Pemberlakuan larangan membakar lahan didasari oleh niat baik mencegah kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) memang sempat menjadi momok menakutkan terlebih pada tahun 2015 ketika asap mengepung di berbagai pulau di Indonesia yang juga sempat memberi efek pada negara tetangga.

Pemerintah mengambil langkah yang dianggap jitu untuk mengatasi dan mencegah terjadinya karhutla, yaitu melarang pembakaran lahan untuk perladangan masyarakat.

Berkat peraturan tersebut, sejumlah petani padi ladang menghentikan kegiatannya dan beralih menjadi pekerja di perusahaan perkebunan.

Agar bisa beli beras, salah satu warga Desa Setawar, Kalimantan Barat berargumen ketika ditanya mengapa memilih bekerja di perusahaan dan berhenti berladang.

Hal serupa tidak hanya terjadi di Kalimantan Barat, tapi juga di setiap daerah yang petaninya masih memiliki kebiasaan membakar ladang untuk mengawali masa tanam. Para petani mengaku dengan tidak dibakarnya lahan, juga mengurangi produktivitas lahan karena abu dari hasil sisa pembakaran biasanya menjadi humus yang berguna bagi tanaman.

Biaya produksi membengkak karena tanpa membakar, artinya petani harus merogoh kocekuntuk menyewa alat berat atau membeli bahan kimia yang mempercepat proses pelapukan.

“Kayu tebangan sebanyak itu, tidak mungkin dikerjakan manual” ujar petani di Desa Tumbang Sapiri, Kalimantan Tengah.

Lahan yang siap dibakar

***

Membakar lahan memang sudah menjadi kebiasaan turun temurun para petani di Indonesia, khususnya di Kalimantan dan Sumatera. Alasannya sederhana, karena api lebih mudah diperoleh daripada alat berat yang mampu menggusur rumpukan kayu. Oleh sebab itu, masyarakat sejak jaman dahulu membuat aturan sendiri terkait dengan proses pembakaran lahan ini.

Pertama-tama lahan ditebas secara manual menggunakan parang, hingga terbuka sesuai dengan luasan yang diinginkan. Kayu hasil tebangan dikumpulkan menjadi beberapa gundukan atau yang disebut juga rumpukan. Umumnya dalam proses penebasan lahan secara manual ini si pemilik lahan tidak bekerja sendirian. Dia ditemani oleh paling sedikit 7-8 orang lain (bahkan bisa sampai 18 orang yang bekerja bersamaan), secara gotong-royong.

Setelah lahan terbabat habis, tinggal menyingkirkan kayu bekas tebasan yaitu dengan cara membakar lahan. Proses pembakaran tidak serta merta dilakukan tanpa rencana. Pemilik lahan akan mengatur rumpukan agar tetap berada di tengah lahan, untuk menghindari api yang menjalar keluar area. Sementara rekan-rekan lain yang turut membantu akan berjaga, berdiri mengelilingi area yang akan dibakar sambil masing-masing membawa alat semprotan.

Setiap orang mendapat tempatnya masing-masing untuk berjaga mengitari area yang dibakar, dengan jarak yang telah ditentukan (berdiri pada jarak yang jauh dulu, lalu mendekat seiring dengan padamnya api). Mereka baru akan pulang setelah api benar-benar padam, dan praktek ini masih dilakukan hingga sekarang.

Gotong-royong dilakukan secara bergantian, apabila hari ini Bapak A yang akan membuka lahan, maka Bapak B akan ikut membantu, dan sebaliknya. Apabila keesokan harinya Bapak B membuka lahan, maka Bapak A akan ikut serta menebas dan menjaga api.

Hal ini juga didasari oleh kepentingan pribadi, karena umumnya lahan di sekitar ladang yang dibakar sudah dimiliki oleh beberapa orang, yang apabila api merembet ke luar lahan akan berdampak pada kebun atau ladang tersebut. Untuk itu pemilik lahan yang berada di sekitarnya lah yang biasanya ikut membantu menebas dan menjaga api.

 

***

Indonesia terkenal dengan budayanya yang ramah dan gotong-royong. Saling membantu sudah menjadi watak turun temurun yang dulu sempat menjadi identitas orang Indonesia. Mencegah kebakaran hutan dan lahan sudah sedari dulu dilakukan dengan sadar oleh masyarakat. Tetapi tetap dapat memanfaatkan lahan yang memang diperuntukkan bagi manusia – menanam, berkebun, dan berladang.

Praktek sustainable seperti ini pasti dilakukan, apabila seseorang sadar akan kebutuhan dan ketergantungannya terhadap alam.

Indonesia adalah negara sumber bahan baku, yang hasil buminya menjadi produk nomor satu. Pertanian, perkebunan dan perikanan adalah primadona bagi devisa. Begitu pun penduduknya yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, menggantungkan hidup dari hasil bumi.

Jika ada yang mengajak untuk ayo bertani secara lestari, tengoklah sistem tradisi pertanian Indonesia di masa lalu. Ketika pemenuhan kebutuhan sehari-hari hanya sampai batas cukup, dan bukan untuk menimbun dalam keberlimpahan.

Sustainable farming is not the brand new product, it’s the original method of our ancestors, only if one is aware enough to cut off the greed.  (hsuciandari)

Pos Terkait

(Indonesian) HCV ALS Lead Assessor Training Decemb... Asia Institute of Knowledge (AiKnow) merupakan salah satu bagian dari Remark Asia yang bertugas meny...
FSC Training Update Setelah memperingati 20 Tahun Sertifikasi pada bulan Februari lalu, sempat ada selentingan pendapat ...
(Indonesian) MENGGIRING “DATUK GEDANG” KE DALAM K... Gajah Sumatera by: Marlan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis) adalah subspesies dari gaj...
(Indonesian) FSC Training on Chain of Custody Remark Asia bekerja sama dengan AiKnow (Asia Institute of Knowledge) dan FSC Indonesia (Forest Stewa...
Membakar Lahan untuk Berladang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *