Rubarubu #207
Is Shame Necessary?
Rasa Malu yang Hilang, Kekuatan yang Dilupakan
Bayangkan Anda hadir dalam sebuah sidang pengadilan di Ohio, tahun 2011. Seorang pria bernama Reginald Brooks, yang dua puluh sembilan tahun sebelumnya telah membunuh ketiga putranya sendiri saat mereka tertidur, terbaring di atas ranjang eksekusi. Menjelang ajal, ketika mantan istrinya—ibu dari anak-anak yang dibunuhnya—menatap dari balik kaca, Brooks melakukan sesuatu yang membuat ruangan membeku. Ia mengacungkan kedua jari tengahnya. Bukan tanda perdamaian. Bukan penyesalan. Bukan rasa malu. Hanya penghinaan terakhir yang dingin dan tanpa beban.
Di ujung spektrum yang lain, hiduplah seorang novelis bernama Jonathan Franzen. Sebuah kalimat semi-autobiografis dalam tulisannya membuatnya merasa ingin mandi. Rasa malu atas pernikahan pertamanya, atas ketidakberpengalamannya dalam hubungan, atas “kepolosan” masa lalunya, begitu membekap sehingga ia mengalami writer’s block selama satu dekade penuh.
Dua manusia. Dua kutub rasa malu. Yang satu tak memilikinya sama sekali meskipun telah melakukan kekejaman yang tak terkatakan. Yang lain tenggelam di dalamnya hanya karena sebuah kalimat yang jujur. Di antara kedua kutub inilah Jennifer Jacquet, seorang profesor studi lingkungan di New York University, memilih untuk berlabuh dalam bukunya yang provokatif, Is Shame Necessary? New Uses for an Old Tool.
Buku terbitan Pantheon Books, New York (2015) ini bukanlah pembelaan buta terhadap rasa malu, juga bukan seruan untuk kembali ke era hukuman publik yang kejam. Jacquet menawar-kan sesuatu yang lebih halus dan lebih berbahaya sekaligus: sebuah argumen bahwa rasa malu —jika digunakan dengan cermat, proporsional, dan strategis—dapat menjadi alat perubahan sosial yang luar biasa ampuh, terutama ketika mekanisme formal seperti hukum dan denda telah gagal.
Membedah Anatomi Rona di Wajah
Jacquet memulai dengan pekerjaan paling dasar namun paling krusial: menjelaskan apa sebenarnya rasa malu itu. Dalam budaya kontemporer, kita sering menggunakan kata shame dan guilt secara bergantian, seolah keduanya adalah saudara kembar yang identik. Namun Jacquet menunjukkan bahwa mereka adalah sepupu yang sangat berbeda, dengan DNA emosional yang berbeda pula.
Rasa malu, menurut Jacquet, adalah emosi yang bergantung pada kehadiran orang lain. Ia lahir ketika seseorang menyadari bahwa pelanggarannya terlihat oleh audiens, nyata atau imajiner. Wajah yang merona, mata yang menunduk, keinginan untuk membenamkan diri ke dalam tanah—semua ini adalah bahasa tubuh rasa malu, dan bahasa ini tidak membutuhkan kata-kata.
Ia adalah respons evolusioner yang dalam, yang dapat ditemukan dalam berbagai budaya di seluruh dunia, dari pedesaan Papua hingga pinggiran kota London. Guilt, sebaliknya, bekerja secara internal: ia adalah suara hati yang menggerogoti seseorang ketika ia melanggar standarnya sendiri. Guilt tidak butuh penonton; ia butuh cermin. “A hyper-individualist and privacy-loving society is left, at least allegorically, with guilt as its primary hope for social control,” tulis Jacquet.
Jacquet juga membedakan antara shame dan embarrassment (rasa canggung). Yang terakhir biasanya terkait dengan pelanggaran ringan dan sosial yang tidak disengaja—seperti tersandung di depan umum atau lupa nama seseorang—dan berlalu dengan cepat, seringkali diikuti oleh tawa. Rasa malu, sebaliknya, terkait dengan pelanggaran moral yang lebih serius, dan ia meninggalkan bekas yang lebih dalam. Ia juga memperkenalkan konsep shame-by-association—rasa malu yang dirasakan karena menjadi bagian dari kelompok yang melakukan pelanggaran, meskipun individu tersebut tidak secara personal bertanggung jawab.
Seorang warga Jerman pasca-Holocaust mungkin merasa malu meskipun ia tidak lahir ketika Nazi berkuasa; seorang penggemar tim sepak bola yang melakukan kekerasan mungkin merasa malu meskipun ia tidak ikut serta. Rasa malu kolektif ini adalah salah satu kekuatan paling kuat yang dapat dimobilisasi untuk perubahan sosial, tetapi juga salah satu yang paling berbahaya jika salah arah.
Ketika Rasa Bersalah Naik Tahta
Dari definisi, Jacquet beralih ke sejarah. Mengapa di dunia Barat modern, rasa malu menjadi semacam kata kotor, sementara guilt dipuja sebagai emosi moral yang matang? Ia mengingatkan kita pada antropolog Ruth Benedict dan Margaret Mead yang, dalam kajian mereka tentang budaya Jepang pasca-Perang Dunia II, membedakan antara guilt cultures (budaya rasa bersalah) dan shame cultures (budaya rasa malu). Dalam The Chrysanthemum and the Sword, Benedict menggambarkan Jepang sebagai masyarakat yang mengandalkan rasa malu sebagai instrumen kontrol sosial utama, sementara Barat mengandalkan rasa bersalah. Namun Jacquet tidak tertarik pada hierarki moral antara keduanya; ia lebih tertarik pada fungsi masing-masing, dan bagaimana salah satunya perlahan menang di dunia Barat.
