Rubarubu #192
Humans:
Sejarah Singkat tentang Kebodohan, Keangkuhan, dan Kegagalan Epik
Ketika Lucy Jatuh dari Pohon
Pada suatu hari, sekitar 3,2 juta tahun yang lalu, di wilayah yang kini kita kenal sebagai Ethiopia, sesosok makhluk mirip kera memutuskan untuk memanjat pohon. Mungkin ia mencari buah, mungkin menghindari predator, atau mungkin hanya ingin melihat pemandangan dari ketinggian. Apa pun alasannya, keputusan itu berakibat fatal. Ia jatuh. Dari ketinggian lebih dari 12 meter, tubuhnya menghantam tanah dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga tulang-tulangnya patah dan berserakan.
Makhluk itu mati di tempat.
Kini, siapa yang peduli pada seekor australopithecus yang mati 3,2 juta tahun lalu? Ternyata, kita semua. Karena makhluk itu kemudian ditemukan pada tahun 1974 oleh para paleoantro-polog, dan mereka memberinya nama: Lucy. Ia menjadi fosil hominid paling terkenal dalam sejarah, potongan kunci dalam teka-teki asal-usul manusia, bintang di museum-museum di seluruh dunia. Ratusan juta orang tahu namanya. Anak-anak sekolah belajar tentangnya. Ilmuwan menulis disertasi tentangnya.
Semua ini terjadi karena, secara sederhana, ia mengacau.
Fakta ini menjadi titik tolak buku Tom Phillips, Humans: A Brief History of How We Fcked It All Up*. Seperti yang ia tulis: “Satu-satunya alasan kita tahu tentang dia adalah karena, secara blak-blakan, dia mengacau.” Bayangkan ironinya. Kematian tragis seorang individu—jatuh sendirian di hutan purba, mungkin menjerit memanggil ibunya yang tak akan datang—adalah awal dari cerita kita. Dan jika itu adalah awal, bagaimana dengan kelanjutannya? Phillips mengajak kita untuk melihat bahwa sejarah panjang spesies Homo sapiens, yang dengan angkuh menamai dirinya “manusia bijak” (padahal, seperti diingatkan Phillips, “kerendahan hati, jujur saja, tidak pernah menjadi ciri khas spesies kita”), adalah rentetan panjang kegagalan, kesalahan perhitungan, dan kekacauan yang tak disengaja.
Buku ini adalah sebuah perjalanan liar melintasi waktu, menelusuri jejak-jejak kaki yang salah melangkah, keputusan yang salah arah, dan mimpi-mimpi besar yang berakhir dengan malapetaka. Phillips, mantan editor organisasi fact-checking Full Fact dan direktur editorial BuzzFeed UK, membawa keahliannya dalam membedah fakta dan hasratnya pada cerita-cerita absurd untuk menciptakan sebuah karya yang oleh seorang pengulas disebut sebagai “Al Gore bertemu Monty Python.”
Ia menulis bukan sebagai sejarawan yang kaku, melainkan sebagai pendongeng yang lucu namun getir, yang melihat bahwa di balik setiap pencapaian gemilang—seni, sains, budaya, taco—selalu ada bayang-bayang: perang, polusi, Taco Bell. “Ini adalah buku tentang manusia, dan kapasitas luar biasa kita untuk mengacaukan segalanya,” tulis Phillips di awal. Ini bukan buku untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk memberikan “butiran kecil penghiburan yang hampa: jangan khawatir, kita selalu seperti ini. Dan hei, kita masih di sini!”
“Mengapa otakmu idiot?” tanya Phillips. Jika ada satu hal yang konsisten dalam sejarah manusia, itu adalah kemampuan kita untuk mengambil keputusan buruk dengan penuh percaya diri. Phillips membuka bagian inti bukunya dengan menyelidiki sumber utama dari semua kekacauan ini: otak kita sendiri. Otak manusia adalah produk evolusi, dan evolusi, seperti dicatat Phillips, “tidak cerdas—tetapi setidaknya ia bodoh dengan cara yang sangat gigih.” Evolusi tidak merancang kita untuk menjadi makhluk rasional yang sempurna.
Ia hanya melemparkan “sejumlah besar organisme yang lapar dan horny ke dunia yang berbahaya dan tak kenal ampun, lalu melihat siapa yang paling gagal.” Hasilnya adalah otak yang dipenuhi dengan jalan pintas mental (heuristics) dan bias kognitif yang, di masa lalu, mungkin membantu kita menghindari dimakan singa, tetapi di dunia modern, membuat kita memposting hal-hal bodoh di media sosial atau berinvestasi dalam skema ponzi.
Namun, Tom Phillips, penulis buku yang akan kita bedah ini, menyodorkan sebuah ironi yang menggelitik sekaligus menusuk: satu-satunya alasan kita tahu tentang Lucy adalah karena dia mengacau. Dia membuat kesalahan fatal. Dia jatuh dari pohon dan tewas. “This was the dawn of the great human journey. Then she fell out of the tree and died,” tulis Phillips.
Dari prolog yang cemerlang ini, Phillips meletakkan fondasi seluruh argumentasinya yang provokatif. Jika perjalanan panjang spesies kita dimulai dengan sebuah kegagalan—bukan keberhasilan—maka mungkin, hanya mungkin, kita perlu memikirkan ulang narasi agung tentang kemajuan manusia. Mungkin kita tidak secerdas yang kita kira. Mungkin, seperti judul bukunya, kita memang spesies yang sangat berbakat untuk mengacaukan segalanya.
Buku ini adalah perjalanan kilas balik—sebuah “whistle-stop tour“—melalui berbagai momen dalam sejarah manusia di mana kita, sebagai spesies, benar-benar membuat kekacauan . Dari kebijakan publik yang konyol, peperangan yang absurd, bencana lingkungan akibat keserakah-an, hingga kepercayaan-kepercayaan aneh yang kita pegang teguh meskipun salah.
Phillips menulis dengan gaya yang sangat mudah didekati, seperti seorang teman di bar yang sedang bercerita tentang berita-berita paling aneh dan paling memalukan dari masa lalu. Ia penuh dengan sindiran tajam, pop culture references, dan yang terpenting, kesadaran diri bahwa ia sendiri juga bagian dari spesies kacau yang sedang ia tertawakan. Ia menulis dengan gaya yang oleh seorang pengulas disebut sebagai “Gladwell/Kahneman with jokes“—paduan antara Malcolm Gladwell dan Daniel Kahneman, tetapi dengan lelucon.
Alih-alih mengikuti kronologi waktu yang kaku, Phillips mengorganisir bukunya ke dalam bab-bab tematik. Ia mengupas berbagai “mode kegagalan” manusia, dengan menyajikan rentetan contoh sejarah yang memperlihatkan pola-pola psikologis dan sosial yang sama, berulang kali, di berbagai tempat dan zaman.
1. Pola Pikir yang Membutakan: Bias Kognitif dan “Kebodohan” Kolektif
Sebagian besar buku ini, secara eksplisit maupun implisit, merujuk pada pemahaman tentang bias kognitif—jalan pintas berpikir yang seringkali menyesatkan. Phillips meminjam wawasan dari psikologi perilaku untuk menjelaskan mengapa orang-orang cerdas bisa membuat keputusan yang sangat bodoh, baik secara individu maupun kolektif. Ini adalah inti dari argumen bahwa kita mungkin tidak sebijaksana nama spesies kita.
Salah satu contohnya adalah confirmation bias, yang ia deskripsikan sebagai kebiasaan men-jengkelkan kita untuk “mengarahkan fokus seperti rudal berpemandu laser pada setiap bukti yang mendukung apa yang sudah kita percayai, dan dengan riang mengabaikan tumpukan bukti yang jauh lebih besar yang menunjukkan bahwa kita mungkin sepenuhnya salah arah” . Ini menjelaskan mengapa orang bisa terus percaya pada pengobatan yang tidak manjur, kebijakan yang gagal, atau bahkan teori konspirasi yang paling tidak masuk akal sekalipun.
Kemudian ada groupthink, ketika ide dominan dalam sebuah kelompok menenggelamkan semua suara alternatif. Tekanan sosial untuk tidak menjadi “orang yang selalu protes” membuat orang enggan menyuarakan keraguan, bahkan ketika mereka tahu ada yang salah. “Proses melihat orang lain melakukan atau mempercayai suatu hal meningkatkan keinginan kita untuk menyesuaikan diri, menjadi bagian dari keramaian,” tulis Phillips . Ini adalah mekanisme yang sama yang membuat sebuah perusahaan atau pemerintahan bisa meluncurkan proyek yang jelas-jelas gagal tanpa ada yang berani menghentikannya.
Yang paling menarik, mungkin, adalah penjelasannya tentang Dunning-Kruger effect. Orang yang benar-benar terampil cenderung rendah hati, sementara orang yang tidak memiliki keterampilan di suatu bidang justru sangat melebih-lebihkan kompetensi mereka sendiri. Kita bahkan tidak tahu cukup tentang kegagalan kita sendiri untuk menyadari betapa buruknya kita dalam suatu hal. “Kita melangkah dengan percaya diri dan optimisme yang membabi buta tentang apa pun yang akan kita lakukan dengan sangat, sangat salah,” tulis Phillips . Ini adalah resep untuk bencana.
2. Kisah-Kisah Kegagalan yang Spektakuler
Di sinilah buku ini benar-benar bersinar. Phillips menyajikan kisah-kisah nyata yang lebih aneh dari fiksi.
Skema Kolonisasi yang Gila: Phillips menceritakan tentang William Paterson, seorang pedagang dan bankir Belanda yang terobsesi dengan ide koloni di Darien, Panama. Visinya begitu kuat, begitu meyakinkan, sehingga ia berhasil membujuk banyak orang untuk berinvestasi dan berlayar ke tempat yang tidak mereka kenal. Hasilnya? Bencana total. Ratusan orang meninggal karena kelaparan, penyakit, dan konflik dengan penduduk setempat. Kekacauan ini disebut Phillips sebagai salah satu kegagalan kolonial yang paling spektakuler, yang menunjukkan bahwa kesuksesan kolonialisme seringkali lebih merupakan keberuntungan daripada perencanaan yang matang.
Perang yang Absurd: Ada kisah tentang kapal selam Jerman U-1206 pada Perang Dunia II, yang tenggelam bukan karena torpedo musuh, melainkan karena toilet yang dirancang dengan buruk. Lalu ada kisah tentang Pertempuran Kawah selama Perang Saudara Amerika. Pasukan Union menggali terowongan di bawah garis Konfederasi, meledakkannya dengan dinamit, menciptakan kawah raksasa, dan kemudian… mereka semua berlari masuk ke dalam kawah. Pasukan Konfederasi hanya perlu berkumpul di sekeliling lubang dan menembak ke bawah. Napoleon dan Hitler, dengan jeda lebih dari seabad, keduanya membuat kesalahan yang sama: menyerang Rusia di musim dingin.
Kegilaan Kolektif: Phillips juga mengeksplorasi fenomena aneh seperti “wabah kepanikan” di berbagai tempat di dunia bahwa ada kekuatan jahat yang mencuri atau mengecilkan penis laki-laki . Ini adalah contoh ekstrem tentang bagaimana ketakutan irasional bisa menyebar seperti virus di seluruh komunitas.
“Solusi” yang Menciptakan Masalah Baru: Contoh klasik adalah introduksi kelinci ke Australia oleh para pemukim Eropa. Kelinci berkembang biak tak terkendali, menghancurkan vegetasi. Solusi yang kemudian dicoba? Memasukkan virus myxoma—yang berpotensi melompat ke spesies lain—untuk membunuh kelinci-kelinci itu . Ini adalah pola yang berulang: kita menciptakan masalah, lalu menciptakan masalah baru dalam upaya menyelesaikan masalah pertama.
3. Membongkar Narasi Agung
Phillips juga senang membongkar mitos-mitos sejarah yang kita terima begitu saja. Misalnya, mitos bahwa orang-orang Eropa pada zaman Columbus mengira bumi itu datar, dan Columbus berlayar untuk membuktikan mereka salah. Faktanya, menurut Phillips, “Hampir setiap orang terpelajar di Eropa pada saat itu (dan juga kebanyakan yang tidak terpelajar) sepenuhnya sadar bahwa dunia itu bulat, dan mereka sudah mengetahuinya sejak lama sekali.” Mitos bumi datar diciptakan kemudian, mungkin untuk membuat cerita Columbus terdengar lebih heroik.
Dengan nada serupa, ia mengkritik narasi rasis yang sering menyertai sejarah kolonialisme. Misalnya, tentang patung-patung besar di Pulau Paskah (Moai), ia menulis: “Aliens must have done it adalah solusi yang sangat populer dan, tentu saja, sangat rasional untuk teka-teki tentang orang non-kulit putih yang membangun hal-hal yang tidak dapat dibayangkan oleh orang kulit putih.” Ini adalah sindiran tajam tentang bagaimana kita sering meremehkan kemampuan budaya lain.
4. Menyoal Warisan Kolonialisme
Salah satu bagian yang paling berbobot dan kontroversial dalam buku ini adalah analisisnya tentang kolonialisme. Phillips tidak terjebak dalam nostalgia kekaisaran. Ia mengajukan per-tanyaan: Apakah klaim bahwa kolonialisme membawa peradaban, hukum, dan pemerintahan yang baik benar-benar sesuai dengan fakta sejarah?
Ia berargumen bahwa gagasan bahwa “bangsa yang dijajah pada dasarnya tidak beradab—tidak mampu memerintah diri sendiri, kebal terhadap kemajuan, dan tidak cukup maju untuk memanfaatkan sumber daya alam mereka secara tepat” adalah mitos yang didasarkan pada prasangka, bukan fakta. Gagasan ini mengabaikan kompleksitas masyarakat pra-kolonial dan memutlakkan keunggulan teknologi militer beberapa negara menjadi semacam hukum moral tentang “Siapa yang Berhak Mendapatkan Apa.”
Lebih lanjut, ia menunjukkan bahwa klaim tentang pemerintahan yang tercerahkan sulit dijajarkan dengan sejarah perjanjian-perjanjian yang dilanggar antara kekuatan kolonial dan penduduk asli. “Mempertahankan sebuah kekaisaran membutuhkan upaya aktif dan berkelanjutan untuk memitoskan masa kininya dan salah mengingat masa lalunya,” tulis Phillips.
5. Demokrasi yang Selalu dalam Krisis
Phillips juga menyentuh tentang demokrasi, bukan sebagai sistem yang sempurna, tetapi sebagai sistem yang memiliki “perjuangan bawaan yang tak ada habisnya untuk menyeimbangkan tirani minoritas dan mencegahnya ‘tergelincir ke dalam otokrasi'” . Masalah dengan demokrasi, menurutnya, adalah bahwa orang-orang sangat menyukainya ketika mereka pikir itu akan memberi mereka kekuasaan, tetapi tiba-tiba menjadi tidak terlalu antusias ketika tampaknya akan mengambil kekuasaan dari mereka. Akibatnya, demokrasi membutuhkan “jumlah pekerjaan yang sangat melelahkan hanya untuk memastikan ia terus ada” .
The Dawn of Fuck-Ups (Ekspansi)
Baiklah, mari kita kembali ke prolog, karena prolog adalah kunci dari segalanya. Prolog dalam buku Phillips bukan sekadar pengantar; ia adalah manifesto mini.
Dengan jenaka, ia membayangkan pertemuan dewan redaksi surat kabar evolusi. “Manusia telah ada selama 70.000 tahun. Seni, sains, budaya, perdagangan—dalam rantai makanan evolusioner, kita benar-benar pemenang. Tapi, terus terang, ini tidak selalu berjalan mulus, dan kadang-kadang—kadang-kadang saja—kita benar-benar, sungguh, sungguh tidak bisa dipercaya mengacaukan segalanya” .
Lalu ia memperkenalkan Lucy.
Lucy, fosil yang ditemukan di Ethiopia, adalah salah satu temuan paling penting dalam paleoantropologi. Kerangkanya yang 40% lengkap memberi kita wawasan luar biasa tentang bagaimana nenek moyang kita berjalan tegak. Phillips, dengan kegembiraan yang nakal, memutar narasi ini.
“Bayangkan,” ia seolah berkata, “berjuta-juta tahun evolusi, perjalanan panjang menuju kemanusiaan, dan titik awal yang kita kenang adalah ketika salah satu dari kita jatuh dari pohon dan mati.”
Ini adalah sebuah lelucon, tentu saja. Tapi lelucon yang cerdas. Phillips tidak sedang merendah-kan Lucy atau nenek moyang kita. Dia sedang merendahkan kita. Dia sedang merendahkan kecenderungan kita untuk menciptakan narasi heroik tentang diri kita sendiri. Dalam setiap cerita tentang asal-usul, kita ingin menemukan keagungan. Phillips justru menemukan kegetir-an, keacakan, dan ironi. Dan dari sana, dia membangun argumen bahwa sejarah umat manusia adalah sejarah dari hal-hal serupa: rencana yang kacau, niat baik yang berakhir malapetaka, dan kebodohan yang terulang lagi dan lagi.
Masihkah Kita Bisa Berubah?
Membaca Humans di era sekarang terasa sangat relevan, bahkan menusuk. Phillips menulis di masa ketika dunia menyaksikan kebangkitan populisme, krisis iklim yang semakin nyata, dan disinformasi yang menyebar lebih cepat dari sebelumnya. Buku ini seperti cermin yang menunjukkan bahwa kebodohan kita bukanlah fenomena baru. Ini adalah warisan.
Krisis Iklim dan “Business as Usual“: Phillips menyinggung tentang bagaimana kita berpura-pura semuanya baik-baik saja “padahal seharusnya kita mungkin berlarian panik seperti rumah kita terbakar, yang… ya, memang seperti itu.” Ini adalah kritik tajam terhadap ketidakmampu-an kolektif kita untuk merespons ancaman eksistensial dengan kecepatan dan skala yang diperlukan. Seperti yang ia tunjukkan dalam berbagai contoh sejarah, kita seringkali terlambat menyadari kesalahan sampai semuanya terlalu parah.
Disinformasi dan “Post-Truth“: Penjelasan Phillips tentang confirmation bias dan kecenderung-an kita untuk percaya pada hal-hal yang sesuai dengan keyakinan kita, terlepas dari bukti, sangat relevan dengan fenomena “post-truth” dan maraknya hoaks di media sosial. Kita hidup dalam gelembung informasi kita sendiri, dan buku ini menjelaskan mengapa sangat sulit untuk memecahkannya.
Kegagalan Kepemimpinan: Dari William Paterson hingga para pemimpin yang menginvasi Rusia di musim dingin, buku ini penuh dengan contoh pemimpin yang terlalu percaya diri, tidak mau mendengar nasihat, dan membawa banyak orang ke dalam jurang. Di era di mana figur-figur otoriter kembali populer, ini adalah peringatan yang berharga.
Mengapa Otak Kita, Lingkungan Kita, dan Cara Kita Berorganisasi Adalah Resep Bencana yang Sempurna
Jika kita membayangkan sejarah umat manusia sebagai sebuah film, maka lima bab pertama buku Tom Phillips, Humans: A Brief History of How We Fcked It All Up*, adalah adegan-adegan pembuka yang menentukan seluruh alur cerita. Di sini, Phillips meletakkan fondasi argumentasinya dengan membedah tiga aktor utama dalam drama kekacauan manusia: otak kita sendiri, lingkungan tempat kita tinggal, dan cara kita berkelompok.
I. Otak Kita: “Si Idiot” yang Sombong di Dalam Tengkorak
Phillips membuka Bab 1, “Why Your Brain Is an Idiot,” dengan sebuah pernyataan yang provokatif: alat paling canggih yang kita miliki—otak manusia—sebenarnya adalah perangkat yang sangat cacat desain. Ia menulis dengan nada bercanda namun menusuk bahwa “otak Anda adalah keajaiban evolusi yang luar biasa… dan juga benar-benar idiot.”
Apa maksudnya? Phillips menjelaskan bahwa otak kita berevolusi bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk membantu kita bertahan hidup di sabana Afrika. Akibatnya, otak kita mengambil jalan pintas di mana-mana. Ia lebih suka cerita yang enak didengar daripada data yang rumit. Ia mudah terpengaruh oleh apa yang orang lain lakukan. Dan yang paling parah, ia memiliki kemampuan luar biasa untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinyalah yang paling benar.
Phillips kemudian memperkenalkan konsep confirmation bias—kecenderungan kita untuk hanya mencari dan mengingat informasi yang membenarkan apa yang sudah kita percayai. “Kita mengarahkan fokus seperti rudal berpemandu laser pada setiap bukti yang mendukung apa yang sudah kita percayai, dan dengan riang mengabaikan tumpukan bukti yang jauh lebih besar yang menunjukkan bahwa kita mungkin sepenuhnya salah arah,” tulisnya .
Lalu ada Dunning-Kruger effect, fenomena di mana orang yang tidak kompeten di suatu bidang justru sangat percaya diri, sementara para ahli cenderung meragukan diri sendiri. “Kita bahkan tidak tahu cukup tentang kegagalan kita sendiri untuk menyadari betapa buruknya kita dalam suatu hal,” kata Phillips. “Kita melangkah dengan percaya diri dan optimisme yang membabi buta tentang apa pun yang akan kita lakukan dengan sangat, sangat salah” .
Bayangkan seorang sopir yang tidak tahu aturan lalu lintas tetapi merasa dirinya pembalap Formula 1. Itulah kita, menurut Phillips, dalam banyak aspek kehidupan. Otak kita bukan dirancang untuk berpikir jernih, tetapi untuk berpikir cepat—dan cepat sering berarti salah.
II. Lingkungan yang “Ramah” (Namun Kita Rusak)
Bab 2, “Nice Environment You’ve Got Here,” memperluas cakupan dari dalam kepala ke dunia di luar. Phillips menceritakan bagaimana nenek moyang kita, dengan otak mereka yang “idiot,” mulai berinteraksi dengan lingkungan dan… ya, Anda bisa menebak sisanya.
Salah satu kisah paling ikonik di bagian ini adalah tentang kelinci di Australia. Para pemukim Eropa, dengan niat baik yang konyol, memperkenalkan kelinci ke benua yang tidak memiliki predator alami untuk hewan itu. Hasilnya? Kelinci berkembang biak seperti… kelinci. Mereka meledak secara eksponensial, melahap vegetasi, menghancurkan lahan pertanian, dan menjadi bencana ekologis yang biaya penanganannya mencapai miliaran dolar.
Ketika kelinci sudah di luar kendali, manusia mencoba “solusi” berikutnya: memasukkan virus myxoma—yang berpotensi melompat ke spesies lain—untuk membunuh kelinci-kelinci itu. Phillips mencatat ironi ini dengan tajam: “Kita menciptakan masalah, lalu menciptakan masalah baru dalam upaya menyelesaikan masalah pertama” . Ini adalah pola yang akan berulang terus sepanjang sejarah manusia.
Phillips juga menyoroti bagaimana peradaban-peradaban besar runtuh karena mereka gagal mengelola lingkungan mereka. Bangsa Sumeria, misalnya, membangun sistem irigasi yang canggih, tetapi terlalu banyak irigasi menyebabkan tanah menjadi asin dan tidak bisa ditanami. Peradaban yang brilian itu mati perlahan karena… garam.
Bagian ini adalah pengingat bahwa meskipun kita sering menganggap diri “pintar” karena bisa membuat alat canggih, kita ternyata sangat bodoh dalam melihat konsekuensi jangka panjang dari tindakan kita. Seperti kata penyair Brasil, Carlos Drummond de Andrade: “Tersesat di dalam diri sendiri, itulah manusia.” Kita tersesat tidak hanya di dalam kepala kita, tetapi juga di planet yang kita huni.
III. Kehidupan Selalu Menemukan Jalan (Termasuk Jalan yang Salah)
Bab 3, “Life, Uh, Finds a Way,” mengambil judulnya dari film Jurassic Park, dan ini sangat tepat. Phillips menunjukkan bahwa kehidupan—termasuk kita—selalu beradaptasi, tetapi adaptasi itu tidak selalu mengarah pada kemajuan. Kadang-kadang, adaptasi adalah jalan menuju kebodohan yang lebih besar.
Ia membahas bagaimana spesies kita menyebar ke seluruh dunia, dan di mana pun kita pergi, kita membawa serta kecenderungan yang sama: merusak, mengeksploitasi, dan kemudian pindah atau mati. Dari pemburu-pengumpul yang ikut serta dalam kepunahan massal megafauna di Amerika dan Australia, hingga para petani awal yang mengubah lanskap dan menciptakan ketimpangan sosial pertama, Phillips melukiskan gambaran bahwa “keberhasilan” kita sering kali adalah bencana bagi spesies lain dan, pada akhirnya, bagi diri kita sendiri.
Bagian ini juga menyentuh tentang pandemi dan penyakit. Phillips mencatat bahwa dengan hidup berkelompok dan berdekatan dengan hewan, kita menciptakan kondisi sempurna bagi penyakit untuk melompat antar spesies. Covid-19, misalnya, adalah episode terbaru dari pola kuno ini. “Kita menciptakan dunia yang sempurna bagi patogen,” tulis Phillips, “dan kemudian kita heran ketika mereka datang berkunjung” .
IV. Mengikuti Pemimpin (Yang Sama Bodohnya)
Bab 4, “Follow the Leader,” adalah salah satu bab yang paling menghibur sekaligus menakut-kan. Phillips membahas kecenderungan kita untuk menciptakan hierarki dan mengikuti pemimpin, sering kali tanpa berpikir kritis.
Ia memperkenalkan konsep groupthink, ketika tekanan untuk menyesuaikan diri dengan kelompok membuat individu enggan menyuarakan keraguan. “Proses melihat orang lain melakukan atau mempercayai suatu hal meningkatkan keinginan kita untuk menyesuaikan diri, menjadi bagian dari keramaian,” tulis Phillips . Ini menjelaskan bagaimana sebuah perusahaan, pemerintahan, atau bahkan seluruh bangsa bisa meluncurkan proyek yang jelas-jelas gagal tanpa ada yang berani menghentikannya.
Contoh paling spektakuler di bab ini adalah kisah William Paterson dan skema koloni Darien di Panama. Paterson, seorang pedagang dan bankir Skotlandia, memiliki visi besar untuk mendirikan koloni yang akan menghubungkan perdagangan Atlantik dan Pasifik. Visinya begitu kuat, begitu meyakinkan, sehingga ia berhasil membujuk banyak orang Skotlandia—termasuk hampir seperempat dari seluruh uang yang beredar di Skotlandia saat itu—untuk berinvestasi dan berlayar ke tempat yang tidak mereka kenal.
Hasilnya? Bencana total. Ratusan orang meninggal karena kelaparan, penyakit, dan konflik dengan penduduk setempat. Kekacauan ini, menurut Phillips, adalah bukti bahwa bahkan orang-orang cerdas bisa melakukan hal-hal sangat bodoh ketika mereka terhipnotis oleh seorang pemimpin yang karismatik.
Phillips juga menyinggung tentang mitos “pemimpin yang lahir, bukan dibuat.” Ia menunjukkan bahwa sebagian besar pemimpin besar dalam sejarah sebenarnya adalah produk dari keberuntungan, bukan kejeniusan. Napoleon dan Hitler, misalnya, keduanya membuat kesalahan yang sama: menyerang Rusia di musim dingin. Jika mereka benar-benar jenius, mengapa mereka tidak belajar dari kesalahan pendahulu mereka?
Dalam konteks ini, saya teringat pada kata-kata filsuf Muslim, Ibn Khaldun, yang dalam Muqaddimah-nya berbicara tentang ‘asabiyah (solidaritas kelompok). Ibn Khaldun menulis bahwa solidaritas kelompok bisa menjadi kekuatan besar untuk membangun peradaban, tetapi juga bisa menjadi sumber kehancuran ketika kelompok itu terlalu percaya diri dan menolak kritik dari luar. Ini persis seperti yang digambarkan Phillips dengan konsep groupthink-nya.
V. Kekuatan Rakyat (Yang Sering Kali Kacau)
Bab 5, “People Power,” melanjutkan tema sebelumnya tetapi dengan fokus pada kolektif yang lebih luas: masyarakat, bangsa, dan gerakan sosial. Phillips bertanya: jika individu saja sudah bodoh, apa yang terjadi ketika ribuan orang bodoh berkumpul?
Jawabannya: kadang-kadang hal-hal hebat terjadi, tetapi sering kali yang terjadi adalah kekacauan yang terorganisir. Phillips mencontohkan berbagai gerakan sosial dalam sejarah yang dimulai dengan niat baik tetapi berakhir dengan bencana—atau setidaknya, dengan konsekuensi yang tidak terduga.
Ia juga membahas tentang demokrasi, bukan sebagai sistem yang sempurna, tetapi sebagai sistem yang memiliki “perjuangan bawaan yang tak ada habisnya untuk menyeimbangkan tirani minoritas dan mencegahnya ‘tergelincir ke dalam otokrasi'” . Masalah dengan demokrasi, menurut Phillips, adalah bahwa orang-orang sangat menyukainya ketika mereka pikir itu akan memberi mereka kekuasaan, tetapi tiba-tiba menjadi tidak terlalu antusias ketika tampaknya akan mengambil kekuasaan dari mereka.
Akibatnya, demokrasi membutuhkan “jumlah pekerjaan yang sangat melelahkan hanya untuk memastikan ia terus ada” . Ini adalah pengingat bahwa demokrasi bukanlah tujuan akhir, melainkan proses berkelanjutan yang membutuhkan partisipasi aktif dan kewaspadaan konstan.
Tiga Lapis Kebodohan
Jika kita merenungkan lima bab awal buku Phillips, kita bisa melihat sebuah pola yang jelas: kebodohan manusia terjadi di tiga lapisan yang saling terkait.
Lapisan pertama adalah di dalam kepala kita sendiri—bias kognitif, jalan pintas mental, dan kepercayaan diri yang keliru. Ini adalah “otak idiot” yang dibahas di Bab 1.
Lapisan kedua adalah interaksi kita dengan dunia fisik—lingkungan yang kita rusak, spesies yang kita punahkan, dan sumber daya yang kita habiskan. Ini adalah tema Bab 2 dan 3.
Lapisan ketiga adalah interaksi kita dengan sesama manusia—hierarki yang kita ciptakan, pemimpin yang kita ikuti secara membabi buta, dan keputusan kolektif yang sering kali lebih buruk daripada keputusan individu. Ini adalah tema Bab 4 dan 5.
Ketiga lapisan ini saling memperkuat. Otak kita yang “idiot” membuat kita sulit melihat konsekuensi jangka panjang dari tindakan kita terhadap lingkungan. Kehancuran lingkungan kemudian memicu ketegangan sosial, yang membuat kita semakin bergantung pada pemimpin yang menjanjikan solusi cepat—yang sering kali hanya memperburuk masalah. Dan seterusnya, dalam lingkaran setan yang tak berujung.
Namun, Phillips tidak sepenuhnya pesimis. Di balik semua kekacauan ini, ada juga kualitas manusia yang luar biasa: kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan ya, kemampuan untuk tertawa pada diri sendiri. Mungkin, dengan menyadari betapa “idiot”-nya kita, kita bisa mulai mengambil langkah-langkah kecil untuk menjadi sedikit kurang bodoh.
Seperti yang ditulis oleh filsuf dan penyair Lebanon-Amerika, Kahlil Gibran: “Kemajuan bukan-lah memperbaiki apa yang telah ada, melainkan melangkah menuju apa yang akan ada.” Mungkin langkah pertama menuju “apa yang akan ada” adalah mengakui dengan jujur betapa kacaunya “apa yang telah ada”—dan masih ada sampai sekarang.
Perang, Kolonialisme, Diplomasi, Teknologi, dan Ketidakmampuan Kita Melihat Bencana yang Akan Datang
Jika lima bab pertama Humans karya Tom Phillips adalah fondasi—mengapa otak kita cacat, bagaimana kita merusak lingkungan, dan mengapa kita begitu mudah mengikuti pemimpin yang salah—maka lima bab berikutnya adalah bangunan megah yang berdiri di atas fondasi itu. Bangunan itu megah, ya, tetapi juga retak di sana-sini, bocor di mana-mana, dan siap rubuh kapan saja. Inilah bab-bab tentang perang, kolonialisme, diplomasi, teknologi, dan ketidakmampuan kita yang abadi untuk melihat malapetaka yang sedang meluncur ke arah kita.
VI. Perang: Apa Gunanya? (Sungguh, Apa?)
Bab 6, “War. Huh. What Is It Good For?”, mengambil judulnya dari lagu protes terkenal Edwin Starr, dan Phillips dengan cepat menjawab pertanyaan itu: “Absolutely nothing.” Tapi ia tidak berhenti di situ. Ia justru menunjukkan ironi yang menyakitkan: meskipun perang tidak membawa kebaikan apa pun, kita tetap melakukannya terus-menerus, sepanjang sejarah, dengan kreativitas yang luar biasa dalam hal kekejaman.
Phillips mengajak pembaca berkeliling dunia dan waktu, menyajikan deretan pertempuran absurd yang menunjukkan bahwa perang sering kali bukan tentang strategi jenius, melainkan tentang kebodohan massal yang terorganisir. Ia menceritakan tentang Pertempuran Kawah selama Perang Saudara Amerika. Pasukan Union, dengan gagasan cemerlang, menggali terowongan di bawah garis Konfederasi, meledakkannya dengan dinamit, menciptakan kawah raksasa sepanjang 50 meter, dan kemudian… mereka semua berlari masuk ke dalam kawah. Pasukan Konfederasi hanya perlu berkumpul di sekeliling lubang dan menembak ke bawah, seperti anak-anak yang menjebak semut dalam stoples.
“Ini adalah perang,” tulis Phillips, “dan ini adalah salah satu contoh terbaik tentang bagaimana, bahkan ketika kita merencanakan sesuatu dengan cermat, kita masih bisa mengacaukannya dengan cara yang spektakuler” .
Lalu ada kisah tentang kapal selam Jerman U-1206 pada Perang Dunia II. Kapal canggih ini tenggelam bukan karena torpedo musuh, tetapi karena toiletnya. Ya, toilet. Sistem pembilasan berteknologi tinggi dirancang begitu rumit sehingga seorang awak kapal yang salah memutar katup menyebabkan air laut masuk dan kapal karam. Phillips mencatat ironi ini dengan senyum sinis: “Jerman hampir menaklukkan Eropa, tetapi kalah perang karena tidak bisa membuat toilet yang berfungsi dengan benar” .
Yang paling menggelitik, Phillips juga menyoroti bahwa Napoleon dan Hitler, dengan jeda lebih dari seabad, keduanya membuat kesalahan yang persis sama: menyerang Rusia di musim dingin. Jika mereka benar-benar jenius militer, mengapa mereka tidak membaca buku sejarah? Jawabannya, menurut Phillips, adalah karena “para pemimpin cenderung percaya bahwa mereka berbeda. Mereka pikir aturan tidak berlaku bagi mereka. Dan keyakinan itu, sayangnya, adalah aturan yang paling universal dari semuanya” .
VII. Pesta Kolonialisme yang Super Happy Fun
Bab 7, “Super Happy Fun Colonialism Party,” adalah salah satu bab yang paling tajam dan paling penting dalam buku ini. Dengan judul yang sarkastik, Phillips mengajak kita untuk melihat kolonialisme bukan sebagai misi peradaban yang heroik, tetapi sebagai pesta pora penjarahan yang dikemas dalam bahasa muluk.
Phillips yang epanjang kariernya pernah menjadi anggota sebuah grup komedi yang sempat terkenal sebentar, bekerja di televisi dan di Parlemen, dan pernah meluncurkan sebuah surat kabar yang tidak sukses itu, memulai dengan membongkar mitos bahwa kolonialisme membawa peradaban, hukum, dan pemerintahan yang baik ke negeri-negeri terbelakang. Ia menunjukkan bahwa gagasan bahwa “bangsa yang dijajah pada dasarnya tidak beradab—tidak mampu memerintah diri sendiri, kebal terhadap kemajuan, dan tidak cukup maju untuk memanfaatkan sumber daya alam mereka secara tepat” adalah mitos yang didasarkan pada prasangka, bukan fakta.
Gagasan ini, menurut Phillips, mengabaikan kompleksitas masyarakat pra-kolonial dan memutlakkan keunggulan teknologi militer beberapa negara menjadi semacam hukum moral tentang “Siapa yang Berhak Mendapatkan Apa.” Dengan kata lain, karena Eropa punya senapan, maka mereka berhak mengambil apa pun dari mereka yang hanya punya tombak.
Lebih jauh, Phillips menunjukkan bahwa klaim tentang “pemerintahan yang tercerahkan” sulit dijajarkan dengan sejarah perjanjian-perjanjian yang dilanggar antara kekuatan kolonial dan penduduk asli. “Mempertahankan sebuah kekaisaran membutuhkan upaya aktif dan berkelanjutan untuk memitoskan masa kininya dan salah mengingat masa lalunya,” tulis Phillips.
Salah satu contoh paling kuat adalah tentang patung-patung besar di Pulau Paskah (Moai). Phillips mencatat bagaimana para penjelajah Eropa, ketika melihat patung-patung raksasa itu, langsung berkesimpulan bahwa penduduk asli yang “primitif” tidak mungkin membuatnya sendiri. Maka muncullah teori-teori gila tentang alien, peradaban yang hilang, atau apa pun yang tidak melibatkan orang Polinesia sebagai penciptanya.
“Aliens must have done it adalah solusi yang sangat populer dan, tentu saja, sangat rasional untuk teka-teki tentang orang non-kulit putih yang membangun hal-hal yang tidak dapat dibayangkan oleh orang kulit putih,” tulis Phillips dengan sarkasme yang membakar. Ini adalah sindiran tajam tentang bagaimana rasisme ilmiah sering kali menyamar sebagai misteri arkeologis.
Bab ini juga menyentuh tentang bagaimana kolonialisme menciptakan ketimpangan global yang masih kita rasakan hingga hari ini. Phillips tidak menawarkan solusi mudah, tetapi ia dengan jelas menunjukkan bahwa luka kolonialisme masih bernanah, dan mengabaikannya hanya akan memperburuk keadaan.
Seperti yang ditulis oleh filsuf dan aktivis Martin Luther King Jr., “Kita semua terperangkap dalam jalinan mutualitas yang tak terelakkan, terikat dalam satu jubah takdir. Apa pun yang mempengaruhi seseorang secara langsung, mempengaruhi semua secara tidak langsung.” Warisan kolonialisme adalah bukti nyata dari jalinan mutualitas itu—dan kita semua, di Utara dan Selatan, masih hidup dalam bayang-bayangnya.
VIII. Diplomasi: Panduan untuk Dummies (dan/atau Presiden)
Bab 8, “A Dummies’ and/or Current Presidents’ Guide to Diplomacy,” adalah serangan lucu namun menusuk terhadap cara kita berhubungan antar bangsa. Phillips menunjukkan bahwa diplomasi, yang seharusnya menjadi seni mencegah perang, sering kali justru menjadi panggung untuk pertunjukan ego nasional yang konyol.
Ia menceritakan berbagai contoh pertemuan diplomatik yang berakhir bencana karena kesalahpahaman budaya, keangkuhan, atau sekadar kebodohan belaka. Misalnya, tentang seorang duta besar Inggris di Siam (sekarang Thailand) yang bersikeras menghadiri audiensi kerajaan dengan sepatu bot, padahal tradisi setempat mengharuskan melepas alas kaki. Ia menginjak-injak permadani kerajaan dengan sepatu bot lumpur, dan hubungan diplomatik hampir putus hanya karena… sepatu.
Phillips juga menyoroti bagaimana para pemimpin dunia sering kali lebih peduli pada citra daripada substansi. KTT internasional, menurutnya, sering kali lebih mirip kontes kecantikan daripada forum serius untuk menyelesaikan masalah global. “Kita menghabiskan miliaran dolar untuk pertemuan di mana para pemimpin dunia saling berfoto, saling menjabat tangan, lalu pulang tanpa menyelesaikan apa pun,” tulisnya .
Yang lebih parah, Phillips menunjukkan bahwa banyak konflik internasional sebenarnya bisa dihindari jika para pemimpin bersedia mengakui kesalahan atau sekadar mendengarkan pihak lain. Tetapi, seperti yang sudah dibahas di bab-bab sebelumnya, ego dan confirmation bias membuat kita lebih suka berperang daripada mengaku salah.
Bab ini terasa sangat relevan di era media sosial, di mana diplomasi sering kali dilakukan melalui cuitan dan pernyataan dadakan yang lebih mirip teriakan pasar daripada negosiasi serius. Phillips sepertinya bertanya: dengan pemimpin seperti ini, benarkah kita heran dunia terus kacau?
IX. Teknologi: Panas yang Menyesatkan
Bab 9, “The Shite Heat of Technology,” adalah salah satu bab yang paling ironis. Judulnya bermain kata: heat bisa berarti panas (dalam arti keren) atau panas dalam arti tekanan. Phillips menunjukkan bahwa teknologi sering dipuji sebagai penyelamat, tetapi dalam praktiknya, ia sering menjadi sumber masalah baru yang lebih besar.
Phillips tidak anti-teknologi. Ia hanya menunjukkan bahwa kita cenderung terlalu optimis tentang apa yang bisa dilakukan teknologi, dan terlalu naif tentang konsekuensi tak terduganya. Ia mencontohkan berbagai inovasi yang dianggap canggih pada zamannya tetapi kemudian terbukti membawa malapetaka.
Salah satu contoh favoritnya adalah DDT, pestisida ajaib yang ditemukan pada 1930-an dan dipuji sebagai solusi untuk berbagai masalah pertanian dan kesehatan. Paul Hermann Müller bahkan memenangkan Hadiah Nobel pada 1948 untuk penemuannya. Namun, beberapa dekade kemudian, kita baru sadar bahwa DDT meracuni rantai makanan, menyebabkan telur burung menjadi rapuh, dan mungkin menyebabkan kanker pada manusia.
“Ini adalah pola yang berulang,” tulis Phillips. “Kita menemukan sesuatu yang tampak seperti keajaiban, kita menggunakannya secara besar-besaran, dan kemudian, bertahun-tahun kemudian, kita menyadari bahwa keajaiban itu ternyata adalah monster” .
Contoh lain adalah leaded gasoline (bensin bertimbal). Thomas Midgley Jr., seorang insinyur kimia brilian, menemukan bahwa menambahkan timbal ke bensin bisa mencegah mesin menggelitik (knocking). Ia bahkan minum timbal di depan umum untuk membuktikan bahwa zat itu aman. Sayangnya, ia salah. Timbal menyebar ke atmosfer, mencemari udara, dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan, terutama pada anak-anak. Ironisnya, Midgley kemudian juga menemukan CFC (chlorofluorocarbons) yang merusak lapisan ozon. Satu orang, dua bencana lingkungan.
Phillips menyebut fenomena ini sebagai “solusi yang menjadi masalah.” Kita menciptakan teknologi untuk memecahkan masalah, tetapi teknologi itu kemudian menciptakan masalah baru yang lebih besar. Dan karena otak kita yang “idiot,” kita sering gagal melihat masalah baru itu sampai semuanya terlambat.
Filsuf dan sosiolog Perancis, Jacques Ellul, dalam bukunya The Technological Society, pernah menulis bahwa teknologi tidak netral; ia membawa logikanya sendiri yang sering kali melampaui kendali manusia. Phillips, dengan gaya humornya, menegaskan hal yang sama: kita menciptakan teknologi, lalu teknologi menciptakan kita kembali—sering kali dalam bentuk yang tidak kita inginkan.
X. Sejarah Singkat Tidak Melihat Hal-Hal yang Akan Datang
Bab 10, “A Brief History of Not Seeing Things Coming,” adalah klimaks dari semua bab sebelumnya. Phillips dengan jenaka menunjukkan bahwa salah satu bakat terbesar manusia adalah ketidakmampuan kita untuk melihat bencana yang sedang meluncur ke arah kita.
Dari peringatan yang diabaikan, ramalan yang ditertawakan, hingga tanda-tanda bahaya yang jelas terlihat tetapi sengaja tidak dilihat—Phillips mengumpulkan bukti bahwa kita secara konsisten gagal mengantisipasi masa depan, bahkan ketika masa depan itu sudah mengetuk pintu.
Ia menceritakan tentang para ahli yang memperingatkan krisis keuangan 2008 tetapi diabaikan karena “ekonomi sedang baik-baik saja.” Tentang para ilmuwan yang sudah puluhan tahun memperingatkan perubahan iklim tetapi ditanggapi dengan “ah, masih lama.” Tentang para intelijen yang memiliki bukti serangan teror akan terjadi tetapi tidak mampu meyakinkan atasan mereka.
“Ini bukan karena kita tidak punya informasi,” tulis Phillips. “Kita punya banyak informasi. Masalahnya adalah kita tidak mau percaya informasi itu, terutama jika informasi itu mengganggu kenyamanan kita” .
Salah satu contoh paling lucu (dan menyedihkan) adalah tentang perusahaan kapal Titanic. Ketika Titanic diluncurkan, ada yang bertanya tentang sekoci: apakah jumlahnya cukup? Jawabannya: sekoci hanya untuk hiasan, kapal ini tidak mungkin tenggelam. Kita tahu bagaimana ceritanya berakhir.
Phillips menunjukkan bahwa mentalitas “kapal ini tidak mungkin tenggelam” masih hidup dan sehat di abad ke-21. Kita pikir ekonomi kita terlalu besar untuk gagal, teknologi kita terlalu canggih untuk kacau, demokrasi kita terlalu kuat untuk runtuh. Lalu, sesuatu yang tidak terduga terjadi—pandemi, resesi, perang—dan kita terkejut, padahal semua tanda sudah ada di depan mata.
Bab ini juga menyentuh tentang normalcy bias—kecenderungan kita untuk percaya bahwa segala sesuatu akan terus berjalan seperti biasa, bahkan ketika bukti menunjukkan sebaliknya. Dalam kebakaran hutan, orang sering menolak mengungsi karena “api tidak mungkin sampai ke sini.” Dalam banjir, orang bertahan di rumah karena “air tidak mungkin naik sampai setinggi ini.” Dan dalam krisis global, kita terus menjalani bisnis seperti biasa karena “tidak mungkin semuanya runtuh, kan?”
Penyair Polandia, Wisława Szymborska, dalam puisinya yang terkenal, menulis: “Aku lebih suka gila, bernyanyi mengikuti irama waktu, daripada siap sedia membaca ramalan kiamat.” Mungkin inilah kita: lebih memilih bernyanyi mengikuti irama waktu daripada membaca ramalan kiamat yang sebenarnya sudah jelas tertulis.
Lingkaran Setan Kebodohan Kolektif
Lima bab kedua buku Phillips memperluas dan memperdalam tema-tema yang sudah diperkenalkan di awal. Jika di bab-bab pertama kita melihat kebodohan pada level individu dan kelompok kecil, di sini kita melihat kebodohan pada skala peradaban: perang yang tak berujung, kolonialisme yang membusuk, diplomasi yang konyol, teknologi yang lepas kendali, dan ketidakmampuan kita yang abadi untuk melihat malapetaka yang akan datang.
Semua ini, menurut Phillips, bukanlah kebetulan. Ini adalah konsekuensi langsung dari cara otak kita bekerja: kita lebih suka cerita sederhana daripada data kompleks, kita lebih percaya pada pemimpin karismatik daripada analisis mendalam, dan kita selalu yakin bahwa “kali ini berbeda,” padahal sejarah berteriak bahwa tidak ada yang berbeda.
Apakah ada harapan? Phillips tidak memberikan jawaban mudah. Namun, dengan menyajikan semua kekacauan ini dalam balutan humor, ia memberi kita jarak untuk merenung. Mungkin, dengan menyadari betapa bodohnya kita, kita bisa mulai mengambil langkah kecil untuk menjadi sedikit kurang bodoh. Mungkin dengan melihat sejarah kegagalan kita, kita bisa mulai belajar untuk—setidaknya—mengurangi tingkat kegagalan di masa depan.
Seperti yang ditulis oleh sejarawan besar Arnold Toynbee: “Sejarah mengajarkan kita bahwa sejarah tidak mengajarkan kita apa pun.” Phillips setuju, tetapi ia menambahkan: mungkin jika kita cukup tertawa melihat kebodohan kita sendiri, kita bisa membuktikan Toynbee salah. Mungkin.
Masa Depan: Antara Pesimisme dan Optimisme yang Realistis
Lalu, apa prospek kita? Apakah kita dikutuk untuk mengulangi kesalahan yang sama selamanya?
Phillips tidak memberikan jawaban yang mudah. Di satu sisi, nada bukunya bisa membuat pembaca putus asa. “Dalam masa-masa gelap,” tulis sebuah ulasan, “menghibur untuk mengetahui bahwa kita selalu menjadi sekelompok goblok yang tidak tahu apa-apa” . Ini adalah “kebenaran yang suram.” Kita tidak belajar dari sejarah. Kita terus saja mengacau.
Namun, di sisi lain, ada secercah harapan yang aneh. Dengan menyadari bahwa kita memang bodoh, bahwa kita rentan terhadap bias, bahwa kita mudah terjebak dalam groupthink, kita bisa mulai melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Kesadaran adalah langkah pertama.
Seperti yang dikatakan oleh sejarawan dan filsuf Israel, Yuval Noah Harari, dalam bukunya Sapiens, kekuatan manusia terletak pada kemampuan kita untuk bekerja sama secara fleksibel dalam jumlah besar. Namun, seperti yang ditunjukkan Phillips, kemampuan yang sama ini juga bisa menjadi sumber malapetaka ketika kerja sama itu diarahkan pada tujuan yang salah atau didasarkan pada keyakinan yang keliru.
Penyair dan aktivis Amerika, Audre Lorde, pernah berkata, “Poetry is not a luxury. It is a vital necessity of our existence.” Mungkin, di tengah krisis dan kebodohan ini, kita perlu bentuk-bentuk baru dari “puisi”—dalam arti metaforis, yaitu cara-cara baru dalam bercerita, berimajinasi, dan merasakan—untuk membayangkan masa depan yang berbeda dari sekadar pengulangan masa lalu yang kacau.
Cendekiawan Muslim kontemporer, Khaled Abou El Fadl, dalam berbagai tulisannya tentang keadilan dan kemanusiaan, sering mengingatkan bahwa ujian terbesar manusia bukanlah pada kemampuannya untuk menaklukkan alam, tetapi pada kemampuannya untuk menaklukkan hawa nafsunya sendiri—keserakahan, ego, dan kecenderungan untuk menindas. Dari perspektif ini, “f*cking it all up” adalah konsekuensi dari kegagalan moral dan spiritual, bukan hanya kegagalan intelektual atau perencanaan.
Masa depan mungkin tidak akan bebas dari kekacauan. Kita mungkin akan terus membuat kesalahan baru dan mengulangi yang lama. Namun, dengan memiliki buku seperti Humans yang dengan jenaka dan cerdas mengingatkan kita akan kebodohan kita sendiri, setidaknya kita memiliki alat untuk merenung. Mungkin, sesekali, kita bisa berhenti sejenak, tertawa melihat diri sendiri, dan bertanya, “Apakah ini ide yang benar-benar bagus? Atau kita akan menyesalinya 3,2 juta tahun lagi?”
Pada akhirnya, seperti yang ditulis Phillips di akhir prolog, setelah memperkenalkan Lucy yang terjatuh: “This was the dawn of the great human journey.” Perjalanan itu masih berlangsung. Dan meskipun jalannya penuh dengan lubang dan pohon-pohon yang siap kita panjat lalu kita jatuh darinya, setidaknya perjalanan itu adalah milik kita. Milik kita, manusia-manusia yang luar biasa kacaunya.
Catatan Akhir: Fucking Up the Future
Setelah menempuh perjalanan panjang melalui sejarah kebodohan manusia—dari otak yang cacat, lingkungan yang kita rusak, perang yang absurd, kolonialisme yang kejam, diplomasi yang konyol, hingga teknologi yang lepas kendali—Tom Phillips akhirnya sampai pada pertanyaan yang paling mengganggu: lalu bagaimana dengan masa depan?
Epilog buku ini, yang diberi judul jujur “Fucking Up the Future,” adalah perenungan Phillips tentang apakah kita, sebagai spesies, benar-benar bisa berubah. Atau apakah kita hanya akan terus mengulangi pola yang sama: membuat kesalahan, menyadarinya terlambat, lalu membuat kesalahan baru yang lebih besar?
Phillips membuka epilog dengan pengakuan yang mengharukan. Ia menulis bahwa setelah menelusuri semua kekacauan ini, ia sebenarnya ingin memberikan pesan yang menghibur. Ia ingin berkata, “Tenang saja, semuanya akan baik-baik, kita sudah melalui masa-masa sulit sebelumnya.” Tapi ia tidak bisa. Karena fakta-faktanya tidak mendukung optimisme buta itu.
“Kita sedang menghadapi tantangan yang belum pernah kita hadapi sebelumnya,” tulis Phillips . Perubahan iklim, ketimpangan ekonomi yang semakin parah, disinformasi yang menyebar lebih cepat dari fakta, teknologi yang berkembang lebih cepat dari kemampuan kita mengendalikan-nya—semua ini adalah ancaman eksistensial yang nyata.
Dan yang lebih mengkhawatirkan, kita menghadapi semua ini dengan peralatan mental yang sama—otak “idiot” yang sama—yang telah membawa kita ke semua kekacauan sebelumnya. Kita masih rentan terhadap confirmation bias, masih mudah terpengaruh groupthink, masih terlalu percaya diri dengan kemampuan kita, dan masih sangat, sangat buruk dalam melihat bencana yang akan datang.
Antara Optimisme dan Pesimisme: Pilihan yang Sulit
Phillips kemudian melakukan dialog imajiner dengan dua suara di kepalanya. Suara pertama adalah optimis naif yang berkata, “Kita pasti bisa! Manusia selalu berhasil melewati masa sulit!” Suara kedua adalah pesimis sinis yang membalas, “Ya, kita selalu berhasil melewati masa sulit dengan menciptakan masa sulit baru yang lebih parah.”
Ia mencontohkan bagaimana selama pandemi COVID-19, kita melihat kedua sisi ini bekerja. Di satu sisi, manusia menunjukkan kemampuan luar biasa untuk beradaptasi: vaksin dikembang-kan dalam waktu singkat, masyarakat belajar bekerja dari rumah, solidaritas muncul di mana-mana. Di sisi lain, kita juga melihat kebodohan massal: orang menolak memakai masker, teori konspirasi menyebar seperti virus, dan ketimpangan kesehatan semakin parah antara negara kaya dan miskin.
“Inilah kita,” tulis Phillips. “Kita mampu melakukan hal-hal luar biasa sekaligus hal-hal sangat bodoh, sering kali pada waktu yang sama, bahkan oleh orang yang sama” .
Ia kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: Mungkin masalahnya bukan pada kemampuan kita untuk berubah, tetapi pada kecepatan perubahan yang dibutuhkan. Krisis iklim, misalnya, bergerak lambat tetapi pasti. Otak kita berevolusi untuk merespons ancaman langsung—harimau di semak-semak, suku tetangga yang menyerang—bukan ancaman bertahap yang baru terasa puluhan tahun lagi. Akibatnya, kita terus menjalani bisnis seperti biasa sambil berkata, “Nanti saja, masih lama.”
Filsuf Jerman, Immanuel Kant, pernah menulis tentang “ketidakdewasaan yang disebabkan oleh diri sendiri”—keengganan manusia untuk berpikir sendiri dan mengambil tanggung jawab. Phillips melihat pola yang sama: kita lebih suka menyerahkan masa depan pada “para ahli” atau “pemimpin,” lalu marah ketika mereka gagal, tanpa pernah bertanya apa yang sudah kita lakukan sebagai individu.
Ironi Terbesar: Kita Tahu, Tapi Kita Tidak Tahu
Salah satu bagian paling menusuk dalam epilog adalah ketika Phillips menyoroti ironi terbesar dari spesies kita: kita tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kita tidak melakukannya. Kita tahu bahwa membakar bahan bakar fosil merusak iklim, tetapi kita terus melakukannya. Kita tahu bahwa ketimpangan ekonomi memicu konflik sosial, tetapi kita membiarkan orang kaya semakin kaya. Kita tahu bahwa demokrasi membutuhkan partisipasi aktif, tetapi kita lebih suka diam dan menonton TV. Kita tahu bahwa media sosial dirancang untuk membuat kita kecanduan dan marah, tetapi kita terus menggulir layar.
“Ini bukan masalah pengetahuan,” tegas Phillips yang pernah mempelajari Arkeologi dan Antropologi serta Sejarah dan Filsafat Ilmu Pengetahuan di Cambridge, dan merasa sangat terkejut sekaligus senang telah menulis sebuah buku yang benar-benar memanfaatkan semua ilmu itu.
“Ini masalah kemauan. Dan kemauan, sayangnya, tidak bisa dibeli di toko atau diunduh dari internet” .
Phillips mencontohkan bagaimana laporan-laporan ilmiah tentang perubahan iklim sudah menumpuk sejak 1970-an. Para ilmuwan sudah memperingatkan. Para aktivis sudah berteriak. Bahkan film-film Hollywood sudah membuat versi fiksinya. Tapi emisi karbon terus naik. Mengapa? Karena mengubah perilaku itu sulit. Karena kepentingan ekonomi yang mengakar. Karena kita lebih suka kenyamanan jangka pendek daripada keselamatan jangka panjang.
Di sinilah Phillips kembali ke tema lamanya tentang bias kognitif. Otak kita, yang berevolusi di sabana Afrika, tidak dirancang untuk memproses ancaman abstrak yang baru akan terjadi di masa depan ketika kita sudah tidak ada. Bagi otak kita, ancaman yang tidak langsung terasa seperti tidak ada. Ini adalah cacat desain yang fatal di era krisis iklim.
Harapan yang Realistis: Melakukan yang Bisa, Menerima yang Tidak
Lalu, apakah Phillips menutup bukunya dengan keputusasaan total? Tidak persis. Ia menawar-kan sesuatu yang lebih kompleks: harapan yang realistis, atau mungkin harapan yang nekat.
Ia menulis tentang orang-orang dan kelompok-kelompok kecil yang berusaha melakukan sesuatu. Para ilmuwan yang terus meneliti meskipun diabaikan. Para aktivis yang terus berdemo meskipun ditangkap. Para guru yang mengajarkan anak-anak tentang lingkungan. Para tetangga yang menanam pohon di lahan kosong.
“Mereka mungkin tidak akan menyelamatkan dunia sendirian,” tulis Phillips. “Tapi mereka menunjukkan bahwa dunia yang berbeda itu mungkin. Dan dalam dunia yang terus mengatakan bahwa tidak ada alternatif, menunjukkan bahwa alternatif itu ada adalah tindakan revolusioner” .
Phillips juga mencatat bahwa sejarah manusia adalah sejarah perubahan. Ya, banyak perubahan itu ke arah yang salah. Tapi ada juga perubahan ke arah yang benar. Perbudakan, yang dulu dianggap normal, sekarang dianggap kejahatan. Hak perempuan, yang dulu dianggap absurd, sekarang diakui di banyak tempat. Demokrasi, yang dulu hanya mimpi, sekarang menjadi aspirasi universal.
“Kita bisa berubah,” tulis Phillips. “Kita sudah membuktikannya. Pertanyaannya bukan apakah kita bisa berubah, tetapi apakah kita bisa berubah cukup cepat” .
Pelajaran dari Pandemi: Kita Bisa, Tapi…
Phillips menggunakan pandemi COVID-19 sebagai studi kasus tentang kemampuan dan keterbatasan manusia. Di satu sisi, pandemi menunjukkan bahwa kita bisa merespons krisis global dengan cepat ketika terdesak. Vaksin dikembangkan dalam waktu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kebijakan publik diubah dalam hitungan hari. Miliaran orang mengubah perilaku mereka.
Tapi di sisi lain, pandemi juga menunjukkan bahwa respons kita timpang dan tidak adil. Negara kaya menimbun vaksin sementara negara miskin kelaparan. Teori konspirasi menyebar lebih cepat dari virus. Dan ketika krisis mulai mereda, kita segera kembali ke “normal” yang sebenarnya adalah akar masalah.
Phillips bertanya: apakah kita akan melakukan hal yang sama dengan krisis iklim? Bersatu saat darurat, lalu kembali bercerai ketika bahaya sedikit mereda? Atau apakah kita akhirnya belajar bahwa krisis ini tidak akan “mereda”—ia hanya akan semakin parah jika tidak ditangani?
Penyair dan aktivis lingkungan Indonesia, Gunawan Maryanto, dalam salah satu puisinya menulis: “Kita adalah generasi yang mewarisi api, lalu mewariskannya sebagai abu.” Phillips mungkin setuju, tetapi ia menambahkan: kita masih bisa memilih apakah akan mewariskan api sebagai api yang membakar atau sebagai cahaya yang menerangi.
Untuk Apa Semua Ini?
Kesimpulan: Menerima Kebodohan, Melanjutkan Perjuangan
Pada akhirnya, Phillips tidak menawarkan solusi ajaib. Ia tidak berkata, “Lakukan 10 hal ini dan dunia akan selamat.” Ia juga tidak berkata, “Kita sudah hancur, tidak ada harapan.” Sebaliknya, ia menawarkan sesuatu yang lebih jujur dan lebih manusiawi: penerimaan atas kebodohan kita, disertai tekad untuk terus berjuang meskipun bodoh.
“Mungkin kita memang idiot,” tulisnya di halaman-halaman akhir. “Mungkin otak kita memang cacat. Mungkin sejarah kita memang penuh kekacauan. Tapi kita juga satu-satunya spesies yang bisa menyadari kebodohannya sendiri. Dan kesadaran itu, sekecil apa pun, adalah awal dari perbaikan” .
Ia mengingatkan kita bahwa sejarah manusia bukan hanya sejarah kegagalan, tetapi juga sejarah ketahanan. Kita jatuh, tapi kita bangkit lagi. Kita mengacau, tapi kita juga membersihkan kekacauan. Kita membuat kesalahan yang sama berulang kali, tapi kadang-kadang, di sela-sela itu, kita juga membuat kemajuan.
Filsuf Muslim abad ke-14, Ibn Khaldun, dalam Muqaddimah-nya menulis tentang siklus peradaban: lahir, tumbuh, mencapai puncak, lalu runtuh. Phillips setuju dengan siklus itu, tetapi ia menambahkan: setelah runtuh, peradaban baru lahir dari reruntuhan. Dan yang membuat peradaban baru itu berbeda adalah apakah ia belajar dari kesalahan pendahulunya.
Phillips menutup epilognya dengan sebuah ajakan sederhana: belajarlah. Belajar dari sejarah. Belajar dari kesalahan. Belajar dari kebodohan kita sendiri. Dan yang terpenting, belajar untuk tidak terlalu sombong mengira kita sudah tahu segalanya. “Kita tidak akan pernah menjadi sempurna,” tulisnya. “Tapi kita bisa menjadi sedikit kurang bodoh dari kemarin. Dan sedikit kurang bodoh, dalam jangka panjang, bisa membuat perbedaan besar” .
Membaca epilog Phillips, saya teringat pada kata-kata penulis dan aktivis Afrika Selatan, John Berger: “Harapan bukanlah keyakinan bahwa sesuatu akan berhasil, tetapi keyakinan bahwa sesuatu itu masuk akal, terlepas dari bagaimana hasilnya.“
Phillips tidak menjanjikan bahwa kita akan berhasil. Ia tidak menjanjikan bahwa kita akan menyelamatkan planet ini, mengakhiri perang, atau menciptakan utopia. Ia hanya menawarkan satu hal: bahwa perjuangan itu sendiri berarti. Bahwa mencoba, meskipun gagal, lebih baik daripada tidak mencoba sama sekali. Bahwa mengakui kebodohan adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan.
Pada akhirnya, Humans adalah buku tentang penerimaan. Menerima bahwa kita cacat. Menerima bahwa kita akan terus membuat kesalahan. Menerima bahwa masa depan tidak pasti. Tapi juga menerima bahwa dalam ketidakpastian itu, kita masih punya pilihan. Kita masih bisa memilih untuk peduli. Kita masih bisa memilih untuk bertindak. Kita masih bisa memilih untuk, setidaknya, mencoba tidak mengacaukan segalanya terlalu parah.
Seperti yang ditulis Phillips di kalimat penutupnya: “Kita mungkin idiot. Tapi kita adalah idiot yang bisa mencoba. Dan mencoba, mungkin, adalah satu-satunya hal yang membedakan kita dari idiot-idiot lainnya.“
Cirebon, 24 Juni 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Abou El Fadl, K. (2007). The great theft: Wrestling Islam from the extremists. HarperOne.
Amazon.in. (2023). Customer reviews: Humans: A brief history of how we f**ked it all up. https://www.amazon.in/
Berger, J. (1972). Ways of seeing. British Broadcasting Corporation (BBC) & Penguin Books.
Goodreads. (2023). Cav’s review of Humans: A brief history of how we f**ked it all up. https://www.goodreads.com/
Goodreads. (2024). Notes & highlights for Humans by Tom Phillips. https://www.goodreads.com/
Greene & Heaton Literary Agency. (n.d.). Humans: A brief history of how we f**ked it all up. https://greeneheaton.co.uk/
Harari, Y. N. (2015). Sapiens: A brief history of humankind. Harper.
Ibn Khaldun. (1967). The Muqaddimah: An introduction to history (F. Rosenthal, Trans.). Princeton University Press. (Original work published 1377)
Kant, I. (1996). An answer to the question: What is Enlightenment? In M. J. Gregor (Trans.), Practical philosophy (pp. 11–22). Cambridge University Press. (Original work published 1784)
Kirkus Reviews. (2019, May 7). Humans: A brief history of how we f**ked it all up [Book review]. https://www.kirkusreviews.com/
Lorde, A. (1984). Sister outsider: Essays and speeches. Crossing Press.
Maryanto, G. (2018). Pusaka remang-remang. Gramedia Pustaka Utama.
Phillips, T. (2019). Humans: A brief history of how we f**ked it all up. Hanover Square Press.
Shelf Awareness. (2019, April 16). Review: Humans: A brief history of how we f**ked it all up. https://www.shelf-awareness.com/
ThePrint. (2018, September 9). Humans: A brief history of how we f**ked it all up—A book that makes you laugh and think. https://theprint.in/
The StoryGraph. (n.d.). Review by girlnextshore: Humans: A brief history of how we f**ked it all up. https://app.thestorygraph.com/
Toynbee, A. J. (1946). A study of history. Oxford University Press.






