Rubarubu #48
Business Design Thinking and Doing:
Merancang Bisnis Berkelanjutan
Ketika Inovasi Tidak Lagi Cukup
Tahun 2018, di sebuah kota kecil di Italia Utara, sekelompok produsen tekstil lokal hampir gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan sistem produksi cepat (fast fashion). Namun seorang anak muda yang kembali dari studi desain bisnis di Milan mengajak mereka mengubah cara berpikir. Ia tidak berbicara soal “produk baru”, melainkan “cara merancang ulang bisnis”. Mulai dari pemetaan ulang rantai pasok, penciptaan nilai sosial, hingga transparansi digital. Dari kebangkrutan yang nyaris tak terhindarkan, mereka justru berubah menjadi brand etis yang menembus pasar Eropa melalui platform sirkular. Saat ditanya rahasianya, ia menjawab singkat:
“Kami berhenti menjadi pabrik. Kami mulai berpikir sebagai perancang.”
Angèle M. Beausoleil dengan buku Business Design Thinking and Doing (2022) merefleksikan kisah ini sebagai gagasan utama. Dalam dunia bisnis yang tak lagi cukup hanya dengan “berinovasi”, buku ini menawarkan pendekatan baru: berpikir dan bertindak dengan cara desainer — bukan demi estetika, tetapi demi keberlanjutan (sustainability) dan kelentingan (resilience). Beausoleil menekankan bahwa desain bukan sekadar bentuk visual, tetapi “cara mengonstruksi masa depan yang layak dijalani manusia”. Seperti kata penyair Afrika, Ben Okri: “The real work of the visionary is not to predict the future but to design it.”
Buku ini membuka cara baru melihat bisnis — bukan sebagai mesin kapital, tetapi sebagai sistem desain sosial-ekologis.
Buku ini menempatkan design thinking bukan hanya sebagai metodologi inovasi, tetapi sebagai kerangka strategis untuk membangun bisnis berkelanjutan. Beausoleil menyatukan pendekatan multidisipliner: psikologi, antropologi, manajemen, teknologi, sustainability, dan ilmu desain. Tujuannya bukan menciptakan produk baru, melainkan mendesain ulang logika bisnis agar relevan dengan tantangan abad ke-21 — krisis iklim, disrupsi digital, ketidaksetaraan sosial.
Inti buku ini adalah Design-Driven Innovation, yaitu pendekatan bisnis yang bergerak dari pemahaman manusia (human-centered), menuju solusi strategis yang menciptakan nilai baru (value creation), dibuktikan melalui sistemasi yang dapat diuji, diulang, dan diskalakan.
Tiga kontribusi utama buku ini:
- Menawarkan framework komprehensif untuk inovasi berbasis desain.
- Menyediakan teknik dan strategi konkret untuk mengelola transformasi bisnis.
- Menggeser wacana “inovasi produk” menjadi “inovasi sistem” — selaras dengan agenda keberlanjutan global dan SDGs.
Dalam konteks Indonesia — dari UMKM, produsen pangan, energi terbarukan, hingga tata kelola ESG korporasi besar — buku ini sangat relevan. Indonesia sedang mencari bentuk identitasnya di era ekonomi hijau-global. Buku ini memberi petunjuk konkret: bukan soal menambah inovasi, tetapi merancang ulang logika bisnis agar berpihak pada manusia dan planet.
Bab pertama mengajak pembaca memahami bahwa inovasi sering disalahartikan sebagai produk baru atau teknologi baru. Beausoleil memulai dengan Warm Up Exercise: Word Association, membuktikan bahwa definisi “inovasi” sangat bias budaya dan sektoral. Ia membongkar mitos inovasi: “Innovation is not always progress, and progress is not always innovation.”
Defining and Demystifying Innovation
Inovasi harus dibebaskan dari glorifikasi. Beausoleil menunjukkan bahwa banyak perusahaan salah mengira inovasi sebagai kreativitas bebas, padahal justru membutuhkan struktur, proses, dan keberanian mengambil risiko yang terukur. Ia menggeser paradigma dari “ide besar” menjadi eksperimen kecil yang konsisten.
Ia menegaskan bahwa inovasi yang bermakna hanya bisa lahir dari tiga orientasi sosial:
- Human empathy (people)
- Strategic foresight (future)
- Sustainability (planet)
Ini sejalan dengan konsep Ubuntu dari Afrika Selatan: “I am because we are.” Dalam bisnis, keputusan harus mencerminkan interdependensi ekologi dan manusia. Itulah yang disebut: Key Influences and Orientations.