Jacquet melacak kebangkitan guilt hingga ke akar-akar agama Kristen, terutama tradisi Augustine dan Protestantisme. Dalam kerangka teologis ini, dosa adalah urusan antara individu dan Tuhan; tidak perlu penonton. Pengakuan dosa bisa dilakukan dalam keheningan kamar, di hadapan imam dalam kotak pengakuan yang tertutup, atau langsung kepada Tuhan tanpa perantara. Ini adalah internalisasi kontrol moral—sebuah pergeseran dari eksternal ke internal, dari sosial ke individual.
Guilt menjadi pusat dari “budaya individualis” yang mulai berkembang di Eropa dan Amerika. Psikoanalisis Freudian memperkuat narasi ini: superego adalah hakim internal yang meng-hukum kita dengan rasa bersalah. Orang yang sehat secara psikologis dianggap sebagai orang yang memiliki kapasitas untuk merasa bersalah, sementara rasa malu didiagnosis sebagai tanda neurosis atau bahkan psikopati.
Jacquet mengkritik narasi ini tanpa menolak sepenuhnya. Ia mengakui bahwa guilt memiliki fungsi penting: guilt memungkinkan kita untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai kita bahkan ketika tidak ada yang melihat, dan menjadi fondasi dari integritas pribadi. Namun masalahnya adalah bahwa guilt tidak dapat berskala. Ia tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah besar yang dihadapi masyarakat modern—polusi udara global, penghindaran pajak oleh perusahaan multinasional, kebohongan sistematis oleh para pemimpin politik.
The Limits to Guilt — Tembok yang Tak Bisa Dijangkau Rasa Bersalah
Jika guilt memiliki keterbatasan, apa saja keterbatasan itu? Bab Tiga ini adalah pengakuan jujur dari Jacquet bahwa ia tidak menentang guilt secara buta; ia hanya menyadari bahwa guilt tidak cukup.
Pertama, guilt tidak efektif melawan pelanggaran yang menguntungkan pelaku secara besar-besaran. Seorang CEO perusahaan minyak tahu bahwa aktivitas perusahaannya berkontribusi pada perubahan iklim; ia mungkin merasa sedikit bersalah, tetapi perasaan itu dengan mudah dikalahkan oleh bonus jutaan dolar, tekanan dari pemegang saham, dan fakta bahwa banyak perusahaan lain melakukan hal yang sama. Guilt adalah lawan yang lemah melawan insentif ekonomi yang kuat. Kedua, guilt membutuhkan empati dan koneksi personal. Sulit merasa bersalah terhadap orang yang tidak kita kenal, yang hidup di belahan dunia lain, yang akan terkena dampak keputusan kita dua puluh tahun dari sekarang. Krisis lingkungan adalah krisis jarak temporal dan geografis yang tidak dapat dijembatani guilt dengan mudah. Ketiga, guilt rentan terhadap moral licensing—fenomena di mana seseorang yang sudah merasa “cukup baik” dalam satu area merasa terlisensi untuk berperilaku buruk di area lain. Seseorang yang sudah menyumbang untuk amal lingkungan mungkin merasa tidak perlu mengurangi konsumsi energinya; seseorang yang sudah mendaur ulang sampah mungkin merasa bebas untuk terbang dengan pesawat pribadi. Guilt yang puas dengan dirinya sendiri adalah guilt yang telah kehilangan fungsinya.
Jacquet memberikan contoh konkret: upaya mengurangi penggunaan kantong plastik di supermarket. Kampanye berbasis guilt—poster tentang penyu yang mati, imbauan emosional untuk “menyelamatkan planet”—hanya berhasil pada sebagian kecil populasi yang sudah peduli. Namun ketika beberapa kota dan negara bagian menerapkan pajak kecil untuk kantong plastik, atau bahkan sekadar mengubah norma sosial dengan kampanye shaming ringan (“apakah Anda tidak malu membawa puluhan kantong plastik?”), tingkat penggunaan plastik turun drastis. Ini bukan karena orang tiba-tiba menjadi lebih peduli, melainkan karena mereka tidak ingin terlihat murahan di mata tetangganya.
Bad Apples — Mengapa Apel Buruk Merusak Seluruh Keranjang
Dari batasan guilt, Jacquet beralih ke fenomena yang lebih spesifik: apa yang terjadi ketika ada individu yang dengan sengaja atau tidak sengaja merusak norma kolektif. “Bad Apples” adalah metafora yang sempurna—satu apel busuk di dalam keranjang dapat menginfeksi apel-apel di sekitarnya. Satu orang yang melanggar aturan antrean dapat membuat orang lain merasa bodoh karena tetap patuh. Satu politisi yang berbohong tanpa konsekuensi dapat menormalisasi kebohongan di seluruh sistem politik.
Jacquet merujuk pada penelitian psikologi sosial tentang norm violation. Ketika satu orang melanggar norma (misalnya membuang sampah sembarangan di taman yang bersih), efeknya tidak berhenti pada pelanggaran itu sendiri; ia mengirimkan sinyal bahwa norma itu tidak lagi ditegakkan, dan orang lain akan mulai melanggar. Dalam waktu singkat, taman yang semula bersih menjadi kotor—ini adalah versi lain dari teori “Broken Windows” yang kita kenal dari kriminologi, tetapi diterapkan pada ranah moral dan sosial yang lebih luas.
