Tiga huruf  “R” yang ajaib: Reduce, Reuse, Recycle.  Terdengar klasik dan membosankan.  Tetapi itulah fakta yang harus kita hadapi dalam dunia yang sangat konsumtif ini.  Benda-benda dari sumber yang alami dieksploitasi, diolah dan digunakan.  Dalam proses itu yang tersisa adalah limbah.  Benda yang dihasilkan pada saat digunakan bisa juga akan mengeluarkan limbah.  Setelah benda itu tak lagi bisa digunakan entah karena out of date, rusak atau sudah memuakkan, maka benda itu akan menjadi limbah.

 

Di sekitar kita setiap hari ada limbah, kita sendiri menghasilkan limbah baik dari produk-produk yang kita pakai, konsumsi maupun dari internal proses biologis.  Jadi pada dasarnya limbah bukan sesuatu yang asing.  Kita sangat akrab dengan benda yang satu itu.  Mengapa lantas menjadi masalah?  Menjadi masalah karena sampah atau limbah tersebut ternyata dianggap sesuatu yang tidak berguna.  Ini persis seperti definisi yang dipakai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia:

 

sampah /sam·pah /n 1 barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi….;  Tentu saja barang yang dibuang dan tidak terpakai lagi akan sangat menjengkelkan kalau tetap berada di sekitar kita.  Padahal sebetulnya benda-benda yang disebut sampah atau limbah itu masih bisa digunakan dengan proses 3R itu: Reduce, kurangi barang-barang yang digunakan, Reuse, gunakan berulang-ulang sampai betul-betul tidak bias digunakan lagi, dan Recycle, barang-barang yang tidak digunakan didaurulang baik dengan proses tertentu atau dengan memodifikasi bendanya.

 

Bagaimana dengan industri?  Kalau tersedia sumberdaya, dan segala bahan bakunya dengan mudah—apalagi murah– mengapa bersusah payah melakukan 3R?  Tanggungjawab moral?

 

Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh Nike dengan “Re-Grind” program. Juga perhatikan “Micro-Plank” flooring yang dibuat dari bahan limbah industri furniture.  Apple tidak mau ketinggalan meluncurkan Apple’s Liam Recycling Robot.  Banyak prakarsa serupa yang telah dilakukan bukan saja oleh korporasi tetapi oleh individual dan usaha-usaha kecil menengah dan kelompok masyarakat.

 

https://www.youtube.com/watch?v=Rq5EN3baTKg

 

 

 

Atau perhatikan ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=AYshVbcEmUc

 

Apple memanfaatkan semua produk Apple yang sudah menjadi limbah.  Dikumpulkan, dipreteli setiap komponennya dan dihancurkan sesuai kelompok materialnya untuk digunakan kembali.  “Because of in a world with limited resources, something can’t be replaced.”

 

Di dunia fashion pun semangat 3R  juga menyala-nyala.

 

Sebut saja MUJI.  MUJI adalah perusahaan retail Jepang yang unik, minimalis dan menawarkan beragam barang-barang rumahtangga dan konsumsi.  MUJI merupakan salah satu perusahaan yang menjadi perintis yang menerapkan kebijakan recycling, minimalis dan menghindari pemborosan dalam proses produksi dan penggunaan packaging.  Juga mungkin satu-satunya perusahaan global yang tidak mempunyai kebijakan soal logo dan brand.  MUJI tidak mempunyai logo atau brand.  Hanya Muji.

 

MUJI baru-baru ini mengeluarkan koleksi terbarunya yang disebut Reclaimed Wool Collection. Untuk memproduksi koleksi reclaim ini, MUJI bekerjasama dengan textile designer dan MUJI advisory board member, Reiko Sudo, dengan mengadopsi cara kuno (100 tahun tehnik kuno) dalam menyelamatkan wool Jepang bermutu tinggi, mulai dari proses pencucian, pemotongan dan memproduksi benang wool kembali  untuk akhirnya digunakan membuat koleksi baru.

 

Inilah termasuk proses yang dilakukan.  Selama proses menghasilkan koleksi baru, banyak material yang rusak atau tidak bisa digunakan secara penuh.  Bahan-bahan ini, alih-alih dibuang, tetapi digunakan dan diproses kembali sebagai  reclaimed wool.

 

https://www.youtube.com/watch?v=NArWKNHM1i8

 

Mengapa perusahaan-perusahaan itu melakukannya?  Alasan ekonomi selalu ada.  3R memberi keuntungan.  Materi bahan baku jauh lebih murah dari yang biasa; citra perusahaan akan lebih baik karena menggunaan materi yang “tidak berguna,” dan berpartisipasi dunia menciptakan dunia yang lebih baik, sedikit limbah, sedikit sumberdaya, tetapi bermanfaat bagi manusia.

 

Sebagai konsumen atas semua barang-barang di atas, kita diberi pilihan bebas.  Mau membeli hasil 3R atau barang dari bahan biasa?

 

Pilih yang mana?

 

Dwi R Muhtaman

11 Januari 2017

Related Post

FSC Training Update After commemorating 20 Years of Certification in February, there was an opinion that the impact of c...
(Indonesian) HCV ALS Lead Assessor Training Decemb... Sorry, this entry is only available in Indonesian.
(Indonesian) “Sebelum Semuanya” oleh B... Sorry, this entry is only available in Indonesian.
(Indonesian) FSC Training on Chain of Custody Sorry, this entry is only available in Indonesian.
3R
Tagged on:                         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *