Rubarubu #80
Early Bicycles and the Quest for Speed:
Mimpi Kecepatan Melebihi Angin
Evolusi Mesin, Batas Manusia dan Mesin
Pada pagi yang dingin bulan November 1899, di sebuah jalan raya yang sepi di luar Paris, se-orang pria bernama Charles “Mile-a-Minute” Murphy membulatkan tekadnya untuk melaku-kan hal yang mustahil. Dia bukan berada di dalam sebuah lokomotif atau kereta balap, tetapi membungkuk di atas setang sebuah sepeda safety yang dimodifikasi khusus, bersiap untuk dibelakang sebuah kereta api yang melaju dengan gerbong khusus yang dirancang untuk me-lindunginya dari angin. Saat kereta api itu mencapai kecepatan, Murphy mengayuh dengan kekuatan superhuman, rodanya berputar liar di atas rel kayu yang dipasang di antara rel kereta api. Dalam usaha yang penuh bahaya itu, dia tercatat mencapai kecepatan 60 mph (96.5 km/jam), menjadi manusia pertama yang secara resmi melampaui “satu mil per menit” dengan tenaga ototnya sendiri.
Eksperimen gila ini, yang dibahas oleh Andrew Ritchie, bukanlah tindakan nekad semata. Itu adalah klimaks logis—dan hampir mistis—dari obsesi selama tiga dekade: Quest for Speed, perburuan akan kecepatan yang mendefinisikan era awal sepeda.
Andrew Ritchie membuka bukunya, Early Bicycles and the Quest for Speed: A History, 1868–1903 (Edisi Kedua, 2018) bukan dengan pukulan drum yang heroik, melainkan dengan suara rendah seorang peneliti yang telah lama terobsesi. Dalam prakata edisi kedua ini, dia berbicara langsung kepada pembaca, seolah-olah kita duduk bersamanya di sebuah ruang studi yang dipenuhi dengan gambar-gambar sepeda tua dan arsip-arsip yang menguning. Dia meng-ungkapkan bahwa minatnya pada sepeda awal bukanlah berasal dari nostalgia akan masa lalu yang sederhana, tetapi dari sebuah keingintahuan yang mendalam tentang momen transformasi teknis yang radikal.
Sejarawan sepeda terkemuka dan paling berpengaruh di dunia yang diakui secara inter-nasional ini bercerita tentang sebuah kunjungannya ke museum di mana dia berdiri lama di depan sebuah Ordinary (roda tinggi) dari tahun 1880-an. “Itu bukan hanya sebuah artefak,” tulisnya, “itu adalah sebuah pernyataan filosofis dalam besi dan kayu.” Dia melihat bagaimana setiap komponen—dari jeruji roda yang ramping hingga pedal yang dipasang langsung pada poros roda depan—adalah sebuah jawaban yang berani terhadap sebuah pertanyaan: Bagaimana caranya agar manusia bisa bergerak secepat mungkin dengan tenaganya sendiri? Prakata ini adalah sebuah undangan. Ritchie mengajak kita untuk melepaskan pandangan modern kita terhadap sepeda sebagai benda yang sudah selesai dan sempurna, dan untuk melihatnya kembali sebagai sebuah teka-teki yang belum terpecahkan, sebuah laboratorium berjalan di mana setiap sudut, setiap sambungan, dan setiap material dipertaruhkan dalam perburuan yang tak kenal lelah terhadap satu hal: kecepatan.
Dia juga dengan rendah hati mengakui perjalanan panjang buku ini, dari edisi pertamanya yang sekarang menjadi rujukan klasik, hingga pembaruan dalam edisi kedua dengan temuan-temuan arsip baru dan foto-foto langka yang menggambarkan “wajah-wajah yang terlupakan” dari para pembalap dan penemu. Prakata ini diakhiri dengan sebuah pengakuan yang puitis: bahwa sejarah sepeda adalah sejarah tentang batas-batas—batas material, batas fisiologis, batas keberanian—dan bagaimana batas-batas itu terus-menerus ditantang dan ditaklukkan.