Beausoleil menguraikan contoh Peta Kasus (Case Map Example) yakni Blockbuster and Netflix.
Studi ini menunjukkan bahwa kegagalan Blockbuster bukan karena teknologi, tapi karena gagal memahami perubahan perilaku manusia. Netflix berpikir sebagai perancang pengalaman, bukan hanya penjual konten. Desain bisnis berarti mengerti perubahan budaya sebelum orang menyadarinya. Seperti kata Muhammad Iqbal, filsuf Muslim: “The self is not a finished thing, but something in the making.” Begitu pula bisnis.
Organizations: To Design or Not to Design
Beausoleil membagi perusahaan menjadi dua:
- Former Innovators (RIP) – gagal membaca masa depan.
- Resilient Innovators (Survivors) – mampu melakukan self-redesign.
Buku ini menegaskan bahwa “organisasi yang tidak didesain ulang, akan tertinggal”. Inovasi tanpa desain hanyalah kebetulan. Desain tanpa keberlanjutan adalah kosmetik. Hanya ketika keduanya bertemu, lahirlah transformasi.
Buku ini juga membuka definisi baru: business design adalah proses sadar untuk merancang nilai, struktur, dan masa depan sebuah bisnis. Tidak hanya produk — tetapi model, pola pikir, bahkan budaya organisasi.
Terdapat Four Steps to Design-Driven Innovation (Beausoleil menawarkan kerangka metode-nya sendiri):
- Discover – memahami manusia dan konteks
- Define – merumuskan peluang strategis
- Design – membuat prototipe model bisnis, bukan hanya produk
- Deploy – mengimplementasikan secara iteratif
Bab ini menantang mentalitas korporasi: Desain bukan fase awal, tetapi fondasi berpikir. Dalam Islam, ada konsep ijtihad — proses berpikir untuk menjawab realitas baru. Inilah ruh business design: merumuskan ulang masa depan tanpa takut melanggar tradisi. Business Design bukan metodologi sementara, tetapi bahasa baru untuk merancang masa depan bisnis — bukan hanya bertahan, tetapi relevan.
Berikut tabel framework utama dari buku Business Design Thinking and Doing oleh Angèle M. Beausoleil — dirangkum menjadi struktur yang sistematis dan mudah diterapkan dalam dunia bisnis dan keberlanjutan.
Tabel 1. Konsep Inti Design-Driven Innovation
| Elemen Utama | Deskripsi | Fokus Utama | Hasil yang Diharapkan |
| Mindset (cara pikir) | Melihat bisnis sebagai sistem yang dapat dirancang ulang | Empati, eksplorasi, keberlanjutan, iterasi | Pola pikir inovatif yang terbuka |
| Method (metode) | Kerangka proses yang berpijak pada desain | Human-centered, experiment-based | Pendekatan strategis pada inovasi |
| Mechanism (alat & teknik) | Tool praktis yang dapat diterapkan di bisnis | Mapping, prototyping, scenario-building | Operasionalisasi inovasi |
| Measure (metrik) | Evaluasi dampak strategis | People–Profit–Planet | Integrasi ESG & Value Creation |
Tabel 2. Business Design Method – 4 Langkah Utama
| Tahap | Tujuan | Aktivitas Kunci | Output |
| 1. Discover | Memahami manusia, konteks, dan tantangan | Riset etnografi, wawancara, mapping | Insight & problem redefinition |
| 2. Define | Menyusun strategi berbasis temuan | Framing masalah, prioritisasi, prototyping konsep | Opportunity & design hypothesis |
| 3. Design | Menciptakan solusi yang dapat diuji | Prototype bisnis/model/nilai | Konsep teruji secara strategis dan user-based |
| 4. Deploy | Implementasi dan scaling | Pilot testing, evaluasi, iterasi berulang | Sistem/model bisnis berkelanjutan |
Tabel 3. Orientasi Strategis Inovasi
| Orientasi | Pertanyaan Pemicu | Contoh Implementasi |
| People (Empati Sosial) | Siapa yang terdampak & bagaimana perasaan mereka? | Service design, UX, co-creation |
| Planet (Ekologi) | Apakah sistem ini memberi “biaya ekologis tersembunyi”? | Circular economy, green operations |
| Profit (Nilai Bisnis) | Bagaimana inovasi menciptakan nilai berkelanjutan? | ESG strategy, new value proposition |
| Purpose (Makna) | Mengapa inovasi ini penting untuk masa depan? | Social mission, storytelling, brand ethic |
Tabel 4. Perbandingan Tipe Inovator
| Tipe Organisasi | Karakteristik | Risiko | Contoh |
| Former Innovators (RIP) | Pernah besar tapi tidak adaptif | Gagal membaca perubahan | Blockbuster, Nokia |
| Resilient Innovators | Fleksibel, adaptif, terus belajar | Butuh investasi & visi | Netflix, Patagonia |
| Emergent Designers | Baru membangun identitas inovasi | Butuh arah strategis | UMKM, startup, BUMN transformasi |
Tabel 5. Alat Praktis Business Design
| Tools / Teknik | Fungsi | Kapan Digunakan |
| Persona & Journey Map | Memahami user dan konteks | Tahap Discover |
| Value Proposition Canvas | Menguji relevansi nilai | Tahap Define |
| Business Model Prototype | Mendesain sistem nilai | Tahap Design |
| Impact Assessment (ESG/SDG) | Mengukur keberlanjutan | Deploy & Iteration |
| Storytelling Framework | Komunikasi strategis | Final pitching / scaling |
Tabel 6. Ukuran Keberhasilan – Beyond Profit
| Dimensi | Indikator | Contoh |
| People | Human well-being, job dignity, inclusion | Fair labour, co-creation, upskilling |
| Planet | Resource efficiency, carbon reduction | Circularity, net-zero, regenerative ops |
| Profit | Value creation yang bertahan | Diversifikasi pendapatan, longevity |
| Purpose | Mission alignment & trust | Brand loyalty, stakeholder buy-in |
Tabel 7. Relevansi untuk Indonesia
| Tantangan Indonesia | Bagaimana Business Design Bisa Membantu? | Contoh Penerapan |
| UMKM terbatas inovasi | Co-creation & business prototyping | Model usaha kolaboratif berbasis komunitas |
| ESG sebagai kewajiban administratif | Diubah menjadi alat inovasi bisnis | Strategic sustainability roadmap |
| Ketergantungan pada produk | Peralihan ke sistem nilai | Wisata komunitas, pangan lokal |
| Ketimpangan sosial | Inklusi sebagai basis desain | Impact-driven business |
| Kurangnya riset pasar | Design research sebagai dasar | Living lab & consumer ethnography |
Membuka Pintu Inovasi — Sebuah Narasi
Dalam sebuah workshop di Bandung, seorang pelaku UMKM kopi bertanya: “Bagaimana saya bisa berinovasi jika saya bahkan tidak punya waktu untuk berpikir?” Pertanyaan itu bukan sekadar keluhan, tetapi potret realitas bisnis kecil hingga korporasi besar: inovasi sering di-asumsikan sebagai “bonus”, bukan fondasi yang dirancang secara sadar.
Beausoleil membalik asumsi itu: inovasi bukan hasil inspirasi, melainkan sesuatu yang harus dirancang secara metodologis seperti kita merancang bangunan, mesin, atau taman kota. Ia membangun “jalan berpikir” yang memadukan empati manusia, riset mendalam, teknik desain, dan logika bisnis—menciptakan apa yang disebutnya sebagai Business Design Method.
Bab 3, 4, dan 5 adalah jantung dari metodologi ini: START – FIND – FRAME, tiga langkah paling krusial untuk menyiapkan panggung transformasi bisnis yang berkelanjutan.
Mari kita kupas satu per satu Langkah-langkah proses inovasi.
LANGKAH 1: START
“Innovation begins with a conscious decision to see the world differently.” —Beausoleil
Tahap START berfungsi seperti “tuning” orkestrasi inovasi. Tujuannya bukan memecahkan masalah, tetapi menyiapkan manusia yang akan memecahkannya: mindset, tim, empati, dan kesadaran diri.
Mindset dan Orientasi
- Inovasi membutuhkan mindset human-centered—melihat dunia dari perspektif orang lain.
- Proses inovasi dimulai dengan penyadaran diri: siapa saya? apa posisi saya? apa yang saya lihat – dan tidak saya lihat?
- Warm-up exercise “Story of Me” mendorong refleksi terhadap pengalaman pribadi yang membentuk pola pikir kita.
- Terdapat tipe peserta dalam tim inovasi: drivers, analysts, dreamers, critics, implementers. Kombinasi yang seimbang adalah kunci.
Di sinilah muncul prinsip penting: “Desain tidak mencari jawaban, tapi memperluas kemungkin-an pertanyaan.”
Membentuk Tim & Brief
- Menggunakan personal SWOT dan team SWOT.
- Tujuan akhirnya adalah menyusun Design Innovation Brief: pernyataan awal tentang arah eksplorasi.
- Exercise “Pass the Message” menyingkap bagaimana komunikasi dapat mengubah makna—menandakan mengapa clear problem framing sangat penting sejak awal.
Tahap START adalah tahap internal, bukan eksternal. Ia mempersiapkan manusia, bukan solusi.
Kisah klasik Rumi terasa relevan di sini: “Yesterday I was clever, so I wanted to change the world. Today I am wise, so I am changing myself.”
LANGKAH 2: FIND
“Good design is slow at the beginning—because it listens.”
Inilah fase riset mendalam: need finding. Pada tahap ini, tim memasuki dunia nyata – berbicara dengan pengguna, mengamati situasi, memahami emosi & hambatan.
Need Finding sebagai Metode Riset Kualitatif
- Menggunakan observational research dan empathy interviews.
- Tujuan: mendapatkan thick data, bukan hanya statistik.
- Thick data = cerita, mimpi, frustasi, gestur tubuh, konteks sosial.
Kritik Beausoleil pada banyak perusahaan saat ini: “Mereka mengandalkan big data untuk memahami perilaku manusia, padahal yang mereka butuhkan adalah deep data.”
Proses FIND mengikuti alur riset desain (Thick Data dan Analisis):
| Tahap | Tujuan |
| Sift | Pisahkan data yang relevan |
| Sort | Kelompokkan pola/sinyal |
| Label | Definisikan tema/isu |
| Synthesize | Ciptakan insight |
Lahir kemudian Insight Statements dan Problem Statements—jembatan utama menuju inovasi.
Penting: Dalam bisnis berkelanjutan, tahap ini dapat mengungkap pain points ekologis dan sosial yang tidak terlihat dalam laporan keuangan. Seperti dikatakan Vandana Shiva: “The seeds of change are not found in algorithms, but in stories.”
LANGKAH 3: FRAME
Tahap ini mengubah temuan menjadi struktur pemikiran strategis. Fase FRAME adalah “pembingkaian ulang realitas.” Masalah utama desain bisnis: Bukan tidak ada ide. Tapi sering salah menempatkan pertanyaan.
Framing the Right Problem
- Gunakan hasil riset untuk menyusun persona dan empathy map.
- Latihan How Might We… memicu perubahan sudut pandang dari keluhan → potensi kreativitas.
- Feedback loops dilakukan agar framing tidak bias.
Framing Ide & Prototipe
- Menggunakan analogi & metafora (contoh Netflix – “library on demand”).
- Rapid ideation dan rapid prototyping menekankan kecepatan iterasi.
- Journey Map membantu memvisualisasi alur pengalaman pengguna.
Beausoleil menekankan bahwa frame tidak final. Ia seperti bingkai kamera yang bisa terus digeser untuk mengungkap sudut baru.
Seperti kata Naguib Mahfouz (sastrawan Mesir), “You can tell whether a man is clever by his answers. You can tell whether a man is wise by his questions.”
Frame adalah batas imajinasi. Mengubah frame = membuka alternatif masa depan. Jika riset adalah lensa, maka frame adalah arah pandang.
Relevansi dengan Bisnis & Sustainability di Indonesia
| Kondisi di Indonesia | Peran Tahap START – FIND – FRAME |
| Banyak perusahaan hanya reaktif terhadap regulasi ESG | START membangun kesadaran kolektif yang strategis |
| UMKM tidak punya riset pasar | FIND menghadirkan riset empati yang sederhana & murah |
| Korporasi sering salah memahami “kebutuhan konsumen” | FRAME membuka perspektif baru untuk membaca pasar |
| Inovasi dianggap biaya, bukan investasi | Business Design menempatkan inovasi sebagai fondasi nilai |
Sebagaimana dikenal dalam prinsip Islam tentang islah (perbaikan berkelanjutan), inovasi bukan hanya penciptaan, tetapi penyembuhan struktur yang rusak. Konsep ini sejalan dengan ayat QS. Ar-Ra’d 11 — “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
LANGKAH 4: Solve
Tahap ini berfokus pada mengubah ide menjadi solusi yang teruji dan siap diimplementasikan. Pendekatan utamanya adalah prototyping, evaluasi, storytelling, dan pilot implementation.
Tahap “Solve” adalah fase di mana ide mulai diuji realitas. Setelah merumuskan masalah dan merancang alternatif solusi, kini saatnya membangun bukti—melalui prototyping, storytelling, dan implementasi terbatas—untuk memastikan bahwa solusi yang ditawarkan benar-benar tepat.
Bab ini dibuka dengan sebuah warm-up exercise sederhana: membuat pesawat kertas. Latihan ini bukan sekadar permainan; ia mengajarkan pentingnya eksperimen cepat dan iterasi. Dalam bisnis, prototipe tidak harus sempurna—yang terpenting adalah memastikan solusi bergerak ke arah yang benar.
Di bagian selanjutnya, ditekankan bahwa memecahkan masalah tidak selalu berarti menciptakan solusi baru, tetapi sering kali dimulai dengan memastikan bahwa kita sedang memecahkan masalah yang tepat. Prototyping digunakan sebagai alat untuk menemukan, menguji, dan menyaring masalah inti sebelum menghabiskan sumber daya untuk solusi final.
Bab ini juga menyoroti bagaimana prototipe dapat dievaluasi secara sistematis:
- Apakah solusi menyelesaikan hambatan utama?
- Bagian mana yang efektif, mana yang perlu diperbaiki?
- Apa indikator keberhasilan awal?
Setelah refleksi (Part I), bagian kedua beralih pada implementasi solusi. Proses ini diawali dengan warm-up exercise lain: Story Madlib, yang mengantar peserta pada teknik storytelling sebagai alat membangun dukungan internal. Setiap solusi membutuhkan cerita yang kuat agar diterima—dan cerita itu harus mengikuti struktur yang jelas, misalnya model three-act story (situasi – konflik – resolusi).
Dengan dasar narasi tersebut, peserta kemudian diarahkan untuk menyusun Pilot Implementa-tion Plan—rencana uji coba solusi di skala kecil. Untuk memastikan arah tetap jelas, konsep wayfinding diperkenalkan: merancang jalur, milestone, dan antisipasi risiko dengan cara yang visual dan terstruktur.
Akhir bab menekankan pentingnya mengukur dampak solusi. Desain solusi yang baik bukan hanya dieksekusi, tapi juga memiliki indikator keberhasilan yang dapat dipantau. Evaluasi bukan tahap akhir, tetapi bagian dari siklus perbaikan terus-menerus. Bab ini ditutup dengan refleksi singkat terhadap seluruh proses implementasi—menegaskan bahwa solusi terbaik adalah solusi yang terus diperbaiki.
Inti Konsep
- Prototyping untuk Memvalidasi Masalah dan Solusi
- Prototipe digunakan bukan hanya untuk menguji solusi, tetapi juga untuk mengevaluasi apakah masalah yang disasar sudah tepat.
- Evaluasi dilakukan secara iteratif dengan feedback loop.
- Evaluating Solutions
- Strategi evaluasi harus sistematis: mengukur kegunaan, kelayakan, dan dampak.
- Uji coba dapat dilakukan melalui user testing, A/B testing, atau eksperimen terbatas.
- Implementation as Storytelling(Part II)
- Solusi perlu dikomunikasikan melalui narasi yang kuat agar mendapatkan buy-in dari pemangku kepentingan.
- Metode: Three-Act Story (pembukaan – konflik – resolusi).
- Desain rencana pilot implementation: menentukan tim, sumber daya, indikator keberhasilan, dan risk mitigation.
- Wayfinding & Performance Measures
- “Wayfinding” membantu membuat jalur yang jelas dari ide menuju implementasi.
- KPI dan metrics menjadi bagian utama agar ide bisa “naik kelas” menjadi solusi bisnis sungguhan.
Solusi lahir dari prototyping, divalidasi lewat evaluasi, dan dikokohkan lewat storytelling + rencana implementasi.
Reflective Practice and Design
Tahap terakhir berfokus pada refleksi, yaitu meninjau perjalanan desain, pembelajaran personal, pengalaman tim, dan peningkatan proses. Jika bab sebelumnya fokus pada eksekusi, maka bab ini mengajarkan bagaimana pembelajaran dan refleksi menjadi mesin utamanya. Bab dibuka dengan sebuah pengantar bahwa refleksi adalah strategi paling berdampak dalam proses desain dan pembelajaran. Melalui refleksi, tim dan individu tidak hanya melihat hasil, tetapi memahami mengapasesuatu berhasil atau gagal.
Latihan pertama adalah Success Paths—membaca kembali perjalanan ide, memetakan titik keberhasilan kecil, dan menarik pelajaran dari setiap langkah. Dari sinilah bab ini menegaskan bahwa refleksi bukan aktivitas pasif, tetapi alat strategis untuk memperkuat desain dan pengambilan keputusan. Selanjutnya, bab ini mengupas bagaimana refleksi dapat diajarkan, dipraktikkan, dan dinilai.
Berbagai teknik dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran aktif:
- Reflection paper – menuliskan pelajaran kunci dari pengalaman.
- Journaling – mencatat proses secara rutin.
- One-minute paper – merangkum insight secara spontan.
- Free writing – mengekspresikan ide tanpa batasan.
- Free drawing – visualisasi intuitif atas proses atau emosi.
Metode-metode tersebut membantu membuka pemahaman yang tidak selalu muncul dari diskusi formal. Refleksi memindahkan desain dari level teknis ke tingkat pemaknaan.
Selain itu, bab ini mengajarkan bagaimana melakukan 360 Reflection and Evaluation, yaitu menilai solusi dan proses dari berbagai perspektif—pelanggan, tim, stakeholders, dan diri sendiri. Di akhir pembelajaran, peserta diarahkan menyusun Personal Learning Journey Map—semacam peta perjalanan belajar pribadi untuk merumuskan arah ke depan.
Bab ini ditutup dengan pesan penting:
Desain bukan hanya soal menciptakan solusi, tetapi juga menciptakan pemahaman.
Refleksi membuat solusi menjadi matang, dan membuat desainer menjadi bijak.
Konsep Utama
- Reflection = Learning Accelerator
- Refleksi adalah strategi paling berdampak untuk meningkatkan kualitas desain dan keputusan bisnis.
- Membantu menghindari bias, meningkatkan empati, dan memperkuat proses iteratif.
- Metode Reflektif (Exercises)
- Reflection Paper – meringkas pengalaman dan insight utama.
- Journaling – observasi harian atas progres atau hambatan.
- One-Minute Paper – refleksi cepat tentang apa yang sudah dipahami dan belum.
- Free Writing & Free Drawing – membuka sisi kreatif (subconscious thinking).
- Evaluasi Diri & Tim
- 360 Reflection & Personal Learning Journey Map digunakan sebagai alat untuk melihat transformasi personal dan dinamika tim.
- Refleksi juga digunakan untuk menguji efektivitas tools seperti SWOT, Empathy Map, Journey Map, Prototype, dll.
Refleksi bukan tahap akhir, tetapi jembatan menuju inovasi berikutnya. Desain yang baik memerlukan kesadaran diri, evaluasi berkelanjutan, dan pembelajaran sistematis.
Kesimpulan LANGKAH SOLVE DAN REFLEKSI
| Fokus | Tujuan | Hasil |
| Solve | Ubah ide menjadi solusi konkret | Pilot implementation & KPI |
| Reflect | Tinjau proses & pembelajaran | Insight baru & iterasi selanjutnya |
Design thinking berakhir bukan pada solusi, tetapi pada pembelajaran yang membuat solusi berikutnya lebih baik.
Berikut framework visual dalam bentuk tabel lengkap untuk seluruh langkah Business Design Method Step 1–4 (Chapter 3–6). Tabel ini menyatukan alur proses dari Understand – Observe – Ideate – Solve secara sistematis dan dapat digunakan sebagai bahan presentasi maupun panduan kerja.
Business Design Method — Complete Framework (Step 1–4)
| Step | Tujuan Utama | Aktivitas Kunci | Tools & Teknik | Output/Deliverables | Mindset yang Ditekankan |
| STEP 1 Understand (Chapter 3) | Memahami konteks, sistem, dan tantangan inti | – Warm-up: Creative Limits – Define Challenge Statement – Stakeholder Mapping – Problem Framing – Value Proposition Exploration | – Challenge Tree – 5 Whys – Ecosystem Map – Business Model Canvas – Problem Reframing | – Problem Statement yang jelas – Map pemangku kepentingan – Fokus masalah yang tepat | “Frame the right problem before solving it” |
| STEP 2 Observe (Chapter 4) | Menjelajahi realitas pengguna dan sistem sosial secara langsung | – Warm-up: Variation Walk – User Inquiry – Data Collection & Insight – Empathy Building | – Interview Guide – Observation Sheet – Persona – Journey Map – Empathy Map | – Insight tentang kebutuhan nyata – Pain points & opportunity areas | “Look deeper — patterns emerge when we see differently” |
| STEP 3 Ideate (Chapter 5) | Menghasilkan kemungkinan solusi secara kreatif dan strategis | – Warm-up: LEGO Creative Build – Brainstorming – Challenge Reframing – Idea Filtering | – Crazy 8s – Selection Matrix – Idea Clustering – SCAMPER Method | – Solution Concepts – Idea Portfolio – Design Criteria | “Quantity first — judgment later” |
| STEP 4 Solve (Chapter 6) | Menguji solusi, membangun bukti, menyiapkan implementasi | – Warm-up: Paper Airplanes – Prototyping – Storytelling – Pilot Planning | – Prototype Testing – Three-Act Story – Wayfinding – Implementation Plan – Performance Metrics | – Prototype teruji – Narrative for Buy-in – Pilot roadmap – Metrik Keberhasilan | “Start small — learn fast” |
Visual Flow — 4 Step Design Process
UNDERSTAND → OBSERVE → IDEATE → SOLVE
Frame Discover Generate Test &
Context Insight Options Implement
Layered Framework (Dari Makro ke Mikro)
| Level | Pertanyaan Kunci | Peran Utama | Output Praktis |
| Makro (Why) | Mengapa masalah ini penting? | Strategist | Problem Statement |
| Meso (What) | Apa yang terjadi dan siapa yang terlibat? | Researcher | Insight & Patterns |
| Mikro (How) | Bagaimana solusi diuji dan dijalankan? | Designer / Implementer | Prototype & Pilot Plan |
Mindset Shift Sepanjang Proses
| From | → | To |
| Assumptions | → | Evidence |
| Solution-driven | → | Problem-driven |
| Individual thinking | → | Collaborative exploration |
| Linear planning | → | Iterative experimentation |
| Accuracy | → | Learning & discovery |
Penutup
Bagi kita di Indonesia gagasan Beausoleil cocok untuk merancang ekosistem pangan lokal, wisata, energi bersih, ekonomi kreatif. Dapat menjadi pendekatan bagi BUMN dan UMKM untuk menavigasi ESG dan transisi ke ekonomi hijau. Mampu menjadi jembatan antara adat lokal & inovasi global.
Beberapa pengamat menilai bahwa buku ini belum banyak membahas industri di negara berkembang atau konteks Asia, sehingga perlu adaptasi lokal. Namun banyak akademisi memuji buku ini sebagai “pergeseran paradigma” dan “panduan metodologis yang solid untuk era sustainability”. Profesor Jeanne Liedtka (University of Virginia) menulis dalam sebuah ulasan akademik: “Beausoleil manages to bring design thinking back to its strategic roots — and aligns it with sustainability without moralizing it.” (2023)
Buku ini penting bagi Indonesia hari ini. Ia mengajarkan bahwa keberlanjutan tidak bisa dibangun dengan laporan ESG atau CSR saja. Kita memerlukan cara berpikir baru — cara perancang, bukan sekadar pelaksana.
Seperti kata penyair Persia, Rumi: “Yesterday I was clever, so I wanted to change the world. Today I am wise, so I am changing myself.”
Itulah inti business design — merancang ulang diri, sebelum merancang ulang bisnis, sebelum merancang ulang dunia.
Cirebon-Jakarta, 2 Desember 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
- Beausoleil, A. M. (2022). Business Design Thinking and Doing: Frameworks, Strategies and Techniques for Sustainable Innovation. Palgrave Macmillan.
- Okri, B. (1997). A Way of Being Free. Phoenix House.
- Liedtka, J. (2023). Review of Business Design Thinking and Doing [Academic commentary]. Journal of Strategic Design, 4(2), 112–115.
- Iqbal, M. (1934). The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Oxford University Press.
- Rumi, J. (2004). The Essential Rumi. HarperCollins.
- Shiva, V. (2016). Staying Alive: Women, Ecology, and Development. North Atlantic Books.
- Mahfouz, N. (2008). The Journey of Ibn Fattouma. Anchor Books.






