Sebelum manusia menyadari adanya sesuatu yang lebih besar dan berkuasa dari dirinya, terutama sesuatu yang kemudian dianggap sakral dan suci.

Jauh sebelum manusia mengenal apa itu Tuhan, Dewa, arwah leluhur, roh halus, dan segala sesuatu yang gaib dan supranatural.

Sebelum itu semua, ada Dua yang seringkali dirujuk oleh manusia.

Dua yang dianggap merepresentasikan kuasa atas diri mereka.

Dua yang selalu menjadi rujukan, baik rujukan di awal, di tengah, ataupun di akhir, dari setiap pertanyaan, setiap masalah, setiap persoalan yang sering tidak bisa diselesaikan oleh mereka. Pertanyaan-pertanyaan tak sempat terjawab, persoalan-persoalan yang solusinya masih tertunda. Dan petaka-petaka yang masih menunggu alasan untuk bisa dicerna.

Dua itu selalu tampil mengemuka.

 

Ironisnya, bahkan setelah manusia mengenal yang lebih berkuasa dari dirinya, baik itu Tuhan, Dewa, arwah leluhur, roh halus, dan segala yang supranatural itu,

Dua itu nyatanya tak lantas menyingkir.

Keduanya kerap kali ditemui, sering kali muncul, dalam ujaran-ujaran kita, dalam perbincangan, dalam guraua, dalam lelucon, dalam kegembiraan, apalagi dalam kemuraman.

Keduanya seperti tak terbatasi, tak terselesaikan, mungkin tak pernah ada jawaban manusia yang memuaskan untuk keduanya.

Kekuatan keduanya seolah tak dapat tergantikan, bahkan ketika raja dari segala raja terlanjur kita imani keberadaannya.

Yang sinis bilang, keduanya melahirkan Sang Raja, yang optimis bilang, keduanya adalah representasi absolut dari keberadaan Sang Raja.

Begitu kuatnya pengaruh kedua hal itu bagi manusia, kita kerap memberikan awalan Sang Raja bagi keduanya.

 

Seperti istilah Sang Khalik, keduanya tak lain adalah, Sang Waktu dan Sang Alam.

 

Nyatanya, kita lebih dahulu mampu mengelola diri untuk menghadapi waktu, baru kemudian alam.

Mungkin karena waktu kelewat perkasa dan sulit untuk diajak bernegosiasi. Apalagi dihentikan. Ia terlalu perkasa, bahkan bagi yang lebih dahulu kita yakini sebagai yang perkasa.

Waktu melahap Romawi, Yunani, Ottoman, Persia, Mongol, Hindi, Majapahit, Sriwijaya, Kolonialisme Eropa.

Tapi jangan salah, waktu.. juga yang melahirkan Indonesia.

Waktu juga melahap kita, tapi juga menyisakan banyak hal untuk terus bisa diperjuangkan, seperti Cinta dan harapan.

Yang tersisa itu pantas kita perjuangkan.

 

Alam mungkin jauh lebih bersabar dari waktu, kita bisa mengakali sambil mencuri darinya, kita bisa menyesuaikan diri sambil merobek-robek wajahnya, kita bisa bersiasat sambil menebar kehancuran di tubuhnya.

Kita bisa mengeluarkan jurus-jurus ampuh sambil berkata “kami sedang menatanya”.

Kita bahkan masih bisa bilang.. mencintainya, justru ketika hampir tidak ada yang tersisa dari dirinya.

 

Dalam hal ini, saya rasa, alam masih lebih toleran pada manusia, dibanding waktu yang seperti panser baja.

Tengoklah ungkapan-ungkapan seperti : “biarlah waktu yang menjawab” ; “Waktu kan membuktikan”; “Seiring waktu, semua kan berlalu”; “Waktu jua yang mempertemukan dan memisahkan kita”; “demi waktu”.

Frasa-frasa itu jelas menggambarkan bahwa kita betul-betul tunduk oleh Sang Waktu.