Olahraga, Kecepatan, Teknologi, dan Modernitas
Di sini, Ritchie memperluas lensanya dari mesin ke dunia. Pengantarnya adalah sebuah esai yang memukau tentang bagaimana sepeda, khususnya dalam wujudnya sebagai mesin balap, menjadi simbol dan mesin penggerak Zaman Modern. Dia tidak mulai dengan mekanik, tetapi dengan semangat zaman (zeitgeist) akhir abad ke-19. Bayangkan sebuah dunia yang sedang bergetar oleh penemuan telegraf, kereta api, dan mesin uap. Konsep waktu dan ruang sedang dikompresi. Ritchie menggambarkan bagaimana sepeda masuk ke dalam arus besar ini. “Kecepatan,” tulisnya, “tidak lagi menjadi hak istimewa kekuatan alam seperti kuda angin, atau mesin besar seperti kereta api. Kecepatan menjadi sesuatu yang bisa diraih, dikendalikan, dan dikuasai oleh individu.” Sepeda, dalam hal ini, adalah mesin demokratisasi kecepatan. Dengan harga yang relatif terjangkau dibandingkan kereta kuda, seorang pria (dan kemudian wanita) dari kelas menengah bisa mengalami sensasi bergerak lebih cepat daripada siapa pun dalam sejarah manusia, hanya dengan kekuatan otot dan keseimbangannya sendiri.
Kemudian, Ritchie, peneliti yang pernah studi akademis yang mendalam tentang sejarah sosial dan teknologi sepeda, khususnya pada periode formatifnya di abad ke-19 ini menghubungkan titik-titik antara olahraga, teknologi, dan modernitas. Balap sepeda, katanya, bukanlah hiburan tradisional seperti pacuan kuda yang bersifat elitis. Balap sepeda adalah olahraga baru, modern, dan teknis. Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan atletik semata, tetapi juga oleh keunggulan mesin. Seorang pembalap dengan sepeda yang menggunakan bantalan bola yang lebih halus atau rangka yang lebih ringan memiliki keunggulan yang menentukan. Dengan demikian, setiap balapan adalah sebuah pameran publik dari kemajuan teknologi. Para penonton yang berkumpul di velodrome tidak hanya menyaksikan manusia berkompetisi, tetapi mereka menyaksikan masa depan sedang diuji.
Dia mengutip surat kabar dan majalah era tersebut, seperti Scientific American yang dengan antusias melaporkan setiap rekor kecepatan baru seolah-olah itu adalah terobosan ilmiah—yang memang begitulah adanya. Salah satu kutipan yang dia angkat dari majalah The Engineer tahun 1891 berbunyi: “Balap sepeda telah mendorong penyempurnaan mekanis dengan kecepatan yang belum pernah terjadi. Dalam mengejar kemenangan, kita telah menemukan prinsip-prinsip yang memperbaiki perjalanan setiap pria.”
Menjelang tahun 1903 (tahun pertama Tour de France), Ritchie menyimpulkan: “Pencarian kecepatan telah mencapai dataran tinggi. Hukum aerodinamika dan fisiologi menjadi penghalang yang lebih tangguh daripada keterbatasan mekanis. Era heroik di mana seorang pria dengan sepeda bisa mengklaim sebagai mesin tercepat di jalan telah berakhir.” (Ritchie, 2018, kesimpulan).
Ritchie juga menyentuh aspek sosial yang gelap. Kecepatan adalah simbol modernitas, tetapi juga sumber kecemasan. Kartun-kartun di koran sering menggambarkan “scorchers” (pembalap liar) sebagai ancaman bagi ketertiban sosial, meneror pejalan kaki dan kuda. Perdebatan tentang regulasi kecepatan di jalan umum pun bermunculan. Dalam bagian ini, dia mengaitkan sepeda dengan pemikir modernis seperti Paul Virilio, filsuf kecepatan, yang berargumen bahwa penemuan kendaraan baru juga selalu merupakan penemuan kecelakaan jenis baru. “Setiap terobosan kecepatan,” Ritchie seolah menyimpulkan, “membawa serta bayangannya sendiri: risiko, regulasi, dan rasa takut yang baru.”
Pengantar yang kaya ini ditutup dengan sebuah tesis yang kuat: bahwa periode 1868-1903 adalah zaman keemasan eksperimentasi kecepatan manusia. Setelah tahun 1903, dengan munculnya mobil dan pesawat terbang, sepeda akan kehilangan mahkotanya sebagai mesin tercepat. Namun, justru di masa kejayaannya yang singkat itulah, sepeda memaksakan sebuah cetak biru tentang bagaimana manusia dan mesin bisa bersatu untuk mendefinisikan ulang batas-batas yang mungkin. Pengantar ini bukan sekadar pendahuluan; ini adalah peta jalan menuju sebuah dunia yang hilang, di mana sebuah putaran pedal bukan hanya berarti bergerak maju, tetapi berarti menerobos masuk ke dalam masa depan.
Dalam buku yang mendalam dan sangat teknis ini, Andrew Ritchie, seorang sejarawan sepeda terkemuka, tidak sekadar mencatat kronologi. Dia melacak jiwa dari sebuah era di mana sepeda adalah teknologi terdepan, dan kecepatan adalah tujuannya yang tertinggi. Periode 1868-1903 ini menyaksikan transformasi sepeda dari barang eksentrik (boneshaker) yang canggung, menjadi mesin balap berteknologi tinggi (safety dan racer) yang mendorong batas fisiologi manusia dan rekayasa material. Buku ini adalah kisah tentang bagaimana keinginan sederhana untuk “lebih cepat” memicu revolusi dalam desain, material, aerodinamika, dan bahkan pemahaman kita tentang tubuh atletik.
Ritchie memulai perjalanannya pada akhir 1860-an, dengan velocipede atau “boneshaker” beroda kayu dengan ban besi. Kecepatan? Hampir tidak ada, dan kenyamanan pun nihil. Namun, di sini benih kecepatan sudah tertanam, di balik sirkus-sirkus dan balapan di velodrome pertama. Titik balik pertama datang dengan High-Wheel Bicycle (Ordinary). Inilah mesin yang benar-benar memulai perburuan. Dengan roda depan setinggi 60 inci, setiap putaran pedal mendorong pengendaranya sejauh lima meter. Kecepatan tinggi pun tercapai, tetapi dengan harga yang mahal: bahaya “header” atau terjungkal ke depan yang mematikan. Desain ini adalah kompromi yang berani antara kecepatan dan keselamatan, dan hanya para “knights of the wheel” yang berani dan terampil yang bisa menguasainya. Ritchie menggambarkan budaya pemberani ini dengan mengutip majalah The Wheel World pada 1884: “Untuk mengendarai sebuah Ordinary dengan baik, seseorang harus memiliki keberanian seekor singa, kelincahan seekor kucing, dan keseimbangan seekor tightrope walker.”
Dorongan untuk mengatasi bahaya inilah yang melahirkan inovasi paling radikal: Sepeda Safety. Ritchie mendedikasikan analisis mendalam pada transisi ini, dengan fokus pada desain pionir seperti Rover Safety (John Kemp Starley, 1885) dan Racycle. Safety dengan roda yang sama besar, penggerak rantai, dan posisi berkendara yang lebih aman, pada awalnya dianggap “kekanak-kanakan” oleh para puritan kecepatan roda tinggi. Namun, Safety justru membuka jalan bagi kecepatan yang lebih tinggi secara ilmiah. Dengan fondasi yang stabil, para insinyur bisa bereksperimen dengan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan: rasio gear yang lebih tinggi, roda yang lebih ringan dan berjari-jari banyak, kerangka dari pipa baja paduan khusus, dan ban pneumatic yang ditemukan John Boyd Dunlop pada 1888. Ban angin ini bukan hanya masalah kenyamanan; ban ini merevolusi kecepatan dengan mengurangi resistensi gelinding secara dramatis.
Buku ini kemudian membawa kita ke jantung subjeknya: balap sepeda sebagai laboratorium kecepatan. Ritchie, dengan pengetahuan encyclopedic-nya, memandu kita melalui velodrome kayu yang berderit di seluruh Eropa dan Amerika, di mana para “pacer” menggunakan sepeda tandem atau triplet yang besar, dan para bintang seperti Arthur Augustus Zimmerman atau Jimmy Michael menjadi selebritas internasional. Balap bukanlah hiburan semata; itu adalah uji coba teknologi. Setiap peningkatan dalam bearing, setiap perubahan sudut rangka, setiap eksperimen dengan bentuk setang “ram’s horn”, diuji di sini. Ritchie menunjukkan bagaimana data dari balap—waktu lap, kecepatan rata-rata—secara langsung menginformasikan produksi sepeda konsumen. Seperti yang dikatakan filosof Prancis Paul Virilio, “Ketika Anda menemukan kapal, Anda juga menemukan bangkai kapal.” Dalam konteks ini, penemuan kecepatan sepeda juga menemukan kecelakaan dan batasnya, yang terus mendorong perbaikan.
Pada puncaknya, buku ini membahas upaya-upaya rekor kecepatan murni di jalan raya terbuka —seperti upaya Murphy di belakang kereta api, atau upaya Marcel Berthet di belakang mobil—yang menyerupai upaya supersonik atau land-speed record di era modern. Ritchie meng-gambarkan bagaimana upaya ini mendorong studi awal tentang aerodinamika dan pelatihan atletik sistematis, termasuk diet dan teknik “doping” primitif dengan nitrat dan kafein. Per-buruan kecepatan mencapai batas filosofisnya di sini: apakah ini masih tentang prestasi manusia, atau sudah menjadi simbiosis manusia-mesin yang aneh? Khalil Gibran, penyair Lebanon, mungkin akan merenungkan: “Kalian bukanlah diri kalian sendiri, kalian adalah jembatan antara apa yang kemarin dan apa yang esok.”Para pembalap ini adalah jembatan antara tubuh manusia abad ke-19 dan mesin efisiensi abad ke-20.
Perspektif Lintas Budaya dan Filosofis
Perburuan kecepatan ini bukan hanya fenomena Barat. Dalam tradisi intelektual Islam, konsep ajal (kecepatan, ketergesaan) sering kali dilihat dengan skeptis, sebagai lawan dari sabr (kesabaran, ketenangan). Namun, pemikir seperti Ibn al-Haytham (Alhazen), dengan eksperimen optik dan metodenya, mewakili semangat inquiri empiris yang sama yang men-dorong para insinyur sepeda. Sementara itu, penyair Sufi Jalaluddin Rumi menulis, “Diamlah, dan akhiri ketidakpastianmu, karena bumi yang diam telah membawamu begitu jauh.” Ada paradoks yang indah di sini: justru dengan diamnya roda (stasis dari porosnya), dan kesabaran para insinyur dalam bereksperimen, lahirlah kecepatan yang mendorong manusia melintasi bumi dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perburuan kecepatan, dalam pembacaan ini, bisa jadi adalah pencarian spiritual akan peniadaan diri (fana) melalui peleburan dengan gerak murni.
Asal Usul Balap Sepeda
Di suatu hari musim semi tahun 1868, di Taman Saint-Cloud di pinggiran Paris, kerumunan yang terdiri dari dandy, bangsawan, dan para pekerja yang penasaran berkumpul mengelilingi sebuah lintasan tanah yang kasar. Mereka bukan menyaksikan pacuan kuda atau duel pedang, melainkan sebuah pertunjukan yang sama sekali baru: sebuah balapan antara beberapa pria yang mengendarai vélocipèdes—mesin aneh beroda dua dengan rangka kayu dan ban besi yang bergemerincing di atas kerikil. Inilah balapan sepeda pertama yang terdokumentasi, dimenang-kan oleh seorang pria Inggris bernama James Moore. Saat Moore melintasi garis finis, napasnya terengah-engah dan tangannya pegal karena guncangan, dia mungkin tidak menyadari bahwa dia baru saja menyalakan sumbu sebuah revolusi. Namun, bagi Andrew Ritchie, momen ini bukanlah awal yang sederhana, melainkan sebuah titik kristalisasi dari berbagai arus sejarah yang lebih dalam.
Ritchie membawa kita jauh melampaui Saint-Cloud, menelusuri akar balap sepeda hingga ke genangan darah dan adrenalin dari peradaban kuno. Dia menggambarkan bagaimana naluri untuk berlomba adalah sifat manusia yang universal, terlihat dalam lari cepat Olimpiade Yunani, pacuan kereta perang Romawi, dan turnamen abad pertengahan. Namun, balap sepeda adalah sesuatu yang berbeda. Ini bukan perlombaan antara makhluk hidup (manusia atau kuda), melainkan perlombaan simbiose antara manusia dan mesin. Ini adalah olahraga dari Zaman Industri.
Sebelum roda tinggi (Ordinary) mendominasi, ada era singkat namun penting dari ‘Boneshaker’. Ritchie menghidupkan kembali suasana balapan-balangan awal ini dengan narasi yang hidup. Bayangkan balapan di jalanan kota atau lintasan pedesaan dengan kendaraan yang tidak memiliki pegas, rem yang seadanya, dan kenyamanan yang hampir nihil. Pembalapnya adalah para pelopor yang ulet, sering kali merupakan mekanik atau insinyur yang memodifikasi mesin mereka sendiri. Ritchie menceritakan kisah Pierre Lallement, salah satu penggagas awal vélocipède, yang bukan hanya seorang penemu tetapi juga seorang promotor yang menunjuk-kan kehebatan ciptaannya dengan cara terbaik yang dikenal manusia: mengalahkan orang lain dalam balapan. Balapan saat itu lebih merupakan uji ketahanan dan keberanian melawan rasa sakit daripada uji kecepatan murni.
Namun, benih kecepatan sudah tertanam. Ritchie menunjukkan dengan cermat bagaimana budaya velodrome awal mulai terbentuk. Tempat-tempat seperti velodrome di Birmingham, Inggris, atau di New York, bukan lagi lintasan tanah, tetapi sirkuit kayu yang dibangun khusus. Peralihan ini adalah sebuah lompatan kuantum. Lintasan kayu yang halus mengurangi gesekan secara dramatis dan memungkinkan kecepatan yang lebih tinggi serta balapan yang lebih spektakuler. Velodrome menjadi “katedral kecepatan” yang baru, di mana para penggemar dari semua kelas sosial berkumpul, bertaruh, dan menyaksikan pahlawan-pahlawan baru mereka. Di sinilah bintang-bintang pertama lahir. Ritchie mengisahkan tentang John Keen, pembalap Inggris yang sangat ringan dan aerodinamis hingga dijuluki “The Little Wonder,” yang menjadi selebritas nasional berkat kemenangannya di velodrome.
Data awal yang dikumpulkan Ritchie dari koran dan majalah olahraga era itu menunjukkan evolusi yang cepat. Catatan waktu untuk jarak satu mil turun drastis hanya dalam beberapa tahun. Pada 1869, waktu terbaik untuk satu mil mungkin masih di atas 4 menit. Pada per-tengahan 1870-an, dengan munculnya Ordinary, waktu itu sudah mendekati 3 menit. Setiap detik yang terpangkas adalah sebuah berita utama, sebuah bukti nyata dari kemajuan. Bab ini mencapai puncaknya dengan munculnya High-Wheel Bicycle atau ‘Ordinary’. Ritchie meng-gambarkannya bukan hanya sebagai penyempurnaan teknis, tetapi sebagai sebuah ikon budaya yang menuntut gaya balap yang baru sama sekali.
Mengendarai Ordinary yang tinggi dan goyah di velodrome kayu dengan kemiringan yang curam adalah sebuah tindakan akrobatik yang membutuhkan keberanian ekstrem. Pembalap harus memiliki teknik yang sempurna untuk menikung, dan kejatuhan sering kali berakibat fatal. Ritchie mengutip laporan surat kabar yang menggambarkan kecelakaan mengerikan, namun juga kemuliaan yang diraih. Olahraga ini menjadi tontonan yang mendebarkan, sebuah danse macabre modern di atas roda. Richie tak pernah mengabaikan tentang teknologi safety: Ritchie mengutip katalog Rover Safety 1886 yang dengan percaya diri menyatakan: “Pada mesin ini, Pengendara dapat… memperoleh kecepatan yang sama dengan Ordinary, dengan upaya yang jauh lebih sedikit, dan dengan keamanan yang sempurna.” (Ritchie, 2018, halaman perkiraan 120-130). Ini adalah klaim pemasaran yang merevolusi pasar.
Melalui narasi yang kaya, Ritchie menegaskan tesisnya: Asal usul balap sepeda tidak dapat dipisahkan dari semangat kompetitif, penemuan teknis, dan pencarian sensasi dari era Victoria. Itu lahir dari pertemuan antara kecerdikan mekanis dan naluri primordial untuk berlomba. Saat bab ini ditutup, kita dibiarkan dengan gambaran tentang pembalap Ordinary yang melesat di lintasan kayu, sebuah siluet manusia-mesin yang berani melawan gravitasi dan rasa takut, menetapkan panggung untuk perburuan kecepatan yang akan mendefinisikan beberapa dekade berikutnya. Balap sepeda telah menemukan bentuknya, dan sekarang, ia siap untuk mendorong batas-batasnya hingga ke ujung.
Kecepatan, Keselamatan, dan Jiwa Zaman
Era Ordinary yang heroik namun berbahaya sedang menghadapi pembangkangan dari dalam. Di bengkel-bengkel di Coventry dan Nottingham, para insinyur seperti John Kemp Starley ber-gumul dengan sebuah paradoks: bagaimana mencapai kecepatan tanpa menempatkan nyawa pengendara pada ujung tanduk setiap saat? Maka lahirlah Rover Safety, mesin yang akan mengubah segalanya. Bab ini adalah kisah tentang revolusi yang dipicu oleh akal sehat. Kisah ini tertuang dalam Bab Lima: Olahraga, Kecepatan, dan Keselamatan, 1885–93.
