Rubarubu #98
Braving the Wilderness:
Belonging, Kekuasaan, dan Neokolonialisme
Mencari Rumah di Dunia yang Retak
Brené Brown membuka Braving the Wilderness dengan sebuah kegelisahan yang sangat kontemporer: di tengah dunia yang semakin terkoneksi secara digital, manusia justru merasa semakin terasing. Dalam satu kisah nyata yang ia ceritakan—sebuah percakapan dengan seorang veteran perang Amerika—Brown menangkap perasaan “berada di mana-mana tetapi tidak benar-benar di mana pun”. Veteran itu merasa tidak lagi memiliki tempat di masyarakat yang terpolarisasi, penuh kemarahan, dan kehilangan empati. Kisah ini menjadi pintu masuk bagi tesis utama buku: krisis terbesar zaman ini bukan sekadar politik atau ekonomi, melainkan krisis kebermaknaan dan rasa memiliki.
Brown yang merupakan profesor riset di University of Houston, tempat ia memegang jabatan Huffington Foundation–Brené Brown Endowed Chair di Graduate College of Social Work ini, menyebut kondisi ini sebagai hidup dalam the wilderness—padang liar eksistensial tempat manusia harus memilih antara menyesuaikan diri demi diterima atau berdiri sendiri demi keutuhan moral. Buku ini bukan ajakan untuk menarik diri dari dunia, melainkan panggilan untuk menemukan “true belonging”, rasa memiliki yang tidak bergantung pada persetujuan, keseragaman, atau identitas kelompok yang kaku
Dalam bab awal, Brown menggambarkan paradoks zaman modern: kita hidup di era konektivitas global, tetapi juga di era keterputusan emosional dan sosial. Everywhere and nowhere tetapi ada sejumlah paradox keterhubungan modern. Media sosial, politik identitas, dan ekonomi perhatian memperkuat ilusi kebersamaan, namun sering kali menggerus empati dan dialog yang tulus. Brown menunjukkan bagaimana manusia terdorong untuk “memilih kubu”, mengorbankan kompleksitas demi rasa aman semu.
Fenomena ini sangat relevan dalam konteks global hari ini—dari polarisasi politik di Amerika dan Eropa, konflik geopolitik yang dibungkus narasi “kami versus mereka”, hingga dinamika global Selatan–Utara yang masih dibayangi warisan kolonial. Dalam logika neokolonialisme, rasa memiliki sering ditawarkan melalui identitas yang disederhanakan: nasionalisme sempit, fundamentalisme, atau konsumerisme global. Brown mengingatkan bahwa rasa memiliki yang dibangun di atas eksklusi pada akhirnya rapuh dan destruktif.
Dalam dunia yang serbamembingungkan dan penuh ketidakpastian ini diperlukan keberanian untuk tidak menyatu secara palsu. Diperlukan upaya untuk The Quest for True Belonging. Inti buku ini terletak pada redefinisi radikal tentang belonging. Bagi Brown, true belonging bukanlah diterima oleh kelompok, melainkan tetap setia pada diri sendiri bahkan ketika itu berarti berdiri sendirian. Ia menulis bahwa rasa memiliki sejati “tidak menuntut kita untuk berubah menjadi orang lain, tetapi menuntut kita untuk menjadi diri kita sepenuhnya”.
Gagasan ini bergema dengan pemikiran Hannah Arendt tentang keberanian moral individu yang berpikir dan bertindak di tengah tekanan mayoritas, serta dengan Václav Havel yang berbicara tentang living in truth di bawah rezim yang memaksa konformitas. Dalam tradisi pemikiran Islam, gagasan ini sejalan dengan konsep istiqamah—keteguhan moral meski jalan terasa sepi. Brown juga mengaitkan belonging dengan empati dan batas (boundaries). Berbelonging bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan menahan diri dari godaan untuk mendemonisasi yang lain. Di sinilah buku ini menjadi sangat politis dalam arti etis: ia menolak logika kekuasaan yang memerlukan musuh permanen.
High Lonesome: Krisis Spiritual Zaman Kita
Pada bab tentang High Lonesome, Brown menyebut krisis belonging sebagai krisis spiritual, bukan dalam arti religius sempit, melainkan sebagai krisis makna dan keterhubungan terdalam manusia. Ia mengutip puisi dan lagu-lagu rakyat Amerika untuk menggambarkan kesepian eksistensial yang muncul ketika seseorang berani berjalan di jalur nilai yang tidak populer.
Krisis ini terasa global. Dalam politik internasional, kita melihat negara-negara yang merasa “ditinggalkan” oleh globalisasi beralih ke populisme dan otoritarianisme. Dalam konteks Indonesia, kegelisahan serupa muncul dalam bentuk polarisasi politik, politisasi agama, dan retaknya ruang dialog publik. Brown membantu kita membaca gejala-gejala ini bukan semata sebagai konflik ideologi, tetapi sebagai teriakan manusia yang kehilangan rasa aman dan diakui.
Dalam dunia pascakolonial, pertanyaan tentang belonging memiliki lapisan tambahan. Neokolonialisme bekerja bukan hanya melalui ekonomi dan politik, tetapi juga melalui narasi tentang siapa yang “maju”, “normal”, atau “layak”. Brown tidak membahas kolonialisme secara eksplisit, tetapi kerangka berpikirnya membantu kita memahami bagaimana rasa tidak memiliki—baik di tingkat individu maupun kolektif—dapat dimanipulasi oleh kekuasaan.
Di Indonesia, pencarian belonging sering dipertarungkan antara identitas lokal, nasional, dan global. Ketika rasa memiliki dipersempit menjadi keseragaman ideologis atau identitas mayoritas, keberanian untuk “braving the wilderness” menjadi tindakan etis yang penting: berani bersuara bagi pluralisme, keadilan sosial, dan kemanusiaan, meski menghadapi tekanan sosial.
Pemikiran Brown dapat dibaca berdampingan dengan Amartya Sen, yang menekankan pentingnya identity and freedom—bahwa manusia memiliki identitas majemuk dan tidak boleh direduksi menjadi satu label. Ia juga sejalan dengan Paulo Freire, yang melihat pembebasan sebagai proses kesadaran kritis yang sering kali sunyi dan penuh risiko. Dari tradisi sufistik, kita bisa mengingat Jalaluddin Rumi: “Where there is ruin, there is hope for a treasure.” Padang liar bukan akhir, melainkan ruang transformasi.
Mendekat ke Manusia, Menjauh dari Kebencian
Pada titik ini dalam Braving the Wilderness, Brené Brown berhenti berbicara tentang rasa keterasingan secara abstrak dan mulai menuntun pembaca ke medan yang lebih konkret dan lebih berisiko: relasi manusia yang nyata, rapuh, dan sering kali menyakitkan. Ia mengajukan tesis yang sederhana namun radikal—bahwa kebencian, polarisasi, dan dehumanisasi tumbuh subur bukan karena perbedaan semata, melainkan karena jarak.
Dalam Chapter Four: People Are Hard to Hate Close Up. Move In., Brown meminjam ungkapan yang sering dikaitkan dengan aktivis dan penulis Anne Lamott: “You can’t hate people up close.” Kebencian, menurut Brown, membutuhkan karikatur. Ia hidup dari generalisasi, label, dan narasi tunggal. Ketika kita “bergerak mendekat”—secara fisik, emosional, atau eksistensial—retakan mulai muncul dalam tembok prasangka itu. Orang yang tadinya kita anggap sebagai “lawan”, “ancaman”, atau “musuh nilai” tiba-tiba memiliki wajah, cerita, luka, dan ketakutan.
Brown menekankan bahwa mendekat bukan berarti menyetujui atau menghapus perbedaan. Justru sebaliknya: mendekat adalah tindakan keberanian moral, karena ia menuntut kita untuk tetap memegang nilai sambil mengakui kemanusiaan orang lain. Dalam konteks politik dan budaya yang terpolarisasi, Brown melihat kecenderungan manusia untuk menarik diri ke dalam “bunker identitas”—ruang aman emosional yang memperkuat rasa benar sendiri. Bab ini adalah kritik tajam terhadap ilusi keselamatan tersebut. Menjauh terasa aman, tetapi sesungguhnya ia memperdalam keterasingan yang menjadi akar the wilderness itu sendiri.
