Rubarubu #198
Once upon a time I lived on Mars:
Ruang Angkasa sebagai Cermin Bumi
Pada tahun 2013, di dalam sebuah kubah geodesik yang terisolasi di lereng gunung berapi Mauna Loa, Hawai’i, seorang penulis dan mantan insinyur bernama Kate Greene menghabiskan empat bulan hidup bersama lima orang asing. Mereka bukan sekadar bertetangga; mereka adalah kru simulasi misi ke Mars pertama NASA, HI-SEAS. Di dalam habitat terkurung seluas 1.200 kaki persegi itu, Greene tidak hanya menguji teknologi dan protokol untuk hidup di planet merah, tetapi juga menjalani eksperimen yang lebih dalam dan personal: bagaimana isolasi ekstrem, latensi komunikasi dengan “Bumi”, dan kehidupan di bawah kubah yang penuh pantulan bisa menjadi cermin yang jernih untuk memandang kembali makna menjadi manusia, hubungan, dan kehidupan itu sendiri di Bumi.
Once Upon a Time I Lived on Mars adalah memoir yang lahir dari pengalaman itu—bukan buku sains murni tentang eksplorasi antariksa, melainkan sebuah refleksi filosofis dan humanistik yang cerdas tentang apa yang terjadi ketika kita dipaksa untuk melihat dunia kita dari jarak yang paling jauh: dari sudut pandang seorang yang berpura-pura menjadi penghuni planet lain.
Kate Greene adalah penulis kru dan wakil komandan pada misi simulasi Mars pertama untuk proyek HI-SEAS yang didanai NASA. Seorang penyair, esais, dan mantan fisikawan laser, karyanya telah muncul di berbagai publikasi dan acara radio. Dia telah mengajar penulisan di Universitas Columbia, Universitas Negeri San Francisco, dan Penjara Perempuan Tennessee. Dia tinggal di Kota New York.
Buku ini adalah kumpulan esai yang saling bertaut, menggunakan simulasi Mars sebagai lensa untuk memeriksa beragam aspek kondisi manusia dengan kejernihan dan kedalaman yang luar biasa. Greene menolak narasi heroik eksplorasi ruang angkasa yang umum; sebaliknya, ia tertarik pada keintiman, kerapuhan, dan pertanyaan-pertanyaan sehari-hari yang mengemuka saat dunia kita menyusut menjadi sebuah kubah.
Melihat Bumi dari “Mars”
Dalam Pengantar yang puitis, Greene segera membingkai tesis bukunya: “Simulasi ini bukan tentang pergi ke Mars. Ini tentang tinggal di Bumi” (Greene, 2020, p. 3). Ia menggambarkan momen-momen awal di habitat HI-SEAS, di mana kekakuan protokol ilmiah berbenturan dengan kebutuhan manusiawi yang sederhana: kerinduan akan sentuhan, keinginan untuk merasakan angin langsung di kulit, atau godaan untuk melanggar batas simulasi.
Pendahuluan ini menetapkan nada untuk seluruh buku—sebuah penyelidikan yang kontemplatif tentang bagaimana batas-batas buatan (baik kubah di Hawai’i maupun jarak antariksa) justru mengungkap kebenaran mendasar tentang sifat kita yang terikat, terbatas, namun mendambakan koneksi. Greene mengutip perasaan aneh saat berkomunikasi dengan tim dukungan misi di “Bumi” dengan jeda waktu 20 menit, sebuah latensi yang dirancang untuk mensimulasikan jarak Mars-Bumi.
Jeda ini, katanya, “tidak hanya mengubah dinamika percakapan, tetapi juga kualitas pemikiran dan perasaan” (Greene, 2020, p. 8), memaksa refleksi yang lebih dalam sebelum merespons. Ini mengingatkan kita pada konsep “jarak psikologis” (psychological distance) dalam psikologi, di mana mengambil perspektif yang jauh justru dapat meningkatkan kejelasan berpikir dan pemrosesan informasi yang lebih abstrak (Trope & Liberman, 2010).
Melalui esai-esainya, Greene menyentuh tema-tema universal dengan sudut pandang yang unik:
Waktu dan Komunikasi: Bagaimana jeda komunikasi mengajarkan kesabaran dan kehati-hatian dalam berinteraksi, suatu pelajaran yang berharga di era media sosial yang serba instan. Ia merenung, “Di Mars, setiap kata ditimbang karena biayanya yang mahal—bukan dalam satuan moneter, tetapi dalam waktu dan perhatian” (Greene, 2020, p. 45).
Tubuh dan Lingkungan: Greene mendeskripsikan eksperimen mengenakan sensor untuk memantau pola tidur dan suasana hati kru, yang mengarah pada pertanyaan tentang privasi, kuantifikasi diri, dan bagaimana teknologi memediasi pengalaman kita akan tubuh sendiri. Ia bertanya, apakah data bisa benar-benar menangkap esensi pengalaman manusia?
Keterasingan dan Komunitas: Hidup bersama enam orang dalam ruang terbatas adalah studi mikro tentang masyarakat. Greene membahas konflik kecil, kebosanan, dan upaya membangun budaya bersama. Dari sini, ia merefleksikan arti komunitas dan tanggung jawab sosial di Bumi. Pemikir Muslim Ali Shariati dalam Man and Islam menyatakan, “Manusia adalah makhluk yang ‘menjadi’ dalam hubungannya dengan yang lain.” Eksperimen HI-SEAS menguji proposisi ini dalam kondisi ekstrem, menunjukkan bahwa identitas dan kesejahteraan kita memang terkristalisasi dalam jaringan hubungan, bahkan yang paling terbatas sekalipun.
Harapan dan Masa Depan: Simulasi ke Mars pada dasarnya adalah proyeksi harapan dan ketakutan umat manusia tentang masa depannya. Greene menghubungkan dorongan untuk menjelajah ruang angkasa dengan naluri manusia yang lebih dalam untuk bertahan hidup dan mencari makna. Penyair T.S. Eliot dalam Four Quartets menulis, “Kita tidak akan berhenti dari penjelajahan / Dan akhir dari semua penjelajahan kita / Akan sampai pada tempat awal kita / Dan mengenal tempat itu untuk pertama kalinya.” Greene, melalui simulasi “ke Mars” dan kembali, pada dasarnya mengalami siklus Eliot ini—menemukan Bumi yang baru dipahami.
Kematian dan Keberlanjutan: Misi ke Mars membayangkan risiko kematian yang sangat nyata. Greene menggunakan ini sebagai batu loncatan untuk merenungkan kefanaan, warisan, dan etika meninggalkan Bumi yang “rusak” untuk memulai yang baru. Ia mengutip pemikiran astronom Carl Sagan yang melihat Bumi dari kejauhan sebagai “titik biru pucat” (pale blue dot), sebuah perspektif yang merendahkan hati yang menekankan tanggung jawab kita untuk merawat satu-satunya rumah yang kita kenal.
Makanan, Kebosanan, dan Prototipe Manusia Antariksa
Dalam perjalanan kontemplatifnya di dalam kubah simulasi Mars, Kate Greene menggunakan tiga tema yang tampaknya biasa—makanan, kebosanan, dan figur seorang astronaut—sebagai portal untuk mengeksplorasi pertanyaan yang sangat dalam tentang identitas, ketahanan mental, dan esensi kemanusiaan. Bagian ini bukanlah laporan teknis, melainkan sebuah trilogi esai yang menyelami bagaimana kondisi ekstrem memaksa kita untuk memeriksa kembali hal-hal yang paling mendasar dalam hidup kita.
Kisah kita dimulai dengan urusan penting manusia: makanan atau dalam buku disebut sebaga Astro-Gastronomy, di mana Greene membalikkan pepatah “Kamu adalah apa yang kamu makan” menjadi pertanyaan yang lebih filosofis: “Siapa dirimu ketika yang kamu makan hanyalah bahan dehidrasi dan kalengan?” Di habitat HI-SEAS, makanan bukan sekadar bahan bakar. Ia menjadi penanda waktu (makan malam Sabtu adalah acara mingguan), sumber kenikmatan yang langka, dan, yang paling penting, jangkar memori dan identitas.
Jika kita berbicara tentang komunikasi dan jarak maka kata Greene, “Di Mars, setiap kata ditimbang karena biayanya yang mahal—bukan dalam satuan moneter, tetapi dalam waktu dan perhatian.” Latensi komunikasi 20 menit mengajarkan nilai kesengajaan dalam berkomunikasi, sebuah pelajaran berharga di dunia yang serba instan.
Greene menggambarkan bagaimana tindakan sederhana menyiapkan dan berbagi makanan—bahkan yang terbuat dari bahan beku-kering—menjadi ritual pencipta makna dalam lingkungan yang steril. Saat ia mencampurkan serbuk telur atau merendam sayuran dehidrasi, pikirannya melayang ke kenangan makanan di Bumi: rasa tomat segar yang pecah di mulut, aroma bawang yang ditumis oleh ibunya. “Makanan di Mars,” tulisnya, “selalu tentang Bumi. Ia adalah perantara untuk nostalgia, sebuah jembatan sensorik melintasi jarak psikologis yang tak terjembatani” (Greene, 2020, p. 67).
Astro-gastronomi menjadi studi tentang bagaimana kita menggunakan rasa dan bau untuk membangun rumah dalam ketiadaan, untuk tetap menjadi diri sendiri ketika segala sesuatu di sekitar berusaha membuat kita menjadi sesuatu yang lain—seorang pionir, seorang subjek penelitian, sebuah data point. Pemikir dan penyair Muslim Jalaluddin Rumi mungkin akan memahami dinamika ini ketika menulis, “Luka adalah tempat dimana Cahaya memasuki dirimu.” Dalam konteks Greene, “kekurangan” makanan segar adalah lukanya, dan cahaya yang masuk adalah kesadaran yang lebih tajam akan nilai dan makna yang terkandung dalam setiap suapan di Bumi.