Pertanyaan besarnya adalah bagaimana mengatasi bad apples ketika guilt tidak cukup. Memanggil polisi untuk setiap pelanggaran kecil tidak realistis; memberi kuliah moral kepada setiap pelanggar juga tidak efektif. Di sinilah rasa malu masuk. Rasa malu publik—sekadar tatapan tidak setuju dari tetangga, teguran ringan dari sesama pengunjung taman, atau dalam kasus yang lebih serius, publikasi nama di media lokal—dapat menghentikan bad apples sebelum mereka menginfeksi yang lain. Namun Jacquet juga membahas sisi gelap dari pendekatan ini: terlalu cepat mempermalukan seseorang dapat berbalik menjadi victim blaming atau perundungan. Ada perbedaan besar antara mempermalukan CEO yang mencemari sungai dan mempermalukan seorang ibu muda yang anaknya rewel di pesawat. Bad apples yang dimaksud Jacquet adalah mereka yang memiliki kekuatan atau pilihan untuk berperilaku berbeda, bukan mereka yang berada dalam situasi sulit yang tidak bisa dihindari.
How Norms Become Normal — Alkimia Sosial di Balik Perilaku Sehari-hari
Bab kelima ini mungkin yang paling subtil sekaligus paling optimis dalam rangkaian fondasi Jacquet. Ia bertanya: bagaimana sesuatu yang awalnya asing atau bahkan kontroversial bisa menjadi “normal”? Bagaimana perilaku yang dulunya memalukan bisa menjadi biasa, dan sebaliknya?
Jawabannya terletak pada proses yang disebut norm internalization. Awalnya, seseorang mengikuti norma karena takut akan hukuman eksternal—denda, hukuman fisik, atau rasa malu publik. Ini adalah tahap compliance. Namun seiring waktu, jika norma itu cukup kuat dan cukup konsisten ditegakkan, ia dapat berubah menjadi acceptance: orang mulai mengikuti norma bukan karena takut dihukum, tetapi karena mereka benar-benar percaya bahwa itu adalah cara yang benar untuk berperilaku. Jacquet memberikan contoh larangan merokok di tempat umum di New York City.
Ketika pertama kali diberlakukan pada awal 2000-an, banyak yang marah dan perokok merasa dipersekusi. Namun setelah beberapa tahun, norma baru terbentuk. Hari ini, seorang perokok yang menyalakan rokok di dalam ruangan restoran akan merasa malu bahkan sebelum ada yang menegurnya—bukan karena takut denda, tetapi karena ia telah menginternalisasi keyakinan bahwa itu adalah perilaku yang antisosial. Rasa malu telah berhasil memindahkan dirinya dari eksternal ke internal; dalam proses ini, guilt akhirnya mengambil alih.
Namun Jacquet memperingatkan bahwa proses internalisasi ini tidak selalu berjalan mulus. Ada periode transisi yang “kacau” di mana norma lama dan baru bertabrakan. Di sinilah rasa malu publik memainkan peran paling krusial: ia adalah jembatan antara hukuman formal (yang lambat dan mahal) dan internalisasi penuh (yang membutuhkan waktu)—mekanisme yang memungkinkan masyarakat untuk menegakkan norma tanpa harus menangkap dan mengadili setiap pelanggar.
Kelima bab pertama ini bukanlah bab yang terpisah, melainkan rangkaian logis yang membawa pembaca dari pertanyaan paling dasar (“apa itu rasa malu?”) hingga kesimpulan paling strategis (“bagaimana kita bisa menggunakannya dengan bijak?”). Jacquet tidak pernah kehilangan benang merah: rasa malu adalah alat, bukan tujuan; ia bisa digunakan untuk kebaikan atau kejahatan; kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja, tetapi kita juga tidak boleh mengguna-kannya secara sembarangan. Di sela-sela lima bab ini pula terbersit sebuah ironi yang tidak diakui secara eksplisit oleh Jacquet tetapi mengintai di setiap halaman: dunia online telah menciptakan bentuk baru rasa malu publik yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana sebuah tweet yang tidak bijaksana dapat dilihat jutaan orang dalam hitungan jam. Namun ironisnya, banjir rasa malu ini tidak membuat orang lebih berhati-hati—ia membuat orang belajar untuk tidak peduli, atau menciptakan siklus di mana rasa malu kehilangan kekuatannya karena terlalu sering digunakan. Bahaya inilah yang menjadi pijakan bagi bab-bab berikutnya.
The 7 Habits of Highly Effective Shaming — Sebuah Resep dari Dapur Perubahan Sosial
Jacquet memulai bab ini dengan sebuah pengakuan jujur: rasa malu adalah alat yang berbahaya. Ia seperti pisau bedah—di tangan ahli bedah yang terampil, ia menyelamatkan nyawa; di tangan anak kecil, ia hanya akan melukai. Karena itu, ia menyusun tujuh “kebiasaan” yang membedakan rasa malu yang efektif dan konstruktif dari rasa malu yang destruktif dan kejam.
Pertama, rasa malu harus proporsional dengan pelanggaran—mempermalukan seseorang secara publik karena terlambat lima menit adalah kekejaman, bukan keadilan, sementara mempermalukan perusahaan yang dengan sengaja membuang limbah beracun ke sungai mungkin tepat.
Kedua, rasa malu harus ditujukan pada pelanggaran yang merugikan masyarakat secara luas, bukan pada kesalahan pribadi yang tidak berdampak pada orang lain; Jacquet tidak tertarik pada slut-shaming atau mempermalukan orang karena preferensi seksual atau pilihan hidup pribadi mereka, melainkan target seperti polusi, penghindaran pajak massal, kebohongan sistematis, dan eksploitasi buruh.
Ketiga, rasa malu harus dilakukan oleh kolektif atau oleh pihak yang memiliki otoritas moral, bukan oleh individu yang sedang melampiaskan frustrasi pribadi—shaming yang dilakukan gerakan sosial yang terorganisir memiliki legitimasi yang berbeda dari shaming yang dilakukan seorang troll anonim.
Keempat, rasa malu harus memberi jalan keluar, sebuah “off-ramp” bagi yang dipermalukan untuk memperbaiki diri tanpa kehilangan muka secara permanen; tanpa itu, shaming bukanlah keadilan transformatif, melainkan sekadar hukuman publik tanpa tujuan.
Kelima, rasa malu harus berfokus pada perilaku, bukan pada identitas pelaku—perbedaan antara “Anda melakukan tindakan rasis” dan “Anda adalah seorang rasis” sangat besar; yang pertama mengundang perubahan, yang kedua menghakimi jiwa seseorang dan seringkali membuatnya bertahan, bukan berubah.
Keenam, rasa malu harus menghindari rasa malu sekunder—rasa malu yang dialami keluarga, teman, atau kolega dari pelaku yang tidak terlibat dalam pelanggaran, sesuatu yang sulit dihindari di era media sosial di mana rasa malu meluber ke mana-mana.
Ketujuh, rasa malu harus memiliki batasan waktu; tidak ada yang disebut “hukuman seumur hidup” dalam rasa malu yang sehat—setelah pelaku mengakui kesalahan, meminta maaf, dan mengambil langkah untuk memperbaiki, masyarakat harus memberi ruang untuk rekonsiliasi.
Jacquet memberikan contoh cemerlang dari negara bagian California. Sejak tahun 2007, pemerintah California menerbitkan daftar publik berisi 500 individu dan bisnis yang berutang pajak lebih dari $100.000. Mereka diberi waktu enam bulan untuk melunasi sebelum nama mereka dipublikasikan. Hasilnya? Lebih dari $395 juta berhasil dikumpulkan kembali—ancaman rasa malu, bukan denda, bukan penjara, terbukti lebih ampuh daripada paksaan formal. Inilah inti dari “penggunaan baru untuk alat lama” yang Jacquet maksud: di era ketika hukuman fisik telah ditinggalkan dan hukuman penjara seringkali tidak menyelesaikan akar masalah, rasa malu yang dirancang dengan baik dapat menjembatani kesenjangan antara pelanggaran dan pemulihan. Tujuh kebiasaan ini, jika diikuti, dapat mengubah rasa malu dari senjata penghancur menjadi alat pembangun—namun Jacquet sadar bahwa dalam praktiknya, terutama di internet, hampir tidak ada dari ketujuh kebiasaan ini yang dipatuhi.
The Scarlet Internet — Huruf Merah di Dahi Digital
Judul Bab Tujuh ini adalah permainan kata dari novel klasik Nathaniel Hawthorne, The Scarlet Letter, di mana Hester Prynne dipaksa mengenakan huruf “A” merah di dadanya sebagai tanda perzinahan. Di era internet, Jacquet berargumen, kita semua berpotensi menjadi Hester. Namun tidak seperti Hester yang hanya harus menanggung malu di hadapan sebuah kota kecil, kita harus menanggung malu di hadapan seluruh dunia—dan huruf merah itu tidak pernah lepas.
Jacquet menyoroti bagaimana internet telah mengubah arsitektur rasa malu secara fundamental. Di dunia offline, rasa malu biasanya bersifat lokal dan sementara: seseorang melakukan kesalahan di desanya, malu di hadapan tetangganya, dan seiring waktu ingatan itu memudar. Di internet, rasa malu bersifat global dan permanen—sebuah tweet atau unggahan yang memalukan dapat diabadikan dalam tangkapan layar, dibagikan ribuan kali, dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian ketika seseorang melamar pekerjaan atau mencalonkan diri sebagai pejabat publik. Fenomena yang disebut Jacquet sebagai “digital flogging”—hukuman cambuk digital—telah menjadi ritual publik yang mengerikan: seseorang membuat kesalahan (atau kadang-kadang hanya diklaim membuat kesalahan), dan massa maya segera membentuk “regu penembak” untuk menghujani dengan kebencian, ancaman, dan pelecehan, tanpa pengadilan, tanpa banding, tanpa ukuran proporsionalitas.
Namun Jacquet juga mencatat paradoks yang menarik: meskipun internet telah menciptakan bentuk shaming yang paling kejam, ia juga telah mendemokratisasi alat ini. Seorang aktivis lingkungan di pedesaan dapat mempermalukan perusahaan minyak raksasa dengan membagikan bukti polusi secara viral; seorang konsumen yang tertipu dapat memperingatkan ribuan orang lain dalam hitungan menit. Internet adalah pedang bermata dua: ia dapat menjadi mesin perundungan atau mesin keadilan sosial, tergantung siapa yang menggunakannya dan bagaimana.
Shaming in the Attention Economy — Ketika Rasa Malu Menjadi Komoditas
Bab ini adalah salah satu yang paling tajam dalam analisis Jacquet. Ia berpindah dari psikologi sosial ke ekonomi politik: apa yang terjadi pada rasa malu ketika ia beroperasi dalam ekonomi perhatian (attention economy)—sistem di mana perusahaan media sosial dan platform digital berlomba-lomba menangkap dan menahan perhatian pengguna karena perhatian adalah komoditas yang dapat dijual kepada pengiklan? Dan tidak ada yang menangkap perhatian seperti skandal, kemarahan, dan rasa malu.
Jacquet mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa konten yang membangkitkan emosi negatif—terutama kemarahan dan rasa jijik—cenderung mendapatkan engagement yang lebih tinggi daripada konten positif atau netral. Algoritma media sosial, yang dirancang untuk memaksimalkan waktu yang dihabiskan pengguna di platform, secara tidak sengaja (atau mungkin dengan sengaja) memberi insentif pada shaming: semakin memalukan suatu konten, semakin viral ia; semakin viral ia, semakin banyak iklan yang dilihat; semakin banyak iklan yang dilihat, semakin banyak uang yang dihasilkan. Ini menciptakan lingkaran setan.
Shaming tidak lagi dilakukan untuk mengubah perilaku atau menegakkan norma, tetapi karena menguntungkan. Para “influencer” dan pembuat konten belajar bahwa cara tercepat mendapatkan pengikut adalah dengan memulai kampanye shaming terhadap seseorang atau sesuatu; target shaming menjadi bahan bakar bagi mesin perhatian, dan ketika shaming menjadi hiburan, ia kehilangan fungsi moralnya.
Jacquet tidak menawarkan solusi sederhana. Ia hanya menunjukkan bahwa kita tidak bisa memahami fenomena shaming online tanpa memahami struktur ekonomi yang membentuknya. Selama platform media sosial mendapat untung dari kemarahan dan rasa malu, kita akan terus melihat lonjakan shaming yang destruktif—ini adalah masalah sistemik, bukan hanya masalah individu yang “jahat” atau “tidak dewasa”.
Reactions to Shaming — Empat Cara Menghadapi Rasa Malu
Dari perspektif pelaku shaming, Jacquet beralih ke perspektif target. Bagaimana orang bereaksi ketika mereka dipermalukan? Apakah mereka selalu mengubah perilaku? Apakah mereka selalu menyesal? Jawabannya, ternyata, kompleks, dan Jacquet mengidentifikasi setidaknya empat reaksi yang mungkin muncul.
Pertama, penyesalan dan perubahan—reaksi ideal, di mana target shaming mengakui kesalahan, merasa malu, dan mengubah perilaku; ini adalah hasil yang diinginkan dari setiap upaya shaming yang bertanggung jawab. Kedua, rasa malu yang melumpuhkan—di sini target tidak hanya merasa malu atas perbuatannya, tetapi mulai menginternalisasi rasa malu itu sebagai bagian dari identitasnya: ia merasa bahwa ia adalah orang jahat, bukan hanya melakukan hal jahat. Reaksi ini dapat menyebabkan depresi, isolasi, atau dalam kasus ekstrem, bunuh diri—inilah mengapa shaming yang tidak proporsional dan tanpa jalan keluar sangat berbahaya. Ketiga, kemarahan dan pembalasan—beberapa target merespons shaming dengan kemarahan, bukan penyesalan, menggandakan perilaku mereka atau menyerang balik para “pencemooh”; reaksi ini sering terlihat pada politisi dan tokoh publik yang dipermalukan karena skandal, yang alih-alih mundur justru menggandakan retorika populis dan mengklaim diri sebagai korban “media liberal” atau “hoaks”. Keempat, tidak peduli—target shaming yang memiliki kekuasaan besar atau basis pendukung yang fanatik mungkin belajar untuk sepenuhnya mengabaikan rasa malu, mengembangkan “kulit tebal” yang kebal terhadap kritik publik; ini adalah reaksi yang paling berbahaya bagi masyarakat, karena menandakan bahwa rasa malu telah kehilangan seluruh kekuatannya sebagai instrumen kontrol sosial.
Jacquet menekankan bahwa reaksi target tidak hanya ditentukan oleh psikologi individu, tetapi juga oleh konteks sosial. Seorang selebritas dengan jutaan penggemar mungkin dapat bertahan dari shaming karena ia memiliki “komunitas perlindungan” yang akan membelanya apa pun yang terjadi. Sebaliknya, seorang karyawan biasa tanpa jaringan dukungan dapat hancur oleh shaming yang relatif kecil—alasan lain mengapa shaming harus digunakan dengan hati-hati dan proporsional.
The Sweet Spot of Shame — Mencari Zona Ideal
Bab 10 ini adalah klimaks dari argumen Jacquet. Setelah menguraikan risiko dan bahaya shaming, ia bertanya: di manakah “titik manis” (sweet spot) di mana rasa malu efektif tanpa menjadi destruktif? Jawabannya terletak pada tiga variabel kunci.
Pertama, visibilitas dan ukuran audiens. Rasa malu membutuhkan audiens untuk berfungsi, tetapi audiens yang terlalu besar dapat menjadi kontraproduktif. Shaming yang paling efektif sering terjadi dalam kelompok yang relatif kecil, di mana target memiliki hubungan sosial yang bermakna dengan para pengamat; di lingkungan seperti itu, rasa malu terasa nyata dan konsekuensi sosialnya langsung. Sebaliknya, shaming di hadapan jutaan orang asing di internet seringkali hanya menghasilkan kemarahan atau ketidakpedulian.
Kedua, hubungan antara pelaku dan target. Shaming yang paling efektif terjadi ketika ada tingkat rasa hormat atau ketergantungan tertentu antara kedua belah pihak—seorang karyawan yang dipermalukan oleh rekannya mungkin akan merespons dengan baik, seorang CEO yang dipermalukan oleh seorang aktivis anonim mungkin tidak akan peduli. Jacquet mencatat bahwa shaming seringkali lebih efektif ketika dilakukan “dari dalam” kelompok—oleh teman sebaya, kolega, atau anggota komunitas yang sama—bukan oleh orang luar. Ketiga, ketersediaan “jalan keluar”. Shaming yang paling efektif memberi target cara untuk memulihkan reputasi mereka, entah berupa permintaan maaf publik, tindakan restoratif, atau sekadar janji untuk berubah; tanpa jalan keluar, target tidak memiliki insentif untuk berubah, ia hanya akan bertahan atau membalas.
Jacquet menyimpulkan bahwa sweet spot rasa malu tidak ditemukan dalam shaming yang paling viral atau paling keras, melainkan dalam shaming yang proporsional, personal, dan restoratif. Ini adalah kabar baik dan kabar buruk sekaligus: kabar baiknya, rasa malu masih bisa menjadi alat perubahan sosial yang positif; kabar buruknya, bentuk rasa malu yang paling umum di era internet—viral, anonim, tanpa proporsi, tanpa jalan keluar—justru adalah bentuk rasa malu yang paling tidak efektif dan paling destruktif.
Rasa Malu sebagai Senjata Kaum Lemah
Salah satu wawasan paling menarik dari buku ini adalah bahwa kekuatan sejati rasa malu terletak pada aksesibilitasnya. Tidak seperti denda yang membutuhkan pengadilan, atau penjara yang membutuhkan polisi, rasa malu dapat dilakukan oleh siapa pun. Seorang aktivis lingkungan dapat mempermalukan perusahaan minyak raksasa. Seorang konsumen dapat mempermalukan rantai makanan cepat saji yang menggunakan kemasan non-daur ulang. Seorang pegawai rendahan dapat mempermalukan bos yang korup. Jacquet merujuk pada gerakan Occupy Wall Street sebagai contoh shaming yang berhasil: apakah Occupy menggulingkan kapitalisme? Tidak. Tetapi gerakan ini berhasil mengubah wacana publik. Frasa “the 1%” menjadi alat shaming yang ampuh yang mengubah cara jutaan orang berpikir tentang ketimpangan ekonomi. Tidak ada undang-undang yang melarang ketamakan, tidak ada polisi yang menangkap para bankir karena keserakahan mereka—tetapi rasa malu publik melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh hukum: mengubah norma.
Namun Jacquet juga menyadari bahwa shaming adalah alat yang berbahaya. Ia bisa menjadi senjata perundungan, menghancurkan nyawa orang yang bersalah karena kesalahan kecil, atau menjadi panggung bagi massa yang haus darah, bukan keadilan. Karena itu ia menekankan pentingnya target kolektif daripada individu, kecuali individu tersebut memiliki kekuatan politik atau ekonomi yang besar. Jangan mempermalukan remaja yang membuat kesalahan bodoh di media sosial; permalukanlah CEO yang mencemari sungai.
Rasa Malu dalam Lingkungan: Dari Guilt ke Shame
Sebagai seorang profesor studi lingkungan, Jacquet memiliki kepentingan pribadi dalam topik ini. Ia merasa frustrasi dengan pendekatan dominan terhadap krisis lingkungan yang hanya mengandalkan guilt konsumen—belilah tuna ramah lumba-lumba, belilah produk organik, jangan beli minyak sawit. Pendekatan ini, menurutnya, terasa hampa (hollow) karena mengalihkan tanggung jawab dari sistemik ke individual. “It felt to me hollow because what we really need is to change the system, and that is what led me to the possibilities of using shame,” tulisnya.
Penelitian akademis terkini mendukung intuisi Jacquet. Sebuah studi dalam Journal of Agricultural and Environmental Ethics (2024) oleh Nielsen dan Gamborg menemukan bahwa eco-shame dan eco-guilt—jika dikelola dengan baik—dapat melampaui fokus individual dan memicu perubahan kolektif; ketika orang merasa malu atas jejak karbon mereka, perasaan itu dapat menyebar secara sosial, menciptakan “pergeseran emosional” yang mendorong gerakan politik dan sosial yang lebih besar. Penelitian lain dalam ScienceDirect (2025) mengeksplorasi bagaimana intervensi berbasis rasa bersalah dan identitas lingkungan dapat memicu spillover effects, di mana satu tindakan pro-lingkungan mengarah pada tindakan lainnya—namun penelitian ini juga memperingatkan tentang moral licensing, di mana orang yang sudah merasa “cukup baik” mungkin merasa terlisensi untuk berbuat lebih buruk di area lain. Jacquet tidak butuh penelitian terbaru untuk meyakinkannya; ia sudah melihat buktinya di lapangan: perusahaan-perusahaan yang dipermalukan karena praktik lingkungan mereka cenderung mengubah perilaku lebih cepat daripada yang hanya dihukum denda—bukan karena mereka tiba-tiba “menjadi baik”, tetapi karena reputasi, aset paling berharga bagi perusahaan, terancam.
Rasa Malu dalam Politik: Ketika Para Pemimpin Tak Lagi Merona
Dan di sinilah kita sampai pada pertanyaan paling mendesak yang diajukan oleh pembaca modern: apa relevansi buku ini dengan dunia saat ini, di mana para pemimpin, politisi, dan tokoh publik seolah kehilangan kemampuan untuk merasa malu? Kita hidup di era yang disebut Jacquet sebagai “global panopticon”—setiap tindakan kita berpotensi direkam, disebarluaskan, dan dihakimi oleh jutaan orang. Namun ironisnya, alih-alih membuat orang lebih berhati-hati, fenomena ini tampaknya telah menciptakan kekebalan baru. Semakin sering seseorang dipermalukan di media sosial, semakin ia belajar untuk tidak peduli—atau lebih buruk lagi, ia belajar untuk mengubah rasa malu menjadi brand, seperti politisi yang bukannya mundur justru menggandakan pernyataan kontroversialnya karena tahu bahwa kemarahan publik mendatangkan perhatian dan dana kampanye.
Jacquet memperingatkan tentang bahaya ini. Shaming yang berlebihan, tidak proporsional, dan tanpa jalan keluar tidak hanya gagal mengubah perilaku, tetapi juga dapat memperkuat sikap tidak peduli. Ketika rasa malu menjadi tontonan hiburan semata, ia kehilangan daya transformasinya. Sebuah artikel New York Times pada April 2026 mencatat bahwa gerakan #MeToo—yang pada puncaknya mempermalukan banyak pria berkuasa atas pelecehan seksual—telah kehilangan momentumnya: seorang presiden yang terbukti bertanggung jawab atas pelecehan seksual tetap duduk di Gedung Putih, dan beberapa pria yang “dibatalkan” kini kembali ke layar televisi. Apakah ini berarti shaming gagal? Atau apakah ini berarti shaming tidak pernah cukup sendirian?
Jacquet tidak akan terkejut. Ia tidak pernah mengklaim bahwa shaming adalah solusi ajaib; ia hanya mengatakan bahwa tanpa shaming, alat perubahan sosial kita menjadi lebih miskin. Rasa malu tidak akan pernah bisa menggantikan hukum, penegakan keadilan, dan reformasi sistemik. Tetapi dalam situasi di mana hukum tidak berdaya atau terlalu lambat, rasa malu dapat menjadi alternatif sementara yang berharga.
Hikmah dari Timur: Al-Haya’ dalam Perspektif Islam
Menarik untuk menghadirkan suara dari tradisi lain ke dalam diskusi ini. Dalam khazanah Islam, konsep al-haya’ (rasa malu) menempati posisi sentral yang luar biasa. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Jika engkau tidak memiliki rasa malu, berbuatlah sekehendakmu.” Para ulama membedakan al-haya’ menjadi beberapa tingkatan: al-haya’ di hadapan Allah (menahan diri dari apa yang tidak diridhai-Nya), al-haya’ di hadapan sesama manusia, dan al-haya’ di hadapan diri sendiri—ketika seseorang merasa malu untuk melakukan keburukan meskipun tidak ada yang melihat. “Whoever has no shame before others, he has no shame to Allah,” demikian bunyi hadis riwayat Imam Bukhari. Dalam sebuah syair Arab kuno yang dikutip dalam literatur Islam: “Some misdeeds, if not for haya’, I would have committed them.” Ini mengakui bahwa rasa malu adalah penahan—rem internal yang mencegah kita melompat ke jurang kenikmatan sesaat yang berujung pada petaka jangka panjang.
Para sarjana Islam kontemporer berargumen bahwa al-haya’ adalah emosi moral yang adaptif, bukan maladaptif—ia adalah fondasi kebijaksanaan dan akar dari belas kasih. Tanpa al-haya’, seseorang kehilangan kebahagiaannya, dihina di hadapan manusia, dan akhirnya menyakiti dirinya sendiri. Pandangan ini selaras dengan argumen Jacquet bahwa rasa malu bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan sosial yang menjaga kohesi komunitas. Namun ada perbedaan penting: dalam tradisi Islam, rasa malu adalah kebajikan intrinsik, bukan sekadar alat eksternal. Ia tidak butuh audiens untuk berfungsi, meskipun audiens memperkuatnya. Dalam kerangka Jacquet, rasa malu tanpa audiens kehilangan esensinya. Ini adalah perbedaan yang menarik untuk direnungkan: apakah rasa malu membutuhkan mata yang melihat, atau cukup hati yang mengetahui?
Catatan Akhir: Merawat Kembali Rasa Malu yang Sehat
Jadi, apa yang bisa kita petik dari buku Jennifer Jacquet untuk dunia yang semakin tanpa malu ini?
Pertama, kita perlu membedakan antara shaming sebagai hukuman publik (yang bisa kejam dan destruktif) dan sense of shame sebagai disposisi internal (yang bisa melindungi kita dari perilaku buruk sebelum terjadi). Jacquet tidak menganjurkan kita untuk mempermalukan tetangga yang lupa membuang sampah pada tempatnya, tetapi ia menganjurkan kita untuk memulihkan rasa malu sebagai norma sosial—bahwa ada hal-hal yang memang seharusnya memalukan, dan masyarakat berhak menyatakan bahwa perilaku tertentu tidak dapat diterima.
Kedua, kita perlu menggunakan shaming secara strategis dan proporsional. California berhasil mengumpulkan $395 juta dari wajib pajak nakal bukan dengan menghina mereka di depan umum, tetapi dengan ancaman publikasi nama yang terukur, dengan periode tenggang, dengan pengecualian untuk keadaan luar biasa. Shaming bukanlah pembakaran tiang pancang; shaming yang efektif memberi orang jalan untuk kembali.
Ketiga, kita harus mengarahkan shaming pada sistem dan kekuasaan, bukan pada individu yang rentan. Aktivis lingkungan yang mempermalukan perusahaan minyak melakukan hal yang benar; remaja yang dipermalukan di media sosial karena kesalahan kecil adalah korban, bukan sasaran yang tepat. Jacquet mengingatkan bahwa shaming harus digunakan untuk pelanggaran yang jelas merugikan masyarakat luas dan yang tidak ada jalur hukum efektif untuk mengatasinya.
Keempat, sebagai individu, kita perlu memulihkan rasa malu dalam diri kita sendiri—bukan rasa malu yang melumpuhkan seperti yang dialami Franzen, tetapi rasa malu yang sehat yang membuat kita berpikir dua kali sebelum mengunggah komentar kebencian, sebelum membolos dari tanggung jawab, sebelum berkata-kata kasar kepada orang yang kita cintai. Rasa malu yang membuat kita tetap manusia.
Kelima, bagi para pemimpin dan politisi, ingatlah bahwa rasa malu adalah penjaga gerbang terakhir peradaban. Ketika seorang pemimpin kehilangan kemampuan untuk merasa malu, ia tidak hanya membahayakan dirinya sendiri; ia memberi izin kepada seluruh pengikutnya untuk juga tidak merasa malu, menormalisasi ketidaksopanan, kebohongan, dan korupsi. Tidak ada undang-undang yang dapat menggantikan fungsi rasa malu dalam mencegah penyalahgunaan kekuasaan.
Di era media sosial, di mana setiap orang memiliki potensi untuk menjadi hakim publik, tantangan terbesarnya bukanlah “apakah kita harus mempermalukan?” tetapi “bagaimana kita mempermalukan dengan bijak?” Jacquet tidak memberi kita daftar periksa yang mudah, tetapi ia memberi kita kerangka berpikir: proporsionalitas, fokus pada perilaku, jalan keluar, batasan waktu, dan kesadaran akan dinamika kekuasaan. Shaming yang dilakukan oleh yang kuat terhadap yang lemah adalah bullying; shaming yang dilakukan oleh yang lemah terhadap yang kuat adalah bentuk perlawanan. Konteks kekuasaan menentukan apakah suatu tindakan shaming adalah keadilan atau kekejaman.
Kembali ke Reginald Brooks di ruang eksekusi Ohio. Jari tengahnya teracung. Matanya dingin. Tidak setetes pun rasa malu. Dan di situlah kita menemukan kengerian sejati: bukan pada kejahatan yang telah dilakukannya, tetapi pada ketidakhadirannya sebagai manusia yang mampu merasa malu.
Jennifer Jacquet tidak menawarkan nostalgia untuk era hukuman publik atau dunce caps yang mempermalukan anak-anak di sekolah. Ia menawarkan sesuatu yang lebih radikal: sebuah keyakinan bahwa rasa malu, jika dikembalikan ke fungsi aslinya sebagai perekat sosial, dapat membantu kita menyelesaikan masalah-masalah terbesar zaman ini—dari perubahan iklim hingga ketidakadilan ekonomi, dari korupsi politik hingga krisis tata kelola.
Shaming bukanlah alat yang nyaman. Ia tidak pernah terasa enak bagi yang menerimanya, dan seringkali tidak terasa enak bagi yang melakukannya. Tetapi seperti yang dikatakan The Boston Globe dalam ulasannya, buku Jacquet adalah “a sharp dissection of shame” yang mengingatkan kita bahwa kadang-kadang, yang paling kuno adalah yang paling mutakhir.
Rasa malu, pada akhirnya, adalah pengakuan bahwa kita tidak hidup sendiri. Ia adalah pengakuan bahwa apa yang kita lakukan memengaruhi orang lain, dan bahwa reputasi—cara orang lain memandang kita—bukanlah urusan sepele. Di era ketika individualisme telah menjadi agama baru dan privasi menjadi kedok untuk impunitas, mungkin sudah saatnya kita belajar lagi untuk merona. Bukan karena takut dihakimi, tetapi karena kita benar-benar peduli. Atau seperti yang diingatkan Salman Rushdie dalam kutipan yang dipilih Jacquet untuk mengakhiri bagian penting bukunya: “Shame, dear reader, is not the exclusive property of the East.”
Cirebon, 7 Juli 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Brodeur, M. A. (2015, February 14). ‘I am not a slut’ by Leora Tanenbaum; ‘Is shame necessary?’ by Jennifer Jacquet. The Boston Globe. https://www.bostonglobe.com/arts/books/2015/02/14/book-review-not-slut-slut-shaming-age-internet-leora-tanenbaum-shame-necessary-new-uses-for-old-tool-jennifer-jacquet/4Hm4t5uRhWKnHIswMsspZK/story.html
Jacquet, J. (2015). Is shame necessary? New uses for an old tool. Pantheon Books.
Jacquet, J. (2015). Excerpt from Is shame necessary? Penguin Random House Canada. https://www.penguinrandomhouse.ca/books/218202/is-shame-necessary-by-jennifer-jacquet/9780307950130/excerpt
Nielsen, R. S., & Gamborg, C. (2024). The moral potential of eco-guilt and eco-shame: Emotions that hinder or facilitate pro-environmental change? Journal of Agricultural and Environmental Ethics, 37(4). https://ouci.dntb.gov.ua/en/works/4Yq0qd34/
Rahim, S. (2015, March 26). Book review: Is shame necessary? by Jennifer Jacquet. Prospect Magazine. https://www.prospectmagazine.co.uk/culture/47407/book-review-is-shame-necessary-by-jennifer-jacquet
Sawai, R. P., Jaafar, N., Noah, S. M., & Krauss, S. E. (2020). Inculcating the sense of modesty (Al-Haya’) in youth from the perspectives of the Quran and Sunnah. Universiti Sains Islam Malaysia. https://oarep.usim.edu.my/server/api/core/bitstreams/85643499-a2a2-4d36-9312-a5a0363e625f/content
Sawer, P. (2015, March 6). Jennifer Jacquet: ‘The power of shame is that it can be used by the weak against the strong’. The Guardian. https://www.theguardian.com/books/2015/mar/06/is-shame-necessary-review
Sintov, N., et al. (2025). Do identity or guilt-based appeals lead to environmental spillover effects? ScienceDirect. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2666049025000179
Yee, V. (2026, April 27). Eric Swalwell, Tony Gonzales and the post-post-#MeToo era. The New York Times. https://www.nytimes.com/2026/04/27/us/eric-swalwell-tony-gonzales-metoo-accusations-accountability.html
About the author: Jennifer Jacquet is an assistant professor in the Department of Environmental Studies at New York University. She works on issues related to the tragedy of the commons and cooperation. This is her first book.