Jika bab keempat berbicara tentang keberanian untuk mendekat, Chapter Five: Speak Truth to Bullshit. Be Civil. membahas keberanian untuk berbicara, terutama di tengah budaya yang dipenuhi manipulasi, disinformasi, dan ujaran kebencian. Diperlukan sikap kejujuran tanpa kekejaman, keberanian tanpa kebrutalan.
Brown dengan tegas menolak dua ekstrem yang sama-sama merusak: kebisuan demi “kedamaian palsu”, dan kekasaran yang dibungkus dalih kejujuran. Baginya, berbicara kebenaran (speaking truth) bukanlah izin untuk mempermalukan, merendahkan, atau melampiaskan kemarahan. Ia membedakan antara keberanian moral dan agresi emosional. Dalam banyak contoh personal dan sosial, Brown menunjukkan bagaimana “bullshit” modern—narasi palsu, statistik yang dimanipulasi, slogan politik kosong—sering kali dibiarkan tumbuh karena orang baik takut dianggap tidak sopan atau tidak loyal pada kelompoknya.
Namun Brown juga mengkritik budaya “call-out” yang menjadikan kemarahan sebagai mata uang moral. Keberanian sejati, menurutnya, adalah mengatakan yang benar dengan cara yang tetap memanusiakan. Di sinilah ia menegaskan pentingnya civility, bukan sebagai basa-basi sosial, melainkan sebagai bentuk disiplin etis. Bab ini berakar kuat pada penelitian Brown tentang rasa malu (shame) dan kerentanan: ketika kebenaran disampaikan dengan penghinaan, yang muncul bukan refleksi, melainkan pertahanan diri.
Dalam Chapter Six: Hold Hands. With Strangers., Brown melangkah lebih jauh dari relasi interpersonal menuju ranah solidaritas sosial. Ia menulis tentang momen-momen krisis—bencana alam, tragedi kekerasan, atau luka kolektif—di mana orang-orang yang tidak saling mengenal tiba-tiba saling berpegangan tangan, secara literal maupun simbolik. Momen-momen ini, menurut Brown, memperlihatkan kerinduan terdalam manusia untuk terhubung, melampaui identitas politik, agama, atau kelas sosial. Solidaritas tanpa jaminan, kepercayaan tanpa kepastian
Namun Brown yang selama enam belas tahun terakhir, ia meneliti keberanian, kerentanan, rasa malu, dan empati, serta merupakan penulis tiga buku terlaris peringkat #1 New York Times ini, tidak meromantisasi solidaritas. Ia justru menyoroti betapa cepatnya momen kebersamaan itu memudar, digantikan kembali oleh kecurigaan dan fragmentasi. “Berpegangan tangan dengan orang asing” bukan perasaan hangat sesaat, melainkan praktik berkelanjutan yang menuntut keberanian untuk percaya tanpa jaminan. Tidak ada kepastian bahwa tangan yang kita genggam tidak akan melukai kita di kemudian hari—dan justru di situlah nilai etisnya.
Bab ini memperlihatkan bahwa true belonging bukan proyek individualistik, tetapi tindakan kolektif yang rapuh. Brown mengingatkan bahwa kita tidak membangun dunia yang lebih manusiawi hanya dengan merasa benar, melainkan dengan bersedia hadir bersama orang-orang yang tidak sepenuhnya kita pahami.
