Rubarubu #62
Company of One:
Dari Dominasi Menuju Kecukupan
Buku Company of One: Why Staying Small Is the Next Big Thing for Business karya Paul Jarvis (2019), mengajukan pertanyaan penting: Mengapa tetap kecil bisa menjadi bentuk kebijak-sanaan ekonomi baru? Paul Jarvis membuka Company of One bukan dengan kisah unicorn startup atau pendanaan miliaran dolar, melainkan dengan pengalaman pribadinya sebagai seorang desainer web lepas yang secara sadar menolak pertumbuhan tanpa batas. Dalam satu bagian awal, ia menulis bahwa ia pernah berada di jalur konvensional—memperbesar tim, mengejar klien besar, dan meningkatkan skala—namun justru merasa kehilangan otonomi, ketenangan, dan makna dari pekerjaannya. Dari pengalaman itulah lahir pertanyaan kunci buku ini: mengapa pertumbuhan selalu diasumsikan sebagai tujuan utama bisnis?
Jarvis menyatakan dengan lugas bahwa “growth is not the goal; growth is a strategy” (Jarvis, 2019). Jika strategi itu merusak kualitas hidup, hubungan dengan pelanggan, dan kebebasan berpikir, maka ia layak dipertanyakan.
Gagasan inti buku ini adalah menantang dogma pertumbuhan. Inti argumen Company of One adalah kritik tajam terhadap ideologi growth-at-all-costs dalam kapitalisme modern. Dalam narasi arus utama bisnis, perusahaan yang sehat adalah perusahaan yang terus membesar: lebih banyak karyawan, lebih banyak pasar, lebih banyak investasi. Jarvis justru menunjukkan bahwa paradigma ini sering menghasilkan organisasi rapuh, birokratis, dan kehilangan fokus.
Sebagai gantinya, ia menawarkan konsep “Company of One”: sebuah pendekatan bisnis yang secara sadar memilih untuk tetap kecil, efisien, dan berdaulat. “Kecil” di sini bukan berarti stagnan atau miskin ambisi, melainkan cukup—cukup untuk menopang kehidupan yang baik, cukup untuk melayani pelanggan dengan bermakna, dan cukup untuk bertahan dalam ketidak-pastian. Gagasan ini beresonansi dengan pemikiran filsuf Ivan Illich tentang conviviality, yakni sistem yang melayani manusia alih-alih menundukkannya (Illich, 1973), serta dengan kritik E.F. Schumacher dalam Small Is Beautiful bahwa “ekonomi modern menderita ilusi bahwa lebih besar selalu lebih baik” (Schumacher, 1973).
Begin – Memulai dari Pertanyaan yang Tepat
Bagian Begin bukanlah ajakan untuk segera bertindak, melainkan untuk memulai dengan pertanyaan yang benar. Jarvis menekankan bahwa kesalahan paling umum dalam membangun bisnis adalah memulai dari “berapa besar saya ingin tumbuh?” alih-alih “kehidupan seperti apa yang ingin saya jalani?”
Ia menggambarkan bisnis sebagai alat, bukan identitas. Jika alat itu justru menguasai pemilik-nya, maka ada sesuatu yang keliru sejak awal. Dalam narasi yang tenang namun tajam, Jarvis menunjukkan bahwa banyak wirausahawan menciptakan “penjara yang indah”—bisnis yang terlihat sukses dari luar, tetapi menguras waktu, kesehatan, dan relasi. Di sini, semangat buku ini bersinggungan dengan prinsip filsafat klasik tentang telos—tujuan akhir. Aristoteles mengingatkan bahwa setiap tindakan seharusnya diarahkan pada eudaimonia, kehidupan yang baik, bukan sekadar akumulasi. Jarvis membawa kebijaksanaan ini ke dunia bisnis kontemporer.
Pertumbuhan yang Disengaja, Bukan Otomatis
Salah satu bagian terpenting buku ini adalah pembongkaran asumsi bahwa pertumbuhan adalah keniscayaan alamiah. Jarvis menegaskan bahwa pertumbuhan adalah pilihan, bukan hukum alam. Ia mengajak pembaca untuk mengajukan pertanyaan mendasar sebelum mengejar ekspansi:
- Apakah pertumbuhan ini meningkatkan nilai bagi pelanggan?
