Rubarubu #92
It’s All About the Bike: Perjalanan
Mencari Kebahagiaan di Atas Dua Roda
“I want the best bike I can afford, and I want to grow old with it… I need a talismanic machine that somehow reflects my cycling history and carries my cycling aspirations. I want craftsmanship, not technology… I want a bike that will never be last year’s model.” — kutipan langsung aspirasi penulis tentang sepeda impiannya. (VPM). Dengan pengakuan sederhana itulah, Robert Penn, seorang penulis, jurnalis, musafir, dan peminat sepeda berat, memulai narasi penuh gairah tentang sepeda sebagai lebih dari sekadar alat transportasi: ia adalah medium pengalaman, sejarah, budaya, dan pencarian kebahagiaan batin. Dalam It’s All About the Bike: The Pursuit of Happiness on Two Wheels (2011), Penn menggabungkan kisah pribadi, sejarah teknologi, wawancara dengan para pembuat sepeda legendaris, serta refleksi filosofis tentang apa artinya “mengayuh hidup kita sendiri”. (Bloomsbury Publishing)
Penn telah mengayuh sepeda hampir setiap hari sepanjang hidup dewasanya—untuk bekerja, berpetualang, mencari udara dan sinar matahari, berbelanja, bahkan untuk tetap waras di dunia yang cepat berubah. Ketika ia memutuskan untuk membangun sepeda “impian” yang akan ia gunakan seumur hidupnya, ia memilih untuk menarik semua kemungkinan: komponen terbaik, craftsmanship terbaik, dan sejarah personal yang terkandung di dalamnya. (Bloomsbury Publishing). Buku ini layaknya sebuah catatan perjalanan seorang pengayuh: dari dunia ke rangka impian.
Perjalanan ini membawanya melewati Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat, dari bengkel artisan frame builder di Stoke-on-Trent hingga pembuat velg di California, dari roda-roda klasik Milan hingga komunitas sepeda di Portland. Setiap bagian sepeda—frame, roda, gear, sadel—memberinya titik masuk ke kisah sejarah panjang teknologi bersepeda dan pengalaman manusia yang mengikutinya. (Kirkus Reviews)
Buku ini bukan monograf teknis; ia adalah narasi jamak yang memadukan sejarah bagaimana sepeda berevolusi sejak penemuan awalnya pada 1817 dengan model draisine, hingga munculnya “safety bicycle” modern di akhir abad ke-19 yang menempatkan roda kecil dan bingkai berlian sebagai format standar yang masih dipakai sampai sekarang. (Kirkus Reviews)
Penn menguraikan pula peran sepeda dalam perubahan sosial besar, misalnya dalam membuka mobilitas dan bahkan kontribusinya terhadap emansipasi perempuan pada era pra-automotif, ketika roda dua menjadi salah satu bentuk pertama olahraga dan kebebasan bergerak yang diterima secara sosial bagi perempuan. (KPBS Public Media)
Dalam banyak bab, komponen sepeda menjadi titik lompatan ke cerita budaya:
— Bagaimana roda dan bearing lahir dari eksperimen teknik;
— Bagaimana desain frame berubah dari sekadar utilitarian menjadi ekspresi estetika dan filosofi pemiliknya;
— Bagaimana Tour de France, mountain bike, dan revolusi urban commuting membentuk cara dunia berinteraksi dengan sepeda. (Kirkus Reviews)
Judul buku ini menunjukkan tesis sentralnya: sepeda adalah tentang kebahagiaan—“the pursuit of happiness on two wheels”. Sepeda sebagai medium kebahagiaan dan makna. Ini bukan sekadar narasi nostalgia atau budaya penggemar; Penn menunjukkan bahwa bersepeda menyediakan ruang batin untuk berpikir, tersambung dengan dunia fisik, dan mengalami kebebasan yang tak tertandingi oleh kendaraan bermotor manapun. (Bloomsbury Publishing)
Sepeda, bagi Penn dan banyak pembaca, bukan sekadar alat: ia adalah talisman, mitra, dan kendaraan spiritual yang memungkinkan pencerahan ritmis—flow yang sering kali dideskripsikan dalam literatur psikologi sebagai keadaan optimal pikiran ketika tubuh dan lingkungan bergerak dalam harmoni. Dalam banyak pengalaman Jalanan dan perjalanan panjangnya, Penn merasakan bagaimana dua roda menjadi pangkalan kebahagiaan sederhana: napas, kecepatan, rutinitas tubuh, dan hubungan langsung dengan ruang geografis yang dilalui. (PezCycling News)
Bagian paling memikat dari buku ini adalah perjumpaan Penn dengan para artisan—frame builders di Inggris yang masih menjaga tradisi pembuatan sepeda dengan tangan mereka sendiri. Dalam bengkel-bengkel kecil itu, Penn melihat filosofi kerja yang menggabungkan keterampilan mekanik, intuisi, dan estetika: sepeda bukan sekadar objek produksi massal, tetapi hasil perpaduan sejarah, keahlian, dan visi personal. (Barnes & Noble).
