by Dwi Rahmad Muhtaman

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran

dari masa tiga ribu tahun,

hidup tanpa memanfaatkan akalnya.

 

–GOETHE–

Sustainability adalah tentang perubahan.  Dan perubahan adalah tentang kepemimpinan.  Negara, perusahaan, kelompok-kelompok masyarakat yang mencapai keberhasilan dalam membawa entitas yang dipimpinnya sustainable selalu berkaitan dengan kepemimpinan.  Seperti kata pepatah tua Jerman: pengelolaan hutan yang baik, yang sustainable, menunjukkan pengelolaan negara yang juga baik.  Banyak prakarsa yang dilakukan oleh warga dunia untuk mengukur sustainability sumberdaya alam atau pembangunan suatu negara.  Misalnya ada laporan yang berjudul: Global Metrics For The Environment, The Environmental Performance Index (EPI) ranks countries’ performance on high-priority environmental issues (2016).

 

Laporan ini diterbitkan oleh the Yale Center for Environmental Law & Policy (YCELP) dan Yale Data-Driven Environmental Solutions Group di Yale University.  Dalam indeks ini Indonesia menempati urutan 107 dengan skor 65.85 satu peringkat  masing-masing di bawah Zambia dan di atas Sri Lanka.  Dibanding negara-negara lainnya di ASEAN, posisi Indonesia lebih buruk.  EPI ini adalah peringkat untuk mengukur kinerja suatu negara terhadap prioritas pembangunan pada isu-isu lingkungan pada dua area: perlindungan kesehatan dan perlindungan ekosistem.  Dari dua kategori ini diturunkan menjadi sembilan area isu yang terdiri dari lebih 20 indikator.

 

Sementara itu sebuah Laporan Tahunan dari Social Progress Index 2016  (SPI) menempatkan Indonesia pada peringkat 82 dengan skor 62.27 satu peringkat masing-masing di bawah Venezuela dan di atas Sri Lanka.  SPI menilai suatu negara berdasarkan tiga kategori besar:  Basic Human Needs, Foundation of Wellbeing dan Opportunity.

 

Basic Human Needs Foundations of Wellbeing

 

Opportunity

 

Nutrition Access to Basic Knowledge Personal Rights
 
Basic Medical Care Access to Information and Communications Personal Freedom and Choice
Water and Sanitation Health and Wellness Tolerance and Inclusion
Shelter Environmental Quality

 

Access to Advanced Education
Personal Safety
 

 

Dalam  laporan global yang lain, Sustainable Development Goal Index, SDG Index (2016), Indonesia—lagi-lagi—termasuk dalam peringkat buncit, yakni menduduki pada posisi 98 dengan skor 54.4.  Posisi ini lebih baik satu level daripada Afrika Selatan dan satu level di bawah Sri Lanka.

 

Dilihat dari Human Development Index (2015) yang diterbitkan UNDP, Indonesia menempati urutan 110 dengan nilai peringkatnya 0.684.  Nilai terbaik mendekati skor satu disematkan pada Norwegia.  Pada hampir semua jenis indeks, negara-negara skandinavia memang selalu menduduki peringkat 10 besar.

 

Posisi Indonesia yang senantiasa pada bagian under-performed membuat kita bertanya-tanya, ada apakah gerangan?  Mungkin memang ada persoalan dengan tatakelola seperti digambarkan pada ESG (Environment, Social and Government) Index yang menempakan Indonesia pada 10 besar yang terburuk (dari 62 negara yang disurvey) dengan skor hanya sedikit di atas 3 dari total 9.

 

Maka itu ada baiknya kita membaca kisah-kisah lama sebagai teladan bahwa nenek moyang kita telah banyak melahirkan karya besar yang berkaitan dengan tatakelola, berhubungan dengan tatacara kita hidup.  Salah satunya adalah Latoa.