Etika Keberanian: Punggung Kuat, Dada Lembut, Hati Liar
Semua benang pemikiran ini akhirnya dirajut dalam Chapter Seven: Strong Back. Soft Front. Wild Heart., yang berfungsi sebagai semacam credo etis buku ini. Ungkapan ini—yang diambil Brown dari tradisi Buddhis dan aktivisme sosial—merangkum kualitas manusia yang mampu bertahan di padang liar tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Strong back berarti memiliki keteguhan nilai, batas yang jelas, dan keberanian untuk berdiri ketika sendirian. Ini adalah kekuatan struktural dan moral yang mencegah kita runtuh oleh tekanan mayoritas. Soft front merujuk pada kerentanan, empati, dan keterbukaan hati—kesediaan untuk tersentuh, bahkan dilukai, oleh penderitaan orang lain. Sementara wild heart adalah sumber vitalitas: keberanian untuk tetap hidup, kreatif, dan penuh cinta di dunia yang sering kali sinis dan kejam.
Brown menegaskan bahwa ketiganya tidak bisa dipisahkan. Kekuatan tanpa kelembutan berubah menjadi kekerasan; kelembutan tanpa keteguhan menjadi kelelahan moral; dan tanpa hati yang “liar”, hidup kehilangan makna. Bab ini adalah sintesis eksistensial dari seluruh buku—sebuah undangan untuk menjalani keberanian bukan sebagai sikap heroik sesaat, tetapi sebagai cara hidup sehari-hari.
Jika dirangkum sebagai satu alur, keempat bab awal buku ini membentuk perjalanan etis:
bergerak mendekat ke manusia → berbicara jujur tanpa merusak → membangun solidaritas tanpa kepastian → memelihara keberanian yang utuh secara moral dan emosional. Semua gagasan ini berakar pada riset Brené Brown tentang kerentanan, rasa malu, empati, dan kepemimpinan, tetapi melampaui ranah psikologi menuju refleksi sosial dan politik yang mendalam.
Di dunia yang semakin terpolarisasi—baik secara global maupun di Indonesia—bab-bab ini menawarkan bahasa moral alternatif: bukan bahasa kemenangan atau kekalahan, melainkan bahasa keberanian relasional. Brown tidak menjanjikan rekonsiliasi instan atau harmoni palsu. Ia menawarkan sesuatu yang lebih sulit namun lebih jujur: kehidupan yang berani tetap manusia di tengah ketegangan, perbedaan, dan ketidakpastian.
Jika Anda ingin, saya bisa:
- Mengaitkan bagian ini secara langsung dengan politik Indonesia, polarisasi sosial, atau konflik identitas,
- Membandingkannya dengan Hannah Arendt, Paulo Freire, atau tradisi etika Islam,
- Atau menurunkannya menjadi kerangka kepemimpinan, pendidikan kewargaan, atau dialog publik.
Brené Brown menulis Braving the Wilderness bukan sebagai buku motivasi ringan, melainkan sebagai peta batin untuk menavigasi zaman yang retak. Cara baik menjadi manusia di padang liar zaman kita. Dunia yang ia potret—dan yang kita hidupi hari ini—adalah dunia yang tampak semakin terhubung secara teknologis, tetapi semakin terasing secara eksistensial. Kita hidup di tengah banjir informasi, namun kekurangan makna; dikelilingi orang, namun kesepian; berbicara terus-menerus, namun jarang benar-benar mendengar.
Inti argumen Brown sederhana namun mengguncang: krisis terbesar zaman ini bukanlah konflik ideologi semata, melainkan krisis keterhubungan manusia. Ia menyebutnya sebagai hilangnya true belonging—rasa menjadi bagian tanpa harus mengorbankan keutuhan diri. Ketika belonging disamakan dengan keseragaman, loyalitas buta, atau kepatuhan identitas, maka perbedaan segera dibaca sebagai ancaman. Dari sinilah kekerasan simbolik, verbal, hingga fisik menemukan justifikasinya.
“The wilderness” dalam buku ini bukan tempat geografis, melainkan kondisi batin dan sosial: ruang di mana kita tidak lagi dilindungi oleh konsensus, kelompok, atau narasi dominan. Padang liar sebagai kondisi eksistensial. Brown menunjukkan bahwa semakin terpolarisasi dunia—secara politik, agama, ras, kelas—semakin besar godaan untuk bersembunyi dalam identitas sempit demi rasa aman. Namun harga dari “keamanan” itu adalah hilangnya kemanusiaan orang lain, dan pada akhirnya, hilangnya diri kita sendiri.
Brown menolak ilusi bahwa kedamaian bisa dicapai dengan menghindari konflik atau meniadakan perbedaan. Sebaliknya, ia mengajukan keberanian yang lebih sunyi dan lebih berat: keberanian untuk tetap hadir sebagai diri yang utuh di tengah ketegangan. Inilah makna sejati dari braving the wilderness—bukan melarikan diri dari dunia yang keras, melainkan memasuki dunia itu tanpa menyerahkan hati kepada sinisme atau kebencian.
Menghadapi dunia yang penuh kekerasan Ia tidak menawarkan resep teknokratis untuk menghentikan kekerasan global. Yang ditawarkan Brown adalah sesuatu yang lebih mendasar dan lebih sulit: transformasi cara kita memandang “yang lain”. Kekerasan, menurut logika Brown, jarang lahir dari kekosongan emosi; ia lahir dari rasa takut, malu, kehilangan makna, dan kebutuhan untuk merasa unggul atau benar.
Karena itu, respons Brown terhadap kekerasan bukanlah balas kekerasan, melainkan:
- kedekatan melawan dehumanisasi (people are hard to hate close up),
- kejujuran bermartabat melawan kebohongan yang nyaman (speak truth to bullshit, be civil),
- solidaritas rapuh melawan isolasi identitas (hold hands with strangers),
- dan keteguhan nilai yang lembut namun tidak rapuh (strong back, soft front, wild heart).
Dalam dunia yang semakin keras, Brown tidak menganjurkan kita menjadi lebih keras lagi, melainkan lebih berakar—pada nilai, empati, dan keberanian moral.
Ketidakpastian dan Keberanian untuk Berdiri Sendiri
Salah satu pesan paling radikal dalam buku ini adalah bahwa true belonging sering kali menuntut keberanian untuk berdiri sendirian. Ini adalah kritik langsung terhadap budaya mayoritas, algoritma media sosial, dan politik populisme yang memberi ilusi belonging melalui likes, slogan, dan musuh bersama. Brown mengingatkan: sejarah selalu digerakkan oleh mereka yang bersedia kehilangan penerimaan demi mempertahankan kebenaran. Dalam konteks ini, keberanian bukanlah tindakan heroik besar, melainkan kesetiaan kecil yang konsisten pada nilai kemanusiaan, bahkan ketika itu membuat kita tidak populer, disalahpahami, atau diserang.
Apakah Brown optimistis? Ya—tetapi bukan optimisme naif. Harapan dalam Braving the Wilderness adalah harapan yang dewasa, yang tahu bahwa dunia tidak akan segera menjadi lebih ramah, dan bahwa luka tidak akan cepat sembuh. Namun harapan ini berakar pada keyakinan bahwa manusia tetap mampu belajar, berelasi, dan memilih keberanian daripada kebencian.
Prospek ke depan, menurut sintesis buku ini, tidak terletak pada sistem yang sempurna, melainkan pada:
- komunitas-komunitas kecil yang berani jujur dan inklusif,
- pemimpin yang memadukan keteguhan moral dengan kerentanan,
- warga yang menolak propaganda kebencian meski lelah dan takut,
- serta individu yang bersedia memelihara hati di dunia yang mendorong penutupan hati.
Catatan Akhir: Etika Bertahan Hidup yang Manusiawi
Pada akhirnya, Braving the Wilderness adalah buku tentang bagaimana bertahan hidup tanpa kehilangan jiwa. Di tengah kekerasan, ketidakpastian, dan keretakan global—termasuk yang kita saksikan hari ini di berbagai belahan dunia—Brené Brown yang ceramah TED-nya—“The Power of Vulnerability”—termasuk dalam lima ceramah TED yang paling banyak ditonton di dunia, dengan lebih dari tiga puluh juta penayangan ini, mengajak kita memilih jalan yang lebih sunyi namun lebih manusiawi: menjadi cukup berani untuk tetap terbuka, cukup kuat untuk bertahan, dan cukup liar untuk terus mencintai dunia yang belum selesai. Keberanian semacam inilah, menurut Brown, yang tidak hanya menyelamatkan individu, tetapi juga menjaga kemungkinan masa depan yang lebih adil, lebih lembut, dan lebih bermakna.
Bersamaan dengan Brown kita juga bisa membuka lembaran gagasan dari Arendt, Freire, dan Levinas tentang menjadi manusia bersama. Berani hidup di padang liar. Brené Brown menamai kondisi zaman kita sebagai the wilderness: ruang tanpa kepastian, tanpa perlindungan identitas kolektif, tempat manusia dipaksa memilih antara keberanian menjadi diri sendiri atau kenya-manan melebur dalam kebencian bersama. Di titik inilah pikirannya beririsan secara mendalam dengan Hannah Arendt, Paulo Freire, dan Emmanuel Levinas—tiga pemikir yang, dengan bahasa berbeda, mengajukan satu pertanyaan yang sama: bagaimana mungkin kita tetap manusia ketika dunia mendorong kita untuk menutup diri dari sesama?
Hannah Arendt, terutama dalam The Origins of Totalitarianism, membedakan secara tajam antara kesendirian (solitude) dan kesepian (loneliness). Kesendirian adalah kondisi reflektif yang sehat—kemampuan untuk “berdua dengan diri sendiri,” berpikir, menimbang, dan mempertahankan penilaian moral. Kesepian, sebaliknya, adalah kondisi terputus dari dunia dan dari makna bersama; ia adalah tanah subur bagi ideologi ekstrem, propaganda, dan kekerasan.
Brené Brown, meski tidak menggunakan istilah Arendt, berbicara dalam register yang sama. True belonging menuntut keberanian untuk berdiri sendiri tanpa terputus dari kemanusiaan orang lain. Ini adalah bentuk kesendirian Arendtian: seseorang tidak larut dalam massa, tetapi juga tidak membenci dunia. Brown menulis bahwa sering kali kita harus memilih antara “menjadi bagian” atau “menjadi diri sendiri”—dan true belonging menolak dikotomi palsu itu.
Ketika masyarakat gagal membedakan kesendirian dari kesepian, orang-orang yang berdiri sendiri secara moral sering dicap sebagai pengkhianat, sementara mereka yang mengikuti arus kebencian diberi rasa “kebersamaan.” Inilah tragedi yang diperingatkan Arendt dan disorot Brown: manusia lebih takut sendirian daripada kehilangan nurani.
Namun juga kita bisa mendengar dialog Freire dan Brown. Jika Arendt membantu kita memahami kondisi batin, Paulo Freire memberi kita metode etis untuk bertindak bersama. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire menolak komunikasi vertikal yang menindas—yang berbicara tentang orang lain tanpa berbicara dengan mereka. Ia mengajukan dialog sebagai praksis pembebasan: perjumpaan setara yang mengakui kemanusiaan penuh semua pihak.
Brown menyuarakan semangat Freire ketika ia menegaskan bahwa kedekatan melawan kebencian. “People are hard to hate close up,” tulisnya. Ini bukan sekadar ajakan empatik, tetapi sebuah posisi politis dan etis: bahwa dialog bukan basa-basi toleransi, melainkan risiko untuk diubah oleh kehadiran orang lain.
Namun baik Brown maupun Freire menolak dialog yang palsu. Freire memperingatkan bahwa dialog tanpa keadilan hanyalah manipulasi, sementara Brown menolak “kesopanan” yang membungkam kebenaran. Di sini keduanya bertemu: dialog sejati menuntut keberanian untuk berkata jujur tanpa mendehumanisasi, dan kerendahan hati untuk mendengar tanpa kehilangan prinsip.
Percakapan yang lain juga bisa kita dengar antara Levinas dan Brown. Jika Arendt berbicara tentang berpikir, dan Freire tentang berbicara, maka Emmanuel Levinas membawa kita pada lapisan yang lebih radikal: tanggung jawab sebelum berpikir dan berbicara. Dalam filsafat Levinas, wajah Yang Lain mendahului semua sistem, identitas, dan ideologi. Kita bertanggung jawab bukan karena kesepakatan sosial, melainkan karena kehadiran Yang Lain menuntut kita untuk tidak membunuh—secara literal maupun simbolik.
Brown, dalam bahasanya yang lebih populer dan psikologis, menyentuh intuisi yang sama. Ia menolak dehumanisasi dalam bentuk apa pun: label, stereotip, atau narasi “kami vs mereka.” Ketika ia mendorong kita untuk “hold hands with strangers,” itu bukan romantisme, melainkan pengakuan Levinasian bahwa kemanusiaan tidak lahir dari kesamaan, tetapi dari pengakuan akan perbedaan yang tak bisa kita kuasai.
Levinas mengingatkan bahwa tanggung jawab itu asimetris: kita bertanggung jawab bahkan ketika Yang Lain tidak membalas. Inilah bentuk keberanian terdalam yang juga disiratkan Brown—keberanian untuk tetap berbelas kasih di dunia yang tidak menjamin keselamatan moral.
Inilah sebuah etika untuk dunia yang retak. Jika disatukan, keempat pemikir ini membentuk semacam etika bertahan hidup yang manusiawi:
- Dari Arendt, kita belajar pentingnya kesendirian sebagai benteng melawan banalnya kejahatan.
- Dari Freire, kita belajar bahwa dialog adalah kerja kolektif yang membebaskan, bukan sekadar sopan santun.
- Dari Levinas, kita diingatkan bahwa tanggung jawab pada Yang Lain adalah dasar segala etika.
- Dari Brené Brown, kita diajak menghidupi semua itu dalam bahasa sehari-hari: dengan keberanian, kerentanan, dan keteguhan hati.
Dalam dunia yang penuh kekerasan simbolik, polarisasi, dan ketakutan—baik di tingkat global maupun dalam konteks Indonesia—pesan kolektif mereka jelas: masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras, tetapi oleh siapa yang paling mampu mempertahankan kemanusiaan di tengah badai.
Maka karena itu kita tahu bahwa inilah prospek masa depan: Keberanian sebagai Modal Sosial. Braving the Wilderness menawarkan visi masa depan yang tidak utopis, tetapi berakar pada praktik sehari-hari: mendengarkan dengan empati, berani berbeda tanpa merendahkan, dan membangun komunitas yang tidak menuntut keseragaman. Di tengah krisis global—perang, perubahan iklim, ketimpangan—buku ini mengingatkan bahwa ketahanan sosial tidak hanya ditentukan oleh institusi, tetapi oleh keberanian moral individu dan kolektif.
Brown tidak menjanjikan kenyamanan. Ia justru menegaskan bahwa masa depan yang lebih adil dan manusiawi menuntut keberanian untuk merasa tidak nyaman, untuk berjalan di padang liar sambil tetap membuka hati.
Pada akhirnya, Braving the Wilderness adalah meditasi tentang apa artinya menjadi manusia di dunia yang terfragmentasi. Ia mengajarkan bahwa rasa memiliki sejati tidak ditemukan dengan menutup diri atau menyeragamkan yang lain, melainkan dengan keberanian untuk hadir secara utuh, rentan, dan bertanggung jawab secara moral. Dalam dunia yang semakin keras, buku ini adalah pengingat lembut namun tegas: kadang, cara paling radikal untuk tetap bersama adalah berani berdiri sendiri terlebih dahulu.
“You are only free when you realize you belong no place—you belong every place—no place at all. The price is high. The reward is great”: Moyers, “Conversation with Maya Angelou,” menutup halaman terakhir Braving the Wilderness.
Cirebon, 8 Januari 2026
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Brown, B. (2017). Braving the wilderness: The quest for true belonging and the courage to stand alone. New York: Random House.
Arendt, H. (1963). Eichmann in Jerusalem: A report on the banality of evil. New York: Viking Press.
Sen, A. (2006). Identity and violence: The illusion of destiny. New York: W.W. Norton.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed. New York: Continuum.
Rumi, J. (trans. Coleman Barks). The soul of Rumi. HarperOne.






