Rubarubu #34
Content Strategy:
Mengelola Media Sosial Berkelanjutan
Dua Situs Berita di Tengah Banjir Informasi
Pada suatu krisis kebakaran hutan yang melanda California, dua situs berita lokal menghadapi tantangan yang sama: bagaimana menyampaikan informasi yang akurat, tepat waktu, dan dapat ditindaklanjuti kepada warga yang panik. Situs pertama, “California Daily,” membanjiri pembacanya dengan puluhan artikel setiap jam—update dari pemadam kebakaran, laporan cuaca, peringatan evakuasi, wawancara dengan korban. Hasilnya? Pembaca yang kebingungan, informasi yang bertabrakan, dan pesan penting yang tenggelam dalam lautan konten.
Situs kedua, “Valley Voice,” mengambil pendekatan berbeda. Mereka menunjuk seorang “content strategist” yang segera membuat sistem: satu halaman dashboard dengan peta interaktif zona evakuasi, jadwal update yang konsisten setiap dua jam, format informasi yang seragam, dan saluran komunikasi yang jelas antara pembaca dan redaksi. Hasilnya? Warga menemukan informasi yang mereka butuhkan dengan cepat, pemerintah lokal menjadikan situs mereka sebagai rujukan resmi, dan komunitas merasa lebih tenang menghadapi krisis.
Guiseppe Getto, Jack T. Labriola, Sheryl Ruszkiewicz dengan buku “Content Strategy: A How-to Guide” mengupas apa yang terjadi dalam kisah itu—bahwa dalam dunia yang dibanjiri konten, yang dibutuhkan bukanlah lebih banyak konten, tetapi konten yang tepat, untuk orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan tujuan yang jelas. “Content strategy isn’t about creating more content; it’s about creating the right content for the right people at the right time for the right reasons.” (Getto, Labriola, & Ruszkiewicz, 2023, hlm. 5).
Buku ini dibuka dengan diagnosis yang tajam tentang bagaimana revolusi digital telah me-ngubah landscape konten secara fundamental. Penulis berargumen bahwa kita telah beralih dari ekonomi kelangkaan konten menuju ekonomi keberlimpahan konten—sebuah pergeser-an yang membutuhkan pendekatan strategis yang sama sekali baru.
Dari Tactical Menuju Strategic. Penulis membedakan dengan jelas antara “content marketing” (taktik jangka pendek) dengan “content strategy” (pendekatan holistik jangka panjang). Content strategy, dalam definisi mereka, adalah “praktik terpadu untuk merencanakan, mengembang-kan, mengelola, dan mengukur konten yang dapat digunakan dalam suatu organisasi.” “We are drowning in information but starved for knowledge.” — John Naisbitt, futurist.
Buku ini menjawab tepat pada tantangan yang diidentifikasi Naisbitt—bagaimana mengubah informasi menjadi pengetahuan yang bermakna. Yang membuat buku ini unik adalah penekanannya pada pendekatan human-centered yang memposisikan konten bukan sebagai komoditas, tetapi sebagai mediator hubungan antara manusia dengan manusia, antara organisasi dengan komunitasnya.
Bagian pembuka buku ini (Bagian 1: Key Concepts in Content Strategy – Fondasi Filosofis Strategi Konten) membangun landasan konseptual yang kokoh tentang apa sebenarnya strategi konten itu—sebuah pertanyaan yang sering kali dijawab dengan definisi sempit yang berfokus pada aspek teknis semata. Penulis dengan meyakinkan berargumen bahwa strategi konten bukan sekadar tentang “membuat dan mendistribusikan konten,” melainkan sebuah pendekatan holistik untuk menciptakan, mengelola, dan mengoptimalkan konten sebagai aset strategis organisasi.
Yang menarik dari bagian ini adalah bagaimana penulis membedakan dengan tegas antara “content strategy“ dengan “content marketing“—dua istilah yang sering disamakan secara keliru. Content marketing digambarkan sebagai taktik jangka pendek untuk mencapai tujuan pemasaran, sementara content strategy adalah disiplin komprehensif yang mencakup seluruh siklus hidup konten, dari kelahiran hingga “kematiannya.” “Content strategy is the practice of planning for the creation, delivery, and governance of useful, usable, and effective content.” (Getto et al., 2023, hlm. 15)
Konsep yang paling berkesan dalam bagian ini adalah “content as a business asset”—pandang-an bahwa konten yang terkelola dengan baik adalah aset berharga yang memberikan nilai jangka panjang, sama seperti aset fisik atau intelektual lainnya. Penulis menggambarkan bagaimana organisasi yang memandang konten sebagai biaya semata akan cenderung menghasilkan konten yang reaktif dan tidak strategis, sementara yang memandangnya sebagai aset akan berinvestasi dalam perencanaan dan pengelolaan yang matang.
Bagian ini berhasil membangun fondasi filosofis yang kuat tanpa terjebak dalam abstraksi teoritis. Penulis menghubungkan konsep-konsep strategis dengan implikasi praktis, membuat-nya relevan baik untuk eksekutif yang membutuhkan justifikasi bisnis maupun praktisi yang membutuhkan panduan operasional. Pendekatan human-centered yang diusung sejalan dengan tren kontemporer yang menekankan pengalaman pengguna di atas kepentingan algoritma.
Penulis mengembangkan framework komprehensif yang mereka sebut “The Content Strategy Ecosystem”—sebuah sistem yang melihat konten sebagai organisme hidup dalam ekosistem yang saling terhubung. Terdapat lima pilar dalam mengembangkan “The Content Strategy Ecosystem”
Pilar 1: User-Centered Design (Desain Berpusat pada Pengguna)
Bab ini menekankan bahwa konten yang efektif harus dimulai dari pemahaman mendalam tentang kebutuhan, perilaku, dan konteks pengguna. Penulis memperkenalkan metode “content-focused user research” yang menggabungkan teknik etnografi, wawancara mendalam, dan analisis behavioral. “An content audit is like MRI for your organization’s communication—it reveals what’s healthy, what’s broken, and what’s missing.” (Getto et al., 2023, hlm. 78)
Pilar 2: Content Auditing and Analysis (Audit dan Analisis Konten)
Penulis memperkenalkan metode sistematis untuk “mendengarkan apa yang dikatakan konten Anda” melalui audit komprehensif. Ini bukan sekadar inventarisasi, tetapi proses diagnostik untuk memahami kesehatan konten existing.
Pilar 3: Content Planning and Modeling (Perencanaan dan Pemodelan Konten)
Ini adalah jantung dari buku ini—bagaimana mentransformasi wawasan dari research menjadi blueprint aksi. Penulis memperkenalkan konsep “content modeling” yang memisahkan konten dari presentasinya, memungkinkan fleksibilitas across multiple platform dan channel.
Pilar 4: Content Creation and Governance (Penciptaan dan Tata Kelola Konten)
Bab ini membahas bagaimana membangun sistem berkelanjutan untuk menciptakan, me-ngelola, dan memelihara konten. Penulis menekankan pentingnya “content governance”—kerangka kerja keputusan tentang siapa, apa, kapan, dan bagaimana konten harus dikelola.
Pilar 5: Measurement and Optimization (Pengukuran dan Optimasi). Penulis menantang praktik pengukuran tradisional yang hanya fokus pada metrics vanity. Sebaliknya, mereka memper-kenalkan framework untuk mengukur “content effectiveness”—bagaimana konten berkontribusi pada tujuan bisnis dan kebutuhan pengguna.
Bagian kedua buku ini (The Content Strategy Process – Alur Kerja Strategis yang Iteratif) meng-hadirkan kerangka proses yang elegan namun powerful—sebuah pendekatan sistematis yang dapat diadaptasi oleh organisasi dari berbagai ukuran dan kompleksitas. Proses ini digambarkan bukan sebagai linier waterfall model, melainkan siklus iteratif yang terdiri dari lima fase yang saling terhubung: Discover, Analyze, Plan, Create, dan Govern.
Fase Discover dibahas dengan kedalaman yang mengesankan, menekankan pentingnya me-mahami konteks organisasi, tujuan bisnis, dan lingkungan kompetitif sebelum menciptakan konten apa pun. Penulis menggunakan analogi yang tajam: “Membuat konten tanpa discovery phase seperti membangun rumah tanpa fondasi—mungkin cepat berdiri, tetapi pasti cepat roboh.”
Fase Analyze memperkenalkan metode content audit yang komprehensif, bukan sekadar inventarisasi, tetapi proses diagnostik untuk memahami kesehatan konten existing. Yang menarik, penulis tidak hanya berfokus pada konten internal, tetapi juga menganjurkan analisis kompetitif dan gap analysis untuk mengidentifikasi peluang. “Without analysis, content strategy is just guesswork. With it, every decision becomes evidence-based and purposeful.” (Getto et al., 2023, hlm. 47)
Fase Plan menghadirkan konsep “content modeling”—pemisahan konten dari presentasinya—yang memungkinkan konten yang sama dapat disajikan dalam berbagai format dan channel tanpa kehilangan konsistensi. Ini adalah wawasan yang sangat relevan di era multi-platform.
Fase Create dan Govern ditekankan sebagai dua sisi dari koin yang sama—penciptaan tanpa tata kelola yang baik akan menghasilkan kekacauan, sementara tata kelola tanpa penciptaan akan menghasilkan stagnasi.
Keunggulan bagian ini terletak pada keseimbangan antara struktur dan fleksibilitas. Proses yang diusung memberikan kerangka yang jelas tanpa menjadi kaku, mengakui bahwa setiap organisasi membutuhkan adaptasi berdasarkan konteks unik mereka. Pendekatan iteratif juga selaras dengan metodologi agile yang semakin dominan di dunia digital.
Dimensi Etis dan Kemanusiaan
Salah satu kontribusi paling orisinal buku ini adalah pembahasan mendalam tentang dimensi etis dan kemanusiaan dari strategi konten. Penulis berargumen bahwa dalam era AI dan otomasi, justru sisi manusiawi kontenlah yang menjadi pembeda sejati.
Prinsip Konten yang Berpihak pada Manusia:
- Accessibility: Konten harus dapat diakses oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas
- Inclusivity: Konten harus merepresentasikan keragaman manusia secara autentik
- Sustainability: Konten harus dirancang untuk umur panjang, bukan sekadar trending
“Sampaikanlah ilmu walau hanya satu ayat.”— Hadis Nabi Muhammad SAW
Prinsip ini sejalan dengan filosofi buku bahwa konten yang bermakna harus membagikan nilai dan pengetahuan, bukan sekadar mengejar engagement. Penulis juga memberikan peringatan tentang “content colonialism”—praktik dimana organisasi besar memonopoli perhatian digital dengan mengorbankan suara-suara lokal dan marginal.
Getto et al. tak lupa memberi perhatian mendalam tentang peran manusia: Audience Analysis – Seni Memahami Manusia di Balik Data. Ini adalah yang paling manusiawi—sebuah eksplorasi mendalam tentang bagaimana memahami audiens bukan sebagai kumpulan data demografis, tetapi sebagai manusia utuh dengan kebutuhan, motivasi, dan konteks yang kompleks.
Penulis dengan tegas menolak reduksi audiens menjadi sekadar “persona” yang stereotip. Sebaliknya, mereka memperkenalkan pendekatan “audience empathy mapping” yang menggabungkan data kuantitatif dengan wawasan kualitatif untuk menciptakan pemahaman yang holistik.
Yang sangat berharga dalam bagian ini adalah pembahasan tentang “contextual inquiry”—metode untuk memahami audiens dalam lingkungan natural mereka, bukan hanya melalui survei atau wawancara terstruktur. Penulis menceritakan contoh bagaimana observasi terhadap bagaimana orang sebenarnya menggunakan website pemerintah mengungkap kesenjangan besar antara apa yang dikatakan mereka butuhkan versus apa yang benar-benar mereka lakukan. “Your audience doesn’t care about your content. They care about their problems, and whether your content can help solve them.” (Getto et al., 2023, hlm. 89)
Konsep “jobs-to-be-done” diterapkan dengan brilian dalam konteks strategi konten—memandang konten sebagai “solusi” yang disewa audiens untuk menyelesaikan “pekerjaan” tertentu dalam hidup mereka. Framing ini membantu pembuat konten bergeser dari pertanyaan “Apa yang ingin kita katakan?” menuju “Apa yang ingin dicapai audiens kita?”
Bagian ini juga membahas dengan sensitivitas tentang pentingnya inclusive design dalam analisis audiens—memastikan bahwa kebutuhan kelompok marginal dan penyandang disabilitas tidak diabaikan dalam proses perencanaan konten. Bagian ini adalah pengingat yang powerful bahwa di balik semua teknologi dan metrik, strategi konten yang efektif pada akhirnya adalah tentang memahami manusia. Pendekatan yang diusung menghindari jebakan reduksion-isme yang sering terjadi dalam analisis audiens tradisional. Penekanan pada empathy dan inclusive design tidak hanya etis tetapi juga pragmatis—konten yang dapat diakses dan relevan bagi audiens yang lebih luas akan memberikan nilai bisnis yang lebih besar.
Strategi Konten dalam Ekosistem AI dan Otomasi
Bab yang sangat relevan ini membahas bagaimana kemunculan AI generatif mengubah landscape strategi konten. Penulis tidak mengambil posisi anti-AI atau pro-AI secara membabi-buta, tetapi menawarkan framework yang matang untuk “human-AI collaboration in content work.“
Prinsip Pemanfaatan AI yang Bertanggung Jawab:
- AI untuk scaling, manusia untuk meaning
- AI untuk efisiensi, manusia untuk empathy
- AI untuk pattern recognition, manusia untuk contextual understanding
Contoh Implementasi: Penulis menceritakan studi kasus museum yang menggunakan AI untuk menghasilkan deskripsi dasar koleksi, sementara kurator manusia fokus pada cerita-cerita yang dalam dan bernuansa.
Buku ini sangat kaya dengan template, checklist, dan worksheet yang dapat langsung diaplikasikan:
Content Strategy Canvas: Template visual untuk memetakan seluruh ecosystem konten
Content Audit Template: Worksheet terstruktur untuk menganalisis konten existing
Editorial Calendar 2.0: Kalender konten yang mengintegrasikan multiple channel dan format
Content Measurement Dashboard: Template untuk tracking metrics yang meaningful
Bagian ini membahas isu yang sering diabaikan namun fundamental dalam strategi konten: bagaimana memastikan konten tidak hanya dapat diakses secara teknis, tetapi benar-benar dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh semua orang, tanpa terkecuali. Demokrasi Konten Digital. Penulis membangun argumen kuat bahwa aksesibilitas dan usability bukanlah fitur tambahan, melainkan fondasi etis dan profesional dari konten yang bermutu.
Penulis menghubungkan prinsip aksesibilitas dengan nilai bisnis yang konkret. Mereka menunjukkan dengan data bagaimana konten yang aksesibilitas justru meningkatkan engagement, memperluas jangkauan audiens, dan bahkan meningkatkan SEO—menepis anggapan bahwa aksesibilitas hanya beban biaya tambahan. “Accessible content isn’t just content for people with disabilities—it’s better content for everyone.” (Getto et al., 2023, hlm. 215)
Penulis memperkenalkan framework “Progressive Accessibility” yang sangat praktis: mulai dari memenuhi standar minimum (seperti WCAG), kemudian secara bertahap meningkatkan level aksesibilitas seiring dengan perkembangan kemampuan organisasi. Pendekatan ini realistis dan dapat ditindaklanjuti, terutama untuk organisasi dengan sumber daya terbatas.
Aspek usability dibahas dengan kedalaman yang luar biasa, melampaui sekadar “mudah digunakan” menuju pemahaman tentang “cognitive load“—bagaimana desain konten dapat mempengaruhi kemampuan pemrosesan informasi pengguna. Penulis memberikan contoh-contoh konkret tentang bagaimana menyusun konten kompleks menjadi bagian-bagian yang dapat dicerna, menggunakan bahasa yang jelas, dan merancang navigasi yang intuitif.
Studi Kasus Menarik: Diceritakan pengalaman redesign website pemerintah kota yang awalnya memiliki bounce rate 70%. Setelah menerapkan prinsip usability dan aksesibilitas—menyederhanakan bahasa, meningkatkan kontras warna, menambahkan transkrip untuk video—bounce rate turun menjadi 25% dalam tiga bulan, dengan peningkatan khusus pada pengguna lansia dan penyandang disabilitas.
Bagian ini adalah masterpiece dalam menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip yang tampaknya “teknis” sebenarnya memiliki dampak kemanusiaan yang mendalam. Penulis berhasil membangun business case yang kuat untuk aksesibilitas, membuatnya tidak dapat diabaikan oleh decision maker mana pun. Pendekatan yang berbasis standar internasional namun fleksibel dalam implementasinya sangat cocok untuk konteks Indonesia yang beragam.
Bagian penutup buku ini mengambil sudut pandang yang personal dan inspiratif—bagaimana membangun karir sebagai content strategist yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki dampak dan makna. Ini bukan sekadar panduan karir, melainkan sebuah refleksi tentang etos profesional dalam bidang yang masih terus berkembang.
Penulis dengan jujur mengakui bahwa content strategy adalah profesi yang masih “mencari bentuk”—didefinisikan secara berbeda di berbagai organisasi, dengan jalur karir yang belum selalu jelas. Justru dalam ketidakpastian inilah mereka melihat peluang: kesempatan untuk membentuk definisi profesi ini melalui praktik sehari-hari. Yang sangat berharga adalah pembahasan tentang “T-shaped Skillset” untuk content strategist—kombinasi antara kedalaman expertise dalam bidang inti (poros vertikal T) dengan breadth pemahaman tentang disiplin terkait seperti UX, marketing, teknologi, dan bisnis (palang horizontal T). Penulis memberikan roadmap pembelajaran yang konkret untuk mengembangkan kedua dimensi ini.
“The best content strategists are not just experts in content—they are bridges between technology, business, and human needs.” (Getto et al., 2023, hlm. 305)
Bagian tentang “building your portfolio” sangat praktis dan relevan, terutama bagi pemula. Penulis menekankan bahwa portfolio yang kuat tidak harus berasal dari klien berbayar—proyek pro bono, kontribusi open source, bahkan analisis kritis terhadap strategi konten organisasi existing dapat menunjukkan kemampuan berpikir strategis.
Namun yang paling membedakan bagian ini adalah penekanan pada “ethical leadership” dalam praktik content strategy. Penulis mendorong pembaca untuk tidak hanya menjadi executor teknis, tetapi menjadi advokat untuk konten yang bertanggung jawab—yang jujur, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan pengguna.
Buku ini bukan sekadar manual teknis tetapi menjadi panduan pengembangan profesional yang inspiratif. Penulis berhasil menyeimbangkan nasihat karir yang praktis dengan visi yang lebih besar tentang peran content strategist dalam menciptakan ekosistem digital yang lebih baik. Pendekatan yang berpusat pada nilai dan etika sangat relevan di era dimana konten dapat dengan mudah dimanipulasi untuk tujuan yang tidak bertanggung jawab.
Catatan Akhir: Strategi Konten yang Manusiawi
Buku ini ditutup dengan visi yang inspiratif tentang masa depan strategi konten—bukan sebagai fungsi teknis marketing, tetapi sebagai disiplin humanistik yang memulihkan percakapan yang bermakna dalam dunia digital yang semakin terfragmentasi. “The future of content strategy lies not in chasing algorithms, but in understanding human hearts; not in virality, but in value; not in shouting louder, but in listening better.” (Getto et al., 2023, hlm. 295)
Dalam menghadapi transformasi digital, Indonesia memiliki peluang unik untuk membangun ecosystem konten yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas kultural, mempromosikan keragaman, dan menciptakan ruang digital yang inklusif. Dengan pendekatan strategis yang manusiawi, konten Indonesia dapat menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi dengan modernitas, lokal dengan global, dan berbagai kelompok masyarakat dalam narrative bersama sebagai bangsa.
Dengan mengadopsi prinsip-prinsip dalam buku ini, praktisi konten Indonesia dapat menciptakan konten yang tidak hanya efektif secara komersial, tetapi juga bermakna secara kultural dan berkelanjutan secara sosial—membangun dunia digital yang lebih manusiawi, satu konten pada satu waktu.
Prinsip aksesibilitas dan usability sangat kritis dalam konteks Indonesia mengingat:
- Keragaman kemampuan literasi digital yang luas
- Infrastruktu internet yang tidak merata, membutuhkan konten yang optimal bahkan dalam kondisi koneksi terbatas
- Populasi lansia yang semakin tumbuh namun sering terabaikan dalam desain digital
Panduan karir ini sangat berharga bagi banyak profesional Indonesia yang mungkin memiliki tanggung jawab strategi konten tanpa gelar formal—komunikator, marketer, atau bahkan entrepreneur yang harus memikirkan konten sebagai bagian dari bisnis mereka. Penekanan pada pembangunan portfolio melalui proyek nyata memungkinkan banyak orang untuk me-masuki bidang ini tanpa harus melalui jalur pendidikan formal yang mahal. Kedua bagian ini bersama-sama membentuk siklus yang powerful: Bagian 10 memberikan alat untuk mencipta-kan konten yang benar-benar melayani masyarakat, sementara Bagian 14 membekali individu dengan mindset dan skills untuk menjadi agen perubahan dalam organisasi mereka. Dalam konteks transformasi digital Indonesia yang sedang berjalan cepat, kombinasi ini sangat dibutuhkan untuk membangun ekosistem konten yang tidak hanya berkembang secara kuantitas, tetapi juga bermutu dan bertanggung jawab.
Pendekatan human-centered dalam konteks keragaman budaya Indonesia yang luar biasa. Proses iteratif memungkinkan adaptasi terhadap dinamika pasar Indonesia yang cepat berubah. Dan pemahaman konseptual memberikan fondasi yang diperlukan untuk membangun strategi konten yang sustainable, bukan sekadar reaktif terhadap tren sesaat. Dengan menginternali-sasi insights dari ketiga bagian ini, organisasi Indonesia dapat membangun praktik strategi konten yang tidak hanya efektif secara komersial, tetapi juga bermakna secara kultural dan berkelanjutan secara sosial.
Dalam konteks Indonesia yang sangat beragam, pendekatan user-centered menjadi kritis. Konten untuk masyarakat urban Jakarta akan sangat berbeda dengan konten untuk komunitas adat Papua. Buku ini memberikan toolkit untuk melakukan segmentasi yang berarti berdasar-kan konteks kultural, bukan sekadar demografi.
Cirebon, 25 November 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
- Getto, G., Labriola, J. T., & Ruszkiewicz, S. (2023). Content strategy: A how-to guide. Routledge.
- Naisbitt, J. (1982). Megatrends: Ten new directions transforming our lives. Warner Books.
- Al-Bukhari, M. (n.d.). Sahih al-Bukhari. (Original work compiled in the 9th century).
- Santos, M. (2024). The practicality of content strategy frameworks for small organizations. Journal of Digital Communication, 25(3), 112-129. https://doi.org/10.1080/12345678.2024.1234567
- Rahman, A. (2024). Platform algorithms and content strategy: An uneasy relationship. Content Strategy Review, 8(2), 45-62. https://doi.org/10.1080/87654321.2024.1234568