Dari intensitas yang ditemukan dalam ritual makan, kita terjun ke palung pengalaman yang sebaliknya: On Boredom. Greene mengangkat kebosanan—sering dianggap sebagai musuh produktivitas modern—menjadi subjek penelitian yang sah dan bahkan berharga. Di Mars simulasi, di mana pemandangan tidak berubah, jadwalnya bisa repetitif, dan stimulasi dari dunia luar diblokir, kebosanan bukanlah pilihan; ia adalah kondisi atmosfer.
Greene berargumen bahwa dalam kehampaan ini, sesuatu yang ajaib bisa terjadi. Kebosanan, katanya, adalah “ruang hampa kognitif yang memungkinkan pikiran berkeliaran, berhubungan kembali dengan dirinya sendiri, dan terkadang menemukan wawasan yang tak terduga” (Greene, 2020, p. 102). Ia menyebutnya sebagai “inkubator untuk refleksi.” Dalam ketiadaan gangguan yang konstan, pikiran dipaksa untuk menghadapi dirinya sendiri, untuk bermain, atau untuk sekadar ada.
Hal ini menggemakan pemikiran filsuf Bertrand Russell, yang dalam The Conquest of Happiness menulis, “Kemampuan untuk menahan kebosanan sangat penting untuk kehidupan yang bahagia.” Greene membawa ini lebih jauh, menyarankan bahwa dalam budaya kita yang terhubung secara hiper, kita mungkin telah kehilangan kapasitas untuk bertahan—apalagi memanen—kebosanan. Dengan mensimulasikan lingkungan Mars di mana kebosanan tak terhindarkan, ia mempertanyakan apakah kita, sebagai spesies yang bercita-cita melintasi ruang angkasa, telah terlalu banyak memotong bagian dari jiwa manusia yang justru diperlukan untuk perjalanan panjang yang sunyi itu.
“Kebosanan adalah inkubator untuk refleksi… Di Mars, di mana pemandangan tidak pernah berubah, pikiran dipaksa untuk menghadapi dirinya sendiri.” Ia membalikkan narasi modern yang memusuhi kebosanan, mengangkatnya sebagai ruang yang diperlukan untuk kejelasan dan penemuan diri.
Kedua pengalaman ini—mencari kenyamanan dalam makanan dan menemukan kejelasan dalam kebosanan—semuanya bermuara pada pemeriksaan ulang sebuah ikon: The Standard Astronaut. Di sini, Greene melakukan dekonstruksi yang cermat terhadap citra publik astronaut: pahlawan super yang tak kenal takut, rasional sempurna, dan fisiknya prima. Melalui pengalamannya sendiri dan pengamatan terhadap rekan satu krunya, ia mengungkap keretakan pada citra tersebut.
“Standar Astronaut,” tulisnya, adalah sebuah “prototipe fiksi yang mengaburkan kenyataan yang lebih berantakan, lebih emosional, dan lebih manusiawi dari kehidupan dalam keterbatasan” (Greene, 2020, p. 135).
Ia mempertanyakan asumsi tentang siapa yang “tepat” untuk pergi ke luar angkasa. Apakah keberanian tanpa introspeksi lebih berharga daripada kerentanan yang penuh kesadaran? Apakah efisiensi teknis lebih penting daripada kemampuan untuk menciptakan makna dan kehangatan dalam kelompok kecil? Greene tidak memberikan jawaban mudah, tetapi dengan menghadirkan dirinya dan kru lainnya sebagai manusia yang lengkap—dengan keraguan, kerinduan, lelucon internal, dan momen kelemahan—ia membayangkan ulang masa depan eksplorasi.
Ia membayangkan astronaut yang tidak lagi menjadi mesin yang sempurna, melainkan “humanist-explorer” yang membawa serta keseluruhan dirinya yang kompleks, menggunakan bukan hanya alat-alat teknis tetapi juga alat-alat humaniora: empati, refleksi, dan kemampuan bercerita.
Dalam hal ini, ia selaras dengan semangat intelektual Muslim awal seperti Al-Biruni (973-1048 M), seorang polymath yang mengombinasikan keahlian dalam astronomi, matematika, dan fisika dengan antropologi, sejarah, dan linguistik dalam studinya tentang India. Eksplorasi sejati, menurut Greene dan tradisi seperti ini, membutuhkan penyatuan ilmu pengetahuan dan humaniora.
Dengan demikian, trilogi Astro-Gastronomy, On Boredom, dan The Standard Astronaut bersama-sama membentuk sebuah argumen yang koheren: untuk bertahan hidup dan ber-kembang di perbatasan baru, kita tidak boleh meninggalkan kemanusiaan kita; kita harus justru menggali lebih dalam ke dalamnya. Kita perlu memahami makanan sebagai narasi, kebosanan sebagai ruang kreatif, dan astronaut sebagai manusia yang utuh.
Greene pada akhirnya menunjukkan bahwa perjalanan terbesar dalam eksplorasi ruang angkasa mungkin bukan perjalanan melintasi jarak fisik, melainkan perjalanan ke dalam lanskap batin kita sendiri—dan itulah perjalanan yang pada akhirnya akan menentukan apakah kita layak untuk pergi, atau lebih penting lagi, apakah kita layak untuk kembali dengan kebijaksanaan yang lebih besar.
Tubuh, Wadah, Keterpisahan, dan Kata-Kata
Setelah mengeksplorasi makanan, kebosanan, dan citra astronaut, perjalanan introspektif Kate Greene memasuki wilayah yang lebih dalam dan personal. Bagian ini membentuk sebuah kuartet yang saling berhubungan, menyelidiki batas-batas antara tubuh dan data, antara diri dan ruang yang menampungnya, antara kesendirian dan hubungan, serta antara keheningan dan percakapan. Di sini, Greene mengarahkan mikroskop filosofisnya pada dinamika fundamental yang menentukan pengalaman menjadi manusia—terutama ketika manusia itu menjadi subjek penelitian di dalam sebuah “wadah” di lereng gunung berapi.
Kisah ini dimulai dengan pemeriksaan yang menusuk terhadap diri sendiri sebagai objek: Guinea-Pigging. Greene dengan jujur mengakui paradoks menjadi bagian dari misi simulasi: ia adalah seorang penulis dan pengamat, tetapi juga “subjek penelitian,” sebuah titik data yang hidup dan bernapas. Ia menggambarkan proses mengenakan sensor yang memantau pola tidur, suasana hati, dan interaksi sosial. Tindakan mengkuantifikasi pengalaman manusia yang begitu intim ini menimbulkan pertanyaan yang mengganggu: “Ketika setiap detak jantung, setiap perubahan suasana hati, setiap percakapan dicatat dan dianalisis, apakah hakikat pengalaman itu sendiri berubah? Apakah kita mengurangi diri kita menjadi algoritma?” (Greene, 2020, p. 155).
Greene meragukan dampak teknologi pemantauan diri terhadap keaslian pengalaman manusia, sebuah refleksi yang relevan di era wearable tech dan media sosial. Greene merasa seperti marmut percobaan, bukan hanya untuk sains Mars, tetapi untuk era Big Data yang lebih luas. Ia merenungkan bagaimana teknologi pengawasan diri—dari pelacak kebugaran hingga media sosial—mengubah hubungan kita dengan tubuh dan identitas kita sendiri. Dalam keresahannya ini, kita mendengar gema pemikir Muslim abad pertengahan Al-Ghazali, yang dalam Ihya’ Ulum al-Din memperingatkan tentang bahaya “riyā'” (pamer atau kesadaran akan dilihat orang lain) yang dapat merusak kemurnian niat dan tindakan. Sensor di tubuh Greene adalah bentuk fisik dari “penglihatan” eksternal yang konstan, memaksa pertanyaan: apakah tindakanku masih otentik, atau telah disesuaikan untuk “tampil baik” di depan mata yang mengamati, meskipun mata itu adalah sensor elektronik?
Dari tubuh yang termonitor, perhatian kita dialihkan ke kulit yang membungkusnya: On Vessels. Habitat HI-SEAS—kubah geodesiknya—lebih dari sekadar tempat tinggal; ia adalah sebuah “wadah” (vessel) dalam arti yang ganda: wadah fisik untuk melindungi kehidupan, dan wadah metaforis untuk identitas, harapan, dan ketakutan kru. Greene merenungkan bagaimana arsitektur membentuk psikologi. Kubah itu, katanya, adalah “sebuah rahim dan sebuah penjara, sebuah kapal antariksa dan sebuah akuarium” (Greene, 2020, p. 182).
Ia memantulkan kembali segala sesuatu: suara, cahaya, energi, dan dinamika sosial. Dengan tinggal di dalam wadah yang begitu jelas terdefinisi dan terisolasi, Greene menjadi sangat sadar akan batas-batas. Batas antara dalam dan luar menjadi sakral; melangkah keluar tanpa pakaian antariksa simulasi adalah pelanggaran mendasar terhadap realitas eksperimen. Kesadaran ini memicu refleksi tentang wadah-wadah lain yang menampung kita: tubuh kita, keluarga kita, komunitas, negara, bahkan planet Bumi itu sendiri. Setiap wadah, seperti kubah itu, sekaligus melindungi dan membatasi, mendefinisikan dan memisahkan.
Pembahasan tentang wadah secara alami mengalir ke dalam kondisi yang dihasilkannya: On Isolation. Greene menolak penyederhanaan bahwa isolasi hanyalah kesepian. Sebaliknya, ia menguraikannya sebagai “sebuah keadaan kompleks yang terdiri dari keterputusan fisik, kelambatan temporal, dan kejenuhan dengan yang familiar” (Greene, 2020, p. 210). Di Mars simulasi, isolasi bukanlah ketiadaan orang lain (mereka ada enam orang), melainkan ketiadaan yang lain—pemandangan baru, suara tak terduga, kejutan dari dunia yang hidup. Ini adalah isolasi sensorik dan kultural.
Greene menemukan bahwa kondisi ini mengasah persepsinya terhadap yang kecil: perubahan ekspresi wajah rekan setim, nuansa dalam nada suara, pola cahaya di dinding kubah. Isolasi, dalam analisisnya, memaksa “sebuah pemusatan perhatian yang ekstrem pada apa yang ada di dalam wadah, yang pada akhirnya adalah pada diri sendiri dan sesama penghuni wadah.” Filsuf eksistensialis Søren Kierkegaard pernah menulis, “Kesendirian mengajarkan kita untuk hidup bukan dalam dunia eksternal yang menyempit, tetapi dalam kekayaan batin yang semakin meluas.”
Greene mengalami kebenaran ini, meski dengan taruhan yang tinggi. Isolasi HI-SEAS menjadi katalis untuk penyelidikan diri yang mendalam, namun juga menguji ketahanan jaringan sosial mikro di dalam kubah.
Namun, bahkan dalam isolasi yang paling ketat, ada kebutuhan mendasar untuk terhubung melampaui wadah. Inilah yang dibahas dalam On Correspondence. Dengan komunikasi ke “Bumi” yang mengalami latensi 20 menit, setiap email atau pesan menjadi sebuah “kapsul waktu,”sebuah upaya yang disengaja dan penuh perhitungan untuk menjangkau melintasi jurang simulasi. Greene menemukan keindahan yang baru dalam bentuk komunikasi yang lambat dan tertulis ini. “Surat-menyurat yang tertunda,” tulisnya, “mengajarkan seni mendengarkan diri sendiri sebelum berbicara, dan merenungkan kata-kata orang lain dengan ruang yang lapang” (Greene, 2020, p. 245).
Ini adalah antitesis dari obrolan instan dan media sosial. Setiap kata ditimbang, setiap kalimat disusun dengan hati-hati. Greene menghubungkan ini dengan tradisi surat-menyurat para penjelajah dan ilmuwan besar masa lalu. Dalam jeda 20 menit itu, ia menemukan ruang untuk refleksi yang hilang dalam komunikasi modern. Di sini, penyair dan intelektual Persia Saadi Shirazi dalam Gulistan-nya mungkin akan berkomentar, “Ucapan itu seperti pohon, buahnya adalah makna.” Greene, dalam korespondensinya yang tertunda, mengalami proses penanaman, penantian, dan akhirnya panen makna tersebut dengan intensitas yang langka.
Dengan demikian, kuartet Guinea-Pigging, On Vessels, On Isolation, dan On Correspondence membentuk sebuah narasi yang koheren tentang diri dalam konteks. Narasi ini bergerak dari tubuh yang diukur, menuju ruang yang membatasi, memasuki pikiran yang terkonsentrasi akibat isolasi, dan berakhir pada kata-kata yang disusun dengan sengaja untuk menjembatani jurang. Greene menunjukkan bahwa untuk mempersiapkan kehidupan di Mars, kita harus terlebih dahulu memahami dengan intim bagaimana tubuh kita berhubungan dengan teknologi, bagaimana ruang membentuk pikiran kita, bagaimana kesendirian mengubah persepsi kita, dan bagaimana komunikasi yang lambat justru bisa memperkaya hubungan kita.
Pada akhirnya, bagian ini adalah meditasi yang mendalam tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia yang utuh—dengan otonomi, kedalaman, dan koneksi—bahkan ketika kita dengan sukarela memasukkan diri kita ke dalam wadah eksperimen yang paling ketat sekalipun. Eksplorasi antariksa, dalam pandangan Greene, pada akhirnya adalah eksplorasi batas-batas dan potensi dari kondisi manusia itu sendiri.
Mimpi, Waktu, Uang, dan Kembali ke Rumah
Setelah menyelami realitas mikro kehidupan dalam simulasi, Kate Greene dalam bagian penutup bukunya mengangkat pandangannya ke cakrawala yang lebih luas: ke masa depan umat manusia, ke kedalaman waktu kosmik, ke pragmatisme politik pembiayaan, dan akhirnya, ke momen transisi yang menentukan—kembali ke Bumi. Bagian ini adalah crescendo filosofis di mana refleksi personal Greene bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang paling besar tentang tujuan, nilai, dan tempat kita di alam semesta.
Perjalanan dimulai dengan kontemplasi tentang Dreams Of Mars, Dreams Of Earth. Greene dengan cerdik mengurai benang kusut antara dua mimpi yang tampaknya berlawanan: mimpi untuk menjelajah ke planet baru dan mimpi untuk memulihkan planet lama kita. “Apakah Mars adalah rencana pelarian, atau bagian dari rencana keselamatan?” tanyanya (Greene, 2020, p. 265). Ia mengamati bagaimana narasi penjajahan Mars sering kali membayangkan sebuah tabula rasa, sebuah awal yang bersih, bebas dari kesalahan dan warisan kerusakan Bumi.
“Apakah Mars adalah rencana pelarian, atau bagian dari rencana keselamatan?” (Bagian IX: Dreams of Mars, Dreams of Earth). Apakah ini tentang mimpi atau realitas? Greene memper-tanyakan motivasi mendalam di balik eksplorasi antariksa: apakah kita mencari dunia baru atau justru menghindari tanggung jawab memperbaiki dunia lama?
Namun, Greene memperingatkan bahwa kita akan membawa serta pola pikir dan masalah kita. Mimpi tentang Mars, dalam analisisnya, adalah cermin yang memantulkan ketakutan dan harapan kita tentang Bumi. Ia mengutip ilmuwan planet Carol Stoker, yang berpendapat bahwa mempelajari Mars yang kering dan beku justru membantu kita memahami perubahan iklim Bumi dengan lebih baik. Dengan demikian, kedua mimpi itu tidak terpisah, melainkan saling mengikat.
Pemikir ekofeminis Vandana Shiva mungkin akan menambahkan bahwa “mimpi pelarian” ke Mars adalah kelanjutan dari paradigma eksploitatif yang sama yang merusak Bumi, sementara “mimpi keselamatan” membutuhkan perubahan radikal dalam hubungan kita dengan alam di rumah kita yang satu-satunya ini.
Pemikiran ini secara alami membawa kita ke dalam jurang perspektif yang lebih dalam: Deep Time, Deep Space. Di sini, Greene menggunakan pengalaman tinggal di kubah—di mana waktu diatur oleh jadwal misi yang ketat—sebagai batu loncatan untuk merenungkan skala waktu geologis dan kosmik. “Di Mars simulasi, kami hidup dalam waktu siklus yang kecil.
Tetapi Mars yang sebenarnya adalah sebuah arsip ‘waktu dalam’ (deep time), permukaannya menyimpan catatan miliaran tahun” (Greene, 2020, p. 290). Greene merenungkan bagaimana eksplorasi ruang angkasa memaksa kita untuk berpikir dalam skala waktu yang melampaui umur peradaban, bahkan spesies kita.
“Mars yang sebenarnya adalah sebuah arsip ‘waktu dalam’ (deep time)… sebuah realisasi yang sekaligus membuat kita rendah hati dan penuh kagum.” (Bagian X: Deep Time, Deep Space)
Perspektif kosmik ini menempatkan drama manusia dalam skala yang tepat, meredam narasi keagungan manusia.
Ini adalah latihan kerendahan hati yang luar biasa. Perspektif ini mengingatkan pada konsep “ḥisāb” (perhitungan) dalam kosmologi Islam, yang merujuk pada skala waktu ilahi yang tak terbayangkan dibandingkan dengan waktu manusia. Astronom dan penyair Muslim Omar Khayyam menangkap kontras ini dengan puitis dalam Rubaiyat: “Jari yang bergerak menulis, dan telah menulis, / Terus bergerak: bukan semua kesalehan atau kebijaksanaanmu / Akan menariknya kembali untuk membatalkan setengah baris, / Tidak juga air matamu menghapus satu kata darinya.”
Waktu kosmik terus berjalan, tak peduli dengan drama manusia kita. Menghadapi “waktu dalam” Mars, Greene menyadari bahwa proyek eksplorasi manusia hanyalah sebuah titik kecil dalam garis waktu yang besar, sebuah realisasi yang sekaligus membuatnya rendah hati dan penuh kagum.
Namun, visi yang agung ini harus berhadapan dengan realitas yang keras: Hundreds Of Billions Of Dollars. Greene beralih dari kontemplasi kosmik ke audit ekonomi yang dingin. Ia memper-tanyakan alokasi sumber daya yang fantastis untuk perjalanan ke Mars sementara Bumi ber-gumul dengan kemiskinan, ketidaksetaraan, dan kerusakan lingkungan. “Berapa nilai sebuah mimpi, dan siapa yang berhak memimpikannya?” (Greene, 2020, p. 315). Ia tidak mengambil sikap simplistik menentang eksplorasi ruang angkasa, tetapi menuntut kejernihan dan akuntabilitas.