 

Latoa adalah lontara atau manuskrip atau catatan tertulis yang aslinya ditulis di atas daun lontara dengan mempergunakan alat tajam kemudian dibubuhi warna hitam pada bekas guratan-guratannya.  Latoa ditulis dalam bahasa Bugis dari Tana-Bone.  Penulisan Latoa menurut Prof Dr. Mattulada[1] diduga pada jaman Raja Bone ke-7 yang bernama La Tenrirawe Bongkannge (1560-1578).  Baginda mempunyai seorang penasihat, orang bijaksana yang bernama La Mellong, anak seorang kepala desa di sebuah desa  yang bernama Laliddong.  La Mellong inilah  yang pada masa tuanya terkenal dengan sebutan Kajao Laliddo, yang berarti orang pandai (bijaksana) dari Laliddo atau orang tua dari Laliddo.  Latoa berisi pembicaraan antara Kajao Laliddon dengan Arumpone (Raja Bone).  Latoa dijadikan tuntunan bagi penguasa terutama dalam menjalankan pemerintahan dan melaksanakan peradilan.

 

Setiap manusia mempunya pedoman atau cara hidup yang diikuti atas kekuasaan, ketaatan dan respon yang diberikannya kepada suatu bentuk kepemimpinan, serta sifat-sifat kepemimpinan yang ditaatinya, dikuasai oleh suatu sikap hidup, berdasar suatu sistem nilai yang hidup dalam kebudayaan. Pedoman-pedoman hidup dan cara hidup ini dalam masyarakat Bugis dihimpun dan dilukiskan dengan lengkap dalam Latoa.  Latoa inilah yang menjadi penunjuk yang mewakili sikap dan pandangan hidup orang Bugis sekitar abad ke – XVI.  Latoa mengandung banyak sekali teladan-teladan kepemimpinan, tatakelola pemerintahan dan sikap-sikap yang berkeadilan.

 

Dalam Latoa Arumpone dilukiskan sebagai tokoh terbaik diantara semua orang dalam negeri.  Ia menjadi pusat segala perhatian dan harapan.  Tetapi betapapun ia adalah seorang manusia terbaik diantara semua manusia dalam negeri, ia tetap adalah abdi yang harus memiliki kejujuran dan keahlian, kesanggupan lahir batin yang melebihi semua orang dalam negeri.

 

Pada sebuah percakapan berkata Kajao-Laliddo:

“…..jika kita menghendaki negara mencapai jenjang kejayaannya, raja harus jujur dan ahli serta mempunyai kesanggupan meniadakan sengketa di kalangan rakyat.”

 

“…kecerobohan seorang raja, tak suka dikritik, mengesampingkan peranan orang pandai, membiarkan sogok menyogok merajalela dan tak adanya kasih sayang antara penguasa dengan rakyat, meruaknya fitnah dalam negeri, niscaya itulah pertanda bahwa suatu negeri bagaimanapun besarnya, akan menemui kebinasaannya.”

 

Kepemimpinan akan sangat menentukan sustainability.  Kita tak tahu, apakah karena kepemimpinan kita yang ceroboh, tidak menempatkan orang-orang ahli dalam mengeloa sumberdaya alam, maraknya sogok menyogok dan segala macam persoalan yang belum diselesaikan seorang pemimpin, mengakibatkan segala index apapun yang digunakan untuk mengukur kinerja selalu menempatkan kita pada titik terbawah.

 

Bersediakah membuat jejak baru?

 

 

 

 

12 Januari 2017

 

[1] Namanya Mattulada. Prof Dr. Mattulada adalah putra asli daerah Sulawesi Selatan yang dilahirkan di Bulukumba.  Guru Besar yang banyak menulis tentang Kebudayaan Bugis.  Ia adalah Doktor Antropologi lulusan Univeritas Indonesia. Disertasi yang ditulisnya adalah Latoa: suatu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis.  Disertasi ini diterbitkan dengan judul LATOA pada tahun 1985, diterbitkan oleh Gadjah Mada Univerisity Press.

 

Latoa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *