Kembali ke desa? hmm.. tunggu dulu. Rasanya familiar dengan ajakan ini, tapi.. apa siap nantinya?

Ketika hidup sudah sangat terbiasa dengan hiruk-pikuk ramai di kota, ritme yang serba cepat – atau terburu-buru – lantas tiba-tiba harus berubah untuk pergi jauh dari bising mobil, bekerja dengan cara yang mungkin, tidak seperti biasanya.. Maka pilihan untuk kembali ke desa menjadi sulit bagi sebagian orang.

P_20160717_123628
Suasana di Bali Pulina
IMG_20160717_185204
Peserta Training memanfaatkan fasilitas di Bali Pulina untuk bertukar cerita

 

 

 

 

 

 

 

 

Meskipun kita sering mengeluhkan jalanan yang macet, transportasi umum yang penuh sesak tiada ampun, belum lagi tindak kriminal yang kerap menghantui selama berada di luar rumah, tetap saja kehidupan kota selalu menjadi rumah yang dirindukan setiap kali kembali ke kampung – sebut saja ketika mengunjungi rumah orang tua.

Berpindah ke desa seolah tidak pernah menjadi pilihan, karena terbatasnya ruang bagi pekerja nine to five untuk berkarya, itulah sebabnya banyak program ajakan seperti sarjana membangun desa, Indonesia mengajar, dan lainnya agar para pemuda mau turut mengurangi tingginya tingkat urbanisasi.

Para penggiat kehidupan di desa pun tidak ingin tinggal diam. Beberapa waktu lalu kami diundang di sebuah konferensi International Conference on Village Revitalization yang diinisiasi oleh segelintir orang yang peduli terhadap revitalisasi desa. Oh, ya jangan lupa juga perhatian dari pemerintah saat ini untuk membangun desa, yang dicerminkan dari pengucuran sejumlah dana untuk dikelola secara mandiri bagi tiap desa.

Kali ini, giliran para penggiat desa di Bali mengundang kami untuk turut serta di sebuah pelatihan yang dinamakan Rural Enterpreneurship Training. Kegiatan dengan semangat menunjukkan pada peserta bahwa ada banyak sekali potensi yang bisa digali jika kita ingin mengimplementasikan jiwa enterpreneur di desa. Peserta yang datang pun tidak hanya dari kalangan penggiat lingkungan saja, tetapi banyak dari mereka yang justru sudah sejak lama tinggal di luar, bekerja di luar negeri, dan jarang sekali bisa merasakan hidup dan kehidupan di desa. Untuk itu pengalaman pelatihan kali ini menjadi sumber angin segar bagi mereka, kalau sewaktu-waktu akan kembali ke Indonesia dan ikut berkontribusi dalam pengembangan desa.

“Desa itu kalau bukan wisata, ya pertanian” ungkap Bli Agung, pemilik attraksi wisata Seawalker di Sanur.

Pertanian dan wisata, menurut Bli Putu Kepala Adat Desa Munduk, adalah dua hal yang berbeda. Meskipun Desa Munduk sudah dikenal wisatawan sejak tahun 1960-an, beliau tetap tidak ingin menyebut desa nya sebagai desa wisata.

“Orang tani dengan orang wisata itu berbeda. Saya tidak mau, nantinya desa saya hanya mengandalkan dari orang luar saja sedangkan hasil buminya tidak lagi diperhatikan. Orang petani, sekecil apapun lahan yang dia punya, dia tetaplah pemilik. sebagai owner dari lahan tersebut. Sedangkan orang wisata, kan sebaliknya”

Bagi Bli Putu, meskipun hingga saat ini desanya ramai dikunjungi orang, warga nya tetap memperlakukan para turis dengan sikap seperti biasa, tidak menjamu terlalu berlebihan, namun tetap di beri informasi yang cukup jika mereka bertanya.

Bali memang sudah menjadi salah satu trademark wisata, sehingga mudah saja bagi desa-desa di Bali untuk mengembangkan jenis-jenis wisata desa yang menyediakan homestay, berkegiatan dengan penduduk lokal, seperti yang diterapkan oleh Desa Nyambu.

IMG_20160720_110203

Lain Desa Munduk, lain Desa Nyambu. Desa ini bekerja sama dengan pihak eksternal, untuk mengembangkan segala potensi yang ada di desanya. Mulai dari Pura dengan jejak sejarah, mata air yang masih mengalir jernih, persawahan yang luas, dan aktivitas warga desa juga turut menjadi atraksi wisata untuk dirasakan oleh para pelancong.

Lantas bagaimana dengan desa-desa di luar bali, yang tidak begitu identik dengan wisata?

Maka kembali ke poin pertama, pertanian. Dari pelatihan ini kami di ajak untuk kembali ke peta. Mempetakan segala sesuatu yang kiranya akan dibutuhkan. Mapping potensi dan masalah, jelas menjadi salah satu strategi awal jika ingin melihat gambaran umum tentang suatu desa.

Kalau sudah tahu potensi dan peluang yang bisa dikembangkan di desa, apa iya masih ragu untuk pulang?

Yaa.. kalaupun ragu, minimal jauh di dalam hati sudah ada rencana, entah itu akan lima, sepuluh, atau dua puluh tahun lagi, untuk nanti meninggalkan macetnya ibu kota.

Pos Terkait

(Indonesian) FSC Training on Chain of Custody Remark Asia bekerja sama dengan AiKnow (Asia Institute of Knowledge) dan FSC Indonesia (Forest Stewa...
FSC Training Update Setelah memperingati 20 Tahun Sertifikasi pada bulan Februari lalu, sempat ada selentingan pendapat ...
(Indonesian) HCV ALS Lead Assessor Training Decemb... Asia Institute of Knowledge (AiKnow) merupakan salah satu bagian dari Remark Asia yang bertugas meny...
From Rural Enterpreneurship, Bali