Pertemuan dengan tokoh-tokoh seperti Brian Rourke dan para pembuat roda legenda di California memberi perspektif bahwa pencarian sebuah “sepeda sempurna” bukan usaha konsumeristis semata, melainkan dialog antara tubuh dan mesin, antara tradisi dan inovasi. Perbicnangan kisah para pencipta dan perajin roda yang dijumpai membuat buku ini makin asyik dibaca.
Sepeda selalu mendapatkan pengaruh sosial dan lingkungan dan dari situ kisah sepeda terbentuk. Walau inti buku ini adalah pencarian personal Penn, ia juga tidak mengabaikan dimensi sosial dan ekologis bersepeda. Sepeda mempengaruhi tata kota, menantang dominasi otomotif dalam ruang publik, serta menjadi simbol mobilitas ramah lingkungan—isu yang semakin relevan di masa perubahan iklim dan urbanisasi intensif. (Bloomsbury Publishing)
Penekanan Penn pada craftsmanship sebagai alternatif terhadap obsolescence culture dan produksi massal memiliki resonansi etis: memilih sepeda yang dirancang untuk tahan lama adalah bentuk komitmen terhadap lingkungan dan kualitas hidup, bukan konsumsi cepat. Ini mencerminkan pandangan lebih luas bahwa kebahagiaan bukan ditemukan dalam kecepatan atau akumulasi, tetapi dalam ritme sederhana berkayuh yang berkesinambungan.
La Petite Reine
Robert Penn membuka bagian ini dengan menyebut sepeda sebagai la petite reine—“ratu kecil”—sebutan klasik Prancis yang lahir pada akhir abad ke-19, ketika sepeda bukan hanya alat mobilitas, tetapi simbol kemajuan, kebebasan, dan kecanggihan mekanik. Istilah ini segera memberi nada: sepeda akan diperlakukan bukan sebagai mesin netral, melainkan sebagai entitas yang memiliki martabat, sejarah, dan kepribadian.
Di sini Penn mulai bergerak dari narasi perjalanan ke inti ontologis sepeda itu sendiri. Jika sepeda adalah tubuh, maka rangka adalah jiwanya; jika sepeda adalah pengalaman, maka sistem kemudi adalah cara ia berkomunikasi dengan dunia. Dua bab ini adalah fondasi filosofis buku: sebelum roda berputar, kita harus memahami apa yang menopang dan mengarahkan gerak itu.
1. Diamond Soul: The Frame
Bagi Penn, rangka sepeda bukan sekadar struktur penyangga, melainkan “the soul of the bike”. Ia menyebut bentuk diamond frame—dua segitiga yang saling mengunci—sebagai salah satu desain teknik paling sempurna yang pernah diciptakan manusia: sederhana, efisien, hampir tidak berubah selama lebih dari satu abad.
Ia mengingatkan bahwa bentuk ini bukan kebetulan estetis, melainkan hasil evolusi panjang sejak sepeda tinggi (penny-farthing) yang berbahaya hingga safety bicycle pada 1880-an. Dengan dua segitiga, gaya tekan dan tarikan dari tubuh pengendara disebar secara optimal. Setiap kayuhan, setiap guncangan jalan, dialirkan melalui geometri yang secara mekanik “jujur”.
Penn mengunjungi pembuat rangka tradisional di Inggris—di Stoke-on-Trent dan Derbyshire—dan menggambarkan bagaimana tabung baja dipotong, disambung dengan lug, lalu dipatri dengan tangan. Di bengkel-bengkel itu, ia menemukan bahwa pembuatan rangka adalah dialog antara angka dan intuisi. Sudut head tube diukur dengan presisi sepersekian derajat, tetapi keputusan akhir sering diambil dengan pengalaman puluhan tahun membaca tubuh manusia.
Ia menekankan keunggulan baja—bukan karena ia paling ringan, tetapi karena ia paling “manusiawi”. Baja lentur secara elastis; ia menyerap getaran mikro yang tak kasatmata tetapi menentukan kenyamanan jarak jauh. Penn mengutip para frame builder yang mengatakan bahwa baja “memaafkan kesalahan”, berbeda dengan karbon yang kaku dan tak memberi ruang dialog.
Di sini muncul kritik implisit terhadap budaya teknologi modern. Penn tidak menolak karbon atau aluminium, tetapi mempertanyakan obsesi terhadap bobot minimum dan kecepatan maksimum. Ia menyebut bahwa perbedaan beberapa ratus gram tidak signifikan dibanding perbedaan hubungan emosional antara pengendara dan sepedanya. Sebuah rangka yang dibuat khusus, dengan ukuran dan karakter pemiliknya, akan “menua bersama tubuh”—itulah makna sepeda seumur hidup yang ia cari.
Rangka, dalam pembacaan Penn, adalah arsip biografis. Goresan kecil, karat halus, dan bekas perjalanan menjadi bagian dari identitas. Ia bukan objek yang diganti tiap musim, melainkan saksi hidup—seperti rumah atau alat musik.
2. Drop Bars, Not Bombs: Steering System
Jika rangka adalah jiwa, maka setang adalah sistem saraf. Melalui setang, sepeda “berbicara” dengan pengendara, dan pengendara membaca dunia. Penn dengan sengaja memilih judul provokatif: Drop Bars, Not Bombs, mengaitkan desain teknis dengan etika hidup.
Ia membela drop handlebars—setang melengkung ke bawah—yang sering dianggap kuno atau terlalu “balap”. Bagi Penn, drop bar bukan soal gaya, melainkan soal kemungkinan. Dengan satu setang, pengendara memiliki berbagai posisi tangan: di atas untuk santai, di hood untuk kontrol, di drop untuk kecepatan dan stabilitas saat angin atau turunan panjang.
Penn menjelaskan secara rinci bagaimana posisi tubuh berubah bersama posisi tangan, mempengaruhi aerodinamika, distribusi beban, dan bahkan cara bernapas. Drop bar memungkinkan tubuh bergerak—dan bergerak berarti bertahan lama. Ia mengutip pengalaman bersepeda jarak jauh, di mana setang datar membuat pergelangan tangan mati rasa, sementara drop bar memberi variasi mikro yang menyelamatkan sendi.
Ia juga masuk ke detail teknis: lebar setang yang ideal sebanding dengan lebar bahu, sudut flare yang mempengaruhi kontrol, dan material (aluminium vs karbon). Namun sekali lagi, data teknis selalu kembali ke tubuh dan pengalaman. Tidak ada setang “terbaik” secara universal; yang ada adalah setang yang memungkinkan pengendara merasa menyatu dengan sepeda.
Judul “Not Bombs” menjadi pernyataan moral. Penn mengaitkan bersepeda dengan politik ruang publik dan perdamaian. Setang drop, dengan posisi tubuh yang terbuka dan rapuh, menuntut perhatian, keseimbangan, dan kesadaran—kebalikan dari logika kekerasan dan dominasi. Bersepeda, baginya, adalah praktik kerentanan yang aktif.
Ia menyinggung bagaimana sepeda mengubah hubungan manusia dengan kota: kecepatan yang cukup untuk melintasi ruang, tetapi cukup lambat untuk melihat wajah, mendengar suara, dan merasakan permukaan jalan. Sistem kemudi bukan hanya alat belok, melainkan alat etis untuk memilih bagaimana kita hadir di dunia.
3. All Geared Up: Drivetrain
Bagi Robert Penn, sistem pemindah tenaga—drivetrain—adalah tempat di mana kehendak manusia bertemu dengan hukum fisika. Di sinilah niat, kelelahan, medan, dan teknologi bernegosiasi secara paling jujur. Ia menulis bagian ini bukan dengan bahasa teknisi, melainkan dengan kesadaran bahwa gigi dan rantai adalah penerjemah antara tubuh yang terbatas dan jarak yang tak pernah habis.