- Apakah ia memperbaiki kualitas hidup pemilik dan tim?
- Ataukah hanya menambah kompleksitas dan risiko?
Dalam banyak contoh, Jarvis menunjukkan bahwa bisnis kecil yang fokus pada profitabilitas, loyalitas pelanggan, dan keberlanjutan sering kali lebih tangguh daripada perusahaan besar yang bergantung pada pembiayaan eksternal. Ia mengutip riset tentang bootstrapped companies yang cenderung lebih disiplin, adaptif, dan berorientasi jangka panjang. Pemikiran ini sejalan dengan kritik Amartya Sen terhadap reduksi keberhasilan menjadi angka pertumbuh-an semata, tanpa mempertimbangkan kualitas hidup dan kebebasan substantif (Sen, 1999).
“Cukup” sebagai prinsip etis dan strategis. Jarvis, yang mempunyai dan mengelola perusahaan-nya, Mighty Small Ventures, ini memper-kenalkan konsep “enough”—cukup—sebagai prinsip strategis. Alih-alih bertanya “berapa besar bisnis ini bisa tumbuh?”, ia mengusulkan pertanyaan “berapa besar bisnis ini perlu tumbuh?” Di sini, Company of One bergerak melampaui buku bisnis konvensional dan memasuki wilayah etika. Konsep “cukup” mengingatkan pada ajaran Aristoteles tentang mesotes (jalan tengah), serta dalam tradisi Islam pada prinsip qana’ah—merasa cukup sebagai kebajikan moral. Seperti diungkap-kan Al-Qur’an: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia” (QS. Al-Qashash: 77). Dalam konteks bisnis, “cukup” berarti mendesain model usaha yang berkelanjutan secara ekonomi, manusiawi secara sosial, dan masuk akal secara ekologis.
Company One menganut hubungan dengan pelanggan pada kedalaman, bukan skala. Alih-alih mengejar jutaan pengguna, Jarvis menekankan pentingnya hubungan yang dalam dengan pelanggan yang tepat. Ia menunjukkan bahwa perusahaan kecil memiliki keunggulan unik: kemampuan untuk mendengarkan, menyesuaikan, dan membangun kepercayaan jangka panjang. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Martin Buber tentang relasi I–Thou, di mana hubungan tidak direduksi menjadi transaksi, tetapi perjumpaan bermakna. Dalam dunia bisnis, ini berarti pelanggan bukan sekadar metrics, melainkan manusia dengan kebutuhan nyata.
The One Customer – Kedalaman Mengalahkan Jangkauan. Salah satu bagian paling kuat secara etis adalah The One Customer. Jarvis mengajak pembaca membayangkan pelanggan bukan sebagai segmen pasar atau statistik, tetapi sebagai satu manusia konkret dengan kebutuhan nyata. Fokus pada “satu pelanggan” adalah latihan empati dan kejelasan. Ia menunjukkan bahwa banyak bisnis gagal bukan karena kekurangan pelanggan, tetapi karena mereka men-coba menyenangkan semua orang. Company of One justru bertumbuh dengan melayani orang yang tepat dengan sangat baik, alih-alih banyak orang secara dangkal. Pendekatan ini meng-ingatkan pada filsafat Emmanuel Levinas tentang wajah Yang Lain—bahwa etika dimulai ketika kita benar-benar melihat individu di hadapan kita. Dalam konteks bisnis, ini berarti relasi, bukan sekadar transaksi.
Jarvis secara eksplisit mendefinisikan apa yang ia maksud dengan Company of One. Ini bukan sekadar bisnis satu orang, melainkan sebuah pendekatan berpikir: perusahaan yang sengaja dibangun untuk tetap ramping, fleksibel, dan mandiri. Ia menolak anggapan bahwa perusahaan kecil adalah perusahaan “belum jadi”. Sebaliknya, Company of One adalah perusahaan yang sudah sampai pada ukuran idealnya. Ukuran itu ditentukan bukan oleh investor atau pasar saham, melainkan oleh kecukupan—cukup untuk hidup layak, cukup untuk melayani pelanggan dengan baik, dan cukup untuk bertahan dalam ketidakpastian.
Jarvis menulis secara implisit bahwa menjadi kecil bisa menjadi bentuk keberanian. Dalam dunia yang memuja skala, memilih untuk tidak membesar adalah tindakan yang sadar. Sejalan dengan itu, penyair Kahlil Gibran pernah menulis, “It is when you give of yourself that you truly give.” Dalam konteks ini, memberi yang terbaik tidak selalu berarti menjadi yang terbesar.
Salah satu kontribusi paling radikal buku ini muncul di bagian ini: gagasan bahwa tetap kecil bisa menjadi tujuan akhir, bukan sekadar fase sebelum ekspansi. Jarvis menunjukkan bahwa banyak bisnis runtuh bukan karena terlalu kecil, tetapi karena terlalu cepat dan terlalu besar. Ia meng-uraikan bagaimana skala yang berlebihan sering kali membawa kompleksitas: rapat yang tak berujung, birokrasi internal, dan jarak emosional dengan pelanggan. Sebaliknya, perusahaan kecil dapat bergerak cepat, mengambil keputusan dengan otonomi, dan menjaga integritas nilai.
Di sini, resonansi dengan pemikiran E.F. Schumacher sangat kuat. Schumacher pernah menulis, “Small is beautiful because it is closer to human scale.” Jarvis memperbarui gagasan itu dalam konteks ekonomi digital, menunjukkan bahwa teknologi justru memungkinkan kita untuk tetap kecil tanpa kehilangan daya saing.
Karena itu perlu menentukan batas agar tidak terseret arus. Bagian Define adalah momen penajaman. Setelah Jarvis mengajak pembaca mempertanyakan dogma pertumbuhan, di sini ia menekankan pentingnya menetapkan batas secara sadar. Sebuah Company of One, menurut-nya, tidak bisa dibangun di atas ambiguitas tujuan. Tanpa definisi yang jelas tentang apa yang ingin dicapai—dan apa yang secara sengaja tidak ingin dikejar—bisnis akan terseret oleh tuntutan eksternal: pasar, investor, tren, atau ekspektasi sosial.
Jarvis menulis dengan nada hampir eksistensial bahwa batas bukanlah tanda kelemahan, melainkan syarat kebebasan. Dengan mendefinisikan ukuran “cukup”, seseorang melindungi waktu, perhatian, dan energinya dari kolonisasi kerja. Pemikiran ini mengingatkan pada Hannah Arendt yang membedakan antara vita activa yang bermakna dan aktivitas tanpa henti yang kehilangan tujuan.
Dalam bagian Determining the Right Mind-Set – Dari Ambisi ke Kejernihan, Jarvis menegaskan bahwa membangun Company of One bukan soal taktik, melainkan pola pikir. Ia mengkritik mentalitas bisnis yang selalu memandang keterbatasan sebagai masalah. Bagi Jarvis, justru keterbatasan—waktu, energi, ukuran tim—adalah sumber kejernihan. Mindset yang tepat bukanlah “bagaimana saya bisa tumbuh lebih besar”, melainkan “bagaimana saya bisa menjadi lebih baik tanpa menjadi lebih rumit”. Ia mengajak pembaca menggeser orientasi dari kecepat-an ke ketepatan, dari ekspansi ke ketahanan. Dalam bahasa yang tenang, ia menunjuk-kan bahwa banyak kegagalan bisnis bukan disebabkan oleh kurangnya ambisi, tetapi oleh ambisi yang tidak diarahkan.
Gagasan ini sejalan dengan pepatah Zen yang sering dikutip: “You should sit in meditation for twenty minutes a day—unless you’re too busy; then you should sit for an hour.” Kesibukan, dalam pandangan Jarvis, sering kali justru menandakan hilangnya arah.
Teknologi sebagai alat pembebasan, bukan eskalasi. Jarvis juga membahas peran teknologi—otomatisasi, perangkat lunak, dan internet—sebagai enabler bagi perusahaan kecil. Teknologi memungkinkan satu orang atau tim kecil melakukan hal-hal yang dulu hanya mungkin bagi korporasi besar. Namun ia mengingatkan bahwa teknologi harus digunakan untuk mengurangi beban, bukan menciptakan tuntutan pertumbuhan baru. Pandangan ini beresonansi dengan kritik Shoshana Zuboff terhadap kapitalisme pengawasan, yang menggunakan teknologi bukan untuk membebaskan, tetapi untuk mengekstraksi nilai tanpa batas (Zuboff, 2019).
Company of one sebagai kritik sunyi terhadap kapitalisme. Walaupun ditulis dengan gaya praktis dan personal, Company of One dapat dibaca sebagai kritik implisit terhadap kapitalisme hiper-ekspansionis. Jarvis tidak menyerukan revolusi sistemik, tetapi menawarkan praktik mikro-resistensi: memilih cukup, memilih kecil, memilih otonomi. Dalam konteks krisis iklim dan kelelahan kerja global (burnout economy), buku ini terasa semakin relevan. Ia mengajukan alternatif rasional terhadap logika “tumbuh atau mati” yang kini terbukti ekologis dan psikologis tidak berkelanjutan.
Jarvis kemudian beralih ke pertanyaan tentang kepemimpinan. Jika sebuah perusahaan tidak bertumbuh secara konvensional, seperti apa bentuk kepemimpinan yang dibutuhkan? Jawabannya bukan karisma atau kontrol, melainkan kejelasan nilai dan tanggung jawab personal– kepemimpinan tanpa hierarki besar. Ia menekankan bahwa memimpin Company of One berarti memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Disiplin, kejujuran, dan kemampuan mengatakan “tidak” menjadi kualitas yang lebih penting daripada ambisi ekspansif.
Kepemimpinan di sini bukan soal mengarahkan banyak orang, tetapi tentang menjaga arah agar bisnis tidak menyimpang dari tujuan awalnya. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Laozi dalam Dao De Jing: “To lead people, walk behind them.” Kepemimpinan yang efektif justru sering kali tidak terlihat mencolok.
Dan kepemimpinan yang demikian membuat Personality Matters – Bisnis sebagai Perpanjangan Karakter. Jarvis kemudian membawa pembaca ke wilayah yang jarang disentuh buku bisnis: kepribadian. Ia menolak gagasan bahwa ada satu tipe kepribadian ideal untuk menjadi pengu-saha sukses. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa banyak kegagalan terjadi ketika se-seorang membangun bisnis yang bertentangan dengan watak dasarnya. Company of One menuntut kejujuran radikal: apakah Anda menikmati kesendirian atau kerja tim besar? Apakah Anda nyaman dengan ketidakpastian atau membutuhkan struktur? Jarvis menekankan bahwa bisnis yang berkelanjutan adalah bisnis yang selaras dengan karakter pendirinya, bukan yang memaksanya mengenakan topeng profesional setiap hari.
Di sini, resonansi dengan pemikiran Ibn Khaldun terasa halus tetapi kuat. Dalam Muqaddimah, ia menekankan pentingnya thabi‘ah—tabiat dasar manusia—dalam membentuk keberhasilan sosial dan ekonomi. Bisnis, dalam pandangan Jarvis, adalah ekspresi tabiat, bukan sekadar mesin uang.
Konsep menarik yang ditawarkan juga unik karena Company of One berprinsip Growing a Company That Doesn’t Grow – Bertumbuh Tanpa Membesar. Ini semacam paradoks yang disengaja. Jarvis menjelaskan bahwa sebuah Company of One tetap bisa “bertumbuh”, tetapi pertumbuhannya bersifat kualitatif, bukan kuantitatif. Ia tumbuh dalam efisiensi, dalam ke-dalaman relasi dengan pelanggan, dalam ketahanan, dan dalam kualitas hidup pemiliknya.
Alih-alih menambah karyawan atau membuka pasar baru tanpa henti, bisnis dapat memper-baiki proses, memperdalam keahlian, dan meningkatkan nilai per pelanggan. Pertumbuhan semacam ini tidak terlihat spektakuler, tetapi jauh lebih stabil.
Scalable Systems – Skala Tanpa Membesar. Di bagian Scalable Systems, Jarvis membedakan antara skala dan pembesaran. Ia menunjukkan bahwa sistem dapat dibuat efisien dan berulang tanpa harus menambah manusia atau kompleksitas organisasi. Teknologi, dokumentasi, dan proses yang jelas memungkinkan bisnis kecil melayani lebih banyak nilai tanpa kehilangan kendali.
Namun Jarvis berhati-hati: sistem bukan untuk menggantikan makna, melainkan untuk me-lindungi energi kreatif. Sistem yang baik membebaskan pemilik bisnis dari pekerjaan remeh agar dapat fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Pemikiran ini beresonansi dengan Ivan Illich yang memperingatkan bahwa alat seharusnya bersifat convivial—member-dayakan, bukan mendominasi. Sistem yang baik adalah sistem yang membuat manusia tetap berdaulat atas waktunya.
Teach Everything You Know – Berbagi sebagai Strategi Bertahan. Bagian ini mungkin terdengar kontra-intuitif dalam logika bisnis tradisional. Mengapa mengajarkan semua yang kita tahu kepada orang lain, bahkan calon pesaing? Jarvis menjawabnya dengan tenang: pengetahuan bukan sumber daya yang habis jika dibagikan. Ia menunjukkan bahwa mengajar—melalui tulisan, kursus, atau berbagi terbuka—justru membangun kepercayaan, reputasi, dan otoritas. Dalam dunia yang penuh klaim dan kebisingan, kemurahan berbagi pengetahuan menjadi pembeda moral sekaligus strategis. Pandangan ini selaras dengan etika keilmuan klasik, termasuk dalam tradisi Islam, di mana ilmu dianggap amanah. Seperti dikatakan Imam Al-Ghazali, ilmu yang tidak dibagikan akan menjadi beban, bukan cahaya.
Jarvis secara halus mengkritik budaya “lebih” yang mendominasi ekonomi modern. Kritik ini bergema dengan etika Islam tentang qana’ah, di mana kecukupan dipandang sebagai kekayaan sejati. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maintain – Seni Menjaga, Bukan Mengejar. Jika bagian-bagian awal Company of One berbicara tentang mendefinisikan dan membangun, maka bagian Maintainberbicara tentang kebijaksana-an yang sering dilupakan dalam dunia bisnis: menjaga. Jarvis menekankan bahwa tantangan terbesar bukanlah memulai atau bahkan menumbuhkan bisnis, melainkan mempertahankan-nya agar tetap selaras dengan nilai awal. Dalam dunia yang memuja akselerasi, menjaga sering dianggap pasif. Jarvis membalik asumsi ini. Menjaga justru menuntut disiplin dan keberanian: keberanian untuk tidak tergoda oleh peluang yang tampak menggiurkan tetapi menggerus fokus, dan disiplin untuk merawat sistem, relasi, serta diri sendiri. Di sini, Company of One tampil sebagai praktik sustainability dalam arti paling manusiawi.
Properly Utilizing Trust and Scale – Kepercayaan sebagai Modal Sejati. Jarvis kemudian membahas dua kata yang sering disalahpahami: trust dan scale. Dalam kapitalisme modern, skala biasanya diasosiasikan dengan jumlah—lebih banyak pengguna, lebih banyak data, lebih banyak pasar. Jarvis menawarkan pemahaman yang lebih subtil: skala sejati bagi Company of One adalah skala kepercayaan.
Ia menunjukkan bahwa kepercayaan memungkinkan bisnis kecil beroperasi dengan efisiensi yang tidak mungkin dicapai oleh organisasi besar yang penuh pengawasan dan prosedur. Kepercayaan mengurangi biaya transaksi, mempercepat keputusan, dan memperdalam loyalitas. Dengan kepercayaan, satu orang atau tim kecil dapat berdampak jauh lebih besar daripada ukuran formalnya. Pandangan ini mengingatkan pada pemikiran Francis Fukuyama tentang trust sebagai modal sosial yang menentukan keberhasilan ekonomi suatu masyarakat. Dalam konteks Jarvis, kepercayaan bukan sekadar strategi, melainkan fondasi etis.
Launching and Iterating in Tiny Steps – Kesabaran sebagai Metode. Bagian ini menolak mitos “peluncuran besar” yang sering diagungkan dunia startup. Jarvis justru menganjurkan langkah-langkah kecil, nyaris tak terlihat, tetapi berkelanjutan. Ia menggambarkan bisnis sebagai proses belajar yang terus-menerus, bukan pertunjukan spektakuler sekali jadi.
Dengan meluncurkan secara bertahap dan memperbaiki melalui umpan balik nyata, Company of One menjaga risiko tetap rendah dan pembelajaran tetap tinggi. Kesabaran menjadi metode, bukan hambatan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ilmiah maupun spiritual: perubahan yang tahan lama jarang lahir dari lonjakan, tetapi dari pengulangan yang sadar. Seperti kata penyair Rainer Maria Rilke, “Live the questions now.” Jarvis mengajak pembaca hidup bersama pertanyaan bisnis mereka, bukan memaksanya selesai seketika.
Prinsip-prinsip lainnya misalnya The Hidden Value of Relationships – Yang Tak Tercatat dalam Neraca juga mendapatkan perhatian penting dalam buku ini. Di bagian ini, Jarvis mengangkat sesuatu yang sering luput dari laporan keuangan: relasi manusia. Ia menunjukkan bahwa banyak keberhasilan Company of One tidak berasal dari strategi cemerlang, melainkan dari hubungan yang dirawat dalam jangka panjang—dengan klien, kolaborator, dan komunitas.
Relasi, bagi Jarvis, bukan jaringan oportunistik, tetapi ikatan berbasis saling percaya dan rasa hormat. Dalam dunia yang semakin transaksional, relasi semacam ini menjadi kekuatan yang tidak mudah ditiru. Ia menulis dengan nada personal bahwa hubungan baik sering kali “membayar dirinya sendiri” dalam bentuk peluang, dukungan, dan ketahanan emosional.
Pandangan ini bergema dengan etika dialogis Martin Buber: relasi I–Thou menciptakan makna yang tidak bisa direduksi menjadi fungsi atau utilitas.
Rintisan a Company of One adalah kesaksian dan catatan pribadinya. Pada bagian ini, Jarvis kembali ke kisah pribadinya. Ia tidak memposisikan dirinya sebagai guru yang serba tahu, melainkan sebagai seseorang yang telah mencoba, gagal, belajar, dan memilih ulang. Ia menceritakan bagaimana keputusan untuk tetap kecil bukanlah keputusan sekali jadi, melainkan pilihan yang harus diperbarui setiap hari.
Dengan kejujuran yang jarang ditemukan dalam buku bisnis, Jarvis mengakui bahwa godaan untuk tumbuh lebih besar selalu ada. Namun ia juga menunjukkan bahwa setiap kali ia memilih kembali ke prinsip “cukup”, ia mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada ekspansi: kedaulatan atas hidupnya sendiri.
Catatan Akhir: Never Grow Up – Menjaga Jiwa Bermain
Krisis iklim global telah memaksa dunia untuk menghadapi sebuah kenyataan yang selama ini disangkal: pertumbuhan ekonomi tanpa batas di planet terbatas adalah kontradiksi ekologis dan moral. Laporan IPCC berulang kali menegaskan bahwa jalur emisi saat ini terkait erat dengan pola produksi dan konsumsi yang berorientasi pada ekspansi terus-menerus. Namun, di balik krisis ekologis tersebut tersembunyi krisis yang lebih dalam—krisis etika kerja dan makna keberhasilan.
Dalam konteks inilah Company of One (2019) karya Paul Jarvis dapat dibaca bukan sekadar sebagai buku bisnis alternatif, melainkan sebagai praktik etis pasca-pertumbuhan (post-growth ethics) yang bekerja di tingkat mikro: individu, usaha kecil, dan relasi kerja sehari-hari. Jarvis tidak menggunakan bahasa ekologi atau ekonomi politik, tetapi gagasannya sejalan dengan arus pemikiran degrowth, ekonomi Islam, dan kritik ekologis terhadap kapitalisme fosil.
Dalam bagian-bagian awal ini, Company of One tidak hanya menawarkan strategi bisnis, tetapi sebuah cara berpikir alternatif tentang kerja, makna, dan kehidupan. Ia mengajak pembaca untuk membayangkan keberhasilan bukan sebagai garis naik tanpa akhir, melainkan sebagai keseimbangan yang dijaga dengan sadar.
Jika Anda menginginkan, saya dapat melanjutkan dengan:
- ringkasan naratif untuk bagian tengah dan akhir buku,
- atau pembacaan filosofis–etis Company of One dalam konteks krisis iklim, degrowth, dan ekonomi berkelanjutan.
Dalam bagian Define hingga Teach Everything You Know, Company of One semakin jelas bukan sekadar buku bisnis, melainkan panduan etis tentang bagaimana bekerja tanpa kehilangan diri. Jarvis menunjukkan bahwa keberlanjutan—ekonomi, psikologis, bahkan ekologis—berawal dari keputusan sederhana: mendefinisikan apa yang cukup, siapa yang kita layani, dan nilai apa yang ingin kita jaga.
Judul Never Grow Up bukan ajakan untuk tidak dewasa, melainkan peringatan agar tidak kehilangan rasa ingin tahu, kelenturan, dan keberanian bermain. Kecil sebagai pilihan etis di dunia yang terlalu besar. Jarvis menggunakan metafora kedewasaan yang terlalu cepat: ketika bisnis menjadi terlalu serius, terlalu kaku, dan terlalu takut salah, ia berhenti hidup. Ia mengajak pembaca untuk mempertahankan sikap eksperimental, kegembiraan belajar, dan keberanian mencoba hal baru—tanpa harus membesarkan organisasi. Ini adalah seruan untuk kedewasaan yang matang, bukan kedewasaan yang sinis.
Epilog buku ini terasa seperti bisikan tenang setelah percakapan panjang. Jarvis tidak menawar-kan kesimpulan bombastis, melainkan penegasan sederhana: menjadi kecil adalah pilihan sadar di dunia yang terus mendesak kita untuk menjadi besar. Dalam dunia yang dilanda krisis iklim, kelelahan kerja, dan alienasi sosial, Company of One dapat dibaca sebagai manifesto sunyi tentang hidup yang cukup. Ia tidak menolak ambisi, tetapi mengarahkannya kembali ke pertanyaan paling mendasar: untuk apa kita bekerja, dan untuk siapa kita tumbuh? Seperti diingatkan oleh filsuf Stoik Epictetus, “Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants.”Buku ini menutup dengan keyakinan bahwa masa depan yang lebih manusiawi mungkin justru dimulai dari keputusan untuk tetap kecil—dan tetap waras.
Post-growth ethics berangkat dari kritik terhadap asumsi modern bahwa kemajuan identik dengan ekspansi kuantitatif. Dalam etika ini, tujuan kerja bukan lagi akumulasi tanpa henti, melainkan kecukupan, ketahanan, dan kebermaknaan. Company of One mengartikulasikan etika ini secara praktis. Dengan menolak pertumbuhan sebagai tujuan otomatis, Jarvis menempatkan “cukup” (enough) sebagai horizon normatif. Dari “Lebih” ke “Cukup.” Ini bukan sekadar preferensi gaya hidup, melainkan sikap moral terhadap waktu, energi, dan dampak sosial-ekologis kerja.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Aristoteles tentang mesotes (jalan tengah), serta dengan kritik kontemporer terhadap growth imperative yang diajukan oleh pemikir degrowth seperti Giorgos Kallis, yang menegaskan bahwa kesejahteraan tidak berkorelasi linear dengan PDB (Kallis, 2018).
Degrowth sering dipahami sebagai proyek makro: kebijakan negara, restrukturisasi ekonomi, dan transformasi sistem produksi. Company of One bergerak di ranah berbeda—mikro dan praksis—namun resonansinya kuat.
Jarvis menunjukkan bahwa:
- bisnis kecil yang stabil lebih tahan krisis daripada perusahaan besar yang bergantung pada ekspansi,
- relasi jangka panjang lebih bernilai daripada penetrasi pasar masif,
- efisiensi dan kesederhanaan mengurangi tekanan ekologis secara tidak langsung.
Dalam kerangka degrowth, Company of One dapat dibaca sebagai “degrowth in practice”: bukan penolakan terhadap kerja atau nilai ekonomi, tetapi penolakan terhadap logika “tumbuh atau mati”. Ia membuktikan bahwa kesejahteraan dapat dipertahankan tanpa memperbesar jejak material.
Ekonomi Islam: Qana’ah, Amanah, dan Larangan Israf
Lebih jauh, etika kerja Company of One memiliki kedekatan konseptual yang kuat dengan ekonomi Islam, meskipun Jarvis tidak menyebutkannya secara eksplisit.
Dalam Islam:
- qana’ah (merasa cukup) adalah kebajikan,
- amanah menuntut tanggung jawab sosial dan ekologis,
- israf (pemborosan) dan tatharruf (eksploitasi berlebihan) dilarang.
Al-Qur’an menegaskan:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Etika Company of One sejalan dengan prinsip ini. Dengan membatasi pertumbuhan, menjaga relasi manusiawi, dan menolak akumu-lasi yang tidak perlu, bisnis kecil menjadi praktik ekonomi bermoral, bukan sekadar unit produksi. Dalam perspektif Islam, kerja bukan hanya soal output, tetapi niyyah (niat) dan maslahah (kemaslahatan). Company of One menawarkan struktur kerja yang memungkin-kan niat dan dampak tetap selaras
Kritik utama terhadap solusi iklim saat ini adalah kecenderungannya bersifat teknokratis: transisi energi, pasar karbon, atau efisiensi teknologi. Company of One mengingatkan bahwa krisis iklim juga merupakan krisis cara bekerja dan cara hidup. Setiap keputusan bisnis—apakah akan berekspansi, menambah produksi, mengejar skala—memiliki implikasi ekologis. Dengan memilih untuk tetap kecil, sebuah Company of One:
- mengurangi kebutuhan energi dan material,
- membatasi rantai pasok kompleks,
- meminimalkan tekanan konsumsi.
Dalam kerangka etika iklim, ini adalah bentuk mitigasi struktural dari bawah, bukan solusi spektakuler tetapi konsisten. Seperti dikatakan Vaclav Smil, transisi ekologis yang nyata jarang datang dari satu inovasi besar, melainkan dari perubahan kebiasaan yang kumulatif.
Company of One sebagai Praktik Kebebasan
Secara filosofis, Company of One juga dapat dibaca sebagai praktik kebebasan dalam arti Arendtian: kebebasan untuk bertindak sesuai penilaian sendiri, bukan sekadar mengikuti logika sistem. Dengan menolak imperatif pertumbuhan, individu merebut kembali otonomi atas waktu dan hidupnya. Dalam dunia kerja yang semakin terkolonisasi oleh metrik, target, dan optimasi tanpa akhir, Company of One adalah bentuk resistensi sunyi—tidak revolusioner secara retoris, tetapi radikal secara eksistensial.
Company of One tidak menawarkan solusi sistemik untuk krisis iklim global. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia menawarkan sesuatu yang sering diabaikan: etika kerja yang layak di dunia pasca-pertumbuhan. Etika kecil untuk planet yang rapuh Dalam pertemuan antara degrowth, ekonomi Islam, dan kesadaran iklim, buku ini mengajukan satu tesis sederhana namun mendalam: masa depan yang berkelanjutan mungkin tidak dimulai dari menjadi lebih besar, melainkan dari belajar merasa cukup. Dalam dunia yang terlalu besar, memilih untuk tetap kecil bisa menjadi tindakan etis paling masuk akal.
Ini bukan tentang kemalasan atau anti-ambisi, melainkan tentang ambisi yang diarahkan ulang: dari ekspansi menuju ketahanan, dari dominasi menuju kecukupan, dari kuantitas menuju kualitas. Seperti kata penyair Rainer Maria Rilke, “The future enters into us, in order to transform itself in us, long before it happens.” Buku Jarvis dapat dibaca sebagai upaya me-nanam benih masa depan bisnis yang lebih manusiawi—dimulai dari keputusan sederhana untuk tidak selalu menjadi besar.
Bogor, 22 Desember 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Daftar Pustaka
Jarvis, P. (2019). Company of One: Why Staying Small Is the Next Big Thing for Business. Houghton Mifflin Harcourt.
Illich, I. (1973). Tools for Conviviality. Harper & Row.
Schumacher, E. F. (1973). Small Is Beautiful: Economics as if People Mattered. Blond & Briggs.
Sen, A. (1999). Development as Freedom. Oxford University Press.
Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism. PublicAffairs.
Buber, M. (1970). I and Thou (W. Kaufmann, Trans.). Scribner. (Original work published 1923)
Al-Qur’an al-Karim.
Kallis, G. (2018). Degrowth. Agenda Publishing.
Huber, M. T. (2022). Climate Change as Class War. Verso.






