CadaS #01
Peristiwa Malari dan Sepeda
Dwi R. Muhtaman
“Aku berjalan di jalan yang sepi. Hanya beberapa beca dan kendaraan lewat. Aku memikirkan banyak hal.” Inilah kutipan dari catatan So Hok Gie, aktifis Universitas Indonesia, Salemba yang rajin mencatat langkah-langkah dan pemikirannya dalam buku catatan lusuh (1966). Kutipan ini mewakili gaya tulisan Gie: pejalan kaki yang merenung, bukan pengendara sepeda yang sibuk mengayuh.
Pada dekade 1960-an hingga 1980-an, ketika gerakan mahasiswa mengguncang politik nasional —dari 1966 hingga Malari 1974 dan seterusnya—sepeda adalah bagian dari kehidupan sehari-hari mahasiswa kota. Banyak yang datang ke kampus dengan sepeda karena biaya, karena jarak, dan karena ketiadaan alternatif. Dari perspektif sejarah sosial, itu berarti sepeda adalah infra-struktur tak terlihat yang memungkinkan mobilisasi: ia memperluas jangkauan tubuh mahasiswa, mempercepat arus informasi, dan memudahkan pertemuan. Tanpa harus meminjam bus atau membayar ongkos, mahasiswa bisa bergerak cepat di kota—dan kota pun, mau tak mau, menjadi panggung. Gie terlalu sibuk dengan gagasan dan pemikiran. Ia tak pernah mencatat sesuatu tentang bersepeda.
Demikian juga dalam kumpulan puisi Chairil Anwar (1922-1949), tidak ada referensi spesifik tentang sepeda. Chairil hidup di era yang lebih awal (1940-an), di mana sepeda tentu juga ada, tetapi bukan itu fokus karyanya. Bisa jadi pada periode itu sepeda masih menjadi barang mewah. Seperti kehadiran awal sepeda di Eropa dan Amerika Serikat. Barang mewah. Mahal.
Puisi-puisi Chairil berpusat pada eksistensi diri, pemberontakan, kematian, cinta, dan vitalitas hidup (“aku ingin hidup seribu tahun lagi“). Ia adalah penyair “kekuatan kata” dan “jiwa”, bukan penyair yang mendeskripsikan aktivitas sehari-hari.
Chairil menggunakan imaji-imaji kuat seperti “binatang jalang”, “karangan bunga”, “ter-dampar”, “mesiu”, “gereja”, “tuhanku”. Sepeda, sebagai objek, dianggap terlalu prosais dan tidak memiliki daya pukul metaforis yang dia cari.
Dia hidup di masa revolusi fisik (1945-1949). Jika pun ada mobilitas, imaji yang lebih kuat untuk perjuangan adalah “berjalan kaki dalam panjangnya malam” atau “dalam kawal kolone jalan” (seperti dalam sajak-sajak “Krawang-Bekasi”), bukan bersepeda.
Bandingkan dengan deskripsi transportasi yang mungkin ada di puisi lain. “Jangan memburu mobil dan gadis-gadis berpinggang semampai” (dari sajak “Persetujuan dengan Bung Karno”). Di sini, “mobil” disebut sebagai simbol kehidupan borjuis/kemewahan yang ditolak— sebuah kontras yang sama yang akan digunakan demonstran Malari 1974 (Sepeda vs. Mobil).
Namun, sepeda tidak hadir sebagai pasangan oposisinya dalam puisi Chairil. Mencari narasi tentang sepeda dalam puisi Chairil Anwar adalah hal yang sia-sia. Karyanya bukan sumber untuk sejarah sosial material. Namun, semangat pemberontakannya (“Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya terbuang“) adalah roh intelektualyang diwarisi oleh generasi-generasi aktivis setelahnya, termasuk mereka yang bersepeda ke lokasi demonstrasi Malari.
Dua pemberontak itu jelas mengesampingkan sepeda. Meskipun saya yakin mereka adalah pesepeda.
Atau karena sepeda memang adalah sesuatu yang sepele. Sesuatu yang menjadi bagian sehari-hari. Karena itu tak perlu diperhatikan secara khusus. Seperti udara yang kita hirup, air yang kita teguk, cara kita bernapas. Sesuatu yang biasa. Seperti yang ditunjukkan Walker (Bike Nation, 2017). Menurutnya, secara global, sebagian besar orang yang naik sepeda tidak pernah menyebut dirinya pesepeda. Mereka adalah ibu yang mengantar anak ke sekolah di Belanda, pekerja migran di Asia Tenggara, pelajar di Tiongkok, atau petani di Afrika.
Di pojok-pojok Nusantara tentu menjadi hal yang sangat biasa kita berjumpa dengan anak-anak mengayuh sepeda ke sekolah. Emak-emak dengan muatan sepeda yang penuh mengangkut aneka barang mengayuh sepedanya ke pasar. Petani-petani masih tidak lelah memacu sepedanya ke sawah. Mereka tidak “bersepeda”; mereka pergi ke suatu tempat. Sepeda hanyalah alat, bukan identitas. Inilah tesis awal Walker: krisis bersepeda di negara-negara maju bukan soal minat atau budaya, melainkan soal bagaimana sepeda disingkirkan dari kategori “normal.” Tetapi di Indonesia, sepeda adalah sebuah ritual harian.
Walker mengajak pembaca untuk membedakan antara cycling as an activity dan cycling as an identity. Di banyak negara, terutama Inggris dan Amerika Serikat, bersepeda telah direduksi menjadi identitas subkultural: hobi, gaya hidup, atau bahkan ideologi. “Pesepeda” dibayangkan sebagai figur tertentu—sering kali laki-laki, mengenakan pakaian teknis, agresif di jalan, dan dianggap menyimpang dari arus utama. Akibatnya, bersepeda tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang normal, melainkan sebagai pilihan eksentrik.
Di Indonesia, sejarah gerakan mahasiswa selalu ditulis sebagai sejarah kaki yang melangkah di aspal: long march, mimbar bebas, pendudukan gedung, dan kerumunan yang mengubah jalan raya menjadi forum rakyat. Namun di sela-sela kaki itu, ada roda-roda yang sering luput dari arsip resmi—roda sepeda—yang membawa tubuh mahasiswa dari kos ke kampus, dari kampus ke titik kumpul, dari pinggiran kota ke jantung kekuasaan. Ia tampak sepele, tapi justru di situlah politiknya: sepeda adalah teknologi mobilitas yang murah, setara, dan menuntut ruang. Di kota yang makin diserahkan pada mesin dan modal, sepeda menjadi bahasa perlawanan yang sunyi namun tegas.
Dalam peristiwa Malari, 52 tahun yang lalu hari ini, 15 Januari 1974 sepeda adalah saksi bisu. Ia hadir dalam sudut-sudut peristiwa yang menegangkan itu. Terlibat diantara api, asap dan mesiu. Bergerak diantara gegap gempita. Bagian penting dari masa demonstrasi. Tetapi kemudian terlipat dalam catatan sejarah. Tergeletak begitu saja. Sama sekali tak terbaca.