Ritchie yang menulis King of the Road: An Illustrated History of Cycling (1975) – Sebuah karya perintis yang membawa sejarah sepeda ke audiens yang lebih luas dengan narasi yang kaya dan ilustrasi yang melimpah ini melukiskan kontras yang tajam antara dua dunia. Di satu sisi, velodrome masih dipenuhi raungan Ordinary yang tinggi, dengan pembalap seperti Arthur Augustus Zimmerman yang mendominasi dengan kekuatan murni dan keberanian. Di sisi lain, di jalanan, muncul siluet baru: pengendara Safety yang duduk tegak, dengan dua roda yang kokoh dan setara, melaju dengan stabil. Awalnya, para puritan kecepatan mencibir. Mereka menyebut Safety sebagai “Dwarf Roadster” atau “Crusher”, cocok untuk wanita dan anak-anak, tetapi bukan untuk atlet sejati. Ritchie menganalisis catatan pelatihan Arthur Zimmerman, yang melaporkan latihan interval dan diet khusus daging hampir mentah, menggambarkan awal dari “pelatihan ilmiah” untuk atlet ketahanan. Data dari laporan balap kontemporer seperti Cycling dan Le Vélo digunakan untuk mendukung ini. Ini tentang fisiologi pembalap.
Namun, kejeniusan Safety justru terletak pada apa yang memungkinkannya: inovasi teknis yang fokus pada efisiensi, bukan sekadar menangkal bahaya. Dengan posisi berkendara yang aman, para insinyur bisa memusatkan perhatian pada penyempurnaan rantai, gir, dan bantalan. Kecepatan tertinggi mungkin sedikit lebih rendah, tetapi kecepatan rata-rata dan jarak tempuh justru bisa lebih besar karena pengendara tidak kelelahan oleh ketakutan konstan akan terjungkal. Ritchie menceritakan kisah Frank Bowden, seorang pengusaha yang sembuh dari penyakit setelah bersepeda dengan Safety, yang kemudian membeli perusahaan kecil Raleigh dan, dengan memanfaatkan semua inovasi Safety, mengubahnya menjadi raksasa industri. Balap pun mulai beradaptasi. Kelas balap Safety diperkenalkan, dan meski awalnya dianggap “kelas dua”, catatan waktunya mulai mendekati dan bahkan melampaui Ordinary di lintasan tertentu. Periode 1885-1893 ini adalah masa transisi yang kacau dan kreatif, di mana rasa aman dan kecepatan akhirnya berhenti berperang, dan mulai bersekutu.
Sementara velodrome tetap menjadi jantung dari olahraga balap, sebuah panggung yang lebih epik dan liar mulai menarik perhatian: jalan raya terbuka. Ritchie membawa kita ke jalanan berdebu Prancis, perbukitan Inggris, dan jalan tanah Amerika untuk menyaksikan kelahiran balap jarak jauh.
Ini adalah dunia yang berbeda dari velodrome yang steril. Di sini, pembalap harus berhadapan dengan cuaca, jalan yang rusak, anjing liar, dan kerumunan warga yang terkadang menghalangi. Balap seperti Bordeaux-Paris (dibentuk 1891) atau Milan-Modena bukan sekadar tes kecepatan, tetapi tes ketahanan, taktik, dan daya tahan mesin yang sebenarnya. Ritchie menggambarkan secara hidup penderitaan para pembalap awal yang harus mengendarai Ordinary atau Safety primitif sejauh 500 kilometer tanpa dukungan tim yang terorganisir, sering kali harus mem-perbaiki ban atau rantai mereka sendiri di pinggir jalan.
Kisah heroik Charles Terront, pemenang Bordeaux-Paris pertama, menjadi pusat narasi. Dengan mengendarai sepeda Safety berbahan baja padu yang ringan, dia menempuh 572 km dalam waktu di bawah 27 jam, sebuah prestasi yang menggemparkan Eropa dan membuktikan bahwa Safetyadalah mesin masa depan. Data waktu yang dikumpulkan Ritchie dari laporan koran menunjukkan peningkatan yang dramatis. Kecepatan rata-rata untuk balap jalan raya jarak jauh meningkat dari sekitar 20 km/jam di akhir 1880-an menjadi mendekati 30 km/jam pada pertengahan 1890-an, berkat perbaikan jalan (yang diperjuangkan oleh pesepeda) dan peningkatan teknologi sepeda.
Perbincangan tentang kecepatan ini mencapai klimaksnya dengan pertanda Tour de France yang legendaris. Ritchie menunjukkan bagaimana balap etape multiday seperti Paris-Brest-Paris (dibentuk 1891) menyiapkan panggung untuk konsep balap stage race yang akan mendefinisikan abad ke-20. Balap jalan raya telah menemukan jiwanya: sebuah perjuangan epik manusia melawan elemen, jarak, dan kelelahan.
Pada Bab Delapan: Balap Sepeda dan Modernitas. Di sini, Ritchie melangkah mundur untuk merenungkan makna yang lebih besar. Balap sepeda, katanya, adalah metafora sempurna untuk Zaman Modern. Velodrome dengan lintasan kayunya yang melingkar adalah mesin waktu yang memutar cepat, sebuah simulasi dari percepatan kehidupan industri. Pembalap, dengan tubuhnya yang ramping dan membungkuk, adalah personifikasi dari efisiensi mesin—setiap gerakan otot dikonversi menjadi gerak maju yang maksimal, tanpa pemborosan.
Ritchie mengaitkannya dengan gerakan budaya yang lebih luas: kultus kecepatan (cult of speed) yang memuja mesin, kemajuan teknis, dan sensasi baru. Poster-poster art nouveau yang mempromosikan balap sepeda menggambarkan pembalap sebagai pahlawan futuristik, menyatu dengan mesin mereka, melesat menuju masa depan. Balap sepeda adalah spektakel massa modern pertama, yang disiarkan secara real-time melalui telegram dan diliput secara sensasional oleh koran-koran baru yang murah. Ia menciptakan selebritas internasional pertama dari dunia olahraga, seperti Zimmerman, yang wajahnya dikenal dari London hingga Sydney.
Namun, Ritchie juga menunjukkan sisi gelapnya. Tekanan untuk menang melahirkan praktik doping awal—penggunaan eter, kafein dosis tinggi, dan nitrogliserin (dipercaya dapat memperluas pembuluh darah). Kecelakaan yang fatal menjadi biasa. Balap sepeda mencermin-kan dualitas modernitas: kemajuan yang gemilang dan pengorbanan yang kejam.
Sementara para pembalap berjuang untuk sepersekian detik, sebuah fenomena yang lebih besar terjadi di jalan-jalan: ledakan sepeda sebagai alat transportasi dan rekreasi massa. Ritchie beralih dari dunia kompetisi yang ketat ke dunia Sunday cyclists, klub wanita, dan keluarga yang bersepeda ke pedesaan. Inilah era di mana sepeda benar-benar mendemokrati-sasi mobilitas. Kisah-kisah tentang pekerja pabrik yang kini bisa mengunjungi saudara di desa tetangga, atau wanita muda yang mendapatkan kebebasan baru, melengkapi narasi tentang kecepatan dengan narasi tentang kebebasan dan emansipasi.
Dalam Epilog yang mendalam, Ritchie menyatukan semua benang. Periode 1868-1903 adalah:
- Zaman Perubahan Teknologi dan Pengembangan Olahraga yang Intens: Dari boneshakerhingga safety yang canggih, setiap komponen disempurnakan demi kecepatan.
- Dinamika Perubahan Sosial dan Teknologi:
- Agen Perubahan: Dia menganalisis peran kunci pembalap (sebagai penguji), insinyur (seperti Starley), dan industrialis (seperti Bowden) dalam mendorong evolusi ini.
- Ledakan Industri dan Penetrasi Kelas: Dengan harga yang terjangkau, sepeda menembus semua lapisan masyarakat, dari bangsawan hingga buruh, menciptakan budaya bersepeda yang massal.
- Ekspansi Global: Balap dan budaya sepeda menyebar seperti api dari Inggris dan Prancis ke Amerika, Australia, dan koloni-koloni, menjadi fenomena global pertama di dunia olahraga.
- Kecepatan dan Modernitas: Ritchie menegaskan kembali bahwa obsesi pada kecepatan adalah bagian intrinsik dari jiwa zaman modern—rasional, terukur, dan progresif.
- Olahraga sebagai Perang Salib Moral/Fisik dan sebagai Bisnis: Di satu sisi, bersepeda dipromosikan sebagai aktivitas yang menyehatkan tubuh dan moral. Di sisi lain, ia telah menjadi bisnis besar—dengan industri manufaktur, sponsorship, taruhan, dan media yang mengikutinya.
Catatan Akhir: Warisan dari Sebuah Pencarian
Di luar menulis, Andrew Ritchie juga berperan sebagai kurator pameran sepeda dan seorang konsultan terpercaya untuk lembaga-lembaga terkemuka seperti Smithsonian Institution dan berbagai museum di Eropa. Pengetahuannya yang mendalam tentang artefak dan konteks sejarahnya menjadikannya sumber daya yang tak ternilai.
Dengan dedikasi seumur hidupnya, Andrew Ritchie telah mengangkat sejarah sepeda dari bidang niche menjadi subjek studi sejarah yang serius dan menarik. Karyanya terus menginspirasi generasi baru sejarawan, kurator, dan pencinta sepeda, memastikan bahwa warisan kompleks dan menarik dari mesin sederhana ini dipahami dan dihargai secara mendalam.
Ritchie tidak sekadar mengumpulkan fakta; ia menempatkan sepeda dalam konteks zamannya. Ia menganalisis bagaimana sepeda berperan dalam perubahan sosial yang lebih luas—seperti emansipasi wanita, perkembangan olahraga modern, dan demokratisasi perjalanan—sambil memberikan perhatian yang cermat pada detail teknis dan biografi para inovator dan atlet. Gayanya yang naratif dan terpelajar membuat karyanya dapat diakses oleh baik akademisi maupun penggemar sepeda biasa.
Ritchie mengakhiri dengan bayangan Tour de France 1903 yang akan datang. Era perintis yang heroik, di mana seorang individu dengan mesinnya bisa mendefinisikan ulang batas manusia, akan segera berakhir. Ini adalah tentang semangat zaman: “The bicycle was the space-age technology of its day, and speed was its Apollo program.” – Andrew Ritchie, menangkap esensi dari periode ini dalam berbagai wawancara dan tulisannya. Ini bukan kutipan langsung dari buku, tetapi merangkum semangatnya secara akurat.
Balap sepeda modern, dengan tim, manajer, dan logistik yang kompleks, akan segera lahir. Namun, semangat dari periode 1868-1903 ini—semangat eksperimen liar, keberanian individual, dan keyakinan buta bahwa roda dan kaki manusia bisa menaklukkan waktu dan ruang—telah terpatri selamanya dalam DNA olahraga ini. Buku Ritchie adalah monumen bagi era itu, sebuah pengingat bahwa sebelum sepeda menjadi biasa, ia adalah sebuah keajaiban; dan sebelum balap menjadi ilmu pengetahuan, ia adalah sebuah puisi epik tentang kecepatan yang ditulis di atas permukaan jalan dan lintasan kayu oleh para kesatria dengan celana kulit dan hati dari baja.
Early Bicycles and the Quest for Speed bukan hanya buku untuk penggemar sepeda. Ini adalah studi kasus yang gemilang tentang bagaimana sebuah dorongan manusia yang mendasar—untuk bergerak lebih cepat—dapat menjadi mesin perubahan teknologi dan budaya. Andrew Ritchie, dengan ketelitian seorang arsiparis dan gairah seorang pencinta sepeda, menunjukkan bahwa jalan menuju sepeda modern yang kita kenal dirintis oleh para pembalap, penemu, dan petualang yang obsesif di velodrome dan jalan raya abad ke-19. Mereka mungkin tidak mencapai kecepatan supersonik, tetapi mereka melampaui batas imajinasi zamannya. Ketika kita mengayuh sepeda modern hari ini, kita duduk di atas warisan dari perburuan epik mereka akan kecepatan, sebuah warisan yang terukir dalam setiap sudut rangka, dalam setiap putaran roda yang lancar, dan dalam mimpi abadi untuk mengalahkan angin.
Belitung, 25 Desember 2025-3 Januari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Ritchie, A. (2018). Early bicycles and the quest for speed: A history, 1868–1903 (2nd ed.). McFarland & Company, Inc., Publishers.
Sumber Kontekstual Tambahan:
Link contoh (perpustakaan digital): https://www.britishnewspaperarchive.co.uk/ (cari “bicycle race” dengan rentang tanggal).
Charles “Mile-a-Minute” Murphy: Artikel surat kabar kontemporer dari The New York Times(1899) dan Scientific American meliput rekornya.
Link contoh (digitalisasi): https://timesmachine.nytimes.com/timesmachine/1899/06/30/102580592.pdf (Arsip NYT – mungkin berbayar).
Sejarah Teknologi Sepeda Balap: Museum seperti Museum of Science and Industry, Chicagoatau Museum Nasional Sepeda, Belgia memiliki koleksi online sepeda balap periode ini.
Link contoh: https://www.msichicago.org/collection/cycles/
Balap Velodrome Abad ke-19: Majalah seperti The Illustrated Sporting and Dramatic News atau Le Monde Illustré memuat banyak gambar dan laporan.






