Logo-Remark-Asia-WhiteLogo – Re-Mark AsiaLogo-Remark-Asia-WhiteLogo-Remark-Asia-White
  • Home
  • Who we are
    • Brief history
    • Career with us
    • Clients
    • Legalities
    • Networking and partnership
    • Purpose and vision
    • Management
    • Our experience
    • Our Team
  • What we offer
    • Consultancy Services
      • Carbon Stock Assessment
      • Free Prior and Informed Consent
      • High Carbon Stock
      • High Conservation Value
      • Land Use Change Analysis
      • Participatory Mapping
      • Social Impact Assessment
    • Sustainability Audit
    • HCVN ALS Report
  • AiKnow
    • About AiKnow
    • Our Trainers
    • Courses
      • Top Courses
        • HCV ALS Lead Assessor Training
        • High Carbon Stock Training
        • Social Impact Assessment Training (SIAT)
      • HCV Concept Learning
      • HCV + HCS Integrated Lead Assessor Training Course
      • FPIC Concept Learning
      • Facilitator Training
      • In-house Training
    • Training & Activity
      • Training Calendar
      • Training Activity
      • Fieldtrip Activity
      • In-House Training
    • Quarterly Discussion
    • Program Mitra-AiKnow
      • Tokopedia
        • Prakerja
          • Sertifikat
    • Register
    • Contact Us
  • Knowledge
    • Juru Buku
    • Rubarubu
    • Bincang Buku
    • Halaman DRM
    • Membumi Lestari
    • Sustainability 17A
  • Media & news
    • News
    • Galeri
    • Downloads
✕

Rubarubu #13 -Bagaimana Kita Membaca Kini

  • Home
  • Media & news
  • News
  • Rubarubu
  • Rubarubu #13 -Bagaimana Kita Membaca Kini
Published by remarker at Friday November 21st, 2025
Categories
  • Rubarubu
  • Ruang Baca
  • Ruang Buku
Tags
  • remark asia
  • remarkasia
  • Ruang Baca
  • Ruang Buku
  • Rubarubu

#13 Rubarubu i

Bagaimana Kita Membaca Kini

Di sebuah sudut perpustakaan kampus yang sunyi, seorang profesor tua memperhatikan mahasiswinya yang terlihat frustrasi. “Saya sudah membaca artikel ini lima kali, tapi tetap tidak paham intinya,” keluh sang mahasiswi sambil menatap layar laptopnya yang penuh tab terbuka. Profesor itu dengan lembut menutup laptopnya, lalu mengeluarkan naskah cetak yang sama dari tasnya. “Coba baca ini,” katanya dengan senyum penuh makna. Saat jari-jari mahasiswi itu menyentuh kertas, sesuatu yang ajaib terjadi—dunia digital yang hiruk-pikuk tiba-tiba meredup, digantikan oleh ruang kontemplasi di mana setiap kata menemukan resonansinya. Dalam keheningan yang tercipta, ia bukan lagi sekadar memindai teks, tetapi benar-benar berdialog dengan gagasan penulisnya. Pengalaman sederhana inilah yang menjadi jantung dari eksplorasi Naomi S. Baron dalam “How We Read Now“—sebuah pengingat bahwa di era yang menyama-kan kecepatan dengan kecerdasan, kadang-kadang kebijaksanaan justru lahir dari keberanian untuk memperlambat waktu dan memberi ruang bagi kedalaman.

Naomi S. Baron barangkali mencermati gelagat perubahan cara seseorang membaca di era digital ini.  Karena itu buku “How We Read Now” yang ditulisnya merupakan eksplorasi mendalam tentang transformasi praktik membaca di abad digital. Sebagai ahli linguistik terkemuka, Baron menyajikan analisis komprehensif berdasarkan penelitian empiris terhadap kebiasaan membaca generasi modern. “Platform fisik tempat kita membaca bukanlah wadah yang netral,” tegas Baron. “Mereka membentuk bagaimana kita memproses kata-kata, berinteraksi dengan teks, dan akhirnya, apa yang kita ambil darinya.” Pemikir media Marshall McLuhan pernah menyatakan, “Media adalah pesannya,” sebuah presepsi yang menemukan konfirmasi ilmiah dalam temuan Baron tentang bagaimana medium membaca membentuk proses kognitif dan pemahaman kita.  Baron mengamati bahwa ada perubahan arsitektur kognitif dalam era digital.

“Di lautan digital yang kita arungi setiap hari, bagaimana kita memilih untuk membaca bukanlah hal sepele—itu adalah keputusan yang menentukan seberapa dalam kita memahami dan mengingat.”

Buku Naomi S. Baron, “How We Read Now,” adalah sebuah panduan yang sangat relevan dan berbasis penelitian untuk navigasi di dunia membaca yang semakin kompleks. Baron tidak serta merta menolak teknologi, tetapi ia mendorong kita untuk menjadi pembaca yang strategis. Argumen intinya adalah bahwa media membentuk cara kita membaca, dan setiap media—cetak, layar, dan audio—memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Tugas kita adalah memilih media yang tepat untuk tujuan membaca yang tepat.

Baron, seorang ahli linguistik dan pendidikan, memaparkan banyak penelitian (termasuk penelitiannya sendiri terhadap mahasiswa di seluruh dunia) yang menunjukkan bahwa:  Membaca di layar cenderung mendorong pola membaca yang lebih dangkal, terburu-buru, dan mudah teralihkan. Kita cenderung “skimming” daripada mendalami.  Membaca di cetak umumnya lebih unggul untuk pemahaman mendalam, retensi jangka panjang, dan koneksi emosional dengan teks.  Membaca audio (audiobooks) sangat bagus untuk immersi dan aksesibilitas, tetapi rentan terhadap gangguan dan memberi kita kontrol yang lebih sedikit atas teks dibandingkan membaca visual.

Buku ini bukan nostalgia untuk buku cetak, melainkan seruan untuk “kesadaran media”—memahami bagaimana alat kita mempengaruhi pikiran kita, sehingga kita dapat mengambil kendali.


Menurut Baron membaca pada medium versi cetak tetap tak terkalahkan. Melalui studi komparatif yang cermat, Baron mengungkap keunggulan signifikan membaca cetak untuk pemahaman mendalam dan retensi jangka panjang. Buku fisik menyediakan “landmark kognitif” yang kaya—sensasi fisik progres pembacaan, letak spasial informasi dalam halaman, dan jejak memori taktil yang membantu konsolidasi pengetahuan. “Buku fisik memberikan landmark yang membantu kita secara kognitif untuk memetakan perjalanan kita melalui sebuah teks,”paparnya. Neurosains Maryanne Wolf dalam “Reader, Come Home” mengonfirmasi, “Otak yang membaca dapat mengembangkan sirkuit baru untuk memahami dengan mendalam,” menekaskan plastisitas neural yang merespons berbeda terhadap medium baca yang berbeda.

Buku fisik memberikan landmark yang kaya—bagian mana dari cerita yang sudah kita baca, seberapa banyak yang tersisa. Landmark ini membantu kita secara kognitif untuk memetakan perjalanan kita melalui sebuah teks, sesuatu yang hilang dalam guliran layar yang tanpa ciri.”
Baron menjelaskan mengapa kita lebih mudah “tersesat” dalam teks digital. Buku fisik memberikan rasa “tempat” yang membantu memori.


Memang ada sejumlah tantangan membaca digital dalam dunia yang disebut sebagai  “ekonomi perhatian.”  Baron mendedahkan bagaimana antarmuka digital mendorong pola membaca yang terfragmentasi—skimming, scanning, dan perilaku membaca terburu-buru yang mengorbankan kedalaman pemahaman. Setiap notifikasi, hyperlink, dan desain infinite scroll menciptakan ekologi gangguan yang mengikis kapasitas perhatian berkelanjutan. “Membaca yang mendalam membutuhkan perhatian yang berkelanjutan,” tulis Baron. “Dan perhatian adalah sumber daya yang semakin langka.” Filsuf Jerman Josef Pieper dalam “Leisure: The Basis of Culture” memperingatkan, “Ketenangan adalah kondisi preliminer untuk menerima realitas,” sebuah kondisi yang semakin sulit dicapai dalam budaya membaca digital yang hiperstimulatif.

Buku ini memberikan analisis berimbang tentang kebangkitan audiobook sebagai medium membaca alternatif. Tetntu saja membaca audio ada potensi positif meski juga terdapat batasan. Baron mengakui nilai immersif dan aksesibilitas membaca audio, khususnya dalam konteks mobilitas modern, namun juga menunjukkan keterbatasannya dalam hal kontrol kognitif dan kedalaman pemrosesan. “Audio books bagus untuk cerita, tetapi memberi kita kontrol yang lebih sedikit atas teks,” jelasnya. Dalam tradisi Islam, konsep talaqqi—pembelajaran melalui transmisi lisan langsung—menekankan dimensi sosial dan spiritual mendengar, namun tetap mensyaratkan kehadiran penuh perhatian yang menjadi tantangan dalam mendengarkan audio di ruang publik yang bising.

Daripada berpikir dikotomis, Baron mengajukan pendekatan strategis dalam memanfaatkan berbagai medium membaca sesuai dengan tujuan dan konteks. Buku ini berfungsi sebagai panduan untuk membuat pilihan sadar: kapan memilih kedalaman cetak, kapan mengoptimalkan efisiensi digital, dan kapan memanfaatkan immersi audio. “Masa depan membaca adalah tentang membuat pilihan strategis,” sarannya. Kita perlu strategi membaca multimodal yang cerdas.  Cendekiawan Muslim klasik Al-Zarnuji dalam “Ta’lim al-Muta’allim” menekankan, “Salah satu kewajiban dalam menuntut ilmu adalah bersungguh-sungguh, kontinu, dan bersabar,” prinsip yang dapat diadaptasi dalam pendekatan multimodal terhadap teks yang berbeda.

Baron menyoroti implikasi mendesak bagi dunia pendidikan, di mana transisi ke pembelajaran digital sering kali mengabaikan dampak kognitif dari medium baca. Buku ini menyerukan integrasi melek media dalam kurikulum, mengajarkan siswa untuk menjadi pembaca yang sadar dan strategis di berbagai platform. “Kita perlu mengajarkan tidak hanya apa yang harus dibaca, tetapi bagaimana membaca di berbagai medium,” tegasnya. Ali bin Abi Thalib berkata, “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjagamu, sedangkan kau yang menjaga harta,” mengingatkan bahwa metode membaca yang tepat adalah penjaga ilmu yang esensial.

“Platform fisik tempat kita membaca bukanlah wadah yang netral. Mereka membentuk bagaimana kita memproses kata-kata, berinteraksi dengan teks, dan akhirnya, apa yang kita ambil darinya.”
Kutipan ini adalah inti dari tesis Baron. Media bukan sekadar saluran, ia aktif membentuk pengalaman kognitif kita.


Maryanne Wolf (Ahli Neurosains):
”Kita tidak dilahirkan dengan otak yang membaca. Kita harus menciptakannya sendiri.” … “Otak yang membaca dapat mengembangkan sirkuit baru untuk memahami dengan mendalam; atau, ia dapat mengembangkan sirkuit yang lebih pendek, lebih cepat, yang lebih cocok untuk pemindaian informasi yang cepat.”
(Dari “Reader, Come Home”). Kutipan ini memperkuat temuan Baron dengan ilmu saraf, menunjukkan bahwa cara kita membaca benar-benar mengubah struktur otak kita.


“Media tidak hanya hanyalah saluran informasi. Mereka memasok bahan untuk berpikir, tetapi mereka juga membentuk proses berpikir,” tulis Nicholas Carr (Penulis “The Shallows”).
Carr, seperti Baron, memperingatkan tentang bagaimana internet mendorong kita ke arah pemikiran yang lebih terpecah-pecah dan kurang mendalam.


Pada tingkat yang lebih dalam, Baron membingkai membaca sebagai praktik perhatian dan kontemplasi yang terancam oleh ekonomi perhatian digital. Buku ini mengajak pembaca untuk mereklamasi ruang batin yang tenang, mengubah membaca dari konsumsi informasi menjadi pertemuan transformatif dengan teks. “Membaca mendalam adalah bentuk perlawanan terhadap budaya gangguan,” deklarasinya. Membaca sebagai praktik perhatian dan kontemplasi.  Sufi besar Al-Ghazali dalam “Ihya Ulumuddin” menulis, “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan,” menekankan integrasi antara pemahaman mendalam melalui membaca dengan penerapan dalam tindakan.

Catatan Akhir

Sebagai penutup, Baron menawarkan visi optimis untuk masa depan membaca yang memadukan kebijaksanaan tradisi dengan inovasi teknologi. Daripada penolakan terhadap kemajuan, buku ini mengajak kita untuk membentuk teknologi yang melayani kedalaman kognisi manusia, bukan sebaliknya. “Tugas kita adalah memastikan teknologi melayani pikiran kita,” simpulnya, sebuah visi untuk masa depan membaca yang manusiawi.

“Masa depan membaca bukanlah tentang memilih satu media atas yang lain. Ini tentang membuat pilihan strategis: kapan kita membutuhkan kedalaman cetak, kapan kecepatan layar sudah cukup, dan kapan imersi audio adalah pilihan terbaik.”
Ini adalah pesan optimis dan praktis dari buku ini. Kita tidak perlu menolak kemajuan, tapi kita harus menjadi konsumen yang cerdas dan sadar.
 “Membaca yang mendalam membutuhkan perhatian yang berkelanjutan. Dan perhatian yang berkelanjutan adalah sumber daya yang semakin langka di dunia yang penuh dengan notifikasi dan hyperlink.”
Baron mengidentifikasi inti masalahnya: pertarungan untuk memperebutkan perhatian kita, yang merupakan prasyarat untuk pemahaman yang mendalam.



Penyair T.S. Eliot dalam “Four Quartets” bertanya, “Di mana kebijaksanaan yang hilang dalam pengetahuan? Di mana pengetahuan yang hilang dalam informasi?” pertanyaan yang menemukan relevansinya dalam pencarian Baron untuk membaca yang mengubah informasi menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Syekh Ali Jum’ah (Mufti Agung Mesir sebelumnya):
”Bacalah dengan hati yang hadir, bukan dengan hati yang lalai.”
Nasihat spiritual ini sangat paralel dengan seruan Baron untuk “perhatian yang berkelanjutan.” Membaca dengan “hati yang hadir” adalah esensi dari membaca mendalam, terlepas dari medianya.


“How We Read Now” mengajak kita untuk berpindah dari kebiasaan membaca yang pasif menjadi pembaca yang aktif dan strategis. Di era di mana gempuran informasi sering kali membuat kita kewalahan, buku ini memberikan peta.

Masa depan membaca bukanlah tentang pertempuran antara “cetak vs. digital,” melainkan tentang kearifan untuk mengetahui kapan menggunakan masing-masing. Seperti yang diingatkan oleh para pemikir dari berbagai tradisi, tujuan membaca yang sejati adalah pemahaman, kebijaksanaan, dan pencerahan. Untuk mencapai itu, kita harus, seperti kata Baron, memilih dengan sadar bagaimana kita membaca, memastikan bahwa teknologi melayani pikiran kita, bukan sebaliknya.

Bogor,  4 November 2025

Dwi Rahmad Muhtaman


Referensi:

Baron, N. S. (2021). How we read now: Strategic choices for print, screen, and audio. Oxford University Press.

 i Ruang Baca Ruang Buku (Rubarubu) adalah sebuah prakarsa yang mempunyai misi untuk menyebarkan ilmu dan pengetahuan lewat bacaan dan buku.  Merangsang para pembaca Rubarubu untuk membaca lebih dalam pada buku asal yang diringkas, mendorong percakapan untuk membincangkan buku-buku yang telah diringkas dan juga meningkatkan gairah untuk menulis pengalaman baca dan berbagi dengan khalayak.  Prakarsa Rubarubu adalah bagian dari prakarsa ReADD (Remark Asia Dialogue and Documentation), sebuah program untuk menjembatani praktik dan gagasan — agar pengalaman lapangan dapat berubah menjadi narasi yang inspiratif, dokumentasi yang bermakna, dan percakapan yang menggerakkan.

ReADD mendukung penulisan, penerbitan, dan dialog pengetahuan agar Remark Asia memperluas perannya bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai rumah gagasan tentang masa depan berkelanjutan.

ReADD (Remark Asia Dialogue and Documentation) lahir dari kesadaran bahwa keberlanjutan tidak hanya dibangun melalui proyek dan kebijakan, tetapi juga melalui gagasan, refleksi, dan narasi yang menumbuhkan kesadaran kolektif. Buku, diskusi, dan dokumentasi menjadi medium untuk menyemai dan menyerbuk silang pengetahuan, membangun imajinasi masa depan, serta memperkuat hubungan antara manusia, budaya, dan bumi.

Dengan kemajuan teknologi kita juga bisa memanfaatkan kecanggihannya untuk meringkas buku-buku yang ingin kita baca singkat.  Rubarubu memanfaatkan teknologi intelegensia buatan untuk meringkas dan mengupas buku-buku dan dijadikan bacaan ringkas.  Penyuntingan tetap dilakukan dengan intelegensia asli untuk memastikan akurasinya dan kenyamanan membaca.  Karena itu tetap ada disclaimer bahwa setiap artikel Rubarubu tidak menjamin 100% akurat berasal dari seluruhnya buku yang dikupas.  Penulisan artikel dilakukan dengan sejumlah improvisasi, olahan dari sumber lain dan pandangan/interpretasi pribadi penulis.  Pembaca disarankan tetap membaca sumber aslinya untuk mendapatkan pengalaman dan jaminan akurasi langsung.  

Share
0

Related posts

Thursday December 4th, 2025

Rubarubu #32 – Innovation and Its Enemies: Bagaimana Mengelola


Read more
Thursday December 4th, 2025

Rubarubu #31 – Instagram Rules: Membangun IG dengan Dampak


Read more
Tuesday December 2nd, 2025

Rubarubu #30 – Think Bigger: Rumuskan Masalah dengan Tepat, Solusi Didapat


Read more
Tuesday December 2nd, 2025

Rubarubu #29 -No-Excuses Innovation: Inovasi untuk Si Kecil dan Menengah


Read more
© Copyright 2023 - Re-Mark Asia | All Rights Reserved
      Next November 21, 2025
      Rubarubu #14 -Colonialism: A Moral Reckoning

      Rubarubu #14 Colonialism: A Moral Reckoning Sebuah Kisah dari Nairobi dan London Pada awal 2020, sebuah surat kabar Kenya memuat…

      Previous November 19, 2025
      Rubarubu #12 -Menuju Pembebasan Digital

      #12 Rubarubu i Menuju Pembebasan Digital Bayangkan sebuah kota digital yang awalnya dibangun sebagai taman bermain terbuka untuk semua orang.…

      Random November 29, 2025
      Rubarubu #26 -The Knowing-Doing Gap: Mengubah Pengetahuan Menjadi Tindakan

      Rubarubu #26 The Knowing-Doing Gap:  Mengubah Pengetahuan Menjadi Tindakan Paradoks Perusahaan yang Terlalu Pintar untuk Bertindak Bayangkan sebuah perusahaan teknologi…