Gajah Sumatera
Gajah Sumatera by: Marlan

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis) adalah subspesies dari gajah Asia yang hanya berhabitat di pulau Sumatra. Di Sumatra khususnya di kawasan ekosistem Bukit Tigapuluh, gajah sering disebut dengan “Datuk Gedang”. Dalam bahasa melayu orang Tebo artinya besar, jadi karena tubuhnya besar jadilah sering disebut “Datuk Gedang”. Gajah Sumatra berpostur lebih kecil daripada subspesies gajah India. Di indonesia populasi gajah terus menurun seiring berkurangnya hutan dengan cepat. Di kawasan Bukit Tigapuluh gajah tidak punya pilihan lain selain hidup berdekatan dengan manusia, tidak ada hutan yang tersisa kalaupun ada hanya hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang kondisinya merupakan perbukitan dan pegunungan yang memiliki kelerengan yang curam. Hutan yang ada di kawsan Bukit Tigapuluh sebagian besar sudah berubah menjadi kebun kelapa sawit dan karet, baik perusahaan maupun masyarakat sekitar. Gajah banyak melakukan pergerakan dalam wilayah jelajah yang luas sehingga menggunakan lebih dari satu tipe habitat. Gajah Sumatra merupakan salah satu jenis mamalia besar yang terdapat di Pulau Sumatera, hampir seluruh Pulau Sumatera mulai dari Lampung sampai Aceh merupakan habitat gajah. Gajah Sumatera dapat ditemukan di berbagai tipe ekosistem. Mulai dari pantai sampai ketinggian di atas 1.750 meter. Habitat gajah dapat berupa hutan primer, hutan sekunder bahkan di daerah pertanian. Habitat yang paling disenangi adalah hutan dataran rendah. Adapun areal di kawasan Bukit Tigapuluh meliputi Kecamatan Sumai, Kecamatan Serai Serumpun, Kecamatan Tujuh Koto, dan daerah-daerah yang berdekatan dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, khususnya yang masuk wilayah Provinsi Jambi.

 

Gajah merupakan satwaliar yang dalam redlist IUCN termasuk satwa terancam punah (critically endangered) dan juga hewan yang dilindungi oleh UUD No. 5 Tahun 1990 dan PP No.7 Tahun 1999. Di dalam penilaian nilai konservasi tinggi (HCV), disebutkan bahwa pada NKT 1.2 Spesies Hampir punah, dalam hal ini gajah termasuk kategori di dalamnya yang harus dilakukan upaya konservasi oleh perusahaan perkebunan maupun perusahaan lainnya (HTI,HPH) demi menjaga kelestariannya di alam. Seiring berjalannya waktu mau tidak mau gajah haruns hidup berdampingan dengan manusia, dimulai timbulnya konflik manusia dan gajah atau sering disebut Human-Elephant Conflict (HEC). Hal ini terjadi karena manusia dan gajah punya kepentingan yang sama atau tumpang tindih dalam hal penggunaan area. Gajah tidak punya pilihan lagi, selain hidup berdekatan dengan manusia karena sudah tidak ada lagi hutan yang tersisa untuk ditempati. Ketika hutan terlalu sempit, gajah tidak akan menemukan makanan yang cukup. Mereka akan pergi ke desa-desa dan ladang untuk mencari makanan, selain itu lebih mudah bagi gajah untuk memenuhi kebutuhan makan nya di lahan pertanian dari pada di hutan. Hal inilah yang menciptakan timbulnya konflik antara gajah dan manusia. Ladang dan tanaman yang rusak adalah HEC yang paling umum, kadang rumah/pondok pun dihancurkan oleh gajah.

