Next Decade,’ by George Friedman: Review. SFGate.com / FDD.org. https://www.fdd.org/analysis/2011/02/06/the-next-decade-by-george-friedman-review/
Geopolitical Futures. (2026, January 8). George Friedman on Why the U.S. Cares About Venezuela, Cuba and Greenland. https://geopoliticalfutures.com/george-friedman-on-why-the-u-s-cares-about-venezuela-cuba-and-greenland/
Advisor Perspectives. (2026, January 26). Big Time Change. https://www.advisorperspectives.com/commentaries/2026/01/26/big-change?topic=emerging-markets
The Friday Times. (2025, November 18). Review Of The Next 100 Years: Assessing George Friedman’s Geopolitical Forecasts. https://www.thefridaytimes.com/18-Nov-2025/review-next-100-years-assessing-george-friedman-s-geopolitical-forecasts
Book Marks. (n.d.). The Storm Before the Calm: America’s Discord, the Coming Crisis of the 2020s, and the Triumph Beyond [Reviews]. https://bookmarks.reviews/reviews/all/the-storm-before-the-calm-americas-discord-the-coming-crisis-of-the-2020s-and-the-triumph-beyond/
Hudson, M. (2024, June 3). How will Colorado navigate ‘The Storm Before the Calm’? Colorado Politics. https://www.coloradopolitics.com/2024/06/03/how-will-colorado-navigate-the-storm-before-the-calm-hudson/
Tuchman, B. (1984). The march of folly: From Troy to Vietnam. Knopf.
Niebuhr, R. (1952). The irony of American history. Scribner.
Machiavelli, N. (1532). Il Principe (The Prince).






