#38 Rubarubu i
Clearcut: The Tragedy of Industrial Forestry
Kabut pagi masih menyelimuti lembah Douglas Fir di Pacific Northwest ketika Elias, seorang penebang tua yang tangannya telah penuh dengan bekas luka kapak dan gergaji mesin, berdiri terpaku di tepi tebing. Di hadapannya membentang sebuah lanskap yang membuat hatinya terasa hampa: ratusan hektar hutan purba yang dulu menjadi rumah kerjanya selama empat puluh tahun, kini berubah menjadi hamparan tanah berlumpur yang dipenuhi tunggak-tunggak pohon seperti nisan di permakaman raksasa. Dia masih ingat suara gemerisik tupai merah di kanopi, kicauan burung warbler yang kini hilang, dan aroma jamur liar yang biasa melekat di bajunya setelah seharian bekerja.
Tapi yang tersisa sekarang hanya kesunyian yang memekakkan telinga dan bau tanah basah yang tercabik. “Kami menyebutnya kemajuan,” bisiknya getir, sementara dalam ingatannya terngiang peringatan kakeknya—seorang penjaga hutan dari suku lokal—bahwa pohon-pohon ini bukan hanya kayu, mereka adalah penjaga mata air, penopang langit, dan catatan hidup yang tak tergantikan. Di tengah kepedihan itu, Elias teringat pada sebuah buku yang pernah dibacanya, “Clearcut: The Tragedy of Industrial Forestry,” yang menggambarkan dengan tepat apa yang kini ia saksikan: sebuah sistem yang mengubah keajaiban ekologi menjadi tumpukan papan rekening bank, meninggalkan luka yang butuh berabad-abad untuk pulih.
Buku “Clearcut: The Tragedy of Industrial Forestry” terbit 32 tahun yang lalu, 1993. Buku dengan dimensi tidak biasa ini disunting oleh Bill Devall, seorang pengajar studi lingkungan di Humboldt State University, Arcata, California, selama lebih dari dua dekade. Buku ini merupakan karya monumental yang mengupas dampak destruktif praktik tebang habis (clearcutting) terhadap ekosistem hutan. Ia juga merupakan kritik fundamentil terhadap forestry industrial. Bill Devall menulis buku-bukunya antara lain Deep Ecology: Living as if Nature Mattered (1985) yang ditulis bersama George Sessions, Simple in Means, Rich in Ends: Practicing Deep Ecology (1988), dan Living Richly in an Age of Limits (1993). Ia telah terlibat dalam berbagai kampanye untuk melindungi ekosistem hutan di wilayah Pacific Northwest, termasuk kampanye untuk memperluas Redwood National Park, penetapan kawasan wilderness di hutan-hutan nasional, serta perlindungan terhadap wilayah suci “high country” di pegunungan Siskiyou di bagian barat laut California. Waktu buku ini disunting ia tinggal di pesisir utara California.
Disamping merupakan karya tulis yang fenomenal, buku Clearcut ini termasuk sebuah buku yang unik secara fisik. Untuk memahami sepenuhnya dampak dari buku Clearcut: The Tragedy of Industrial Forestry, seseorang harus terlebih dahulu memegangnya. Buku ini bukanlah sebuah objek yang pasif; ia adalah sebuah pernyataan fisik yang langsung dan berani.
Bayangkan sebuah volume besar yang hampir menyerupai sebuah papan arsip atau sebuah karya seni yang sengaja dibuat untuk dipajang. Dengan dimensi yang tidak biasa, kira-kira 40 cm x 40 cm, buku ini memiliki kehadiran yang otoritatif dan monumental. Ia tidak dimaksudkan untuk diselipkan dengan mudah di dalam rak buku atau dibaca sambil berbaring.
Ukurannya yang persegi menuntut ruang, perhatian, dan interaksi yang disengaja dari pembacanya—mirip dengan cara sebuah pameran galeri menuntut perhatian penuh dari pengunjungnya. Sampulnya yang kokoh menampilkan sebuah foto beresolusi tinggi yang langsung menyita perhatian: mungkin sebuah panorama lanskap yang tandus setelah penebangan, dengan tunggak-tunggak pohon yang terbakar di bawah langit kelam, atau sebuah gambar close-up dari cincin pohon berusia ratusan tahun yang baru saja ditebang. Sampul ini berfungsi sebagai prolog visual yang tak terelakkan untuk apa yang ada di dalamnya.