 

Menggiring gajah ke dalam kawasan yang masih berhutan adalah rutinitas masyarakat sekitar kawasan Ekosistem Bukit Tigapuluh saat gajah sering masuk ke dalam kebun dan ladang. Ekosistem kawasan Bukit Tigapuluh sendiri terdiri dari kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan areal penyangga disekitarnya. Areal yang masih berhutan bagus berada di  kawasan TN Bukit Tigapuluh dan sisanya sudah terfragmentasi menjadi kebun dan ladang. Hal ini disebabkan oleh konversi lahan di sekitar TN Bukit Tigapuluh menjadi kebun kelapa sawit dan karet serta sedikit ladang-ladang masyarakat. Jika sudah memasuki musim ‘gajah masuk kebun’, hampir setiap hari masyarakat berjaga untuk mencegah masuknya gajah. Setiap masyarakat memiliki cara-cara menggiring atau mengusir gajah agar menjauh dari kebun dan ladangnya, antara lain sebagai berikut:

  1. Menjaga ladang/kebun di pondok/menara jaga
  2. Api Unggun/obor dan meriam karbit, bunyi-bunyian/suara
  3. Parit gajah dan pagar listrik

Dari ketiga metode di atas, yang sering digunakan oleh masyarakat dalam menggiring gajah adalah berjaga dan membuat api unggun. Menurut mayarakat cara ini dilakukan dengan asumsi, apabila ada penjaga gajah akan urung masuk kebun, dan sebaliknya apabila kebun tidak ada penjaga gajah akan berani menerobos masuk.

Parit gajah banyak digunakan oleh perusahaan kelapa sawit, karena membutuhkan biaya yang cukup mahal. Namun demikian cara ini juga terkadang tidak efektif, gajah sangat pintar dan mudah belajar untuk melewati parit yaitu dengan membuat parit menjadi landai dan bisa dilalui oleh gajah.

Banyak hal yang menarik saat bersama masyarakat menggiring gajah ke kawasan yang masih berhutan. Waktu itu menjelang sore hari sekitar pukul 16.00 wib, tim kami mendapat informasi bahwa rombongan gajah berada dekat kebun sawit bapak Sakban, di daerah Desa Muara Sekalo, Kecamatan Sumai. Tim pada saat itu sedang berada di Desa SP 1, Kecamatan Serai Serumpun langsung menuju lokasi gajah dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam menggunakan sepeda motor trail. Sesampainya dilokasi, tim segera mengecek keberadaan gajah di sekitar kebun Pak Sakban dan kebun-kebun yang berdekatan, ternyata gajah masih berada di areal yang masih berhutan di pinggir kebun pak Sakban. Menjelang hari gelap tim bersama dengan pak Sakban membuat api unggun dari kayu-kayu bekas tebangan di setiap sudut kebun. Rombongan gajah pun mulai bersuara seakan memberi tanda bahwa mereka akan memasuki kebun. Kami dan pak Sakban pun mulai membuat suara-suara, mulai dari teriak, pukul-pukul kentongan untuk menghalau gajah tidak memasuki kebun. Suara patahan-patahan ranting pohon menandakan gajah itu bergerak ke sudut lain dari kebun Pak Sakban, perlu diketahui luas kebun pak Sakban kurang lebih 10 hektar. Kami pun tak kalah sigap, kami membagi tim menjadi dua tim kecil, masing-masing tiga orang di setiap sudut dan sesekali kami membunyikan meriam karbit supaya gajah masuk lagi ke areal yang masih berhutan.

Haripun semakin malam tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, kami mulai kelelahan dan kelaparan. Satu orang dari masing-masing tim pergi ke pondok pak Sakban untuk membuat kopi untuk menahan kantuk dan mie rebus untuk mengganjal perut yang kelaparan. Kamipun semakin sering membunyikan meriam karbit dan menambah kayu bakar yang mulai habis agar api tetap menyala. Mie rebus dan kopi pun sudah matang, kami mulai mengisi perut kami yang kosong dengan tetap pada posisi yang masih waspada melihat pinggiran kebun. Tak disangka saat kami menyantap mie rebus, ada satu ekor gajah yang masuk kebun dan memakan satu pokok sawit yang baru ditanam. Kami mulai sigap kembali untuk menggiring gajah masuk ke areal yang masih berhutan dengan membunyikan meriam karbit sesering mungkin sambil berteriak-teriak. Gajah pun akhirnya kembali masuk ke areal yang berhutan, kami semakin waspada dan semakin sering membunyikan meriam karbit. Akhirnya pada pukul 04.00 wib gajah kembali masuk ke areal yang berhutan dan menjauhi kebun pak Sakban. Kami beristirahat di pondok, akan tetapi pak Sakban tetap waspada jikalau gajah masuk kembali ke areal kebun miliknya.

