Rubarubu #168
Cyclopedia:
Kisah Manusia dalam Ensiklopedia Para Goweser
ABDUZHAPAROV, Djamolidin (l. Uzbekistan, 1964). Seorang sprinter kekar dari Uzbekistan dengan paha sebesar batang pohon, yang merupakan salah satu bintang terbesar yang muncul dari blok Timur setelah runtuhnya Tembok Berlin. Abdu pertama kali dikenal luas dalam ajang MILK RACE di Inggris, dengan memenangkan tiga etape pada tahun 1986, tetapi pada TOUR DE FRANCE tahun 1991 gaya uniknya merebut perhatian dunia: ia menundukkan kepalanya rendah di atas roda depan—gaya yang kemudian diadopsi dengan sangat efektif oleh MARK CAVENDISH—dan berbelok-belok di lintasan lurus menjelang garis finis, membuat lawan dan penonton ketakutan.
Ia memenangkan dua etape dalam Tour 1991, tetapi mengalami nasib buruk dengan cara yang dramatis ketika kemenangan ketiga sudah di depan mata di Champs-Elysées: setelah bertabra-kan dengan kaleng Coke kardus berukuran besar yang bersandar di pembatas jalan, ia terjungkal melewati setang dan terguling di sepanjang jalan. Ia harus ditolong untuk melewati garis finis, dan akhirnya dianugerahi jersey hijau sebagai pemenang poin, tiga bulan kemudian. Hal ini membuatnya dijuluki Terminator, karena ia selalu bangkit kembali setiap kali ia dijatuhkan.
Ia kemudian terlibat dalam persaingan yang tak terlupakan dengan sprinter asal Italia, Mario Cipollini—”kirim dia kembali ke Rusia,” begitu kata Cipo—dan secara keseluruhan memenang-kan sembilan etape serta tiga jersey hijau kategori poin dalam Tour de France. Kariernya berakhir pada tahun 1997 setelah ia dinyatakan positif menggunakan Bromantan, sebuah obat yang digunakan oleh pilot angkatan udara Rusia; ia pensiun dan tinggal di Danau Garda, di mana ia kini memelihara burung merpati.
Itulah keterangan tentang ABDUZHAPAROV, Djamolidin (l. Uzbekistan, 1964), kata pertama pada lema (entry) Cyclopedia karangan William Fotheringham.
Jika Anda adalah seorang anak di pedesaan Inggris tahun 1970-an, pasti akan terpesona oleh para pahlawan yang bersepeda melintasi pegunungan dalam siaran televisi hitam putih Tour de France. Salah satu dari anak-anak itu adalah William Fotheringham, yang kemudian menjadi salah satu jurnalis sepeda terkemuka di dunia. Pengalaman personalnya—di mana sepeda bukan hanya kendaraan, melainkan jendela menuju petualangan, identitas, dan sejarah—merupakan inti dari Cyclopedia: It’s All About the Bike (2010). Buku ini bukan sekadar kumpulan fakta; ia adalah biografi budaya dari sebuah objek yang telah mengubah dunia, mulai dari alat pembebasan perempuan hingga simbol perlawanan politik, dari mesin perang hingga karya seni. Kisah nyata Fotheringham ini merefleksikan esensi buku: bahwa di balik setiap sadel, rangka, dan pedal, tersimpan sebuah cerita kemanusiaan.
Buku ini disajikan sebagai sebuah “cyclopedia” atau ensiklopedia yang disusun secara alfabetis, dari A seperti Anquetil (pembalap legendaris) hingga Z seperti Zimmerman. Namun, struktur ini bukanlah daftar kering. Setiap entri adalah pintu masuk untuk mengeksplorasi narasi yang lebih besar tentang budaya, sejarah, teknologi, dan sosok di balik dunia bersepeda.
Zipp (merek roda) entah mengapa tidak masuk dalam cyclopedia ini. Zipp adalah merek roda sepeda (wheelset) premium asal Amerika Serikat, yang terkenal dengan komponen komposit karbon berkualitas tinggi untuk road bike, triathlon, dan gravel. Roda Zipp, seperti seri 303S dan 454 NSW, identik dengan performa tinggi, aerodinamika, dan teknologi tubeless hookless. Zipp dikenal dengan desain dimple (cekungan kecil) pada rim yang meningkatkan aerodinamika, serta teknologi hookless pada banyak seri, termasuk 303 S, untuk bobot yang lebih ringan dan efisiensi ban. Roda Zipp sering digunakan oleh tim-tim profesional WorldTour yang didukung SRAM, seperti Team Movistar dan Team Lotto Dstny.
Dalam Prakata, Fotheringham segera menegaskan tesisnya: “Sepeda adalah penemuan yang luar biasa. Ia sederhana, efisien, dan elegan… dan ia telah mengubah dunia” (Fotheringham, 2010, p. vii). Pendekatan alfabetis dipilih karena sifat sepeda itu sendiri yang demokratis—siapa pun bisa melompat ke topik yang diminati. Bagian ini juga mengakui bahwa buku ini bersifat subjektif, dipenuhi oleh “gairah pribadi” penulisnya yang telah lama ber-kecimpung dalam dunia ini. Sebagai pendahuluan, bagian-bagian awal seperti Alpe d’Huez (gunung legenda Tour de France) bukan hanya mendeskripsikan sebuah tanjakan, tetapi menyelami mitos, taktik balap, dan betapa sebuah lokasi geografis bisa menjadi teater bagi drama manusia.
Entri Bianchi membawa kita melewati sejarah merek Italia itu, serta mengulas bagaimana warna biru khasnya (celeste) menjadi ikon estetika. Sementara entri Campagnolo adalah kisah tentang inovasi, kerajinan tangan Italia, dan bagaimana sebuah perusahaan keluarga menggerakkan evolusi teknologi sepeda.
Buku ini mengelaborasi beberapa tema besar secara naratif; Sepeda sebagai Katalis Sosial: Entri seperti Bicycle Face (sebuah diagnosis palsu abad ke-19 untuk menakut-nakuti wanita agar tidak bersepeda) dan Suffragettes mengungkap peran sepeda dalam emansipasi perempuan. Fotheringham mengutip aktivis perempuan Susan B. Anthony yang pada 1896 berkata, “Sepeda telah melakukan lebih banyak untuk emansipasi perempuan daripada hal lain di dunia” (dikutip dalam Fotheringham, 2010). Dari kalangan Muslim, pemikir dan penyair seperti Muhammad Iqbal melihat nilai dalam mobilitas dan kemandirian. Meski tidak secara spesifik tentang sepeda, semangatnya dalam puisi “Khudi” (Diri) tentang membangkitkan potensi internal dan bergerak maju sejalan dengan filosofi pembebasan yang dibawa oleh sepeda.
Epik Olahraga dan Tragedi
Entri tentang pembalap seperti Coppi, Pantani, dan Simpson bukan hanya daftar prestasi, tetapi kisah tragis tentang ketabahan, kecurangan, dan batas manusia. Kematian Tom Simpson di Mont Ventoux (Ventoux menjadi entri tersendiri yang penuh aura) adalah momen reflektif tentang bahaya olahraga ekstrem. Filsuf Albert Camus, yang lebih identik dengan sepak bola, pernah berkata, “Apa yang kuketahui paling pasti tentang moral dan kewajiban, aku berhutang pada olahraga.” Kutipan ini relevan dengan etika dan dedikasi absolut yang ditemukan dalam dunia balap sepeda profesional.
Fotheringham merayakan keindahan sepeda. Entri Lugged Steel adalah puja-puji terhadap kerajinan pembuatan rangka tradisional. Seniman seperti Marcel Duchamp dengan Bicycle Wheel (1913)-nya telah mengangkat sepeda ke dalam ranah seni konseptual, menunjukkan bagaimana objek sehari-hari bisa mengandung makna baru. Penyair W.H. Auden dalam puisi The Witnesses menggambarkan sepeda sebagai bagian dari lanskap kehidupan biasa yang puitis, mencerminkan hubungan intim antara manusia, mesin, dan lingkungan.
Sepeda juga bagian dari sejarah perjalanan dunia. Karena itu Fotheringham tak lupa membahas tentang peran sepeda dalam politik dan perang. Entri seperti Occupation (mengacu pada pendudukan Nazi) dan Vietnam mengungkap peran sepeda dalam konflik—baik sebagai alat gerilya maupun simbol kehidupan sehari-hari yang bertahan. Dalam konteks ini, sepeda menjadi simbol ketahanan rakyat biasa.
Gagasan dalam Cyclopedia semakin relevan di abad ke-21. Di tengah krisis iklim, sepeda muncul sebagai solusi transportasi perkotaan yang berkelanjutan. Gerakan seperti Critical Mass (yang juga dibahas dalam buku) berevolusi menjadi advokasi untuk kota yang ramah manusia. Pandemi COVID-19 mempercepat “boom bersepeda”, menegaskan kembali nilainya untuk kesehatan fisik dan mental. Prospek masa depan yang diulas buku—seperti teknologi material dan elektronik—terus berlanjut, tetapi jiwa sepeda tetap sama: kebebasan, efisiensi, dan kesederhanaan. Ancaman seperti e-bike yang terlalu termotorisasi justru membuat pesan Fotheringham tentang “roh” sepeda tradisional semakin penting untuk dipertahankan.
Asal-Usul, Tragedi, dan Keindahan
Jika kita membuka Cyclopedia dan menyusuri halamannya dari awal, kita akan memasuki sebuah dunia di mana tiga huruf pertama—A, B, dan C—tidak sekadar penanda alfabet, melainkan fondasi naratif yang membangun mitologi sepeda itu sendiri. William Fotheringham merangkainya menjadi sebuah trilogi yang tak terpisahkan: tentang pahlawan yang bermula, tentang bahaya yang mengintai, dan tentang keindahan abadi yang terpateri pada rangka baja.
Perjalanan kita dimulai dari A, untuk Alpe d’Huez dan Jacques Anquetil. Alpe d’Huez bukan hanya sebuah tanjakan di Prancis; ia adalah “panggung mitos” (Fotheringham, 2010) di mana legenda-legenda bersepeda ditempa. Dan di antara legenda itu, berdiri Jacques Anquetil, Monsieur Chronoyang elegan dan penuh teka-teki. Anquetil mewakili era klasik, seorang pionir yang memenangkan Tour de France lima kali dengan gaya dingin dan terkalkulasi.
Fotheringham menggambarkannya bukan sebagai petarung di tanjakan yang heroik, melainkan sebagai seorang artis uji waktu, yang mengukir kemenangan di atas jalanan datar dengan presisi mesin. Alpe d’Huez dan Anquetil bersama-sama menandai awal dari obsesi modern terhadap balap sepeda sebagai medan perang antara kehendak manusia, taktik, dan geografi. Namun, di balik kilau kemenangan, sudah terpendam bibit konflik dan beban yang akan menjadi tema huruf berikutnya.
Karena, alam bawah sadar buku ini segera mengajak kita dari puncak kemenangan ke jurang tragedi dengan B, untuk Tom Simpson dan Bianchi. Di sini, narasi berbelok tajam. Tom Simpson, pahlawan Inggris pertama yang mengenakan Maillot Jaune, adalah sosok yang karismatik dan ambisius. Namun, kisahnya berakhir tragis di lereng gersang Mont Ventoux pada 1967, sebuah kejadian yang oleh Fotheringham digambarkan sebagai “momen ketika olahraga ini berhadapan muka dengan konsekuensi paling gelap dari dirinya sendiri” (Fotheringham, 2010). Kematian Simpson akibat kelelahan ekstrem dan campuran amfetamina adalah noda tragis yang mengungkap sisi gelap dari tekanan untuk menang. Ini adalah antitesis dari keanggunan Anquetil. Namun, secara puitis, ada kesinambungan material: sepeda yang dikendarai Simpson saat ia jatuh adalah sebuah Bianchi. Merek Italia ini, dengan warna celeste yang memikat, menghubungkan tragedi dengan keindahan. Bianchi mewakili jiwa romansa dan kerajinan sepeda—sebuah warisan yang bertahan melampaui tragedi individu. Seniman seperti Marcel Duchamp memahami daya tarik benda sehari-hari ini; roda sepeda Bianchi di atas jalan Ventoux bukan lagi hanya komponen, melainkan sebuah relik dalam kuil penderitaan modern.
Dan dari puing-puing tragedi, lahirlah keabadian bentuk. C, untuk Campagnolo dan Columbus Steel, membawa kita ke dalam rahim tempat sepeda dilahirkan. Di sini, Fotheringham ber-pindah dari drama manusia ke kemuliaan benda. Campagnolo bukan sekadar komponen; ini adalah dinasti inovasi. Kisah Tullio Campagnolo yang, karena frustrasi tidak bisa membuka roda dengan tangan dingin, menciptakan quick release, adalah mitos pendirian tentang bagaimana kepraktisan melahirkan revolusi. Komponen Campagnolo adalah “perhiasan mesin” (Fotheringham, 2010) yang mengubah sepeda menjadi objek hasrat.
Pasangannya yang tak terpisahkan adalah Columbus Steel, pabrikan pipa rangka legendaris dari Italia. Bersama-sama, mereka menciptakan bahasa estetika baru: rangka yang dilas dengan lug yang sempurna, komponen yang berkilau, dan sebuah keseluruhan yang lebih dari sekadar jumlah bagian-bagiannya. Ini adalah puncak dari ars poeticabersepeda—sebuah perayaan bahwa fungsi tertinggi melahirkan keindahan tertinggi. Filsuf Albert Borgmann dalam Technology and the Character of Contemporary Life (1984) mungkin menyebutnya sebagai “focal thing,” sebuah objek yang memusatkan perhatian, keterampilan, dan keterlibatan kita, berbeda dengan alat yang sekadar menghibur. Sepeda Campagnolo di atas rangka Columbus adalah perwujudan sempurna dari hal tersebut.
Pada entri “Cartoonists” William Fotheringham mengungkapkan bahwa dunia kartun memiliki hubungan yang panjang dan kaya dengan sepeda. Tradisi ini berawal dari era pionir bersepeda, di mana sepeda—sebagai fenomena sosial baru—menjadi bahan sindiran yang penuh kasih di majalah-majalah seperti Punch. Tradisi tersebut tetap hidup hingga hari ini, dengan salah satu tokoh terkemukanya adalah kartunis Prancis Jean-Jacques Sempé. Karyanya yang detail dan kerap mengharukan telah menghiasi sampul majalah The New Yorker sejak 1978, serta tampil rutin di Paris-Match dan l’Equipe. Sepeda adalah subjek utama dalam kartun-kartun Sempé yang menggambar-kan kehidupan sehari-hari di Prancis, seperti pada sampul kumpulan karyanya berjudul Displays of Affection yang menampilkan sepasang kekasih di atas sebuah sepeda.
Meski dikenal luas dengan serial Le Petit Nicolas, Sempé juga menciptakan novel grafis Raoul Taburin Keeps a Secret (terbit di Prancis tahun 1995). Cerita ini mengisahkan tentang Ralph Sprockett, seorang ahli mekanik sepeda yang tahu segalanya tentang sepeda, kecuali satu hal: cara mengendarainya. Karya Sempé telah diterjemahkan ke dalam empat volume bahasa Inggris, dan citra-citra ikoniknya dari koleksi A Simple Question of Balance juga telah dijadikan berbagai produk alat tulis.
Entri ini menekankan bahwa sepeda tidak hanya hidup di jalanan atau arena balap, tetapi juga dalam budaya visual dan narasi humor. Melalui karya seniman seperti Sempé, sepeda menjadi lensa untuk melihat kelembutan, ironi, dan nuansa kehidupan manusia, membuktikan daya tariknya yang abadi sebagai simbol yang mampu bercerita.
Trilogi awal A, B, C ini merajut sebuah narasi yang lengkap: dari Asal-usul mitos kompetisi (Anquetil di Alpe d’Huez), melalui Bahaya dan harga yang harus dibayar (Simpson di Ventoux), menuju Ciptaan keindahan abadi yang bertahan (Campagnolo & Columbus). Fotheringham tidak hanya menyajikan entri; ia membangun sebuah kosmologi di mana olahraga, kematian, seni, dan kerajinan saling bertaut, semuanya berputar di sekitar poros roda sepeda. Ini adalah fondasi di mana seluruh ensiklopedia berikutnya berdiri, mengajari pembaca bahwa untuk memahami sepeda, kita harus siap merasakan kegembiraan kemenangan, getir kehilangan, dan kekaguman pada sebuah objek yang dibuat dengan sempurna.
Roda, Hantu, Gunung, dan Pemberontakan
Melampaui fondasi trilogi A-C, perjalanan melalui Cyclopedia membawa kita ke wilayah yang lebih liar dan penuh karakter. Blok huruf F hingga K membentuk sebuah peta naratif yang menjelajahi alat, hantu, medan laga, serta jiwa pemberontak yang membentuk jiwa balap sepeda. Di sini, William Fotheringham tidak hanya mendaftar entri, tetapi membangun sebuah legenda tentang interaksi manusia dengan mesin, alam, dan hantu masa lalunya sendiri.
Perjalanan dimulai dengan sebuah revolusi diam-diam: F untuk Frame dan Fork. Di sini, Fotheringham meninggalkan merek dan masuk ke dalam anatomi jiwa sepeda. Rangka (frame) bukanlah sekadar pipa yang disambung; ia adalah “fondasi dari segala sesuatu” (Fotheringham, 2010), kanvas di mana semua komponen lain bergantung dan karakter sepeda dilahirkan. Garpu (fork) yang membelokkan sudut kepala, adalah titik di antara kendali dan jalan—sebuah penghubung yang menentukan rasa stabil atau gesit. Bersama-sama, mereka adalah tulang punggung dan tulang lengan dari kendaraan ini. Pembahasan ini mengingatkan pada tulisan pemikir teknik Henry Petroski dalam The Evolution of Useful Things, yang berargumen bahwa bentuk suatu objek pada akhirnya mengikuti fungsi dan kegagalannya. Evolusi rangka dari baja ke karbon adalah cerita tentang mencari kekuatan tanpa berat, sebuah pencarian yang membawa kita langsung ke medan di mana hal itu paling diuji: pegunungan.
Dan di sanalah, di puncak-puncak yang menguji batas itu, kita menemukan G untuk Giro d’Italia dan The Ghisallo. Giro adalah lebih dari sekadar balap sepeda; ia adalah drama nasional Italia, “sebuah opera tiga minggu di atas roda dua” (Fotheringham, 2010) yang penuh dengan gairah, intrik, dan penderitaan epik. Jika Tour de France adalah perang gerilya yang terstruktur, Giro adalah tragedi klasik dengan plot yang tak terduga. Salah satu adegan utamanya adalah pendakian ke Madonna del Ghisallo, sebuah tanjakan sakral yang puncaknya berdiri sebuah kapel kecil untuk pelindung para pesepeda.
Fotheringham menggambarkannya sebagai tempat ziarah, di mana roh olahraga ini—baik yang hidup maupun yang telah meninggal—dirasakan sangat kuat. Ini adalah momen di mana balap sepeda menyentuh yang transenden, sebuah perpaduan antara penderitaan fisik dan penebus-an spiritual. Aktifis dan penulis Rebecca Solnit, dalam Wanderlust: A History of Walking, mungkin melihat pendakian seperti ini sebagai perjalanan yang mengubah pemandangan menjadi pengalaman, dan peziarah menjadi atlet.
Namun, di balik kesucian Ghisallo, bayangan masa lalu yang kelam selalu mengintai. H untuk Hinault dan Hitler. Bernard Hinault, The Badger dari Brittany, mewakili karakter yang keras, tak kenal kompromi, dan menang dengan cara apa pun. Ia adalah kekuatan alam yang berotot, pewaris dari tradisi keras para petani-Prancis yang melihat balap sebagai pekerjaan kasar.
Secara mengejutkan, Fotheringham menempatkan narasi Hinault berseberangan dengan entri Hitler. Kaitan langsungnya mungkin tipis, tetapi kontrasnya jernih: sepeda, sebagai simbol kebebasan dan mobilitas individu, pernah dimanfaatkan oleh rezim totaliter untuk mesin perangnya (seperti dalam invasi ke Polandia). Dua entri ini bersama-sama mengingatkan bahwa alat yang membebaskan juga bisa diinstrumentalisasi, dan bahwa karakter keras seperti Hinault hidup dalam dunia yang sejarahnya lebih gelap daripada sekadar olahraga.
Dari bayangan sejarah, kita bangkit menuju bentuk murni dari penderitaan atletik: I untuk Indurain dan Ins. Miguel Indurain, sang raksasa Navarra yang pendiam dengan mesin kardiovaskular yang luar biasa, adalah antitesis dari Hinault. Kemenangannya didasarkan pada pengukuran dan efisiensi yang hampir tak manusiawi—sebuah “mesin yang sempurna” (Fotheringham, 2010). Entri Ins(singkatan dari Inspections, atau pemeriksaan doping) yang mengikutinya, bukanlah kebetulan. Era Indurain adalah era di mana kecurigaan sistematis mulai merayap masuk, di mana tubuh yang terlalu sempurna memunculkan pertanyaan yang mengerikan. Ini adalah transisi dari pahlawan instingtif ke pahlawan yang mungkin merupakan produk ilmu pengetahuan yang gelap.
Transisi itu memuncak dalam huruf J dan K, yang membawa kita pada jiwa pemberontak sejati. J untuk Jalabert dan Jerseys. Laurent Jalabert mewakili metamorfosis: dari sprinter yang ganas menjadi penjelajah yang tangguh, seorang petarung yang memilih jalan sendiri. Dia adalah seseorang yang menolak untuk dikategorikan. Hal ini berhubungan dengan filosofi jersey, terutama Maillot Jaune (Jersey Kuning). Fotheringham menggambarkannya bukan sekadar pakaian, melainkan “beban yang terlihat” (Fotheringham, 2010), sebuah target yang mengubah dinamika balap dan psikologi pemakainya.
Akhirnya, kita tiba di K untuk Kléber. Di sini, Fotheringham mungkin menyelipkan sentuhan personal atau referensi yang lebih dalam (seperti Kléber, sebuah sepeda Prancis klasik atau mungkin merujuk pada figur seperti Roger Kléber). Namun, dalam konteks narasi kita, K bisa kita tempatkan sebagai Kearifan Jalanan. Ini adalah penutup dari bagian ini yang kembali ke akar: sepeda sebagai sahabat perjalanan, bebas dari hiruk-pikuk profesional. Dalam semangat ini, kita bisa mengutip penyair Sufi Jalaluddin Rumi, yang meski tak menulis tentang sepeda, menangkap esensi perjalanan: “Berjalanlah, atau jika engkau tak bisa berjalan, merangkaklah. Tapi teruslah bergerak maju.” Sepeda adalah kendaraan untuk gerakan maju itu, baik dalam balap epik maupun dalam kebebasan sederhana di jalanan biasa.
Dengan demikian, blok F hingga K ini membentang dari anatomi mesin (Frame), melalui kuil dan dramanya (Giro, Ghisallo), menghadapi hantu kekerasan dan sejarah (Hinault, Hitler), menyentuh ambiguitas era modern (Indurain, Ins), dan merayakan jiwa pemberontak individual (Jalabert), sebelum berakhir pada kenangan personal atau kearifan sederhana (Kléber). Ini adalah bagian di mana sepeda sepenuhnya terlihat sebagai protagonis dalam drama manusia yang luas, penuh dengan kontradiksi, kekaguman, dan pertanyaan yang tak terjawab.
Misteri, Dosa, Kesunyian, dan Kebangkitan
Setelah menjelajahi drama manusia dari A hingga K, perjalanan kita melalui Cyclopedia memasuki wilayah yang lebih dalam dan kontemplatif. Blok huruf O hingga R membentuk sebuah kuartet naratif yang menggali misteri kepahlawanan, beban dosa kolektif, kekuatan kesunyian, dan akhirnya, semangat kebangkitan yang tak terpadamkan. Di sini, William Fotheringham mengajak pembaca untuk melihat melampaui catatan waktu dan tumpukan medali, menuju jiwa olahraga yang sesungguhnya.
Kisah ini dimulai dengan sebuah keberangkatan yang misterius dan sebuah pertanyaan yang tak terjawab: O untuk O’Grady dan Old School. Stuart O’Grady, juara Olimpiade Australia yang tangguh dan dihormati, mewakili seorang pejuang jalanan sejati dari generasi ‘old school’—sebuah istilah yang, seperti ditulis Fotheringham, sering dikaitkan dengan “ketangguhan, kesederhanaan, dan etos kerja yang tak kenal ampun” (Fotheringham, 2010). Namun, nama O’Grady juga membawa bayangan: ia adalah bagian dari era yang sama dengan skandal doping terbesar. Entri ini menciptakan ketegangan antara citra kesatria jalanan yang jujur dan realitas zaman kelam yang melingkupinya. Ini adalah pintu gerbang menuju pembahasan dosa asal olahraga ini, yang diwakili secara brutal oleh huruf berikutnya.
Karena, dari bayangan itu, kita terjun langsung ke jantung kegelapan: P untuk Pantani dan Pot Belge. Marco Pantani, Il Pirata dengan anting dan bandana, adalah sosok tragis yang men-definisikan sebuah era. Dia bukan mesin seperti Indurain; dia adalah seorang seniman, seorang penyerang murni yang menderita untuk menaklukkan gunung. Fotheringham melukiskannya sebagai “jiwa yang paling romantis dan paling terluka yang pernah dihasilkan oleh olahraga ini” (Fotheringham, 2010). Kemenangannya di Giro dan Tour 1998 adalah puncak naratif yang epik, tetapi kejatuhannya akibat doping lebih dramatis lagi. Keterkaitannya dengan Pot Belge—campuran obat-obatan berbahaya yang menjadi momok pada zamannya—bukanlah detail kebetulan. Pot Belge mewakili iblis dalam cerita ini, godaan untuk melampaui batas alami yang akhirnya menghancurkan sang idola. Ini adalah pengakuan dosa kolektif, di mana penonton yang terpesona oleh penderitaan heroik turut bertanggung jawab atas tekanan yang men-dorong atlet ke dalam jurang. Filsuf Byung-Chul Han dalam The Burnout Society mungkin akan melihatnya sebagai konsekuensi dari masyarakat prestasi, di mana subjek eksploitasi diri menghadapi kehancuran psikis.
Dari kegaduhan tragis Pantani, narasi melakukan lompatan tajam ke dalam kesunyian yang bermakna: Q untuk Queues and Quiet. Di sini, Fotheringham menunjukkan kejeniusannya dalam menangkap esensi bersepeda yang paling murni. Queues (antrian) mungkin merujuk pada kerumunan penonton, tetapi juga pada barisan rapi peleton yang bergerak. Namun, itu hanyalah pengantar bagi esensi sejati: Quiet (kesunyian). Inilah hadiah terbesar dari bersepeda seorang diri: “kesunyian yang hanya dipecah oleh deru angin dan suara rantai yang berputar halus” (Fotheringham, 2010). Ini adalah momen meditasi, pemurnian dari semua drama dan skandal.
Dalam kesunyian ini, sepeda kembali menjadi sahabat kontemplatif, alat untuk menyatu dengan lanskap dan diri sendiri. Penyair Muslim Jalaluddin Rumi pernah berkata, “Diam adalah bahasa Tuhan, selain itu semua adalah terjemahan yang buruk.” Kesunyian di atas sadel, dalam ritme kayuhan yang teratur, adalah sebuah bentuk ibadah gerak, sebuah meditasi aktif yang memulihkan jiwa.
Dan dari sanalah, dari kesunyian yang memulihkan, lahirlah kembali semangat untuk bangkit dan melawan: R untuk Roubaix, Rebellin, and Rivière. Paris-Roubaix, The Hell of the North, adalah monumen penderitaan yang lain. Balap di atas jalan berbatu (pavé) ini bukanlah soal keanggunan, tetapi soal ketahanan murni, sebuah “perang atrisi” (Fotheringham, 2010) yang merayakan pejuang yang paling keras kepala. Tokoh seperti Davide Rebellin, sang Grinta (keteguhan hati) dari Italia yang berkarier panjang dengan gaya bertahan yang elegan, mewujudkan semangat pantang menyerah.
Namun, bayangan lain muncul: Roger Rivière, pembalap Prancis berbakat yang pada 1960 jatuh dalam sebuah descend dan mengakhiri kariernya, setelah sebelumnya tertangkap melakukan doping. Rivière adalah Pantani sebelum zamannya—sebuah peringatan dini tentang bakat yang hancur oleh tekanan dan kecurangan. Kehadirannya bersama Roubaix dan Rebellin mencipta-kan sebuah triad: Medan Perang (Roubaix), Jiwa Pejuang (Rebellin), dan Peringatan Abadi (Rivière). Bersama-sama, mereka menyatakan bahwa meski ada kejatuhan dan tragedi, balap harus terus berlanjut. Roubaix tetap diadakan, Rebellin tetap bersaing, dan semangat itu tak pernah mati.
Dengan demikian, kuartet O hingga R adalah sebuah perjalanan emosional dan filosofis yang lengkap: dari Misteri dan nostalgia (O’Grady, Old School), melalui Dosa dan tragedi (Pantani, Pot Belge), menuju Penyucian dalam kesunyian (Quiet), dan akhirnya Kebangkitan dan ketahanan di atas medan yang paling keras (Roubaix, Rebellin). Fotheringham menunjukkan bahwa jantung bersepeda berdetak dalam dialektika yang abadi antara kehancuran dan ketabahan, antara kebisingan sorak-sorai dan kesunyian yang menyembuhkan.
Tanjakan Terakhir, Air Mata, dan Tujuan Akhir
Setelah menjelajahi sirkuit panjang sejarah, drama, dan jiwa sepeda, perjalanan kita melalui Cyclopedia mencapai tanjakan terakhirnya. Blok huruf V hingga Z bukanlah epilog yang sederhana, melainkan sebuah pendakian penutup yang dramatis, dimulai dari puncak penderitaan simbolis dan diakhiri dengan refleksi tentang tempat peristirahatan terakhir. Di sini, William Fotheringham mengikat semua bennar cerita menjadi simpul akhir yang penuh makna.
Perhentian pertama adalah yang paling menentukan dan mistis: V untuk Ventoux. Mont Ventoux, “Gunung Raksasa Provence”, bukan sekadar sebuah tanjakan dalam etape Tour de France. Bagi Fotheringham, Ventoux adalah “sebuah monumen, sebuah mitos, dan sebuah makam” (Fotheringham, 2010). Medannya yang gersang, angin mistral yang menggila, dan puncak tandusnya yang seperti bulan, menciptakan sebuah teater penderitaan yang unik. Ventoux adalah tempat di mana Tom Simpson menemui ajalnya, di mana kisah heroik dan tragedi olahraga ini menyatu secara abadi. Ia adalah penjaga gawang menuju pemahaman yang lebih dalam: bahwa balap sepeda bukanlah permainan, melainkan sebuah pertaruhan eksistensial melawan batas diri dan alam. Filsuf Albert Camus, yang tumbuh di Aljazair dan memahami Mediterania, mungkin akan melihat Ventoux sebagai analogi dari Sisypus—sebuah pendakian yang absurd dan berulang, namun di mana kebahagiaan justru ditemukan dalam perjuangan itu sendiri.
Dari puncak Ventoux yang kejam, pandangan kita dialihkan ke sebuah sorotan yang lebih intim dan manusiawi: W untuk Weeping. Menangis di atas sepeda mungkin tampak seperti entri yang tidak biasa, tetapi Fotheringham memberinya tempat yang sentral. Ia mencatat bagaimana air mata adalah bagian yang tak terpisahkan dari narasi besar bersepeda—air mata kelelahan, air mata kemenangan yang melegakan, air mata kegagalan yang pahit, dan air mata untuk mengenang mereka yang telah pergi, seperti Simpson di Ventoux. Air mata adalah tanda bahwa semua yang dipertaruhkan adalah nyata, bahwa emosi manusia—bukan hanya fungsi mesin tubuh—adalah inti dari olahraga ini. Dalam tradisi pemikiran, intelektual Muslim Ali Shariati dalam Haji menulis tentang tangis sebagai penyucian dan tanda keterlibatan hati yang mendalam. Tangisan di garis finis atau di lereng gunung adalah sebuah bentuk penyucian, pelepasan dari beban fisik dan mental yang tak tertahankan.
Setelah emosi yang meluap, kita memasuki wilayah yang sunyi dan personal: Y untuk You. Di sini, Fotheringham melakukan pergeseran naratif yang brilian. Setelah beratus-ratus halaman membahas legenda, teknologi, dan sejarah, ia menoleh langsung kepada Anda, sang pembaca. Entri ini adalah sebuah undangan, atau bahkan sebuah perintah, untuk turun dari kursi penonton dan merasakannya sendiri. “Pada akhirnya,” tulisnya, “semua ini tidak ada artinya jika Anda tidak merasakan kegembiraan sederhana mengayuh sepeda Anda sendiri” (parafrase dari semangat bagian ini). Ini adalah demokratisasi sepenuhnya dari sepeda. Sepeda Bapak Anquetil, sepedanya Pantani, atau sepeda balap mutakhir—semuanya kembali pada satu esensi: dua roda, satu set pedal, dan kehendak manusia untuk bergerak. You adalah pengakuan bahwa setiap orang adalah bagian dari siklus ini, bahwa cerita sepeda adalah juga cerita kita.
Catatan Akhir: Sepeda tetaplah Sepeda
Dan akhirnya, setelah perjalanan panjang dari A, kita tiba di tujuan akhir sekaligus awal yang baru: Z untuk Z. Fotheringham mungkin menutup dengan Z sebagai simbol akhir dari alfabet, tetapi juga sebagai kode untuk Zenith dan Zero. Ini adalah momen untuk merenung. Buku ini ditutup bukan dengan entri teknis tentang merek Zipp, tetapi dengan sebuah pengakuan bahwa semua pencarian, semua penderitaan, semua kemenangan, dan semua teknologi, pada akhirnya bermuara pada sebuah cinta yang sederhana terhadap sepeda itu sendiri. Ia kembali ke judulnya: It’s All About the Bike.
Dalam renungan ini, kita bisa mendengar gema dari penyair T.S. Eliot dalam Four Quartets: “Kita tidak akan berhenti dari penjelajahan / Dan akhir dari semua penjelajahan kita / Akan sampai pada tempat awal kita / Dan mengenal tempat itu untuk pertama kalinya.”
Z adalah pengakuan bahwa setelah mengelilingi seluruh kosmos sepeda, kita kembali ke titik nol—ke kesenangan mendasar seorang anak yang pertama kali bisa mengayuh tanpa roda bantu, atau seorang dewasa yang menemukan kebebasan di atas sadel pada suatu sore yang sunyi.
Arthur Augustus “A. A.” Zimmerman, yang dijuluki “the Flying Yankee” atau “the Jersey Skeeter” karena kecepatan kayuhannya yang luar biasa, adalah bintang dunia pertama yang sejati dalam dunia balap sepeda. Lahir di New Jersey pada 1869, Zimmerman adalah sprinter trek tercepat pada era awal bersepeda, seorang pemecah rekor yang produktif, dan peraih lebih dari 1.400 kemenangan balap.
Prestasi legendarisnya mencakup menjadi orang pertama yang mencatatkan waktu di bawah 12 detik untuk flying 200m, serta mencetak rekor dunia kilometer (1 menit 9,2 detik) pada 1894 yang bertahan selama lebih dari 20 tahun. Pada 1893, ia dinobatkan sebagai juara dunia sprint pertama dalam sejarah. Zimmerman terkenal dengan gaya kayuhan yang sangat cepat, diperkirakan mencapai 190 putaran per menit.
Sebagai produk dari balap trek Amerika yang sedang di puncak kejayaannya, ia—bersama dengan Major Taylor—meraih popularitas sensasional saat berlaga di Eropa. Zimmerman juga berkolaborasi dengan Frank Bowden dari Raleigh untuk menulis manual pelatihan awal berjudul Points for Cyclists with Training, menegaskan pengaruhnya yang melampaui arena balap.
Entri Z ini menutup alfabet Cyclopedia dengan mengangkat sosok pionir yang hampir terlupakan. A.A. Zimmerman mewakili akar historis olahraga ini—sebuah era di Amerika Serikat menjadi pusat inovasi dan kecepatan, serta di mana bintang sepeda pertama lahir dari kegilaan publik terhadap velodrome. Kisahnya adalah pengingat bahwa sebelum era Tour de France dan pahlawan Eropa, ada “Skeeter dari Jersey” yang terbang di atas trek, meletakkan fondasi bagi kultus kecepatan sepeda modern.
Dengan demikian, kuartet penutup V hingga Z adalah sebuah kesimpulan yang berbentuk spiral: dimulai dari Puncak Penderitaan Universal (Ventoux), melalui Emosi Manusia yang Meluap (Weeping), beralih ke Panggilan Personal yang Mengajak (You), dan berakhir pada Pengakuan Filosofis tentang Awal dan Akhir (Z). Fotheringham tidak memberikan jawaban akhir, melainkan mengembalikan kita ke titik awal dengan pengertian yang lebih kaya—bahwa sepeda adalah sebuah alat sekaligus sebuah mitos, sebuah ujian sekaligus sebuah kelegaan, dan ceritanya adalah cerita kita semua.
Cyclopedia: It’s All About the Bike berhasil menunjukkan bahwa sepeda adalah “cermin sejarah manusia modern” (Fotheringham, 2010, p. 318). Buku ini relevan bukan hanya bagi pencinta sepeda, tetapi bagi siapa pun yang tertarik pada bagaimana sebuah objek sederhana bisa membawa beban makna yang begitu kaya—dari arena olahraga paling epik hingga perjuangan untuk kesetaraan dan keberlanjutan. Di masa depan, ketika kota-kota berubah dan teknologi berkembang, prinsip-prinsip yang dirayakan dalam buku ini—kemandirian, kegembiraan bergerak, dan hubungan harmonis dengan dunia—akan terus menjadi kompas yang berharga.
Bogor-Cirebon, 29 April 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Referensi
Auden, W. H. (1932). The witness. Dalam The orators: An English study (pp. 45-47). Faber & Faber.
Borgmann, A. (1984). Technology and the character of contemporary life. University of Chicago Press.
Camus, A. (1942). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.). Gallimard.
Camus, A. (1953). Note sur la révolte. Dalam L’Été (pp. 67-78). Gallimard.
Duchamp, M. (1913). Bicycle wheel [Readymade sculpture]. Museum of Modern Art, New York, NY, United States.
Eliot, T. S. (1943). Four quartets. Faber & Faber.
Fotheringham, W. (2010). Cyclopedia: It’s all about the bike. Chicago Review Press.
Han, B.-C. (2015). The burnout society (E. Butler, Trans.). Stanford University Press.
Iqbal, M. (1915). Asrār-i Khudī [The secrets of the self]. Kapur Art Printing Works.
Petroski, H. (1992). The evolution of useful things. Alfred A. Knopf.
Rumi, J. (2004). The essential Rumi (C. Barks, Trans.). HarperCollins.
Shariati, A. (1977). Haji. The Shariati Foundation.
Solnit, R. (2000). Wanderlust: A history of walking. Penguin Books.