Saat Anda membuka halamannya—yang dicetak pada kertas art paper berkualitas tinggi untuk mereproduksi gambar dengan setia—Anda disambut oleh sebuah arus deras fotografi. Buku ini berfungsi sebagai sebuah “museum portabel” dari krisis kehutanan. Foto-foto hitam putih dan berwarna di dalamnya, yang dikurasi dengan cermat, disusun secara berurutan untuk membangun narasi visual yang powerful. Satu halaman mungkin menampilkan keagungan tegakan hutan purba yang masih perawan, sementara halaman sebelahnya, atau bahkan di halaman yang sama sebagai sebuah diptik (dalam bahasa Inggris: diptych, adalah istilah seni rupa yang merujuk pada komposisi dua gambar atau foto yang disajikan berdampingan dalam satu halaman atau satu bidang pandang), menciptakan kontras atau narasi visual yang saling terkait), menampilkan kekacauan dan kehancuran yang tertinggal setelah operasi tebang habis.
Kombinasi teks dan gambar ini disusun dengan sengaja. Esai-esai dan kutipan dari para ahli, aktivis, dan filsuf memberikan konteks intelektual dan emosional, tetapi foto-fotonyalah yang menancap paling dalam di benak dan jiwa. Gambar-gambar ini—seperti foto seekor beruang yang bingung di atas tumpukan kayu gelondongan, atau aliran sungai yang keruh oleh sedimentasi—menjadi bukti visual yang tak terbantahkan. Mereka menerjemahkan konsep-konsep ilmiah seperti “fragmentasi habitat” dan “erosi tanah” menjadi sebuah realitas yang nyata, brutal, dan tak terlupakan.
Oleh karena itu, secara fisik, Clearcut lebih dari sekadar buku; ia adalah sebuah artefak bukti, sebuah alat peraga, dan sebuah memorial. Desainnya yang besar dan bergaya foto-jurnalisme memastikan bahwa tragedi kehutanan industrial tidak dapat diabaikan, disederhanakan, atau dilupakan. Ia memaksa Anda untuk melihat, merasakan, dan kemudian, setelah menutup halamannya yang berat, untuk bertindak.
Ini merupakan karya kritik lingkungan yang komprehensif terhadap paradigma kehutanan industrial. Buku setebal 291 halaman ini menyajikan analisis multidisipliner dari 25 kontributor—mulai dari ekolog, filsuf, aktivis, hingga ahli ekonomi—yang secara kolektif membongkar fondasi ideologis, ekologis, dan sosio-kultural dari sistem kehutanan modern. “Clearcutting merepresentasikan puncak dari reduksionisme ekologis yang mengubah ekosistem kompleks menjadi sederet angka dalam spreadsheet korporasi,” tulis Devall dalam pengantar editor.
Filsuf deep ecology Arne Naess dalam esainya “Forest and Philosophy” menegaskan, “Nilai intrinsik hutan terletak pada keberadaannya sebagai subjek, bukan objek.” Buku ini secara sistematis memetakan bagaimana transformasi hutan dari “rumah kehidupan” menjadi “pabrik kayu” telah menghasilkan krisis ekologis yang multidimensional.
Para kontributor secara kolektif mengecam paradigma forestry industrial yang mereduksi hutan menjadi sekadar komoditas ekonomi. “Clearcutting bukanlah forestry, melainkan mining yang menyamar,” tulis Devall dalam pengantarnya. Filsuf deep ecology Arne Naess dalam kontribusi-nya menegaskan, “Hutan memiliki nilai intrinsik yang independen dari nilai ekonomisnya bagi manusia.” Buku ini dengan tegas membongkar mitos bahwa forestry industrial adalah praktik yang sustainable dan scientifically based.
Dampak Ekologis Clearcutting yang Irreversibel
Bab-bab awal buku ini mendokumentasikan dengan rinci dampak ekologi clearcutting terhadap biodiversitas, siklus hidrologi, dan kesuburan tanah. Berbagai penelitian menunjukkan bagaimana praktik ini menyebabkan erosi tanah yang masif, hilangnya habitat satwa liar, dan terganggunya siklus nutrisi alami. “Setiap hektar yang ditebang habis adalah luka terbuka di wajah bumi,” tulis ahli ekologi Chris Maser. Data yang disajikan menunjukkan bahwa clearcutting meningkatkan erosi tanah hingga 400% dibandingkan dengan selective logging. Untuk konteks Indonesia, temuan ini sangat relevan mengingat praktik tebang habis untuk perkebunan kelapa sawit dan HTI telah menyebabkan degradasi hutan yang masif di Sumatera dan Kalimantan. Tebang habis menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan hilangnya mikoriza endemic yang vital bagi regenerasi hutan.