Greene berargumen bahwa pembenaran untuk pengeluaran besar seperti itu—sering kali didasarkan pada “efek samping” (spinoff) teknologi atau inspirasi bagi generasi muda—terkadang terasa rapuh. Ia membayangkan sebuah model di mana investasi dalam ilmu pengetahuan antariksa secara eksplisit dan langsung terikat dengan investasi dalam penyelesai-an masalah Bumi, menciptakan sebuah “etika anggaran terpadu” untuk planet dan kemanusia-an. Ini adalah panggilan untuk “audit eksistensial”—memastikan bahwa pengeluaran besar-besaran kita selaras dengan nilai-nilai dan kebutuhan kita yang paling mendesak.
Semua pertanyaan besar ini—tentang tujuan, waktu, dan biaya—mencapai puncaknya dalam tindakan yang paling sederhana dan paling simbolis: Exits And Air Locks. Greene menggambar-kan momen keluar dari kubah HI-SEAS, melewati airlock untuk terakhir kalinya, tidak dengan kemenangan seorang pahlawan, tetapi dengan perasaan yang campur aduk: lega, kerinduan, disorientasi. “Airlock adalah ruang liminal par excellence,” tulisnya, “bukan di dalam maupun di luar, sebuah tempat transisi di antara dua realitas” (Greene, 2020, p. 340).
“Airlock adalah ruang liminal par excellence, bukan di dalam maupun di luar, sebuah tempat transisi di antara dua realitas.” Momen keluar dari simulasi menjadi metafora yang kuat untuk setiap transisi dalam hidup yang mengubah identitas kita.
Keluar dari simulasi adalah kelahiran kembali yang canggung. Suara angin yang nyata terasa asing; warna hijau vegetasi Hawai’i tampak hampir memuakkan dalam kejenuhannya. Greene menyadari bahwa ia tidak hanya meninggalkan sebuah habitat; ia meninggalkan sebuah versi dirinya sendiri—si penghuni Mars—dan harus berintegrasi kembali dengan dirinya yang lain di Bumi. Air lock, dalam metafora yang kuat, menjadi simbol untuk setiap transisi penting dalam hidup, setiap perjalanan yang mengubah kita, di mana kita tidak bisa lagi sepenuhnya kembali ke keadaan sebelumnya.
Filsuf Tiongkok Laozi dalam Tao Te Ching menulis, “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah.” Greene melengkapi kebijaksanaan ini: perjalanan seribu mil juga berakhir dengan satu langkah—langkah keluar dari air lock—dan langkah itu mengubah sang pejalan untuk selamanya.
Dengan demikian, kuartet penutup ini menyempurnakan narasi Greene dengan menganyam visi kosmik dengan realitas bumi, dan transformasi pribadi dengan pertanyaan kolektif. Ia menunjukkan bahwa mimpi tentang Mars pada akhirnya adalah alat yang ampuh untuk menginterogasi mimpi kita tentang Bumi; bahwa mengukur diri kita dengan “waktu dalam” adalah latihan kerendahan hati yang penting; bahwa setiap dolar yang dihabiskan untuk bintang-bintang harus dipertanggungjawabkan kepada mereka yang masih kesulitan di Bumi; dan bahwa setiap ekspedisi besar, pada akhirnya, adalah perjalanan pulang ke diri sendiri yang telah berubah.
Greene meninggalkan kita bukan dengan jawaban, tetapi dengan sebuah kesadaran yang lebih tajam bahwa menjelajah ruang angkasa bukanlah tentang melarikan diri dari kondisi manusia, melainkan tentang memahaminya dengan lebih penuh, lebih dalam, dan dengan tanggung jawab yang lebih besar.
Buku ini bukan tentang Mars, melainkan tentang apa yang terjadi ketika kita mencoba meninggalkan Bumi. Melalui pengalamannya sebagai bagian dari kru HI-SEAS—simulasi habitat Mars pertama NASA di Hawai’i—Kate Greene menulis bukan laporan eksplorasi antariksa, melainkan serangkaian esai filosofis yang mendalam tentang kondisi manusia ketika ditempatkan dalam batas-batas yang ekstrem.
Greene menggunakan habitat simulasi sebagai “laboratorium untuk mempelajari Bumi dengan cara yang baru”. Isolasi, latensi komunikasi, dan kehidupan dalam kubah menjadi lensa untuk memeriksa ulang hal-hal yang kita anggap remeh di Bumi: hubungan, waktu, makanan, kebosanan, dan makna menjadi manusia.
Catatan Akhir: Rumah yang Paling Kita Kenal
Once Upon a Time I Lived on Mars adalah buku yang bersifat humanistik dan reflektif, sebuah counter-narrative untuk cerita heroik eksplorasi ruang angkasa. Greene menawarkan visi yang lebih bijaksana: bahwa sebelum kita mengirim manusia ke Mars, kita harus lebih dulu memahami “astronot” sebagai manusia yang utuh—dengan kerentanannya, kebutuhan akan makna, dan kapasitas untuk introspeksi. Buku ini pada akhirnya adalah panggilan untuk melihat Bumi dengan kasih sayang dan kejelasan yang baru, karena justru dengan memandangnya dari sudut pandang seorang penghuni Mars-semu, kita bisa benar-benar menghargai keajaiban, kompleksitas, dan tanggung jawab kita terhadap satu-satunya rumah yang kita kenal.
Gagasan Greene sangat relevan di dunia pasca-pandemi (buku ini terbit di awal 2020), di mana banyak orang mengalami bentuk isolasi, latensi komunikasi digital, dan kehidupan yang terkungkung. Buku ini menjadi manual reflektif untuk hidup di dunia yang semakin terfrag-mentasi namun terhubung secara virtual. Ia menawarkan alat untuk merenungkan konsekuensi psikologis dan sosial dari kehidupan terbatas, apakah itu di dalam kubah, di dalam rumah selama lockdown, atau di dalam “filter bubble” media sosial kita.
Prospek masa depan yang ditawarkan buku ini adalah visi eksplorasi ruang angkasa yang lebih bijaksana dan reflektif. Greene tidak menentang pergi ke Mars, tetapi ia menyerukan agar kita membawa serta kemanusiaan kita yang paling baik—kesadaran akan kerapuhan, kebutuhan akan komunitas, dan etika perawatan. Saat perusahaan swasta dan negara berlomba ke angkasa, bukunya berfungsi sebagai pengingat penting bahwa teknologi paling canggih pun tidak berguna tanpa kebijaksanaan untuk menggunakannya. Ia mengajak kita untuk melihat eksplorasi ruang angkasa bukan sebagai pelarian dari masalah Bumi, tetapi sebagai cermin yang memaksa kita untuk menghadapi masalah tersebut dengan lebih jujur dan kreatif.
Dalam hal ini, pemikir Islam kontemporer seperti Dr. Mostafa Mahmoud (dalam bukunya Dialog dengan seorang Atheis) mungkin akan mengingatkan kita bahwa penjelajahan alam semesta seharusnya memperdalam rasa syukur (shukr) dan tanggung jawab kita sebagai khalifah (pengelola) di Bumi, bukan mengobarkan rasa lari dari tanggung jawab tersebut.
“Apa yang kami pelajari di Hawai’i tidak banyak tentang bagaimana bertahan hidup di Mars, tetapi tentang bagaimana berkembang sebagai manusia.”
“Ruang angkasa, akhirnya, adalah tentang Bumi. Ini tentang kita. Dan pertanyaan tentang apakah kita harus pergi ke sana adalah pertanyaan tentang siapa kita dan ingin menjadi apa.”
Cirebon, 5 Juni 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Al-Biruni. (c. 1030). Taḥqīq mā li-l-Hind [Verifying all that the Indians recount]. (Teks berbahasa Arab klasik).
Al-Ghazali. (c. 1100). Iḥyā’ ‘ulūm al-dīn [The revival of the religious sciences]. (Teks berbahasa Arab klasik).
Eliot, T. S. (1943). Four quartets. Faber & Faber.
Greene, K. (2020). Once upon a time I lived on Mars: Space, exploration, and life on Earth. St. Martin’s Press.
Khayyam, O. (c. 1120). Rubaiyat of Omar Khayyam (E. Fitzgerald, Trans.). (Pertama kali diterbitkan tahun 1859). (Terdapat berbagai edisi).
Kierkegaard, S. (1849). The sickness unto death (H. V. Hong & E. H. Hong, Trans.). Princeton University Press. (Terjemahan standar tahun 1980).
Laozi. (c. 6th century BCE). Tao te ching (D. C. Lau, Trans.). Penguin Books. (Terjemahan standar tahun 1963).
Mahmoud, M. (1970). Al-Ḥiwār ma‘a al-mulḥid [Dialog dengan seorang ateis]. Dār al-Ma‘ārif.
Rumi, J. (2004). The essential Rumi (C. Barks, Trans.). HarperCollins.
Russell, B. (1930). The conquest of happiness. Liveright Publishing.
Saadi Shirazi. (1258). Gulistān [The rose garden] (W. M. Thackston, Trans.). Ibex Publishers. (Terjemahan standar tahun 2008).
Sagan, C. (1994). Pale blue dot: A vision of the human future in space. Random House.
Shariati, A. (1979). Man and Islam (H. Algar, Trans.). Mizan Press.
Shiva, V. (1993). Monocultures of the mind: Perspectives on biodiversity and biotechnology. Zed Books.
Trope, Y., & Liberman, N. (2010). Construal-level theory of psychological distance. Psychological Review, 117(2), 440–463. https://doi.org/10.1037/a0018963