Penn membawa pembaca ke bengkel-bengkel kecil, berbincang dengan mekanik yang tangannya hitam oleh oli dan pengalaman. Ia mempelajari evolusi drivetrain dari fixed gear sederhana, derailleur klasik Campagnolo, hingga sistem modern dengan rentang rasio yang luas. Namun ia tidak terpesona oleh kompleksitas itu sendiri. Pertanyaan utamanya selalu sama: apakah sistem ini memungkinkan manusia terus bergerak tanpa mengkhianati tubuhnya?
Ia menjelaskan dengan jujur bahwa pemilihan rasio gigi bukan soal kecepatan maksimum, melainkan tentang cadence—irama kayuhan yang berkelanjutan. Penn mengutip pengalaman tanjakan panjang di Wales dan Pyrenees, ketika gigi terlalu berat menggerus lutut dan harga diri, sementara gigi yang cukup ringan menjaga ritme dan kewarasan. Secara teknis, ia menyinggung bagaimana kombinasi chainring dan cassette menentukan gear inches—ukuran yang menjelaskan seberapa jauh sepeda melaju tiap putaran pedal. Tetapi angka-angka itu selalu kembali pada pengalaman tubuh: napas, denyut, dan ketahanan mental.
Ia juga mengkritik mitos maskulinitas dalam bersepeda—gagasan bahwa “gigi ringan itu untuk yang lemah”. Dalam praktik jarak jauh, Penn menunjukkan bahwa justru kerendahan hati mekanis—mengakui keterbatasan tubuh—adalah kunci ketahanan. Drivetrain yang baik bukan yang memaksa, melainkan yang mendukung. Ia memungkinkan pengendara tetap bergerak ketika ego ingin berhenti.
Di sini, drivetrain menjadi alegori kehidupan modern. Kita hidup dalam sistem yang sering kali dirancang untuk memaksa percepatan, bukan keberlanjutan. Sepeda, dengan pilihan gigi yang tepat, menawarkan model alternatif: kemajuan yang diukur bukan oleh kecepatan sesaat, tetapi oleh kemampuan untuk terus melaju tanpa hancur.
4. The Lateral Truth, So Help Me God: Wheels
Jika drivetrain adalah negosiasi vertikal—antara tenaga dan tanjakan—maka roda adalah kebenaran lateral: hubungan langsung dengan permukaan dunia. Penn menyebut roda sebagai komponen paling jujur di sepeda. Tidak ada ilusi di sini. Roda yang buruk akan langsung mengkhianati pengendara; roda yang baik akan setia tanpa perlu pujian.
Ia memulai dengan kisah pembuat roda tradisional—wheel builders—yang merangkai jari-jari satu per satu, menegangkan logam hingga tercapai keseimbangan yang nyaris musikal. Penn menekankan bahwa roda bukan benda statis, melainkan struktur dinamis. Ketika roda berputar, beban tidak didorong dari atas ke bawah, tetapi ditahan oleh jari-jari di bagian bawah—sebuah fakta mekanis yang bagi Penn hampir bersifat metafisik. Dunia menopang kita dari bawah, bukan menekan dari atas.
Ia membahas pilihan ukuran roda—700c yang klasik—dan lebar ban yang mulai kembali membesar setelah puluhan tahun terjebak dalam obsesi ban tipis. Penn mencatat bagaimana data modern justru menunjukkan bahwa ban sedikit lebih lebar, dengan tekanan lebih rendah, sering kali lebih cepat di dunia nyata karena mengurangi kehilangan energi akibat getaran. Tetapi lagi-lagi, data ini tidak berdiri sendiri. Yang lebih penting adalah rasa: bagaimana roda “membaca” jalan, bagaimana ia memaafkan ketidaksempurnaan aspal dan kerikil.
Penn menyebut momen-momen ketika roda menjadi penghubung paling intim antara diri dan dunia: suara halus ban di jalan basah, getaran kecil di jalur pedesaan, keheningan nyaris sakral di turunan panjang. Di saat-saat itu, roda bukan lagi komponen; ia menjadi cara mengetahui dunia—epistemologi berputar.
Judul bab ini, dengan sumpah “So Help Me God”, bukan hiperbola. Bagi Penn, roda adalah tempat di mana kepercayaan diletakkan. Kita mempercayakan keselamatan, arah, dan kelanjutan perjalanan pada lingkaran logam yang terus berputar. Dalam kepercayaan itu, ada unsur iman sekuler: keyakinan bahwa keseimbangan akan bertahan jika kita terus bergerak.
5. On the Rivet: The Saddle
Tidak ada bagian sepeda yang lebih personal—dan lebih kontroversial—daripada sadel. Penn menulis bab ini dengan kejujuran yang hampir brutal. Ia mengakui bahwa tidak ada sadel sempurna secara universal. Yang ada hanyalah hubungan yang bisa berhasil atau gagal antara tubuh tertentu dan bentuk tertentu.
Ia mengisahkan pencarian panjangnya, mencoba berbagai sadel: kulit klasik Brooks yang keras di awal tetapi “hidup” seiring waktu; sadel modern dengan bantalan tebal yang menjanjikan kenyamanan instan tetapi sering mengkhianati dalam jarak jauh. Penn menjelaskan bahwa sadel yang baik bukan yang paling empuk, melainkan yang menopang tulang duduk dengan tepat, membiarkan jaringan lunak bebas dari tekanan.
Secara teknis, ia menyentuh distribusi berat tubuh—bagaimana sadel, setang, dan pedal berbagi beban. Sadel yang tepat memungkinkan pengendara duduk “di atas” sepeda, bukan terjebak “di dalam” penderitaan. Tetapi yang paling menarik adalah bagaimana Penn membaca sadel sebagai metafora kesabaran. Sadel kulit, misalnya, membutuhkan waktu. Ia harus “dibiasakan”, sama seperti tubuh dan perjalanan panjang.
Bab ini juga berbicara tentang rasa sakit—bukan sebagai musuh mutlak, tetapi sebagai sinyal. Penn tidak meromantisasi penderitaan, tetapi ia menolak ilusi kenyamanan total. Dalam jarak jauh, sedikit ketidaknyamanan adalah bagian dari dialog antara tubuh dan dunia. Yang berbahaya bukan rasa sakit, melainkan mati rasa—ketika tubuh berhenti memberi tahu apa pun.
Not in Vain the Distance Beckons
Bagian penutup ini berfungsi sebagai resonansi filosofis dari seluruh pembahasan teknis sebelumnya. Setelah rangka, setang, drivetrain, roda, dan sadel, Penn mengajak pembaca kembali ke pertanyaan awal: mengapa kita bergerak? Mengapa jarak memanggil?
Judulnya menyiratkan keyakinan bahwa jarak bukan godaan kosong. Setiap kilometer membawa kemungkinan pemahaman—tentang tubuh, tentang waktu, tentang keterbatasan dan kebebasan. Penn menulis bahwa sepeda mengajarkan bentuk kebahagiaan yang tidak spektakuler, tetapi tahan lama: kebahagiaan yang lahir dari ritme, dari kemajuan kecil yang terus terjadi.
Ia menolak gagasan bahwa teknologi harus menghapus usaha. Justru dalam usaha itulah makna ditemukan. Sepeda, dengan seluruh komponennya yang sederhana namun cerdas, menawarkan model kehidupan di mana manusia tidak dikuasai oleh mesin, tetapi bekerja bersama dengannya.
Jarak, bagi Penn, bukan sesuatu yang harus ditaklukkan. Ia adalah undangan. Dan sepeda—dirakit dengan perhatian, kesabaran, dan cinta—adalah cara menjawab undangan itu dengan tubuh utuh dan pikiran terbuka.
Sepeda sebagai Teknologi yang Beradab: Etika Gerak dalam Dunia yang Terburu-buru
Di antara semua teknologi yang pernah diciptakan manusia, sepeda menempati posisi yang nyaris paradoksal. Ia sepenuhnya modern—lahir dari Revolusi Industri, baja, bantalan peluru, rasio mekanis—namun tidak pernah benar-benar memisahkan manusia dari tubuhnya, dari lanskap, dari waktu. Sepeda bukan mesin yang menggantikan manusia, melainkan mesin yang memperbesar manusia tanpa menghapus batas-batasnya. Dalam pengertian inilah sepeda dapat dibaca sebagai teknologi yang beradab.
Beradab, di sini, bukan sekadar ramah lingkungan atau hemat energi. Ia adalah teknologi yang mengakui keterbatasan tubuh manusia sebagai prinsip desain, bukan sebagai masalah yang harus dihapus. Sepeda bekerja hanya sejauh manusia bekerja; ia berhenti ketika manusia berhenti. Tidak ada ilusi otonomi. Tidak ada kecepatan tanpa usaha. Tidak ada jarak tanpa waktu.
Dalam dunia modern yang dipenuhi teknologi percepatan—mobil, pesawat, algoritma, logistik instan—sepeda berdiri sebagai kritik diam. Ia tidak berteriak, tidak memaksa, tidak menjanjikan efisiensi maksimum. Ia hanya menawarkan satu hal: gerak yang bermakna.
Teknologi yang Tidak Menghina Tubuh
Banyak teknologi modern dibangun di atas asumsi bahwa tubuh manusia adalah hambatan. Kelelahan dianggap kegagalan. Lambat dipandang tidak rasional. Dalam logika ini, mesin yang ideal adalah mesin yang menghapus keterlibatan tubuh sebanyak mungkin.
Sepeda menolak asumsi ini sejak awal. Rangka sepeda tidak meniadakan tenaga manusia; ia menyusunnya. Drivetrain tidak menggantikan otot; ia menerjemahkannya. Roda tidak menaklukkan jalan; ia bernegosiasi dengannya. Sadel tidak menghilangkan rasa; ia mengajarkan toleransi dan penyesuaian.
Dalam bahasa filsafat teknologi, sepeda adalah contoh convivial tool seperti yang dibayangkan Ivan Illich: alat yang memperluas kemampuan manusia tanpa menciptakan ketergantungan atau dominasi. Sepeda tidak memonopoli ruang, tidak menuntut infrastruktur raksasa, tidak mengasingkan penggunanya dari lingkungan. Ia bisa diperbaiki, dipahami, diwariskan. Ia tidak memerlukan keahlian esoterik untuk dirawat—hanya kesabaran dan perhatian.
Dengan demikian, sepeda adalah teknologi yang menghormati tubuh sebagai sumber pengetahuan. Melalui kayuhan, manusia belajar tentang batasnya sendiri: kapan harus mengganti gigi, kapan harus melambat, kapan harus berhenti. Teknologi ini tidak menipu tubuh dengan ilusi kenyamanan total, tetapi juga tidak memuliakan penderitaan. Ia mengajarkan keseimbangan.
Kecepatan yang Etis
Modernitas sering menyamakan kemajuan dengan percepatan. Semakin cepat kita bergerak, semakin maju kita dianggap. Namun kecepatan selalu membawa konsekuensi etis: siapa yang disingkirkan, siapa yang tertinggal, siapa yang menanggung risikonya. Sepeda memperkenalkan konsep kecepatan yang etis. Ia cepat, tetapi tidak brutal. Ia memungkinkan jarak, tetapi tidak menghapus skala. Dengan sepeda, kita masih mengenali wajah, bau, suara, perubahan cahaya. Kota tetap terbaca. Desa tetap terasa.
Dalam sepeda, kecepatan selalu terkait dengan tanggung jawab. Turunan memerlukan rem dan kewaspadaan. Tanjakan menuntut kesabaran. Tidak ada autopilot. Setiap meter adalah keputusan. Dengan demikian, sepeda melatih etika perhatian—ethics of attentiveness—yang semakin langka dalam dunia otomatis.
Kecepatan sepeda juga bersifat demokratis. Ia tidak menciptakan kelas pengguna berdasarkan daya beli energi fosil atau teknologi mahal. Semua orang bergerak dalam rentang yang relatif setara. Di jalan sepeda, tidak ada SUV yang merasa lebih berhak dari tubuh lain.
Jarak sebagai Guru, Bukan Musuh
Dalam It’s All About the Bike, Robert Penn berulang kali kembali pada satu gagasan: jarak bukan sesuatu yang harus ditaklukkan, melainkan sesuatu yang mengundang. Sepeda mengubah hubungan kita dengan jarak. Ia tidak memampatkan ruang seperti mobil atau pesawat; ia mengisi ruang dengan pengalaman.
Dengan sepeda, jarak menjadi guru kesabaran. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu spektakuler. Kadang ia hanya berarti terus bergerak meski lambat. Dalam dunia kerja modern yang obsesif terhadap hasil instan, sepeda menawarkan pedagogi alternatif: nilai dari proses yang berkelanjutan.
Jarak juga menjadi ruang refleksi. Banyak pengendara sepeda mengenali momen di mana pikiran menjadi jernih bukan karena keheningan total, tetapi karena ritme tubuh yang stabil. Sepeda menciptakan kondisi kontemplatif tanpa harus memisahkan diri dari dunia.
Sintesis: Etika Bersepeda sebagai Cara Hidup Modern
Dari pembacaan ini, sepeda dapat dirumuskan bukan sekadar alat transportasi, melainkan etos hidup. Etika bersepeda sebagai cara hidup modern dapat disintesiskan dalam beberapa prinsip berikut:
Pertama, prinsip keterbatasan yang diterima. Sepeda mengajarkan bahwa hidup yang baik bukan hidup tanpa batas, melainkan hidup yang berdamai dengan batas tubuh, waktu, dan ruang.
Kedua, prinsip usaha yang bermakna. Tidak semua kerja harus dihapus oleh teknologi. Ada kerja yang justru memberi makna karena melibatkan tubuh dan perhatian.
Ketiga, prinsip kecepatan yang proporsional. Cepat sejauh perlu, lambat sejauh mungkin. Kecepatan harus selalu dapat dipertanggungjawabkan secara sosial dan ekologis.
Keempat, prinsip kedekatan dengan dunia. Sepeda menjaga hubungan langsung dengan lanskap, cuaca, dan manusia lain. Ia menolak isolasi total sebagai harga kemajuan.
Kelima, prinsip perawatan dan keberlanjutan. Sepeda hidup lama jika dirawat. Ia mengajarkan budaya pemeliharaan, bukan konsumsi cepat dan penggantian terus-menerus.
Catatan Akhir: Modernitas yang Dikayuh, Bukan Digeber
Di tengah krisis iklim, krisis kesehatan mental, dan krisis makna dalam kehidupan modern, sepeda tidak menawarkan solusi total. Tetapi ia menawarkan sesuatu yang lebih jujur: cara hidup yang cukup.
Bersepeda adalah tindakan kecil dengan implikasi besar. Ia adalah modernitas yang tidak berisik, kemajuan yang tidak arogan, teknologi yang tidak memutus manusia dari dirinya sendiri. Dalam setiap kayuhan, kita diingatkan bahwa bergerak maju tidak harus berarti meninggalkan tubuh, komunitas, dan bumi di belakang. Sepeda, pada akhirnya, bukan tentang sepeda. Ia tentang bagaimana kita memilih untuk hidup—dengan sadar, dengan cukup, dan dengan hormat terhadap dunia yang kita lintasi.
Dalam beberapa bagian dalam buku ini, Robert Penn berhasil melakukan sesuatu yang jarang: menjadikan komponen mekanik sebagai pintu masuk ke refleksi eksistensial. Rangka dan setang tidak lagi netral; keduanya adalah perpanjangan tubuh dan pilihan hidup.
Sepeda, sebagaimana dibangun Penn, adalah mesin yang menolak keterasingan. Ia tidak mengisolasi penggunanya dari dunia, tetapi justru membuka hubungan yang lebih intim dengan ruang, waktu, dan diri sendiri. Dalam dunia yang semakin cepat dan terfragmentasi, diamond frame dan drop bars menjadi simbol kesetiaan pada kesederhanaan yang cerdas—teknologi yang melayani kehidupan, bukan sebaliknya.
It’s All About the Bike bukan hanya perjalanan fisik Robert Penn untuk merakit sepeda yang sempurna—ia adalah meditasi tentang hubungan manusia dengan mesin, dunia, dan dirinya sendiri. Sepeda, dalam narasi Penn, menjadi metafora bagi kehidupan itu sendiri: ia memiliki komponen yang berbeda, setiap bagian penting untuk keseimbangan; ia memerlukan kerja dan perhatian; dan ia memberi pengalaman tentang kebebasan dalam batas-batas fisik yang ditetapkan tubuh. Sepeda mengajarkan bahwa kebahagiaan sering ditemukan dalam ritme yang berulang, dalam perjalanan yang panjang, bukan hanya tujuan akhir. (Kirkus Reviews)
Bogor, 29 Desember 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi
Penn, R. (2011). It’s All About the Bike: The Pursuit of Happiness on Two Wheels. Bloomsbury USA. (Bloomsbury Publishing)
— (Publication year note: Buku ini pertama kali terbit sekitar 2010/2011, dengan berbagai edisi termasuk eBook pada 27 September 2010 dan paperback pada Mei/April 2011–2012.) (Bloomsbury Publishing)