 

Sampai saat inipun, gajah-gajah yang ada di kawasan ekosistem Bukit Tigapuluh masih sering masuk ke areal kebun dan ladang masyarakat, gajah memakan sawit, karet, pisang, padi dan tanaman pertanian lainnya yang ditanam oleh masyarakat. Namun demikian masyarakat menjadi semakin peduli satu sama lainnya untuk saling membantu membuat kelompok-kelompok jaga pada kebun dan ladang yang saling berdekatan.

 

Konflik manusia dan gajah (Human-Elephant Conflict/HEC) akan selalu terjadi karena habitat gajah yang menyediakan makanan sudah semakin habis seiring bertambahnya kebun dan ladang baik yang dimiliki oleh masyarakat maupun perusahaan. Gajah tidak punya pilihan lagi, selain hidup berdekatan dengan manusia karena sudah tidak ada lagi hutan yang tersisa untuk ditempati. Begitupun dengan manusia harus juga menerima keberadaan gajah dan melindunginya, dalam arti mampu hidup berdampingan sambil mencari solusi-solusi konservasi agar gajah tetap lestari.

 

Semua makhluk hidup diciptakan Tuhan memiliki fungsi, demikian juga dengan gajah. Konservasionis percaya bahwa fungsi gajah yang paling penting adalah untuk melestarikan lingkungan, karena gajah makan sangat banyak, maka mereka juga menghasilkan banyak kotoran. Kotoran inilah berfungsi sebagai pupuk yang mengembalikan kesuburan tanah. Gajah juga membantu menyebarkan bibit-bibit pohon, biji pohon yang terinjak oleh kaki gajah dapat tersebar secara luas, mengingat daerah jelajah gajah yang sangat luas maka proses ini akan sangat membantu untuk kelestarian hutan. Fakta bahwa semua elemen di alam hidup dalam ikatan ketergantungan yang saling mempengaruhi, sehingga jika salah satu satwa atau tumbuhan punah, akan memiliki akibat yang sangat besar bagi satwa dan tumbuhan lain yang tentunya akan mempengaruhi keseimbangan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk menjaga agar satwa-satwa dan tumbuhan, khususnya yang ada di hutan agar tetap lestari.  (MARLAN)

 

Mari Bersama Kita Jaga Gajah Sumatra dan Habitatnya…

Daftar Pustaka:

www.assamhaathiproject.org (Living with Elephants in Assam: A handbook)

www.warsi.or.id

www.wwf.or.id

http://www.wwf.or.id/program/spesies/gajah_sumatera/

Pos Terkait

Membakar Lahan untuk Berladang Pemberlakuan larangan membakar lahan didasari oleh niat baik mencegah kebakaran hutan dan lahan di I...
(Indonesian) FSC Training on Chain of Custody Remark Asia bekerja sama dengan AiKnow (Asia Institute of Knowledge) dan FSC Indonesia (Forest Stewa...
(Indonesian) HCV ALS Lead Assessor Training Decemb... Asia Institute of Knowledge (AiKnow) merupakan salah satu bagian dari Remark Asia yang bertugas meny...
(Indonesian) HCV ALS Lead Assessor Training High Conservation Value (HCV) atau Nilai Konservasi Tinggi adalah nilai-nilai biologis, ekologi, sos...
(Indonesian) MENGGIRING “DATUK GEDANG” KE DALAM KAWASAN YANG MASIH BERHUTAN