Ahli ekologi Chris Maser dalam esai “The Hidden Forest” mendokumentasikan bagaimana praktik tebang habis mengganggu siklus nutrisi, merusak mikoriza, dan menghancurkan jaringan makanan tanah yang membutuhkan waktu berabad-abad untuk terbentuk. Data yang disajikan menunjukkan bahwa clearcutting mengurangi infiltrasi air tanah sebesar 35-50%, dan menyebabkan hilangnya 80-90% biodiversitas invertebrata tanah. “Setiap acre yang ditebang habis bukan hanya kehilangan pohon, tetapi seluruh ekosistem bawah tanah yang tidak terlihat,” tulis Maser. Kajian lain juga menyebutkan dampak clearcutting terhadap siklus hidrologi dan kontribusinya terhadap perubahan iklim. Penelitian yang dikutip menunjukkan bahwa clearcutting mengubah aliran dasar sungai sebesar 30-40%, meningkatkan sedimentasi 500-1000%, dan melepaskan karbon yang tersimpan dalam tanah hingga 25 ton per hektar. “Hutan bukan hanya penyerap karbon, tetapi bank karbon yang aktif,” tulis ahli klimatologi Dr. Beverly Collins. Dalam konteks Indonesia, temuan ini memperkuat argumen terhadap konversi hutan gambut yang melepaskan karbon dalam jumlah masif dan mengganggu siklus air regional, sebagaimana terlihat dalam kebakaran hutan tahunan di Sumatera dan Kalimantan.
Bagian tengah buku ini mengkritik keras pengabaian dimensi sosial-budaya dalam forestry industrial. Berbagai esai menggambarkan bagaimana clearcutting menghancurkan mata pencaharian masyarakat lokal, mengikis kearifan tradisional, dan meminggirkan hak-hak masyarakat adat. “Industrial forestry adalah bentuk kolonialisme modern yang merampas warisan kultural masyarakat lokal,” tulis aktivis Native American Winona LaDuke. Situasi ini menemukan paralelnya di Indonesia dimana konflik antara perusahaan kayu HTI dengan masyarakat adat terus berlanjut, seperti yang terjadi dengan masyarakat Dayak di Kalimantan yang kehilangan sumber kehidupan akibat clearcutting untuk perkebunan sawit. Pengelolaan tebang habis jika tidak dilakukan dengan sangat berhat-hati maka dimensi sosial dan kultural banyak yang terabaikan
Buku ini melakukan dekonstruksi dan kritik tajam terhadap ilmu kehutanan konvensional yang dianggap terlalu reduksionis dan terkooptasi kepentingan industri. Para kontributor berargumen bahwa pendekatan scientific forestry yang berfokus pada maximum sustainable yield telah mengabaikan kompleksitas ekosistem hutan. “Kita telah mengubah hutan yang kompleks menjadi plantasi yang sederhana,” kritik Dr. Jerry Franklin. Dalam esai “The Scientific Basis for New Forestry” itu ia mengkritik reduksionisme ilmiah yang mereduksi kompleksitas hutan menjadi sekedar “volume kayu” dan “rotasi tebang.” “Kita telah mengembangkan ilmu yang melayani industri, bukan ekosistem,” kritik Franklin. Pakar kehutanan Indonesia, Prof. Hariadi Kartodihardjo, dalam berbagai tulisannya juga mengkritik dominasi pendekatan reduksionis dalam pengelolaan hutan Indonesia yang mengabaikan aspek ekologis yang holistik.
“Industrial forestry telah gagal memenuhi janji kemakmurannya, malah menciptakan kemiskinan ekologis” – Kritik dari World Rainforest Movement
Ekonomi Politik Forestry Industrial
Clearcutting jelas bermaksud untuk membongkar jaringan ekonomi-politik yang mendukung kelangsungan forestry industrial, termasuk subsidi pemerintah, regulasi yang lemah, dan kooptasi lembaga penelitian. Termasuk juga globalisasi industri kehutanan yang berkontribusi terhadap lajunya kehutanan industrial ini. “Clearcutting bertahan bukan karena keunggulan ekologisnya, tetapi karena keunggulan politisnya,” tulis analis kebijakan Brian Tokar. Di Indonesia, fenomena serupa terlihat dalam kuatnya oligarki kayu dan sawit yang mempengaruhi kebijakan kehutanan, sebagaimana diungkap oleh Forest Watch Indonesia dalam berbagai laporannya. “Subsidi pemerintah untuk clearcutting di Amerika Serikat mencapai $300 juta per tahun, sementara nilai jasa ekosistem yang hilang tidak pernah dihitung,”ungkap Tokar. Di Indonesia, penelitian Forest Watch Indonesia mengungkap pola serupa dimana oligarki kayu dan sawit menerima berbagai insentif fiskal sementara biaya eksternalitas lingkungan ditanggung masyarakat.
Apakah ada alternatif pengelolaan hutan yang berkelanjutan? Meski banyak mengkritik, buku ini juga menawarkan alternatif pengelolaan hutan yang lebih berkelanjutan, termasuk community-based forest management, ecoforestry, dan pendekatan ecosystem-based management. “Selective logging yang dilakukan dengan hati-hati dapat menghasilkan kayu tanpa menghancurkan hutan,” usul Dr. James K. Agee. Di Indonesia, praktik serupa dapat dilihat dalam pengelolaan hutan oleh masyarakat di Kasepuhan Banten Kidul atau sistem hutan desa di Jambi yang menunjukkan bahwa pemanfaatan hutan yang berkelanjutan sangat mungkin dilakukan.
Buku ini mendokumentasikan perlawanan masyarakat lokal dan alternatif pengelolaan hutan. Winona LaDuke dalam “Native Forests, Native Peoples” menceritakan perjuangan masyarakat Anishinaabe melalui praktik “forest certification by occupation.” “Masyarakat adat telah mengelola hutan secara berkelanjutan selama ribuan tahun sebelum industrial forestry datang,” tegas LaDuke. Di Indonesia, praktik serupa dapat dilihat dalam sistem hutan adat di Kalimantan dan sasi di Maluku yang menunjukkan efektivitas pengelolaan berbasis komunitas.
Bagi masyarakat, hutan bukan sekedar tegakan kayu. Kehidupan ada di dalam hutan atau sumberdaya alam lainnya. Dampak sosial-budaya dan psikologis clearcutting menjadi bagian penting analisis dalam buku ini. Psikolog lingkungan Dr. Sarah Conn menganalisis “ecological grief” yang dialami masyarakat yang kehilangan hubungan dengan hutan. “Kehilangan hutan bukan hanya kehilangan sumber daya, tetapi kehilangan identitas kultural,” tulis Conn. Di Indonesia, fenomena ini terlihat jelas pada masyarakat Dayak yang mengalami disorientasi kultural akibat kehilangan hutan ulayat mereka.
Catatan Akhir
Lebih dari tiga dekade setelah publikasinya, kritik dalam “Clearcut” tetap relevan dengan isu deforestasi global kontemporer. Buku ini telah menginspirasi gerakan anti-clearcutting di berbagai belahan dunia dan mempengaruhi kebijakan kehutanan di beberapa negara. “Semangat ‘Clearcut’ hidup dalam gerakan zero-deforestation modern,” aku aktivis lingkungan Rolf Skar. Di Indonesia, semangat ini terlihat dalam moratorium hutan dan tekanan global terhadap praktik deforestasi untuk perkebunan sawit. Dengan kemajuna pengetahuan dan teknologi barangkali praktek-praktek kehutanan 30 tahun lalu tidak lagi ditemukan saat ini. Atau sama sajakah?
Bagian penutup buku ini menekankan dimensi etis dan spiritual dalam konservasi hutan. Berbagai kontributor mengajak pembaca untuk mengembangkan hubungan yang lebih holistik dengan hutan yang melampaui perspektif antroposentris. “Hutan adalah katedral alam tempat kita belajar kerendahan hati,” tulis penyair Gary Snyder. Cendekiawan Muslim Indonesia, Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar menulis, “Hutan adalah ayat Allah yang terbentang, mengajarkan kita tentang keagungan penciptaan,” menegaskan pentingnya konservasi hutan sebagai bagian dari ibadah.
Meskipun merupakan pemikiran lebih dari seperemapat abad yang lalu, tetapi percikan dan jejaknya masih sangat relevan dan penting. Ia juga menawarkan visi transformatif untuk kehutanan masa depan. Berbagai kontributor mengusulkan pendekatan “ecological forestry” yang mengintegrasikan prinsip-prinsip ekologi, keadilan sosial, dan ekonomi berkelanjutan. “Masa depan kehutanan terletak pada kemampuan kita untuk melihat hutan sebagai komunitas ekologis, bukan komoditas ekonomis,” simpul Devall. Cendekiawan Muslim Indonesia, K.H. Thontowi Musaddad, dalam “Fiqh Al-Bi’ah” menegaskan, “Memelihara hutan adalah bagian dari ibadah, karena ia adalah amanah Allah untuk kelestarian kehidupan.”
Saya tutup Rubarubu #10 ini dengan sebuah sajak yang diterjemahkan dari Cedric Wright (Clearcut, hal. 250).
Kata-kata dari Bumi
(Terjemahan dari “Words of the Earth” — Cedric Wright)
Renungkanlah kehidupan pohon.
Selain kapak, betapa tiada yang mereka peroleh dari manusia.
Namun apa yang manusia peroleh dari pohon—tak terhingga nilainya.
Dari wujud bisu mereka mengalir keseimbangan,
dalam diam, suara yang lembut, gerak yang indah
menjawab bisikan angin.
Betapa damai mereka yang mendengar suara dan laku pohon!
Pohon tak pernah menjerit meminta perhatian.
Sebuah pohon, seonggok batu—tak berpura-pura;
mereka tumbuh sejati dari dirinya sendiri,
bersetia dalam persekutuan roh semesta.
Pohon merawat ketenangan yang dalam.
Ia menancapkan akarnya dalam sunyi bukan hanya di tanah,
tetapi juga akar dari keindahan dan kesadarannya yang tak dikenal.
Kadang, kita menangkap kilau halus kesadaran itu,
dan dalam sekejap mengerti—
manusia bukanlah puncak dari kehidupan.
Sifat-sifat pohon, setelah lama bersetubuh dengan jiwa kita,
diam-diam bersemayam dalam diri manusia.
Sebagaimana keheningan menajamkan bunyi,
demikianlah melalui hal-hal kecil
kegembiraan hidup mengembang.
Berbaring di bawah pohon,
kita tersadar akan akar dan arah seluruh keberadaan kita.
Persepsi mengalir dari bumi dan langit,
dan penyembuhan yang luas pun dimulai.
—Cedric Wright / Terjemahan: Dwi Rahmad Muhtaman
Bogor, 6 November 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi:
Devall, B. (Ed.). (1993). Clearcut: The tragedy of industrial forestry. Earth Island Press.
i Ruang Baca Ruang Buku (Rubarubu) adalah sebuah prakarsa yang mempunyai misi untuk menyebarkan ilmu dan pengetahuan lewat bacaan dan buku. Merangsang para pembaca Rubarubu untuk membaca lebih dalam pada buku asal yang diringkas, mendorong percakapan untuk membincangkan buku-buku yang telah diringkas dan juga meningkatkan gairah untuk menulis pengalaman baca dan berbagi dengan khalayak. Prakarsa Rubarubu adalah bagian dari prakarsa ReADD (Remark Asia Dialogue and Documentation), sebuah program untuk menjembatani praktik dan gagasan — agar pengalaman lapangan dapat berubah menjadi narasi yang inspiratif, dokumentasi yang bermakna, dan percakapan yang menggerakkan.
ReADD mendukung penulisan, penerbitan, dan dialog pengetahuan agar Remark Asia memperluas perannya bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai rumah gagasan tentang masa depan berkelanjutan.
ReADD (Remark Asia Dialogue and Documentation) lahir dari kesadaran bahwa keberlanjutan tidak hanya dibangun melalui proyek dan kebijakan, tetapi juga melalui gagasan, refleksi, dan narasi yang menumbuhkan kesadaran kolektif. Buku, diskusi, dan dokumentasi menjadi medium untuk menyemai dan menyerbuk silang pengetahuan, membangun imajinasi masa depan, serta memperkuat hubungan antara manusia, budaya, dan bumi.
Dengan kemajuan teknologi kita juga bisa memanfaatkan kecanggihannya untuk meringkas buku-buku yang ingin kita baca singkat. Rubarubu memanfaatkan teknologi intelegensia buatan untuk meringkas dan mengupas buku-buku dan dijadikan bacaan ringkas. Penyuntingan tetap dilakukan dengan intelegensia asli untuk memastikan akurasinya dan kenyamanan membaca. Karena itu tetap ada disclaimer bahwa setiap artikel Rubarubu tidak menjamin 100% akurat berasal dari seluruhnya buku yang dikupas. Penulisan artikel dilakukan dengan sejumlah improvisasi, olahan dari sumber lain dan pandangan/interpretasi pribadi penulis. Pembaca disarankan tetap membaca sumber aslinya untuk mendapatkan pengalaman dan jaminan akurasi langsung.






