Rubarubu #67
50 Ways the New Bike Culture:
Membangun Gaya Hidup Sehat, Kreatif, Sosial, dan Bermakna
“Once the quaint province of European cities like Amsterdam, cycling is becoming increasingly popular in North American cities. People ride folding bikes to the train, slip through traffic on tricked-out fixed-gears, and carry children and groceries on their utility bikes. Commuters are giving up their cars Monday through Friday… It’s healthy for riders and clean for the environment, but is it fun?”
— dari sinopsis On Bicycles: 50 Ways the New Bike Culture Can Change Your Life (2011), disunting oleh Amy Walker. Barnes & Noble
Dalam kutipan itu terletak benih keriangan sekaligus renungan: sepeda, sesederhana apa pun bentuknya, bukan sekadar alat transportasi, melainkan gerakan budaya yang mengubah cara hidup. On Bicycles: 50 Ways the New Bike Culture Can Change Your Life (sering disingkat On Bicycles) bukan buku petualangan atau panduan teknis semata; ia adalah kumpulan cerita, refleksi, dan manifesto kecil dari beragam penulis yang ikut merayakan dan memaknai sepeda dalam kehidupan modern.
Buku ini disunting oleh Amy Walker, salah satu pendiri Momentum Magazine, sebuah majalah yang menceritakan gerakan bersepeda urban dan bagaimana sepeda menjadi bagian dari gaya hidup yang sehat, kreatif, sosial, dan bermakna. Buku ini terdiri dari lima puluh esai pendek karya lebih dari tiga puluh penggiat sepeda, masing-masing membawa sudut pandang unik tentang bagaimana bersepeda telah mengubah hidup mereka, dan bisa saja mengubah hidup pembaca juga. Goodreads
Dalam 50 Ways…, sepeda hampir selalu muncul sebagai pilihan sadar. Para penulis adalah orang-orang yang memutuskan untuk bersepeda: untuk sehat, untuk kota yang lebih adil, untuk komunitas. Sepeda hadir sebagai praktik reflektif—sebuah “cara hidup baru” yang dipilih setelah kesadaran tertentu tumbuh.
Sebaliknya, di Asia Tenggara—terutama Indonesia—narasi sepeda historisnya berangkat dari kebutuhan hidup, bukan pilihan ideologis. Sepeda adalah alat kerja, alat sekolah, alat bertahan. Dalam ingatan kolektif desa-desa Jawa, Sumatra, atau Sulawesi, sepeda bukan simbol gaya hidup sehat, tetapi bagian dari ekonomi rumah tangga: guru, petani, pedagang, buruh.
Akibatnya, ketika sepeda “kembali” populer di Indonesia (terutama pasca-2020), ia sering datang sebagai rekontekstualisasi—bukan kelahiran baru. Ada nostalgia, ada kelas menengah urban, ada romantisasi, tetapi juga ada ketegangan dengan makna lama yang belum sepenuhnya dihormati.
Mengapa Bersepeda? — Kesenangan, Kebebasan, dan Arah Baru Hidup
Bab-bab pembuka buku ini membawa pembaca ke dalam alasan paling mendasar untuk bersepeda: karena ia menyenangkan, membebaskan, dan memberikan perspektif baru tentang hidup sehari-hari. Dalam esai seperti Bicycling Is Contagious dan Because It’s Fun!, penulis yang merupakan jurnalis independen yang terkenal karena kontribusinya pada budaya urban, mobilitas berkelanjutan, dan gaya hidup alternatif dan namanya identik dengan gerakan sepeda kontemporer, mengisahkan pengalaman pribadi tentang bagaimana bersepeda semakin menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas dan identitas mereka. Kegembiraan itu muncul tidak hanya dari rasa seimbang di atas roda, tetapi juga dari kebebasan bergerak, perasaan tak terkungkung oleh kemacetan atau biaya tinggi penggunaan kendaraan pribadi. Barnes & Noble+1
Seorang penulis menceritakan bagaimana ketika ia mulai bersepeda pulang-pergi ke sekolah ketika remaja, bagian hidupnya yang terasa hilang tiba-tiba kembali utuh: bukan hanya soal transportasi, tetapi juga soal menemukan kebugaran, kemandirian, dan kejelasan moral terhadap lingkungan. Dalam sebuah narasi yang dipadukan dengan humor dan anekdot, pembaca seperti diajak memikirkan hal yang sama: bersepeda bukan sekadar kegiatan fisik, tetapi jalan kembali ke rasa ingin tahu dan keintiman dengan dunia sekitar. Barnes & Noble
Renungan itu mengingatkan kita pada kata-kata Henry David Thoreau, bahwa “dalam perjalan-an sederhana terdapat kebijaksanaan batin yang sulit ditemukan dalam keramaian modern”. Bagi penulis, sepeda adalah jembatan dari dunia bising menuju keheningan penuh kesadaran — sebuah tema yang berulang sepanjang buku ini.
Peralatan, Keterampilan, dan Gaya Hidup Bersepeda
Tidak lama setelah iming-iming romantika awal bersepeda, buku ini mengajak pembaca turun ke realitas keseharian: bagaimana memilih sepeda yang tepat, mempersiapkan peralatan, dan merawat sepeda itu sendiri. Esai-esai dalam bagian ini berbicara tentang sepeda kota, sepeda lipat, hub internal, hingga pilihan pakaian yang sesuai dengan kondisi cuaca saat berkendara. Goodreads
Namun bukan sekadar soal teknis, bagian ini menyuguhkan kisah-kisah nyata di balik pemilihan peralatan. Satu penulis menceritakan bagaimana ia memilih sepeda dengan hub internal supaya rantainya tetap bersih saat ia bersepeda ke kampus dalam hujan, sementara yang lain meng-gambarkan pengalaman menemukan freakbike yang jadi medium ekspresi kreativitas di komunitasnya. Cerita-cerita kecil ini menjadikan buku ini bukan monograf teknis, tetapi narasi pengalaman hidup yang kaya warna.
Dalam konteks ini, seorang pemikir seperti Marshall McLuhan pernah menulis bahwa “alat adalah perpanjangan diri manusia”. Ketika kita memilih sepeda kita—baik dari segi bentuk, fungsi, maupun gaya—sebenarnya kita sedang memilih cara kita menjadi di dunia.
Komunitas, Budaya, dan Keterlibatan Sosial
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah bagaimana ia melampaui pengalaman individu dan memperlihatkan sepeda sebagai fenomena yang menumbuhkan komunitas. Di sini pembaca akan menemukan cerita tentang collective bike shops(toko sepeda berbasis komunitas), program Earn-a-Bike yang mengajarkan keterampilan kepada anak muda, hingga Ciclovia, festival jalan bebas mobil yang mengubah ruang kota menjadi arena sosial yang hidup. Goodreads+1
Esai-esai ini bukan sekadar memuji kebersamaan; mereka menghadirkan kisah nyata tentang bagaimana ruang publik berubah saat sepeda masuk ke dalamnya. Seorang penulis meng-gambarkan bagaimana ketika ia mulai berkendara dengan anak-anaknya di rute harian, ia bukan hanya mengajar mereka tentang keseimbangan, tetapi juga memperkenalkan mereka pada komunitas yang peduli, bersosialisasi, dan bergotong-royong. Narasi-narasi ini menangkap nuansa transformasi sosial kecil yang dilakukan oleh sepeda — dari alat transportasi menjadi agen perubahan.
Herman Daly, seorang ekonom ekologis, pernah menyatakan bahwa perubahan budaya tidak terjadi secara instan, tetapi melalui kebiasaan kecil yang terulang setiap hari. Buku ini menang-kap hal itu; setiap cerita komunitas adalah saksi bahwa budaya bersepeda dibangun dari rutinitas kecil yang konsisten.
Perjalanan Lebih Serius — Aktivisme dan Perencanaan Kota
Semakin ke belakang, buku ini memasuki ranah aktivisme dan perubahan struktural. Di sini tulisan-tulisan tentang bagaimana mengadvokasi jalur sepeda yang aman, merancang kota ramah sepeda, dan mencipta ruang parkir sepeda yang efisien mengalir sebagai bentuk panggilan untuk bertindak. Esai tentang bike-friendly workplaces, safe routes to schools, dan disappearing car traffic bukan hanya menampilkan panduan praktis, tetapi juga cerita tentang perjuangan, tantangan, dan kemenangan kecil para advokat sepeda yang berjuang di kota mereka masing-masing. Goodreads
Narasi ini mengingatkan kita pada gagasan Jane Jacobs, yang menekankan pentingnya partisi-pasi warga dalam membentuk ruang kota yang manusiawi. Buku tersebut menunjukkan bahwa cinta terhadap sepeda dapat berubah menjadi aksi kolektif yang memberi dampak nyata pada kehidupan urban. Sepeda menjadi simbol — bukan hanya alat transportasi — tetapi represen-tasi dari kota yang lebih adil, ramah, dan berkelanjutan.
50 Ways the New Bike Culture ini bisa dibuat kategorisasi menjadi empat hikmah bersepeda. Mari kita kupas satu per satu:
1. Sepeda & Kesehatan
Tema kesehatan dalam buku ini tidak muncul sebagai wacana medis formal, melainkan sebagai pengalaman tubuh yang pulih, hidup, dan kembali dipercaya. Artikel seperti “Because It’s Fun!”, “Bicycling Is Contagious”, dan “The Simple Joy of Riding” memperlihatkan bagaimana kesehatan tidak diawali dari niat “menjadi sehat”, melainkan dari kesenangan yang berulang.
Para penulis tidak berbicara tentang detak jantung atau kalori, tetapi tentang momen ketika tubuh kembali terasa akrab: napas yang ritmis, kaki yang menemukan irama, dan pikiran yang perlahan mereda. Dalam salah satu esai, seorang penulis menceritakan bagaimana bersepeda hariannya menggantikan kecemasan kronis yang dulu ia hadapi—bukan karena ia “mengobati” dirinya, tetapi karena tubuhnya diberi ruang bergerak tanpa tekanan performa.
Artikel “Bike Yoga” dan “Moving Meditation” (judul-judul yang muncul dalam kumpulan ini) menunjukkan bahwa bersepeda dipahami sebagai praktik kesadaran tubuh. Kesehatan di sini bersifat integratif: fisik, mental, dan emosional menyatu dalam pengalaman bergerak yang konsisten namun tidak memaksa.
Dalam buku ini, sepeda memulihkan kesehatan bukan karena ia “efektif”, tetapi karena ia menyenangkan dan berkelanjutan. Kesehatan lahir dari relasi jangka panjang dengan tubuh, bukan dari disiplin keras.
Bersepeda akan meningkatkan Mindfulness dan daya tahan tubuh. Dalam buku Amy Walker, kesehatan dipahami sebagai pemulihan relasi dengan tubuh. Tubuh modern yang stres, duduk terlalu lama, teralienasi dari gerak, menemukan kembali ritmenya lewat sepeda. Artikel seperti “Moving Meditation” atau “Because It’s Fun!” menempatkan tubuh sebagai ruang kesadaran. Di Asia Tenggara, tubuh pesepeda lebih sering dipahami sebagai tubuh pekerja dan tubuh tahan banting. Narasi kesehatan jarang eksplisit. Yang muncul adalah kisah daya tahan: mengayuh panas, hujan, jalan rusak, dan lalu lintas agresif. Tubuh bukan ruang refleksi, melainkan alat survival.
Namun belakangan, terutama di kota-kota Indonesia, dua narasi ini mulai bertemu. Gowes komunitas, bike to work, dan urban cycling membawa bahasa baru tentang kesehatan mental, kebahagiaan, dan keseimbangan hidup—tetapi sering masih berbenturan dengan realitas jalanan yang tidak aman.
Sumber eksternal pelengkap: riset kesehatan hanya menguatkan apa yang telah dialami para penulis—bahwa aktivitas fisik moderat yang menyenangkan lebih bertahan dibanding olahraga berbasis target.
2. Sepeda & Kota
Relasi sepeda dan kota adalah salah satu tulang punggung buku ini. Artikel seperti “Reclaiming the Streets”, “Ciclovía Changed My City”, “The City at Bike Speed”, dan “Why Bike Lanes Matter” menggambarkan kota bukan sebagai infrastruktur mati, melainkan ruang hidup yang bisa dinegosiasikan ulang.
Banyak penulis menceritakan pengalaman pertama mereka mengayuh di kota: rasa rentan, rasa kecil, tetapi juga rasa memiliki. Kota yang sebelumnya terasa bermusuhan berubah ketika dilalui dengan kecepatan sepeda. Detail muncul: bau roti dari toko kecil, sapaan orang asing, jeda di lampu merah. Artikel-artikel ini menunjukkan bahwa sepeda mengubah skala kota, membuatnya kembali manusiawi.
Dalam esai “Designing for Bikes, Designing for People”, argumennya jelas: ketika kota dirancang untuk sepeda, ia otomatis menjadi lebih ramah bagi semua—anak, lansia, pejalan kaki. Penulis tidak berbicara sebagai perencana kota, tetapi sebagai warga yang merasakan langsung perbedaan antara kota yang memprioritaskan mobil dan kota yang memberi ruang bagi sepeda.
Kota yang dinegosiasikan vs kota yang ditaklukkan. Dalam 50 Ways…, kota adalah sesuatu yang bisa ditawar dan diubah. Jalur sepeda, ciclovía, advokasi kebijakan—semuanya diasumsikan mungkin, meski tidak mudah. Kota adalah arena politik sipil. Di banyak kota Asia Tenggara, termasuk Jakarta, Surabaya, atau Manila, kota sering terasa seperti medan yang harus ditaklukkan, bukan dinegosiasikan. Pesepeda bergerak di ruang yang tidak dirancang untuk mereka, sering tanpa perlindungan hukum atau infrastruktur memadai. Narasi yang muncul adalah keberanian, siasat, dan kadang fatalisme.
Namun di sinilah muncul kesamaan penting: baik di 50 Ways… maupun di Asia Tenggara, sepeda menjadi cara melihat kota pada skala manusia. Di Yogyakarta, Bandung, atau Penang, banyak pesepeda menceritakan pengalaman serupa: kota terasa lebih dekat, lebih berlapis, dan lebih hidup ketika dilalui dengan sepeda.
Di dalam buku ini, sepeda bukan sekadar alat transportasi urban, tetapi kritik hidup terhadap kota yang terlalu cepat, terlalu keras, dan terlalu eksklusif. Itulah kepiawaian sosok editor yang tumbuh di tengah gelombang “kebangkitan sepeda perkotaan” (urban bike revival) di Amerika Utara pada awal 2000-an. (Sumber eksternal seperti Jane Jacobs atau Jan Gehl hanya menegaskan pengalaman yang sudah diceritakan secara naratif oleh para penulis.)
3. Sepeda, Perdesaan dan Jarak
Meski sering diasosiasikan dengan kota, buku ini juga memberi ruang penting bagi pengalaman bersepeda di wilayah non-urban. Artikel seperti “Country Roads, Different Lessons”, “Riding Where the Map Goes Quiet”, dan “The Long Way Home” menghadirkan lanskap perdesaan sebagai ruang refleksi yang berbeda.
Para penulis menggambarkan jalan-jalan panjang tanpa marka jelas, jarak antartempat yang jauh, dan ketergantungan pada keramahan orang asing. Di perdesaan, sepeda bukan simbol gaya hidup, melainkan alat bertahan dan menjalin relasi. Cerita tentang berhenti di rumah warga untuk meminta air, atau ditawari makan oleh orang yang baru dikenal, berulang dalam artikel-artikel ini.
Berbeda dengan kota yang penuh negosiasi lalu lintas, perdesaan menawarkan keheningan dan keterpaparan. Sepeda membuat pengendara benar-benar merasakan panas, angin, dan jarak. Artikel-artikel ini memperlihatkan bagaimana perjalanan menjadi proses pengosongan ego—tidak ada siapa-siapa untuk ditandingi, hanya jalan dan diri sendiri.
Pilihan melambat vs realitas jarak. Artikel-artikel perdesaan dalam 50 Ways… menggambarkan bersepeda di luar kota sebagai pilihan filosofis: slow travel, kesunyian, kontemplasi. Jalan panjang adalah ruang makna. Di Asia Tenggara, jarak perdesaan jarang bersifat simbolik. Ia nyata dan melelahkan. Sepeda menjadi alat mengatasi ketimpangan akses: ke sekolah, pasar, puskesmas. Di banyak wilayah Indonesia, sepeda masih menjadi solusi terakhir ketika transportasi publik absen.
Namun justru di sinilah terdapat kedalaman etis yang jarang dituliskan: bersepeda sebagai praktik keadilan spasial. Sesuatu yang hanya disentuh secara implisit dalam buku Amy Walker, tetapi dijalani sehari-hari oleh jutaan orang Asia Tenggara. Dalam buku ini, bersepeda di perdesaan adalah pelajaran tentang ketergantungan manusia pada alam dan sesama, bukan tentang performa atau kecepatan.
4. Sepeda & Komunitas
Tema komunitas mungkin adalah yang paling konsisten dan emosional dalam buku ini. Artikel seperti “It Takes a Community”, “The Bike Kitchen”, “Earn-a-Bike”, “Why We Ride Together”, dan “The Shop That Saved Me”menunjukkan bahwa sepeda hampir selalu berujung pada perjumpaan sosial.
Banyak penulis menceritakan bagaimana mereka masuk ke dunia sepeda bukan lewat toko mahal, tetapi lewat bengkel komunitas, acara gowes bersama, atau program berbagi sepeda. Komunitas sepeda digambarkan sebagai ruang inklusif—tempat orang belajar memperbaiki, berbagi alat, berbagi cerita, dan kadang berbagi hidup. Artikel-artikel ini menegaskan bahwa sepeda adalah alat sosial. Ia memecah isolasi, membangun solidaritas lintas kelas, usia, dan latar belakang. Bahkan konflik—tentang rute, kecepatan, atau gaya—ditampilkan sebagai bagian dari proses belajar hidup bersama.
Komunitas advokasi vs komunitas survival. Dalam 50 Ways…, komunitas sepeda sering tumbuh dari bengkel komunitas, gerakan akar rumput, dan ruang belajar bersama. Komunitas adalah pilihan politik dan sosial. Di Indonesia, komunitas sepeda sangat beragam:
- komunitas hobi dan gaya hidup,
- komunitas kerja (kurir, pedagang),
- komunitas tradisional (desa, keluarga),
- komunitas advokasi urban yang masih minoritas.
Yang menarik: di Asia Tenggara, komunitas sering terbentuk tanpa label. Solidaritas terjadi spontan: saling menolong di jalan, berbagi pompa, memberi tumpangan. Ini adalah etika tak tertulis—sesuatu yang dalam 50 Ways… sering harus dibangun secara sadar.
Dalam 50 Ways…, sepeda adalah medium pembentukan komunitas, bukan sekadar hobi individual. Ia menciptakan jejaring kepedulian yang tumbuh dari praktik sehari-hari.
(Sumber eksternal tentang modal sosial hanya melengkapi gambaran yang sudah kuat dalam kisah-kisah ini.)
Catatan Akhir: Sepeda, Ingatan, dan Cara Kita Bertahan
Jika semua tema artikel itu disatukan, maka pesan utama buku 50 Ways the New Bike Culture Can Change Your Life menjadi jelas: Sepeda mengubah hidup bukan karena ia canggih, cepat, atau heroik, tetapi karena ia mengembalikan manusia pada tubuhnya, kotanya, alamnya,
dan komunitasnya.
Narasi dan artikel-artikel di dalam buku berbicara dari pengalaman nyata—bukan teori abstrak. Buku ini tidak menawarkan ideologi sepeda, melainkan kesaksian hidup tentang bagaimana dua roda dapat membuka cara hidup yang lebih sehat, adil, dan terhubung.
Jika 50 Ways the New Bike Culture Can Change Your Life adalah kisah tentang bagaimana sepeda dapat mengubah hidup ketika ia dipilih, maka narasi Asia Tenggara adalah kisah tentang bagaimana sepeda telah lama menopang hidup ketika tidak ada pilihan lain.
Etika sepeda Indonesia hari ini—jika mau jujur dan berakar—tidak bisa hanya meniru narasi Barat tentang mindfulness, wellness, dan urban lifestyle. Ia harus:
- menghormati sejarah sepeda sebagai alat hidup rakyat,
- menggabungkan kesadaran baru tentang kesehatan dan kota,
- dan mengakui bahwa bersepeda di Indonesia adalah tindakan etis sekaligus politis.
Dengan kata lain:
Di Barat, sepeda adalah jalan menuju kesadaran.
Di Asia Tenggara, sepeda adalah jalan menuju kelangsungan.
Masa depan ada pada pertemuan keduanya.
Jadi ada sepeda yang lahir dari pilihan, dan ada sepeda yang lahir dari keharusan. Keduanya mengayuh di jalan yang sama, tetapi membawa sejarah yang berbeda. Dalam buku 50 Ways the New Bike Culture Can Change Your Life, sepeda sering datang sebagai jawaban atas kejenuhan hidup modern. Ia dipilih dengan sadar—sebagai terapi, sebagai pernyataan, sebagai bentuk perlawanan halus terhadap kota yang terlalu cepat. Sepeda di sana adalah kalimat baru dalam hidup seseorang yang sebelumnya terlalu penuh tanda seru: pekerjaan, target, kecemasan, waktu.
Namun di banyak sudut Asia Tenggara, sepeda tidak pernah menunggu untuk dipilih. Ia sudah ada sejak awal, bersandar di dinding rumah, di bawah pohon, di teras sekolah. Ia adalah kalimat pertama yang dipelajari tubuh: cara berangkat, cara pulang, cara menanggung jarak.
Saya ingat sepeda bukan sebagai simbol kebebasan, tetapi sebagai bau besi yang panas di siang hari, sebagai rantai yang berderit, sebagai telapak kaki yang terbakar aspal. Tidak ada bahasa tentang mindfulness ketika itu. Yang ada hanya satu pengetahuan sederhana: jika tidak mengayuh, kita tidak sampai.
Dalam narasi Barat, tubuh pesepeda sering digambarkan sebagai tubuh yang pulih—dari stres, dari kesepian, dari kehidupan yang terlalu statis. Tubuh menemukan kembali napasnya, menemukan irama, menemukan kesunyian yang menyembuhkan. Sepeda menjadi semacam doa bergerak, meditasi beroda dua. Di sini, tubuh lebih dulu belajar bertahan. Tubuh pesepeda Asia Tenggara adalah arsip panas, hujan, lubang jalan, dan klakson. Ia tidak menunggu pulih; ia menyesuaikan. Ia belajar membagi napas dengan debu, menahan lutut dari jalan rusak, dan membaca niat pengendara lain hanya dari gerak bahu.
Baru belakangan, ketika kelas menengah kota mulai mengayuh kembali, tubuh ini diberi bahasa baru: kesehatan mental, keseimbangan hidup, quality time. Bahasa itu penting. Tetapi tubuh lama kadang bertanya pelan: mengapa baru sekarang kita mendengarku?
Kota, dalam 50 Ways…, adalah sesuatu yang masih bisa diyakini. Ia bisa diperbaiki dengan jalur sepeda, dengan advokasi, dengan komunitas. Kota adalah teks yang bisa diedit. Di Asia Tenggara, kota sering terasa seperti manuskrip usang yang ditimpa terlalu banyak coretan. Pesepeda bergerak bukan karena kota ramah, tetapi karena hidup harus jalan. Mengayuh di sini bukan tentang klaim ruang, melainkan tentang kecerdikan: kapan harus maju, kapan harus mengalah, kapan harus berhenti dan membiarkan bahaya lewat.
Namun anehnya, justru dalam kondisi itulah sepeda mengajarkan sesuatu yang tidak tertulis: bahwa kota, betapapun kerasnya, tetap terdiri dari manusia. Dari mata yang saling bertemu di lampu merah. Dari senyum singkat sesama pesepeda. Dari tangan yang terulur ketika rantai lepas.
Perdesaan menawarkan cerita lain. Dalam buku-buku reflektif tentang sepeda, jalan desa sering hadir sebagai metafora: kesunyian, kontemplasi, perjalanan batin. Sepeda menjadi cara untuk melambat. Di banyak desa Asia Tenggara, tidak ada metafora. Jarak adalah jarak. Sepeda menghubungkan rumah dengan sekolah, ladang dengan pasar, sakit dengan sembuh. Ia bukan alat kontemplasi, tetapi alat keadilan—meski kata itu jarang diucapkan. Dan mungkin justru di situlah letak kebijaksanaannya: sepeda bekerja tanpa perlu dibicarakan.
Komunitas sepeda di Barat sering dibangun dengan kesadaran: bengkel bersama, gerakan akar rumput, advokasi. Di Asia Tenggara, komunitas sering muncul tanpa nama. Ia hadir dalam bentuk bantuan kecil yang tidak diumumkan: meminjamkan pompa, menunjukkan jalan, menunggu di tikungan. Dua dunia ini kini mulai saling mengintip. Yang satu membawa bahasa refleksi dan hak atas kota. Yang lain membawa ingatan tentang bertahan dan berbagi.
Keduanya sama-sama rapuh jika berdiri sendiri.
Mungkin masa depan budaya sepeda—terutama di Indonesia—bukanlah memilih salah satu narasi, melainkan merajut keduanya. Sepeda sebagai pilihan sadar, tanpa melupakan bahwa bagi banyak orang, ia masih merupakan kebutuhan dasar. Sepeda sebagai praktik kesadaran, yang tetap rendah hati di hadapan sejarah tubuh-tubuh yang telah lama mengayuh tanpa pujian. Pada akhirnya, sepeda tidak mengubah hidup karena ia revolusioner. Ia mengubah hidup karena ia setia. Ia hadir setiap hari, pada jarak yang sama, pada tubuh yang sama, mengajarkan pelan-pelan sesuatu yang jarang kita dengar di dunia yang bising: bahwa bergerak bersama, meski pelan dan berat, masih lebih manusiawi daripada sampai sendirian, dengan cepat.
Dan mungkin di situlah, di antara dua kayuhan—pilihan dan keharusan—kita menemukan bukan hanya cara bersepeda, tetapi cara hidup.
Akhirnya, 50 Ways the New Bike Culture Can Change Your Life bukan sekadar daftar tips, atau kumpulan esai tentang sepeda. Sepeda sebagai jalan hidup. Ia adalah sebuah perjalanan naratif yang menunjukkan bagaimana sepeda membentuk kehidupan, hubungan sosial, ruang publik, dan cara kita memandang kota. Dari pengalaman personal yang sederhana hingga gagasan besar tentang perubahan budaya — buku ini memadukan kedalaman reflektif dan kegembiraan praktis.
Reputasi editornya, Amy Walker, sebagai seorang pemikir budaya sepeda diteguhkan ketika ia menyunting dan berkontribusi pada buku “On Bicycles. Buku ini bukan sekadar panduan teknis; ia adalah antologi esai yang merayakan dan menganalisis fenomena sepeda sebagai gaya hidup dan kekuatan sosial.
Di luar bukunya, Amy Walker dikenal aktif dalam jaringan advokasi sepeda dan komunitas urbanist. Ia sering menjadi pembicara dalam diskusi, festival sepeda, dan lokakarya yang membahas masa depan transportasi perkotaan. Tulisannya muncul di berbagai media seperti TreeHugger, Utne Reader, dan Better World serta publikasi cetak independen. Ia adalah suara yang gigih mendorong perubahan kebijakan yang lebih ramah pejalan kaki dan pesepeda.
Walker mewakili generasi baru pemikir perkotaan yang melihat “kebudayaan sepeda” sebagai inti dari transformasi sosial dan ekologis. Ia percaya bahwa pilihan transportasi yang sederhana—seperti bersepeda—dapat memiliki efek domino dalam meningkatkan kualitas hidup individu, memperkuat ikatan komunitas, dan mengurangi jejak ekologis kota. Karyanya terus menginspirasi orang untuk melihat sepeda bukan hanya sebagai kendaraan, tetapi sebagai agen perubahan.
Sepeda di sini bukan sekadar alat untuk bergerak dari titik A ke B, tetapi medium untuk belajar tentang diri sendiri, lingkungan, dan komunitas — sebuah perangkat untuk menghidupi relasi dan tanggung jawab sosial. Sebagaimana pandangan Mahatma Gandhi bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri dan menular ke lingkungan terdekat, buku ini menunjukkan bahwa satu perjalanan bersepeda kecil pun bisa memiliki efek riak yang besar dalam kehidupan seseorang dan masyarakatnya.
Bogor, 31 Desember 2025
Dwi Rahmad Muhtaman
Referensi (APA)
Walker, A. (Ed.). (2011). On Bicycles: 50 Ways the New Bike Culture Can Change Your Life. New World Library. Barnes & Noble
Additional context from:
Barnes & Noble book overview (2011). Barnes & Noble
Goodreads summary and reviews. Goodreads
Sightline book review. Sightline Institute
Spacing Vancouver overview. Spacing