 

Petang ini, kehadiran kita disini, barangkali kalau boleh saya katakan, kita sedang merayakan tunduknya kita oleh Sang Waktu. Saya selalu meyakini, bahwa perayaan ulang tahun, adalah pengagungan kita atas kuasa Sang Waktu.

Karena waktulah kita akhirnya dipertemukan dalam satu rentang yang tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu pendek.

Lima tahun sudah Remark Asia, Mas Dwi Rahmad Muhtaman dan kawan-kawan bergelut dalam  dunianya. Berjibaku dalam kerja dan perayaannya.

Untuk sebuah perjalanan, lima tahun bukan waktu yang panjang, tapi juga tidak berarti pendek.

Banyak yang diraih dan dicapai, tapi pasti banyak juga yang lepas atau hilang.

Itulah perjalanan, ia selalu memiliki paradoksnya sendiri.

 

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, ijinkanlah saya mendoakan agar Remark Asia dibawah kepemimpinan Mas Dwi senantiasa diberikan tiga hal untuk bisa bercengkerama dengan Sang Waktu.

Ketiga hal itu adalah kekuatan, kegembiraan, dan kewarasan.

 

Kekuatan kita perlukan, karena nyatanya itu yang diburu oleh Sang Waktu.

Waktu menguras kekuatan kita, menyedotnya sedikit demi sedikit sampai akhirnya, kita tak lagi memilikinya dan waktu menyudahi kita.

Dengan kekuatan, kita bisa mencapai apa yang menjadi mimpi dan harapan kita. Semoga kekuatan senantiasa menyertai masa depan Mas Dwi dan rekan-rekan Remark Asia di waktu-waktu mendatang.

 

Yang berikutnya adalah kegembiraan.

Kegembiraan kita butuhkan, karena tanpa kegembiraan kita sulit melahirkan harapan.

Padahal hanya dengan harapan, kita dapat memunculkan kekuatan untuk dapat terus bergumul dengan waktu.

Maka dari itu, saya berpesan, jika tak ada secuil pun yang bias kita tinggalkan bagi orang-orang yang kita cintai, maka letakkanlah harapan bagi mereka.

Harapan menjaga asa agar tak putus.

Saya berdoa agar kehadiran Remark Asia senantiasa bisa menyulut kegembiraan dan harapan bagi siapa saja yang mengenalnya.

 

Terakhir, tetapi tidak kalah penting dibanding yang sebelumnya, adalah kewarasan. Mengapa? Karena ini yang semakin jarang kita jumpai di republik ini.

Kewarasan lebih sering tampil lewat ludah dan lidah kita.

Ketimbang lewat pemikiran dan tingkah laku kita sehari-hari. Tak peduli yang di bawah, di tengah, ataupun di atas,

Kewarasan nampak seperti barang usang. Nampaknya kewarasan perlu untuk diperjuangkan agar tak betul-betul menyerah dihadapan sang waktu.

Saya berharap Remark Asia bisa terlibat dalam upaya memperjuangkan seluruh kewarasan yang masih tersisa di dalam benak dan hati kita semua.

 

Selamat Ulang tahun Remark Asia..

Semoga anda sekalian bisa terus bercumbu dengan Sang Waktu..

Wassalam.

 

Pos Terkait

(Indonesian) FSC Training on Chain of Custody Remark Asia bekerja sama dengan AiKnow (Asia Institute of Knowledge) dan FSC Indonesia (Forest Stewa...
FSC Training Update Setelah memperingati 20 Tahun Sertifikasi pada bulan Februari lalu, sempat ada selentingan pendapat ...
(Indonesian) HCV ALS Lead Assessor Training Decemb... Asia Institute of Knowledge (AiKnow) merupakan salah satu bagian dari Remark Asia yang bertugas meny...
Membakar Lahan untuk Berladang Pemberlakuan larangan membakar lahan didasari oleh niat baik mencegah kebakaran hutan dan lahan di I...
(Indonesian) “Sebelum Semuanya” oleh Bayu Yulianto
Tag pada: